Rabu, 30 September 2020

Radikalitas Iman: Tuntutan Menjadi Murid Yesus

Luk 9:57-62

 

Kata radikal berasal dari kata “radix” (Latin) yang berarti ‘akar’. Radikalitas merujuk kepada keadaan keberakaran pada suatu hal yang diyakini memiliki kebenaran yang hakiki. Jika kata ini dihubungkan dengan iman kristiani, maka yang dimaksudkan adalah keberakaran dalam iman kristiani.

 

Dalam praksis kehidupan, kata radikalitas iman kristiani merujuk kepada semangat hidup yang tinggi dalam menghayati iman kristiani, dan lazimnya ditunjukkan dalam cara hidup yang ketat sesuai nilai-nilai kekristenan. Ada konsistensi dalam penghayatan nilai-nilai itu. Orang Kristiani yang hidupnya bersesuaian dengan nilai-nilai kekristenan dikatakan pula sebagai orang yang militan dalam beriman.

 

Kepada seorang ahli Taurat yang berkeinginan untuk mengikuti Yesus ke mana saja Yesus pergi, Yesus menuntut iman yang radikal. Dengan kata-kata-Nya, "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya," Yesus hendak menyatakan bahwa keinginan untuk mengikuti Dia harus dibarengi dengan kesediaan untuk hidup dalam ketidakpastian dan di jalan penderitaan. Dia harus berkorban untuk meninggalkan segala sesuatu yang selama ini meberi kenyamanan dan hidup dalam penderitaan dan ketidakpastian demi imannya kepada Yesus (bdk. Mat 10:38; 16:24). Hal ini mengandaikan adanya sikap iman yang radikal, militan; bukan asal-asalan atau mengikuti emosi belaka.

 

Hal yang sama ditegaskan Yesus dalam menanggapi permintaan salah seorang murid-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku” dan yang lain lagi yang meminta izin untuk berpamitan dahulu dengan keluarganya. Keputusan untuk mengikuti Yesus harus tegas dan jelas. Harus ada kesediaan untuk melepaskan segala yang mengikat hidup dan membuat mereka masih berpikir ‘di belakang’.

 

Demikian pula kepada kita, orang-orang yang mengimani Yesus. Setiap kita dituntut untuk meninggalkan zona nyaman kita untuk berani manjalani sebuah model hidup yang berbeda, yang penuh risiko, ketidakpastian, tantangan dan penderitaan. Inilah cara hidup yang berorientasi pada palayanan dengan meninggalkan  berbagai kepentingan diri dan egoisme serta kenyamanan hidup. Dengan demikian, setiap  kita hendaknya meninggalkan kepentingan dan urusan lain, bahkan keluarga sekalipun, jika ingin fokus pada cara hidup dan cara kerjanya Yesus. Pilihan hidup itu terasa keras dan terbilang berat, namun bukan mustahil untuk dijalankan.

 

Tuntutan Yesus demikan bukan tanpa suatu tujuan. Ia menuntut demikian demi keselamatan kita. Di dunia ini memang Dia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala, akan tetapi di dalam Kerajaan-Nya, Ia memiliki tempat itu, dan setiap orang yang mengikuti Dia dengan setia di jalan hidupnya, akan mengambil bagian dalam tempat di mana Ia meletakkan kepala-Nya.

 

Patutlah kita menunjukkan radikalitas iman kita dalam seluruh hidup kita, terutama dalam menjalankan tugas pelayanan kita. Janganlah kita kuatir dan takut, sebab Dia yang menuntut iman yang radikal kepada kita akan tetap menyertai kita. Jika kita merasa susah itulah bagian yang kita tanggung, namun kesulitan itu dan apapun yang kita korbankan tidak berakhir dengan kesia-siaan. Dia akan memberikan tempat bagi kita dalam kerajaan-Nya untuk meletakan kepala kita.

 

Saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip kata-kata Raplh Waldo: “Untuk segala sesuatu yang kau korbankan, kau memperoleh sesuatu yang lain. Dan untuk segala sesuatu yang kau dapatkan, ada sesuatu yang kau korbankan” (BBSS, p.375). Demi mengikuti Yesus dan keselamatan yang dianugerahkan-Nya kepada kita, maka kita harus mengorbankan harapan dan keinginan diri kita sendiri. Itulah tanda iman yang radikal. Sudahkah saya memiliki iman seperti ini? ***Apol***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar