(Luk 7: 31 – 35)
Ungkapan “keras hati” mengacu kepada makna orang yang bersikap ekslusif
dalam hidupnya. Sikap ekslusif menunjuk pada orang yang tertutup hatinya. Orang
yang tertutup hatinya cenderung merasa diri paling benar, paling pintar dalam
segala hal dan susah menerima pendapat atau pikiran dari orang lain. Orang yang
tertutup hatinya akan sulit mengambil sikap terbuka berhadapan dengan
orang-orang ada di sekitar mereka. Tipikal orang-orang ini akan mengambil jalan
resisten ketika berhadapan dengan orang-orang yang berseberangan dengan mereka.
Mereka akan melawan dengan segala cara untuk mempersalahkan pihak lain,
walaupun mungkin pihak lain tidak selalu salah. Apa yang dikatakan dan
dilakukan oleh orang lain selalu salah di mata mereka. Mereka punya “nilai”
tersendiri yang tidak bisa digangggu gugat. Di lain pihak, mereka berusaha
mengarahkan orang lain untuk mengikuti segala pikiran dan tindakan mereka.
Bahkan, sikap pressure (memaksa) akan
dilakukan apabila orang tidak mengikuti segala pikiran dan kemauan yang telah
mereka gariskan.
Pada hari ini (Rabu/16/9/2020), Yesus mengkritik keras para elit agama yang
mempertontonkan sikap keras hati ((Luk 7:31-35). Sikap keras hati dari para
elit agama justru dilakukan terhadap dua tokoh yang datang membawa misi
keselamatan kepada umat Israel. Pertama, para elit agama menunjukkan sikap
keras hati terhadap Yohanes Pembaptis. Pola hidup asketis yang ditunjukkan oleh
Yohanes dengan tidak makan roti dan tidak minum anggur dianggap sebagai sesuatu
yang aneh. Para pemimpin agama Yahudi melabeli Yohanes Pembaptis sebagai orang
gila. Hal ini merujuk pada pola hidupnya yang keras dan tidak lazim. Karena
tidak merasa nyaman dengan kehadiran Yohanes Pembaptis maka para pemimpin agama
menutup pintu hati mereka untuk tidak menerima segala seruan pewartaan dari
sang nabi. Mereka tidak mau bertobat dan memberi diri dibaptis. Mereka dengan
tegas menolak segala hal yang disampaikan dan dilakukan oleh Yohanes Pembaptis.
Kedua, para elit agama menunjukkan sikap keras hati terhadap Yesus. Mereka menolak
tindakan Yesus yang dekat dengan orang kecil terutama dengan kaum pendosa dan
para pemungut cukai. Ketika Yesus makan dan minum bersama dengan orang-orang
kecil tersebut, para elit agama mencap Yesus sebagai seorang pelahap dan
peminum. Pada intinya, segala hal baik yang dilakukan Yesus, entah itu berupa
pewartaan atau tindakan mukjizat selalu dilihat sebagai sesuatu hal yang
negatif. Kekerasan hati para pemimpin agama inilah yang menimbulkan rasa heran
dalam diri Yesus. Para pemimpin agama Yahudi sebenarnya sementara memamerkan
perilaku ambigu dalam diri mereka. Di satu sisi mereka menolak Yohanes karena
menggaungkan kidung dukacita agar umat segera bertobat dan kembali ke jalan
yang benar. Namun, di sisi yang lain, mereka menolak juga kehadiran Yesus yang
membawa suasana penuh sukacita dan kegembiraan. Ambiguitas para pemimpin agama
Yahudi ini diparalelkan oleh Yesus dengan sikap anak-anak yang ada di pasar.
“Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan:
Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung
duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk 7:32).
Sikap keras hati yang ditunjukkan oleh para elit agama Yahudi menegaskan
kedangkalan iman mereka akan Allah. Mereka sibuk bersembunyi di balik kemegahan
jubah dan atribut-atribut rohani demi memenuhi segala kepentingan duniawi.
Mereka menampilkan diri sangat agamis tetapi sungguh tidak beriman. Mereka
kelihatan sangat dekat dengan Allah, namun hati mereka jauh dari Allah. Di
tengah terpaan sikap keras hati kaum elit Yahudi, ternyata Yesus masih
menemukan ada sebagian orang yang mau membuka hatinya dan percaya kepada Allah.
Hanya orang-orang ini yang mau menerima hikmat atau rahmat keselamatan yang
telah diwartakan oleh Yesus. Hikmat Allah yang terencana dalam diri Yesus
sungguh mengalir dalam diri mereka yang mau bersikap terbuka dan percaya.
Rencana Allah membuktikan kebenarannya dalam kehidupan mereka yang menerimanya
(Tafsir alkitab PB, hal.129). Hikmat Allah hanya akan bersemayam dalam diri orang-orang
yang tidak menunjukkan kekerasan hatinya. Melainkan kepada mereka yang sungguh
percaya, mau menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam penyelenggaraan ilahi dan mau
berjalan dalam kebenaran-Nya.
Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi masa kini telah
menuntut kita sebagai kaum beriman untuk turut larut dan berubah di dalamnya.
Seiring dengan perkembangan itu, menjadi hal yang wajar apabila dampak
ikutannya adalah kita semakin kuat dan matang dalam aneka ilmu pengetahuan.
Kita semakin merasa hebat dan pintar dalam berbagai bidang ilmu. Dengan
spesifikasi ilmu tersebut, kita mampu menganalisis sebuah persoalan dan mencari
jalan keluarnya. Namun, seringkali realitas menunjukkan bahwa semakin tinggi
atau luas pengetahuan yang dimiliki, membuat kita sebagai orang Katolik masa
kini menjadi keras hati. Hati kita menjadi tertutup untuk mendengar berbagai
pikiran, pendapat, atau nasihat dari orang lain. Kita lebih cenderung
menyalahkan orang lain dan menuntut orang lain untuk mengikuti segala kemauan
kita. Hal ini terjadi karena kita merasa diri paling hebat dan pintar. Apabila
muncul persoalan, kita suka membangun argumen pembenaran diri dan sibuk mencari
kambing hitam kepada orang lain. Hati yang keras tidak hanya ditunjukkan kepada
sesama, tetapi juga kepada Tuhan. Kita suka membangun sikap kompromistis dengan
Tuhan. Dengan tahu dan mau berbuat dosa karena berpikir Tuhan itu maha
pengampun, maha kasih, maha murah, dan sebagainya. Tanpa beban kita menyimpang
dari jalan Tuhan karena yakin Tuhan pasti akan mengampuni dan memanggil kita
kembali ke jalan-Nya. Sikap keras hati juga membuat hati kita menjadi tertutup
untuk tidak mau membaca atau mendengar warta Allah. Sikap ini yang menciderai
dan melemahkan semangat kita untuk semakin beriman kepada Tuhan. Imbasnya,
apabila datang sedikit tantangan, kita gampang menyerah, putus asa dan
mempertanyakan eksistensi Tuhan.
Hati yang terbuka adalah kunci iman menuju hikmat Allah. Sikap mulia ini
telah ditunjukkan oleh dua orang kudus yang kita rayakan pada hari ini yakni
Santo Kornelius dan Santo Siprianus. Santo Kornelius adalah paus kita yang
ke-21. Sedangkan Santo Siprianus adalah seorang uskup Kartago (Tunisia). Kedua
orang kudus ini hidup pada masa penganiayaan umat Kristen. Karena keterbukaan
hati dan kepercayaan kepada Allah, kedua tokoh besar ini sungguh menerima
hikmat Allah untuk tetap bertahan menjaga iman kristiani kala itu untuk tetap
tumbuh kuat dan kokoh. Hari ini kita belajar dari dua orang kudus ini untuk
bersikap terbuka kepada Tuhan. Sikap terbuka kita tunjukkan dengan mau
mendengar atau membaca firman-Nya. Firman Tuhan itu harus meresapi seluruh
diri, sehingga mampu menggerakkan diri kita untuk mau bersikap terbuka juga
dengan sesama. Kita mau saling berbagi ilmu pengetahuan yang baik, kita saling
mendengarkan, saling memberi koreksi, saling memberi respek, saling menghargai
satu sama lain, dan saling menjaga keutuhan dalam nuansa persaudaraan. Dengan
demikian, kita menjadi salah satu orang beriman yang menerima hikmat dari
Allah. Dan pada akhirnya kita akan mendapat keselamatan di dalam dunia dan di
akhirat oleh karena hikmat yang telah kita terima dari Tuhan. Semoga.
***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar