Luk 11: 1-4
Hari ini (7/10/2020) Geraja Katolik sejagat merayakan sebuah pesta iman;
pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Kenangan akan hari yang sungguh
berahmat ini dilatari oleh suatu peristiwa bersejarah yang spektakuler. Pada
masa kepemimpinan Paus Pius V (1566 – 1572), gereja Katolik Eropa menghadapi
ancaman serius dari armada perang Turki yang dikomandani oleh panglima
perang Halifasha. Untuk menangkal
rencana invasi besar-besaran dari para tentara Turki ke negara Eropa, Paus Pius
V menunjuk Don Juan (Don Yohanes) dari Austria untuk mengepalai armada perang
Eropa. Selain memiliki kompentesi mumpuni untuk memimpin perang, Don Juan
dikenal memiliki devosi yang kuat kepada Bunda Maria. Sebelum para tentara
Kristen menaiki kapal di pelabuhan, mereka diberi masing-masing sebuah rosario
di tangan kanan. Sambil tangan kiri mereka memegang alat perang.
Menyadari bahwa kekuatan musuh jauh lebih banyak dan memiliki perlengkapan
perang yang lebih canggih, Paus Pius V meminta semua umat Katolik di Eropa
berdoa Rosario dengan intensi khusus penyertaan dan perlindungan kepada armada
Kristen yang sementara mengarungi laut untuk menghadang tentara Turki; yang
juga sementara berlayar menuju Eropa. Kedua armada perang, Turki dan Eropa,
bertemu di laut tengah dekat pantai Yunani. Dan pertempuran besar di Laut
Lepanto pada tanggal 7 Oktober itu tidak terhindarkan. Berkat doa rosario yang
dipanjatkan oleh umat Eropa kala itu, armada Kristen bisa memenangkan
pertempuran dasyat yang terjadi selama dua hari itu. Sebagai tanda syukur atas
kemenangan, Paus Pius V (1566 – 1572), menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai
hari pesta Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Paus berikutnya, Paus Klemens IX
(1667 – 1669), mengukuhkan pesta ini bagi seluruh gereja di dunia. Selanjutnya,
Paus Leo XIII (1878 – 1903) meningkatkan nilai pesta iman ini dengan menetapkan
bulan Oktober sebagai bulan Rosario untuk menghormati Bunda Maria.
Kekuatan akan dasyatnya sebuah doa juga dicari oleh para rasul melalui
bacaan Injil (Luk 11:1-4) yang baru saja diperdengarkan kepada kita. Para murid
menyadari bahwa hubungan yang benar kepada Bapa, dan juga kepada Yesus, harus
dicari dalam doa. (Tafsir Alkitab PB, hal.136). Para rasul memohon kepada Yesus
supaya Dia mengajarkan doa kepada mereka, sebagaimana yang telah dilakukan oleh
Yohanes kepada para muridnya (Luk 11:1). Yesus menyadari perutusan-Nya yang
mengalir dari Sang Bapa. Oleh karena itu menjadi hal yang pokok bagi-Nya untuk
mendekatkan relasi yang intim dari para murid-Nya kepada Sang Bapa. Dengan
mengenal Sang Bapa secara lebih dekat, para murid juga otomatis semakin
memahami eksistensi Yesus dan segala sepak terjang karya misionernya. Cara yang
paling ampuh itu melalui sebuah doa sederhana tetapi sungguh bernilai sakral.
Menurut Pater John Laba, SDB, dalam rumusan doa yang diajarkan Yesus kepada
murid-Nya terdapat lima kalimat inti. Dari lima kalimat inti dibagi lagi
menjadi dua unsur. Unsur yang pertama merupakan dua kalimat doa pengharapan.
Sedangkan unsur yang kedua berupa tiga kalimat doa permintaan. Unsur pertama
yang berisi kalimat pengharapan terdapat dalam doa, “Bapa, dikuduskanlah
nama-Mu” dan “datanglah kerajaan-Mu”. Menurut Pater John, rumusan
“dikuduskanlah nama-Mu”, bukanlah sebuah ungkapan pujian. Namun sebuah harapan.
Sebuah harapan mulia agar nama Allah senantiasa dikuduskan, diakui dan
dihormati oleh semua orang. Nabi Yehezkiel pernah bernubuat bahwa Allah sendiri
akan menguduskan nama-Nya yang sudah dinodai oleh umat Israel (Yeh 36:22-28).
Oleh karena itu, menjadi hal yang sangat urgen bahwa nama Allah tidak boleh
dipermainkan apalagi dianggap remeh dan dilecehkan. Nama Allah harus tetap
menjadi kudus. Rumusan pengharapan yang kedua adalah “datanglah kerajaan-Mu”.
Ini juga sebuah harapan agar Allah dapat sukses menegakkan kerajaan-Nya di
tengah dunia melalui Yesus dan para murid. Allah tidak mungkin bekerja sendiri
menuntaskan karya keselamatan umat manusia. Melalui doa harapan, misi Kerajaan
Allah yang sementara diperjuangkan Yesus bersama para mitra kerja-Nya dapat
segera terwujud.
Unsur yang kedua dari doa yang diajarkan Yesus adalah tiga kalimat
permintaan. Kalimat doa permintaan yang pertama adalah “berikanlah kami setiap
hari makanan kami yang secukupnya”. Ini adalah sebuah doa permohonan agar Allah
memberikan makanan secukupnya. Makanan yang diberikan itu tidak saja berwujud
makanan jasmani tetapi juga berupa makanan rohani. Kalimat doa permintaan yang
kedua adalah “ampunilah kami akan dosa kami, sebab kami pun mengampuni setiap
orang yang bersalah kepada kami”. Rumusan permohonan ini tidak saja meminta
Allah untuk mengampuni dosa orang yang bersalah. Tetapi juga berisi motivasi
agar orang yang sudah dibebaskan dosanya memiliki kemampuan untuk mengampuni
segala kesalahan atau kekeliruan dari saudara atau sesamanya yang lain. Kalimat
doa permintaan yang terakhir adalah “janganlah membawa kami ke dalam
pencobaan”. Dalam iman orang percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi berasal
dari Allah termasuk di dalamnya hal-hal pencobaan. Doa ini memohon kepada Allah
agar orang tidak dimasukkan ke dalam pencobaan. Kalau pun orang sudah berada
dalam pusaran pencobaan, Allah dapat memberikan kekuatan dan perlindungan agar
manusia tidak menjadi mati melainkan bisa bangkit lagi.
Lima mutiara indah yang terdapat dalam rumusan doa Yesus tidak saja
mendekatkan dan merekatkan relasi personal dan kolektif dua belas rasul kepada
Allah dan juga kepada Yesus. Namun memberi banyak energi positif bagi para
rasul. Para rasul semakin dikuatkan dan diteguhkan untuk tidak takut menjadi
seorang agen perutusan Allah. Memang akan banyak sekali tantangan dan cobaan
yang akan mereka hadapi sebagai konsekuensi menjadi seorang murid. Berkat
kekuatan doa yang sederhana, darah kemartiran mereka akan tetap hidup demi
terwujudnya Kerajaan Allah di muka bumi.
Sebagai seorang laskar Kristus era ini, kekuatan utama kita adalah doa.
Yesus sudah mengajarkan sebuah doa yang sungguh dasyat kepada kita. Sebuah doa
yang mempresentasikan keagungan dan kebesaran nama-Nya. Di balik keagungan dan
kekudusan nama-Nya, Ia adalah Allah yang imanen, yang datang menegakkan
kerajaan-Nya di dunia. Karena itu, Ia pasti akan memberi kita kelimpahan dari
berkat-Nya. Ia akan mengampuni dosa kita supaya kita juga mau mengampuni dosa
orang lain. Dan Ia selalu memberi kita kekuatan di kala kita sedang ditimpa
kemalangan dan kesusahan. Dengan doa
yang sederhana itu, semakin menguatkan simpul-simpul relasi kita dengan Allah
dan Yesus. Lebih dari itu, kita tidak malu untuk mengungkapkan dan mewartakan
identitas iman kita kepada orang lain. Tidak saja kepada saudara/i seiman,
tetapi terutama kepada mereka yang berbeda identitas iman dengan kita. Mari kita semakin mengencangkan ikat pinggang
kekatolikan kita di bulan Rosario ini dengan berdoa kepada Bapa dan Putera,
bersama Santa Perawan Maria Ratu Rosario. Karena dengan kekuatan doa, tanpa
meminta pun, Tuhan pasti mengabulkan apa yang menjadi harapan dan keinginan
kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar