Rabu, 03 Juni 2020

JANGAN TAKUT TERBELENGGU KARENA FIRMAN ALLAH


2 Tim 2:8-15
Timotius adalah orang yang dikasihi Paulus. Sebagai orang yang terkasih, Paulus menghendaki agar Timotius juga memiliki orientasi yang sama sepertinya. Dan untuk maksud tersebut, Paulus berulang kali (siang dan malam) membangun kesadaran di dalam diri muridnya itu untuk menjadi seorang murid Kristus yang militan.
Setelah meneguhkan hati Timotius untuk berani dan tidak malu untuk bersaksi tentang kebenaran Injil sebagaimana yang ditampilkan dalam bacaan pertama kemarin, hari ini Paulus beranjak lebih jauh. Ia mau membawa Timotius kepada suatu kesadaran lebih tinggi dan dengan begitu membentuk kesiapan mental muridnya untuk menghadapi risiko dari permintaan kepadanya untuk tidak takut dan tidak malu memberitakan Injil.

Dengan memadukan kombinasi gaya nasihat dan sharing pengalaman, Paulus membentuk hati Timotius untuk siap menerima risiko atas pemberitaan Injil. Mengawalinya dengan suatu peringatan akan Kristus yang diwartakannya, Paulus kemudian berkata kepada Timotius: “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu” (ay 9).
Paulus menandaskan bahwa firman Allah memang mau tidak mau harus diwartakan, tetapi konsekuensinya juga harus siap diterima. Dan untuk menerima konsekuensi itu, maka jiwa heroik mesti ada. Jiwa itu lahir dari kesadaran yang dibentuk terus-menerus.
Kesadaran yang membentuk jiwa heroik itu melahirkan keunggulan-keunggulan lain yang sangat penting perannya dalam menghadapi situasi sulit dan penderitaan. Kesabaran yang disebut Paulus adalah salah satu keunggulan yang diandaikan untuk menganggung konsekuensi dari keberanian untuk mewartakan Injil. Bukan hanya kata hampa yang digunakan Paulus untuk memanipulasi hati Timotius laksana kaum pecundang menghipnotis orang untuk kepentingan tertentu, melainkan suatu kata yang hidup dan berdaya mempengaruhi karena diangkat dari pengalamannya sendiri dalam menjalankan tugas kerasulan.

Dan Paulus juga tidak melakukan demikian tanpa tujuan. Paulus tahu benar tujuannya, yaitu keselamatan. Jika bukan karena alasan itu, tentu kita bisa bayangkan bahwa Paulus juga tidak mau menanggung semuanya. Tidak ada kesia-siaan yang bisa diperjuangkan dengan penuh penderitaan atau ditimpal dengan belenggu. Hanya ada satu tujuan yang tertinggi nilainya, yaitu keselamatan maka firman Allah itu disaksikan dengan susah payah. Dan Paulus dengan penuh keyakinan mengatakan itu kepada Timutius dan semua orang kepada siapa pemberitaan itu tertuju.
Nasihat Paulus untuk mengembangkan jiwa heroik dalam diri Timotius adalah juga nasihat yang diberikan kepada kita semua sebagai murid-murid Kristus. Sebab kita memiliki tugas dan panggilan yang sama untuk mewartakan Kristus oleh karena iman dan baptisan.
Kita sesungguhnya telah dibaptis oleh karena iman kita, akan tetapi patut diakui bahwa sekian sering kita tidak selalu hidup oleh iman dan baptisan itu. Bahkan hidup kita bertolak belakang dengan iman dan baptisan. Kita malu mengakui iman kita dan tidak berani bersaksi tentang Dia. Apabila kesaksian saja kita sebegitu mandulnya maka akan lebih susah lagi menanggung penderitaan oleh karena iman. Kita mudah melarikan diri dan mencari kenyamanan diri sendiri. Tidak jarang kita menyangkal Dia yang seharusnya kita akui dan saksikan.

Ketika kita membaca dan merenungkan pewartaan Paulus hari ini, setidaknya kita dibantu untuk menyadari betapa kita memilihi anugerah ilahi yang ada di dalam diri kita akan tetapi daya-daya itu tidak kita gunakan secara baik dan efektif sehingga kita menjadi mandul. Paulus menyadarkan kita agar kita kembali kepada “jalan Tuhan” seperti yang dinyatakannya di dalam pengalaman hidupnya.
Kata -kata Paulus hari ini menjiwai kita untuk dapat menghidupkan iman dan baptisan kita dalam tugas kerasulan baik di tengah keluarga, komunitas basis, di lingkungan kerja maupun  masyarat tempat di mana kita ada, hadir dan menjalankan kehidupan kita.
Seperti Timotius, Paulus menghendaki agar kita memiliki keberanian bersaksi serta bersedia menerima konsekuensi dan sabar dalam menganggungnya. Kita memang terbelenggu oleh karena kebenaran Allah, akan tetapi kebenaran Allah itu pula yang membebaskan kita untuk suatu kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.

Kita ingat kata-kata Paulus kepada Timotius dan yang dikehendakinya untuk diteruskan: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;  jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya" (ay 21-23).
Sekiranya dengan berpegang pada kata-kata Paulus ini, kita menjadi orang-orang yang hidup dalam memberi kesaksian. Kita  tidak takut dan ragu lagi menjadi orang terbelenggu karena firman Allah, sebab kita punya jaminan untuk suatu kehidupan yang lebih tinggi nilainya dari kehidupan sekarang ini oleh firman Allah itu juga. Marilah kita bersaksi sebab untuk itulah kita dipanggil dan diutus oleh Kristus.***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar