Rabu, 24 Juni 2020

NAMANYA YOHANES PEMBAPTIS

Luk 1:57-66.80

Menurut penanggalan liturgi, kita merayakan pesta St. Yohanes Pembaptis sebanyak dua kali yakni pada tanggal 24 Juni dan 29 Agustus setiap tahun. Tanggal 24 Juni kita merayakan hari kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Sedangkan tanggal 29 Agustus kita mengenang hari kematiannya. Hari ini kita mengenang hari kelahiran Yohanes Pembaptis, seorang guru dan nabi besar yang diakui oleh banyak agama di muka bumi. Beberapa praktisi agama Kristen, menyebut Yohanes Pembaptis sebagai seorang jenderal besar Allah karena merujuk pada perannya yang sangat vital dalam mempersiapkan kedatangan Mesias, Putera Allah. Tidak banyak informasi yang kita dapat mengenai pribadi Yohanes Pembaptis. Dalam Kitab Suci kita mengetahui bahwa ibu Yohanes Pembaptis bernama Elisabet, saudari sepupu dari Maria, ibu Yesus. Bapak Yohanes bernama Zakharia berasal dari keturunan Lewi. Zakharia merupakan seorang imam dari rombongan Abia. Rombongan Abia adalah kelompok ke-8 dari 24 kelompok imam yang bergiliran melakukan tugas melayani Allah di Bait Allah. Dengan demikian Yohanes Pembaptis berasal dari dari suku Lewi, suku para imam, salah satu suku dari 12 suku besar di Israel.

Dalam bacaan hari ini dikisahkan mengenai kelahiran Yohanes Pembaptis. Ketika sudah genap bulannya, Elisabet melahirkan seorang anak laki-laki. Sebuah peristiwa kelahiran yang dianggap sebagai mukjizat. Peristiwa yang hanya dimungkinkan terjadi atas kehendak Allah. Dalam masa tuanya, sepasang suami istri yang bernama Zakharia dan Elisabet mendapat berkat khusus dari Allah untuk memperoleh keturunan setelah sekian lama berada dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan. Karena masih diliputi oleh keragu-raguan maka Allah membuat Zakharia menjadi bisu sampai pada hari penggenapan itu tiba. Peristiwa kelahiran Yohanes menjawab keragu-raguan hati Zakharia dan istrinya Elisabet. Dan segenap anggota keluarga, sahabat, kenalan yang menanti dengan penuh kecemasan. Mereka semua bersuka ria dan bersorak gembira karena kuasa Allah telah menyata dalam keluarga Zakharia dan Elisabet. Allah telah menjawab kerinduan keluarga Zakharia dengan menghadirkan seorang anak laki-laki di tengah keluarga mereka. Sebuah paradoks, antara kerinduan dan keragu-raguaan, antara harapan dan ketidakpercayaan, terjawab oleh berkat nyata Allah yang hadir lewat mukjizat kelahiran Yohanes Pembaptis. Kuasa Allah hadir juga melalui pemberian nama Yohanes. Nama yang sungguh asing dalam garis keturunan keluarga Zakharia. Semua orang menjadi heran dengan nama anak laki-laki yang baru lahir itu. Sebenarnya apa gerangan dengan makna nama Yohanes. Begitu kira-kira rasa penasaran yang bergayut dalam pikiran dan hati mereka. Ketika Zakharia menjadi sembuh dari sakit bisunya, semua orang akhirnya semakin yakin dengan kuasa Allah yang terjadi dalam keluarga Zakharia.

Selanjutnya tidak digambarkan secara detil dalam Kitab Suci mengenai kehidupan masa kecil Yohanes Pembaptis. Hanya dikatakan bahwa ia bertambah besar dan makin kuat rohnya. Hal yang menarik bagi kita adalah Yohanes tinggal di padang gurun. Pakaiannya tidak lazim. Ia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit. Makanannya cukup ekstrim. Belalang dan madu hutan. Askese hidup yang demikian keras sangat boleh jadi dimungkinkan oleh kesadaran pribadinya untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menjadi utusan Allah. Tentang Yohanes Pembaptis, Yesus memberi kesaksian, “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya” (Luk 7:28). Yesus menggarisbawahi siapa Yohanes dan siapa diri-Nya. Yohanes haruslah berseru dengan garang di padang gurun agar orang-orang yang tegar hati tergerak untuk bertobat. Yohanes mendobrak kerohanian umat yang kering sehingga Yesus dapat mengisinya dengan karya-karya penghiburan dan air kehidupan yang membawa kesegaran (BBSS, hal.242). Dan Yohanes sungguh menjawab misi Allah dengan sempurna. Ia tampil dengan gagah berani mengkritik perilaku orang Israel yang menyimpang dari kehendak Tuhan sambil menyerukan pertobatan agar mereka dapat kembali ke jalan yang benar. “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat” (Mat:3:2). Pertobatan orang Israel ditandai dengan pembaptisan diri yang dilakukan oleh Yohanes di sungai Yordan. Sehingga tidak heran, nama Pembaptis disematkan dalam dirinya. Ketika para elit agama Yahudi mempertanyakan identitas pribadinya, Yohanes menjawab: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan Tuhan; seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya. Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal; yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yoh 1:23.26). Menurut para penginjil sinoptik (Matius, Markus, Lukas), sebenarnya Yohaneslah yang dimaksud oleh Yesaya ketika ia berkata: “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan (Yes 40:3-5).

 Ada beberapa nilai kepribadian dari Yohanes Pembaptis yang menjadi inspirasi bagi kita. Pertama, nilai kesederhanaan. Aspek ini dapat terbaca dari tempat tinggal Yohanes yang berada di padang gurun. Pakaiannya terbuat dari bulu unta dan ikat pinggang kulit. Menu makanannya belalang dan madu hutan. Askese hidup dari Yohanes yang tampak dari gaya hidupnya sungguh menggambarkan aspek kesederhanaan dalam dirinya. Kedua, nilai keberanian. Yohanes tidak pernah takut dalam menyuarakan pertobatan bagi orang Israel. Ia tidak segan mengkritik perilaku orang Israel yang telah menyimpang dari kebenaran Tuhan. Yohanes akhirnya mempertaruhkan nyawanya karena mengkritik moral menyimpang dari raja Herodes yang mengambil Herodias, istri dari saudaranya menjadi istrinya. Ketiga, nilai kesetiaan. Kesetiaan Yohanes kepada Allah sungguh diuji ketika ia harus menghadapi pelbagai tantangan dan halangan dalam membawa misi kebenaran Allah. Sikap militansinya terhadap misi perutusan dari Allah tidak perlu diragukan lagi. Melalui seruan kenabiannya, banyak orang Israel yang bertobat dan menyatakan komitmennya kembali ke jalan yang benar. Keempat, nilai kerendahan hati. Yohanes bisa saja menggunakan popularitas yang dimiliki untuk merengkuh kekuasaan duniawi dan menimbun pundi-pundi uang dalam brankas pribadinya. Ia bisa dengan mudah menggalang kekuatan politik karena ia memiliki para simpatisan yang luar biasa banyaknya. Tetapi itu tidak dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Ia tetap menampilkan sikap rendah hati demi mempersiapkan jalan bagi Yesus.

Saya yakin kita bisa menemukan nilai lain selain empat nilai yang telah saya ungkapkan di atas. Dengan peringatan hari kelahiran Yohanes Pembaptis yang kita rayakan pada hari ini semakin menyadarkan kita akan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh sang nabi besar tersebut. Tentu tidak sampai pada tataran kesadaran saja. Nilai-nilali luhur Yohanes Pembaptis perlu kita internalisasikan dalam diri dan ditransformasikan dalam tugas dan pelayanan kita di komunitas rumah sakit bukit ini. Kita perlu menampilkan sikap sederhana, keberanian, kesetiaan, dan kerendahan hati dalam tupoksi di unit kerja kita masing-masing. Tentu tidak harus seekstrim dengan berbagai hal yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Ada banyak hal praktis yang bisa kita buat sebagai orang beriman untuk mewujudnyatakan spiritualitas hidup Yohanes Pembaptis dalam hidup kita sehari-hari. Dengan nilai kesederhanaan dapat membantu kita untuk lebih bersyukur dengan segala sesuatu yang kita peroleh di lembaga tercinta ini. Kita tidak akan banyak mengeluh karena ada spirit kesederhanaan dalam diri kita. Dengan nilai keberanian dapat membantu kita untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan di rumah besar tercinta ini. Kita tidak takut untuk memberi kritik dan teguran manakala kita melihat ada perilaku menyimpang yang terjadi di tempat ini. Dengan nilai kesetiaan dapat membantu kita untuk lebih mendisiplinkan diri dalam tugas dan pelayanan. Kita juga tetap bersikap loyal dan militan dalam menjalankan kinerja kita. Dan dengan nilai kerendahan hati dapat membantu kita untuk tidak bersikap arogan. Kita diarahkan untuk lebih respek dan peka terhadap orang lain terutama dengan orang-orang yang membutuhkan pelayanan kasih dari kita. Mari kita bawa spiritualitas hidup Yohanes Pembaptis dalam hidup kita sehari-hari. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar