Luk 5:1-11
Kalau kita membaca kisah tokoh-tokoh
terkenal dalam Kitab Suci, maka kita akan menemukan sejumlah dari mereka yang
terpanggil merasa berat dan menolak panggilan Tuhan karena apa yang diminta
Tuhan tidak masuk akal dan melampaui kemampuan manusia. Perasaan tak layak dan
kesadaran sebagai orang berdosa sering kali menjadi alasan mendasar untuk
menolak setiap panggilan Tuhan. Sebut saja: misalnya Musa, Yesaya, Yeremia.
Tuhan tetap memanggil dan mengutus orang-orang yang tidak sempurna dan merasa
diri tidak layak untuk melaksanakan misi Agung-Nya. Panggilan Tuhan ini
menjadikan mereka berubah total, mereka menjadi sangat rendah hati dan terbuka
terhadap bimbingan Tuhan. Simon Petrus tampak enggan melaksankan anjuran Yesus
untuk bertolak lebih dalam lagi agar bisa menangkap ikan meskipun pada waktu
yang tidak tepat. Dalam pandangan Petrus, permintaan itu tidak masuk akal
dengan pengalamannya sebagai pelaut unggul. Tetapi hal yang luar biasa adalah,
sekalipun ia mempunyai alasan-alasan rasional, namun ia tetap menaati perintah
Yesus, begitulah cara kerja Roh Kudus yang mampu mengubah hati yang keras
menjadi lembut dan taat.
Ketaatan pada zaman ini bukanlah
perkara yang mudah. Orang modern sekarang ini terbiasa dengan mempertanyakan
segala sesuatu dan sangat mengagungkan kebebasan dan akal budi. Sering
terbersit pertanyaan: apakah kebebasan manusia bertentangan dengan ketaatan
pada kehendak Allah? Untuk orang yang terbiasa melakukan dosa pasti jawabannya
adalah YA, tetapi bagi mereka yang ingin hidup benar, taat pada kehendak Allah
pasti akan menuntun kita pada kebebasan sejati, hidup menjadi lebih damai dan
sejahtera.
Yesus menyuruh Petrus untuk bertolak
ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan di sana.
Sebetulnya Petrus mempunyai sejumlah alasan rasional untuk mengabaikan perintah
Yesus, misalnya latar belakang orang tua Yesus adalah tukang kayu bukan
nelayan. Bagaimana mereka sebagai nelayan harus menuruti nasihat tukang kayu
dalam hal menangkap ikan? Sepanjang malam itu mereka tidak mendapat ikan (Ayat
5), padahal malam adalah waktu terbaik untuk menangkap ikan. Tetapi sekarang
Yesus menyuruhnya menebarkan jala untuk menagkap ikan pada pagi atau siang
hari. Tempat yang dalam bukanlah tempat yang baik untuk menjala ikan, kecuali
mereka mempunyai jala yang berukuran besar dan lebar, yang jelas pada zaman itu
tidak seorang pun yang memiliki jala besar. Di tengah keraguannya, Petrus
akhirnya mengikuti perintah Yesus bukan karena percaya tetapi mungkin karena
sungkan atau sekedar menyenangkan hati Yesus. Kesetiaan dan kerelaannya untuk
melakukan anjuran Sang Guru yang tidak masuk akal itu justru mendatangkan hasil
yang mengagumkan di luar pemahaman manusia. Menyaksikan peristiwa yang tampak
mustahil ini, Petrus rasanya mau mati saja, ia tersungkur di depan di depan
Yesus lalu dengan polos mengatakan: “Tuhan, tinggalkan aku, karena aku ini
orang berdosa”. Kerendahan hati Petrus ini membuat Yesus menebak, seperti apa
sikap dan mental Petrus. Yesus tahu bahwa Petrus bakal menjadi seorang murid
yang baik dan diharapkan menjadi agen pewarta Injil Kerajaan Allah yang
militan. Berhadapan dengan pengalaman itu, tidak ada hal yang dilakukan Petrus
selain menyadari keterbatasan dan kerapuhan dirinya. Kesadaran dan kerendahan
hati inilah yang menjadi dasar bagi Yesus untuk memanggil Petrus melakukan
karya Tuhan yang lebih besar, menjadi penjala manusia.
Perkenalan dengan Yesus telah
mengubah pandangan para nelayan Galilea tentang Mesias dan keselamatan yang
dijanjikan Tuhan. Mujizat penangkapan ikan di danau itu membuat mereka kagum.
Tahap kagum menghantar mereka melangkah satu anak tangga lebih tinggi menuju
percaya. Kepercayaan kepada Yesus sebagai Mesias membuat mereka dapat melihat
dan mengintrospeksi diri: siapakah diri mereka dihadapan Allah dan jawaban
Tuhan atas keraguan itu adalah bahwa Tuhanlah yang mengubah hidup mereka.
“Tuhan tinggalkanlah aku karena aku ini orang berdosa,” kata Petrus yang juga
diamini oleh teman-temannya. Yesus berkata: “Jangan takut!, Mulai dari sekarang
engkau akan menjala manusia”. Yesus secara tidak langsung memberikan peneguhan
kepada Simon Petrus dan teman-temannya supaya jangan takut akan dosa-dosa dan
kelemahan-kelemahan masa lalu yang kelam. Sekarang Tuhan memilihmu dan
belajarlah dari-Nya untuk menerima kasih karunia-Nya, maka engkau akan
melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan!. Inilah babak baru hidup para murid,
karena mereka kini bukan lagi sekedar nelayan Galilea, tetapi murid-murid
Mesias yang menebar jala keselamatan, menjaring jiwa-jiwa orang berdosa untuk
dihantar ke hadapan Tuhan untuk memperoleh keselamatan.
Kisah ini menghantar kita untuk
merefleksikan kehendak Allah yang memanggil orang-orang biasa dan sederhana
untuk melaksanakan tugas perutusan sebagai penjala manusia. Seringkali kita
ragu terhadap perintah dan panggilan Tuhan karena kita merasa kita bukanlah
siapa-siapa yang tidak memiliki kualifikasi pengetahuan yang mumpuni dalam
dunia agama. Sikap skeptis dalam diri ini memunculkan pertanyaan: apakah tugas
berat ini mampu kita jalankan dengan baik dan memberikan hasil atau tidak,
karena sepertinya berlawanan dengan perhitungan matematis dan logika manusia.
Teks hari ini memberikan jaminan bahwa Tuhan akan berkarya bersama kita kalau
kita membuka hati dan mengikuti perintah-Nya, kalau kita berani keluar dari
zona nyaman perahu kita, kalau kita menempatkan Sabda Tuhan di atas logika
berpikir kita yang terbatas. Panggilan para murid adalah tahapan perjalanan
iman yang harus dilewati oleh setiap umat beriman. Tuhan menarik perhatian kita
dengan pewahyuan diri-Nya yang mengingatkan kita bahwa kita adalah ciptaan yang
berakar pada hakikat-Nya sendiri. Allah telah mewujudkan diri-Nya menjadi
manusia dan meneguhkan kita dengan pengajaran dan karya-karya besar-Nya di
dunia agar kita dapat melanjutkan karya penyelelamatan-Nya untuk melayani dan
menjala manusia menuju keselamatan paripurna. Akhirnya Ia mengutus kita untuk
menjadi pewarta cinta-Nya kepada sesama lewat kata dan perbuatan kita setiap
hari. Di sini kita tidak sekedar menjadi penerima kasih karunia Tuhan, tetapi
menjadi pengantara dan pembagi cinta kepada mereka yang membutuhkan. Pada tahap
ini, kita berubah dari sekedar penjala ikan menjadi penjala manusia sekaligus
beralih menjadi rekan kerja Allah dalam karya keselamatan. Hidup kita menjadi
semakin bermakna kalau kita memandang hidup ini sebagai anugerah atau hadia
yang dapat memberi manfaat besar bagi sesama kita. Amin ***Bernard Wadan***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar