Kamis, 03 September 2020

PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA

 

Luk 5:1-11

            Kalau kita membaca kisah tokoh-tokoh terkenal dalam Kitab Suci, maka kita akan menemukan sejumlah dari mereka yang terpanggil merasa berat dan menolak panggilan Tuhan karena apa yang diminta Tuhan tidak masuk akal dan melampaui kemampuan manusia. Perasaan tak layak dan kesadaran sebagai orang berdosa sering kali menjadi alasan mendasar untuk menolak setiap panggilan Tuhan. Sebut saja: misalnya Musa, Yesaya, Yeremia. Tuhan tetap memanggil dan mengutus orang-orang yang tidak sempurna dan merasa diri tidak layak untuk melaksanakan misi Agung-Nya. Panggilan Tuhan ini menjadikan mereka berubah total, mereka menjadi sangat rendah hati dan terbuka terhadap bimbingan Tuhan. Simon Petrus tampak enggan melaksankan anjuran Yesus untuk bertolak lebih dalam lagi agar bisa menangkap ikan meskipun pada waktu yang tidak tepat. Dalam pandangan Petrus, permintaan itu tidak masuk akal dengan pengalamannya sebagai pelaut unggul. Tetapi hal yang luar biasa adalah, sekalipun ia mempunyai alasan-alasan rasional, namun ia tetap menaati perintah Yesus, begitulah cara kerja Roh Kudus yang mampu mengubah hati yang keras menjadi lembut dan taat.

            Ketaatan pada zaman ini bukanlah perkara yang mudah. Orang modern sekarang ini terbiasa dengan mempertanyakan segala sesuatu dan sangat mengagungkan kebebasan dan akal budi. Sering terbersit pertanyaan: apakah kebebasan manusia bertentangan dengan ketaatan pada kehendak Allah? Untuk orang yang terbiasa melakukan dosa pasti jawabannya adalah YA, tetapi bagi mereka yang ingin hidup benar, taat pada kehendak Allah pasti akan menuntun kita pada kebebasan sejati, hidup menjadi lebih damai dan sejahtera.

            Yesus menyuruh Petrus untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan di sana. Sebetulnya Petrus mempunyai sejumlah alasan rasional untuk mengabaikan perintah Yesus, misalnya latar belakang orang tua Yesus adalah tukang kayu bukan nelayan. Bagaimana mereka sebagai nelayan harus menuruti nasihat tukang kayu dalam hal menangkap ikan? Sepanjang malam itu mereka tidak mendapat ikan (Ayat 5), padahal malam adalah waktu terbaik untuk menangkap ikan. Tetapi sekarang Yesus menyuruhnya menebarkan jala untuk menagkap ikan pada pagi atau siang hari. Tempat yang dalam bukanlah tempat yang baik untuk menjala ikan, kecuali mereka mempunyai jala yang berukuran besar dan lebar, yang jelas pada zaman itu tidak seorang pun yang memiliki jala besar. Di tengah keraguannya, Petrus akhirnya mengikuti perintah Yesus bukan karena percaya tetapi mungkin karena sungkan atau sekedar menyenangkan hati Yesus. Kesetiaan dan kerelaannya untuk melakukan anjuran Sang Guru yang tidak masuk akal itu justru mendatangkan hasil yang mengagumkan di luar pemahaman manusia. Menyaksikan peristiwa yang tampak mustahil ini, Petrus rasanya mau mati saja, ia tersungkur di depan di depan Yesus lalu dengan polos mengatakan: “Tuhan, tinggalkan aku, karena aku ini orang berdosa”. Kerendahan hati Petrus ini membuat Yesus menebak, seperti apa sikap dan mental Petrus. Yesus tahu bahwa Petrus bakal menjadi seorang murid yang baik dan diharapkan menjadi agen pewarta Injil Kerajaan Allah yang militan. Berhadapan dengan pengalaman itu, tidak ada hal yang dilakukan Petrus selain menyadari keterbatasan dan kerapuhan dirinya. Kesadaran dan kerendahan hati inilah yang menjadi dasar bagi Yesus untuk memanggil Petrus melakukan karya Tuhan yang lebih besar, menjadi penjala manusia.

            Perkenalan dengan Yesus telah mengubah pandangan para nelayan Galilea tentang Mesias dan keselamatan yang dijanjikan Tuhan. Mujizat penangkapan ikan di danau itu membuat mereka kagum. Tahap kagum menghantar mereka melangkah satu anak tangga lebih tinggi menuju percaya. Kepercayaan kepada Yesus sebagai Mesias membuat mereka dapat melihat dan mengintrospeksi diri: siapakah diri mereka dihadapan Allah dan jawaban Tuhan atas keraguan itu adalah bahwa Tuhanlah yang mengubah hidup mereka. “Tuhan tinggalkanlah aku karena aku ini orang berdosa,” kata Petrus yang juga diamini oleh teman-temannya. Yesus berkata: “Jangan takut!, Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”. Yesus secara tidak langsung memberikan peneguhan kepada Simon Petrus dan teman-temannya supaya jangan takut akan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan masa lalu yang kelam. Sekarang Tuhan memilihmu dan belajarlah dari-Nya untuk menerima kasih karunia-Nya, maka engkau akan melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan!. Inilah babak baru hidup para murid, karena mereka kini bukan lagi sekedar nelayan Galilea, tetapi murid-murid Mesias yang menebar jala keselamatan, menjaring jiwa-jiwa orang berdosa untuk dihantar ke hadapan Tuhan untuk memperoleh keselamatan.

            Kisah ini menghantar kita untuk merefleksikan kehendak Allah yang memanggil orang-orang biasa dan sederhana untuk melaksanakan tugas perutusan sebagai penjala manusia. Seringkali kita ragu terhadap perintah dan panggilan Tuhan karena kita merasa kita bukanlah siapa-siapa yang tidak memiliki kualifikasi pengetahuan yang mumpuni dalam dunia agama. Sikap skeptis dalam diri ini memunculkan pertanyaan: apakah tugas berat ini mampu kita jalankan dengan baik dan memberikan hasil atau tidak, karena sepertinya berlawanan dengan perhitungan matematis dan logika manusia. Teks hari ini memberikan jaminan bahwa Tuhan akan berkarya bersama kita kalau kita membuka hati dan mengikuti perintah-Nya, kalau kita berani keluar dari zona nyaman perahu kita, kalau kita menempatkan Sabda Tuhan di atas logika berpikir kita yang terbatas. Panggilan para murid adalah tahapan perjalanan iman yang harus dilewati oleh setiap umat beriman. Tuhan menarik perhatian kita dengan pewahyuan diri-Nya yang mengingatkan kita bahwa kita adalah ciptaan yang berakar pada hakikat-Nya sendiri. Allah telah mewujudkan diri-Nya menjadi manusia dan meneguhkan kita dengan pengajaran dan karya-karya besar-Nya di dunia agar kita dapat melanjutkan karya penyelelamatan-Nya untuk melayani dan menjala manusia menuju keselamatan paripurna. Akhirnya Ia mengutus kita untuk menjadi pewarta cinta-Nya kepada sesama lewat kata dan perbuatan kita setiap hari. Di sini kita tidak sekedar menjadi penerima kasih karunia Tuhan, tetapi menjadi pengantara dan pembagi cinta kepada mereka yang membutuhkan. Pada tahap ini, kita berubah dari sekedar penjala ikan menjadi penjala manusia sekaligus beralih menjadi rekan kerja Allah dalam karya keselamatan. Hidup kita menjadi semakin bermakna kalau kita memandang hidup ini sebagai anugerah atau hadia yang dapat memberi manfaat besar bagi sesama kita. Amin ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar