2 Tim 2:8-15
Timotius adalah
orang yang dikasihi Paulus. Sebagai orang yang terkasih, Paulus menghendaki
agar Timotius juga memiliki orientasi yang sama sepertinya. Dan untuk maksud
tersebut, Paulus berulang kali (siang dan malam) membangun kesadaran di dalam
diri muridnya itu untuk menjadi seorang murid Kristus yang militan.
Setelah
meneguhkan hati Timotius untuk berani dan tidak malu untuk bersaksi tentang
kebenaran Injil sebagaimana yang ditampilkan dalam bacaan pertama kemarin, hari
ini Paulus beranjak lebih jauh. Ia mau membawa Timotius kepada suatu kesadaran
lebih tinggi dan dengan begitu membentuk kesiapan mental muridnya untuk
menghadapi risiko dari permintaan kepadanya untuk tidak takut dan tidak malu
memberitakan Injil.
Dengan memadukan
kombinasi gaya nasihat dan sharing
pengalaman, Paulus membentuk hati Timotius untuk siap menerima risiko atas
pemberitaan Injil. Mengawalinya dengan suatu peringatan akan Kristus yang
diwartakannya, Paulus kemudian berkata kepada Timotius: “Karena pemberitaan
Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi
firman Allah tidak terbelenggu” (ay 9).
Paulus menandaskan
bahwa firman Allah memang mau tidak mau harus diwartakan, tetapi konsekuensinya
juga harus siap diterima. Dan untuk menerima konsekuensi itu, maka jiwa heroik
mesti ada. Jiwa itu lahir dari kesadaran yang dibentuk terus-menerus.
Kesadaran yang
membentuk jiwa heroik itu melahirkan keunggulan-keunggulan lain yang sangat
penting perannya dalam menghadapi situasi sulit dan penderitaan. Kesabaran yang
disebut Paulus adalah salah satu keunggulan yang diandaikan untuk menganggung
konsekuensi dari keberanian untuk mewartakan Injil. Bukan hanya kata hampa yang
digunakan Paulus untuk memanipulasi hati Timotius laksana kaum pecundang
menghipnotis orang untuk kepentingan tertentu, melainkan suatu kata yang hidup
dan berdaya mempengaruhi karena diangkat dari pengalamannya sendiri dalam
menjalankan tugas kerasulan.
Dan Paulus juga
tidak melakukan demikian tanpa tujuan. Paulus tahu benar tujuannya, yaitu
keselamatan. Jika bukan karena alasan itu, tentu kita bisa bayangkan bahwa
Paulus juga tidak mau menanggung semuanya. Tidak ada kesia-siaan yang bisa
diperjuangkan dengan penuh penderitaan atau ditimpal dengan belenggu. Hanya ada
satu tujuan yang tertinggi nilainya, yaitu keselamatan maka firman Allah itu disaksikan
dengan susah payah. Dan Paulus dengan penuh keyakinan mengatakan itu kepada Timutius
dan semua orang kepada siapa pemberitaan itu tertuju.
Nasihat Paulus
untuk mengembangkan jiwa heroik dalam diri Timotius adalah juga nasihat yang
diberikan kepada kita semua sebagai murid-murid Kristus. Sebab kita memiliki
tugas dan panggilan yang sama untuk mewartakan Kristus oleh karena iman dan
baptisan.
Kita sesungguhnya
telah dibaptis oleh karena iman kita, akan tetapi patut diakui bahwa sekian
sering kita tidak selalu hidup oleh iman dan baptisan itu. Bahkan hidup kita
bertolak belakang dengan iman dan baptisan. Kita malu mengakui iman kita dan
tidak berani bersaksi tentang Dia. Apabila kesaksian saja kita sebegitu
mandulnya maka akan lebih susah lagi menanggung penderitaan oleh karena iman.
Kita mudah melarikan diri dan mencari kenyamanan diri sendiri. Tidak jarang kita
menyangkal Dia yang seharusnya kita akui dan saksikan.
Ketika kita
membaca dan merenungkan pewartaan Paulus hari ini, setidaknya kita dibantu
untuk menyadari betapa kita memilihi anugerah ilahi yang ada di dalam diri kita
akan tetapi daya-daya itu tidak kita gunakan secara baik dan efektif sehingga
kita menjadi mandul. Paulus menyadarkan kita agar kita kembali kepada “jalan
Tuhan” seperti yang dinyatakannya di dalam pengalaman hidupnya.
Kata -kata Paulus
hari ini menjiwai kita untuk dapat menghidupkan iman dan baptisan kita dalam
tugas kerasulan baik di tengah keluarga, komunitas basis, di lingkungan kerja
maupun masyarat tempat di mana kita ada,
hadir dan menjalankan kehidupan kita.
Seperti Timotius,
Paulus menghendaki agar kita memiliki keberanian bersaksi serta bersedia
menerima konsekuensi dan sabar dalam menganggungnya. Kita memang terbelenggu
oleh karena kebenaran Allah, akan tetapi kebenaran Allah itu pula yang
membebaskan kita untuk suatu kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.
Kita ingat
kata-kata Paulus kepada Timotius dan yang dikehendakinya untuk diteruskan: "Jika
kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita
pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan
menyangkal kita; jika kita tidak setia,
Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya" (ay 21-23).
Sekiranya dengan
berpegang pada kata-kata Paulus ini, kita menjadi orang-orang yang hidup dalam
memberi kesaksian. Kita tidak takut dan ragu
lagi menjadi orang terbelenggu karena firman Allah, sebab kita punya jaminan
untuk suatu kehidupan yang lebih tinggi nilainya dari kehidupan sekarang ini
oleh firman Allah itu juga. Marilah kita bersaksi sebab untuk itulah kita
dipanggil dan diutus oleh Kristus.***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar