Luk 10:25-37
Pernah dalam tayangan di sebuah stasiun televisi menampilkan seorang ibu
berjilbab dan bercadar, terkena kecelakaan lalu lintas. Ia mengalami kecelakaan
yang cukup serius sehingga menyebabkan hampir seluruh anggota tubuhnya
mengalami luka. Kepalanya mengeluarkan darah dan terus mengalir membasahi
wajahnya. Anehnya, ketika ada orang mendatanginya hendak menolong, sang ibu
malang tersebut menolaknya. Ia berteriak dengan keras dan melarang orang yang
datang untuk mendekatinya. Rupanya latar ibu ini berasal dari salah satu aliran
keagamaan yang keras. Aliran atau kelompok keagamaan yang memandang makna
sesama manusia hanya dalam scope
aliran agama tersebut. Orang lain di luar aliran agama tersebut, dianggap bukan
sebagai sesama manusia. Tidak heran ketika orang lain hendak datang
menolongnya, ia dengan tegas menolak karena bukan masuk dalam kategori sesama
menurut pandangan atau ajaran agamanya.
Hari ini Yesus meladeni seorang ahli taurat yang hendak mencobainya. Term
mencobai dalam konteks bacaan Kitab Suci (Luk 10:25) ditafsir memiliki konotasi
yang negatif. Sang ahli taurat sudah
paham dan tahu apa yang hendak ditanyakannya. Tetapi karena bermaksud
menjebak dan mencari celah untuk menyalahkan Yesus, ahli taurat itu mengajukan
pertanyaan kepada Yesus. Intisari pertanyaan dari sang ahli taurat adalah
bagaimana bisa mendapatkan hidup yang kekal. Yesus dengan cerdas tidak langsung
menjawabnya. Ia membiarkan ahli taurat menemukan sendiri jawaban atas
pertanyaannya. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengang
segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu,
dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri (Luk 10:27)”, kata sang
ahli taurat sambil mengutip langsung kutipan yang tertera dalam kitab Taurat.
Dan Yesus membenarkan jawabannya itu.
Ahli Taurat ternyata belum menunjukkan kepuasannya. Ia kemudian
mempertanyakan kepada Yesus, siapa sebenarnya sesama manusia itu. Dalam
pandangan agama Yahudi, makna sesama manusia hanya berlaku dalam jangkauan umat
Yahudi. Di luar komunitas Yahudi, seseorang tidak dapat dipandang sebagai
sesama manusia. Orang di luar agama Yahudi dianggap sebagai orang kafir. Orang
kelas rendahan yang tidak pantas bergaul dengan orang Yahudi. Tidak hanya itu,
bercengkerama dengan orang non Yahudi bisa mengakibatkan najis bagi orang
Yahudi sendiri. Bayangkan saja. Hanya sekedar ngobrol biasa saja sudah dianggap
berdosa. Apalagi mengasihi mereka. Ini pelanggaran berat yang tidak bisa
diampuni.
Yesus sudah menangkap maksud dari pertanyaan ahli kitab suci Yahudi
tersebut. Yesus menjawab rasa penasaran orang tersebut dengan membuat sebuah
ilustrasi yang menarik. Ilustrasi itu pada intinya menggambarkan seseorang yang
menjadi korban perampokan dan penganiayaan. Ia tergeletak tidak berdaya di
jalan. Kebetulan berturut-turut lewat seorang imam dan lewi. Mereka hanya
menatap sebentar lalu segera berlalu. Dua orang “petinggi” agama Yahudi ini
tidak memberikan pertolongan karena dua alasan. Pertama, takut kalau si korban
sudah mati. Dalam ajaran Yahudi menyentuh mayat adalah sebuah tindakan najis
yang menyebabkan dosa. Dua orang Yahudi itu takut terkena ganjalan peraturan
yang menjadikan pribadi mereka tidak layak berdiri melayani Allah di Bait
Allah. Kedua, mungkin mereka juga takut kalau si korban hanya dijadikan sebagai
umpan oleh para kawanan perampok yang bersembunyi di sekitar tempat itu. Mereka
takut menjadi korban pula. Oleh karena itu mereka mengambil tindakan paling
aman dengan tidak menolong dan segera pergi dari TKP (Tempat Kejadian Perkara).
Orang ketiga yang lewat di tempat itu adalah seorang Samaria. Hal yang
logis dan wajar ia lakukan adalah seharusnya tidak menolong. Karena, si korban
yang ternyata adalah seorang Yahudi tidak pantas mendapat pertolongan darinya.
Orang Yahudi menganggap orang Samaria sebagai bangsa kafir (sama seperti bangsa
lain). Walaupun secara kultur mereka berasal dari akar Yahudi yang sama, namun
darah mereka sudah tidak pure Yahudi
akibat kawin campur dengan bangsa lain. Hal ini yang membuat orang Yahudi asli
tidak mengganggap mereka sebagai saudara sendiri. Malahan orang Samaria dicap
sebagai orang berdosa. Tetapi kenyataan berbeda ditunjukkan oleh orang Samaria
ketika melihat saudaranya dari Yahudi tergeletak tidak berdaya di jalan. Ia
segera menolong orang itu dan membalut luka-lukanya. Tidak sampai di situ saja.
Ia membawa si korban ke tempat penginapan, membayar biaya penginapan dan
merawatnya sampai sembuh.
Dari ilustrasi ini, sudah menjadi jelas bagi ahli taurat tentang makna
sebenarnya dari sesama manusia. Yesus hendak menunjukkan sekaligus menegaskan
bahwa makna sesama manusia sebenarnya tidak seperti yang dipegang dan dipahami
oleh orang Yahudi selama ini. Sabda Yesus ini per se mendobrak kepercayaan sempit dan sesat dari orang Yahudi.
Sesama manusia jauh melampaui aspek genealogis, bangsa, agama, dan golongan.
Sebuah pemikiran bernas dan revolusioner kala itu yang mengangkat derajat
bangsa lain agar tidak direndahkan oleh bangsa Yahudi. Lebih dari itu, Yesus
sementara menajamkan dan membumikan warta keselamatan dari Bapa-Nya sendiri.
Kasih kepada Allah yang total menjadi prasyarat bagi manusia untuk mengasihi
sesamanya dengan total dan tanpa batas. Demikian juga, kasih kepada sesama
merepresentasikan kasih manusia kepada Sang Pencipta-Nya.
Bagi saya secara pribadi, bacaan Injil ini membuka cakrawala berpikir kita
tentang siapa sebenarnya sesama manusia itu. Sesama manusia yang tidak sekedar
dilandasi oleh unsur kekeluargaan, kesenangan, kesamaan minat dan bakat;
ataupun berbagai kepentingan yang bermain di dalamnya. Sesama manusia juga
tidak dibatasi oleh kesamaan wilayah, suku, agama dan golongan. Sesamaku
manusia adalah siapa saja yang melintasi ruang dan waktu. Siapa saja yang tidak
digembok oleh batas-batas manusiawi. Orang Samaria telah mengajarkan sesuatu yang
sangat bernilai dalam hidup kita. Tentang mengasihi sesama manusia tanpa batas.
Mengasihi sesama manusia dengan total. Dan pada akhirnya kita akan mengenyam
kehidupan yang kekal. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar