Kis 15:1-6 & Yoh 15:1-8
Hari ini kita mengenang satu peristiwa besar dalam sejarah Gereja Katolik
dunia yang terjadi 103 tahun yang lalu. Peristiwa itu adalah penampakan Santa
Perawan Maria yang pertama kali, pada tanggal 13 Mei 1917 kepada tiga orang
anak gembala; Lusia dos Santos, Yasinta Marto dan Fransesko Marto di Bukit Cova da Iria, Dusun Fatima, Keuskupan Leiria
dekat Pantai Barat Portugal. Peristiwa penampakan itu terjadi pada siang hari.
Nampak suatu berkas cahaya yang terbagi menjadi dua rangkaian kilat. Lalu
disusul dengan penglihatan para anak gembala terhadap satu sosok wanita cantik.
Wanita itu sungguh bersinar bagai matahari di atas sebatang pohon kecil yang
terletak di Bukit Cova da Iria, tempat mereka biasa menggembalakan kawanan
ternak. Kepada tiga anak gembala tersebut, Santa Maria memberikan petunjuk
bagaimana ketiganya bisa memberi silih kepada Tuhan teristimewa dengan berdoa
Rosario guna memohon pertobatan orang-orang yang berdosa. Saat penampakan
pertama itu terjadi, Bunda Maria meminta agar ketiganya tidak takut. Sang Bunda
meyakinkan mereka bahwa dia datang membawa pesan dari sorga. Selanjutnya, kita
mengetahui dalam sejarah bahwa bahwa penampakan Santa Maria terjadi secara
berturut-turut dalam tahun yang sama (1917) pada tanggal 13 Juni, 13 Jul,
19 Agustus, 13 September, dan terakhir
13 Oktober 1917 (https://kompasiana.com).
Melalui bacaan kudus yang kita baca pada hari ini (Yoh 15:1-8), Yesus
menganalogikan Diri-Nya sebagai pokok anggur. Sebagai pokok anggur yang terus
tumbuh dan berkembang, pasti ada orang yang mengusahakannya. Dalam hal ini,
yang menjadi pengusaha dari pokok anggur itu adalah Bapa-Nya sendiri di sorga.
Tanpa pengusaha tentu pokok anggur itu tidak akan tumbuh dan berkembang di muka
bumi. Yesus tidak mungkin akan hadir di tengah dunia tanpa mendapat mandat
khusus dari Sang Bapa. Yesus sebagai pokok anggur menegaskan legitimasi Allah
sebagai seorang pengusaha pokok anggur. Allah menginginkan agar pokok anggur
itu tidak hanya diam dalam keagungan-Nya di sorga, namun harus bergerak turun
menjadi nyata, agar bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya oleh banyak orang.
Yesus yang transenden, harus menjadi Yesus yang imanen, Yesus yang selalu dekat
dalam hati dan pikiran manusia.
Pokok anggur itu tidak berdiri sendiri. Ia mempunyai banyak organ yang
memberi dukungan dan mampu menegaskan identitasnya sebagai sebuah pokok anggur.
Salah satu organ pokok anggur adalah ranting. Hanya dengan kehadiran rantinglah
yang membuat sang pokok anggur bisa lebih berdayaguna untuk menghasilkan banyak
buah. Yesus adalah pokok anggur dan para murid adalah ranting-ranting-Nya.
Dalam menjalankan misi keselamatan, Yesus tidak mungkin bergerak sendiri. Ia
membutuhkan banyak pembantu yang akan membantu-Nya, menyukseskan proyek keselamatan
yang telah dirancang dengan indah oleh Sang Pengusaha, yakni Allah Bapa.
Ranting-ranting tidak bisa menjadi “sesuatu” tanpa sang pokok. Ia dapat
menghasilkan buah berlimpah karena ia hidup dari sang pokok itu. Apabila ia
terlepas dari sang pokok, ia akan mati. Tetapi ia akan menghasilkan banyak buah
apabila tetap melekat erat pada pokoknya. Yesus meminta agar para murid-Nya
selalu tinggal dalam Diri-Nya. Tinggal dalam Yesus berarti para murid harus
selalu setia mendengarkan ajaran-Nya. Para murid juga harus membuka mata hati
mereka agar bisa memahami apa yang disampaikan oleh Yesus. Mereka harus bisa
merekam dan menginternalisasikan pokok-pokok ajaran yang telah disampaikan. Hal
ini penting agar kelak mereka juga bisa melanjutkan apa yang sudah diwariskan
oleh Yesus kepada mereka. Para murid yang tidak mampu tinggal dalam Yesus,
seperti ranting yang terlepas dari pokoknya. Mereka akan “mati”, tidak bisa
berbuat apa-apa. Para murid yang demikian hanya secara formal saja menjadi
pengikut-Nya. Tetapi mereka tidak tahu apa yang menjadi tugas pokok mereka
sebagai seorang murid. Mereka tdak tahu karena telah gagal paham dengan apa
yang sudah disampaikan oleh Yesus.
Rasul Paulus dan Barnabas telah menunjukkan diri mereka sebagai
ranting-ranting yang tetap melekat erat pada sang pokok anggur, Yesus Kristus.
Mereka telah sukses menghasilkan banyak buah demi kehidupan sang pokok anggur.
Berkat perjuangan dan militansi yang mereka miliki, semakin banyak orang yang
tidak mengenal Allah akhirnya bertobat dan percaya kepada Allah. Paulus dan
Barnabas adalah contoh nyata segelintir murid yang telah menjadi ranting yang
baik. Ranting yang menghasilkan banyak buah demi tercapainya misi Kerajaan
Allah di tengah dunia. Kita juga memiliki potensi untuk menjadi ranting-ranting
yang berguna bagi karya keselamatan Allah. Kuncinya adalah kita harus menjadi
bagian yang tak terpisahkan dari Yesus dan Sang Bapa. Kita harus menjadi
ranting yang selalu melekat pada sang pokok yakni Tuhan Yesus sendiri. Membaca
atau mendengarkan sabda-Nya; kemudian menghidupi sabda itu dalam tindakan
konkrit merupakan cara kita untuk menjadi ranting yang baik dan menghasilkan
banyak buah.
Dalam konteks bulan Maria yang sementara kita jalani ini, patutlah kita
menjadi ranting yang baik dengan saling mendoakan satu sama lain. Bersama Bunda
Maria dari Fatima kita berdoa kepada Tuhan agar kita semua dihindarkan dari
bahaya pandemi Covid-19. Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungi kita semua.
Amin. Tuhan memberkati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar