Senin, 12 Oktober 2020

Iman Dan Disiplin Batiniah

Gal 4:31b-5:6 & Luk 11:37-41


Menurut St. Paulus, Iman yang bekerja oleh kasih menyatu dengan pengharapan akan Tuhan dan itu dikerjakan oleh Roh Kudus. Karena iman itulah, setiap orang boleh menantikan kebenaran yang diharapkan dari Tuhan, bukan oleh hukum Taurat. Maka menurut Paulus, orang-orang yang mengharapkan kebenaran oleh hukum Taurat hidup di luar kasih karunia Tuhan. Mereka mengharapkan kebenaran karena ketaatan legalistis atas hukum Taurat.

 

Orang-orang Farisi tergolong dalam kelompok orang yang melakukan hukum Taurat dan berharap dibenarkan oleh hukum itu. Seperti penyunatan yang menjadi tekad mereka, demikian juga berbagai peraturan hukum yang lain dan penerapannya dalam berbagai aturan praktis yang tak terhitung jumlahnya.

 

Mencuci tangan sebelum makan adalah salah satu tradisi yang hidup dan berkembang dalam masyarakat Yahudi. Tentu ini tradisi yang baik karena menyangkut hidup yang sehat dan setiap orang yang melakukannya akan mendukung terciptanya suatu masyarakat yang sehat. Mencuci tangan, oleh karena itu, menjadi salah satu bentuk perwujudan pola hidup masyarakat yang sehat. Namun sikap legalistis meracuni jiwa orang-orang Farisi sehingga mereka terlampau berharap akan dibenarkan karena ketaatan terhadap hukum.


Keheranan orang Farisi atas Yesus yang makan di rumahnya tanpa mencuci tangan terlebih dahulu bertitik tolak pada sikap dasar mereka terhadap hukum Taurat. Maka keheranan itu lebih mengarah kepada sikap mempersalahkan dan mengadili. Bisa dibayangkan isi otaknya orang Farisi itu, mengapa Yesus sebagai seorang Rabi menunjukkan perilaku hidup yang berlawanan dengan tradisi hidup mereka?


Di luar dugaan Yesus memberikan tanggapan yang luar biasa: "Kamu orang-orang Farisi, kamu membersihkan bagian luar dari cawan dan pinggan, tetapi bagian dalammu penuh rampasan dan kejahatan”.

Penekanan Yesus di sini adalah bahwa orang boleh memiliki tangan yang bersih, tetapi jauh lebih penting adalah memiliki hati yang bersih. Apalah artinya mencuci tangan, akan tetapi hati penuh dengan kebusukan dan kejahatan? Mencuci tangan itu baik tetapi mesti berorientasi kepada kebersihan hati, dan itu mungkin bagi orang yang membuka diri bagi dan hidup oleh kasih karunia Allah.


Orang demikian memandang bahwa tradisi hidup sehat itu sungguh baik, akan tetapi ia tidak saja berhenti pada aspek lahiriah dan melupakan yang batiniah, mengutamakan tangan dan melupakan hati. Ia sadar bahwa hati yang bersih adalah pusat dari perilaku hidup yang bersih dan sehat.


Tanpa ada hati yang bersih orang terjebak di dalam sikap batin yang legalistis. Hukum dijalankan, bahkan sebegitu ketatnya, akan tetapi demi hukum itu sendiri; orang kehampaan jiwa atau rohnya. Di dalam Injil, Lukas menuliskan, orang-orang Farisi dikatakan Yesus sebagai orang-orang bodoh karena berperilaku demikian.


Yesus tidak mengajak kita untuk melawan tradisi hidup yang baik dan sehat, misalnya kita pada masa covid-19 dianjurkan untuk mencuci tangan, mengenakan masker dan menjaga jarak fisik. Perbuatan-Nya bukan dasar bagi kita untuk melawan protokol kesehatan, namun menjadi ajakan penting bagi kita untuk memenuhi panggilan hidup kita orang beriman.

Iman tidak menuntut kita menjadi pemberontak dan melawan tradisi yang baik dan sehat, sebaliknya dengan iman kita memenuhi panggilan kita untuk menunjukkan disiplin batiniah dari Allah yang jauh lebih utama dan menjadi dasar dari perilaku hidup yang baik dan bersih menurut tradisi hidup kita.


Maka yang perlu kita buat adalah membangun kesadaran untuk mengolah hati kita, membiarkan kasih karunia Tuhan menaungi hati kita dan memberikan diri untuk dibimbing ke dalam kedisiplinan batiniah yang datang dari atas, bukan dari bawah, dari manusia.

Dengan itu kita memiliki jiwa, juga di dalam melakukan apapun yang baik di dalam tradisi hidup kita demi kebersihan dan kesehatan hidup kita, baik secara jasmani maupun secara rohani. ***Apol***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar