Selasa, 15 September 2020

HATI YANG TERBUKA


(Luk 7: 31 – 35)

Ungkapan “keras hati” mengacu kepada makna orang yang bersikap ekslusif dalam hidupnya. Sikap ekslusif menunjuk pada orang yang tertutup hatinya. Orang yang tertutup hatinya cenderung merasa diri paling benar, paling pintar dalam segala hal dan susah menerima pendapat atau pikiran dari orang lain. Orang yang tertutup hatinya akan sulit mengambil sikap terbuka berhadapan dengan orang-orang ada di sekitar mereka. Tipikal orang-orang ini akan mengambil jalan resisten ketika berhadapan dengan orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Mereka akan melawan dengan segala cara untuk mempersalahkan pihak lain, walaupun mungkin pihak lain tidak selalu salah. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain selalu salah di mata mereka. Mereka punya “nilai” tersendiri yang tidak bisa digangggu gugat. Di lain pihak, mereka berusaha mengarahkan orang lain untuk mengikuti segala pikiran dan tindakan mereka. Bahkan, sikap pressure (memaksa) akan dilakukan apabila orang tidak mengikuti segala pikiran dan kemauan yang telah mereka gariskan.

 

Pada hari ini (Rabu/16/9/2020), Yesus mengkritik keras para elit agama yang mempertontonkan sikap keras hati ((Luk 7:31-35). Sikap keras hati dari para elit agama justru dilakukan terhadap dua tokoh yang datang membawa misi keselamatan kepada umat Israel. Pertama, para elit agama menunjukkan sikap keras hati terhadap Yohanes Pembaptis. Pola hidup asketis yang ditunjukkan oleh Yohanes dengan tidak makan roti dan tidak minum anggur dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Para pemimpin agama Yahudi melabeli Yohanes Pembaptis sebagai orang gila. Hal ini merujuk pada pola hidupnya yang keras dan tidak lazim. Karena tidak merasa nyaman dengan kehadiran Yohanes Pembaptis maka para pemimpin agama menutup pintu hati mereka untuk tidak menerima segala seruan pewartaan dari sang nabi. Mereka tidak mau bertobat dan memberi diri dibaptis. Mereka dengan tegas menolak segala hal yang disampaikan dan dilakukan oleh Yohanes Pembaptis.

 

Kedua, para elit agama menunjukkan sikap keras hati terhadap Yesus. Mereka menolak tindakan Yesus yang dekat dengan orang kecil terutama dengan kaum pendosa dan para pemungut cukai. Ketika Yesus makan dan minum bersama dengan orang-orang kecil tersebut, para elit agama mencap Yesus sebagai seorang pelahap dan peminum. Pada intinya, segala hal baik yang dilakukan Yesus, entah itu berupa pewartaan atau tindakan mukjizat selalu dilihat sebagai sesuatu hal yang negatif. Kekerasan hati para pemimpin agama inilah yang menimbulkan rasa heran dalam diri Yesus. Para pemimpin agama Yahudi sebenarnya sementara memamerkan perilaku ambigu dalam diri mereka. Di satu sisi mereka menolak Yohanes karena menggaungkan kidung dukacita agar umat segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Namun, di sisi yang lain, mereka menolak juga kehadiran Yesus yang membawa suasana penuh sukacita dan kegembiraan. Ambiguitas para pemimpin agama Yahudi ini diparalelkan oleh Yesus dengan sikap anak-anak yang ada di pasar. “Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk 7:32).

 

Sikap keras hati yang ditunjukkan oleh para elit agama Yahudi menegaskan kedangkalan iman mereka akan Allah. Mereka sibuk bersembunyi di balik kemegahan jubah dan atribut-atribut rohani demi memenuhi segala kepentingan duniawi. Mereka menampilkan diri sangat agamis tetapi sungguh tidak beriman. Mereka kelihatan sangat dekat dengan Allah, namun hati mereka jauh dari Allah. Di tengah terpaan sikap keras hati kaum elit Yahudi, ternyata Yesus masih menemukan ada sebagian orang yang mau membuka hatinya dan percaya kepada Allah. Hanya orang-orang ini yang mau menerima hikmat atau rahmat keselamatan yang telah diwartakan oleh Yesus. Hikmat Allah yang terencana dalam diri Yesus sungguh mengalir dalam diri mereka yang mau bersikap terbuka dan percaya. Rencana Allah membuktikan kebenarannya dalam kehidupan mereka yang menerimanya (Tafsir alkitab PB, hal.129). Hikmat Allah hanya akan bersemayam dalam diri orang-orang yang tidak menunjukkan kekerasan hatinya. Melainkan kepada mereka yang sungguh percaya, mau menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam penyelenggaraan ilahi dan mau berjalan dalam kebenaran-Nya.

 

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi masa kini telah menuntut kita sebagai kaum beriman untuk turut larut dan berubah di dalamnya. Seiring dengan perkembangan itu, menjadi hal yang wajar apabila dampak ikutannya adalah kita semakin kuat dan matang dalam aneka ilmu pengetahuan. Kita semakin merasa hebat dan pintar dalam berbagai bidang ilmu. Dengan spesifikasi ilmu tersebut, kita mampu menganalisis sebuah persoalan dan mencari jalan keluarnya. Namun, seringkali realitas menunjukkan bahwa semakin tinggi atau luas pengetahuan yang dimiliki, membuat kita sebagai orang Katolik masa kini menjadi keras hati. Hati kita menjadi tertutup untuk mendengar berbagai pikiran, pendapat, atau nasihat dari orang lain. Kita lebih cenderung menyalahkan orang lain dan menuntut orang lain untuk mengikuti segala kemauan kita. Hal ini terjadi karena kita merasa diri paling hebat dan pintar. Apabila muncul persoalan, kita suka membangun argumen pembenaran diri dan sibuk mencari kambing hitam kepada orang lain. Hati yang keras tidak hanya ditunjukkan kepada sesama, tetapi juga kepada Tuhan. Kita suka membangun sikap kompromistis dengan Tuhan. Dengan tahu dan mau berbuat dosa karena berpikir Tuhan itu maha pengampun, maha kasih, maha murah, dan sebagainya. Tanpa beban kita menyimpang dari jalan Tuhan karena yakin Tuhan pasti akan mengampuni dan memanggil kita kembali ke jalan-Nya. Sikap keras hati juga membuat hati kita menjadi tertutup untuk tidak mau membaca atau mendengar warta Allah. Sikap ini yang menciderai dan melemahkan semangat kita untuk semakin beriman kepada Tuhan. Imbasnya, apabila datang sedikit tantangan, kita gampang menyerah, putus asa dan mempertanyakan eksistensi Tuhan.

 

Hati yang terbuka adalah kunci iman menuju hikmat Allah. Sikap mulia ini telah ditunjukkan oleh dua orang kudus yang kita rayakan pada hari ini yakni Santo Kornelius dan Santo Siprianus. Santo Kornelius adalah paus kita yang ke-21. Sedangkan Santo Siprianus adalah seorang uskup Kartago (Tunisia). Kedua orang kudus ini hidup pada masa penganiayaan umat Kristen. Karena keterbukaan hati dan kepercayaan kepada Allah, kedua tokoh besar ini sungguh menerima hikmat Allah untuk tetap bertahan menjaga iman kristiani kala itu untuk tetap tumbuh kuat dan kokoh. Hari ini kita belajar dari dua orang kudus ini untuk bersikap terbuka kepada Tuhan. Sikap terbuka kita tunjukkan dengan mau mendengar atau membaca firman-Nya. Firman Tuhan itu harus meresapi seluruh diri, sehingga mampu menggerakkan diri kita untuk mau bersikap terbuka juga dengan sesama. Kita mau saling berbagi ilmu pengetahuan yang baik, kita saling mendengarkan, saling memberi koreksi, saling memberi respek, saling menghargai satu sama lain, dan saling menjaga keutuhan dalam nuansa persaudaraan. Dengan demikian, kita menjadi salah satu orang beriman yang menerima hikmat dari Allah. Dan pada akhirnya kita akan mendapat keselamatan di dalam dunia dan di akhirat oleh karena hikmat yang telah kita terima dari Tuhan. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar