Bil 21:4-9, Flp 2:6-11, Yoh 3:13-17
Hari ini dalam penanggalan liturgi gereja Katolik, kita sebagai umat gereja
Katolik sejagat merayakan Pesta Salib Suci. Pesta Salib Suci dalam kalender
liturgi Gereja Katolik disebut In
Exaltatione Sanctae Crucis. Perayaan ini dirayakan setiap tahun pada
tanggal 14 September. Latar perayaan tahunan ini berawal dari penemuan Salib
asli Yesus Kristus oleh Santa Helena (ibu dari Kaisar Romawi Konstantin) di
kota Yerusalem. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan Salib Suci itu, Santa
Helena membangun sebuah basilika di atas makam kudus Yesus Kristus. Basilika
itu kemudian diberkati dalam suatu perayaan yang sangat meriah dan khidmat
selama dua hari berturut-turut yakni pada tanggal 13 dan 14 September tahun
335. Tradisi ini berlanjut dan setiap tahun dirayakan Pesta Salib Suci di
Yerusalem. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh
dari keuskupan mereka untuk menghadiri perayaan ini. Di Yerusalem pesta ini
berlangsung selama 8 hari berturut-turut. Kemudian pesta ini menyebar ke luar
Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada
akhir abad ketujuh. Dan pada akhirnya, perayaan kudus ini dimasukkan dalam
kalender liturgi Gereja Katolik sebagai suatu pesta wajib (mirifica.net)
Dalam bacaan dari Kitab Bilangan (Bil 21:4-9), umat Israel yang sementara
melakukan pengembaraan di padang gurun, menunjukkan sikap antipati kepada Allah
dan Musa. Mereka mengeluh dan melakukan protes kepada Allah dan Musa. Isi protes
berkenaan dengan situasi riil yang mereka alami karena tidak ada makanan dan
air. Di samping itu, mereka tidak mau makan lagi manna (roti tawar) yang telah
diberikan Allah. Dalam situasi demikian, umat Israel meragukan komitmen dan
kapasitas dari para pemimpinnya sendiri. Terutama Allah yang telah berinisiatif
memberi jalan keselamatan kepada mereka dari penindasan bangsa Mesir. Sebagai
bentuk hukuman, Allah mengirim ular-ular tedung untuk memaguti sejumlah besar
orang Israel. Banyak orang Israel mati karena dipagut oleh ular tedung.
Kemudian orang Israel datang kepada Musa memohon pertolongan agar mereka bisa
diselamatkan. Musa lalu berdoa kepada Tuhan agar situasi buruk yang terjadi di
kalangan umat Israel segera berakhir. Tuhan menyuruh Musa membuat ular tedung
tiruan dari tembaga dan menaruhnya di atas sebuah tiang yang tinggi. Kepada
umat Israel, Musa berpesan agar setiap orang yang dipagut oleh Ular tedung
harus memandang ular tembaga yang terpancang di atas tiang untuk memperoleh
keselamatan. Berkat simbol itu, umat Israel selamat dari racun ular tedung.
Ular tedung yang dipancang di atas tiang yang tinggi tidak sekedar menjadi
simbol keselamatan orang Israel kala
itu. Namun sebagai nubuat yang menggambarkan Tubuh Yesus yang terpancang di
atas kayu salib. Kayu salib suci yang melambangkan penebusan dan keselamatan
umat manusia dari kedosaannya. Kisah keselamatan orang Israel yang memandang
ular tedung tembaga di atas tiang digaungkan kembali dalam kisah perjanjian
baru. Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus mengatakan: “Dan sama seperti
Musa meninggikan ular di pandang gurun, demikian juga Anak Manusia harus
ditinggikan” (Yoh 3:14). Yesus menegaskan bahwa dalam konteks Perjanjian Lama,
ular tedung yang diletakkan di atas tiang tinggi menjadi simbol keselamatan
bagi umat Israel. Sedangkan dalam konteks Perjanjian Baru, Diri-Nya sendiri
yang akan ditinggikan agar dapat menjadi sumber keselamatan bagi banyak orang.
Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa Ia harus ditinggikan di atas
kayu salib? “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah
mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya
kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Sama
seperti umat Israel zaman nabi Musa yang memberontak dan berlaku tidak setia
kepada Allah, umat zaman Yesus pun demikian. Banyak umat yang mulai menunjukkan
sikap yang berseberangan dengan kehendak Allah sendiri. Mereka mengaku sebagai
umat yang taat menjalankan ibadah namun hati mereka jauh dari Allah. Agama dan
segala ritus hanya sebagai tameng bagi mereka untuk mengeruk keuntungan secara
ekonomi dan sosial. Banyak umat, termasuk di dalamnya para elit agama,
mempertontonkan suasana hidup beragama yang semu. Jauh dari nilai-nilai kasih,
nilai kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, Allah dengan kasih-Nya yang maha
besar mengaruniakan Anak-Nya yakni Yesus Kristus agar bisa membawa umat untuk
bertobat dan kembali ke jalan yang benar.
Allah tidak mau manusia hidup bebas dengan kedosaannya; yang pada akhirnya
membelenggu dan merugikan hidup manusia sendiri. Allah tidak mau umat mengalami
nasib yang sama seperti umat Israel pada zaman nabi Musa yang mati akibat
dipagut ulat tedung. Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat,
sebelum penghakiman itu benar-benar terjadi. Kesempatan emas itulah yang
termanifestasi dengan kedatangan Yesus di muka bumi. “Sebab Allah mengutus
Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk
menyelamatkan oleh Dia” (Yoh 3:17). Walaupun Yesus sudah hadir dan menyatakan
diri-Nya kepada umat manusia, tetap tidak memberi jaminan bahwa umat akan
bertobat dan kembali ke jalan Allah. Bahkan dengan terang-terangan mereka
menolak, memusuhi dan pada akhirnya membunuh Yesus, Anak Allah. Dengan kematian
Yesus, misteri keagungan Allah menjadi terbuka. Puncak keselamatan manusia dari
Allah yang terwujud dalam diri Yesus
sungguh terjadi. Yesus rela meninggikan diri-Nya di atas kayu salib agar semua
orang yang melihat-Nya beroleh keselamatan. Salib yang suci telah menjadi
simbol keselamatan bagi semua orang secara cuma-cuma. Dan ini semua berkat
kasih Allah yang maha dasyat.
Bagi kita orang Katolik, salib sebagai tanda keselamatan memiliki banyak
makna. Pertama, salib melambangkan kekuatan. Di tengah berbagai tantangan dan
kesulitan yang kita hadapi sebagai seorang manusia, salib Yesus yang suci tetap
hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan agar kita tidak gampang menyerah dan
putus asa. Salib suci menyuntikkan energi ketabahan dan kesabaran yang begitu kuat
agar kita tetap bertahan demi menggapai sebuah kesuksesan atau kemenangan.
Kedua, salib adalah lambang kemenangan. Sebagai umat beriman, kita percaya
bahwa salib suci tidak hanya memberi kita kekuatan tetapi juga kemenangan.
Situasi dunia yang penuh pergulatan dan pergolakan mendorong kita untuk masuk
dalam pusaran itu. Di satu sisi kita berada di garis kebenaran. Dan di sisi
yang lain kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak menginginkan kebenaran
itu. Salib Kristus yang suci pasti akan membawa kita ke garis kemenangan karena
tidak ada satu kekuatan manusia pun yang mampu mengalahkan kekuatan ilahi-Nya.
Ketiga, salib suci melambangkan kasih. Dengan melihat dan memiliki salib
Kristus, kita semakin dimotivasi oleh semangat Yesus sendiri untuk mengimplementasikan
nilai kasih kepada orang lain. Seperti Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah,
tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus
dipertahankan, melainkan telah mengosongkan Diri-Nya sendiri, dan mengambil
rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:6-7). Salib
Yesus adalah sebuah kebanggaan identitas iman dan bukan sebagai simbol
gagah-gagahan, yang menjadikan kita pribadi yang angkuh dan tidak memiliki
kerendahan hati. Lebih dari itu, salib suci adalah sebuah simbol keyakinan yang
suci akan Dia yang telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan uma manusia.
Menyadari hal demikian, menjadi tugas kita selanjutnya agar dengan “mengambil
rupa seorang hamba” atau dengan semangat kerendahan hati yang terus bernyala-nyala,
kita terus menjadikan salib sebagai tanda yang menyelamatkan; tidak hanya bagi
diri kita sendiri tetapi juga orang lain yang ada di sekitar kita. Amin.
***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar