Pkh 1:2-11 & Luk 9:7-9
Cemas adalah salah satu perasaan manusiawi.
Perasaan itu bisa cerdas tapi juga bisa tidak cerdas. Perasaan yang cerdas
adalah energi positif yang berguna untuk kebaikan manusia. Ia memberi nutrisi
bagi akal dan membantu kinerja akal untuk mengambil keputusan yang tepat.
Dalam kehidupan rohani, kecemasan yang cerdas dapat membimbing orang kepada
iman yang lebih hidup. Kecemasan akan apa yang bakal terjadi di akhir kehidupan
mendorong orang mencari kepastian di dalam iman akan Tuhan dan mengikat diri
dengan-Nya. Kecemasan hadir sebagai berkat.
Sebaliknya perasaan yang tidak cerdas
merusakkan hidup manusia. Perasaan itu melumpuhkan nalar. Ia juga mengaburkan
peran hati untuk memindai nilai lalu menjerumuskan orang ke dalam tindakan yang
berlawanan dengan prinsip kebenaran dan keadilan. Orang yang terlalu cemas
bahkan menggambarkan imannya yang rapuh dan lemah. Kecemasan hadir sebagai
pintu kepada dosa.
Penginjil Lukas mengisahkan bahwa pembunuhan Yohanes oleh Herodes tidak
terlepas dari kecemasan yang tidak sehat yang membimbingnya kepada dosa. Ia
kuatir kalau-kalau pengaruh dan popularitas Yohanes itu mengancam kekuasaannya
sebagai raja. Ia membunuh untuk mencari rasa aman. Dengan begitu ia merasa tidak
ada lagi saingan yang bisa menarik hati publik dan membahayakan kekuasaannya.
Namun nyatanya tidaklah demikian. Pasca
kematian Yohanes pun, Herodes masih diliputi kecemasan. Dosa pembunuhan
menggusarkan hatinya. Hidupnya jauh dari rasa damai. Ketika Yesus menggemparkan
dunia dengan mujizat dan orang banyak menanggapi sebagai perbuatan Yohanes yang
telah bangkit dari antara orang mati, Herodes menjadi terlampau responsif. Ia
menunjukkan tanda kegalauan yang begitu menguasai jiwanya.
Meskipun penginjil mencatat bahwa Herodes begitu yakin dengan apa yang telah dilakukannya
terhadap Yohanes – “Yohanes telah kupenggal kepalanya” – namun ia tidak bisa
menyembunyikan kekuatirannya: “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan
hal-hal demikian?”
Bisa diduga kekalutan pikirannya. Jika benar kata orang bahwa Yohanes telah
bangkit dari antara orang mati maka ia akan menghadapi suatu masalah yang lebih
rumit. Ia bakal diturunkan dari kekuasaannya dan dihukum setimpal perbuatannya.
Maka seperti yang ditulis Lukas pada akhir Injil hari ini, Herodes berusaha
supaya dapat bertemu dengan Yesus. Ia ingin memastikan siapakah yang melakukan
mujizat dan perbuatan yang menggemparkan orang banyak itu. Herodes berpikir
bahwa dengan itu kekuatiran bisa diusir dari hidupnya. Ia yakin bisa menjadi
aman.
Namun Herodes lupa bahwa kebusukan hati yang mengandungkan kejahatan pembunuhan
dan melahirkan khaos dalam batinnya itu ibarat: “Matahari terbit, matahari
terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali” (Pkh 1:5). Nyatanya,
ia tetap merasa tidak aman dalam kekuasaannya. Kecemasan sebagai buah kejahatan
itu tetap ada dan selalu menggelitik hatinya.
Lukas menulis kisah tentang kecemasan Herodes ini untuk memberi pesan kepada
pembacanya, termasuk kita bahwa dosa dan kejahatan itu kekuatan paling dahsyat
yang merusakkan hati kita. Hati yang nyaman, tenang, tenteram dan damai serta
penuh kegembiraan itu akan diubah menjadi hati yang penuh kecemasan, kekuatiran
dan ketakutan. Buah dari dosa dan kejahatan itu akan tetap menghantui hidup
kita. Benarlah apa yang dikatakan Pengkhotbah: “Apa yang pernah ada akan ada
lagi, ... tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh 1:9).
Kita mengamini kata-kata Pengkhotbah ini, akan tetapi bukan untuk tinggal tetap
dalam kecemasan, melainkan dalam suasana hati yang tenang, aman, damai dan
bahagia. Wajar apabila kita cemas dan baik jika kita mengalaminya sebagai suatu
keadaan hati yang membimbing kepada keputusan yang tepat menyangkut hidup dan
iman kita.
Namun yang diingatkan kepada kita adalah agar kita tidak memprodusir kecemasan
yang memperpuruk hidup kita. Itulah kecemasan yang muncul akibat dosa dan
kejahatan; kecemasan yang merusakkan akal sehat, mencemarkan kemurnian hati dan
melemahkan, bahkan membunuh iman.
Agar kita tidak tinggal dalam kecemasan akibat dosa dan kejahatan maka yang
perlu kita lakukan adalah memperbaiki hidup kita, bukan menekan kecemasan itu
dengan perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Kita tidak bisa mengusir kecemasan a la Herodes; kecemasan diusir dengan kejahatan.
Kita yang mau berjalan di jalan keselamatan punya pilihan mengusir kecemasan akibat
dosa itu dengan pertobatan.
Sambil berusaha untuk itu, kita mempertajam kepekaan hati kita akan dosa dan
kejahatan dengan banyak melakukan perbuatan baik. Kita tidak akan terjebak lagi
dalam kecemasan akibat dosa dan kejahatan, sebab hati kita yang diperbauri dan
dipertajam dengan perbuatan baik akan menunjukkan ke arah mana kita harus
berlangkah. Sebaliknya kita akan bertumbuh dalam kecemasan yang cerdas yang
membimbing kita ke dalam hidup yang baik dan benar.***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar