Mat 5:13-16
Garam memiliki fungsi yang penting
dalam kehidupan manusia. Ia memberi rasa nikmat kepada makanan (Ayb 6:6) dan
mengawetkannya. Garam juga berfungsi untuk memurnikan air, memberi kesehatan
dan kesuburan (2 Raj 2:21; Yeh 16:4).
Dalam tatanan ritual, selain sebagai bahan persembahan kepada Allah
(Kel 30:35; Ez 6:9; 7:22), garam berperan untuk memurnikan persembahan yang
dikurbankan (Im 2:13; Yeh 43:24; Mrk 9:49). Garam juga digunakan sebagai sarana
untuk mengusir roh-roh jahat, pembersihan dari dosa dan pengaruh-pengaruh yang
jahat.
Selain itu, garam juga menjadi tanda komunikasi
dalam rasa persaudaraan (Kol 4:6) dan perjanjian dengan Allah - perjanjian
garam (2 Taw 13:5).
Dalam Injil, Yesus menggunakan istilah
garam untuk memberi rasa terhadap kehidupan (Mat 5:13; Luk 14:34; Mrk 9:50).
Garam dianalogikan dengan kualitas hidup yang memberi nilai rasa tertentu dan itu
terarah kepada kebaikan. Ada pengaruh baik yang dialami dan dirasakan oleh
orang lain. Garam hidup itu memberi mutu terhadap kehidupan sebelum ia membersihkan
dan memurnikannya.
Jika bukan hanya mengagumi, maka orang
akan tergerak untuk mencintai pengaruh baik yang dirasakan dan dialaminya. Inilah
yang dimaksudkan dengan menjadi garam, yakni membawa suatu yang bernilai dan
nilai itu mempengaruhi orang lain. Ada proses transmisi nilai oleh karena
adanya corak kehidupan yang menawan dan memikat hati orang lain. Orang
dipengaruhi dan dibawa kepada kebaikan.
Demikian pula halnya ketika Yesus
berbicara tentang terang. Ibarat pelita
yang ditempatkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam
rumah, demikianlah hidup yang baik memberi terang kepada orang lain. Terang
kehidupan itu membuka mata hati dan pikiran orang untuk melihat dan memindai
dengan jelas apa yang tampak di depannya dan dengan begitu mampu menentukan
pilihan yang tepat. Jelas Yesus katakan itu: “...hendaknya terangmu bercahaya
di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, supaya mereka
melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”.
Kata-kata Yesus ini memiliki sasaran
yang jelas. Setiap orang dipanggil menjadi putra-putri terang (Ef 5:8; 1 Tes
5:5), sebelum menjadi terang bagi orang lain. Panggilan ini menuntut suatu
kewajiban orang beriman untuk hidup dalam kesucian atau hidup dengan tidak
celanya (Ef 5:9). Dengan demikian orang
memandang wajib pula memancarkan terang kepada orang-orang sekitarnya (Mat
5:14.16; Luk 12:35; Flp 2:15).
Demikian pula halnya untuk dapat
menggarami orang lain, setiap putra-putri terang harulah telah menggarami
dirinya sendiri. Ada kualitas hidup yang benar-benar dihayati sebagai
putra-putri terang dan garam. Karena itu
setiap orang percaya patut menguji dirinya sendiri sebelum keluar dan
menjangkau orang lain untuk menjadi garam dan terang dunia. Dengan kualitas
hidup yang baik orang dapat memberikan rasa yang unik kepada dunia dan menjadi
terang yang menuntun orang kepada kebaikan.
Kita adalah orang-orang yang beriman
dan oleh baptisan kita telah mengambil bagian dalam panggilan menjadi garam dan
terang dunia. Di tengah situasi dunia
yang mendewakan kepentingan-kepentingan dunia yang menyeretkannya pada
kehampaan makna hidupnya, sebagai putra-putri terang dan garam dunia, kita
memandang sebagai suatu kewajiban iman untuk memberi kesaksian tentang
nilai-nilai Injil yang memberi hidup dan menyelamatkan. Kita tidak menonjolkan diri, akan tetapi keberadaan kita dengan kualitas hidup yang
diandalkan dapat memberi warna tersendiri terhadap lingkungan di mana kita
berada, hidup dan berkarya. Ada hal unik yang kita tampilkan. Dan hal unik itu
bukan tidak bernilai dan berpengaruh untuk mengubah dan membentuk orang lain di
sekitar kita. Apabila kehidupan kita tidak membawa sesuatu yang berarti bagi
orang lain, sebaliknya merusakkan, maka patutlah kita bertanya tentang
kemuridan kita. Apakah kita benar-benar menjadi murid Tuhan?
Marilah kita menunjukkan jati diri
kita bahwa kita telah diangkat Kristus menjadi putra-putri terang dan garam
dunia. Dengan mengupayakan kualitas
kehidupan yang baik sebagaimana yang Kristus Yesus kehendaki terjadi pada diri,
kita akan tergerak selalu untuk membawa perubahan bagi orang lain. Kita membawa
terang dan garam kehidupan yang mendatangkan sukacita, kesejahteraan dan
kebahagiaan dalam hidup ini untuk dinikmati oleh semakin banyak orang. ***Apol
Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar