Rabu, 30 September 2020

Radikalitas Iman: Tuntutan Menjadi Murid Yesus

Luk 9:57-62

 

Kata radikal berasal dari kata “radix” (Latin) yang berarti ‘akar’. Radikalitas merujuk kepada keadaan keberakaran pada suatu hal yang diyakini memiliki kebenaran yang hakiki. Jika kata ini dihubungkan dengan iman kristiani, maka yang dimaksudkan adalah keberakaran dalam iman kristiani.

 

Dalam praksis kehidupan, kata radikalitas iman kristiani merujuk kepada semangat hidup yang tinggi dalam menghayati iman kristiani, dan lazimnya ditunjukkan dalam cara hidup yang ketat sesuai nilai-nilai kekristenan. Ada konsistensi dalam penghayatan nilai-nilai itu. Orang Kristiani yang hidupnya bersesuaian dengan nilai-nilai kekristenan dikatakan pula sebagai orang yang militan dalam beriman.

 

Kepada seorang ahli Taurat yang berkeinginan untuk mengikuti Yesus ke mana saja Yesus pergi, Yesus menuntut iman yang radikal. Dengan kata-kata-Nya, "Serigala mempunyai liang dan burung mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya," Yesus hendak menyatakan bahwa keinginan untuk mengikuti Dia harus dibarengi dengan kesediaan untuk hidup dalam ketidakpastian dan di jalan penderitaan. Dia harus berkorban untuk meninggalkan segala sesuatu yang selama ini meberi kenyamanan dan hidup dalam penderitaan dan ketidakpastian demi imannya kepada Yesus (bdk. Mat 10:38; 16:24). Hal ini mengandaikan adanya sikap iman yang radikal, militan; bukan asal-asalan atau mengikuti emosi belaka.

 

Hal yang sama ditegaskan Yesus dalam menanggapi permintaan salah seorang murid-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu menguburkan ayahku” dan yang lain lagi yang meminta izin untuk berpamitan dahulu dengan keluarganya. Keputusan untuk mengikuti Yesus harus tegas dan jelas. Harus ada kesediaan untuk melepaskan segala yang mengikat hidup dan membuat mereka masih berpikir ‘di belakang’.

 

Demikian pula kepada kita, orang-orang yang mengimani Yesus. Setiap kita dituntut untuk meninggalkan zona nyaman kita untuk berani manjalani sebuah model hidup yang berbeda, yang penuh risiko, ketidakpastian, tantangan dan penderitaan. Inilah cara hidup yang berorientasi pada palayanan dengan meninggalkan  berbagai kepentingan diri dan egoisme serta kenyamanan hidup. Dengan demikian, setiap  kita hendaknya meninggalkan kepentingan dan urusan lain, bahkan keluarga sekalipun, jika ingin fokus pada cara hidup dan cara kerjanya Yesus. Pilihan hidup itu terasa keras dan terbilang berat, namun bukan mustahil untuk dijalankan.

 

Tuntutan Yesus demikan bukan tanpa suatu tujuan. Ia menuntut demikian demi keselamatan kita. Di dunia ini memang Dia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala, akan tetapi di dalam Kerajaan-Nya, Ia memiliki tempat itu, dan setiap orang yang mengikuti Dia dengan setia di jalan hidupnya, akan mengambil bagian dalam tempat di mana Ia meletakkan kepala-Nya.

 

Patutlah kita menunjukkan radikalitas iman kita dalam seluruh hidup kita, terutama dalam menjalankan tugas pelayanan kita. Janganlah kita kuatir dan takut, sebab Dia yang menuntut iman yang radikal kepada kita akan tetap menyertai kita. Jika kita merasa susah itulah bagian yang kita tanggung, namun kesulitan itu dan apapun yang kita korbankan tidak berakhir dengan kesia-siaan. Dia akan memberikan tempat bagi kita dalam kerajaan-Nya untuk meletakan kepala kita.

 

Saya mengakhiri refleksi ini dengan mengutip kata-kata Raplh Waldo: “Untuk segala sesuatu yang kau korbankan, kau memperoleh sesuatu yang lain. Dan untuk segala sesuatu yang kau dapatkan, ada sesuatu yang kau korbankan” (BBSS, p.375). Demi mengikuti Yesus dan keselamatan yang dianugerahkan-Nya kepada kita, maka kita harus mengorbankan harapan dan keinginan diri kita sendiri. Itulah tanda iman yang radikal. Sudahkah saya memiliki iman seperti ini? ***Apol***

 

Minggu, 27 September 2020

MENJADI SEPERTI ANAK KECIL

Luk 9:46-50

“Jalan air selalu mencari tempat yang lebih rendah. Jalan manusia selalu mencari tempat yang paling tinggi sehingga selalu menimbulkan masalah karena semakin tinggi kedudukan semakin sedikit jumlah yang tersedia, sedangkan peminatnya terus bertambah” (Filsafat Berpikir Orang Timur, hal. 201-202). Memiliki status dan kedudukan sosial yang tinggi di masyarakat adalah kebanggaan setiap manusia. Dan sudah menjadi rahasia umum bahwa kecenderungan setiap manusia di muka bumi adalah mau mencari dan mewujudkan apa yang menjadi keinginannya. Berbagai cara dan strategi ditempuh. Mulai dari cara yang wajar sampai menggunakan cara-cara yang tidak wajar. Cara yang wajar biasanya terwujud karena sudah memenuhi berbagai kualifikasi. Mulai dari kualifikasi pendidikan, pengalaman, kompetensi, kemampuan dan integritas moral. Aspek-aspek ini menjadi tuntutan utama seseorang bisa mendapatkan kedudukan dan jabatan yang tinggi di tengah masyarakat. Orang juga bisa mengambil jalan pintas untuk mendapatkan kedudukan dan status yang tinggi dengan cara-cara yang tidak lazim. Bisa karena kedekatan dengan pihak tertentu yang memegang otoritas kekuasaan. Atau juga dengan strategi-strategi licik untuk memperolehnya.

 

Dambaan atau keinginan akan status dan kedudukan yang tinggi di masyarakat juga menjadi perbincangan yang hangat di tengah para murid (Luk 9:46-50). Mereka tidak saja mendiskusikannya tetapi mempertentangkannya. Masing-masing murid mengklaim bahwa mereka berhak mendapat kedudukan yang tinggi. Masing-masing merasa menjadi yang terbesar dibandingkan dengan yang lain. Dasar klaim karena kedekatan relasi dengan Yesus. Mungkin juga para murid merasa sudah menunjukkan kinerja yang baik. Setelah sekian lama membangun suasana persaudaraan yang intim dan bekerjasama secara apik bersama Yesus mewartakan Sabda Allah, mulai muncul rasa tinggi hati atau arogan dalam diri para rasul. Mereka merasa diri besar dan mempertentangkan siapa yang terbesar di antara mereka.

 

Yesus membaca situasi yang terjadi di antara para murid. Maka Ia mengambil dan menempatkan seorang anak kecil di antara mereka. Kemudian Yesus berkata: “Barangsiapa menyambut anak ini dalam nama-Ku, ia menyambut Aku; dan barangsiapa menyambut Aku, ia menyambut Dia, yang mengutus Aku. Karena yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar” (Luk 9:48). Gambaran anak kecil bukan sekedar anak lugu dan polos. Namun di dalam diri anak kecil ada filosofi yang sungguh mendalam. Anak kecil tidak hanya polos dan lugu tetapi juga tulus, setia mendengarkan dan punya komitmen mau melaksanakan. Dalam keluguan dan kepolosan seorang anak kecil, ada nilai ketulusan, kesetiaan dan komitmen untuk mengimplementasikan berbagai hal baik dalam hidup. Gambaran seorang anak kecil berbanding terbalik dengan gambaran orang dewasa. Seorang anak yang memiliki ketulusan, kesetiaan dan komitmen tidak selalu terdeskripsi dalam diri orang dewasa. Orang dewasa memang “besar” dalam sisi usia tetapi belum tentu memiliki hal-hal positif seperti yang dimiliki seorang anak kecil. Orang dewasa cenderung bersikap tidak tulus, tidak setia dan tidak mempunyai komitmen dalam hidupnya. Mereka sibuk mencari kehormatan, kedudukan dan jabatan yang tinggi dalam masyarakat. Masing-masing dari mereka mengklaim diri “paling besar”. Seperti yang terjadi di antara para murid Yesus. Para murid adalah gambaran diri dari orang dewasa yang sibuk mencari kedudukan dan status sosial yang tinggi.

 

Dengan menempatkan seorang anak kecil dan membeberkan filosofi yang terkandung di dalam seorang anak kecil, Yesus mau mendorong para murid-Nya agar memiliki jati diri dan filosofi hidup seperti seorang anak kecil.  Polos dan lugu tidak selalu ditafsirkan sebagai hal yang negatif. Polos dan lugu mengindikasikan keterbukaan dan kesederhanaan diri yang harus dimiliki seorang murid. Dengan semangat ini, para murid bisa meredam sikap pongah dan tidak memanfaatkan keunggulan yang mereka miliki untuk mendongkrak status sosial di tengah publik. Para murid juga harus menjadi seorang anak kecil yang memiliki nilai kesetiaan, semangat mendengarkan dan punya komitmen tinggi untuk melaksanakan segala kehendak baik. Kehendak baik itu selalu bermuara dan terarah kepada kehendak Allah demi terwujudnya misi Kerajaan Allah di tengah dunia. Dengan nilai kesetiaan, seorang murid akan tetap patuh pada Sang Guru Ilahi. Ia tidak akan melenceng pada segala tawaran dan kepentingan dunia yang menggiurkan. Dan sebelum mengeksekusi setiap ajaran yang telah disampaikan oleh Yesus, para murid harus terlebih dahulu mendengarkan Yesus. Semangat mendengarkan tidak sekedar asal mendengarkan. Para harus mendengarkan dengan baik apa yang disampaikan oleh Yesus. Rekaman yang baik akan perkataan Yesus membantu para murid untuk menginternalisasikannya dalam diri mereka. Proses internalisasi yang matang akan sangat membantu para murid untuk mengtransformasikannya dalam tindakan nyata. Para murid akan memiliki komitmen yang kuat untuk mewartakan Sabda Allah seperti yang telah diwariskan oleh Yesus kepada mereka.

 

Kuncinya adalah menjadi seperti seorang anak kecil. Tanpa memiliki “diri dan semangat” seperti seorang anak kecil, kita semua tidak akan mampu menggapai level sebagai murid Yesus yang sejati. Kita akan tetap menjadi murid Yesus yang formalitas. Murid Yesus dengan nilai ala kadarnya. Karena kita sibuk mencari panggung untuk mendongkrak status dan kedudukan kita di tengah masyarakat. Fatalnya, kita banyak menggunakan kekuatan-kekuatan sesat yang tidak sesuai dengan kehendak Allah untuk menggapai apa yang menjadi kemauan atau keinginan. Kita suka akan jabatan duniawi, kita senang mencari status sosial yang tinggi, dan kita gampang mengklaim diri sebagai “yang terbesar” di antara orang lain. Sesudah mendapatkan apa yang kita inginkan, kita akan mudah terjebak dan jatuh dalam perilaku yang berseberangan dengan kehendak Allah sendiri. Kita merasa menjadi tuan yang layak dipertuanagungkan. Bahkan Tuhan sendiri tidak lagi mendapat tempat yang layak di dalam hati dan perbuatan kita.

 

Sebagaimana para rasul, Yesus mendorong agar kita mampu mengadopsi nilai-nilai baik yang dimiliki seorang anak kecil. Seorang anak kecil yang memiliki kesederhanaan, ketulusan, kesetiaan dan komitmen yang tinggi. Nilai-nilai ini penting dalam memompa semangat kita untuk menjadi seorang murid Yesus yang sejati. Seorang murid yang lebih memprioritaskan kepentingan ilahi daripada kepentingan duniawi. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Kamis, 24 September 2020

Kecemasan: Berkat Dan Dosa

Pkh 1:2-11 & Luk 9:7-9

Cemas adalah salah satu perasaan manusiawi. Perasaan itu bisa cerdas tapi juga bisa tidak cerdas. Perasaan yang cerdas adalah energi positif yang berguna untuk kebaikan manusia. Ia memberi nutrisi bagi akal dan membantu kinerja akal untuk mengambil keputusan yang tepat.


Dalam kehidupan rohani, kecemasan yang cerdas dapat membimbing orang kepada iman yang lebih hidup. Kecemasan akan apa yang bakal terjadi di akhir kehidupan mendorong orang mencari kepastian di dalam iman akan Tuhan dan mengikat diri dengan-Nya. Kecemasan hadir sebagai berkat.

 

Sebaliknya perasaan yang tidak cerdas merusakkan hidup manusia. Perasaan itu melumpuhkan nalar. Ia juga mengaburkan peran hati untuk memindai nilai lalu menjerumuskan orang ke dalam tindakan yang berlawanan dengan prinsip kebenaran dan keadilan. Orang yang terlalu cemas bahkan menggambarkan imannya yang rapuh dan lemah. Kecemasan hadir sebagai pintu kepada dosa.


Penginjil Lukas mengisahkan bahwa pembunuhan Yohanes oleh Herodes tidak terlepas dari kecemasan yang tidak sehat yang membimbingnya kepada dosa. Ia kuatir kalau-kalau pengaruh dan popularitas Yohanes itu mengancam kekuasaannya sebagai raja. Ia membunuh untuk mencari rasa aman. Dengan begitu ia merasa tidak ada lagi saingan yang bisa menarik hati publik dan membahayakan kekuasaannya.

 

Namun nyatanya tidaklah demikian. Pasca kematian Yohanes pun, Herodes masih diliputi kecemasan. Dosa pembunuhan menggusarkan hatinya. Hidupnya jauh dari rasa damai. Ketika Yesus menggemparkan dunia dengan mujizat dan orang banyak menanggapi sebagai perbuatan Yohanes yang telah bangkit dari antara orang mati, Herodes menjadi terlampau responsif. Ia menunjukkan tanda kegalauan yang begitu menguasai jiwanya.


Meskipun penginjil mencatat bahwa Herodes begitu yakin dengan apa yang telah dilakukannya terhadap Yohanes – “Yohanes telah kupenggal kepalanya” – namun ia tidak bisa menyembunyikan kekuatirannya: “Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?”


Bisa diduga kekalutan pikirannya. Jika benar kata orang bahwa Yohanes telah bangkit dari antara orang mati maka ia akan menghadapi suatu masalah yang lebih rumit. Ia bakal diturunkan dari kekuasaannya dan dihukum setimpal perbuatannya.


Maka seperti yang ditulis Lukas pada akhir Injil hari ini, Herodes berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus. Ia ingin memastikan siapakah yang melakukan mujizat dan perbuatan yang menggemparkan orang banyak itu. Herodes berpikir bahwa dengan itu kekuatiran bisa diusir dari hidupnya. Ia yakin bisa menjadi aman.


Namun Herodes lupa bahwa kebusukan hati yang mengandungkan kejahatan pembunuhan dan melahirkan khaos dalam batinnya itu ibarat: “Matahari terbit, matahari terbenam, lalu terburu-buru menuju tempat ia terbit kembali” (Pkh 1:5). Nyatanya, ia tetap merasa tidak aman dalam kekuasaannya. Kecemasan sebagai buah kejahatan itu tetap ada dan selalu menggelitik hatinya.


Lukas menulis kisah tentang kecemasan Herodes ini untuk memberi pesan kepada pembacanya, termasuk kita bahwa dosa dan kejahatan itu kekuatan paling dahsyat yang merusakkan hati kita. Hati yang nyaman, tenang, tenteram dan damai serta penuh kegembiraan itu akan diubah menjadi hati yang penuh kecemasan, kekuatiran dan ketakutan. Buah dari dosa dan kejahatan itu akan tetap menghantui hidup kita. Benarlah apa yang dikatakan Pengkhotbah: “Apa yang pernah ada akan ada lagi, ... tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari” (Pkh 1:9).


Kita mengamini kata-kata Pengkhotbah ini, akan tetapi bukan untuk tinggal tetap dalam kecemasan, melainkan dalam suasana hati yang tenang, aman, damai dan bahagia. Wajar apabila kita cemas dan baik jika kita mengalaminya sebagai suatu keadaan hati yang membimbing kepada keputusan yang tepat menyangkut hidup dan iman kita.


Namun yang diingatkan kepada kita adalah agar kita tidak memprodusir kecemasan yang memperpuruk hidup kita. Itulah kecemasan yang muncul akibat dosa dan kejahatan; kecemasan yang merusakkan akal sehat, mencemarkan kemurnian hati dan melemahkan, bahkan membunuh iman.


Agar kita tidak tinggal dalam kecemasan akibat dosa dan kejahatan maka yang perlu kita lakukan adalah memperbaiki hidup kita, bukan menekan kecemasan itu dengan perbuatan-perbuatan jahat lainnya. Kita tidak bisa mengusir kecemasan a la Herodes; kecemasan diusir dengan kejahatan. Kita yang mau berjalan di jalan keselamatan punya pilihan mengusir kecemasan akibat dosa  itu dengan pertobatan.


Sambil berusaha untuk itu, kita mempertajam kepekaan hati kita akan dosa dan kejahatan dengan banyak melakukan perbuatan baik. Kita tidak akan terjebak lagi dalam kecemasan akibat dosa dan kejahatan, sebab hati kita yang diperbauri dan dipertajam dengan perbuatan baik akan menunjukkan ke arah mana kita harus berlangkah. Sebaliknya kita akan bertumbuh dalam kecemasan yang cerdas yang membimbing kita ke dalam hidup yang baik dan benar.***Apol***

 

Selasa, 22 September 2020

Saudara Dalam Komitmen Iman

Luk 8:19-22

Persekutuan persaudaraan secara alamiah terbentuk karena adanya hubungan genealogis. Namun ada pula motif lain yang lebih tinggi. Orang jauh lebih bersahabat karena diikat oleh satu hati satu pikiran. Ada visi yang sama, prinsip yang sama, minat yang sama, tujuan yang sama. Persaudaraan yang diikat oleh kesamaan ini lazimnya jauh lebih kuat, lebih hidup dan lebih dinamis.

 

Di atas semuanya itu, ada suatu prinsip yang jauh lebih fundamental yang kehadirannya menjiwai dan membentuk semua persekutuan manusiawi itu. Yang dimaksudkan adalah persekutuan persaudaraan yang dibangun di atas dasar komitmen iman untuk mendengar dan melaksanakan Sabda Allah. Itulah persekutuan persaudaraan yang dikehendaki Yesus.

 

Sekiranya hal ini jelas dikatakan dalam Injil. Ketika orang memberitahukan kepada Yesus bahwa ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya ada di luar dan ingin bertemu dengan Dia, Yesus berkata kepada mereka: “Ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku ialah mereka yang mendengarkan firman Allah dan melakukannya”. Yesus  menunjukkan bahwa hal dasariah yang membuat Dia bisa menjadikan seseorang sebagai ibu-Nya dan saudara-Nya adalah mendengar dan melakukan Sabda Allah.

 

Jelas di sini bahwa orang yang mendengar dan melakukan Sabda Allah itu sebenarnya adalah ibu-Nya sendiri dan saudara-saudara-Nya. Semua mereka tergabung dalam suatu persekutuan yang dikehendaki  dan dimaksudkan Yesus. Dalam kasih dan kesetiaan mereka mendengar dan melaksanakan apa yang difirmankan Allah kepada mereka. Maria sejak awal menunjukkan komitmen atau fiatnya: “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu” (Luk 1:38). Para murid pun memiliki sikap iman yang sama seperti yang mereka tunjukkan sepanjang hidup mereka.

 

Dengan mengucapkan kata-kata-Nya di atas, secara tidak langsung Yesus meminta kepada orang yang memberi informasi bahwa ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya hendak menemui Dia dan juga semua orang yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya agar membangun komitmen yang sama seperti yang ditunjukkan Maria, ibu-Nya, dan para murid-Nya itu. Dalam Injil Matius, hal ini dinyatakan secara lebih jelas. Sambil menunjuk ke arah murid-murid-Nya Yesus berkata: “Ini ibu-Ku dan saudara-saudara-Ku! Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku” (Mat 12:49-50).

 

Demikian hal yang sama ditujuhkan untuk semua kita agar berorientasi yang sama untuk membangun persekutuan persaudaraan atas dasar komitmen iman. Kita disebut Yesus sebagai ibu-Nya dan saudara-Nya karena komitmen iman itu. Kita mendengar dan melaksanakan sabda-Nya dalam seluruh hidup kita. Tanpa komitmen itu kita tidak benar-benar disebut sebagai ibu-Nya atau saudara-Nya.

 

Adalah pasti bahwa kita yang mendengarkan Sabda Allah dan melakukannya akan menjadikan orang lain sebagai saudara kita. Di mana saja kita berada dan ke mana saja kita pergi kita akan bertemu dengan sesama saudara kita yang sama-sama hidup dalam komitmen iman yang satu dan sama itu. Kita semua menjadi saudara di dalam Yesus.

 

Namun karena persekutuan persaudaraan yang diajarkan Yesus itu bersifat umum atau terbuka, maka setiap kita yang memelihara komitmen iman untuk mendengarkan dan melaksanakan Sabda Allah terpanggil juga untuk menerima siapapun di luar komunitas iman kita sebagai saudara dan memperlakukan mereka dengan penuh kasih. Siapa saja, dia adalah saudara kita. Justru dalam menerima yang lain dalam cara seperti ini kita menunjukkan menunjukkan kesungguhan kita mendengarkan Dia dan melaksanakan apa yang diperintahkan kepada kita: “... kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat 19:19;22:39).

 

Bahkan persekutuan persaudaraan itu menjadi terbuka pula untuk hal ikhwal bersedia mengampuni musuh dan berdoa bagi mereka (Mat 5:44). Sesungguhnya inilah perintah Tuhan yang paling sulit dan berat, namun penting untuk suatu persaudaraan yang sejati. Dan seorang murid Yesus yang hidup dari Sabda Allah tidak akan memilih berpaling selain melakukannya sebagai bukti bahwa ia mendengarkan dan melaksanakan firman Allah.

 

Marilah kita membuktikan dalam hidup ini bahwa kita adalah golongan orang yang disebut Yesus sebagai ibu-Nya dan saudara-saudara-Nya dengan mencintai apa yang Tuhan omong kepada kita: mendengar dan melaksanakan firman Allah. Agar kita mampu menunjukkan itu, maka janganlah kita simpan Kitab Suci di tempat tersembunyi, melainkan ikutilah nasihat St. Agustinus: “Tolle et lege” (ambilah dan bacalah), maka kita pasti akan melakukannya. ***Apol***

Kamis, 17 September 2020

Perempuan Dalam Karya Yesus dan Gereja

Luk 8:1-3


Penginjil Lukas menyebutkan bahwa di dalam perjalanan karya misi-Nya Yesus dibantu bukan saja oleh para murid-Nya yang rata-rata adalah kaum lelaki, tetapi juga oleh para perempuan.


Perempuan-perempuan itu mendedikasikan diri mereka dan memberikan apa yang mereka miliki untuk melayani Yesus dan para murid-Nya. Ada banyak perempuan yang melayani dengan penuh kasih. Beberapa nama disebutkan dari antara mereka adalah Maria Magdalena yang disembuhkan Yesus dari kerasukan tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, dan Susana.


Dedikasi dan pelayanan kepada Yesus dan para murid-Nya tidak terpisahkan pengalaman mereka akan Yesus. Para perempuan itu telah menerima kasih karunia dari Yesus dalam kesembuhan yang dialami. Mereka juga mendapatkan perlindungan istimewa dari Yesus. Dedikasi dan pelayanan yang diberikan itu adalah wujud dari sikap hormat mereka yang istimewa sekaligus pengungkapan iman mereka kepada-Nya.

 

Pengabdian dan pelayanan mereka itu menjadi jiwa yang menggerakkan sekian banyak perempuan yang lain dari zaman ke zaman yang menunjukkan kepercayaan kepada Yesus. Ada banyak biara-biara perempuan, misionaris awam perempuan dan juga umat beriman pada umumnya terpanggil untuk mengabdikan diri dan melayani Dia dalam berbagai bidang tugas dan karya mereka masing-masing. Tidak sedikit juga orang awam perempuan yang membuka pintu hatinya dan mendonasikan apa yang mereka miliki untuk tujuan yang satu dan sama itu.


Di tengah situasi krisis iman dan identitas yang melanda kehidupan Gereja dewasa ini kita masih menaruh harapan pada kaum perempuan dan anak-anak yang tetap menunjukkan partisipasi secara nyata. Mereka tidak memiliki kedudukan istimewa di dalam gereja karena kekuasaan lelaki masih terasa kental dan mendominasi. Namun justru yang “disepelehkan” itulah yang tetap menunjukkan komitmen iman dalam kehidupan Gereja. Dalam berbagai kegiatan iman maupun sosial nyata bahwa yang lebih berperan aktif adalah kaum perempuan (dan juga anak-anak).


Secara umum, dalam banyak kesempatan kaum perempuan memilih untuk diam, bukan karena tidak mampu berbicara, melainkan karena mereka masih menunjukkan respek yang sepatutnya pada kaum lelaki. Namun dalam diam mereka sebenarnya sedang menggemakan kembali suasana kehidupan dan karya Yesus yang diwarnai oleh kehadiran kaumnya.


Suara mereka itu ada dalam aksi nyata mereka. Suara itu tidak merepresentasikan hasrat tersembunyi untuk merebut posisi kekuasaan. Namun mereka sedang menyuarakan posisi mereka yang sangat dihargai oleh Yesus dan itu penting untuk kelangsungan hidup Gereja. Dan memang benar bahwa kehadiran dan peran mereka menentukan kehidupan Gereja sejak awal.


Maka Gereja mesti menghargai respek Yesus atas peran serta kaum perempuan dalam karya pelayanan-Nya dan mengaplikasikannya dalam pemberian peran dan tanggung jawab untuk kelangsungan hidup Gereja. Untuk maksud itu maka hendaknya mereka tidak dijadikan sebagai objek dari kebijakan pastoral melulu, melainkan subjek yang berperan penting dalam penentuan kebijakan dan arah hidup dan perkembangan Gereja, dan bersama-sama semua pihak menunjukkan peran sertanya masing-masing secara hidup dan bertanggung jawab.


Di tengah situasi krisis yang kita alami dewasa ini, kaum perempuan dengan komitmennya yang masih kuat pada kehidupan Gereja menjadi potensi dan peluang bagi Gereja untuk membangkitkan kembali iman yang tergerus oleh zaman dan menumbuhkan pula semangat pengabdian dan pelayanan semua anggota Gereja demi perkembangan dan kelangsungan hidup Gereja.

 

Berkenaan dengan ini, maka baiklah kiranya bahwa peran dan kedudukan kaum perempuan ini bisa menjadi titik refleksi bagi Gereja. Maksudnya adalah supaya spirit yang menjiwai mereka untuk mengabadi dan melayani sejak awal kehidupan Gereja hingga sekarang ini dapat menjadi salah satu kekuatan untuk menumbuhkan kembali hidup Gereja secara dinamis di tengah situasi zaman ini.***Apol***

Selasa, 15 September 2020

HATI YANG TERBUKA


(Luk 7: 31 – 35)

Ungkapan “keras hati” mengacu kepada makna orang yang bersikap ekslusif dalam hidupnya. Sikap ekslusif menunjuk pada orang yang tertutup hatinya. Orang yang tertutup hatinya cenderung merasa diri paling benar, paling pintar dalam segala hal dan susah menerima pendapat atau pikiran dari orang lain. Orang yang tertutup hatinya akan sulit mengambil sikap terbuka berhadapan dengan orang-orang ada di sekitar mereka. Tipikal orang-orang ini akan mengambil jalan resisten ketika berhadapan dengan orang-orang yang berseberangan dengan mereka. Mereka akan melawan dengan segala cara untuk mempersalahkan pihak lain, walaupun mungkin pihak lain tidak selalu salah. Apa yang dikatakan dan dilakukan oleh orang lain selalu salah di mata mereka. Mereka punya “nilai” tersendiri yang tidak bisa digangggu gugat. Di lain pihak, mereka berusaha mengarahkan orang lain untuk mengikuti segala pikiran dan tindakan mereka. Bahkan, sikap pressure (memaksa) akan dilakukan apabila orang tidak mengikuti segala pikiran dan kemauan yang telah mereka gariskan.

 

Pada hari ini (Rabu/16/9/2020), Yesus mengkritik keras para elit agama yang mempertontonkan sikap keras hati ((Luk 7:31-35). Sikap keras hati dari para elit agama justru dilakukan terhadap dua tokoh yang datang membawa misi keselamatan kepada umat Israel. Pertama, para elit agama menunjukkan sikap keras hati terhadap Yohanes Pembaptis. Pola hidup asketis yang ditunjukkan oleh Yohanes dengan tidak makan roti dan tidak minum anggur dianggap sebagai sesuatu yang aneh. Para pemimpin agama Yahudi melabeli Yohanes Pembaptis sebagai orang gila. Hal ini merujuk pada pola hidupnya yang keras dan tidak lazim. Karena tidak merasa nyaman dengan kehadiran Yohanes Pembaptis maka para pemimpin agama menutup pintu hati mereka untuk tidak menerima segala seruan pewartaan dari sang nabi. Mereka tidak mau bertobat dan memberi diri dibaptis. Mereka dengan tegas menolak segala hal yang disampaikan dan dilakukan oleh Yohanes Pembaptis.

 

Kedua, para elit agama menunjukkan sikap keras hati terhadap Yesus. Mereka menolak tindakan Yesus yang dekat dengan orang kecil terutama dengan kaum pendosa dan para pemungut cukai. Ketika Yesus makan dan minum bersama dengan orang-orang kecil tersebut, para elit agama mencap Yesus sebagai seorang pelahap dan peminum. Pada intinya, segala hal baik yang dilakukan Yesus, entah itu berupa pewartaan atau tindakan mukjizat selalu dilihat sebagai sesuatu hal yang negatif. Kekerasan hati para pemimpin agama inilah yang menimbulkan rasa heran dalam diri Yesus. Para pemimpin agama Yahudi sebenarnya sementara memamerkan perilaku ambigu dalam diri mereka. Di satu sisi mereka menolak Yohanes karena menggaungkan kidung dukacita agar umat segera bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Namun, di sisi yang lain, mereka menolak juga kehadiran Yesus yang membawa suasana penuh sukacita dan kegembiraan. Ambiguitas para pemimpin agama Yahudi ini diparalelkan oleh Yesus dengan sikap anak-anak yang ada di pasar. “Mereka itu seumpama anak-anak yang duduk di pasar dan yang saling menyerukan: Kami meniup seruling bagimu, tetapi kamu tidak menari, kami menyanyikan kidung duka, tetapi kamu tidak menangis” (Luk 7:32).

 

Sikap keras hati yang ditunjukkan oleh para elit agama Yahudi menegaskan kedangkalan iman mereka akan Allah. Mereka sibuk bersembunyi di balik kemegahan jubah dan atribut-atribut rohani demi memenuhi segala kepentingan duniawi. Mereka menampilkan diri sangat agamis tetapi sungguh tidak beriman. Mereka kelihatan sangat dekat dengan Allah, namun hati mereka jauh dari Allah. Di tengah terpaan sikap keras hati kaum elit Yahudi, ternyata Yesus masih menemukan ada sebagian orang yang mau membuka hatinya dan percaya kepada Allah. Hanya orang-orang ini yang mau menerima hikmat atau rahmat keselamatan yang telah diwartakan oleh Yesus. Hikmat Allah yang terencana dalam diri Yesus sungguh mengalir dalam diri mereka yang mau bersikap terbuka dan percaya. Rencana Allah membuktikan kebenarannya dalam kehidupan mereka yang menerimanya (Tafsir alkitab PB, hal.129). Hikmat Allah hanya akan bersemayam dalam diri orang-orang yang tidak menunjukkan kekerasan hatinya. Melainkan kepada mereka yang sungguh percaya, mau menyerahkan diri sepenuhnya ke dalam penyelenggaraan ilahi dan mau berjalan dalam kebenaran-Nya.

 

Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan informasi masa kini telah menuntut kita sebagai kaum beriman untuk turut larut dan berubah di dalamnya. Seiring dengan perkembangan itu, menjadi hal yang wajar apabila dampak ikutannya adalah kita semakin kuat dan matang dalam aneka ilmu pengetahuan. Kita semakin merasa hebat dan pintar dalam berbagai bidang ilmu. Dengan spesifikasi ilmu tersebut, kita mampu menganalisis sebuah persoalan dan mencari jalan keluarnya. Namun, seringkali realitas menunjukkan bahwa semakin tinggi atau luas pengetahuan yang dimiliki, membuat kita sebagai orang Katolik masa kini menjadi keras hati. Hati kita menjadi tertutup untuk mendengar berbagai pikiran, pendapat, atau nasihat dari orang lain. Kita lebih cenderung menyalahkan orang lain dan menuntut orang lain untuk mengikuti segala kemauan kita. Hal ini terjadi karena kita merasa diri paling hebat dan pintar. Apabila muncul persoalan, kita suka membangun argumen pembenaran diri dan sibuk mencari kambing hitam kepada orang lain. Hati yang keras tidak hanya ditunjukkan kepada sesama, tetapi juga kepada Tuhan. Kita suka membangun sikap kompromistis dengan Tuhan. Dengan tahu dan mau berbuat dosa karena berpikir Tuhan itu maha pengampun, maha kasih, maha murah, dan sebagainya. Tanpa beban kita menyimpang dari jalan Tuhan karena yakin Tuhan pasti akan mengampuni dan memanggil kita kembali ke jalan-Nya. Sikap keras hati juga membuat hati kita menjadi tertutup untuk tidak mau membaca atau mendengar warta Allah. Sikap ini yang menciderai dan melemahkan semangat kita untuk semakin beriman kepada Tuhan. Imbasnya, apabila datang sedikit tantangan, kita gampang menyerah, putus asa dan mempertanyakan eksistensi Tuhan.

 

Hati yang terbuka adalah kunci iman menuju hikmat Allah. Sikap mulia ini telah ditunjukkan oleh dua orang kudus yang kita rayakan pada hari ini yakni Santo Kornelius dan Santo Siprianus. Santo Kornelius adalah paus kita yang ke-21. Sedangkan Santo Siprianus adalah seorang uskup Kartago (Tunisia). Kedua orang kudus ini hidup pada masa penganiayaan umat Kristen. Karena keterbukaan hati dan kepercayaan kepada Allah, kedua tokoh besar ini sungguh menerima hikmat Allah untuk tetap bertahan menjaga iman kristiani kala itu untuk tetap tumbuh kuat dan kokoh. Hari ini kita belajar dari dua orang kudus ini untuk bersikap terbuka kepada Tuhan. Sikap terbuka kita tunjukkan dengan mau mendengar atau membaca firman-Nya. Firman Tuhan itu harus meresapi seluruh diri, sehingga mampu menggerakkan diri kita untuk mau bersikap terbuka juga dengan sesama. Kita mau saling berbagi ilmu pengetahuan yang baik, kita saling mendengarkan, saling memberi koreksi, saling memberi respek, saling menghargai satu sama lain, dan saling menjaga keutuhan dalam nuansa persaudaraan. Dengan demikian, kita menjadi salah satu orang beriman yang menerima hikmat dari Allah. Dan pada akhirnya kita akan mendapat keselamatan di dalam dunia dan di akhirat oleh karena hikmat yang telah kita terima dari Tuhan. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 14 September 2020

SALIB KESELAMATAN

Bil 21:4-9, Flp 2:6-11, Yoh 3:13-17

Hari ini dalam penanggalan liturgi gereja Katolik, kita sebagai umat gereja Katolik sejagat merayakan Pesta Salib Suci. Pesta Salib Suci dalam kalender liturgi Gereja Katolik disebut In Exaltatione Sanctae Crucis. Perayaan ini dirayakan setiap tahun pada tanggal 14 September. Latar perayaan tahunan ini berawal dari penemuan Salib asli Yesus Kristus oleh Santa Helena (ibu dari Kaisar Romawi Konstantin) di kota Yerusalem. Sejarah mencatat bahwa setelah penemuan Salib Suci itu, Santa Helena membangun sebuah basilika di atas makam kudus Yesus Kristus. Basilika itu kemudian diberkati dalam suatu perayaan yang sangat meriah dan khidmat selama dua hari berturut-turut yakni pada tanggal 13 dan 14 September tahun 335. Tradisi ini berlanjut dan setiap tahun dirayakan Pesta Salib Suci di Yerusalem. Setiap tahunnya, tidak kurang dari 40 uskup menempuh perjalanan jauh dari keuskupan mereka untuk menghadiri perayaan ini. Di Yerusalem pesta ini berlangsung selama 8 hari berturut-turut. Kemudian pesta ini menyebar ke luar Yerusalem, mulai dari Konstantinopel (sekarang Istanbul) sampai ke Roma pada akhir abad ketujuh. Dan pada akhirnya, perayaan kudus ini dimasukkan dalam kalender liturgi Gereja Katolik sebagai suatu pesta wajib (mirifica.net)

 

Dalam bacaan dari Kitab Bilangan (Bil 21:4-9), umat Israel yang sementara melakukan pengembaraan di padang gurun, menunjukkan sikap antipati kepada Allah dan Musa. Mereka mengeluh dan melakukan protes kepada Allah dan Musa. Isi protes berkenaan dengan situasi riil yang mereka alami karena tidak ada makanan dan air. Di samping itu, mereka tidak mau makan lagi manna (roti tawar) yang telah diberikan Allah. Dalam situasi demikian, umat Israel meragukan komitmen dan kapasitas dari para pemimpinnya sendiri. Terutama Allah yang telah berinisiatif memberi jalan keselamatan kepada mereka dari penindasan bangsa Mesir. Sebagai bentuk hukuman, Allah mengirim ular-ular tedung untuk memaguti sejumlah besar orang Israel. Banyak orang Israel mati karena dipagut oleh ular tedung. Kemudian orang Israel datang kepada Musa memohon pertolongan agar mereka bisa diselamatkan. Musa lalu berdoa kepada Tuhan agar situasi buruk yang terjadi di kalangan umat Israel segera berakhir. Tuhan menyuruh Musa membuat ular tedung tiruan dari tembaga dan menaruhnya di atas sebuah tiang yang tinggi. Kepada umat Israel, Musa berpesan agar setiap orang yang dipagut oleh Ular tedung harus memandang ular tembaga yang terpancang di atas tiang untuk memperoleh keselamatan. Berkat simbol itu, umat Israel selamat dari racun ular tedung.

 

Ular tedung yang dipancang di atas tiang yang tinggi tidak sekedar menjadi simbol keselamatan orang Israel  kala itu. Namun sebagai nubuat yang menggambarkan Tubuh Yesus yang terpancang di atas kayu salib. Kayu salib suci yang melambangkan penebusan dan keselamatan umat manusia dari kedosaannya. Kisah keselamatan orang Israel yang memandang ular tedung tembaga di atas tiang digaungkan kembali dalam kisah perjanjian baru. Dalam percakapan dengan Nikodemus, Yesus mengatakan: “Dan sama seperti Musa meninggikan ular di pandang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan” (Yoh 3:14). Yesus menegaskan bahwa dalam konteks Perjanjian Lama, ular tedung yang diletakkan di atas tiang tinggi menjadi simbol keselamatan bagi umat Israel. Sedangkan dalam konteks Perjanjian Baru, Diri-Nya sendiri yang akan ditinggikan agar dapat menjadi sumber keselamatan bagi banyak orang. Pertanyaan sederhana yang muncul adalah mengapa Ia harus ditinggikan di atas kayu salib? “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal” (Yoh 3:16). Sama seperti umat Israel zaman nabi Musa yang memberontak dan berlaku tidak setia kepada Allah, umat zaman Yesus pun demikian. Banyak umat yang mulai menunjukkan sikap yang berseberangan dengan kehendak Allah sendiri. Mereka mengaku sebagai umat yang taat menjalankan ibadah namun hati mereka jauh dari Allah. Agama dan segala ritus hanya sebagai tameng bagi mereka untuk mengeruk keuntungan secara ekonomi dan sosial. Banyak umat, termasuk di dalamnya para elit agama, mempertontonkan suasana hidup beragama yang semu. Jauh dari nilai-nilai kasih, nilai kebenaran dan keadilan. Dengan demikian, Allah dengan kasih-Nya yang maha besar mengaruniakan Anak-Nya yakni Yesus Kristus agar bisa membawa umat untuk bertobat dan kembali ke jalan yang benar.

 

Allah tidak mau manusia hidup bebas dengan kedosaannya; yang pada akhirnya membelenggu dan merugikan hidup manusia sendiri. Allah tidak mau umat mengalami nasib yang sama seperti umat Israel pada zaman nabi Musa yang mati akibat dipagut ulat tedung. Allah memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat, sebelum penghakiman itu benar-benar terjadi. Kesempatan emas itulah yang termanifestasi dengan kedatangan Yesus di muka bumi. “Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia melainkan untuk menyelamatkan oleh Dia” (Yoh 3:17). Walaupun Yesus sudah hadir dan menyatakan diri-Nya kepada umat manusia, tetap tidak memberi jaminan bahwa umat akan bertobat dan kembali ke jalan Allah. Bahkan dengan terang-terangan mereka menolak, memusuhi dan pada akhirnya membunuh Yesus, Anak Allah. Dengan kematian Yesus, misteri keagungan Allah menjadi terbuka. Puncak keselamatan manusia dari Allah yang terwujud  dalam diri Yesus sungguh terjadi. Yesus rela meninggikan diri-Nya di atas kayu salib agar semua orang yang melihat-Nya beroleh keselamatan. Salib yang suci telah menjadi simbol keselamatan bagi semua orang secara cuma-cuma. Dan ini semua berkat kasih Allah yang maha dasyat.

 

Bagi kita orang Katolik, salib sebagai tanda keselamatan memiliki banyak makna. Pertama, salib melambangkan kekuatan. Di tengah berbagai tantangan dan kesulitan yang kita hadapi sebagai seorang manusia, salib Yesus yang suci tetap hadir untuk memberi kekuatan dan peneguhan agar kita tidak gampang menyerah dan putus asa. Salib suci menyuntikkan energi ketabahan dan kesabaran yang begitu kuat agar kita tetap bertahan demi menggapai sebuah kesuksesan atau kemenangan. Kedua, salib adalah lambang kemenangan. Sebagai umat beriman, kita percaya bahwa salib suci tidak hanya memberi kita kekuatan tetapi juga kemenangan. Situasi dunia yang penuh pergulatan dan pergolakan mendorong kita untuk masuk dalam pusaran itu. Di satu sisi kita berada di garis kebenaran. Dan di sisi yang lain kita berhadapan dengan orang-orang yang tidak menginginkan kebenaran itu. Salib Kristus yang suci pasti akan membawa kita ke garis kemenangan karena tidak ada satu kekuatan manusia pun yang mampu mengalahkan kekuatan ilahi-Nya. Ketiga, salib suci melambangkan kasih. Dengan melihat dan memiliki salib Kristus, kita semakin dimotivasi oleh semangat Yesus sendiri untuk mengimplementasikan nilai kasih kepada orang lain. Seperti Yesus “yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan Diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia” (Filipi 2:6-7). Salib Yesus adalah sebuah kebanggaan identitas iman dan bukan sebagai simbol gagah-gagahan, yang menjadikan kita pribadi yang angkuh dan tidak memiliki kerendahan hati. Lebih dari itu, salib suci adalah sebuah simbol keyakinan yang suci akan Dia yang telah mengorbankan diri-Nya demi keselamatan uma manusia. Menyadari hal demikian, menjadi tugas kita selanjutnya agar dengan “mengambil rupa seorang hamba” atau dengan semangat kerendahan hati yang terus bernyala-nyala, kita terus menjadikan salib sebagai tanda yang menyelamatkan; tidak hanya bagi diri kita sendiri tetapi juga orang lain yang ada di sekitar kita. Amin. ***Atanasius KD Labaona***

Kamis, 10 September 2020

Mengasihi Musuh

                                                                 Luk 6:27-38

Tidak ada ajaran yang lebih revolusioner daripada ajaran Yesus tentang mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita (ay 27). Berat membayangkan seseorang meminta berkat bagi orang yang telah mengutuknya dan berdoa bagi orang yang mencacinya (ay 28). Sulit  juga untuk memikirkan bagaimana seseorang rela memberikan pipi yang lain ketika pipi yang satu ditampar. Orang yang ‘normal’ sulit melakukan semuanya ini.

 

Yang normal dan biasa adalah bahwa orang secara naluriah membenci musuh dan mengasihi orang yang baik. Yang baik itu bisa saja orang dekat, tetapi juga orang lain karena kebaikannya. Musuh itu bisa juga orang dekat, tetapi juga orang lain karena mereka telah berlaku jahat dan kurang ajar. Musuh yang paling dibenci adalah musuh dalam selimut, orang-orang dekat yang berkhianat dan menghancurkan dari dalam.

 

Yesus tidak menghendaki yang normal dan biasa sebagai standar dalam kehidupan para murid-Nya. Yesus menghendaki ada nilai lebih dari kehidupan seorang murid-Nya untuk membawa pembaruan dan perubahan. Maka Yesus memberi perintah agar setiap murid-Nya harus mampu melampaui yang normal dan biasa menjadi suatu yang luar biasa. Dalam konteks ini, yang luar biasa itu adalah mengasihi musuh dan berbuat baik kepada orang yang membenci kita.

 

Hal ini dapat kita baca dalam kata-kata-Nya: “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosa pun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosa pun berbuat demikian” (ay 32-33).

 

Tidak hanya itu. Yesus memberikan dasar lain mengapa kita harus mengasihi musuh dan berbuat bagi mereka yang membenci kita. Ia berkata: “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati” (Luk 6:36). Yesus menghendaki agar sikap Allah Bapa yang bermurah hati juga menjadi sikap dasar seorang murid-Nya. Ia baik kepada semua orang. Ia baik kepada orang baik dan “Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat”. Itulah perbuatan Allah sebagai contoh perbuatan seorang murid Yesus.

 

Sungguh sulit melakukan apa yang diperintahkan Yesus. Mudah untuk kita renungkan dan akal sehat kita dapat memahami maksud Yesus, akan tetapi menjadi sangat berat untuk dipraktikkan. Namun  demikian kita tidak memiliki pilihan lain bila ingin menjadi murid-Nya. Hanya satu pilihan: mengasihi musuh dan berbuat baik kepada mereka.

 

Kesulitan yang dihadapi itu menuntut perjuangan. Kita semua tahu, tidak ada sesuatu yang bernilai diperoleh hanya dengan mengharapkannya terjadi begitu saja tanpa ada perjuangan. Demikian pula dengan halnya mengasihi musuh dan berbuat baik kepada mereka. Kita mesti berjuang untuk melampaui kesulitan yang kita hadapi.

 

Agar perjuangan itu bisa membawa kita pada titik tuju maka penting sekali memiliki kemauan atau kehendak hati yang kuat. Kehendak itu menggerakkan kita  membangun komitmen, mengambil inisiatif dan meneguhkan tekad untuk melakukannya. Tanpa ada kehendak kita hanya bisa berharap tanpa bisa mencapi titik tuju.

 

Penting kita sadari bahwa kegagalan bisa mengawali perjuangan untuk mewujudkan kehendak kita menjadi murid yang baik dan bermurah hati. Namun kegagalan itu bukan akhir dari perjuangan kita. Kegagalan adalah suatu persiapan bagi kesuksesan setiap orang memiliki kehendak untuk mewujudkan diri sebagai murid Yesus. Ia membuat kita menjadi lebih tekun, setia dan ulet lagi. Maka ketika kita gagal kita mesti berpikir untuk mempertajam kembali komitmen kita, inisiatif kita dan ketekadan kita yang bulat untuk tetap terus berjuang.

 

Di atas semua upaya yang kita lakukan, kita mesti percaya bahwa Dia yang memerintahkan kita untuk melakukan kehendak-Nya tidak akan membiarkan kita berjuang sendirian. Ia pasti membantu kita dengan rahmat-Nya dan membuat kita bisa menjadi orang yang baik dan bermurah hati. Dan pada akhirnya, Ia sendiri akan membuat hati kita mengalami kebahagiaan dalam hidup kita karena kita telah melakukan kehendendak-Nya.  *** Apol Wuwur***

Senin, 07 September 2020

KASIH LEBIH PENTING

Luk 6:6-11

Harman Sikh adalah seorang penganut agama Sikh yang taat. Ia hidup dan tinggal di negara Selandia Baru. Salah satu ciri khas dari penganut agama Sikh adalah selalu mengenakan sorban di kepala. Bagi para penganut agama Sikh, sorban tidak hanya menjadi semacam pernik rohani tetapi lebih dari itu telah menjadi identitas, kebanggaan dan keyakinan yang suci. Beberapa saat yang lalu, Harman Sikh menunjukkan tindakan heroiknya ketika ia menolong seorang anak kecil yang mengalami kecelakaan di depan rumahnya. Kepala anak kecil itu terus mengeluarkan darah dari kepalanya. Secara spontan, didorong oleh naluri kemanuasiannya, Harman segera menolong sang anak. Yang unik dari tindakannya adalah ia melepaskan sorban yang ada di kepalanya. Kemudian menahan aliran darah dari kepala sang anak dengan menggunakan sorban sucinya. Sontak aksinya mengundang simpati dan empati dari berbagai kalangan. Semua orang dari berbagai lintas wilayah dan agama memuji aksi mulia dari Harman Sikh. “Saya tidak berpikir tentang turban (sorban). Saya sedang berpikir tentang kecelakaan itu dan saya hanya berpikir, dia perlu sesuatu di kepalanya karena dia berdarah. Itu pekerjaan saya untuk membantu dan saya pikir orang lain akan melakukan hal yang sama seperti saya”, kata Harman. Memang aksinya melanggar aturan dalam agamanya. Namun, aksi kemanusiannya merefleksikan tindakan nyata dari ajaran agama yang dianutnya. Tindakan penyelamatan dari Harman jauh melampaui segala protokol keagamaan yang melekat dalam dirinya.

 

Dalam bacaan Injil (Luk 6:6-11) pada hari ini (Senin, 7/9/2020), Yesus menunjukkan salah satu tindakan mukjizat-Nya dengan menyembuhkan seorang yang mati sebelah tangannya. Esensi penyembuhan itu memang tidak salah. Yang menjadi masalah justru tindakan mukjizat itu dilakukan pada hari Sabat; sebuah hari yang dipandang kudus dalam agama Yahudi. Dalam konteks ajaran agama Yahudi, ada sekian banyak aturan yang melarang orang melakukan pekerjaan pada hari Sabat. Termasuk di dalamnya tindakan untuk menyelamatkan atau menyembuhkan orang sakit. Dan para elit agama Yahudi tampil sebagai pengawal aturan yang mengarahkan para penganut agama Yahudi untuk menaatinya. Kisah penyembuhan orang yang mati sebelah tangannya pada hari Sabat merupakan kisah lanjutan dari kisah sebelumya yang mengisahkan kegiatan memetik gandum yang dilakukan oleh para murid pada hari Sabat. Dalam kisah sebelumnya, para elit agama Yahudi yang diwakili oleh orang Farisi melakukan protes terhadap aksi yang dilakukan oleh para murid. Dalam konteks bacaan Injil hari ini, kehadiran para ahli Taurat dan orang-orang Farisi bukan untuk mempersoalkan aksi mukjizat yang hendak dilakukan oleh Yesus. Kehadiran para elit agama di dalam rumah ibadat hanya dengan tujuan utama memata-matai pergerakan Yesus sehingga mereka dapat menemukan celah untuk menyalahkan-Nya.

 

Yesus sudah tahu apa yang ada dalam pikiran para elit agama. Ia lalu menyuruh orang yang mati sebelah tangannya untuk bangun dan berdiri di tengah. Kemudian dengan lantang Yesus berkata kepada semua orang yang hadir: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya? (Luk 6:9)” Setelah berkata demikian Yesus akhirnya menyembuhkan orang yang mati sebelah tangannya tersebut. Tindakan Yesus yang sungguh berwibawa ini sebenarnya mau menantang dan sedikit memprovokasi para elit agama yang hadir di tempat itu. Yesus sudah tahu bahwa Ia akan disalahkan. Namun, dari pada menyembunyikan sebuah kebenaran iman, Yesus dengan terang benderang mempresentasikan kebenaran itu sehingga dapat terkuak dan dipahami oleh semua orang. Dengan tindakan mukjizat pada hari Sabat, sebenarnya Yesus mau menegaskan bahwa hari Sabat yang suci hendaknya diisi dengan hal-hal yang baik, termasuk di dalamnya menyelamatkan orang yang sedang sakit. Menyelamatkan orang yang sedang menderita adalah sebuah tindakan yang tidak dilarang pada hari Sabat. Justru sebaliknya harus diapresiasi karena tindakan itu mendapat tempat yang mulia di hati Allah. Dengan melarang segala tindakan baik pada hari Sabat, para elit agama sesungguhnya sedang mempertontonkan tindakan yang berlawanan dengan kemauan Allah sendiri. Di satu sisi, para elit agama memang menjaga segala aturan dan tradisi agama dengan baik. Tetapi di sisi yang lain, mereka juga sedang mengangkangi hukum yang paling tinggi dari segala jenis hukum yakni hukum Allah. Para elit agama lebih memprioritaskan hukum dan aturan yang dibuat oleh manusia sendiri dan tidak menghiraukan substansi dari hukum itu sendiri yakni menyelamatkan nyawa manusia.

Kehadiran Yesus di dalam rumah ibadat hendak mempresentasikan hukum Allah yang paling tinggi yakni hukum kasih. Melalui penyembuhan orang yang mati sebelah tangannya, Yesus hendak mengkorelasikan pentingnya keselamatan nyawa manusia pada hari sabat. Pada hakikatnya, hari Sabat memang harus dihormati dengan tidak melakukan jenis-jenis pekerjaan yang telah ditentukan. Orang harus berhenti dari segala aktivitas dunia dan melakukan segala ritus agama untuk memuji Allah. Namun bagi Yesus, kalau hari Sabat adalah hari suci maka kesucian hari Sabat hendaknya tidak hanya nampak dalam ritus-ritus agama melainkan paling penting adalah melakukan tindakan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa umat manusia yang sementara menderita dan sakit. Karena “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Mrk 2:17). Hari Sabat tidak boleh menjadi batu sandungan untuk menghalangi orang untuk berbuat baik bagi sesamanya. Untuk itulah Yesus datang untuk mempurifikasi segala peraturan dan hukum duniawi dengan hukum yang dibawa-Nya yakni hukum kasih Allah.

 

Sebagai orang beriman, kita kadang lebih mengutamakan hidup dalam segala jenis peraturan dan ritus agama yang mengikat kita. Misalnya, kita selalu rajin beribadah pada hari Minggu. Kita selalu aktif melakukan berbagai devosi kepada orang kudus. Kita selalu aktif terlibat dalam segala kegiatan keagamaan di basis dan lingkungan. Dan masih banyak jenis aturan yang menuntut kehadiran aktif kita sebagai umat beriman. Di samping semua itu, kita belum menyelaraskan kesetiaan kita pada segala ritus dan aturan agama dengan hukum kasih yang dituntut oleh Yesus sendiri. Kita belum menunjukkan sikap respek, sikap empati dan semangat tolong menolong dengan sesama yang sementara menderita dan sakit. Kita masih mementingkan hidup pribadi dari pada orang lain. Lantas, kita menjadi pribadi apatis dan tidak memedulikan orang lain yang sementara menanti uluran tangan kita. Di saat yang bersamaan, kita dengan khusyuk berdoa, melantunkan segala madah dan pujian bagi nama Tuhan, sementara di samping kita banyak orang yang sementara menjerit entah karena menahan lapar atau sakit yang tidak tertahankan. Intisari refleksi bacaan Tuhan pada hari ini hendak membuka kesadaran kita bahwa hukum kasih Allah jauh di atas segala jenis peraturan dan ritus agama yang diciptakan oleh manusia sendiri. Kita diwajibkan untuk memenuhi hukum, peraturan dan segala ritus dalam agama, namun alangkah lebih baik apabila kita dengan setia mewujudnyatakannya dalam tindakan kasih kita kepada sesama. Karena sebenarnya “Iman tanpa perbuatan pada hakekatnya adalah mati” (Yak 2:17). Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

 

 

 

 

 

 

  

Kamis, 03 September 2020

PENJALA IKAN MENJADI PENJALA MANUSIA

 

Luk 5:1-11

            Kalau kita membaca kisah tokoh-tokoh terkenal dalam Kitab Suci, maka kita akan menemukan sejumlah dari mereka yang terpanggil merasa berat dan menolak panggilan Tuhan karena apa yang diminta Tuhan tidak masuk akal dan melampaui kemampuan manusia. Perasaan tak layak dan kesadaran sebagai orang berdosa sering kali menjadi alasan mendasar untuk menolak setiap panggilan Tuhan. Sebut saja: misalnya Musa, Yesaya, Yeremia. Tuhan tetap memanggil dan mengutus orang-orang yang tidak sempurna dan merasa diri tidak layak untuk melaksanakan misi Agung-Nya. Panggilan Tuhan ini menjadikan mereka berubah total, mereka menjadi sangat rendah hati dan terbuka terhadap bimbingan Tuhan. Simon Petrus tampak enggan melaksankan anjuran Yesus untuk bertolak lebih dalam lagi agar bisa menangkap ikan meskipun pada waktu yang tidak tepat. Dalam pandangan Petrus, permintaan itu tidak masuk akal dengan pengalamannya sebagai pelaut unggul. Tetapi hal yang luar biasa adalah, sekalipun ia mempunyai alasan-alasan rasional, namun ia tetap menaati perintah Yesus, begitulah cara kerja Roh Kudus yang mampu mengubah hati yang keras menjadi lembut dan taat.

            Ketaatan pada zaman ini bukanlah perkara yang mudah. Orang modern sekarang ini terbiasa dengan mempertanyakan segala sesuatu dan sangat mengagungkan kebebasan dan akal budi. Sering terbersit pertanyaan: apakah kebebasan manusia bertentangan dengan ketaatan pada kehendak Allah? Untuk orang yang terbiasa melakukan dosa pasti jawabannya adalah YA, tetapi bagi mereka yang ingin hidup benar, taat pada kehendak Allah pasti akan menuntun kita pada kebebasan sejati, hidup menjadi lebih damai dan sejahtera.

            Yesus menyuruh Petrus untuk bertolak ke tempat yang lebih dalam dan menebarkan jala untuk menangkap ikan di sana. Sebetulnya Petrus mempunyai sejumlah alasan rasional untuk mengabaikan perintah Yesus, misalnya latar belakang orang tua Yesus adalah tukang kayu bukan nelayan. Bagaimana mereka sebagai nelayan harus menuruti nasihat tukang kayu dalam hal menangkap ikan? Sepanjang malam itu mereka tidak mendapat ikan (Ayat 5), padahal malam adalah waktu terbaik untuk menangkap ikan. Tetapi sekarang Yesus menyuruhnya menebarkan jala untuk menagkap ikan pada pagi atau siang hari. Tempat yang dalam bukanlah tempat yang baik untuk menjala ikan, kecuali mereka mempunyai jala yang berukuran besar dan lebar, yang jelas pada zaman itu tidak seorang pun yang memiliki jala besar. Di tengah keraguannya, Petrus akhirnya mengikuti perintah Yesus bukan karena percaya tetapi mungkin karena sungkan atau sekedar menyenangkan hati Yesus. Kesetiaan dan kerelaannya untuk melakukan anjuran Sang Guru yang tidak masuk akal itu justru mendatangkan hasil yang mengagumkan di luar pemahaman manusia. Menyaksikan peristiwa yang tampak mustahil ini, Petrus rasanya mau mati saja, ia tersungkur di depan di depan Yesus lalu dengan polos mengatakan: “Tuhan, tinggalkan aku, karena aku ini orang berdosa”. Kerendahan hati Petrus ini membuat Yesus menebak, seperti apa sikap dan mental Petrus. Yesus tahu bahwa Petrus bakal menjadi seorang murid yang baik dan diharapkan menjadi agen pewarta Injil Kerajaan Allah yang militan. Berhadapan dengan pengalaman itu, tidak ada hal yang dilakukan Petrus selain menyadari keterbatasan dan kerapuhan dirinya. Kesadaran dan kerendahan hati inilah yang menjadi dasar bagi Yesus untuk memanggil Petrus melakukan karya Tuhan yang lebih besar, menjadi penjala manusia.

            Perkenalan dengan Yesus telah mengubah pandangan para nelayan Galilea tentang Mesias dan keselamatan yang dijanjikan Tuhan. Mujizat penangkapan ikan di danau itu membuat mereka kagum. Tahap kagum menghantar mereka melangkah satu anak tangga lebih tinggi menuju percaya. Kepercayaan kepada Yesus sebagai Mesias membuat mereka dapat melihat dan mengintrospeksi diri: siapakah diri mereka dihadapan Allah dan jawaban Tuhan atas keraguan itu adalah bahwa Tuhanlah yang mengubah hidup mereka. “Tuhan tinggalkanlah aku karena aku ini orang berdosa,” kata Petrus yang juga diamini oleh teman-temannya. Yesus berkata: “Jangan takut!, Mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia”. Yesus secara tidak langsung memberikan peneguhan kepada Simon Petrus dan teman-temannya supaya jangan takut akan dosa-dosa dan kelemahan-kelemahan masa lalu yang kelam. Sekarang Tuhan memilihmu dan belajarlah dari-Nya untuk menerima kasih karunia-Nya, maka engkau akan melakukan pekerjaan-pekerjaan Tuhan!. Inilah babak baru hidup para murid, karena mereka kini bukan lagi sekedar nelayan Galilea, tetapi murid-murid Mesias yang menebar jala keselamatan, menjaring jiwa-jiwa orang berdosa untuk dihantar ke hadapan Tuhan untuk memperoleh keselamatan.

            Kisah ini menghantar kita untuk merefleksikan kehendak Allah yang memanggil orang-orang biasa dan sederhana untuk melaksanakan tugas perutusan sebagai penjala manusia. Seringkali kita ragu terhadap perintah dan panggilan Tuhan karena kita merasa kita bukanlah siapa-siapa yang tidak memiliki kualifikasi pengetahuan yang mumpuni dalam dunia agama. Sikap skeptis dalam diri ini memunculkan pertanyaan: apakah tugas berat ini mampu kita jalankan dengan baik dan memberikan hasil atau tidak, karena sepertinya berlawanan dengan perhitungan matematis dan logika manusia. Teks hari ini memberikan jaminan bahwa Tuhan akan berkarya bersama kita kalau kita membuka hati dan mengikuti perintah-Nya, kalau kita berani keluar dari zona nyaman perahu kita, kalau kita menempatkan Sabda Tuhan di atas logika berpikir kita yang terbatas. Panggilan para murid adalah tahapan perjalanan iman yang harus dilewati oleh setiap umat beriman. Tuhan menarik perhatian kita dengan pewahyuan diri-Nya yang mengingatkan kita bahwa kita adalah ciptaan yang berakar pada hakikat-Nya sendiri. Allah telah mewujudkan diri-Nya menjadi manusia dan meneguhkan kita dengan pengajaran dan karya-karya besar-Nya di dunia agar kita dapat melanjutkan karya penyelelamatan-Nya untuk melayani dan menjala manusia menuju keselamatan paripurna. Akhirnya Ia mengutus kita untuk menjadi pewarta cinta-Nya kepada sesama lewat kata dan perbuatan kita setiap hari. Di sini kita tidak sekedar menjadi penerima kasih karunia Tuhan, tetapi menjadi pengantara dan pembagi cinta kepada mereka yang membutuhkan. Pada tahap ini, kita berubah dari sekedar penjala ikan menjadi penjala manusia sekaligus beralih menjadi rekan kerja Allah dalam karya keselamatan. Hidup kita menjadi semakin bermakna kalau kita memandang hidup ini sebagai anugerah atau hadia yang dapat memberi manfaat besar bagi sesama kita. Amin ***Bernard Wadan***