Senin, 04 Mei 2020

KATA DAN PERBUATAN MENENTUKAN IDENTITAS KITA


Kis 11:19-26 & Yoh 10:22-30

Orang-orang Yahudi tinggal dalam kebimbangan. Mereka ada pada persimpangan jalan. Mana jalan yang harus mereka pilih. Percaya bahwa Yesus adalah Mesias atau tidak? Mereka benar-benar  bimbang sebab Yesus tidak pernah memproklamirkan diri-Nya sebagai Mesias, akan tetapi mereka juga tidak bisa menampik kenyataan bahwa Yesus telah membuat banyak orang takjub. Bahkan banyak di antaranya menjadi percaya bahwa Yesus itu berasal dari atas dan karenanya memiliki otoritas ilahi.

Ketika orang-orang Yahudi bertanya kepada-Nya tentang siapakah Dia sesungguhnya untuk mengakhiri kebimbangan mereka,  Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung. Ia menunjuk kepada kata-kata yang pernah diucapkan dan pekerjaan yang sudah dilakukan-Nya. Yesus mau menyatakan bahwa dengan pengajaran penuh wibawa dan perbuatan-perbuatan-Nya penuh daya, Ia telah menunjukkan identitas kemesiasan-Nya itu.

Ke mana saja Yesus pergi, Ia mengajar orang banyak sambil berbuat baik. Kata-kata-Nya menunjuk kepada diri-Nya: “Aku berkata kepadamu”. Ini berbeda dengan yang dikatakan para nabi: “Dengarlah firman Tuhan”. Demikian pula perbuatan-perbuatan yang dilakukan penuh keajaiban yang menunjuk pada otoritas ilahi yang dimiliki-Nya. Jika Ia adalah seorang manusia biasa maka tentu Yesus tidak dapat melakukan itu dari dirinya sendiri. Itulah bukti otentik tentang kemesiasan-Nya.

Namun Yesus tahu bahwa mereka tidak percaya kepada-Nya. Karena itu, sekalipun Ia menyatakan dengan terus terang tentang diri-Nya sebagai Mesias toh mereka juga tidak akan pernah percaya. Mereka degil hati. Dan untuk mempertegas kenyataan tentang orang-orang Yahudi itu, Yesus berkata kepada mereka: “...kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yoh 10:26). Jika mereka adalah domba-domba-Nya maka mereka pasti mendengarkan suara-Nya. Artinya mereka percaya kepada-Nya dan mengikuti Dia. Namun mereka bukan domba-domba-Nya. Mereka tidak percaya dan mengikuti Dia.

Berbeda dengan orang-orang Yahudi, kita adalah golongan orang yang percaya kepada-Nya dan mengikuti Dia. Kita percaya bahwa kata-kata-Nya adalah hidup yang kekal dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya membimbing kita kepada hidup yang kekal. Yesus sendiri memberikan garansi itu: “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh 10:28).

Kata-kata-Nya ini sungguh menyejukkan hati dan  membangkitkan dalam diri kita harapan akan kehidupan kekal. Dan inilah kekuatan yang menggerakkan kita untuk senantiasa mendengarkan Dia dan tidak pernah berhenti mengikuti-Nya.

Dia sendiri pulalah, dalam kuasa Allah, memberikan jaminan rasa aman kepada kita seperti seorang gembala yang menjaga dan melindungi keselamatan dombanya. Apabila kenyataan hidup menunjukkan adanya banyak penderitaan dan kesulitan hidup seperti yang kita alami dewasa ini, itu tidak membuktikan bahwa jiwa kita kehilangan rasa aman.

Sebaliknya situasi demikian menjadi medan kita membuktikan keyakinan kita bahwa tidak ada kuasa manapun di dunia ini yang dapat mengambil hidup kita. Penderitaan dan kesulitan hidup di dunia memberi nilai pada harapan kita dan membuat kita semakin tekun. Jiwa yang aman dan damai di tengah situasi penderitaan dan kesulitan hidup menjadi bukti bahwa harapan itu bukanlah suatu yang kosong, melainkan suatu yang dapat dialami bagi semua kita yang berharap kepada-Nya.

Berkenaan dengan ini, maka Yesus meminta kepada kita sebagai domba-domba-Nya agar benar-benar menunjukkan iman dan kepercayaan kita kepada-Nya dalam segala situasi hidup kita. Setiap perkataan kita harus menjiwai iman dan kepercayaan kita, demikian pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Itulah cara kita menunjukkan sikap iman yang selalu mau mendengarkan suara-Nya dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya dalam segala situasi hidup kita.

Baiklah kita meyakinkan diri kita oleh kebenaran sebagaimana yang dinyatakan Yesus bahwa kata-kata dan perbuatan yang dilakukan adalah cerminan siapakah diri kita sesungguhnya. Seperti kata-kata yang diucapkannya dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya menunjuk kepada identitas-Nya sebagai Mesias, demikianlah kita oleh kata-kata yang baik, kata-kata yang memberi hidup, kata-kata yang menghibur dan memberi harapan, kata-kata yang meneguhkan dan memberi motivasi serta perbuatan-perbuatan baik yang memancarkan kasih, kita menyatakan identitas kita sebagai domba-domba kegembalaan Kristus.

Karena itu, sekalipun hidup kita di dunia ini tidak akan pernah luput dari penderitaan dan kesulitan, akan tetapi sebagai domba-domba-Nya yang mendengarkan suara-Nya, kita akan selalu dituntun untuk menyatakan identitas kita secara jelas dalam tutur kata dan perbuatan hidup kita. Ketaatan dan kesetiaan iman memang mutlak perlu sebagaimana yang dinasihatkan Barnabas kepada jemaat beriman agar kita boleh bertekun dalam menantikan kepenuhan anugerah kehidupan kekal yang disiapkan bagi domba-domba-Nya. ***Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar