Senin, 14 September 2020

SALIB KESELAMATAN

Bil 21:4-9, Flp 2:6-11, Yoh 3:13-17

Hari ini dalam penanggalan liturgi gereja Katolik, kita sebagai umat gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Salib Suci. Pesta Salib Suci dalam kalender liturgi Gereja Katolik disebut In Exaltatione Sanctae Crucis. Perayaan ini dirayakan setiap tahun pada tanggal 14 September. Latar perayaan tahunan ini berawal dari penemuan Salib asli Yesus Kristus oleh Santa Helena (ibu dari Kaisar Romawi Konstantin) di kota Yerusalem. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan Salib Suci itu, Santa Helena membangun sebuah basilika di atas makam kudus Yesus Kristus. Basilika itu kemudian diberkati dalam suatu perayaan yang sangat meriah dan khidmat selama dua hari berturut-turut yakni pada tanggal 13 dan 14 September tahun 335. Tradisi ini berlanjut dan setiap tahun dirayakan Pesta Salib Suci di Yerusalem. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh dari keuskupan mereka untuk menghadiri perayaan ini. Di Yerusalem pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut. Kemudian pesta ini menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada akhir abad ketujuh. Dan pada akhirnya, perayaan kudus ini dimasukkan dalam kalender liturgi Gereja Katolik sebagai suatu pesta wajib (mirifica.net)

 

Dalam bacaan dari Kitab Bilangan (Bil 21:4-9), umat Israel yang sementara melakukan pengembaraan di padang gurun, menunjukkan sikap antipati kepada Allah dan Musa. Mereka mengeluh dan melakukan protes kepada Allah dan Musa. Isi protes berkenaan dengan situasi riil yang mereka alami karena tidak ada makanan dan air. Di samping itu, mereka tidak mau makan lagi manna (roti tawar) yang telah diberikan Allah. Dalam situasi demikian, umat Israel meragukan komitmen dan kapasitas dari para pemimpinnya sendiri. Terutama Allah yang telah berinisiatif memberi jalan keselamatan kepada mereka dari penindasan bangsa Mesir. Sebagai bentuk hukuman, Allah mengirim ular-ular tedung untuk memaguti sejumlah besar orang Israel. Banyak orang Israel mati karena dipagut oleh ular tedung. Kemudian orang Israel datang kepada Musa memohon pertolongan agar mereka bisa diselamatkan. Musa lalu berdoa kepada Tuhan agar situasi buruk yang terjadi di kalangan umat Israel segera berakhir. Tuhan menyuruh Musa membuat ular tedung tiruan dari tembaga dan menaruhnya di atas sebuah tiang yang tinggi. Kepada umat Israel, Musa berpesan agar setiap orang yang dipagut oleh Ular tedung harus memandang ular tembaga yang terpancang di atas tiang untuk memperoleh keselamatan. Berkat simbol itu, umat Israel selamat dari racun ular tedung.

 

Ular tedung yang dipancang di atas tiang yang tinggi tidak sekedar menjadi simbol keselamatan orang Israel  kala itu. Namun sebagai nubuat yang menggambarkan Tubuh Yesus yang terpancang di atas kayu salib. Kayu salib suci yang melambangkan penebusan dan keselamatan umat manusia dari kedosaannya. Kisah keselamatan orang Israel yang memandang ular tedung tembaga di atas tiang digaungkan kembali dalam kisah perjanjian baru. Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus mengatakan: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di pandang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan” (Yoh 3:14). Yesus menegaskan bahwa dalam konteks Perjanjian Lama, ular tedung yang diletakkan di atas tiang tinggi menjadi simbol keselamatan bagi umat Israel. Sedangkan dalam konteks Perjanjian Baru, Diri-Nya sendiri yang akan ditinggikan agar dapat menjadi sumber keselamatan bagi banyak orang. Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa Ia harus ditinggikan di atas kayu salib? “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Sama seperti umat Israel zaman nabi Musa yang memberontak dan berlaku tidak setia kepada Allah, umat zaman Yesus pun demikian. Banyak umat yang mulai menunjukkan sikap yang berseberangan dengan kehendak Allah sendiri. Mereka mengaku sebagai umat yang taat menjalankan ibadah namun hati mereka jauh dari Allah. Agama dan segala ritus hanya sebagai tameng bagi mereka untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi dan sosial. Banyak umat, termasuk di dalamnya para elit agama, mempertontonkan suasana hidup beragama yang semu. Jauh dari nilai-nilai kasih, nilai kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, Allah dengan kasih-Nya yang maha besar mengaruniakan Anak-Nya yakni Yesus Kristus agar bisa membawa umat untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

 

Allah tidak mau manusia hidup bebas dengan kedosaannya; yang pada akhirnya membelenggu dan merugikan hidup manusia sendiri. Allah tidak mau umat mengalami nasib yang sama seperti umat Israel pada zaman nabi Musa yang mati akibat dipagut ulat tedung. Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat, sebelum penghakiman itu benar-benar terjadi. Kesempatan emas itulah yang termanifestasi dengan kedatangan Yesus di muka bumi. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkan oleh Dia” (Yoh 3:17). Walaupun Yesus sudah hadir dan menyatakan diri-Nya kepada umat manusia, tetap tidak memberi jaminan bahwa umat akan bertobat dan kembali ke jalan Allah. Bahkan dengan terang-terangan mereka menolak, memusuhi dan pada akhirnya membunuh Yesus, Anak Allah. Dengan kematian Yesus, misteri keagungan Allah menjadi terbuka. Puncak keselamatan manusia dari Allah yang terwujud  dalam diri Yesus sungguh terjadi. Yesus rela meninggikan diri-Nya di atas kayu salib agar semua orang yang melihat-Nya beroleh keselamatan. Salib yang suci telah menjadi simbol keselamatan bagi semua orang secara cuma-cuma. Dan ini semua berkat kasih Allah yang maha dasyat.

 

Bagi kita orang Katolik, salib sebagai tanda keselamatan memiliki banyak makna. Pertama, salib melambangkan kekuatan. Di tengah berbagai tantangan dan kesulitan yang kita hadapi sebagai seorang manusia, salib Yesus yang suci tetap hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan agar kita tidak gampang menyerah dan putus asa. Salib suci menyuntikkan energi ketabahan dan kesabaran yang begitu kuat agar kita tetap bertahan demi menggapai sebuah kesuksesan atau kemenangan. Kedua, salib adalah lambang kemenangan. Sebagai umat beriman, kita percaya bahwa salib suci tidak hanya memberi kita kekuatan tetapi juga kemenangan. Situasi dunia yang penuh pergulatan dan pergolakan mendorong kita untuk masuk dalam pusaran itu. Di satu sisi kita berada di garis kebenaran. Dan di sisi yang lain kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak menginginkan kebenaran itu. Salib Kristus yang suci pasti akan membawa kita ke garis kemenangan karena tidak ada satu kekuatan manusia pun yang mampu mengalahkan kekuatan ilahi-Nya. Ketiga, salib suci melambangkan kasih. Dengan melihat dan memiliki salib Kristus, kita semakin dimotivasi oleh semangat Yesus sendiri untuk mengimplementasikan nilai kasih kepada orang lain. Seperti Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan Diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:6-7). Salib Yesus adalah sebuah kebanggaan identitas iman dan bukan sebagai simbol gagah-gagahan, yang menjadikan kita pribadi yang angkuh dan tidak memiliki kerendahan hati. Lebih dari itu, salib suci adalah sebuah simbol keyakinan yang suci akan Dia yang telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan uma manusia. Menyadari hal demikian, menjadi tugas kita selanjutnya agar dengan “mengambil rupa seorang hamba” atau dengan semangat kerendahan hati yang terus bernyala-nyala, kita terus menjadikan salib sebagai tanda yang menyelamatkan; tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga orang lain yang ada di sekitar kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar