Mat 6:1-6, 16-18
Pernah seorang bapak penuh semangat menceritakan kepada saya betapa
bahagianya ketika ia memberikan sumbangan uang untuk pembangunan gereja di
parokinya. Nominal uang yang ia beri cukup besar. Bahkan melampaui semua orang
yang ikut menyumbang. Ia begitu bangga karena namanya dibacakan di depan mimbar
gereja dan semua umat mendengarnya. Ia merasa aneh kalau ada orang yang ikut
menyumbang tetapi tidak mau nama mereka dibacakan. Memang dalam daftar tertera
beberapa penyumbang tanpa nama karena kemauan pribadi mereka sendiri. Berbeda
pandangan dengan sang bapak. Ia mau namanya harus dibacakan di depan semua
umat. Ia akan marah sekalih apabila namanya tidak disebut. Begitu pengakuannya
kepada saya. Pengalaman lain saya alami ketika berada di rumah sendiri. Pada suatu
malam yang sudah larut, saya baru tiba di rumah karena ada suatu urusan di luar
yang harus saya bereskan.
Sebelum tidur saya harus memeriksa setiap kamar
anak-anak dan memastikan bahwa mereka sudah tidur. Saya bergerak dari kamar
anak perempuan. Setelah memastikan bahwa ia sudah tertidur, selanjutnya saya
bergerak ke kamar anak laki-laki. Anak ini kadang licik. Biasanya ia pura-pura
tidur. Setelah merasa aman dari pemeriksaan ia akan bangun lagi dan bermain game di hpnya. Kali ini saya tidak akan
kecolongan lagi. Saya berpikir demikian. Ketika membuka pintu kamarnya, saya
kaget karena mendapatinya sedang khusyuk berdoa. Saya menjadi heran sendiri dan
bertanya dalam hati. Sejak kapan anak ini mulai berdoa sebelum tidur. Saya
sempat menaruh curiga kalau ini hanya sebuah modus. Modus untuk memuluskan
kegiatan game-nya Saya berpura-pura
keluar dari kamar dan menunggu di depan pintu. Setelah beberapa saat saya masuk
kembali dan ternyata mendapatinya masih berdoa. Saya menunggu sampai ia selesai
berdoa. Setelah ia menyelesaikan doanya, saya bertanya apakah ia
sungguh-sungguh berdoa. Ia menjawab bahwa betul, ia sungguh-sungguh berdoa.
Saya bertanya sejak kapan. Ia menjawab baru malam ini. Saya bertanya lagi, apa
motivasinya berdoa. Ia hanya membisu dan segera membaringkan tubuhnya di tempat
tidur. Saya masih merasa penasaran karena belum betul-betul percaya. Malam
berikutnya saya kembali mengecek kamarnya dan mendapatinya kembali sedang
berdoa. Kali ini saya mulai yakin bahwa sang anak sedang sungguh-sungguh berdoa.
Ia tidak sekedar berdoa. Apalagi berpura-pura dengan berdoa. Ia sungguh berdoa
dengan hatinya.
Hari ini dalam kotbah-Nya, Yesus menyampaikan dengan lantang di hadapan
semua orang mengenai tiga komponen utama dalam hidup beragama yang harus
dipahami dan dilaksanakan oleh semua orang. Tiga komponen itu adalah sedekah,
doa dan puasa. Pertama, tentang tindakan memberi sedekah. Bersedekah atau
berderma pada dasarnya adalah tindakan memberi yang sungguh mulia. Yesus
mengatakan: “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal
itu” (Mat: 6:2) Dengan pernyataan itu Yesus mau menegaskan kepada orang banyak
bahwa apabila mereka mau bersedekah, tidak usah mengumbar tindakan mulia yang
telah mereka lakukan. Mereka cukup melakukan itu dalam diam karena “Bapamu yang
melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:4). Yesus mengkritik
perilaku orang-orang munafik terutama para elit agama yang suka memberi sedekah
di tempat-tempat publik supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain. Sesungguhnya
mereka tidak memberi dengan ketulusan hati tetapi dengan intensi lain supaya
diakui oleh orang yang melihatnya. Dengan bacround
pengalaman ini, Yesus mengarahkan orang banyak agar mereka tidak usah
meniru perilaku para orang munafik yang tidak tulus dalam memberi sedekah. Yang
harus orang banyak lakukan adalah memberi dalam diam. Tidak perlu mengekspose
agar diketahui oleh orang. kedua, tentang cara berdoa.
Lagi-lagi Yesus merujuk
pada perilaku orang-orang munafik yang suka berdoa di tempat-tempat keramaian
atau tempat umum supaya kesalehan mereka diakui. Karena segala doa yang mereka
panjatkan itu tidak berangkat dari kedalaman jiwa untuk memuliakan Allah. Yesus
mengharapkan agar orang banyak tidak perlu meneladani perilaku orang-orang
tersebut. Yesus memberi jalan lain bahwa apabila mereka mau berdoa, mereka
harus masuk dalam kamar, menutupnya dan mulai berdoa “Maka Bapamu yang melihat
yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” Mat 6:6). Ketiga, tentang hal
berpuasa. Yesus membuka perilaku orang munafik yang tidak merasa puas apabila
tidak memperlihatkan suasana batin dan fisik ketika sedang berpuasa kepada
orang lain. Orang-orang munafik akan menunjukkan wajah yang muram, hati yang
galau dan tanda-tanda fisik yang lain agar orang mengetahui bahwa mereka sedang
berpuasa. Mengenai puasa yang benar, Yesus mengatakan: “Apabila engkau
berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu” (Mat 6:17). Dengan demikian,
wajah mereka menjadi bersih dan cerah. Orang tidak akan mengetahui bahwa mereka
sedang berpuasa. Cukup Tuhan yang mengetahui dan membalas dalam diam setiap
tindakan mulia yang mereka lakukan.
Sedekah, doa dan puasa adalah tiga komponen yang mengarahkan pribadi
manusia menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah. Ketiga hal itu hendaknya
dilakukan dengan ketulusan dan hati yang bersih. Tidak ada dramatisasi di
dalamnya untuk memuaskan ego dan menaikan pamor pribadi. Sedekah, doa dan puasa
adalah tindakan untuk memuliakan nama Allah yang kudus. Oleh karena itu, setiap
tindakan yang mengangkangi atau menyepelekan prinsip utama tersebut, dia akan
dicap sebagai pribadi munafik yang tidak mendapat tempat di hati Allah. Saya
percaya bahwa kita yang berada di komunitas Rumah Sakit Bukit ini tidak seperti
perilaku orang-orang munafik yang dikritik oleh Yesus. Kita sungguh menunjukkan
hidup iman kita dengan memberi sedekah atau derma dengan ketulusan hati. Bukan
dengan paksaan atau tekanan.
Kita juga sungguh-sungguh berdoa dengan hati.
Walaupun tidak harus dalam kamar, tetapi doa yang dilakukan di mana saja adalah
sebuah ungkapan ketulusan hati. Kita berdoa agar Tuhan dapat menyertai segala
bentuk pelayanan yang kita berikan di tempat ini. Tuhan dapat merestui kita
sebagai alat-Nya untuk memberi penguatan dan kesembuhan bagi para pasien. Bagi
saudara/i yang sementara berbaring di ruang-ruang pasien, teruslah berdoa dalam
diam dengan ketulusan hati karena Tuhan pasti akan mendengar dan membalasnya.
Dalam keheningan kamar, Tuhan tidak pernah diam. Ia akan selalu datang melalui
tangan para medis untuk menyembuhkan kalian. Kita juga pernah berpuasa dalam
waktu-waktu tertentu. Misalnya dalam masa pra paskah atau waktu pribadi yang
kita tentukan sendiri. Ada intensi khusus yang hendak kita panjatkan dari puasa
yang kita jalani. Tetapi orang tidak perlu tahu dengan puasa yang kita lakukan.
Hanya kita sendiri yang tahu dan ada Tuhan yang melihat-Nya karena kita
sungguh-sungguh melakukannya dengan ketulusan. Mari kita terus menjaga
kemuliaan Tuhan dengan menjadi pribadi yang mulia. Pribadi yang menjalan
sedekah, doa, dan puasa dalam keheningan waktu dan ketulusan hati. Amin. Tuhan
memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar