Senin, 07 September 2020

KASIH LEBIH PENTING

Luk 6:6-11

Harman Sikh adalah seorang penganut agama Sikh yang taat. Ia hidup dan tinggal di negara Selandia Baru. Salah satu ciri khas dari penganut agama Sikh adalah selalu mengenakan sorban di kepala. Bagi para penganut agama Sikh, sorban tidak hanya menjadi semacam pernik rohani tetapi lebih dari itu telah menjadi identitas, kebanggaan dan keyakinan yang suci. Beberapa saat yang lalu, Harman Sikh menunjukkan tindakan heroiknya ketika ia menolong seorang anak kecil yang mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Kepala anak kecil itu terus mengeluarkan darah dari kepalanya. Secara spontan, didorong oleh naluri kemanuasiannya, Harman segera menolong sang anak. Yang unik dari tindakannya adalah ia melepaskan sorban yang ada di kepalanya. Kemudian menahan aliran darah dari kepala sang anak dengan menggunakan sorban sucinya. Sontak aksinya mengundang simpati dan empati dari berbagai kalangan. Semua orang dari berbagai lintas wilayah dan agama memuji aksi mulia dari Harman Sikh. “Saya tidak berpikir tentang turban (sorban). Saya sedang berpikir tentang kecelakaan itu dan saya hanya berpikir, dia perlu sesuatu di kepalanya karena dia berdarah. Itu pekerjaan saya untuk membantu dan saya pikir orang lain akan melakukan hal yang sama seperti saya”, kata Harman. Memang aksinya melanggar aturan dalam agamanya. Namun, aksi kemanusiannya merefleksikan tindakan nyata dari ajaran agama yang dianutnya. Tindakan penyelamatan dari Harman jauh melampaui segala protokol keagamaan yang melekat dalam dirinya.

 

Dalam bacaan Injil (Luk 6:6-11) pada hari ini (Senin, 7/9/2020), Yesus menunjukkan salah satu tindakan mukjizat-Nya dengan menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya. Esensi penyembuhan itu memang tidak salah. Yang menjadi masalah justru tindakan mukjizat itu dilakukan pada hari Sabat; sebuah hari yang dipandang kudus dalam agama Yahudi. Dalam konteks ajaran agama Yahudi, ada sekian banyak aturan yang melarang orang melakukan pekerjaan pada hari Sabat. Termasuk di dalamnya tindakan untuk menyelamatkan atau menyembuhkan orang sakit. Dan para elit agama Yahudi tampil sebagai pengawal aturan yang mengarahkan para penganut agama Yahudi untuk menaatinya. Kisah penyembuhan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat merupakan kisah lanjutan dari kisah sebelumya yang mengisahkan kegiatan memetik gandum yang dilakukan oleh para murid pada hari Sabat. Dalam kisah sebelumnya, para elit agama Yahudi yang diwakili oleh orang Farisi melakukan protes terhadap aksi yang dilakukan oleh para murid. Dalam konteks bacaan Injil hari ini, kehadiran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi bukan untuk mempersoalkan aksi mukjizat yang hendak dilakukan oleh Yesus. Kehadiran para elit agama di dalam rumah ibadat hanya dengan tujuan utama memata-matai pergerakan Yesus sehingga mereka dapat menemukan celah untuk menyalahkan-Nya.

 

Yesus sudah tahu apa yang ada dalam pikiran para elit agama. Ia lalu menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk bangun dan berdiri di tengah. Kemudian dengan lantang Yesus berkata kepada semua orang yang hadir: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya? (Luk 6:9)” Setelah berkata demikian Yesus akhirnya menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya tersebut. Tindakan Yesus yang sungguh berwibawa ini sebenarnya mau menantang dan sedikit memprovokasi para elit agama yang hadir di tempat itu. Yesus sudah tahu bahwa Ia akan disalahkan. Namun, dari pada menyembunyikan sebuah kebenaran iman, Yesus dengan terang benderang mempresentasikan kebenaran itu sehingga dapat terkuak dan dipahami oleh semua orang. Dengan tindakan mukjizat pada hari Sabat, sebenarnya Yesus mau menegaskan bahwa hari Sabat yang suci hendaknya diisi dengan hal-hal yang baik, termasuk di dalamnya menyelamatkan orang yang sedang sakit. Menyelamatkan orang yang sedang menderita adalah sebuah tindakan yang tidak dilarang pada hari Sabat. Justru sebaliknya harus diapresiasi karena tindakan itu mendapat tempat yang mulia di hati Allah. Dengan melarang segala tindakan baik pada hari Sabat, para elit agama sesungguhnya sedang mempertontonkan tindakan yang berlawanan dengan kemauan Allah sendiri. Di satu sisi, para elit agama memang menjaga segala aturan dan tradisi agama dengan baik. Tetapi di sisi yang lain, mereka juga sedang mengangkangi hukum yang paling tinggi dari segala jenis hukum yakni hukum Allah. Para elit agama lebih memprioritaskan hukum dan aturan yang dibuat oleh manusia sendiri dan tidak menghiraukan substansi dari hukum itu sendiri yakni menyelamatkan nyawa manusia.

Kehadiran Yesus di dalam rumah ibadat hendak mempresentasikan hukum Allah yang paling tinggi yakni hukum kasih. Melalui penyembuhan orang yang mati sebelah tangannya, Yesus hendak mengkorelasikan pentingnya keselamatan nyawa manusia pada hari sabat. Pada hakikatnya, hari Sabat memang harus dihormati dengan tidak melakukan jenis-jenis pekerjaan yang telah ditentukan. Orang harus berhenti dari segala aktivitas dunia dan melakukan segala ritus agama untuk memuji Allah. Namun bagi Yesus, kalau hari Sabat adalah hari suci maka kesucian hari Sabat hendaknya tidak hanya nampak dalam ritus-ritus agama melainkan paling penting adalah melakukan tindakan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa umat manusia yang sementara menderita dan sakit. Karena “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17). Hari Sabat tidak boleh menjadi batu sandungan untuk menghalangi orang untuk berbuat baik bagi sesamanya. Untuk itulah Yesus datang untuk mempurifikasi segala peraturan dan hukum duniawi dengan hukum yang dibawa-Nya yakni hukum kasih Allah.

 

Sebagai orang beriman, kita kadang lebih mengutamakan hidup dalam segala jenis peraturan dan ritus agama yang mengikat kita. Misalnya, kita selalu rajin beribadah pada hari Minggu. Kita selalu aktif melakukan berbagai devosi kepada orang kudus. Kita selalu aktif terlibat dalam segala kegiatan keagamaan di basis dan lingkungan. Dan masih banyak jenis aturan yang menuntut kehadiran aktif kita sebagai umat beriman. Di samping semua itu, kita belum menyelaraskan kesetiaan kita pada segala ritus dan aturan agama dengan hukum kasih yang dituntut oleh Yesus sendiri. Kita belum menunjukkan sikap respek, sikap empati dan semangat tolong menolong dengan sesama yang sementara menderita dan sakit. Kita masih mementingkan hidup pribadi dari pada orang lain. Lantas, kita menjadi pribadi apatis dan tidak memedulikan orang lain yang sementara menanti uluran tangan kita. Di saat yang bersamaan, kita dengan khusyuk berdoa, melantunkan segala madah dan pujian bagi nama Tuhan, sementara di samping kita banyak orang yang sementara menjerit entah karena menahan lapar atau sakit yang tidak tertahankan. Intisari refleksi bacaan Tuhan pada hari ini hendak membuka kesadaran kita bahwa hukum kasih Allah jauh di atas segala jenis peraturan dan ritus agama yang diciptakan oleh manusia sendiri. Kita diwajibkan untuk memenuhi hukum, peraturan dan segala ritus dalam agama, namun alangkah lebih baik apabila kita dengan setia mewujudnyatakannya dalam tindakan kasih kita kepada sesama. Karena sebenarnya “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

 

 

 

 

 

 

  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar