Kis 20:28 – 38 dan Yoh 17:11b-19
Pernah saya singgah di sebuah kios untuk membeli sesuatu. Memasuki
pelataran kios tersebut, saya tertarik dengan sebuah tulisan di atas palang
pintu kios itu yang berbunyi, “Doa Ibu.” Rupanya kios itu bernama Doa Ibu.
Cukup lama saya membaca dan menyimak tulisan itu sambil mencari-cari sendiri
dalam hati apa latar pemilik kios memilih frase “Doa Ibu”. Sambil menunggu
barang belanjaan dibungkus, saya iseng saja
bertanya kepada empunya kios, kira-kira apa latar di balik nama kiosnya.
Ternyata beliau sangat responsif dengan pertanyaan saya. Dia (pemilik kios)
menceritakan bahwa pada awal mula mendirikan kios itu ia menghadapi banyak
sekalih tantangan. Pasang surut silih berganti mewarnai kehidupan kiosnya.
Kadang ia tegar. Tetapi lebih banyak ia mengalami depresi, sedih dan
marah-marah tanpa alasan yang jelas. Ia sempat berniat untuk menutup kiosnya.
Tetapi ibunya yang kebetulan tinggal bersama-sama dengan dirinya melarang
niatnya tersebut. Sang ibu mencoba menghibur dan menguatkan hatinya. Ibunya
dengan telaten mengatakan bahwa ia harus banyak sabar. Ibunya juga menganjurkan
supaya mereka jangan lupa berdoa. Kadang-kadang tanpa sengaja ia melihat ibunya
khusyuk sekalih berdoa. Dan ia yakin, ibunya pasti sementara mendoakan
keselamatan dan kesuksesan kehidupan mereka. Terutama kehidupan kios yang
menjadi tumpuan utama hidup mereka. Memang butuh waktu yang tidak cepat untuk
memulihkan keadaan kiosnya. Namun perlahan-lahan, buah dari doa sang ibu mulai
menunjukkan hasil. Pemasukan dari kios kecilnya mulai meningkat. Ia mulai
mengembangkan usaha kiosnya berkat doa dari sang ibu.
Dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), Yesus dengan sangat khusyuk
berdoa kepada Bapa-Nya bagi para murid-murid-Nya. Kalau kita memperhatikan
dengan cermat isi bacaan ini, kita mengetahui ada tiga intensi (niat) yang
diselipkan Yesus dalam doa-Nya. Pertama, Yesus berdoa agar Sang Bapa tetap
menjaga para murid dalam kekudusan nama-Nya agar para murid tetap solid,
bersatu padu dan tidak pecah. Seperti kesatuan erat yang dimiliki oleh Diri-Nya
dan Sang Bapa, demikian pula rasa kesatuan harus tercipta di antara para murid.
Kedua, Yesus juga berdoa agar Sang Bapa melindungi para murid dari segala yang
jahat. Pasti akan banyak tantangan dan kesulitan yang memborbardir kehidupan
para murid setelah Yesus pergi dari dunia. Kekuatiran Yesus ini wajar mengingat
belum banyak hal yang dipahami oleh para murid terhadap segala hal yang
dikatakan-Nya. Ketiga, Yesus mau supaya Sang Bapa menguduskan para murid-Nya
dalam kebenaran. Seperti sang Bapa adalah kebenaran, demikian juga para murid
juga harus tetap berada dalam kebenaran.
Yesus menegaskan melalui doanya bahwa selama ada bersama-sama dengan para
murid, Ia telah membimbing dan menggembleng agar langkah hidup para murid-Nya
tetap terarah kepada Sang Bapa. Hati mereka tidak boleh melenceng dan menjadi
binasa oleh kuasa dunia. Mereka harus tetap bersatu dan solid dalam kekudusan
Sang Bapa di sorga. Hanya dengan kesatuan di antara para murid maka misi
Kerajaan Allah di tengah dunia dapat ditegakkan. Kalau mereka cerai berai, maka
misi itu akan lenyap dari muka bumi. Seperti kesatuan yang tercipta antara Sang
Anak dan Sang Bapa, para murid harus bersatu tidak hanya di antara mereka
tetapi juga dalam rasa kesatuan dengan Yesus dan Bapa sendiri. Dalam rasa
kesatuan itulah, Sang Bapa pasti tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya menjadi
terlantar. Melalui Doa Yesus, Sang Bapa pasti menjaga keselamatan anak-anak-Nya
dari kuasa dunia yang menyesatkan. Para murid akan mengalami benturan dan
bentrokan dengan berbagai kuasa dunia yang tidak menyukai mereka.
Namun, dalam
kuasa Allah, para murid akan terus dijaga dan dibimbing menuju kebenaran.
Seperti Sang Bapa adalah Kebenaran, Yesus mengharapkan dalam doa-Nya agar para
murid senantiasa dikuduskan dalam kebenaran. Tantangan dan tawaran dunia begitu
menggiurkan bagi para murid untuk bisa lari dari pelukan kasih Allah. Oleh
karena itu, hati mereka harus terus diluruskan dan dibimbing untuk berada dalam
kebenaran kasih-Nya. Yesus menyadari bahwa tidak lama lagi Ia bersama-sama
dengan para murid-Nya. Ia akan pergi dan para murid akan mengambil alih tongkat
estafet kepemimpinan yang telah ditinggalkan-Nya. Para murid akan melanjutkan
karya pelayanan Allah. Oleh karena itu Yesus perlu membakar segala intensi-Nya
kepada Bapa, agar karya pelayanan yang telah dirintis-Nya tidak putus dan
menjadi hilang. Melalui Paulus, salah satu murid yang paling bersinar, karya
Allah itu terus berlanjut dan tetap digaungkan ke seluruh pelosok dunia. Paulus
tidak hanya tampil menjadi seorang murid yang setia dan militan tetapi ia juga
dapat menjadi seorang mentor yang bijaksana bagi para sahabatnya. Dalam amanat
perpisahannya dengan para jemaat dari Efesus, Paulus menasihati para koleganya
tersebut agar mereka tetap menjaga diri dan seluruh kawanan yang telah
ditetapkan oleh roh kudus (Kis 20:28). Rasa persatuan dan soliditas itu harus
membaluri seluruh diri mereka sehingga mereka tidak mudah diceraiberaikan oleh
serigala-serigala yang datang mengancam nyawa mereka.
Doa merupakan salah satu pilar hidup iman kita. Tanpa doa, hidup kita
ibarat tanaman yang menjadi kering karena tidak pernah mendapat air. Seperti
Yesus yang mendoakan para murid-Nya, hendaknya kita juga tetap berdoa. Kita
tidak hanya berdoa bagi diri kita sendiri. Tetapi kita juga berdoa untuk orang
lain. Kita saling mendoakan. Kita memohon bantuan Sang Bapa melalui Putra-Nya
Yesus Kristus, agar kita senantiasa diberi kekuatan untuk tetap bersatu
terutama rasa persatuan dan soliditas kita dalam satu keluarga besar Rumah
Sakit Bukit Lewoleba. Rasa persatuan dan soliditas menjadi kunci utama bagi
kita dalam memberikan pelayanan yang prima bagi para saudara/saudari di
ruang-ruang pasien. Rasa yang sama juga dapat menjadi benteng yang kokoh bagi
kita dalam menghadapi segala hambatan dan kesulitan yang menerpa kita. Bagi
saudara/i-ku yang sementara berbaring di ruang-ruang pasien, janganlah putus
harapan untuk tetap berdoa karena dalam iman kita percaya Allah tidak pernah
akan memalingkan wajah-Nya dari hadapan kita. Dalam semangat doa itu pula, kita
semua yang berhimpun dalam kesatuan dengan Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus,
senantiasa mendapat berkat keselamatan dan kesuksesan dalam menapaki ziarah
hidup kita. Kita juga selalu dibimbing untuk berjalan dalam kebenaran, karena
Allah kita adalah sang kebenaran itu sendiri. Bersama Bunda Maria yang selalu
menolong, mari kita saling mendoakan satu sama lain di bulan yang penuh rahmat
ini. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar