Selasa, 22 September 2020

Saudara Dalam Komitmen Iman

Luk 8:19-22

Persekutuan persaudaraan secara alamiah terbentuk karena adanya hubungan genealogis. Namun ada pula motif lain yang lebih tinggi. Orang jauh lebih bersahabat karena diikat oleh satu hati satu pikiran. Ada visi yang sama, prinsip yang sama, minat yang sama, tujuan yang sama. Persaudaraan yang diikat oleh kesamaan ini lazimnya jauh lebih kuat, lebih hidup dan lebih dinamis.

 

Di atas semuanya itu, ada suatu prinsip yang jauh lebih fundamental yang kehadirannya menjiwai dan membentuk semua persekutuan manusiawi itu. Yang dimaksudkan adalah persekutuan persaudaraan yang dibangun di atas dasar komitmen iman untuk mendengar dan melaksanakan Sabda Allah. Itulah persekutuan persaudaraan yang dikehendaki Yesus.

 

Sekiranya hal ini jelas dikatakan dalam Injil. Ketika orang memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan ingin bertemu dengan Dia, Yesus berkata kepada mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”. Yesus  menunjukkan bahwa hal dasariah yang membuat Dia bisa menjadikan seseorang sebagai ibu-Nya dan saudara-Nya adalah mendengar dan melakukan Sabda Allah.

 

Jelas di sini bahwa orang yang mendengar dan melakukan Sabda Allah itu sebenarnya adalah ibu-Nya sendiri dan saudara-saudara-Nya. Semua mereka tergabung dalam suatu persekutuan yang dikehendaki  dan dimaksudkan Yesus. Dalam kasih dan kesetiaan mereka mendengar dan melaksanakan apa yang difirmankan Allah kepada mereka. Maria sejak awal menunjukkan komitmen atau fiatnya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Para murid pun memiliki sikap iman yang sama seperti yang mereka tunjukkan sepanjang hidup mereka.

 

Dengan mengucapkan kata-kata-Nya di atas, secara tidak langsung Yesus meminta kepada orang yang memberi informasi bahwa ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya hendak menemui Dia dan juga semua orang yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya agar membangun komitmen yang sama seperti yang ditunjukkan Maria, ibu-Nya, dan para murid-Nya itu. Dalam Injil Matius, hal ini dinyatakan secara lebih jelas. Sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya Yesus berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mat 12:49-50).

 

Demikian hal yang sama ditujuhkan untuk semua kita agar berorientasi yang sama untuk membangun persekutuan persaudaraan atas dasar komitmen iman. Kita disebut Yesus sebagai ibu-Nya dan saudara-Nya karena komitmen iman itu. Kita mendengar dan melaksanakan sabda-Nya dalam seluruh hidup kita. Tanpa komitmen itu kita tidak benar-benar disebut sebagai ibu-Nya atau saudara-Nya.

 

Adalah pasti bahwa kita yang mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya akan menjadikan orang lain sebagai saudara kita. Di mana saja kita berada dan ke mana saja kita pergi kita akan bertemu dengan sesama saudara kita yang sama-sama hidup dalam komitmen iman yang satu dan sama itu. Kita semua menjadi saudara di dalam Yesus.

 

Namun karena persekutuan persaudaraan yang diajarkan Yesus itu bersifat umum atau terbuka, maka setiap kita yang memelihara komitmen iman untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah terpanggil juga untuk menerima siapapun di luar komunitas iman kita sebagai saudara dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih. Siapa saja, dia adalah saudara kita. Justru dalam menerima yang lain dalam cara seperti ini kita menunjukkan menunjukkan kesungguhan kita mendengarkan Dia dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita: “... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 19:19;22:39).

 

Bahkan persekutuan persaudaraan itu menjadi terbuka pula untuk hal ikhwal bersedia mengampuni musuh dan berdoa bagi mereka (Mat 5:44). Sesungguhnya inilah perintah Tuhan yang paling sulit dan berat, namun penting untuk suatu persaudaraan yang sejati. Dan seorang murid Yesus yang hidup dari Sabda Allah tidak akan memilih berpaling selain melakukannya sebagai bukti bahwa ia mendengarkan dan melaksanakan firman Allah.

 

Marilah kita membuktikan dalam hidup ini bahwa kita adalah golongan orang yang disebut Yesus sebagai ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dengan mencintai apa yang Tuhan omong kepada kita: mendengar dan melaksanakan firman Allah. Agar kita mampu menunjukkan itu, maka janganlah kita simpan Kitab Suci di tempat tersembunyi, melainkan ikutilah nasihat St. Agustinus: “Tolle et lege” (ambilah dan bacalah), maka kita pasti akan melakukannya. ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar