Minggu, 28 Juni 2020

YESUS ADALAH ANAK ALLAH YANG HIDUP


Mat 16:13-19
Dalam membangun sebuah relasi entah relasi yang bersifat personal atau pun relasi dalam konteks yang lebih luas (relasi sosial) di tengah komunitas sosial, pengenalan akan identitas pribadi atau kelompok menjadi bagian yang sangat krusial. Apalah artinya sebuah hubungan tanpa didasari oleh pengenalan akan sebuah identitas. Orang latin mengatakan Nomen est Omen. Nama adalah tanda. Nama menjadi guidance (petunjuk) bagi orang-orang yang terlibat dalam sebuah relasi atau hubungan tertentu. Dengan identitas yang diwakili oleh nama, orang bisa saling mengenal satu sama lain. Orang bisa membangun rasa kepercayaan dan komitmen dalam berbagai hal. Nama merepresentasikan pribadi tertentu. Pribadi yang unik dan memiliki kekhasan yang beragam antara pribadi yang satu dengan yang lain. Tetapi dalam perbedaan yang ditandai oleh nama, masing-masing individu saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain. Nama menjadi penting. Karena nama menjadi penanda identitas pribadi yang paling dasariah. Nama menjadi bagian integral dari pribadi seseorang.

Setelah sekian lama membangun rasa persaudaraan dan kekeluargaan dalam sebuah komunitas kecil, hal yang menjadi penting bagi Yesus adalah menggali pengenalan para murid akan Diri-Nya. Hal ini menjadi wajar mengingat relasi yang dibangun antara Yesus dan para murid-Nya bukanlah sebuah relasi dengan label “Pepesan kosong”. Atau sebuah relasi kosong tanpa makna. Para murid sudah menghabiskan sekian waktu bersama Yesus. Mereka juga mengikuti dengan baik segala sepak terjang-Nya. Baik sabda-Nya yang mempesona maupun tindakan mukjizat yang menarik banyak orang untuk lebih dekat dengan-Nya. Aksi-aksi Yesus yang memukau tidak saja membuat banyak orang semakin mengenali-Nya tetapi terutama para murid yang setiap saat selalu bersama dengan Dia. Para murid secara otomatis merekam dengan baik setiap detil terkait apa saja yang dilakukan oleh Yesus. Entah itu setiap perkataan-Nya. Atau pun tanda-tanda heran yang dilakukan untuk membuktikan kemahakuasaan-Nya. Segala peristiwa, pengalaman penuh dinamika yang dialami oleh para murid bersama Yesus, menjadi pengalaman yang memberi gambaran tersendiri tentang sosok Yesus di mata para murid-Nya.
Untuk membuktikan sejauh mana pengenalan para murid akan diri-Nya, Yesus melemparkan pertanyaan tentang siapa diri-Nya. Pertama, Yesus menggali pemahaman publik (orang-orang di luar kelompok dua belas rasul) tentang diri-Nya, yang diketahui oleh para murid.  Ada jawaban beragam yang dimunculkan oleh para murid. “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi” (Mat 16:14). Kedua, Yesus menggali pemahaman para murid sendiri tentang siapa diri-Nya. Dengan spontan dan tegas Simon Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Sebuah ungkapan yang tulus dari hati yang paling dalam; tanpa ada kepalsuan di dalamnya. Rupanya jawaban inilah yang sementara dinantikan oleh Yesus dari para murid-Nya. Yesus tidak butuh penghormatan dan sembah sujud dari para murid tanpa didahului oleh sikap pengenalan yang mendalam tentang siapa diri-Nya. Jawaban Simon Petrus melegakan Yesus dan meredam rasa kekuatiran diri-Nya terhadap lambannya para murid mengenali siapa diri-Nya. Simon Petrus tampil dengan ciamik membela rekan-rekannya dengan sebuah jawaban yang mungkin saja tidak pernah dipikirkan dan disadari oleh para murid yang lain. Lebih dari itu, ungkapan Simon bukanlah sebuah ungkapan dengan bibir semata tetapi ungkapan yang keluar dari ketulusan hati. Yesus mengapreasi jawaban Simon dengan mengatakan: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 16:17). Menurut Yesus, apa yang dikatakan oleh Simon Petrus adalah sebuah pernyataan yang diberikan oleh Bapa-Nya di sorga. Tidak sekedar ungkapan manusiawi belaka, tetapi mempresentasikan kesaksian Allah tentang sosok Yesus di hadapan para murid yang lain. Simon bisa memberikan pernyataan itu secara lugas karena ia telah sungguh-sungguh mengenal siapa Yesus itu sebenarnya. Dengan teliti, Simon Petrus telah mengikuti semua pergerakan yang dibuat oleh Yesus. Tidak hanya mendengar firman-Nya tetapi menyaksikan segala mukjizat-Nya yang memberi keselamatan bagi orang Israel. Simon telah meyakini dalam hati-Nya bahwa Yesus bukan sekedar manusia biasa. Dan berkat hubungannya yang intim dengan Yesus, Sang Guru Ilahi-Nya, ia berani bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

Tidak saja kepada para rasul-Nya, pada kesempatan ini juga, Yesus mau menantang kita semua, para murid-Nya era ini,  dengan sebuah pertanyaan: “Siapakah Aku menurut kamu?” Siapakah Yesus bagi saya, bagi anda, bagi kita semua. Sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi tidak sekedar membutuhkan jawaban yang sederhana. Kita perlu seperti Simon Petrus yang mengalami sosok Yesus dalam setiap perkataan dan perbuatan-Nya. Kita harus sungguh-sungguh memahami sabda-Nya dan menghidupi sabda itu dalam hidup kita setiap hari. Dengan demikian, kita akan sampai pada pengenalan yang mendalam tentang siapa sebenarnya figur Yesus bagi kita secara pribadi. Tanpa memahami dan menghidupi sabda Yesus, tentu kita tidak akan sampai pada pengenalan yang final tentang Yesus. Banyak murid Yesus era ini yang mudah goyah dan gampang berpindah ke “lain hati”. Hal ini terjadi lantaran mereka tidak memiliki pengenalan yang mendalam tentang sosok Yesus. Iman akan Yesus hanya dipahami sebagai hasil dari sebuah warisan. Bukan berasal dari sebuah pertemuan dan hubungan yang intim dengan-Nya. Golongan orang ini adalah kelompok yang tidak memahami sabda Yesus dan tidak menghidupi sabda itu dalam hidup mereka sehari-hari.

Sebagai orang yang mengaku murid Yesus, kita harus mengenal dan memahami siapa diri-Nya secara mendalam. Hal pertama yang kita lakukan adalah kita harus mendengar dengan setia setiap sabda yang diucapkan-Nya dalam Kitab Suci. Tentu tidak sekedar mendengar. Kita harus mendengar dengan mata batin kita. Sabda itu harus betul-betul merasuki seluruh diri sehingga kita benar-benar merasakan Allah sendiri yang berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. Kedua, setelah mengalami perjalanan spiritual dari teks-teks suci yang kita baca, pengenalan kita akan Yesus akan semakin bertambah apabila kita menghidupi teks-teks itu dalam pengalaman empiris harian kita. Kita akan semakin memahami siapa sosok Yesus bagi kita. Dengan aneka pengalaman rohani yang kita alami bersama Yesus dalam hidup harian, akan semakin menambah amunisi kepercayaan kita bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup. Mari bersama St. Petrus dan Paulus yang dirayakan pada hari ini (Senin/29/6/2020), kita hidupi sabda Yesus dalam setiap tutur dan tindakan nyata sehari-hari karena Ia adalah Allah yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Tidak ada komentar:

Posting Komentar