Mat 7:1-5
Mantan presiden Amerika Serikat ke 32, Franklin Delano Roosevelt
(1882-1945), pernah mengatakan: “Small
minds discuss people, average minds discuss events, great minds discuss ideas.”
Pikiran sempit membicarakan orang, pikiran rata-rata membicarakan peristiwa,
dan pikiran besar membicarakan gagasan. Masing-masing tipe pikiran ini
mengandung konsekuensi yang berbeda-beda. Orang yang memiliki pikiran sempit
akan menghasilkan gosip, orang yang memiliki pikiran rata-rata menghasilkan
pengetahuan, dan orang yang memiliki pikiran besar akan menghasilkan solusi.
Ketiga jenis pikiran ini ada dalam setiap otak manusia. Tergantung jenis
pikiran mana yang mendominasi setiap manusia, begitu juga konsekuensi yang
dihasilkan. Saya akan mengupas pikiran sempit yang dimiliki manusia. Orang yang memiliki kecenderungan
pikiran ini akan bertendensi untuk membicarakan gosip atau rumor. Menurut kamus
bahasa Indonesia gosip adalah obrolan tentang orang lain, cerita negatif
tentang orang lain, atau pergunjingan. Gosip atau rumor tidak mempunyai nilai
kebenaran yang obyektif-empiris. Subyektifitas memainkan peran utama. Apa yang
dibicarakan hanya berupa persepsi atau dugaan pribadi. Dalam gosip manusia suka
membicarakan kejelekan atau kekurangan sesamanya. Manusia yang suka bergosip
adalah manusia yang mengambil bagian integral dalam tindakan menghakimi orang
lain. Dengan enteng, manusia akan mudah memvonis atau menghakimi sesamanya
karena memiliki kesalahan atau kekeliruan tertentu.
Bacaan hari ini (Senin, 22/06/2020), bagi saya secara pribadi sungguh
menarik. Yesus menasihati orang banyak agar jangan suka menghakimi orang lain
(Mat 7:1-5). Dalam bahasa sederhana, Yesus menuntut kita untuk tidak boleh
bergosip atau suka membicarakan kejelekan atau kesalahan orang lain. Ada dua
hal yang saya tangkap dari pernyataan Yesus. Pertama, Yesus menyuruh orang
untuk tidak menghakimi orang lain dengan pertimbangan bahwa orang yang
menghakimi tersebut sesungguhnya tidak mempunyai “tubuh yang bersih.” Ia
mempunyai kekurangan dan kelemahan juga sehingga tidak layak menghakimi orang
lain. Ia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum membicarakan orang
lain. “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan
jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat 7:5). Ia harus
memperbaiki kekurangan yang melekat dalam dirinya sebelum berhadapan dengan
sesamanya. Salah satu kekurangan itu adalah tindakan mencari-cari kesalahan
orang lain. Dasar mengakimi orang lain inilah yang tidak dikehendaki oleh
Yesus. Orang tidak perlu mencari-cari kesalahan sesamanya karena tindakan
demikian adalah sebuah tindakan yang tidak adil dan melecehkan manusia sebagai
seorang pribadi yang bermartabat. Kedua, Yesus sebenarnya tidak
mempermasalahkan esensi dari penghakiman itu sendiri. Orang boleh menghakimi
sesamanya sejauh dalam konteks yang positif. Menghakimi bisa diartikan juga
memberi teguran atau kritik. Orang bisa menyampaikan kritik yang konstruktif
atau membangun. Sejauh kritik itu memberi teguran dalam suasana persaudaraan,
sebenarnya tidak menjadi masalah. Karena kritik itu sebenarnya lahir dari
sebuah fakta negatif sehingga harus segera diluruskan atau diperbaiki. Yang
menjadi masalah adalah ketika kritik itu tidak mempunyai dasar fakta yang
benar. Kritik secara serampangan atau kritik dalam tataran gosip. Kritik tidak
berdasar dengan tujuan negatif untuk mendiskreditkan pribadi orang. Atau kritik
agresif yang tidak menghargai manusia sebagai pribadi yang bermartabat.
Setelah membaca dengan seksama teks Injil ini (Mat 7:1-5), saya cukup
tersentak karena secara pribadi saya juga acapkali bermain dalam pusaran untuk
menghakimi orang lain. Saya dan mungkin kita yang membaca refleksi ini
seringkali merasa diri paling benar. Kemudian dikuti oleh tindakan untuk
mempermasalahkan dan mempersalahkan orang lain. Kita juga suka mencari-cari
kesalahan orang walaupun mungkin kesalahan itu tidak pernah kita temui. Kita
merasa diri superior dan menganggap orang lain sebagai pribadi inferior.
Padahal kualitas pribadi kita mungkin tidak lebih baik dari orang lain yang
menjadi sasaran penghakiman kita. Bisa juga kita suka menutupi kesalahan dan
kelemahan pribadi dengan mencari kesalahan dan kekurangan orang lain. Kita mencari
pembenaran diri untuk mengkompensasikan kelemahan pribadi kita dalam diri orang
lain. Pencerahan teks injil ini memberi pelajaran yang berharga agar kita lebih
berhati-hati dalam menghakimi orang lain. Kita perlu secara akurat mengukur
pribadi sendiri sebelum memvonis atau menghakimi sesama di sekitar kita.
“Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi
dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2).
Menurut saya, esensi penghakiman itu dimungkinkan sejauh tindakan
penghakiman untuk memberi kritik atau teguran yang bersifat konstruktif dalam
suasana penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Penghakiman berupa kritik atau
teguran itu tidak boleh meniadakan pribadi manusia sebagai pribadi yang bermartabat.
Melainkan mengangkat pribadi manusia sebagai pribadi yang mulia di hadapan
Tuhan. Tindakan penghakiman yang kita berikan harus dalam kerangka untuk
menjaga keadaban dan kebaikan semua pihak. Harus ada data obyektif-empiris yang
menjadi dasar pengakiman untuk mereparasi hidup semua orang (kita dan orang
lain) yang telah menyimpang dari kehendak Tuhan. Di samping itu, tentu kita
tidak mau mengambil sikap permisif atau indefferent
terhadap pelbagai persoalan atau dinamika kehidupan yang terjadi di sekitar
kita. Sebagai manusia, kita mempunyai tanggung jawab moral untuk tidak hanya
menjaga diri kita sendiri dari ketercelaan akibat penghakiman yang keliru,
tetapi juga menjaga kontrol sosial di antara kita dalam komunitas sosial yang
menjadi tempat tinggal kita dengan melakukan tindakan penghakiman yang benar.
Tindakan penghakiman dalam konteks teguran dan kritik yang mempunyai nilai
obyektif-empiris sekaligus menghargai manusia sebagai pribadi yang bermartabat.
Mari kita menjaga integritas diri untuk tidak main hakim sendiri dengan
melakukan tindakan penghakiman yang tidak adil bagi orang lain. Semoga kita
semakin berbenah diri untuk memperbaiki citra diri yang semakin baik di mata
orang lain dengan menjaga setiap tutur dan perbuatan. Pada akhirnya, kita dapat
menjadi pribadi yang sungguh bermartabat karena kita bisa melakukan tindakan
penghakiman dalam komunitas sosial dengan penuh nuansa persaudaraan dan
kekeluargaan. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar