Senin, 08 Juni 2020

JADILAH GARAM DAN TERANG DUNIA


Mat 5:13-16
Garam memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan manusia. Ia memberi rasa nikmat kepada makanan (Ayb 6:6) dan mengawetkannya. Garam juga berfungsi untuk memurnikan air, memberi kesehatan dan kesuburan (2 Raj 2:21; Yeh 16:4).

Dalam tatanan ritual,  selain sebagai bahan persembahan kepada Allah (Kel 30:35; Ez 6:9; 7:22), garam berperan untuk memurnikan persembahan yang dikurbankan (Im 2:13; Yeh 43:24; Mrk 9:49). Garam juga digunakan sebagai sarana untuk mengusir roh-roh jahat, pembersihan dari dosa dan pengaruh-pengaruh yang jahat.

Selain itu, garam juga menjadi tanda komunikasi dalam rasa persaudaraan (Kol 4:6) dan perjanjian dengan Allah - perjanjian garam (2 Taw 13:5).

Dalam Injil, Yesus menggunakan istilah garam untuk memberi rasa terhadap kehidupan (Mat 5:13; Luk 14:34; Mrk 9:50). Garam dianalogikan dengan kualitas hidup yang memberi nilai rasa tertentu dan itu terarah kepada kebaikan. Ada pengaruh baik yang dialami dan dirasakan oleh orang lain. Garam hidup itu memberi mutu terhadap kehidupan sebelum ia membersihkan dan memurnikannya.

Jika bukan hanya mengagumi, maka orang akan tergerak untuk mencintai pengaruh baik yang dirasakan dan dialaminya. Inilah yang dimaksudkan dengan menjadi garam, yakni membawa suatu yang bernilai dan nilai itu mempengaruhi orang lain. Ada proses transmisi nilai oleh karena adanya corak kehidupan yang menawan dan memikat hati orang lain. Orang dipengaruhi dan dibawa kepada kebaikan.

Demikian pula halnya ketika Yesus berbicara tentang terang.  Ibarat pelita yang ditempatkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah, demikianlah hidup yang baik memberi terang kepada orang lain. Terang kehidupan itu membuka mata hati dan pikiran orang untuk melihat dan memindai dengan jelas apa yang tampak di depannya dan dengan begitu mampu menentukan pilihan yang tepat. Jelas Yesus katakan itu: “...hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”.

Kata-kata Yesus ini memiliki sasaran yang jelas. Setiap orang dipanggil menjadi putra-putri terang (Ef 5:8; 1 Tes 5:5), sebelum menjadi terang bagi orang lain. Panggilan ini menuntut suatu kewajiban orang beriman untuk hidup dalam kesucian atau hidup dengan tidak celanya (Ef 5:9).  Dengan demikian orang memandang wajib pula memancarkan terang kepada orang-orang sekitarnya (Mat 5:14.16; Luk 12:35; Flp 2:15).

Demikian pula halnya untuk dapat menggarami orang lain, setiap putra-putri terang harulah telah menggarami dirinya sendiri. Ada kualitas hidup yang benar-benar dihayati sebagai putra-putri terang dan garam.  Karena itu setiap orang percaya patut menguji dirinya sendiri sebelum keluar dan menjangkau orang lain untuk menjadi garam dan terang dunia. Dengan kualitas hidup yang baik orang dapat memberikan rasa yang unik kepada dunia dan menjadi terang yang menuntun orang kepada kebaikan.

Kita adalah orang-orang yang beriman dan oleh baptisan kita telah mengambil bagian dalam panggilan menjadi garam dan terang dunia.  Di tengah situasi dunia yang mendewakan kepentingan-kepentingan dunia yang menyeretkannya pada kehampaan makna hidupnya, sebagai putra-putri terang dan garam dunia, kita memandang sebagai suatu kewajiban iman untuk memberi kesaksian tentang nilai-nilai Injil yang memberi hidup dan menyelamatkan.  Kita tidak menonjolkan diri, akan tetapi keberadaan kita dengan kualitas hidup yang diandalkan dapat memberi warna tersendiri terhadap lingkungan di mana kita berada, hidup dan berkarya. Ada hal unik yang kita tampilkan. Dan hal unik itu bukan tidak bernilai dan berpengaruh untuk mengubah dan membentuk orang lain di sekitar kita. Apabila kehidupan kita tidak membawa sesuatu yang berarti bagi orang lain, sebaliknya merusakkan, maka patutlah kita bertanya tentang kemuridan kita. Apakah kita benar-benar menjadi murid Tuhan?

Marilah kita menunjukkan jati diri kita bahwa kita telah diangkat Kristus menjadi putra-putri terang dan garam dunia.  Dengan mengupayakan kualitas kehidupan yang baik sebagaimana yang Kristus Yesus kehendaki terjadi pada diri, kita akan tergerak selalu untuk membawa perubahan bagi orang lain. Kita membawa terang dan garam kehidupan yang mendatangkan sukacita, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini untuk dinikmati oleh semakin banyak orang. ***Apol Wuwur*** 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar