Kis 17:15,22 – 18:1 dan Yoh 16:12-15
Pengalaman mengalami penolakan merupakan sebuah pengalaman yang sungguh
tidak mengenakan. Ada banyak pengalaman demikian yang mungkin saja pernah kita
alami. Kita ditolak untuk menentukan pilihan hidup sendiri, ditolak masuk dalam
rumah dengan alasan tertentu, ditolak untuk masuk bekerja dalam sebuah
institusi atau organisasi, ditolak untuk menyampaikan pendapat, ditolak untuk
menyampaikan kebenaran, dan masih banyak lagi pengalaman penolakan yang kita
rasakan. Rasa kecewa, sakit hati, marah pasti menyelimuti hati kita sebagai
seorang manusia. Bahkan ada orang yang sungguh-sungguh bekerja, berjuang dan
berkorban, tetapi apa yang ia dapatkan tidak sebanding dengan apa yang ia
berikan. Kualitas pribadi dan kinerjanya tetap tidak diakui dan mengalami
penolakan.
Dalam bacaan pertama hari ini, mengisahkan peristiwa penolakan yang dialami
oleh rasul Paulus di kota Atena. Bermula dari keprihatinan Paulus terhadap cara
hidup orang Atena yang tidak sesuai dengan kehendak Allah; Paulus kemudian
membangun diskusi publik tentang sebuah kebenaran dari Allah yang melibatkan
orang-orang Yahudi dan para pemikir dari golongan Epikuros dan Stoa.
Orang-orang tersebut tidak puas dengan penjelasan Paulus. Lalu mereka
membawanya ke sidang Areopagus untuk mendengarkan segala klarifikasi dan
penjelasan tentang ajaran baru yang terasa sangat asing di telinga mereka. Dari
atas Areopagus, Paulus dengan lantang membeberkan fakta kebenaran yang ia
yakini seraya mengkritik sikap orang Atena yang melakukan pemujaan dan
penyembahan terhadap allah asing yang mereka sendiri tidak kenal. Paulus
kemudian memperkenalkan Allah yang ia kenal. Allah yang telah memberikan hidup
dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kis 17:22) termasuk kepada
orang Atena sendiri. Tetapi banyak orang Atena yang mengolok, mengejek dan
menolak ajaran dan kehadirannya di kota mereka. Dari sekian banyak orang yang
menolak, hanya segelintir orang yang percaya dan mengikuti Paulus. Di antaranya
adalah Dionisius dan seorang perempuan yang bernama Damaris (Kis 17:34).
Walaupun mengalami penolakan, Paulus tetap teguh hati. Ia tidak merasa
kecewa, sakit hati, marah, dan mundur dari karya misionernya. Malahan dengan
pengalaman yang tidak enak tersebut, semakin menguatkan dan meneguhkan imannya.
Ia meyakini bahwa berjalan dalam nama Allah dan Yesus tentu tidak mudah. Ada
banyak konsekuensi yang mengikutinya. Seperti pengalaman penolakan yang telah
ia terima. Paulus percaya bahwa roh kebenaran yang dijanjikan oleh Yesus telah
menyata dan berkobar-kobar dalam dirinya. Roh kebenaran itulah yang menuntun
Paulus untuk membawa orang Atena ke dalam kebenaran. Kebenaran yang menuntun
mereka dari kegelapan dosa menuju kepada terang yang membawa keselamatan. Bahwa
apa yang selama ini disembah dan dipuja orang Atena adalah sesuatu yang sesat.
Allah yang tidak mereka kenal tidak mungkin membawa mereka kepada kebenaran.
Kebenaran itu hanya ada pada Allah yang sungguh dikenal dan diyakini. Sang
kebenaran itu adalah Allah dan Yesus sendiri. Berkat karya roh kudus Paulus
juga memperkenalkan Yesus dan Allah serta menggambarkan hal-bal baru yang akan
terjadi seperti hari penghakiman atas dunia. Apa yang dilakukan oleh Paulus
telah menegaskan dan menghidupkan kembali kata-kata Yesus sebelum kenaikan-Nya
ke sorga bahwa roh kebenaran akan memimpin para murid-Nya ke dalam seluruh
kebenaran (Yoh 16:13).
Dalam sabda-Nya kepada para murid dalam Injil hari ini (Yoh 16:12-15),
Yesus mengatakan bahwa masih banyak hal yang mesti Ia sampaikan kepada mereka,
tetapi para murid-Nya sendiri belum siap untuk menanggungnya (Yoh 16:12). Para
murid belum sepenuhnya paham dengan apa yang sudah diwartakan oleh Yesus. Akan
tiba saatnya, dimana roh kebenaran itu akan datang dan membuka pikiran mereka
sehingga mereka menjadi mengerti dengan semua hal yang telah disampaikan oleh
Yesus. Roh kebenaran itu pula yang akan membimbing dan menuntun mereka untuk
pergi mewartakan Injil. Walaupun mendapat penolakan, roh kebenaran akan selalu
meneguhkan dan menguatkan hati mereka. Roh kebenaran tidak membiarkan mereka
berjalan sendiri. Roh kebenaran akan menjadi pendamping setia para murid dalam
menjalankan karya misionernya. Para murid tidak perlu takut, karena roh
kebenaran akan menyatakan kemuliaan Allah sehingga semakin banyak orang yang
percaya dan mengikuti Dia.
Pengalaman penolakan yang dialami Paulus pasti akan terus terjadi dan
mengulang dalam sejarah hidup manusia. Sebagai seorang murid Tuhan, kita juga
sudah, sedang dan akan mengalami peristiwa penolakan itu. Dalam menjalani
panggilan sesuai dengan bidang tugas kita masing-masing, ada banyak dinamika
penolakan yang kita alami. Terutama ketika kita hendak menyuarakan kebenaran
dan keadilan akan sesuatu hal. Pasti tidak sedikit orang yang memusuhi dan
menolak kita. Mirisnya, banyak orang baik dan hebat yang suka mencari jalan
aman. Mereka tidak mau mendobrak sesuatu yang keliru dan salah. Mungkin demi
mengamankan sesuatu agar tidak terlepas begitu saja. Entah itu jabatan, tawaran
materi, dan sebagainya. Hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita agar kita tidak
perlu takut. Kita harus tetap teguh hati karena roh kebenaran itu akan selalu
menjaga, membimbing dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Kebenaran itu
tidak akan pernah kalah. Walau terus ditindas dan ditolak, ia akan tetap
berkibar memberi keselamatan hidup kepada kita. Mari kita tetap teguh hati
walaupun terus ditolak. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar