Luk 6:6-11
Harman Sikh adalah seorang penganut agama Sikh yang taat. Ia hidup dan
tinggal di negara Selandia Baru. Salah satu ciri khas dari penganut agama Sikh
adalah selalu mengenakan sorban di kepala. Bagi para penganut agama Sikh,
sorban tidak hanya menjadi semacam pernik rohani tetapi lebih dari itu telah
menjadi identitas, kebanggaan dan keyakinan yang suci. Beberapa saat yang lalu,
Harman Sikh menunjukkan tindakan heroiknya ketika ia menolong seorang anak
kecil yang mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Kepala anak kecil itu terus
mengeluarkan darah dari kepalanya. Secara spontan, didorong oleh naluri
kemanuasiannya, Harman segera menolong sang anak. Yang unik dari tindakannya
adalah ia melepaskan sorban yang ada di kepalanya. Kemudian menahan aliran
darah dari kepala sang anak dengan menggunakan sorban sucinya. Sontak aksinya
mengundang simpati dan empati dari berbagai kalangan. Semua orang dari berbagai
lintas wilayah dan agama memuji aksi mulia dari Harman Sikh. “Saya tidak berpikir
tentang turban (sorban). Saya sedang berpikir tentang kecelakaan itu dan saya
hanya berpikir, dia perlu sesuatu di kepalanya karena dia berdarah. Itu
pekerjaan saya untuk membantu dan saya pikir orang lain akan melakukan hal yang
sama seperti saya”, kata Harman. Memang aksinya melanggar aturan dalam
agamanya. Namun, aksi kemanusiannya merefleksikan tindakan nyata dari ajaran
agama yang dianutnya. Tindakan penyelamatan dari Harman jauh melampaui segala
protokol keagamaan yang melekat dalam dirinya.
Dalam bacaan Injil (Luk 6:6-11) pada hari ini (Senin, 7/9/2020), Yesus
menunjukkan salah satu tindakan mukjizat-Nya dengan menyembuhkan seorang yang
mati sebelah tangannya. Esensi penyembuhan itu memang tidak salah. Yang menjadi
masalah justru tindakan mukjizat itu dilakukan pada hari Sabat; sebuah hari
yang dipandang kudus dalam agama Yahudi. Dalam konteks ajaran agama Yahudi, ada
sekian banyak aturan yang melarang orang melakukan pekerjaan pada hari Sabat.
Termasuk di dalamnya tindakan untuk menyelamatkan atau menyembuhkan orang
sakit. Dan para elit agama Yahudi tampil sebagai pengawal aturan yang
mengarahkan para penganut agama Yahudi untuk menaatinya. Kisah penyembuhan
orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat merupakan kisah lanjutan dari
kisah sebelumya yang mengisahkan kegiatan memetik gandum yang dilakukan oleh
para murid pada hari Sabat. Dalam kisah sebelumnya, para elit agama Yahudi yang
diwakili oleh orang Farisi melakukan protes terhadap aksi yang dilakukan oleh
para murid. Dalam konteks bacaan Injil hari ini, kehadiran para ahli Taurat dan
orang-orang Farisi bukan untuk mempersoalkan aksi mukjizat yang hendak
dilakukan oleh Yesus. Kehadiran para elit agama di dalam rumah ibadat hanya
dengan tujuan utama memata-matai pergerakan Yesus sehingga mereka dapat
menemukan celah untuk menyalahkan-Nya.
Yesus sudah tahu apa yang ada dalam pikiran para elit agama. Ia lalu
menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk bangun dan berdiri di tengah.
Kemudian dengan lantang Yesus berkata kepada semua orang yang hadir: “Manakah
yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat,
menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya? (Luk 6:9)” Setelah berkata
demikian Yesus akhirnya menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya
tersebut. Tindakan Yesus yang sungguh berwibawa ini sebenarnya mau menantang
dan sedikit memprovokasi para elit agama yang hadir di tempat itu. Yesus sudah
tahu bahwa Ia akan disalahkan. Namun, dari pada menyembunyikan sebuah kebenaran
iman, Yesus dengan terang benderang mempresentasikan kebenaran itu sehingga
dapat terkuak dan dipahami oleh semua orang. Dengan tindakan mukjizat pada hari
Sabat, sebenarnya Yesus mau menegaskan bahwa hari Sabat yang suci hendaknya
diisi dengan hal-hal yang baik, termasuk di dalamnya menyelamatkan orang yang
sedang sakit. Menyelamatkan orang yang sedang menderita adalah sebuah tindakan
yang tidak dilarang pada hari Sabat. Justru sebaliknya harus diapresiasi karena
tindakan itu mendapat tempat yang mulia di hati Allah. Dengan melarang segala tindakan
baik pada hari Sabat, para elit agama sesungguhnya sedang mempertontonkan
tindakan yang berlawanan dengan kemauan Allah sendiri. Di satu sisi, para elit
agama memang menjaga segala aturan dan tradisi agama dengan baik. Tetapi di
sisi yang lain, mereka juga sedang mengangkangi hukum yang paling tinggi dari
segala jenis hukum yakni hukum Allah. Para elit agama lebih memprioritaskan
hukum dan aturan yang dibuat oleh manusia sendiri dan tidak menghiraukan
substansi dari hukum itu sendiri yakni menyelamatkan nyawa manusia.
Kehadiran Yesus di dalam rumah ibadat hendak mempresentasikan hukum Allah
yang paling tinggi yakni hukum kasih. Melalui penyembuhan orang yang mati
sebelah tangannya, Yesus hendak mengkorelasikan pentingnya keselamatan nyawa
manusia pada hari sabat. Pada hakikatnya, hari Sabat memang harus dihormati
dengan tidak melakukan jenis-jenis pekerjaan yang telah ditentukan. Orang harus
berhenti dari segala aktivitas dunia dan melakukan segala ritus agama untuk
memuji Allah. Namun bagi Yesus, kalau hari Sabat adalah hari suci maka kesucian
hari Sabat hendaknya tidak hanya nampak dalam ritus-ritus agama melainkan
paling penting adalah melakukan tindakan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa
umat manusia yang sementara menderita dan sakit. Karena “Bukan orang sehat yang
memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang
benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17). Hari Sabat tidak boleh menjadi batu
sandungan untuk menghalangi orang untuk berbuat baik bagi sesamanya. Untuk itulah
Yesus datang untuk mempurifikasi segala peraturan dan hukum duniawi dengan
hukum yang dibawa-Nya yakni hukum kasih Allah.
Sebagai orang beriman, kita kadang lebih mengutamakan hidup dalam segala
jenis peraturan dan ritus agama yang mengikat kita. Misalnya, kita selalu rajin
beribadah pada hari Minggu. Kita selalu aktif melakukan berbagai devosi kepada
orang kudus. Kita selalu aktif terlibat dalam segala kegiatan keagamaan di
basis dan lingkungan. Dan masih banyak jenis aturan yang menuntut kehadiran aktif
kita sebagai umat beriman. Di samping semua itu, kita belum menyelaraskan
kesetiaan kita pada segala ritus dan aturan agama dengan hukum kasih yang
dituntut oleh Yesus sendiri. Kita belum menunjukkan sikap respek, sikap empati
dan semangat tolong menolong dengan sesama yang sementara menderita dan sakit.
Kita masih mementingkan hidup pribadi dari pada orang lain. Lantas, kita
menjadi pribadi apatis dan tidak memedulikan orang lain yang sementara menanti
uluran tangan kita. Di saat yang bersamaan, kita dengan khusyuk berdoa,
melantunkan segala madah dan pujian bagi nama Tuhan, sementara di samping kita
banyak orang yang sementara menjerit entah karena menahan lapar atau sakit yang
tidak tertahankan. Intisari refleksi bacaan Tuhan pada hari ini hendak membuka
kesadaran kita bahwa hukum kasih Allah jauh di atas segala jenis peraturan dan
ritus agama yang diciptakan oleh manusia sendiri. Kita diwajibkan untuk
memenuhi hukum, peraturan dan segala ritus dalam agama, namun alangkah lebih
baik apabila kita dengan setia mewujudnyatakannya dalam tindakan kasih kita
kepada sesama. Karena sebenarnya “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah
mati” (Yak 2:17). Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar