Luk 9:57-62
Kata radikal berasal dari kata “radix” (Latin)
yang berarti ‘akar’. Radikalitas merujuk kepada keadaan keberakaran pada suatu
hal yang diyakini memiliki kebenaran yang hakiki. Jika kata ini dihubungkan
dengan iman kristiani, maka yang dimaksudkan adalah keberakaran dalam iman
kristiani.
Dalam praksis kehidupan, kata radikalitas iman
kristiani merujuk kepada semangat hidup yang tinggi dalam menghayati iman
kristiani, dan lazimnya ditunjukkan dalam cara hidup yang ketat sesuai
nilai-nilai kekristenan. Ada konsistensi dalam penghayatan nilai-nilai itu. Orang
Kristiani yang hidupnya bersesuaian dengan nilai-nilai kekristenan dikatakan
pula sebagai orang yang militan dalam beriman.
Kepada seorang ahli Taurat yang berkeinginan
untuk mengikuti Yesus ke mana saja Yesus pergi, Yesus menuntut iman yang
radikal. Dengan kata-kata-Nya, "Serigala mempunyai liang dan burung
mempunyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan
kepala-Nya," Yesus hendak menyatakan bahwa keinginan untuk mengikuti Dia
harus dibarengi dengan kesediaan untuk hidup dalam ketidakpastian dan di jalan
penderitaan. Dia harus berkorban untuk meninggalkan segala sesuatu yang selama
ini meberi kenyamanan dan hidup dalam penderitaan dan ketidakpastian demi
imannya kepada Yesus (bdk. Mat 10:38; 16:24). Hal ini mengandaikan adanya sikap
iman yang radikal, militan; bukan asal-asalan atau mengikuti emosi belaka.
Hal yang sama ditegaskan Yesus dalam menanggapi
permintaan salah seorang murid-Nya: "Tuhan, izinkanlah aku pergi dahulu
menguburkan ayahku” dan yang lain lagi yang meminta izin untuk berpamitan
dahulu dengan keluarganya. Keputusan untuk mengikuti Yesus harus tegas dan
jelas. Harus ada kesediaan untuk melepaskan segala yang mengikat hidup dan
membuat mereka masih berpikir ‘di belakang’.
Demikian pula kepada kita, orang-orang yang
mengimani Yesus. Setiap kita dituntut untuk meninggalkan
zona nyaman kita untuk berani manjalani sebuah model hidup yang berbeda, yang
penuh risiko, ketidakpastian, tantangan dan penderitaan. Inilah cara hidup yang
berorientasi pada palayanan dengan meninggalkan berbagai kepentingan diri
dan egoisme serta kenyamanan hidup. Dengan demikian, setiap kita hendaknya meninggalkan kepentingan dan
urusan lain, bahkan keluarga sekalipun, jika ingin fokus pada cara hidup dan
cara kerjanya Yesus. Pilihan hidup itu terasa keras dan terbilang berat, namun
bukan mustahil untuk dijalankan.
Tuntutan Yesus
demikan bukan tanpa suatu tujuan. Ia menuntut demikian demi keselamatan kita.
Di dunia ini memang Dia tidak mempunyai tempat untuk meletakan kepala, akan
tetapi di dalam Kerajaan-Nya, Ia memiliki tempat itu, dan setiap orang yang
mengikuti Dia dengan setia di jalan hidupnya, akan mengambil bagian dalam
tempat di mana Ia meletakkan kepala-Nya.
Patutlah kita
menunjukkan radikalitas iman kita dalam seluruh hidup kita, terutama dalam menjalankan
tugas pelayanan kita. Janganlah kita kuatir dan takut, sebab Dia yang menuntut
iman yang radikal kepada kita akan tetap menyertai kita. Jika kita merasa susah
itulah bagian yang kita tanggung, namun kesulitan itu dan apapun yang kita
korbankan tidak berakhir dengan kesia-siaan. Dia akan memberikan tempat bagi
kita dalam kerajaan-Nya untuk meletakan kepala kita.
Saya mengakhiri
refleksi ini dengan mengutip kata-kata Raplh Waldo: “Untuk segala sesuatu yang
kau korbankan, kau memperoleh sesuatu yang lain. Dan untuk segala sesuatu yang
kau dapatkan, ada sesuatu yang kau korbankan” (BBSS, p.375). Demi mengikuti
Yesus dan keselamatan yang dianugerahkan-Nya kepada kita, maka kita harus
mengorbankan harapan dan keinginan diri kita sendiri. Itulah tanda iman yang
radikal. Sudahkah saya memiliki iman seperti ini? ***Apol***