Rabu, 17 Juni 2020

HAL SEDEKAH, BERDOA, DAN PUASA


Mat 6:1-6, 16-18
Pernah seorang bapak penuh semangat menceritakan kepada saya betapa bahagianya ketika ia memberikan sumbangan uang untuk pembangunan gereja di parokinya. Nominal uang yang ia beri cukup besar. Bahkan melampaui semua orang yang ikut menyumbang. Ia begitu bangga karena namanya dibacakan di depan mimbar gereja dan semua umat mendengarnya. Ia merasa aneh kalau ada orang yang ikut menyumbang tetapi tidak mau nama mereka dibacakan. Memang dalam daftar tertera beberapa penyumbang tanpa nama karena kemauan pribadi mereka sendiri. Berbeda pandangan dengan sang bapak. Ia mau namanya harus dibacakan di depan semua umat. Ia akan marah sekalih apabila namanya tidak disebut. Begitu pengakuannya kepada saya. Pengalaman lain saya alami ketika berada di rumah sendiri. Pada suatu malam yang sudah larut, saya baru tiba di rumah karena ada suatu urusan di luar yang harus saya bereskan. 
Sebelum tidur saya harus memeriksa setiap kamar anak-anak dan memastikan bahwa mereka sudah tidur. Saya bergerak dari kamar anak perempuan. Setelah memastikan bahwa ia sudah tertidur, selanjutnya saya bergerak ke kamar anak laki-laki. Anak ini kadang licik. Biasanya ia pura-pura tidur. Setelah merasa aman dari pemeriksaan ia akan bangun lagi dan bermain game di hpnya. Kali ini saya tidak akan kecolongan lagi. Saya berpikir demikian. Ketika membuka pintu kamarnya, saya kaget karena mendapatinya sedang khusyuk berdoa. Saya menjadi heran sendiri dan bertanya dalam hati. Sejak kapan anak ini mulai berdoa sebelum tidur. Saya sempat menaruh curiga kalau ini hanya sebuah modus. Modus untuk memuluskan kegiatan game-nya Saya berpura-pura keluar dari kamar dan menunggu di depan pintu. Setelah beberapa saat saya masuk kembali dan ternyata mendapatinya masih berdoa. Saya menunggu sampai ia selesai berdoa. Setelah ia menyelesaikan doanya, saya bertanya apakah ia sungguh-sungguh berdoa. Ia menjawab bahwa betul, ia sungguh-sungguh berdoa. Saya bertanya sejak kapan. Ia menjawab baru malam ini. Saya bertanya lagi, apa motivasinya berdoa. Ia hanya membisu dan segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Saya masih merasa penasaran karena belum betul-betul percaya. Malam berikutnya saya kembali mengecek kamarnya dan mendapatinya kembali sedang berdoa. Kali ini saya mulai yakin bahwa sang anak sedang sungguh-sungguh berdoa. Ia tidak sekedar berdoa. Apalagi berpura-pura dengan berdoa. Ia sungguh berdoa dengan hatinya.
           
Hari ini dalam kotbah-Nya, Yesus menyampaikan dengan lantang di hadapan semua orang mengenai tiga komponen utama dalam hidup beragama yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh semua orang. Tiga komponen itu adalah sedekah, doa dan puasa. Pertama, tentang tindakan memberi sedekah. Bersedekah atau berderma pada dasarnya adalah tindakan memberi yang sungguh mulia. Yesus mengatakan: “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu” (Mat: 6:2) Dengan pernyataan itu Yesus mau menegaskan kepada orang banyak bahwa apabila mereka mau bersedekah, tidak usah mengumbar tindakan mulia yang telah mereka lakukan. Mereka cukup melakukan itu dalam diam karena “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:4). Yesus mengkritik perilaku orang-orang munafik terutama para elit agama yang suka memberi sedekah di tempat-tempat publik supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain. Sesungguhnya mereka tidak memberi dengan ketulusan hati tetapi dengan intensi lain supaya diakui oleh orang yang melihatnya. Dengan bacround pengalaman ini, Yesus mengarahkan orang banyak agar mereka tidak usah meniru perilaku para orang munafik yang tidak tulus dalam memberi sedekah. Yang harus orang banyak lakukan adalah memberi dalam diam. Tidak perlu mengekspose agar diketahui oleh orang. kedua, tentang cara berdoa. 
Lagi-lagi Yesus merujuk pada perilaku orang-orang munafik yang suka berdoa di tempat-tempat keramaian atau tempat umum supaya kesalehan mereka diakui. Karena segala doa yang mereka panjatkan itu tidak berangkat dari kedalaman jiwa untuk memuliakan Allah. Yesus mengharapkan agar orang banyak tidak perlu meneladani perilaku orang-orang tersebut. Yesus memberi jalan lain bahwa apabila mereka mau berdoa, mereka harus masuk dalam kamar, menutupnya dan mulai berdoa “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” Mat 6:6). Ketiga, tentang hal berpuasa. Yesus membuka perilaku orang munafik yang tidak merasa puas apabila tidak memperlihatkan suasana batin dan fisik ketika sedang berpuasa kepada orang lain. Orang-orang munafik akan menunjukkan wajah yang muram, hati yang galau dan tanda-tanda fisik yang lain agar orang mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa. Mengenai puasa yang benar, Yesus mengatakan: “Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu” (Mat 6:17). Dengan demikian, wajah mereka menjadi bersih dan cerah. Orang tidak akan mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa. Cukup Tuhan yang mengetahui dan membalas dalam diam setiap tindakan mulia yang mereka lakukan.
           

Sedekah, doa dan puasa adalah tiga komponen yang mengarahkan pribadi manusia menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah. Ketiga hal itu hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan hati yang bersih. Tidak ada dramatisasi di dalamnya untuk memuaskan ego dan menaikan pamor pribadi. Sedekah, doa dan puasa adalah tindakan untuk memuliakan nama Allah yang kudus. Oleh karena itu, setiap tindakan yang mengangkangi atau menyepelekan prinsip utama tersebut, dia akan dicap sebagai pribadi munafik yang tidak mendapat tempat di hati Allah. Saya percaya bahwa kita yang berada di komunitas Rumah Sakit Bukit ini tidak seperti perilaku orang-orang munafik yang dikritik oleh Yesus. Kita sungguh menunjukkan hidup iman kita dengan memberi sedekah atau derma dengan ketulusan hati. Bukan dengan paksaan atau tekanan. 
Kita juga sungguh-sungguh berdoa dengan hati. Walaupun tidak harus dalam kamar, tetapi doa yang dilakukan di mana saja adalah sebuah ungkapan ketulusan hati. Kita berdoa agar Tuhan dapat menyertai segala bentuk pelayanan yang kita berikan di tempat ini. Tuhan dapat merestui kita sebagai alat-Nya untuk memberi penguatan dan kesembuhan bagi para pasien. Bagi saudara/i yang sementara berbaring di ruang-ruang pasien, teruslah berdoa dalam diam dengan ketulusan hati karena Tuhan pasti akan mendengar dan membalasnya. Dalam keheningan kamar, Tuhan tidak pernah diam. Ia akan selalu datang melalui tangan para medis untuk menyembuhkan kalian. Kita juga pernah berpuasa dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya dalam masa pra paskah atau waktu pribadi yang kita tentukan sendiri. Ada intensi khusus yang hendak kita panjatkan dari puasa yang kita jalani. Tetapi orang tidak perlu tahu dengan puasa yang kita lakukan. Hanya kita sendiri yang tahu dan ada Tuhan yang melihat-Nya karena kita sungguh-sungguh melakukannya dengan ketulusan. Mari kita terus menjaga kemuliaan Tuhan dengan menjadi pribadi yang mulia. Pribadi yang menjalan sedekah, doa, dan puasa dalam keheningan waktu dan ketulusan hati. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar