Luk 9:46-50
“Jalan air selalu mencari tempat yang lebih rendah. Jalan manusia selalu
mencari tempat yang paling tinggi sehingga selalu menimbulkan masalah karena
semakin tinggi kedudukan semakin sedikit jumlah yang tersedia, sedangkan
peminatnya terus bertambah” (Filsafat Berpikir Orang Timur, hal. 201-202).
Memiliki status dan kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat adalah
kebanggaan setiap manusia. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa kecenderungan
setiap manusia di muka bumi adalah mau mencari dan mewujudkan apa yang menjadi
keinginannya. Berbagai cara dan strategi ditempuh. Mulai dari cara yang wajar
sampai menggunakan cara-cara yang tidak wajar. Cara yang wajar biasanya
terwujud karena sudah memenuhi berbagai kualifikasi. Mulai dari kualifikasi
pendidikan, pengalaman, kompetensi, kemampuan dan integritas moral. Aspek-aspek
ini menjadi tuntutan utama seseorang bisa mendapatkan kedudukan dan jabatan
yang tinggi di tengah masyarakat. Orang juga bisa mengambil jalan pintas untuk
mendapatkan kedudukan dan status yang tinggi dengan cara-cara yang tidak lazim.
Bisa karena kedekatan dengan pihak tertentu yang memegang otoritas kekuasaan.
Atau juga dengan strategi-strategi licik untuk memperolehnya.
Dambaan atau keinginan akan status dan kedudukan yang tinggi di masyarakat
juga menjadi perbincangan yang hangat di tengah para murid (Luk 9:46-50).
Mereka tidak saja mendiskusikannya tetapi mempertentangkannya. Masing-masing
murid mengklaim bahwa mereka berhak mendapat kedudukan yang tinggi.
Masing-masing merasa menjadi yang terbesar dibandingkan dengan yang lain. Dasar
klaim karena kedekatan relasi dengan Yesus. Mungkin juga para murid merasa
sudah menunjukkan kinerja yang baik. Setelah sekian lama membangun suasana
persaudaraan yang intim dan bekerjasama secara apik bersama Yesus mewartakan
Sabda Allah, mulai muncul rasa tinggi hati atau arogan dalam diri para rasul.
Mereka merasa diri besar dan mempertentangkan siapa yang terbesar di antara
mereka.
Yesus membaca situasi yang terjadi di antara para murid. Maka Ia mengambil
dan menempatkan seorang anak kecil di antara mereka. Kemudian Yesus berkata:
“Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan
barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang
terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Gambaran
anak kecil bukan sekedar anak lugu dan polos. Namun di dalam diri anak kecil
ada filosofi yang sungguh mendalam. Anak kecil tidak hanya polos dan lugu
tetapi juga tulus, setia mendengarkan dan punya komitmen mau melaksanakan.
Dalam keluguan dan kepolosan seorang anak kecil, ada nilai ketulusan, kesetiaan
dan komitmen untuk mengimplementasikan berbagai hal baik dalam hidup. Gambaran
seorang anak kecil berbanding terbalik dengan gambaran orang dewasa. Seorang
anak yang memiliki ketulusan, kesetiaan dan komitmen tidak selalu terdeskripsi
dalam diri orang dewasa. Orang dewasa memang “besar” dalam sisi usia tetapi
belum tentu memiliki hal-hal positif seperti yang dimiliki seorang anak kecil.
Orang dewasa cenderung bersikap tidak tulus, tidak setia dan tidak mempunyai
komitmen dalam hidupnya. Mereka sibuk mencari kehormatan, kedudukan dan jabatan
yang tinggi dalam masyarakat. Masing-masing dari mereka mengklaim diri “paling
besar”. Seperti yang terjadi di antara para murid Yesus. Para murid adalah
gambaran diri dari orang dewasa yang sibuk mencari kedudukan dan status sosial
yang tinggi.
Dengan menempatkan seorang anak kecil dan membeberkan filosofi yang
terkandung di dalam seorang anak kecil, Yesus mau mendorong para murid-Nya agar
memiliki jati diri dan filosofi hidup seperti seorang anak kecil. Polos dan lugu tidak selalu ditafsirkan
sebagai hal yang negatif. Polos dan lugu mengindikasikan keterbukaan dan
kesederhanaan diri yang harus dimiliki seorang murid. Dengan semangat ini, para
murid bisa meredam sikap pongah dan tidak memanfaatkan keunggulan yang mereka
miliki untuk mendongkrak status sosial di tengah publik. Para murid juga harus
menjadi seorang anak kecil yang memiliki nilai kesetiaan, semangat mendengarkan
dan punya komitmen tinggi untuk melaksanakan segala kehendak baik. Kehendak
baik itu selalu bermuara dan terarah kepada kehendak Allah demi terwujudnya
misi Kerajaan Allah di tengah dunia. Dengan nilai kesetiaan, seorang murid akan
tetap patuh pada Sang Guru Ilahi. Ia tidak akan melenceng pada segala tawaran
dan kepentingan dunia yang menggiurkan. Dan sebelum mengeksekusi setiap ajaran
yang telah disampaikan oleh Yesus, para murid harus terlebih dahulu
mendengarkan Yesus. Semangat mendengarkan tidak sekedar asal mendengarkan. Para
harus mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan oleh Yesus. Rekaman yang
baik akan perkataan Yesus membantu para murid untuk menginternalisasikannya
dalam diri mereka. Proses internalisasi yang matang akan sangat membantu para
murid untuk mengtransformasikannya dalam tindakan nyata. Para murid akan
memiliki komitmen yang kuat untuk mewartakan Sabda Allah seperti yang telah
diwariskan oleh Yesus kepada mereka.
Kuncinya adalah menjadi seperti seorang anak kecil. Tanpa memiliki “diri
dan semangat” seperti seorang anak kecil, kita semua tidak akan mampu menggapai
level sebagai murid Yesus yang sejati. Kita akan tetap menjadi murid Yesus yang
formalitas. Murid Yesus dengan nilai ala kadarnya. Karena kita sibuk mencari
panggung untuk mendongkrak status dan kedudukan kita di tengah masyarakat.
Fatalnya, kita banyak menggunakan kekuatan-kekuatan sesat yang tidak sesuai
dengan kehendak Allah untuk menggapai apa yang menjadi kemauan atau keinginan.
Kita suka akan jabatan duniawi, kita senang mencari status sosial yang tinggi,
dan kita gampang mengklaim diri sebagai “yang terbesar” di antara orang lain.
Sesudah mendapatkan apa yang kita inginkan, kita akan mudah terjebak dan jatuh
dalam perilaku yang berseberangan dengan kehendak Allah sendiri. Kita merasa
menjadi tuan yang layak dipertuanagungkan. Bahkan Tuhan sendiri tidak lagi
mendapat tempat yang layak di dalam hati dan perbuatan kita.
Sebagaimana para rasul, Yesus mendorong agar kita mampu mengadopsi
nilai-nilai baik yang dimiliki seorang anak kecil. Seorang anak kecil yang
memiliki kesederhanaan, ketulusan, kesetiaan dan komitmen yang tinggi.
Nilai-nilai ini penting dalam memompa semangat kita untuk menjadi seorang murid
Yesus yang sejati. Seorang murid yang lebih memprioritaskan kepentingan ilahi
daripada kepentingan duniawi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar