Minggu, 04 Oktober 2020

SESAMAKU MANUSIA

Luk 10:25-37

Pernah dalam tayangan di sebuah stasiun televisi menampilkan seorang ibu berjilbab dan bercadar, terkena kecelakaan lalu lintas. Ia mengalami kecelakaan yang cukup serius sehingga menyebabkan hampir seluruh anggota tubuhnya mengalami luka. Kepalanya mengeluarkan darah dan terus mengalir membasahi wajahnya. Anehnya, ketika ada orang mendatanginya hendak menolong, sang ibu malang tersebut menolaknya. Ia berteriak dengan keras dan melarang orang yang datang untuk mendekatinya. Rupanya latar ibu ini berasal dari salah satu aliran keagamaan yang keras. Aliran atau kelompok keagamaan yang memandang makna sesama manusia hanya dalam scope aliran agama tersebut. Orang lain di luar aliran agama tersebut, dianggap bukan sebagai sesama manusia. Tidak heran ketika orang lain hendak datang menolongnya, ia dengan tegas menolak karena bukan masuk dalam kategori sesama menurut pandangan atau ajaran agamanya.

 

Hari ini Yesus meladeni seorang ahli taurat yang hendak mencobainya. Term mencobai dalam konteks bacaan Kitab Suci (Luk 10:25) ditafsir memiliki konotasi yang negatif. Sang ahli taurat sudah  paham dan tahu apa yang hendak ditanyakannya. Tetapi karena bermaksud menjebak dan mencari celah untuk menyalahkan Yesus, ahli taurat itu mengajukan pertanyaan kepada Yesus. Intisari pertanyaan dari sang ahli taurat adalah bagaimana bisa mendapatkan hidup yang kekal. Yesus dengan cerdas tidak langsung menjawabnya. Ia membiarkan ahli taurat menemukan sendiri jawaban atas pertanyaannya. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengang segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Luk 10:27)”, kata sang ahli taurat sambil mengutip langsung kutipan yang tertera dalam kitab Taurat. Dan Yesus membenarkan jawabannya itu.

 

Ahli Taurat ternyata belum menunjukkan kepuasannya. Ia kemudian mempertanyakan kepada Yesus, siapa sebenarnya sesama manusia itu. Dalam pandangan agama Yahudi, makna sesama manusia hanya berlaku dalam jangkauan umat Yahudi. Di luar komunitas Yahudi, seseorang tidak dapat dipandang sebagai sesama manusia. Orang di luar agama Yahudi dianggap sebagai orang kafir. Orang kelas rendahan yang tidak pantas bergaul dengan orang Yahudi. Tidak hanya itu, bercengkerama dengan orang non Yahudi bisa mengakibatkan najis bagi orang Yahudi sendiri. Bayangkan saja. Hanya sekedar ngobrol biasa saja sudah dianggap berdosa. Apalagi mengasihi mereka. Ini pelanggaran berat yang tidak bisa diampuni.

 

Yesus sudah menangkap maksud dari pertanyaan ahli kitab suci Yahudi tersebut. Yesus menjawab rasa penasaran orang tersebut dengan membuat sebuah ilustrasi yang menarik. Ilustrasi itu pada intinya menggambarkan seseorang yang menjadi korban perampokan dan penganiayaan. Ia tergeletak tidak berdaya di jalan. Kebetulan berturut-turut lewat seorang imam dan lewi. Mereka hanya menatap sebentar lalu segera berlalu. Dua orang “petinggi” agama Yahudi ini tidak memberikan pertolongan karena dua alasan. Pertama, takut kalau si korban sudah mati. Dalam ajaran Yahudi menyentuh mayat adalah sebuah tindakan najis yang menyebabkan dosa. Dua orang Yahudi itu takut terkena ganjalan peraturan yang menjadikan pribadi mereka tidak layak berdiri melayani Allah di Bait Allah. Kedua, mungkin mereka juga takut kalau si korban hanya dijadikan sebagai umpan oleh para kawanan perampok yang bersembunyi di sekitar tempat itu. Mereka takut menjadi korban pula. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan paling aman dengan tidak menolong dan segera pergi dari TKP (Tempat Kejadian Perkara).

 

Orang ketiga yang lewat di tempat itu adalah seorang Samaria. Hal yang logis dan wajar ia lakukan adalah seharusnya tidak menolong. Karena, si korban yang ternyata adalah seorang Yahudi tidak pantas mendapat pertolongan darinya. Orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai bangsa kafir (sama seperti bangsa lain). Walaupun secara kultur mereka berasal dari akar Yahudi yang sama, namun darah mereka sudah tidak pure Yahudi akibat kawin campur dengan bangsa lain. Hal ini yang membuat orang Yahudi asli tidak mengganggap mereka sebagai saudara sendiri. Malahan orang Samaria dicap sebagai orang berdosa. Tetapi kenyataan berbeda ditunjukkan oleh orang Samaria ketika melihat saudaranya dari Yahudi tergeletak tidak berdaya di jalan. Ia segera menolong orang itu dan membalut luka-lukanya. Tidak sampai di situ saja. Ia membawa si korban ke tempat penginapan, membayar biaya penginapan dan merawatnya sampai sembuh.

 

Dari ilustrasi ini, sudah menjadi jelas bagi ahli taurat tentang makna sebenarnya dari sesama manusia. Yesus hendak menunjukkan sekaligus menegaskan bahwa makna sesama manusia sebenarnya tidak seperti yang dipegang dan dipahami oleh orang Yahudi selama ini. Sabda Yesus ini per se mendobrak kepercayaan sempit dan sesat dari orang Yahudi. Sesama manusia jauh melampaui aspek genealogis, bangsa, agama, dan golongan. Sebuah pemikiran bernas dan revolusioner kala itu yang mengangkat derajat bangsa lain agar tidak direndahkan oleh bangsa Yahudi. Lebih dari itu, Yesus sementara menajamkan dan membumikan warta keselamatan dari Bapa-Nya sendiri. Kasih kepada Allah yang total menjadi prasyarat bagi manusia untuk mengasihi sesamanya dengan total dan tanpa batas. Demikian juga, kasih kepada sesama merepresentasikan kasih manusia kepada Sang Pencipta-Nya.

 

Bagi saya secara pribadi, bacaan Injil ini membuka cakrawala berpikir kita tentang siapa sebenarnya sesama manusia itu. Sesama manusia yang tidak sekedar dilandasi oleh unsur kekeluargaan, kesenangan, kesamaan minat dan bakat; ataupun berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya. Sesama manusia juga tidak dibatasi oleh kesamaan wilayah, suku, agama dan golongan. Sesamaku manusia adalah siapa saja yang melintasi ruang dan waktu. Siapa saja yang tidak digembok oleh batas-batas manusiawi. Orang Samaria telah mengajarkan sesuatu yang sangat bernilai dalam hidup kita. Tentang mengasihi sesama manusia tanpa batas. Mengasihi sesama manusia dengan total. Dan pada akhirnya kita akan mengenyam kehidupan yang kekal. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar