Minggu, 21 Juni 2020

PERIHAL MENGHAKIMI


Mat 7:1-5
Mantan presiden Amerika Serikat ke 32, Franklin Delano Roosevelt (1882-1945), pernah mengatakan: “Small minds discuss people, average minds discuss events, great minds discuss ideas.” Pikiran sempit membicarakan orang, pikiran rata-rata membicarakan peristiwa, dan pikiran besar membicarakan gagasan. Masing-masing tipe pikiran ini mengandung konsekuensi yang berbeda-beda. Orang yang memiliki pikiran sempit akan menghasilkan gosip, orang yang memiliki pikiran rata-rata menghasilkan pengetahuan, dan orang yang memiliki pikiran besar akan menghasilkan solusi. Ketiga jenis pikiran ini ada dalam setiap otak manusia. Tergantung jenis pikiran mana yang mendominasi setiap manusia, begitu juga konsekuensi yang dihasilkan. Saya akan mengupas pikiran sempit yang dimiliki manusia. Orang yang memiliki kecenderungan pikiran ini akan bertendensi untuk membicarakan gosip atau rumor. Menurut kamus bahasa Indonesia gosip adalah obrolan tentang orang lain, cerita negatif tentang orang lain, atau pergunjingan. Gosip atau rumor tidak mempunyai nilai kebenaran yang obyektif-empiris. Subyektifitas memainkan peran utama. Apa yang dibicarakan hanya berupa persepsi atau dugaan pribadi. Dalam gosip manusia suka membicarakan kejelekan atau kekurangan sesamanya. Manusia yang suka bergosip adalah manusia yang mengambil bagian integral dalam tindakan menghakimi orang lain. Dengan enteng, manusia akan mudah memvonis atau menghakimi sesamanya karena memiliki kesalahan atau kekeliruan tertentu.

Bacaan hari ini (Senin, 22/06/2020), bagi saya secara pribadi sungguh menarik. Yesus menasihati orang banyak agar jangan suka menghakimi orang lain (Mat 7:1-5). Dalam bahasa sederhana, Yesus menuntut kita untuk tidak boleh bergosip atau suka membicarakan kejelekan atau kesalahan orang lain. Ada dua hal yang saya tangkap dari pernyataan Yesus. Pertama, Yesus menyuruh orang untuk tidak menghakimi orang lain dengan pertimbangan bahwa orang yang menghakimi tersebut sesungguhnya tidak mempunyai “tubuh yang bersih.” Ia mempunyai kekurangan dan kelemahan juga sehingga tidak layak menghakimi orang lain. Ia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum membicarakan orang lain. “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat 7:5). Ia harus memperbaiki kekurangan yang melekat dalam dirinya sebelum berhadapan dengan sesamanya. Salah satu kekurangan itu adalah tindakan mencari-cari kesalahan orang lain. Dasar mengakimi orang lain inilah yang tidak dikehendaki oleh Yesus. Orang tidak perlu mencari-cari kesalahan sesamanya karena tindakan demikian adalah sebuah tindakan yang tidak adil dan melecehkan manusia sebagai seorang pribadi yang bermartabat. Kedua, Yesus sebenarnya tidak mempermasalahkan esensi dari penghakiman itu sendiri. Orang boleh menghakimi sesamanya sejauh dalam konteks yang positif. Menghakimi bisa diartikan juga memberi teguran atau kritik. Orang bisa menyampaikan kritik yang konstruktif atau membangun. Sejauh kritik itu memberi teguran dalam suasana persaudaraan, sebenarnya tidak menjadi masalah. Karena kritik itu sebenarnya lahir dari sebuah fakta negatif sehingga harus segera diluruskan atau diperbaiki. Yang menjadi masalah adalah ketika kritik itu tidak mempunyai dasar fakta yang benar. Kritik secara serampangan atau kritik dalam tataran gosip. Kritik tidak berdasar dengan tujuan negatif untuk mendiskreditkan pribadi orang. Atau kritik agresif yang tidak menghargai manusia sebagai pribadi yang bermartabat.
           
Setelah membaca dengan seksama teks Injil ini (Mat 7:1-5), saya cukup tersentak karena secara pribadi saya juga acapkali bermain dalam pusaran untuk menghakimi orang lain. Saya dan mungkin kita yang membaca refleksi ini seringkali merasa diri paling benar. Kemudian dikuti oleh tindakan untuk mempermasalahkan dan mempersalahkan orang lain. Kita juga suka mencari-cari kesalahan orang walaupun mungkin kesalahan itu tidak pernah kita temui. Kita merasa diri superior dan menganggap orang lain sebagai pribadi inferior. Padahal kualitas pribadi kita mungkin tidak lebih baik dari orang lain yang menjadi sasaran penghakiman kita. Bisa juga kita suka menutupi kesalahan dan kelemahan pribadi dengan mencari kesalahan dan kekurangan orang lain. Kita mencari pembenaran diri untuk mengkompensasikan kelemahan pribadi kita dalam diri orang lain. Pencerahan teks injil ini memberi pelajaran yang berharga agar kita lebih berhati-hati dalam menghakimi orang lain. Kita perlu secara akurat mengukur pribadi sendiri sebelum memvonis atau menghakimi sesama di sekitar kita. “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2).

Menurut saya, esensi penghakiman itu dimungkinkan sejauh tindakan penghakiman untuk memberi kritik atau teguran yang bersifat konstruktif dalam suasana penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Penghakiman berupa kritik atau teguran itu tidak boleh meniadakan pribadi manusia sebagai pribadi yang bermartabat. Melainkan mengangkat pribadi manusia sebagai pribadi yang mulia di hadapan Tuhan. Tindakan penghakiman yang kita berikan harus dalam kerangka untuk menjaga keadaban dan kebaikan semua pihak. Harus ada data obyektif-empiris yang menjadi dasar pengakiman untuk mereparasi hidup semua orang (kita dan orang lain) yang telah menyimpang dari kehendak Tuhan. Di samping itu, tentu kita tidak mau mengambil sikap permisif atau indefferent terhadap pelbagai persoalan atau dinamika kehidupan yang terjadi di sekitar kita. Sebagai manusia, kita mempunyai tanggung jawab moral untuk tidak hanya menjaga diri kita sendiri dari ketercelaan akibat penghakiman yang keliru, tetapi juga menjaga kontrol sosial di antara kita dalam komunitas sosial yang menjadi tempat tinggal kita dengan melakukan tindakan penghakiman yang benar. Tindakan penghakiman dalam konteks teguran dan kritik yang mempunyai nilai obyektif-empiris sekaligus menghargai manusia sebagai pribadi yang bermartabat.

Mari kita menjaga integritas diri untuk tidak main hakim sendiri dengan melakukan tindakan penghakiman yang tidak adil bagi orang lain. Semoga kita semakin berbenah diri untuk memperbaiki citra diri yang semakin baik di mata orang lain dengan menjaga setiap tutur dan perbuatan. Pada akhirnya, kita dapat menjadi pribadi yang sungguh bermartabat karena kita bisa melakukan tindakan penghakiman dalam komunitas sosial dengan penuh nuansa persaudaraan dan kekeluargaan. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar