Luk 8:19-22
Persekutuan persaudaraan secara alamiah
terbentuk karena adanya hubungan genealogis. Namun ada pula motif lain yang
lebih tinggi. Orang jauh lebih bersahabat karena diikat oleh satu hati satu
pikiran. Ada visi yang sama, prinsip yang sama, minat yang sama, tujuan yang
sama. Persaudaraan yang diikat oleh kesamaan ini lazimnya jauh lebih kuat,
lebih hidup dan lebih dinamis.
Di atas semuanya itu, ada suatu prinsip yang
jauh lebih fundamental yang kehadirannya menjiwai dan membentuk semua
persekutuan manusiawi itu. Yang dimaksudkan adalah persekutuan persaudaraan
yang dibangun di atas dasar komitmen iman untuk mendengar dan melaksanakan
Sabda Allah. Itulah persekutuan persaudaraan yang dikehendaki Yesus.
Sekiranya hal ini jelas dikatakan dalam Injil.
Ketika orang memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya
ada di luar dan ingin bertemu dengan Dia, Yesus berkata kepada mereka: “Ibu-Ku
dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan
melakukannya”. Yesus menunjukkan bahwa hal
dasariah yang membuat Dia bisa menjadikan seseorang sebagai ibu-Nya dan
saudara-Nya adalah mendengar dan melakukan Sabda Allah.
Jelas di sini bahwa orang yang mendengar dan
melakukan Sabda Allah itu sebenarnya adalah ibu-Nya sendiri dan
saudara-saudara-Nya. Semua mereka tergabung dalam suatu persekutuan yang
dikehendaki dan dimaksudkan Yesus. Dalam
kasih dan kesetiaan mereka mendengar dan melaksanakan apa yang difirmankan
Allah kepada mereka. Maria sejak awal menunjukkan komitmen atau fiatnya: “Sesungguhnya
aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38).
Para murid pun memiliki sikap iman yang sama seperti yang mereka tunjukkan
sepanjang hidup mereka.
Dengan mengucapkan kata-kata-Nya di atas, secara
tidak langsung Yesus meminta kepada orang yang memberi informasi bahwa ibu-Nya
dan saudara-saudara-Nya hendak menemui Dia dan juga semua orang yang sedang
mendengarkan pengajaran-Nya agar membangun komitmen yang sama seperti yang
ditunjukkan Maria, ibu-Nya, dan para murid-Nya itu. Dalam Injil Matius, hal ini
dinyatakan secara lebih jelas. Sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya Yesus
berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan
kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku
perempuan, dialah ibu-Ku” (Mat 12:49-50).
Demikian hal yang sama ditujuhkan untuk semua kita
agar berorientasi yang sama untuk membangun persekutuan persaudaraan atas dasar
komitmen iman. Kita disebut Yesus sebagai ibu-Nya dan saudara-Nya karena
komitmen iman itu. Kita mendengar dan melaksanakan sabda-Nya dalam seluruh
hidup kita. Tanpa komitmen itu kita tidak benar-benar disebut sebagai ibu-Nya
atau saudara-Nya.
Adalah pasti bahwa kita yang mendengarkan
Sabda Allah dan melakukannya akan menjadikan orang lain sebagai saudara kita.
Di mana saja kita berada dan ke mana saja kita pergi kita akan bertemu dengan
sesama saudara kita yang sama-sama hidup dalam komitmen iman yang satu dan sama
itu. Kita semua menjadi saudara di dalam Yesus.
Namun karena persekutuan persaudaraan yang
diajarkan Yesus itu bersifat umum atau terbuka, maka setiap kita yang
memelihara komitmen iman untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah
terpanggil juga untuk menerima siapapun di luar komunitas iman kita sebagai
saudara dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih. Siapa saja, dia adalah
saudara kita. Justru dalam menerima yang lain dalam cara seperti ini kita menunjukkan
menunjukkan kesungguhan kita mendengarkan Dia dan melaksanakan apa yang
diperintahkan kepada kita: “... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu
sendiri” (Mat 19:19;22:39).
Bahkan persekutuan persaudaraan itu menjadi
terbuka pula untuk hal ikhwal bersedia mengampuni musuh dan berdoa bagi mereka
(Mat 5:44). Sesungguhnya inilah perintah Tuhan yang paling sulit dan berat,
namun penting untuk suatu persaudaraan yang sejati. Dan seorang murid Yesus
yang hidup dari Sabda Allah tidak akan memilih berpaling selain melakukannya
sebagai bukti bahwa ia mendengarkan dan melaksanakan firman Allah.
Marilah kita membuktikan dalam hidup ini bahwa
kita adalah golongan orang yang disebut Yesus sebagai ibu-Nya dan
saudara-saudara-Nya dengan mencintai apa yang Tuhan omong kepada kita:
mendengar dan melaksanakan firman Allah. Agar kita mampu menunjukkan itu, maka
janganlah kita simpan Kitab Suci di tempat tersembunyi, melainkan ikutilah
nasihat St. Agustinus: “Tolle et lege” (ambilah dan bacalah), maka kita pasti
akan melakukannya. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar