Senin, 05 Oktober 2020

Kerja dan Kontemplasi

Gal 1:13-24 & Luk 10:38-42

Allah memilih setiap orang dengan peran masing-masing dalam kehidupan ini. St. Paulus menyaksikan dirinya sebagai yang terkemuka dari antara teman-temannya dalam menjaga dan memelihara tradisi nenek moyang, namun dari awal ia sudah ditentukan untuk mewartakan Injil kepada bangsa-bangsa non-Yahudi. Kehidupannya sebelum pertobatan adalah suatu persiapan penting dan memberi makna pada tugas baru yang telah ditentukan Allah itu.


Di antara sekian banyak banyak orang, ada yang memiliki pengalaman serupa. Pengalaman-pengalaman sebelumnya dialami sebagai suatu persiapan bagi suatu “pekerjaan” baru sesuai kehendak Tuhan yang telah ditentukan sejak awal. Banyak kesaksian pertobatan berawal dari suatu titik pengalaman yang penuh dengan kekerasan dan situasi kaotik. Orang menemukan tempat yang sesungguhnya dan apa pekerjaan yang mesti dilakukan.


Marta dan Maria seperti yang dikisahkan dalam Injil Lukas pada hari ini menampilkan ciri-ciri tentang panggilan hidup dan peran yang unik masing-masing kita sebagai umat beriman. Marta ditampilkan sebagai seorang pelayan yang bekerja di dapur untuk menjamu Yesus dan para murid-Nya. Sedangkan Maria duduk di kaki Yesus dan setia mendengarkan setiap kebenaran yang diajarkan Tuhan.


Dalam tradisi hidup religius,  kehidupan Marta dan Maria ditunjukkan secara lebih spesifik. Kedua tokoh ini dijadikan simbol dari kehidupan aktif dan kontemplatif. Marta mewakili yang aktif dan Maria untuk yang kontemplatif.

 

Menjadikan kedua tokoh ini sebagai simbol yang menandai karakteristik kehidupan religius mengungkapkan fakta bahwa sebenarnya peran Marta tidak kurang berarti daripada peran Maria. Kedudukan Marta tidak lebih rendah. Memasak dan menghidangkan jamuan tidak lebih murahan daripada duduk di bawa kaki Yesus dan mendengarkan-Nya. Keduanya sama-sama berarti.


Kerja aktif juga adalah ekspresi nyata dari kehidupan rohani dan iman Marta. Namun yang dikritisi oleh Yesus adalah “bekerja sambil mengeluh”. Keluhan mengaburkan sasaran dari pelayanan, bahkan menghilangkan nilai rohani dan iman Marta.


Kata-kata Yesus bahwa Marta menyusahkan diri dengan banyak perkara dan melupakan yang terutama, yaitu mendengarkan Dia, tidak dimaksudkan untuk merendahkan pekerjaan unik Marta. Namun karena ia terlalu sibuk bekerja dan lupa mendengarkan Dia maka ia terjebak dalam pekerjaan yang diwarnai dengan keluhan. Kasihnya yang mau ditunjukkan kepada Yesus dan para murid-Nya dalam pelayanan jamuan menjadi kabur.


Dengan itu, kepada Marta Yesus seakan mengatakan bahwa mendengarkan Dia itu penting agar hati menjadi murni dan pelayanan yang diberikan juga menjadi tulus ikhlas. Yesus mengundang Marta untuk memberi nilai pada pelayanannya dengan kontemplasi seperti yang ditunjukkan Maria, bukan menggantikannya. Sehingga  apapun yang dikerjakan selalu akan mencerminkan kerohanian dan keimanannya. Dan itulah yang menentukan nilai dari kesibukannya di dapur.


Pentingnya untuk kita adalah bahwa meskipun masing-masing kita diberi peran tersendiri, namun karena kita membawa dalam diri kita dua dimensi kehidupan yang diwakilkan oleh Marta dan Maria, maka penting sekali menjaga dan merawat keseimbangan antara dimensi aktif dan kontemplatif dari kehidupan kita. Keduanya saling mengandaikan. Kerja mesti mengungkapkan dimensi kerohanian dan keimanan kita. Sebaliknya dimensi kontemplatif menjadi dasar, sumber dan acuan bagi kerja kita.


Kerja atau karya aktif itu penting sebagai pengungkapan iman akan Allah yang aktif bekerja dalam sejarah keselamatan manusia; kerja kita juga menunjukkan partisipasi kita dalam karya Allah itu. Namun agar kerja kita terarah kepada pengungkapan iman dan kerohanian kita maka karya itu membutuhkan asupan energi dari doa dan kontemplasi atas Sabda Allah. Ingat! Kerja dan kontemplasi bukan dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan perwujudan diri sebagai orang yang beriman kepada Tuhan.


Pada umumnya, kita sebagai kaum awam mengambil peran sebagai seorang Marta yang bekerja dan berkarya secara aktif dalam bidang tugas kita masing-masing. Namun kita juga tidak bisa melupakan aspek kontemplatif yang mendasari dan menjiwai karya kita. Maka baiklah kita mengikuti nasihat klasik orang Latin: Ora et Labora, berdoalah dan bekerjalah. **Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar