Jumat, 29 Mei 2020

YOHANES DIKASIHI PETRUS DIPILIH


Yoh 21:20-25
Yohanes adalah murid yang dikasihi oleh Yesus. Ada rasa persahabatan yang dalam yang ditunjukkan Yesus kepadanya. Karena relasi ini maka Yohanes lebih dekat dengan Yesus, ia menjadi yang istimewa. Kepadanya terarah rasa persahabatan Yesus yang kuat, yang juga mengandung arti kemesraan.
Dan para murid yang lain pun tahu dan mengakui itu. Petrus, misalnya, meminta Yohanes yang duduk paling dekat dan bersandar pada-Nya pada waktu mereka duduk makan untuk menanyakan kepada Yesus siapakah yang dimaksudkan-Nya ketika Ia mengatakan bahwa seorang dari antara para murid-Nya akan menyerahkan Dia. Pengakuan itu tersirat juga dalam pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang hidup Yohanes dalam Injil hari ini.

Sebagai murid yang dikasihi-Nya, Yohanes selalu menyertai Yesus ke mana saja Ia pergi. Sampai akhir hidup Yesus, Yohanes setia menyertai-Nya. Dan sebagaimana disaksikan dan dituliskan Yohanes untuk kita bahwa kepada dia, di akhir hidup-Nya, sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, Yesus menyerahkan ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Demikian pula kepada murid yang dikasihi itu Yesus menyerahkan ibu-Nya: “Inilah ibumu!” (Yoh 13:26-27).
Sekalipun demikian, Kitab Suci menyaksikan bahwa bukanlah Yohanes, murid yang terkasih itulah yang dipilih Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Petruslah yang dipilih dan ditetapkan Yesus menjadi pemimpin umat. Dan pilihan-Nya itu tidak bisa ditawar-tawar. Ia berkuasa mutlak atas pilihan-Nya.
Pada Injil kemarin setelah Yesus menanyakan tiga kali apakah ia mengasihi-Nya dan ditanggapi secara positif maka berkatalah Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Di akhir dialognya dengan Petrus itu, Yesus berkata pula: “Ikutlah Aku!” Demikian pula ajakan ini diulangi Yesus kembali dalam Injil hari ini ketika Petrus melihat Yohanes dan menyanyakan perihal apakah yang akan terjadi dengan Yohanes. “Ikutlah Aku” adalah hal terpenting dan ini berkenaan dengan urusan Petrus, yaitu menggembalakan domba-domba-Nya.

Beberapa hal dapat kita lihat di sini dan menjadi pelajaran berarti buat kita. Pertama, Yesus tidak menjadikan suatu kecenderungan relasi yang dekat dengan Yohanes yang disebut murid terkasih itu sebagai alasan untuk mengorbtikannya. Untuk menjadi gembala, Yesus memilih Petrus. Ini mengajarkan kita bahwa jika ada orang lain yang lebih tepat untuk diorbitkan maka argumentasi kedekatan tidak bisa dipaksakan. Ini penting untuk melawan masalah-masalah seperti kecenderungan nepotisme, kolusi dan korupsi yang menjadi masalah besar yang selama ini menghantui kehidupan kita bersama.
Sebaliknya seperti Yohanes kita belajar untuk tidak “cemburu” sebab kepada kita Tuhan sudah memberikan tugas dan tanggung jawab berbeda. Petrus dipilih menjadi gembala domba, namun kepada Yohanes Yesus memberikan kepercayaan ibu-Nya. Demikianlah kita belajar melihat hal yang baik dan positif dalam kenyataan bahwa kedekatan tampaknya diabaikan misalnya ketika kita mengharapkan kita diorbitkan sementara kenyataan tidaklah demikian.

Kedua, dengan mengatakan kepada Petrus “itu bukan urusan” dan karena itu mengajak Petrus untuk konsentrasi pada panggilan-Nya, “Ikutlah Aku”, Yesus mengajak kita pula untuk berkonsentrasi pada tanggung jawab kita, dan bukan urusan orang lain. Fokus itu memberi jaminan kepada kita untuk menjalankan tugas kita dengan berhasil, betapapun berat dan sulitnya tugas itu.
Kita masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab berbeda, berbeda pula dalam soal berat dan ringannya, akan tetapi jika kita fokus pada jalan panggilan-Nya, “Ikutlah Aku”, maka kita memiliki jaminan untuk melaksanakan tugas dengan baik dan berhasil.
Marilah kita menghayati pesan pewartaan Injil hari untuk hidup kita agar kita semakin bertumbuh dalam kasih yang menjadi dasar kita dipanggil dan dipilih Kristus. Tuhan kiranya menuntun kita dalam perjuangan hidup kita untuk mengikuti Dia di jalan tugas dan panggilan kita yang berbeda-beda.*** Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar