Selasa, 26 Mei 2020

SALING MENDOAKAN


Kis 20:28 – 38 dan Yoh 17:11b-19
Pernah saya singgah di sebuah kios untuk membeli sesuatu. Memasuki pelataran kios tersebut, saya tertarik dengan sebuah tulisan di atas palang pintu kios itu yang berbunyi, “Doa Ibu.” Rupanya kios itu bernama Doa Ibu. Cukup lama saya membaca dan menyimak tulisan itu sambil mencari-cari sendiri dalam hati apa latar pemilik kios memilih frase “Doa Ibu”. Sambil menunggu barang belanjaan dibungkus, saya iseng saja bertanya kepada empunya kios, kira-kira apa latar di balik nama kiosnya. Ternyata beliau sangat responsif dengan pertanyaan saya. Dia (pemilik kios) menceritakan bahwa pada awal mula mendirikan kios itu ia menghadapi banyak sekalih tantangan. Pasang surut silih berganti mewarnai kehidupan kiosnya. 
Kadang ia tegar. Tetapi lebih banyak ia mengalami depresi, sedih dan marah-marah tanpa alasan yang jelas. Ia sempat berniat untuk menutup kiosnya. Tetapi ibunya yang kebetulan tinggal bersama-sama dengan dirinya melarang niatnya tersebut. Sang ibu mencoba menghibur dan menguatkan hatinya. Ibunya dengan telaten mengatakan bahwa ia harus banyak sabar. Ibunya juga menganjurkan supaya mereka jangan lupa berdoa. Kadang-kadang tanpa sengaja ia melihat ibunya khusyuk sekalih berdoa. Dan ia yakin, ibunya pasti sementara mendoakan keselamatan dan kesuksesan kehidupan mereka. Terutama kehidupan kios yang menjadi tumpuan utama hidup mereka. Memang butuh waktu yang tidak cepat untuk memulihkan keadaan kiosnya. Namun perlahan-lahan, buah dari doa sang ibu mulai menunjukkan hasil. Pemasukan dari kios kecilnya mulai meningkat. Ia mulai mengembangkan usaha kiosnya berkat doa dari sang ibu.
           
Dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), Yesus dengan sangat khusyuk berdoa kepada Bapa-Nya bagi para murid-murid-Nya. Kalau kita memperhatikan dengan cermat isi bacaan ini, kita mengetahui ada tiga intensi (niat) yang diselipkan Yesus dalam doa-Nya. Pertama, Yesus berdoa agar Sang Bapa tetap menjaga para murid dalam kekudusan nama-Nya agar para murid tetap solid, bersatu padu dan tidak pecah. Seperti kesatuan erat yang dimiliki oleh Diri-Nya dan Sang Bapa, demikian pula rasa kesatuan harus tercipta di antara para murid. Kedua, Yesus juga berdoa agar Sang Bapa melindungi para murid dari segala yang jahat. Pasti akan banyak tantangan dan kesulitan yang memborbardir kehidupan para murid setelah Yesus pergi dari dunia. Kekuatiran Yesus ini wajar mengingat belum banyak hal yang dipahami oleh para murid terhadap segala hal yang dikatakan-Nya. Ketiga, Yesus mau supaya Sang Bapa menguduskan para murid-Nya dalam kebenaran. Seperti sang Bapa adalah kebenaran, demikian juga para murid juga harus tetap berada dalam kebenaran.
           
Yesus menegaskan melalui doanya bahwa selama ada bersama-sama dengan para murid, Ia telah membimbing dan menggembleng agar langkah hidup para murid-Nya tetap terarah kepada Sang Bapa. Hati mereka tidak boleh melenceng dan menjadi binasa oleh kuasa dunia. Mereka harus tetap bersatu dan solid dalam kekudusan Sang Bapa di sorga. Hanya dengan kesatuan di antara para murid maka misi Kerajaan Allah di tengah dunia dapat ditegakkan. Kalau mereka cerai berai, maka misi itu akan lenyap dari muka bumi. Seperti kesatuan yang tercipta antara Sang Anak dan Sang Bapa, para murid harus bersatu tidak hanya di antara mereka tetapi juga dalam rasa kesatuan dengan Yesus dan Bapa sendiri. Dalam rasa kesatuan itulah, Sang Bapa pasti tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya menjadi terlantar. Melalui Doa Yesus, Sang Bapa pasti menjaga keselamatan anak-anak-Nya dari kuasa dunia yang menyesatkan. Para murid akan mengalami benturan dan bentrokan dengan berbagai kuasa dunia yang tidak menyukai mereka. 
Namun, dalam kuasa Allah, para murid akan terus dijaga dan dibimbing menuju kebenaran. Seperti Sang Bapa adalah Kebenaran, Yesus mengharapkan dalam doa-Nya agar para murid senantiasa dikuduskan dalam kebenaran. Tantangan dan tawaran dunia begitu menggiurkan bagi para murid untuk bisa lari dari pelukan kasih Allah. Oleh karena itu, hati mereka harus terus diluruskan dan dibimbing untuk berada dalam kebenaran kasih-Nya. Yesus menyadari bahwa tidak lama lagi Ia bersama-sama dengan para murid-Nya. Ia akan pergi dan para murid akan mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan yang telah ditinggalkan-Nya. Para murid akan melanjutkan karya pelayanan Allah. Oleh karena itu Yesus perlu membakar segala intensi-Nya kepada Bapa, agar karya pelayanan yang telah dirintis-Nya tidak putus dan menjadi hilang. Melalui Paulus, salah satu murid yang paling bersinar, karya Allah itu terus berlanjut dan tetap digaungkan ke seluruh pelosok dunia. Paulus tidak hanya tampil menjadi seorang murid yang setia dan militan tetapi ia juga dapat menjadi seorang mentor yang bijaksana bagi para sahabatnya. Dalam amanat perpisahannya dengan para jemaat dari Efesus, Paulus menasihati para koleganya tersebut agar mereka tetap menjaga diri dan seluruh kawanan yang telah ditetapkan oleh roh kudus (Kis 20:28). Rasa persatuan dan soliditas itu harus membaluri seluruh diri mereka sehingga mereka tidak mudah diceraiberaikan oleh serigala-serigala yang datang mengancam nyawa mereka.
           
Doa merupakan salah satu pilar hidup iman kita. Tanpa doa, hidup kita ibarat tanaman yang menjadi kering karena tidak pernah mendapat air. Seperti Yesus yang mendoakan para murid-Nya, hendaknya kita juga tetap berdoa. Kita tidak hanya berdoa bagi diri kita sendiri. Tetapi kita juga berdoa untuk orang lain. Kita saling mendoakan. Kita memohon bantuan Sang Bapa melalui Putra-Nya Yesus Kristus, agar kita senantiasa diberi kekuatan untuk tetap bersatu terutama rasa persatuan dan soliditas kita dalam satu keluarga besar Rumah Sakit Bukit Lewoleba. Rasa persatuan dan soliditas menjadi kunci utama bagi kita dalam memberikan pelayanan yang prima bagi para saudara/saudari di ruang-ruang pasien. Rasa yang sama juga dapat menjadi benteng yang kokoh bagi kita dalam menghadapi segala hambatan dan kesulitan yang menerpa kita. Bagi saudara/i-ku yang sementara berbaring di ruang-ruang pasien, janganlah putus harapan untuk tetap berdoa karena dalam iman kita percaya Allah tidak pernah akan memalingkan wajah-Nya dari hadapan kita. Dalam semangat doa itu pula, kita semua yang berhimpun dalam kesatuan dengan Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, senantiasa mendapat berkat keselamatan dan kesuksesan dalam menapaki ziarah hidup kita. Kita juga selalu dibimbing untuk berjalan dalam kebenaran, karena Allah kita adalah sang kebenaran itu sendiri. Bersama Bunda Maria yang selalu menolong, mari kita saling mendoakan satu sama lain di bulan yang penuh rahmat ini. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar