Yoh 4:1-6
Seorang bapak tua yang saya kenal baik tiba-tiba merasa cemas, takut dan
gelisah. Hal itu terjadi lantaran karena ia akan ditinggalkan oleh anak
laki-laki kesayangannya. Anaknya telah menyelesaikan masa cutinya dan akan
segera kembali ke tempat kerjanya di Malaysia. Wajar sang bapak merasa takut
dan gelisah. Karena selama kira-kira dua bulan, sang anaklah yang merawat
bapaknya dari sakit hingga menjadi sehat. Walaupun belum kelihatan
sungguh-sungguh sehat. Sang Anak jualah yang rela memutuskan untuk cuti melihat
keadaan bapaknya yang sedang menderita sakit. Rasa empati dan cinta sang anak
kepada bapaknya begitu dalam. Ia merawat bapaknya dengan setia dan penuh
pengorbanan. Saban hari, ia harus memasak dan memberi makan sang bapak. Ia juga
memandikan dan mencuci pakaian sang bapak. Meskipun ada mama (ibu) yang masih kelihatan cukup kuat. Ia menghandle semua pekerjaan yang seharusnya
dilakukan oleh ibunya. Demi sang bapak tercinta agar segera sembuh kembali
seperti sedia kala. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dan sang anak harus
segera kembali ke tempat tugasnya. Dengan berat hati sang anak menyampaikan
maksud tersebut. Bapaknya tidak saja merasa kaget. Tetapi rasa cemas, takut dan
gelisah mulai menyelimuti dirinya. Siapakah yang akan memperhatikan dia kelak?
Meski ada istrinya yang selalu setia menemani. Tetapi belum cukup menggantikan
peran sang anak yang begitu telaten dan tanpa kompromi. Apakah ia tidak akan
mengalami sakit lagi? Dan masih ada sederet litani kesedihan dan kegelisaan
dalam hati sang bapak.
Dalam kisah Injil hari ini (Yoh 4:1-6), situasi kebatinan para murid juga
sementara diliputi rasa gelisah dan cemas menjelang kepergian Yesus menuju
rumah Bapa-Nya di sorga. Para murid sudah tahu bahwa Yesus akan pergi
meninggalkan mereka. Tetapi mereka belum sungguh-sungguh menyiapkan batin
mereka untuk menerima kenyataan yang berat itu. Setelah mengalami perjumpaan
kembali dengan Yesus pasca kematian-Nya, para murid merasa enggan untuk
berpisah lagi dengan Yesus. Mereka belum cukup puas bernostalgia mengenang
masa-masa indah seperti dulu bersama-Nya. Mereka masih butuh Yesus untuk lebih
lama lagi bersama-sama dengan mereka. Mereka butuh dikuatkan dan dibimbing
kembali oleh Yesus. Pengalaman kematian Yesus membuat mereka menjadi “impoten”,
lemah dan tidak berdaya di hadapan para penguasa bangsa Yahudi. Oleh karena
itu, mereka masih membutuhkan Yesus untuk memompa semangat mereka yang sempat
kendor. Mereka masih butuh banyak “vitamin” untuk menyehatkan kembali jiwa dan
raga. Mereka masih memerlukan Yesus untuk merefresh atau menginstal kembali
berbagai pengetahuan dan kemampuan yang sudah mereka dapatkan sewaktu masih
bersama-sama dengan Dia; sebelum Dia mati. Mereka masih membutuhkan Yesus untuk
mempersiapkan jalan mereka ke depan lebih pasti. Agar mereka tidak takut lagi
dan kikuk saat tampil sendiri di depan publik tanpa kehadiran Yesus di sisi
mereka.
Yesus menyadari apa yang sementara berkecamuk di dalam diri para murid-Nya.
Sudah menjadi tanggung jawab morilnya untuk memberi kekuatan dan dorongan kepada
mereka. Selanjutnya, Ia menasihati para murid-Nya agar jangan menjadi gelisah.
Para murid harus percaya kepada Allah dan Diri-Nya sendiri. Ia harus pergi
untuk menyiapkan tempat untuk mereka semua. Yesus memberi jaminan bahwa Ia akan
datang kembali dan membawa mereka ke tempat yang telah Ia sediakan, “supaya di
tempat Aku berada, kamu pun berada, Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke
sana.” Salah seorang murid, namanya Tomas, rupanya belum paham dengan apa yang
dikatakan oleh Yesus. Ia tidak tahu tentang jalan yang dimaksudkan oleh Yesus.
Lalu Yesus menyampaikan bahwa Ia sendirilah jalan itu. Jalan yang membawa
kebenaran dan hidup. Setiap orang yang hendak pergi kepada Allah harus melalui
sebuah jalan yaitu diri-Nya sendiri. Ungkapan Yesus sebagai jalan ini, mau
menegaskan bahwa para murid harus hidup dan selalu tinggal dalam nama-Nya agar
mereka bisa memperoleh jalan keselamatan menuju rumah Bapa. Para murid tidak
boleh bersekutu dengan kekuatan lain selain kekuatan Allah dan Diri-Nya. Mereka
harus percaya dan menyerahkan diri secara total kepada diri-Nya. Rasa
kepercayaan itulah yang akan memampukan mereka untuk terus berjuang melanjutkan
karya misi Allah di tengah dunia.
Kegelisaan, kecemasan dan ketakutan para murid mempresentasikan situasi kebatinan
yang acapkali kita rasakan. Kita gampang merasa gelisah, takut, cemas bahkan
putus asa berhadapan dengan berbagai dinamika persoalan hidup yang kita alami
di tengah dunia. Beban ekonomi keluarga, masalah pendidikan anak, problem
kesehatan, konflik sosial adalah segumpal persoalan yang kerap kita alami dan
rasakan. Hanya cara penyelesaiannya yang mungkin berbeda antara sebuah keluarga
dengan keluarga yang lainnya. Banyak dari kita yang mungkin bisa melewati
“badai-badai” tersebut dengan sukses. Namun tidak jarang, banyak di antara kita
yang mudah patah dan hancur di tengah perjalanan. Hal demikian terjadi karena
kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita melupakan satu kekuatan
lain yang lebih besar dan dasyat yaitu kekuatan dari Tuhan sendiri. Hari ini
Tuhan datang menyapa dan menguatkan hati kita agar kita jangan merasa gelisah,
takut dan cemas dalam hidup ini. Kita harus percaya kepada-Nya. Kita harus
berserah diri kepada-Nya dengan total. Kita harus mulai membangun relasi yang
lebih intim dengan-Nya melalui doa-doa pribadi dan menyambut Tubuh-Nya secara
rohani dalam perayaan ekaristi yang kita ikuti secara virtual melalui media
daring. Dengan demikian, kita semakin percaya bahwa Tuhan adalah jalan
kebenaran dan hidup. Sebuah jalan yang akan membawa kita kepada keselamatan.
Seberat apa pun jalan hidup yang kita alami di dunia ini, kita akan mengalami
keselamatan kalau kita selalu berjalan dalam nama-Nya yang kudus.
Dalam deraan badai pandemik Covic-19 yang belum menemui titik akhir hingga
saat ini, tentu kita semua merasa gelisah, cemas dan takut. Kita tidak hanya
takut tertular. Tetapi yang lebih gawat adalah imbas dari geliat penyakit ini.
Pekerjaan pokok sebagai sumber penghasilan keluarga menjadi terancam,
penghasilan ekonomi keluarga mengalami stagnasi, biaya hidup dan pendidikan
anak menjadi sulit, dan berbagai persolan lainnya. Dalam pelbagai situasi
“tidak enak” yang sementara kita rasakan ini, satu-satunya jalan yang kita
butuhkan untuk menguatkan dan meneguhkan pribadi adalah jalan Tuhan. Jalan itu
hanya dapat kita pahami dalam kaca mata iman. Kalau kita percaya dengan sungguh
dan menyerahkan diri secara total kepada-Nya, pasti kita akan mendapatkan
ketenangan dan keselamatan. Mari kita selalu berserah diri kepada-Nya melalui
doa-doa dan refleksi pribadi kita di rumah. Semoga. Tuhan memberkati.
***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar