Gal
1:13-24 & Luk 10:38-42
Allah
memilih setiap orang dengan peran masing-masing dalam kehidupan ini. St. Paulus
menyaksikan dirinya sebagai yang terkemuka dari antara teman-temannya dalam
menjaga dan memelihara tradisi nenek moyang, namun dari awal ia sudah
ditentukan untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Kehidupannya
sebelum pertobatan adalah suatu persiapan penting dan memberi makna pada tugas
baru yang telah ditentukan Allah itu.
Di antara sekian banyak banyak orang, ada yang memiliki pengalaman serupa.
Pengalaman-pengalaman sebelumnya dialami sebagai suatu persiapan bagi suatu
“pekerjaan” baru sesuai kehendak Tuhan yang telah ditentukan sejak awal. Banyak
kesaksian pertobatan berawal dari suatu titik pengalaman yang penuh dengan
kekerasan dan situasi kaotik. Orang menemukan tempat yang sesungguhnya dan apa
pekerjaan yang mesti dilakukan.
Marta dan Maria seperti yang dikisahkan dalam Injil Lukas pada hari ini
menampilkan ciri-ciri tentang panggilan hidup dan peran yang unik masing-masing
kita sebagai umat beriman. Marta ditampilkan sebagai seorang pelayan yang
bekerja di dapur untuk menjamu Yesus dan para murid-Nya. Sedangkan Maria duduk
di kaki Yesus dan setia mendengarkan setiap kebenaran yang diajarkan Tuhan.
Dalam tradisi hidup religius, kehidupan
Marta dan Maria ditunjukkan secara lebih spesifik. Kedua tokoh ini dijadikan
simbol dari kehidupan aktif dan kontemplatif. Marta mewakili yang aktif dan
Maria untuk yang kontemplatif.
Menjadikan
kedua tokoh ini sebagai simbol yang menandai karakteristik kehidupan religius
mengungkapkan fakta bahwa sebenarnya peran Marta tidak kurang berarti daripada
peran Maria. Kedudukan Marta tidak lebih rendah. Memasak dan menghidangkan
jamuan tidak lebih murahan daripada duduk di bawa kaki Yesus dan
mendengarkan-Nya. Keduanya sama-sama berarti.
Kerja aktif juga adalah ekspresi nyata dari kehidupan rohani dan iman Marta.
Namun yang dikritisi oleh Yesus adalah “bekerja sambil mengeluh”. Keluhan
mengaburkan sasaran dari pelayanan, bahkan menghilangkan nilai rohani dan iman
Marta.
Kata-kata Yesus bahwa Marta menyusahkan diri dengan banyak perkara dan
melupakan yang terutama, yaitu mendengarkan Dia, tidak dimaksudkan untuk
merendahkan pekerjaan unik Marta. Namun karena ia terlalu sibuk bekerja dan
lupa mendengarkan Dia maka ia terjebak dalam pekerjaan yang diwarnai dengan
keluhan. Kasihnya yang mau ditunjukkan kepada Yesus dan para murid-Nya dalam
pelayanan jamuan menjadi kabur.
Dengan itu, kepada Marta Yesus seakan mengatakan bahwa mendengarkan Dia itu
penting agar hati menjadi murni dan pelayanan yang diberikan juga menjadi tulus
ikhlas. Yesus mengundang Marta untuk memberi nilai pada pelayanannya dengan
kontemplasi seperti yang ditunjukkan Maria, bukan menggantikannya. Sehingga apapun yang dikerjakan selalu akan
mencerminkan kerohanian dan keimanannya. Dan itulah yang menentukan nilai dari
kesibukannya di dapur.
Pentingnya untuk kita adalah bahwa meskipun masing-masing kita diberi peran
tersendiri, namun karena kita membawa dalam diri kita dua dimensi kehidupan
yang diwakilkan oleh Marta dan Maria, maka penting sekali menjaga dan merawat
keseimbangan antara dimensi aktif dan kontemplatif dari kehidupan kita.
Keduanya saling mengandaikan. Kerja mesti mengungkapkan dimensi kerohanian dan
keimanan kita. Sebaliknya dimensi kontemplatif menjadi dasar, sumber dan acuan
bagi kerja kita.
Kerja atau karya aktif itu penting sebagai pengungkapan iman akan Allah yang
aktif bekerja dalam sejarah keselamatan manusia; kerja kita juga menunjukkan
partisipasi kita dalam karya Allah itu. Namun agar kerja kita terarah kepada
pengungkapan iman dan kerohanian kita maka karya itu membutuhkan asupan energi
dari doa dan kontemplasi atas Sabda Allah. Ingat! Kerja dan kontemplasi bukan
dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan perwujudan diri sebagai orang
yang beriman kepada Tuhan.
Pada umumnya, kita sebagai kaum awam mengambil peran sebagai seorang Marta yang
bekerja dan berkarya secara aktif dalam bidang tugas kita masing-masing. Namun
kita juga tidak bisa melupakan aspek kontemplatif yang mendasari dan menjiwai
karya kita. Maka baiklah kita mengikuti nasihat klasik orang Latin: Ora et
Labora, berdoalah dan bekerjalah. **Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar