Kamis, 07 Mei 2020

BERSERAH DIRI KEPADA-NYA


Yoh 4:1-6
Seorang bapak tua yang saya kenal baik tiba-tiba merasa cemas, takut dan gelisah. Hal itu terjadi lantaran karena ia akan ditinggalkan oleh anak laki-laki kesayangannya. Anaknya telah menyelesaikan masa cutinya dan akan segera kembali ke tempat kerjanya di Malaysia. Wajar sang bapak merasa takut dan gelisah. Karena selama kira-kira dua bulan, sang anaklah yang merawat bapaknya dari sakit hingga menjadi sehat. Walaupun belum kelihatan sungguh-sungguh sehat. Sang Anak jualah yang rela memutuskan untuk cuti melihat keadaan bapaknya yang sedang menderita sakit. Rasa empati dan cinta sang anak kepada bapaknya begitu dalam. Ia merawat bapaknya dengan setia dan penuh pengorbanan. Saban hari, ia harus memasak dan memberi makan sang bapak. Ia juga memandikan dan mencuci pakaian sang bapak. Meskipun ada mama (ibu) yang masih kelihatan cukup kuat. Ia menghandle semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh ibunya. Demi sang bapak tercinta agar segera sembuh kembali seperti sedia kala. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dan sang anak harus segera kembali ke tempat tugasnya. Dengan berat hati sang anak menyampaikan maksud tersebut. Bapaknya tidak saja merasa kaget. Tetapi rasa cemas, takut dan gelisah mulai menyelimuti dirinya. Siapakah yang akan memperhatikan dia kelak? Meski ada istrinya yang selalu setia menemani. Tetapi belum cukup menggantikan peran sang anak yang begitu telaten dan tanpa kompromi. Apakah ia tidak akan mengalami sakit lagi? Dan masih ada sederet litani kesedihan dan kegelisaan dalam hati sang bapak.
           
Dalam kisah Injil hari ini (Yoh 4:1-6), situasi kebatinan para murid juga sementara diliputi rasa gelisah dan cemas menjelang kepergian Yesus menuju rumah Bapa-Nya di sorga. Para murid sudah tahu bahwa Yesus akan pergi meninggalkan mereka. Tetapi mereka belum sungguh-sungguh menyiapkan batin mereka untuk menerima kenyataan yang berat itu. Setelah mengalami perjumpaan kembali dengan Yesus pasca kematian-Nya, para murid merasa enggan untuk berpisah lagi dengan Yesus. Mereka belum cukup puas bernostalgia mengenang masa-masa indah seperti dulu bersama-Nya. Mereka masih butuh Yesus untuk lebih lama lagi bersama-sama dengan mereka. Mereka butuh dikuatkan dan dibimbing kembali oleh Yesus. Pengalaman kematian Yesus membuat mereka menjadi “impoten”, lemah dan tidak berdaya di hadapan para penguasa bangsa Yahudi. Oleh karena itu, mereka masih membutuhkan Yesus untuk memompa semangat mereka yang sempat kendor. Mereka masih butuh banyak “vitamin” untuk menyehatkan kembali jiwa dan raga. Mereka masih memerlukan Yesus untuk merefresh atau menginstal kembali berbagai pengetahuan dan kemampuan yang sudah mereka dapatkan sewaktu masih bersama-sama dengan Dia; sebelum Dia mati. Mereka masih membutuhkan Yesus untuk mempersiapkan jalan mereka ke depan lebih pasti. Agar mereka tidak takut lagi dan kikuk saat tampil sendiri di depan publik tanpa kehadiran Yesus di sisi mereka.
           
Yesus menyadari apa yang sementara berkecamuk di dalam diri para murid-Nya. Sudah menjadi tanggung jawab morilnya untuk memberi kekuatan dan dorongan kepada mereka. Selanjutnya, Ia menasihati para murid-Nya agar jangan menjadi gelisah. Para murid harus percaya kepada Allah dan Diri-Nya sendiri. Ia harus pergi untuk menyiapkan tempat untuk mereka semua. Yesus memberi jaminan bahwa Ia akan datang kembali dan membawa mereka ke tempat yang telah Ia sediakan, “supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada, Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana.” Salah seorang murid, namanya Tomas, rupanya belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Yesus. Ia tidak tahu tentang jalan yang dimaksudkan oleh Yesus. Lalu Yesus menyampaikan bahwa Ia sendirilah jalan itu. Jalan yang membawa kebenaran dan hidup. Setiap orang yang hendak pergi kepada Allah harus melalui sebuah jalan yaitu diri-Nya sendiri. Ungkapan Yesus sebagai jalan ini, mau menegaskan bahwa para murid harus hidup dan selalu tinggal dalam nama-Nya agar mereka bisa memperoleh jalan keselamatan menuju rumah Bapa. Para murid tidak boleh bersekutu dengan kekuatan lain selain kekuatan Allah dan Diri-Nya. Mereka harus percaya dan menyerahkan diri secara total kepada diri-Nya. Rasa kepercayaan itulah yang akan memampukan mereka untuk terus berjuang melanjutkan karya misi Allah di tengah dunia.
           
Kegelisaan, kecemasan dan ketakutan para murid mempresentasikan situasi kebatinan yang acapkali kita rasakan. Kita gampang merasa gelisah, takut, cemas bahkan putus asa berhadapan dengan berbagai dinamika persoalan hidup yang kita alami di tengah dunia. Beban ekonomi keluarga, masalah pendidikan anak, problem kesehatan, konflik sosial adalah segumpal persoalan yang kerap kita alami dan rasakan. Hanya cara penyelesaiannya yang mungkin berbeda antara sebuah keluarga dengan keluarga yang lainnya. Banyak dari kita yang mungkin bisa melewati “badai-badai” tersebut dengan sukses. Namun tidak jarang, banyak di antara kita yang mudah patah dan hancur di tengah perjalanan. Hal demikian terjadi karena kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita melupakan satu kekuatan lain yang lebih besar dan dasyat yaitu kekuatan dari Tuhan sendiri. Hari ini Tuhan datang menyapa dan menguatkan hati kita agar kita jangan merasa gelisah, takut dan cemas dalam hidup ini. Kita harus percaya kepada-Nya. Kita harus berserah diri kepada-Nya dengan total. Kita harus mulai membangun relasi yang lebih intim dengan-Nya melalui doa-doa pribadi dan menyambut Tubuh-Nya secara rohani dalam perayaan ekaristi yang kita ikuti secara virtual melalui media daring. Dengan demikian, kita semakin percaya bahwa Tuhan adalah jalan kebenaran dan hidup. Sebuah jalan yang akan membawa kita kepada keselamatan. Seberat apa pun jalan hidup yang kita alami di dunia ini, kita akan mengalami keselamatan kalau kita selalu berjalan dalam nama-Nya yang kudus.
           
Dalam deraan badai pandemik Covic-19 yang belum menemui titik akhir hingga saat ini, tentu kita semua merasa gelisah, cemas dan takut. Kita tidak hanya takut tertular. Tetapi yang lebih gawat adalah imbas dari geliat penyakit ini. Pekerjaan pokok sebagai sumber penghasilan keluarga menjadi terancam, penghasilan ekonomi keluarga mengalami stagnasi, biaya hidup dan pendidikan anak menjadi sulit, dan berbagai persolan lainnya. Dalam pelbagai situasi “tidak enak” yang sementara kita rasakan ini, satu-satunya jalan yang kita butuhkan untuk menguatkan dan meneguhkan pribadi adalah jalan Tuhan. Jalan itu hanya dapat kita pahami dalam kaca mata iman. Kalau kita percaya dengan sungguh dan menyerahkan diri secara total kepada-Nya, pasti kita akan mendapatkan ketenangan dan keselamatan. Mari kita selalu berserah diri kepada-Nya melalui doa-doa dan refleksi pribadi kita di rumah. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar