Mat 16:13-19
Dalam membangun sebuah relasi entah relasi yang bersifat personal atau pun
relasi dalam konteks yang lebih luas (relasi sosial) di tengah komunitas
sosial, pengenalan akan identitas pribadi atau kelompok menjadi bagian yang
sangat krusial. Apalah artinya sebuah hubungan tanpa didasari oleh pengenalan
akan sebuah identitas. Orang latin mengatakan Nomen est Omen. Nama adalah tanda. Nama menjadi guidance (petunjuk) bagi orang-orang
yang terlibat dalam sebuah relasi atau hubungan tertentu. Dengan identitas yang
diwakili oleh nama, orang bisa saling mengenal satu sama lain. Orang bisa
membangun rasa kepercayaan dan komitmen dalam berbagai hal. Nama
merepresentasikan pribadi tertentu. Pribadi yang unik dan memiliki kekhasan
yang beragam antara pribadi yang satu dengan yang lain. Tetapi dalam perbedaan
yang ditandai oleh nama, masing-masing individu saling melengkapi dan
memperkaya satu sama lain. Nama menjadi penting. Karena nama menjadi penanda
identitas pribadi yang paling dasariah. Nama menjadi bagian integral dari
pribadi seseorang.
Setelah sekian lama membangun rasa persaudaraan dan kekeluargaan dalam
sebuah komunitas kecil, hal yang menjadi penting bagi Yesus adalah menggali
pengenalan para murid akan Diri-Nya. Hal ini menjadi wajar mengingat relasi
yang dibangun antara Yesus dan para murid-Nya bukanlah sebuah relasi dengan
label “Pepesan kosong”. Atau sebuah relasi kosong tanpa makna. Para murid sudah
menghabiskan sekian waktu bersama Yesus. Mereka juga mengikuti dengan baik
segala sepak terjang-Nya. Baik sabda-Nya yang mempesona maupun tindakan
mukjizat yang menarik banyak orang untuk lebih dekat dengan-Nya. Aksi-aksi
Yesus yang memukau tidak saja membuat banyak orang semakin mengenali-Nya tetapi
terutama para murid yang setiap saat selalu bersama dengan Dia. Para murid
secara otomatis merekam dengan baik setiap detil terkait apa saja yang
dilakukan oleh Yesus. Entah itu setiap perkataan-Nya. Atau pun tanda-tanda
heran yang dilakukan untuk membuktikan kemahakuasaan-Nya. Segala peristiwa,
pengalaman penuh dinamika yang dialami oleh para murid bersama Yesus, menjadi
pengalaman yang memberi gambaran tersendiri tentang sosok Yesus di mata para
murid-Nya.
Untuk membuktikan sejauh mana pengenalan para murid akan diri-Nya, Yesus
melemparkan pertanyaan tentang siapa diri-Nya. Pertama, Yesus menggali
pemahaman publik (orang-orang di luar kelompok dua belas rasul) tentang
diri-Nya, yang diketahui oleh para murid.
Ada jawaban beragam yang dimunculkan oleh para murid. “Ada yang mengatakan:
Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan:
Yeremia atau salah seorang dari para nabi” (Mat 16:14). Kedua, Yesus menggali
pemahaman para murid sendiri tentang siapa diri-Nya. Dengan spontan dan tegas
Simon Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat
16:16). Sebuah ungkapan yang tulus dari hati yang paling dalam; tanpa ada
kepalsuan di dalamnya. Rupanya jawaban inilah yang sementara dinantikan oleh
Yesus dari para murid-Nya. Yesus tidak butuh penghormatan dan sembah sujud dari
para murid tanpa didahului oleh sikap pengenalan yang mendalam tentang siapa
diri-Nya. Jawaban Simon Petrus melegakan Yesus dan meredam rasa kekuatiran
diri-Nya terhadap lambannya para murid mengenali siapa diri-Nya. Simon Petrus
tampil dengan ciamik membela rekan-rekannya dengan sebuah jawaban yang mungkin
saja tidak pernah dipikirkan dan disadari oleh para murid yang lain. Lebih dari
itu, ungkapan Simon bukanlah sebuah ungkapan dengan bibir semata tetapi
ungkapan yang keluar dari ketulusan hati. Yesus mengapreasi jawaban Simon
dengan mengatakan: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia
yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 16:17).
Menurut Yesus, apa yang dikatakan oleh Simon Petrus adalah sebuah pernyataan
yang diberikan oleh Bapa-Nya di sorga. Tidak sekedar ungkapan manusiawi belaka,
tetapi mempresentasikan kesaksian Allah tentang sosok Yesus di hadapan para
murid yang lain. Simon bisa memberikan pernyataan itu secara lugas karena ia
telah sungguh-sungguh mengenal siapa Yesus itu sebenarnya. Dengan teliti, Simon
Petrus telah mengikuti semua pergerakan yang dibuat oleh Yesus. Tidak hanya
mendengar firman-Nya tetapi menyaksikan segala mukjizat-Nya yang memberi
keselamatan bagi orang Israel. Simon telah meyakini dalam hati-Nya bahwa Yesus
bukan sekedar manusia biasa. Dan berkat hubungannya yang intim dengan Yesus,
Sang Guru Ilahi-Nya, ia berani bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah
yang hidup.
Tidak saja kepada para rasul-Nya, pada kesempatan ini juga, Yesus mau
menantang kita semua, para murid-Nya era ini,
dengan sebuah pertanyaan: “Siapakah Aku menurut kamu?” Siapakah Yesus
bagi saya, bagi anda, bagi kita semua. Sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi
tidak sekedar membutuhkan jawaban yang sederhana. Kita perlu seperti Simon
Petrus yang mengalami sosok Yesus dalam setiap perkataan dan perbuatan-Nya. Kita
harus sungguh-sungguh memahami sabda-Nya dan menghidupi sabda itu dalam hidup
kita setiap hari. Dengan demikian, kita akan sampai pada pengenalan yang mendalam
tentang siapa sebenarnya figur Yesus bagi kita secara pribadi. Tanpa memahami
dan menghidupi sabda Yesus, tentu kita tidak akan sampai pada pengenalan yang
final tentang Yesus. Banyak murid Yesus era ini yang mudah goyah dan gampang
berpindah ke “lain hati”. Hal ini terjadi lantaran mereka tidak memiliki
pengenalan yang mendalam tentang sosok Yesus. Iman akan Yesus hanya dipahami
sebagai hasil dari sebuah warisan. Bukan berasal dari sebuah pertemuan dan
hubungan yang intim dengan-Nya. Golongan orang ini adalah kelompok yang tidak
memahami sabda Yesus dan tidak menghidupi sabda itu dalam hidup mereka
sehari-hari.
Sebagai orang yang mengaku murid Yesus, kita harus mengenal dan memahami
siapa diri-Nya secara mendalam. Hal pertama yang kita lakukan adalah kita harus
mendengar dengan setia setiap sabda yang diucapkan-Nya dalam Kitab Suci. Tentu
tidak sekedar mendengar. Kita harus mendengar dengan mata batin kita. Sabda itu
harus betul-betul merasuki seluruh diri sehingga kita benar-benar merasakan
Allah sendiri yang berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. Kedua, setelah
mengalami perjalanan spiritual dari teks-teks suci yang kita baca, pengenalan
kita akan Yesus akan semakin bertambah apabila kita menghidupi teks-teks itu
dalam pengalaman empiris harian kita. Kita akan semakin memahami siapa sosok
Yesus bagi kita. Dengan aneka pengalaman rohani yang kita alami bersama Yesus
dalam hidup harian, akan semakin menambah amunisi kepercayaan kita bahwa Yesus
adalah sungguh-sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup. Mari bersama St. Petrus
dan Paulus yang dirayakan pada hari ini (Senin/29/6/2020), kita hidupi sabda
Yesus dalam setiap tutur dan tindakan nyata sehari-hari karena Ia adalah Allah
yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius
KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar