Kamis, 17 September 2020

Perempuan Dalam Karya Yesus dan Gereja

Luk 8:1-3


Penginjil Lukas menyebutkan bahwa di dalam perjalanan karya misi-Nya Yesus dibantu bukan saja oleh para murid-Nya yang rata-rata adalah kaum lelaki, tetapi juga oleh para perempuan.


Perempuan-perempuan itu mendedikasikan diri mereka dan memberikan apa yang mereka miliki untuk melayani Yesus dan para murid-Nya. Ada banyak perempuan yang melayani dengan penuh kasih. Beberapa nama disebutkan dari antara mereka adalah Maria Magdalena yang disembuhkan Yesus dari kerasukan tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, dan Susana.


Dedikasi dan pelayanan kepada Yesus dan para murid-Nya tidak terpisahkan pengalaman mereka akan Yesus. Para perempuan itu telah menerima kasih karunia dari Yesus dalam kesembuhan yang dialami. Mereka juga mendapatkan perlindungan istimewa dari Yesus. Dedikasi dan pelayanan yang diberikan itu adalah wujud dari sikap hormat mereka yang istimewa sekaligus pengungkapan iman mereka kepada-Nya.

 

Pengabdian dan pelayanan mereka itu menjadi jiwa yang menggerakkan sekian banyak perempuan yang lain dari zaman ke zaman yang menunjukkan kepercayaan kepada Yesus. Ada banyak biara-biara perempuan, misionaris awam perempuan dan juga umat beriman pada umumnya terpanggil untuk mengabdikan diri dan melayani Dia dalam berbagai bidang tugas dan karya mereka masing-masing. Tidak sedikit juga orang awam perempuan yang membuka pintu hatinya dan mendonasikan apa yang mereka miliki untuk tujuan yang satu dan sama itu.


Di tengah situasi krisis iman dan identitas yang melanda kehidupan Gereja dewasa ini kita masih menaruh harapan pada kaum perempuan dan anak-anak yang tetap menunjukkan partisipasi secara nyata. Mereka tidak memiliki kedudukan istimewa di dalam gereja karena kekuasaan lelaki masih terasa kental dan mendominasi. Namun justru yang “disepelehkan” itulah yang tetap menunjukkan komitmen iman dalam kehidupan Gereja. Dalam berbagai kegiatan iman maupun sosial nyata bahwa yang lebih berperan aktif adalah kaum perempuan (dan juga anak-anak).


Secara umum, dalam banyak kesempatan kaum perempuan memilih untuk diam, bukan karena tidak mampu berbicara, melainkan karena mereka masih menunjukkan respek yang sepatutnya pada kaum lelaki. Namun dalam diam mereka sebenarnya sedang menggemakan kembali suasana kehidupan dan karya Yesus yang diwarnai oleh kehadiran kaumnya.


Suara mereka itu ada dalam aksi nyata mereka. Suara itu tidak merepresentasikan hasrat tersembunyi untuk merebut posisi kekuasaan. Namun mereka sedang menyuarakan posisi mereka yang sangat dihargai oleh Yesus dan itu penting untuk kelangsungan hidup Gereja. Dan memang benar bahwa kehadiran dan peran mereka menentukan kehidupan Gereja sejak awal.


Maka Gereja mesti menghargai respek Yesus atas peran serta kaum perempuan dalam karya pelayanan-Nya dan mengaplikasikannya dalam pemberian peran dan tanggung jawab untuk kelangsungan hidup Gereja. Untuk maksud itu maka hendaknya mereka tidak dijadikan sebagai objek dari kebijakan pastoral melulu, melainkan subjek yang berperan penting dalam penentuan kebijakan dan arah hidup dan perkembangan Gereja, dan bersama-sama semua pihak menunjukkan peran sertanya masing-masing secara hidup dan bertanggung jawab.


Di tengah situasi krisis yang kita alami dewasa ini, kaum perempuan dengan komitmennya yang masih kuat pada kehidupan Gereja menjadi potensi dan peluang bagi Gereja untuk membangkitkan kembali iman yang tergerus oleh zaman dan menumbuhkan pula semangat pengabdian dan pelayanan semua anggota Gereja demi perkembangan dan kelangsungan hidup Gereja.

 

Berkenaan dengan ini, maka baiklah kiranya bahwa peran dan kedudukan kaum perempuan ini bisa menjadi titik refleksi bagi Gereja. Maksudnya adalah supaya spirit yang menjiwai mereka untuk mengabadi dan melayani sejak awal kehidupan Gereja hingga sekarang ini dapat menjadi salah satu kekuatan untuk menumbuhkan kembali hidup Gereja secara dinamis di tengah situasi zaman ini.***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar