Kis 16:11-15 & Yoh 15:26-16:4a
Agama Katolik diketahui masuk pertama di Kabupaten Lembata melalui kampung
Lamalera. Sebuah kampung yang terletak di selatan pulau Lembata. Kurang lebih
80 Km jaraknya dari pusat kota Lewoleba. Dalam sejarah Katolik pulau Lembata,
kita mengetahui bahwa embrio agama Katolik dibawa oleh dua imam Jesuit yakni
Pater C. Ten Brink dan Pater Y. De Vries pada tahun 1886. Satu peristiwa besar
yang menandai masuknya agama Katolik di Lamalera adalah dipermandikannya 125
anak pada tanggal 8 dan 9 Juni 1886 (https://beraona.wordpress.com). Walaupun
mengalami tantangan terutama soal tenaga imam yang melaksanakan penyiaran
agama, kenyataannya agama Katolik dapat diterima dan “beranak pinak” di kampung
tersebut. Dari Lamalera, agama Katolik kemudian menyebar ke seluruh pelosok
wilayah Lembata. Selain misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), patut dicatat
bahwa melalui “tangan dingin” para guru agama dari kampung Lamalera, agama
Katolik dapat menjejakkan eksistensinya di kampung-kampung lain dalam pulau
Lembata. Memang betul kesuksesan itu biasanya diawali dari sebuah perjuangan
dan pengorbanan. Para guru agama Katolik ini rela berjalan kaki dari satu
kampung ke kampung yang lain dengan jarak yang sangat jauh. Tentu dengan melintasi
kondisi jalan yang tidak sebaik sekarang. Mereka harus menerobos hutan dan
menghindari binatang buas. Tidak jarang mereka tidur di pinggir jalan / hutan
untuk berdamai dengan gelapnya malam. Atau sekedar melepas penat. Kehadiran
mereka di kampung-kampung juga tidak selamanya berjalan mulus. Mereka harus
bertahan dari berbagai keterbatasan dan mengalami penolakan dari warga
setempat. Tetapi mereka tidak putus asa dan tetap memberi warta Injil bagi
semua orang yang belum mengenal Yesus Kristus. Berkat perjuangan dan
pengorbanan mereka, semakin banyak orang yang mengenal dan mengikuti Yesus
Kristus. Hingga kini agama Katolik menjadi salah satu agama yang dianut oleh
mayoritas masyarakat Kabupaten Lembata.
Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus menjanjikan roh kebenaran yang datang
dari Bapa-Nya. Yesus memang akan pergi dari dunia tetapi roh kebenaran itu akan
datang untuk bersaksi tentang Allah dan Yesus. Roh kebenaran itu yang kita
kenal dengan roh kudus. Ia akan datang bukan saja bersaksi tentang Allah tetapi
juga mendampingi para murid agar mereka menjadi lebih matang dan berani. Roh
kudus itu yang membuat para murid memiliki wawasan luas akan Sabda Allah.
Ditambah dengan kemampuan teknis untuk mengadakan mukjizat atau tanda-tanda
heran. Dan mereka akan dipacu untuk terus bersaksi sehingga semakin banyak
orang yang percaya kepada Yesus. Dalam perjalanannya ke Makedonia, Paulus
bersama kawan-kawannya menyinggahi satu kota yang bernama Filipi. Ia
memberitakan Injil di situ dan membawa seorang perempuan, bernama Lidia untuk
mengenal dan percaya kepada Yesus. Lidia adalah seorang pengusaha kain yang
memiliki status sosial ekonomi yang mapan. Berkat warta St. Paulus, ia dan
keluarganya menjadi percaya dan kemudian dibaptis dalam nama Yesus. Untuk
membuktikan kepercayaannya itu, ia mengajak Paulus dan para rasul yang lain
untuk datang dan menginap di rumahnya
(Kis 16: 14-15).
Menjadi rasul dan murid Yesus itu tidak semudah yang kita ucapkan. Yesus
sudah memprediksi bahwa para murid-Nya akan menghadapi banyak badai. Badai itu
berupa aneka tantangan yang tidak saja menghambat karya misioner tetapi juga
mengancam nyawa mereka. Banyak musuh Kristus yang datang dengan membawa nama
Allah. Orang-orang itu mengira bahwa para rasul dan murid adalah musuh Allah.
Tetapi secara faktual, mereka sesungguhnya adalah musuh Allah. Mereka akan
melakukan kekerasan dan kejahatan dengan membawa nama Tuhan. Hal itu mereka
lakukan karena mereka tidak mengenal Allah dan Yesus. Para rasul dan murid akan
mengalami penindasan, penganiayaan, dan bahkan mereka akan kehilangan nyawa
dalam nama Yesus. Stefanus telah membuktikan kesetiaannya kepada Yesus dengan
mengorbankan nyawanya (Kis 7:54-60). Ia menjadi martir pertama yang tidak takut
dan gentar ketika berbicara atas nama Allah yang ia sembah. Stefanus telah
dirasuki dan dibimbing oleh roh kebenaran untuk menjadi saksi Kristus yang
handal di tengah dunia.
Oleh semua tantangan yang dihadapi oleh para rasul, Yesus mengutus roh
kebenaran dari sang Bapa agar mereka semua diteguhkan dan dikuatkan. Roh
kebenaran (Roh Kudus) akan menuntun para murid untuk berbicara atas nama
kebenaran. Mereka akan fasih berbicara dalam segala bahasa dan membuat banyak
tanda heran. Semua orang akan menjadi heran dan kagum atas mereka. Banyak orang
akan bertobat dan memberi diri mereka dibaptis. Sekian banyak orang dari hari
ke hari akan menyatakan diri mereka bergabung dalam nama Yesus. Seiring dengan
itu, roh kebenaran juga menguatkan para rasul dan murid agar mereka tidak takut
dengan segala ancaman dan bahaya. Bahkan ketika harus menyerahkan nyawa sekali
pun, mereka dengan sukarela menyongsong kematian itu. Darah mereka yang
tertumpah adalah pupuk yang menyuburkan benih-benih panggilan. Semakin banyak
darah yang tertumpah oleh karena nama Yesus, semakin banyak pula orang yang
tergerak untuk percaya dan berjalan
dalam nama Allah dan Yesus.
Hidup dalam tantangan tidak selamanya menghanyutkan dan menghancurkan
panggilan hidup seseorang. Justru sebaliknya, semakin menguatkan, meneguhkan
dan membawa hasil berlipat ganda. Pengalaman para guru agama dari kampung
Lamalera yang menjadi pewarta Injil dari kampung ke kampung menjadi inspirasi
bagi kita sebagai seorang murid di masa ini. Walau menghadapi banyak tantangan
mereka tidak pernah mundur setapak pun. Dan seperti pengalaman para jemaat
perdana yang senantiasa dinaungi roh kudus, para guru agama tersebut juga
selalu dilindungi, dibimbing dan dituntun oleh roh kebenaran tersebut. Tidak
heran, sepak terjang mereka sebagai lokomotif karya pelayanan Allah pada saat
itu telah membawa begitu banyak orang menjadi pengikut Kristus. Mereka adalah
para saksi Kristus yang tetap dikenang sepanjang masa.
Kita juga menghadapi pelbagai tantangan dengan menjadi seorang murid
Kristus di era ini. Walaupun model tantangan itu tidak sama persis dengan yang
dihadapi oleh para jemaat perdana dan para guru agama Katolik dari kampung
Lamalera. Tetapi konsekuensi menjadi seorang murid Yesus dengan segala
tantangannya di masa ini tetap menjadi sesuatu yang niscaya kita hadapi. Kita
dituntut untuk tetap bertahan dalam tantangan. Karena hanya dengan demikian,
iman kita semakin ditantang untuk menjadi hidup dalam tantangan itu. Kita
percaya bahwa roh kebenaran itu juga selalu menjadi pendamping setia hidup
kita. Roh kebenaran akan memampukan agar kita lebih matang dan berani
menghadapi pelbagai tantangan yang mengancam hidup iman kita. Bahaya
Rasionalisme, materialisme, dan hedonisme adalah sederet virus zaman ini yang
bisa saja menyeret kita keluar dari iman akan Allah dan Yesus. Dan virus teranyar
yang sementara kita hadapi adalah virus Corona (Covid 19). Virus ini tidak
hanya mengancam kesehatan jiwa dan raga seluruh umat manusia. Tetapi mengancam
keselamatan hidup manusia di segala lini kehidupan. Termasuk hidup iman kita
akan Allah. Semoga di masa pandemi Covid-19 ini, kita tetap dikuatkan dan
diteguhkan oleh roh kebenaran untuk menghadapi segala tantangan yang mengancam
kehidupan iman kita. Kita percaya bahwa di balik segala tantangan yang kita
hadapi, ada berkat Tuhan yang akan selalu menaungi hidup kita. Semoga. Tuhan
memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar