Jumat, 29 Mei 2020

YOHANES DIKASIHI PETRUS DIPILIH


Yoh 21:20-25
Yohanes adalah murid yang dikasihi oleh Yesus. Ada rasa persahabatan yang dalam yang ditunjukkan Yesus kepadanya. Karena relasi ini maka Yohanes lebih dekat dengan Yesus, ia menjadi yang istimewa. Kepadanya terarah rasa persahabatan Yesus yang kuat, yang juga mengandung arti kemesraan.
Dan para murid yang lain pun tahu dan mengakui itu. Petrus, misalnya, meminta Yohanes yang duduk paling dekat dan bersandar pada-Nya pada waktu mereka duduk makan untuk menanyakan kepada Yesus siapakah yang dimaksudkan-Nya ketika Ia mengatakan bahwa seorang dari antara para murid-Nya akan menyerahkan Dia. Pengakuan itu tersirat juga dalam pertanyaan Petrus kepada Yesus tentang hidup Yohanes dalam Injil hari ini.

Sebagai murid yang dikasihi-Nya, Yohanes selalu menyertai Yesus ke mana saja Ia pergi. Sampai akhir hidup Yesus, Yohanes setia menyertai-Nya. Dan sebagaimana disaksikan dan dituliskan Yohanes untuk kita bahwa kepada dia, di akhir hidup-Nya, sebelum menghembuskan nafas yang terakhir, Yesus menyerahkan ibu-Nya: “Ibu, inilah anakmu!” Demikian pula kepada murid yang dikasihi itu Yesus menyerahkan ibu-Nya: “Inilah ibumu!” (Yoh 13:26-27).
Sekalipun demikian, Kitab Suci menyaksikan bahwa bukanlah Yohanes, murid yang terkasih itulah yang dipilih Yesus untuk menggembalakan domba-domba-Nya. Petruslah yang dipilih dan ditetapkan Yesus menjadi pemimpin umat. Dan pilihan-Nya itu tidak bisa ditawar-tawar. Ia berkuasa mutlak atas pilihan-Nya.
Pada Injil kemarin setelah Yesus menanyakan tiga kali apakah ia mengasihi-Nya dan ditanggapi secara positif maka berkatalah Yesus kepadanya: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”. Di akhir dialognya dengan Petrus itu, Yesus berkata pula: “Ikutlah Aku!” Demikian pula ajakan ini diulangi Yesus kembali dalam Injil hari ini ketika Petrus melihat Yohanes dan menyanyakan perihal apakah yang akan terjadi dengan Yohanes. “Ikutlah Aku” adalah hal terpenting dan ini berkenaan dengan urusan Petrus, yaitu menggembalakan domba-domba-Nya.

Beberapa hal dapat kita lihat di sini dan menjadi pelajaran berarti buat kita. Pertama, Yesus tidak menjadikan suatu kecenderungan relasi yang dekat dengan Yohanes yang disebut murid terkasih itu sebagai alasan untuk mengorbtikannya. Untuk menjadi gembala, Yesus memilih Petrus. Ini mengajarkan kita bahwa jika ada orang lain yang lebih tepat untuk diorbitkan maka argumentasi kedekatan tidak bisa dipaksakan. Ini penting untuk melawan masalah-masalah seperti kecenderungan nepotisme, kolusi dan korupsi yang menjadi masalah besar yang selama ini menghantui kehidupan kita bersama.
Sebaliknya seperti Yohanes kita belajar untuk tidak “cemburu” sebab kepada kita Tuhan sudah memberikan tugas dan tanggung jawab berbeda. Petrus dipilih menjadi gembala domba, namun kepada Yohanes Yesus memberikan kepercayaan ibu-Nya. Demikianlah kita belajar melihat hal yang baik dan positif dalam kenyataan bahwa kedekatan tampaknya diabaikan misalnya ketika kita mengharapkan kita diorbitkan sementara kenyataan tidaklah demikian.

Kedua, dengan mengatakan kepada Petrus “itu bukan urusan” dan karena itu mengajak Petrus untuk konsentrasi pada panggilan-Nya, “Ikutlah Aku”, Yesus mengajak kita pula untuk berkonsentrasi pada tanggung jawab kita, dan bukan urusan orang lain. Fokus itu memberi jaminan kepada kita untuk menjalankan tugas kita dengan berhasil, betapapun berat dan sulitnya tugas itu.
Kita masing-masing memiliki tugas dan tanggung jawab berbeda, berbeda pula dalam soal berat dan ringannya, akan tetapi jika kita fokus pada jalan panggilan-Nya, “Ikutlah Aku”, maka kita memiliki jaminan untuk melaksanakan tugas dengan baik dan berhasil.
Marilah kita menghayati pesan pewartaan Injil hari untuk hidup kita agar kita semakin bertumbuh dalam kasih yang menjadi dasar kita dipanggil dan dipilih Kristus. Tuhan kiranya menuntun kita dalam perjuangan hidup kita untuk mengikuti Dia di jalan tugas dan panggilan kita yang berbeda-beda.*** Apol Wuwur***

Selasa, 26 Mei 2020

SALING MENDOAKAN


Kis 20:28 – 38 dan Yoh 17:11b-19
Pernah saya singgah di sebuah kios untuk membeli sesuatu. Memasuki pelataran kios tersebut, saya tertarik dengan sebuah tulisan di atas palang pintu kios itu yang berbunyi, “Doa Ibu.” Rupanya kios itu bernama Doa Ibu. Cukup lama saya membaca dan menyimak tulisan itu sambil mencari-cari sendiri dalam hati apa latar pemilik kios memilih frase “Doa Ibu”. Sambil menunggu barang belanjaan dibungkus, saya iseng saja bertanya kepada empunya kios, kira-kira apa latar di balik nama kiosnya. Ternyata beliau sangat responsif dengan pertanyaan saya. Dia (pemilik kios) menceritakan bahwa pada awal mula mendirikan kios itu ia menghadapi banyak sekalih tantangan. Pasang surut silih berganti mewarnai kehidupan kiosnya. 
Kadang ia tegar. Tetapi lebih banyak ia mengalami depresi, sedih dan marah-marah tanpa alasan yang jelas. Ia sempat berniat untuk menutup kiosnya. Tetapi ibunya yang kebetulan tinggal bersama-sama dengan dirinya melarang niatnya tersebut. Sang ibu mencoba menghibur dan menguatkan hatinya. Ibunya dengan telaten mengatakan bahwa ia harus banyak sabar. Ibunya juga menganjurkan supaya mereka jangan lupa berdoa. Kadang-kadang tanpa sengaja ia melihat ibunya khusyuk sekalih berdoa. Dan ia yakin, ibunya pasti sementara mendoakan keselamatan dan kesuksesan kehidupan mereka. Terutama kehidupan kios yang menjadi tumpuan utama hidup mereka. Memang butuh waktu yang tidak cepat untuk memulihkan keadaan kiosnya. Namun perlahan-lahan, buah dari doa sang ibu mulai menunjukkan hasil. Pemasukan dari kios kecilnya mulai meningkat. Ia mulai mengembangkan usaha kiosnya berkat doa dari sang ibu.
           
Dalam bacaan Injil hari ini (Yoh 17:11b-19), Yesus dengan sangat khusyuk berdoa kepada Bapa-Nya bagi para murid-murid-Nya. Kalau kita memperhatikan dengan cermat isi bacaan ini, kita mengetahui ada tiga intensi (niat) yang diselipkan Yesus dalam doa-Nya. Pertama, Yesus berdoa agar Sang Bapa tetap menjaga para murid dalam kekudusan nama-Nya agar para murid tetap solid, bersatu padu dan tidak pecah. Seperti kesatuan erat yang dimiliki oleh Diri-Nya dan Sang Bapa, demikian pula rasa kesatuan harus tercipta di antara para murid. Kedua, Yesus juga berdoa agar Sang Bapa melindungi para murid dari segala yang jahat. Pasti akan banyak tantangan dan kesulitan yang memborbardir kehidupan para murid setelah Yesus pergi dari dunia. Kekuatiran Yesus ini wajar mengingat belum banyak hal yang dipahami oleh para murid terhadap segala hal yang dikatakan-Nya. Ketiga, Yesus mau supaya Sang Bapa menguduskan para murid-Nya dalam kebenaran. Seperti sang Bapa adalah kebenaran, demikian juga para murid juga harus tetap berada dalam kebenaran.
           
Yesus menegaskan melalui doanya bahwa selama ada bersama-sama dengan para murid, Ia telah membimbing dan menggembleng agar langkah hidup para murid-Nya tetap terarah kepada Sang Bapa. Hati mereka tidak boleh melenceng dan menjadi binasa oleh kuasa dunia. Mereka harus tetap bersatu dan solid dalam kekudusan Sang Bapa di sorga. Hanya dengan kesatuan di antara para murid maka misi Kerajaan Allah di tengah dunia dapat ditegakkan. Kalau mereka cerai berai, maka misi itu akan lenyap dari muka bumi. Seperti kesatuan yang tercipta antara Sang Anak dan Sang Bapa, para murid harus bersatu tidak hanya di antara mereka tetapi juga dalam rasa kesatuan dengan Yesus dan Bapa sendiri. Dalam rasa kesatuan itulah, Sang Bapa pasti tidak akan meninggalkan anak-anak-Nya menjadi terlantar. Melalui Doa Yesus, Sang Bapa pasti menjaga keselamatan anak-anak-Nya dari kuasa dunia yang menyesatkan. Para murid akan mengalami benturan dan bentrokan dengan berbagai kuasa dunia yang tidak menyukai mereka. 
Namun, dalam kuasa Allah, para murid akan terus dijaga dan dibimbing menuju kebenaran. Seperti Sang Bapa adalah Kebenaran, Yesus mengharapkan dalam doa-Nya agar para murid senantiasa dikuduskan dalam kebenaran. Tantangan dan tawaran dunia begitu menggiurkan bagi para murid untuk bisa lari dari pelukan kasih Allah. Oleh karena itu, hati mereka harus terus diluruskan dan dibimbing untuk berada dalam kebenaran kasih-Nya. Yesus menyadari bahwa tidak lama lagi Ia bersama-sama dengan para murid-Nya. Ia akan pergi dan para murid akan mengambil alih tongkat estafet kepemimpinan yang telah ditinggalkan-Nya. Para murid akan melanjutkan karya pelayanan Allah. Oleh karena itu Yesus perlu membakar segala intensi-Nya kepada Bapa, agar karya pelayanan yang telah dirintis-Nya tidak putus dan menjadi hilang. Melalui Paulus, salah satu murid yang paling bersinar, karya Allah itu terus berlanjut dan tetap digaungkan ke seluruh pelosok dunia. Paulus tidak hanya tampil menjadi seorang murid yang setia dan militan tetapi ia juga dapat menjadi seorang mentor yang bijaksana bagi para sahabatnya. Dalam amanat perpisahannya dengan para jemaat dari Efesus, Paulus menasihati para koleganya tersebut agar mereka tetap menjaga diri dan seluruh kawanan yang telah ditetapkan oleh roh kudus (Kis 20:28). Rasa persatuan dan soliditas itu harus membaluri seluruh diri mereka sehingga mereka tidak mudah diceraiberaikan oleh serigala-serigala yang datang mengancam nyawa mereka.
           
Doa merupakan salah satu pilar hidup iman kita. Tanpa doa, hidup kita ibarat tanaman yang menjadi kering karena tidak pernah mendapat air. Seperti Yesus yang mendoakan para murid-Nya, hendaknya kita juga tetap berdoa. Kita tidak hanya berdoa bagi diri kita sendiri. Tetapi kita juga berdoa untuk orang lain. Kita saling mendoakan. Kita memohon bantuan Sang Bapa melalui Putra-Nya Yesus Kristus, agar kita senantiasa diberi kekuatan untuk tetap bersatu terutama rasa persatuan dan soliditas kita dalam satu keluarga besar Rumah Sakit Bukit Lewoleba. Rasa persatuan dan soliditas menjadi kunci utama bagi kita dalam memberikan pelayanan yang prima bagi para saudara/saudari di ruang-ruang pasien. Rasa yang sama juga dapat menjadi benteng yang kokoh bagi kita dalam menghadapi segala hambatan dan kesulitan yang menerpa kita. Bagi saudara/i-ku yang sementara berbaring di ruang-ruang pasien, janganlah putus harapan untuk tetap berdoa karena dalam iman kita percaya Allah tidak pernah akan memalingkan wajah-Nya dari hadapan kita. Dalam semangat doa itu pula, kita semua yang berhimpun dalam kesatuan dengan Allah dan Putra-Nya Yesus Kristus, senantiasa mendapat berkat keselamatan dan kesuksesan dalam menapaki ziarah hidup kita. Kita juga selalu dibimbing untuk berjalan dalam kebenaran, karena Allah kita adalah sang kebenaran itu sendiri. Bersama Bunda Maria yang selalu menolong, mari kita saling mendoakan satu sama lain di bulan yang penuh rahmat ini. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Senin, 25 Mei 2020

KEKUATAN DOA MENEGUHKAN IMAN KITA


KIS 20:17-27; YOH 17:1-11a
Perkembangan zaman saat ini semakin canggih, maju dan modern, dimana nilai-nilai universal yang mengatur hidup bersama dan menjaga martabat hidup manusia dan lingkungannya serasa dijungkirbalikan, bahkan nilai-nilai kebajikan hidup Kristiani semakin tidak nampak dan diabaikan sehingga kita serasa kehilangan orientasi hidup. Hal yang kita rasakan sekarang bahwa zaman ini menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi dan kenikmatan duniawi lainnya. Sebagai murid-murid Kristus kita diharuskan untuk melakukan evaluasi dan introspeksi diri terhadap orientasi hidup, pelayanan dan kesaksian hidup nyata kita. Untuk meningkatkan hidup iman dan kesetiaan kita kepada Allah, bacaan suci hari ini menampilkan dua tokoh inspiratif yang menginspirasi kita untuk selalu mempersembahkan seluruh hidup dan pelayanan kita kepada Allah. dua tokoh inspiratif itu yakni St. Paulus dan Yesus.

Kita bisa belajar dari kesetiaan dan ketekunan dari Paulus yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, dimana Paulus memiliki konsep pelayanan yang amat jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan panggilannya sebagai pewarta Injil, meskipun itu berarti ia akan berhadapan dengan penolakan, penderitaan dan kematian sekalipun. Dalam misi pewartaannya, ia tidak hanya ingin menyenangkan teling pendengarnya, namun tujuannya selalu jelas supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Itulah sebabnya, ia memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun kepada orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Untuk merebut hati umat yang dilayaninya, Ia selalu tekun dalam doa dan pengajaran. Ia bahkan berani berkata bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang baik yang diselamatkan maupun yang akan binasa. Paulus sangat berorientasi pada tujuan akhir, yaitu menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Yesus Kristus kepadanya. Paulus dalam setiap pelayanannya tidak sedikit pun bermaksud mencari popularitas diri, kedudukan, pengakuan atau pun mencari kekayaan. 
Namun, motivasi Paulus adalah untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah dan bukan oleh ambisi pribadinya. Paulus memusatkan hidupnya pada Kristus agar Yesus Kristus semakin dimuliakan dan dikenal oleh banyak orang. Sikap hidup Paulus ini kiranya menjadi panutan bagi kita semua, meskipun kita bukan biarawan/biarawati, katekis, guru agama atau agen-agen pastoral lainnya, tetapi hidup kita harus berpusatkan pada Kristus, kiranya menjadi kerinduan kita semua. Tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi saksi Kristus kita akan mengalami sekian banyak tantangan dan resiko, namun Paulus telah membuka jalan dan telah membangkitkan semangat kita semua untuk tetap bertahan.

Injil hari ini menggambarkan satu teladan istimewa yang dipraktekkan oleh Yesus yakni mendoakan dan menyerahkan murid-muridNya kepada Allah Bapa-Nya agar mereka tetap bersatu. Doa Yesus ini dianggap doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam doa-Nya, Yesus menyatakan bahwa Ia telah memuliakan Allah Bapa melalui hidup dan karya-Nya di dunia, namun saat kematian-Nya telah tiba. Bila sebelumnya Yesus telah memuliakan Bapa melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.

Injil yang didaraskan hari ini menjelaskan doa pokok doa syafat Yesus. Pertama, di dalam permulaan doa-Nya Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Hal ini tidak berarti bahwa Yesus sangat egois, karena sesungguhnya Ia menunjukkan semua itu bagi kemuliaan Bapa-Nya. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu salib (Yoh 17:2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan dosa umat manusia. Melalui karya salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal, dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan dalam diri Yesus sendiri. Di sini kita dapat melihat keakraban Yesus dengan Allah Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan para pengikut-Nya di masa sekarang untuk ikut ambil bagian menikmati keakraban dengan Allah Bapa. Sebab itu, kita harus memanfaatkan setiap waktu kita untuk membangun relasi komunikasi dengan Allah untuk menikmati keakraban dengan Bapa seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya. Namun yang perlu kita perhatikan bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya membuat kita semakin menghormati Dia sebagai sumber dan asal tujuan hidup kita.

Pokok doa kedua dari doa syafat Yesus kepada Bapa adalah permohonan untuk para murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memlihara para murid karena mereka telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa. Yesus menghendaki agar para murid hidup dalam persatuan dan setia mewartakan sabda Tuhan. Dalam doa-Nya, Yesus memberitahukan nama Allah kepada murid-murid-Nya, artinya para murid dapat mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan semua itu melalui hidup, karya pewartaan dan salib-Nya. Para murid percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa dan Bapalah yang telah mengutus-Nya ke dunia untuk melaksanakan misi keselamatan bagi mereka. Yesus telah memelihara para murid-Nya dan tidak seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk binasa. Sekarang Yesus akan kembali kepada Bapa, tetapi murid-murid dan mereka yang percaya kepada-Nya masih tinggal di dunia untuk meneruskan misi pewartaan-Nya. Karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk menganugerahkan rahmat pemeliharaan atas para murid-Nya.

Dalam doa-Nya, Yesus tidak berdoa bagi dunia, tetapi bagi milik-Nya, karena Dia ingin agar mereka semua terjamin pasti dalam hubungan persatuan dengan Allah sehingga hidup mereka penuh dengan sukacita dan mereka dapat disiapkan untuk meneruskan misi pewartaan Yesus bagi dunia ini. Doa Yesus ini, membentangkan kasih Yesus dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban rencana-Nya bagi semua orang beriman.

Paulus telah merintis jalan pewartaan dengan kelemah-lembutan untuk memenangkan hati musuh-musuhnya. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem dalam misi pewartaan untuk memperkenalkan Yesus, ia menasihati dan mendorong para penatua  di Efesus untuk menjaga dan mengembangkan iman umat agar mereka senantiasa setia dan waspada terhadap pengaruh orang-orang Yahudi dan Yunani yang anti Kristus. Sedangkan Yesus mendoakan murid-murid-Nya untuk tetap hidup dalam persekutuan kasih agar setia mewartakan kasih Allah di dunia. Kehidupan doa yang teratur memungkinkan kita hidup dalam persekutuan bersama Allah sehingga kita menjadi saksi dan pewarta sabda kasih Allah untuk membawa semua orang ke jalan pertobatan. Doa Yesus ini menunjukkan perhatian dan kepedulian-Nya bagi kita semua murid-murid-Nya yang percaya pada masa kini. Agar kita dapat menjadi penerus pewarta Injil-Nya bagi dunia, maka kita membutuhkan penyertaan dan perlindungan dari Allah Bapa.  
Dua tokoh inspiratif hari ini menginspirasi kita agar kita setia dalam panggilan hidup kita masing-masing seraya terus bersaksi mengemban misi keselamatan yang dipercayakan Yesus kepada kita semua oleh karena pembaptisan yang telah memeterai kita. Doa Yesus bagi para murid-Nya memberi teladan bagi kita semua untuk selalu menghidupi kebiasaan doa dari waktu ke waktu karena doa pada dirinya memiliki kekuatan dahsyat untuk membantu kita keluar dari tantangan hidup yang kita hadapi. Di tengah pandemi covid-19 ini, kita semua diajak untuk menggalakan doa secara perorangan atau secara berjemaah untuk memohon rahmat pembebasan dari Allah agar kita terhindar dan dijauhkan dari virus mematikan ini. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan contoh dan teladan istimewa yakni mendoakan para murid-Nya, karena itu, kita juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendoakan para pasien yang sedang mendapatkan perawatan medis, kita juga berdoa bagi keselamatan sama saudara kita yang tengah dirawat akibat terkena virus corona. Semoga Tuhan senantiasa menyertai kita semua agar terbebas dari wabah mematikan ini. Amin....**bw**

Jumat, 22 Mei 2020

DIA YANG TELAH TURUN DARI SORGA, YAKNI ANAK MANUSIA


Yoh 3 : 7-15
Di tempat saya ada misionaris  dari Eropa dan Amerika yang berkerja membantu masyarakat Desa disaat kami masih kecil. Para misionaris ini sungguh-sungguh sangat menyatuh dengan masyarakat setempat. Mereka belajar, bekerja  dan pada akhirnya bahasa setempat juga fasih dalam berbicara.  Mereka hidup menurut tata sopan santun serta bagaimana beradaptasi dengan keadaan daerah setempat. Namun dengan adanya budaya setempat bagaimana misionar menyampaikan pedoman-pedoman iman dan moral untuk memperbaiki yang salah di dalam masyarakat setempat. Ada dua prinsip yang berjalan serentak yakni Nilai-nilai dan tradisi lokal yang baik di pertahankan dan ajaran Kristiani ditambahkan. Dengan demikian terbentuklah warga Kristiani lokal.

Bacaan hari ini menegaskan bahwa Yesus berasala dari Surga. Dia datang ke dunia untuk berbicara tentang hal-hal di rurgawi. Pewartaannya menggambarkan segala hal surgawi. Yesus menggambarkan Roh yang merupakan kenyataan surgawi, seperti angin yang dapat dialami dunia. Yesus menggambarkan kehidupan baru dalam Roh, seperti orang yang dilahirkan. Yesus menggambarkan salibNya yang akan membawa semua orang yang percaya, masuk dalam keselamatan surga, seperti ular tembaga yang di tinggikan oleh Musa yang menyelematakan orang-orang Israel di padang gurun.  Melalui tanda-tanda duniawi, Yesus memberikan gambaran hal-hal surgawi.

Siapa yang mengenal Bapa Nikodemus yang adalah seorang pengajar bangsa Israel, karena itu ia berasal dari kalangan terdidik. Karena Iman dan kehidupan sosial tak terpisahkan dalam komunitas Yahudi, bisa dipastikan bahwa Nikodemus terlibat dalam studi intensip tentang Taurat Musa Dan kitab Para Nabi. Demikian juga rekaman-rekaman sejarah bangsa Israel yang selalu dilihat dalam kerangka rencana keselamatan. Semuanya dapat didefinisikan sebagai upaya untuk mengenal Allah. Nikodemus mengenal Allah sebagai sebuah hasil  studi dan refleksi, sementara Yesus mengenal Allah sebagai pribadi yang melekat pada Bapa itu sendiri. Karena itu Yesus berani secara tak langsung  mengatakan , bahwa karunia semacam itu hanya diberikan kepada mereka yang memang turun dari surga. Itu berarti Yesus turun dari surga dan memiliki pengenalan yang unik tentang hakekat Bapa surgawi. Tidak ada orang yang tidak ingin mengenal Bapa. Itu alasan mengapa kita beriman. Namun proses pengenalan Allah bervariasi dari orang ke orang, tergantung pada kerelaan, kehendak bebas dan kemauan untuk merenung dalam kerendahan hati. Jika orang tidak rendah hati, ia tenggelam dalam kekuatan intelektualnya semaya-mata dan akhirnya tidak mengakui peranan Tuhan. Nikodemus menunjukan kerendahan hatinya.

Saat-saat perpisahan tiba, Yesus akan meninggalkan dunia fana. Para murid pasti menyaksikan dengan hati pedih. Tetapi mereka diberi semangat oleh Yesus, bahwa dalam namaNya mereka akan melakukan mujizat-mujizat seperti yang telah Dia lakukan. Dengan dasar itu Para murid akan mendapat kombinasi dua kekuatan yang Ilahi dan yang manusiawi. Mereka akan membentuk komunitas manusiawi dengan wajah baru menurut ajaran Yesus.  Peristiwa kenaikan ke surga mengakhiri periode Pelayanan Yesus dalam wujud manusia, di tengah umat manusia. Dengan itu peristiwa tugas Pewartaan Firman Tuhan beralih ketangan para rasul. Para rasul bukanlah pribadi Ilahi yang berirkarnasi menjadi manusia. Mereka manusia yang ditempah khusus untuk bertindak atas nama Kristus, demi pengembangan kerajaan Allah. “Kamulah saksi-saksi dari semua ini”.  Kta Yesus. Dengan demikian, para rasul bekerja dalam daya dan kreativitas manusiawi tetapi di tuntun oleh Roh Kudus. Merayaka kenaikan Yesus ke Surga berarti merayakan kepenuhan dimensi kamusiaan Yesus. Ia telah hidup sebagai manusia,  kini Ia disempurnakan dalam kemuliaan Allah karena kesetiaannya. Karena itu perayaan kenaikan juga bernuansa harapan, karena setiap orang beriman yang setia akan mendapatkan kemuliaan seperti yang telah dianugerahkan kepada Yesus. Nikodemus menunjukan kerendahan hatinya walau ia seorang intelektual sehingga diujung perjalanan nanti, Nikodemus akan masuk dalam bilangan murid Tuhan.

( Yoh 3:7 -15 ) Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali. Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh." Nikodemus menjawab, katanya: "Bagaimanakah mungkin hal itu terjadi?"  Jawab Yesus: "Engkau adalah pengajar Israel, dan engkau tidak mengerti hal-hal itu?  Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kami berkata-kata tentang apa yang kami ketahui dan kami bersaksi tentang apa yang kami lihat, tetapi kamu tidak menerima kesaksian kami.  Kamu tidak percaya, waktu Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal duniawi, bagaimana kamu akan percaya, kalau Aku berkata-kata dengan kamu tentang hal-hal sorgawi?   Tidak ada seorang pun yang telah naik ke sorga, selain dari pada Dia yang telah turun dari sorga, yaitu Anak Manusia.  Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal.  Bagaimana perjuangan anda untuk mengenal Tuhan secara lebih personal ? Semoga bermanfaat.  ***JK Lejab***

Selasa, 19 Mei 2020

TETAP TEGUH HATI


Kis 17:15,22 – 18:1 dan Yoh 16:12-15
Pengalaman mengalami penolakan merupakan sebuah pengalaman yang sungguh tidak mengenakan. Ada banyak pengalaman demikian yang mungkin saja pernah kita alami. Kita ditolak untuk menentukan pilihan hidup sendiri, ditolak masuk dalam rumah dengan alasan tertentu, ditolak untuk masuk bekerja dalam sebuah institusi atau organisasi, ditolak untuk menyampaikan pendapat, ditolak untuk menyampaikan kebenaran, dan masih banyak lagi pengalaman penolakan yang kita rasakan. Rasa kecewa, sakit hati, marah pasti menyelimuti hati kita sebagai seorang manusia. Bahkan ada orang yang sungguh-sungguh bekerja, berjuang dan berkorban, tetapi apa yang ia dapatkan tidak sebanding dengan apa yang ia berikan. Kualitas pribadi dan kinerjanya tetap tidak diakui dan mengalami penolakan.
           
Dalam bacaan pertama hari ini, mengisahkan peristiwa penolakan yang dialami oleh rasul Paulus di kota Atena. Bermula dari keprihatinan Paulus terhadap cara hidup orang Atena yang tidak sesuai dengan kehendak Allah; Paulus kemudian membangun diskusi publik tentang sebuah kebenaran dari Allah yang melibatkan orang-orang Yahudi dan para pemikir dari golongan Epikuros dan Stoa. Orang-orang tersebut tidak puas dengan penjelasan Paulus. Lalu mereka membawanya ke sidang Areopagus untuk mendengarkan segala klarifikasi dan penjelasan tentang ajaran baru yang terasa sangat asing di telinga mereka. Dari atas Areopagus, Paulus dengan lantang membeberkan fakta kebenaran yang ia yakini seraya mengkritik sikap orang Atena yang melakukan pemujaan dan penyembahan terhadap allah asing yang mereka sendiri tidak kenal. Paulus kemudian memperkenalkan Allah yang ia kenal. Allah yang telah memberikan hidup dan nafas dan segala sesuatu kepada semua orang (Kis 17:22) termasuk kepada orang Atena sendiri. Tetapi banyak orang Atena yang mengolok, mengejek dan menolak ajaran dan kehadirannya di kota mereka. Dari sekian banyak orang yang menolak, hanya segelintir orang yang percaya dan mengikuti Paulus. Di antaranya adalah Dionisius dan seorang perempuan yang bernama Damaris (Kis 17:34).
           
Walaupun mengalami penolakan, Paulus tetap teguh hati. Ia tidak merasa kecewa, sakit hati, marah, dan mundur dari karya misionernya. Malahan dengan pengalaman yang tidak enak tersebut, semakin menguatkan dan meneguhkan imannya. Ia meyakini bahwa berjalan dalam nama Allah dan Yesus tentu tidak mudah. Ada banyak konsekuensi yang mengikutinya. Seperti pengalaman penolakan yang telah ia terima. Paulus percaya bahwa roh kebenaran yang dijanjikan oleh Yesus telah menyata dan berkobar-kobar dalam dirinya. Roh kebenaran itulah yang menuntun Paulus untuk membawa orang Atena ke dalam kebenaran. Kebenaran yang menuntun mereka dari kegelapan dosa menuju kepada terang yang membawa keselamatan. Bahwa apa yang selama ini disembah dan dipuja orang Atena adalah sesuatu yang sesat. Allah yang tidak mereka kenal tidak mungkin membawa mereka kepada kebenaran. Kebenaran itu hanya ada pada Allah yang sungguh dikenal dan diyakini. Sang kebenaran itu adalah Allah dan Yesus sendiri. Berkat karya roh kudus Paulus juga memperkenalkan Yesus dan Allah serta menggambarkan hal-bal baru yang akan terjadi seperti hari penghakiman atas dunia. Apa yang dilakukan oleh Paulus telah menegaskan dan menghidupkan kembali kata-kata Yesus sebelum kenaikan-Nya ke sorga bahwa roh kebenaran akan memimpin para murid-Nya ke dalam seluruh kebenaran (Yoh 16:13).
           
Dalam sabda-Nya kepada para murid dalam Injil hari ini (Yoh 16:12-15), Yesus mengatakan bahwa masih banyak hal yang mesti Ia sampaikan kepada mereka, tetapi para murid-Nya sendiri belum siap untuk menanggungnya (Yoh 16:12). Para murid belum sepenuhnya paham dengan apa yang sudah diwartakan oleh Yesus. Akan tiba saatnya, dimana roh kebenaran itu akan datang dan membuka pikiran mereka sehingga mereka menjadi mengerti dengan semua hal yang telah disampaikan oleh Yesus. Roh kebenaran itu pula yang akan membimbing dan menuntun mereka untuk pergi mewartakan Injil. Walaupun mendapat penolakan, roh kebenaran akan selalu meneguhkan dan menguatkan hati mereka. Roh kebenaran tidak membiarkan mereka berjalan sendiri. Roh kebenaran akan menjadi pendamping setia para murid dalam menjalankan karya misionernya. Para murid tidak perlu takut, karena roh kebenaran akan menyatakan kemuliaan Allah sehingga semakin banyak orang yang percaya dan mengikuti Dia.
           
Pengalaman penolakan yang dialami Paulus pasti akan terus terjadi dan mengulang dalam sejarah hidup manusia. Sebagai seorang murid Tuhan, kita juga sudah, sedang dan akan mengalami peristiwa penolakan itu. Dalam menjalani panggilan sesuai dengan bidang tugas kita masing-masing, ada banyak dinamika penolakan yang kita alami. Terutama ketika kita hendak menyuarakan kebenaran dan keadilan akan sesuatu hal. Pasti tidak sedikit orang yang memusuhi dan menolak kita. Mirisnya, banyak orang baik dan hebat yang suka mencari jalan aman. Mereka tidak mau mendobrak sesuatu yang keliru dan salah. Mungkin demi mengamankan sesuatu agar tidak terlepas begitu saja. Entah itu jabatan, tawaran materi, dan sebagainya. Hari ini, Yesus mengajarkan kepada kita agar kita tidak perlu takut. Kita harus tetap teguh hati karena roh kebenaran itu akan selalu menjaga, membimbing dan memimpin kita ke dalam seluruh kebenaran. Kebenaran itu tidak akan pernah kalah. Walau terus ditindas dan ditolak, ia akan tetap berkibar memberi keselamatan hidup kepada kita. Mari kita tetap teguh hati walaupun terus ditolak. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
           

Minggu, 17 Mei 2020

BERKAT DALAM TANTANGAN


Kis 16:11-15 & Yoh 15:26-16:4a
Agama Katolik diketahui masuk pertama di Kabupaten Lembata melalui kampung Lamalera. Sebuah kampung yang terletak di selatan pulau Lembata. Kurang lebih 80 Km jaraknya dari pusat kota Lewoleba. Dalam sejarah Katolik pulau Lembata, kita mengetahui bahwa embrio agama Katolik dibawa oleh dua imam Jesuit yakni Pater C. Ten Brink dan Pater Y. De Vries pada tahun 1886. Satu peristiwa besar yang menandai masuknya agama Katolik di Lamalera adalah dipermandikannya 125 anak pada tanggal 8 dan 9 Juni 1886 (https://beraona.wordpress.com). Walaupun mengalami tantangan terutama soal tenaga imam yang melaksanakan penyiaran agama, kenyataannya agama Katolik dapat diterima dan “beranak pinak” di kampung tersebut. Dari Lamalera, agama Katolik kemudian menyebar ke seluruh pelosok wilayah Lembata. Selain misionaris Serikat Sabda Allah (SVD), patut dicatat bahwa melalui “tangan dingin” para guru agama dari kampung Lamalera, agama Katolik dapat menjejakkan eksistensinya di kampung-kampung lain dalam pulau Lembata. Memang betul kesuksesan itu biasanya diawali dari sebuah perjuangan dan pengorbanan. Para guru agama Katolik ini rela berjalan kaki dari satu kampung ke kampung yang lain dengan jarak yang sangat jauh. Tentu dengan melintasi kondisi jalan yang tidak sebaik sekarang. Mereka harus menerobos hutan dan menghindari binatang buas. Tidak jarang mereka tidur di pinggir jalan / hutan untuk berdamai dengan gelapnya malam. Atau sekedar melepas penat. Kehadiran mereka di kampung-kampung juga tidak selamanya berjalan mulus. Mereka harus bertahan dari berbagai keterbatasan dan mengalami penolakan dari warga setempat. Tetapi mereka tidak putus asa dan tetap memberi warta Injil bagi semua orang yang belum mengenal Yesus Kristus. Berkat perjuangan dan pengorbanan mereka, semakin banyak orang yang mengenal dan mengikuti Yesus Kristus. Hingga kini agama Katolik menjadi salah satu agama yang dianut oleh mayoritas masyarakat Kabupaten Lembata.

Dalam amanat perpisahan-Nya, Yesus menjanjikan roh kebenaran yang datang dari Bapa-Nya. Yesus memang akan pergi dari dunia tetapi roh kebenaran itu akan datang untuk bersaksi tentang Allah dan Yesus. Roh kebenaran itu yang kita kenal dengan roh kudus. Ia akan datang bukan saja bersaksi tentang Allah tetapi juga mendampingi para murid agar mereka menjadi lebih matang dan berani. Roh kudus itu yang membuat para murid memiliki wawasan luas akan Sabda Allah. Ditambah dengan kemampuan teknis untuk mengadakan mukjizat atau tanda-tanda heran. Dan mereka akan dipacu untuk terus bersaksi sehingga semakin banyak orang yang percaya kepada Yesus. Dalam perjalanannya ke Makedonia, Paulus bersama kawan-kawannya menyinggahi satu kota yang bernama Filipi. Ia memberitakan Injil di situ dan membawa seorang perempuan, bernama Lidia untuk mengenal dan percaya kepada Yesus. Lidia adalah seorang pengusaha kain yang memiliki status sosial ekonomi yang mapan. Berkat warta St. Paulus, ia dan keluarganya menjadi percaya dan kemudian dibaptis dalam nama Yesus. Untuk membuktikan kepercayaannya itu, ia mengajak Paulus dan para rasul yang lain untuk datang dan menginap di rumahnya  (Kis 16: 14-15).
           
Menjadi rasul dan murid Yesus itu tidak semudah yang kita ucapkan. Yesus sudah memprediksi bahwa para murid-Nya akan menghadapi banyak badai. Badai itu berupa aneka tantangan yang tidak saja menghambat karya misioner tetapi juga mengancam nyawa mereka. Banyak musuh Kristus yang datang dengan membawa nama Allah. Orang-orang itu mengira bahwa para rasul dan murid adalah musuh Allah. Tetapi secara faktual, mereka sesungguhnya adalah musuh Allah. Mereka akan melakukan kekerasan dan kejahatan dengan membawa nama Tuhan. Hal itu mereka lakukan karena mereka tidak mengenal Allah dan Yesus. Para rasul dan murid akan mengalami penindasan, penganiayaan, dan bahkan mereka akan kehilangan nyawa dalam nama Yesus. Stefanus telah membuktikan kesetiaannya kepada Yesus dengan mengorbankan nyawanya (Kis 7:54-60). Ia menjadi martir pertama yang tidak takut dan gentar ketika berbicara atas nama Allah yang ia sembah. Stefanus telah dirasuki dan dibimbing oleh roh kebenaran untuk menjadi saksi Kristus yang handal di tengah dunia.
           
Oleh semua tantangan yang dihadapi oleh para rasul, Yesus mengutus roh kebenaran dari sang Bapa agar mereka semua diteguhkan dan dikuatkan. Roh kebenaran (Roh Kudus) akan menuntun para murid untuk berbicara atas nama kebenaran. Mereka akan fasih berbicara dalam segala bahasa dan membuat banyak tanda heran. Semua orang akan menjadi heran dan kagum atas mereka. Banyak orang akan bertobat dan memberi diri mereka dibaptis. Sekian banyak orang dari hari ke hari akan menyatakan diri mereka bergabung dalam nama Yesus. Seiring dengan itu, roh kebenaran juga menguatkan para rasul dan murid agar mereka tidak takut dengan segala ancaman dan bahaya. Bahkan ketika harus menyerahkan nyawa sekali pun, mereka dengan sukarela menyongsong kematian itu. Darah mereka yang tertumpah adalah pupuk yang menyuburkan benih-benih panggilan. Semakin banyak darah yang tertumpah oleh karena nama Yesus, semakin banyak pula orang yang tergerak untuk percaya dan  berjalan dalam nama Allah dan Yesus.
           
Hidup dalam tantangan tidak selamanya menghanyutkan dan menghancurkan panggilan hidup seseorang. Justru sebaliknya, semakin menguatkan, meneguhkan dan membawa hasil berlipat ganda. Pengalaman para guru agama dari kampung Lamalera yang menjadi pewarta Injil dari kampung ke kampung menjadi inspirasi bagi kita sebagai seorang murid di masa ini. Walau menghadapi banyak tantangan mereka tidak pernah mundur setapak pun. Dan seperti pengalaman para jemaat perdana yang senantiasa dinaungi roh kudus, para guru agama tersebut juga selalu dilindungi, dibimbing dan dituntun oleh roh kebenaran tersebut. Tidak heran, sepak terjang mereka sebagai lokomotif karya pelayanan Allah pada saat itu telah membawa begitu banyak orang menjadi pengikut Kristus. Mereka adalah para saksi Kristus yang tetap dikenang sepanjang masa.

Kita juga menghadapi pelbagai tantangan dengan menjadi seorang murid Kristus di era ini. Walaupun model tantangan itu tidak sama persis dengan yang dihadapi oleh para jemaat perdana dan para guru agama Katolik dari kampung Lamalera. Tetapi konsekuensi menjadi seorang murid Yesus dengan segala tantangannya di masa ini tetap menjadi sesuatu yang niscaya kita hadapi. Kita dituntut untuk tetap bertahan dalam tantangan. Karena hanya dengan demikian, iman kita semakin ditantang untuk menjadi hidup dalam tantangan itu. Kita percaya bahwa roh kebenaran itu juga selalu menjadi pendamping setia hidup kita. Roh kebenaran akan memampukan agar kita lebih matang dan berani menghadapi pelbagai tantangan yang mengancam hidup iman kita. Bahaya Rasionalisme, materialisme, dan hedonisme adalah sederet virus zaman ini yang bisa saja menyeret kita keluar dari iman akan Allah dan Yesus. Dan virus teranyar yang sementara kita hadapi adalah virus Corona (Covid 19). Virus ini tidak hanya mengancam kesehatan jiwa dan raga seluruh umat manusia. Tetapi mengancam keselamatan hidup manusia di segala lini kehidupan. Termasuk hidup iman kita akan Allah. Semoga di masa pandemi Covid-19 ini, kita tetap dikuatkan dan diteguhkan oleh roh kebenaran untuk menghadapi segala tantangan yang mengancam kehidupan iman kita. Kita percaya bahwa di balik segala tantangan yang kita hadapi, ada berkat Tuhan yang akan selalu menaungi hidup kita. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Selasa, 12 Mei 2020

RANTING YANG BAIK


Kis 15:1-6 & Yoh 15:1-8
Hari ini kita mengenang satu peristiwa besar dalam sejarah Gereja Katolik dunia yang terjadi 103 tahun yang lalu. Peristiwa itu adalah penampakan Santa Perawan Maria yang pertama kali, pada tanggal 13 Mei 1917 kepada tiga orang anak gembala; Lusia dos Santos, Yasinta Marto dan Fransesko Marto di Bukit  Cova da Iria, Dusun Fatima, Keuskupan Leiria dekat Pantai Barat Portugal. Peristiwa penampakan itu terjadi pada siang hari. Nampak suatu berkas cahaya yang terbagi menjadi dua rangkaian kilat. Lalu disusul dengan penglihatan para anak gembala terhadap satu sosok wanita cantik. Wanita itu sungguh bersinar bagai matahari di atas sebatang pohon kecil yang terletak di Bukit Cova da Iria, tempat mereka biasa menggembalakan kawanan ternak. Kepada tiga anak gembala tersebut, Santa Maria memberikan petunjuk bagaimana ketiganya bisa memberi silih kepada Tuhan teristimewa dengan berdoa Rosario guna memohon pertobatan orang-orang yang berdosa. Saat penampakan pertama itu terjadi, Bunda Maria meminta agar ketiganya tidak takut. Sang Bunda meyakinkan mereka bahwa dia datang membawa pesan dari sorga. Selanjutnya, kita mengetahui dalam sejarah bahwa bahwa penampakan Santa Maria terjadi secara berturut-turut dalam tahun yang sama (1917) pada tanggal 13 Juni, 13 Jul, 19  Agustus, 13 September, dan terakhir 13 Oktober 1917 (https://kompasiana.com).
           
Melalui bacaan kudus yang kita baca pada hari ini (Yoh 15:1-8), Yesus menganalogikan Diri-Nya sebagai pokok anggur. Sebagai pokok anggur yang terus tumbuh dan berkembang, pasti ada orang yang mengusahakannya. Dalam hal ini, yang menjadi pengusaha dari pokok anggur itu adalah Bapa-Nya sendiri di sorga. Tanpa pengusaha tentu pokok anggur itu tidak akan tumbuh dan berkembang di muka bumi. Yesus tidak mungkin akan hadir di tengah dunia tanpa mendapat mandat khusus dari Sang Bapa. Yesus sebagai pokok anggur menegaskan legitimasi Allah sebagai seorang pengusaha pokok anggur. Allah menginginkan agar pokok anggur itu tidak hanya diam dalam keagungan-Nya di sorga, namun harus bergerak turun menjadi nyata, agar bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya oleh banyak orang. Yesus yang transenden, harus menjadi Yesus yang imanen, Yesus yang selalu dekat dalam hati dan pikiran manusia.

Pokok anggur itu tidak berdiri sendiri. Ia mempunyai banyak organ yang memberi dukungan dan mampu menegaskan identitasnya sebagai sebuah pokok anggur. Salah satu organ pokok anggur adalah ranting. Hanya dengan kehadiran rantinglah yang membuat sang pokok anggur bisa lebih berdayaguna untuk menghasilkan banyak buah. Yesus adalah pokok anggur dan para murid adalah ranting-ranting-Nya. Dalam menjalankan misi keselamatan, Yesus tidak mungkin bergerak sendiri. Ia membutuhkan banyak pembantu yang akan membantu-Nya, menyukseskan proyek keselamatan yang telah dirancang dengan indah oleh Sang Pengusaha, yakni Allah Bapa. Ranting-ranting tidak bisa menjadi “sesuatu” tanpa sang pokok. Ia dapat menghasilkan buah berlimpah karena ia hidup dari sang pokok itu. Apabila ia terlepas dari sang pokok, ia akan mati. Tetapi ia akan menghasilkan banyak buah apabila tetap melekat erat pada pokoknya. Yesus meminta agar para murid-Nya selalu tinggal dalam Diri-Nya. Tinggal dalam Yesus berarti para murid harus selalu setia mendengarkan ajaran-Nya. Para murid juga harus membuka mata hati mereka agar bisa memahami apa yang disampaikan oleh Yesus. Mereka harus bisa merekam dan menginternalisasikan pokok-pokok ajaran yang telah disampaikan. Hal ini penting agar kelak mereka juga bisa melanjutkan apa yang sudah diwariskan oleh Yesus kepada mereka. Para murid yang tidak mampu tinggal dalam Yesus, seperti ranting yang terlepas dari pokoknya. Mereka akan “mati”, tidak bisa berbuat apa-apa. Para murid yang demikian hanya secara formal saja menjadi pengikut-Nya. Tetapi mereka tidak tahu apa yang menjadi tugas pokok mereka sebagai seorang murid. Mereka tdak tahu karena telah gagal paham dengan apa yang sudah disampaikan oleh Yesus.

Rasul Paulus dan Barnabas telah menunjukkan diri mereka sebagai ranting-ranting yang tetap melekat erat pada sang pokok anggur, Yesus Kristus. Mereka telah sukses menghasilkan banyak buah demi kehidupan sang pokok anggur. Berkat perjuangan dan militansi yang mereka miliki, semakin banyak orang yang tidak mengenal Allah akhirnya bertobat dan percaya kepada Allah. Paulus dan Barnabas adalah contoh nyata segelintir murid yang telah menjadi ranting yang baik. Ranting yang menghasilkan banyak buah demi tercapainya misi Kerajaan Allah di tengah dunia. Kita juga memiliki potensi untuk menjadi ranting-ranting yang berguna bagi karya keselamatan Allah. Kuncinya adalah kita harus menjadi bagian yang tak terpisahkan dari Yesus dan Sang Bapa. Kita harus menjadi ranting yang selalu melekat pada sang pokok yakni Tuhan Yesus sendiri. Membaca atau mendengarkan sabda-Nya; kemudian menghidupi sabda itu dalam tindakan konkrit merupakan cara kita untuk menjadi ranting yang baik dan menghasilkan banyak buah.

Dalam konteks bulan Maria yang sementara kita jalani ini, patutlah kita menjadi ranting yang baik dengan saling mendoakan satu sama lain. Bersama Bunda Maria dari Fatima kita berdoa kepada Tuhan agar kita semua dihindarkan dari bahaya pandemi Covid-19. Semoga Tuhan selalu menjaga dan melindungi kita semua. Amin. Tuhan memberkati.

Kamis, 07 Mei 2020

BERSERAH DIRI KEPADA-NYA


Yoh 4:1-6
Seorang bapak tua yang saya kenal baik tiba-tiba merasa cemas, takut dan gelisah. Hal itu terjadi lantaran karena ia akan ditinggalkan oleh anak laki-laki kesayangannya. Anaknya telah menyelesaikan masa cutinya dan akan segera kembali ke tempat kerjanya di Malaysia. Wajar sang bapak merasa takut dan gelisah. Karena selama kira-kira dua bulan, sang anaklah yang merawat bapaknya dari sakit hingga menjadi sehat. Walaupun belum kelihatan sungguh-sungguh sehat. Sang Anak jualah yang rela memutuskan untuk cuti melihat keadaan bapaknya yang sedang menderita sakit. Rasa empati dan cinta sang anak kepada bapaknya begitu dalam. Ia merawat bapaknya dengan setia dan penuh pengorbanan. Saban hari, ia harus memasak dan memberi makan sang bapak. Ia juga memandikan dan mencuci pakaian sang bapak. Meskipun ada mama (ibu) yang masih kelihatan cukup kuat. Ia menghandle semua pekerjaan yang seharusnya dilakukan oleh ibunya. Demi sang bapak tercinta agar segera sembuh kembali seperti sedia kala. Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Dan sang anak harus segera kembali ke tempat tugasnya. Dengan berat hati sang anak menyampaikan maksud tersebut. Bapaknya tidak saja merasa kaget. Tetapi rasa cemas, takut dan gelisah mulai menyelimuti dirinya. Siapakah yang akan memperhatikan dia kelak? Meski ada istrinya yang selalu setia menemani. Tetapi belum cukup menggantikan peran sang anak yang begitu telaten dan tanpa kompromi. Apakah ia tidak akan mengalami sakit lagi? Dan masih ada sederet litani kesedihan dan kegelisaan dalam hati sang bapak.
           
Dalam kisah Injil hari ini (Yoh 4:1-6), situasi kebatinan para murid juga sementara diliputi rasa gelisah dan cemas menjelang kepergian Yesus menuju rumah Bapa-Nya di sorga. Para murid sudah tahu bahwa Yesus akan pergi meninggalkan mereka. Tetapi mereka belum sungguh-sungguh menyiapkan batin mereka untuk menerima kenyataan yang berat itu. Setelah mengalami perjumpaan kembali dengan Yesus pasca kematian-Nya, para murid merasa enggan untuk berpisah lagi dengan Yesus. Mereka belum cukup puas bernostalgia mengenang masa-masa indah seperti dulu bersama-Nya. Mereka masih butuh Yesus untuk lebih lama lagi bersama-sama dengan mereka. Mereka butuh dikuatkan dan dibimbing kembali oleh Yesus. Pengalaman kematian Yesus membuat mereka menjadi “impoten”, lemah dan tidak berdaya di hadapan para penguasa bangsa Yahudi. Oleh karena itu, mereka masih membutuhkan Yesus untuk memompa semangat mereka yang sempat kendor. Mereka masih butuh banyak “vitamin” untuk menyehatkan kembali jiwa dan raga. Mereka masih memerlukan Yesus untuk merefresh atau menginstal kembali berbagai pengetahuan dan kemampuan yang sudah mereka dapatkan sewaktu masih bersama-sama dengan Dia; sebelum Dia mati. Mereka masih membutuhkan Yesus untuk mempersiapkan jalan mereka ke depan lebih pasti. Agar mereka tidak takut lagi dan kikuk saat tampil sendiri di depan publik tanpa kehadiran Yesus di sisi mereka.
           
Yesus menyadari apa yang sementara berkecamuk di dalam diri para murid-Nya. Sudah menjadi tanggung jawab morilnya untuk memberi kekuatan dan dorongan kepada mereka. Selanjutnya, Ia menasihati para murid-Nya agar jangan menjadi gelisah. Para murid harus percaya kepada Allah dan Diri-Nya sendiri. Ia harus pergi untuk menyiapkan tempat untuk mereka semua. Yesus memberi jaminan bahwa Ia akan datang kembali dan membawa mereka ke tempat yang telah Ia sediakan, “supaya di tempat Aku berada, kamu pun berada, Dan ke mana Aku pergi, kamu tahu jalan ke sana.” Salah seorang murid, namanya Tomas, rupanya belum paham dengan apa yang dikatakan oleh Yesus. Ia tidak tahu tentang jalan yang dimaksudkan oleh Yesus. Lalu Yesus menyampaikan bahwa Ia sendirilah jalan itu. Jalan yang membawa kebenaran dan hidup. Setiap orang yang hendak pergi kepada Allah harus melalui sebuah jalan yaitu diri-Nya sendiri. Ungkapan Yesus sebagai jalan ini, mau menegaskan bahwa para murid harus hidup dan selalu tinggal dalam nama-Nya agar mereka bisa memperoleh jalan keselamatan menuju rumah Bapa. Para murid tidak boleh bersekutu dengan kekuatan lain selain kekuatan Allah dan Diri-Nya. Mereka harus percaya dan menyerahkan diri secara total kepada diri-Nya. Rasa kepercayaan itulah yang akan memampukan mereka untuk terus berjuang melanjutkan karya misi Allah di tengah dunia.
           
Kegelisaan, kecemasan dan ketakutan para murid mempresentasikan situasi kebatinan yang acapkali kita rasakan. Kita gampang merasa gelisah, takut, cemas bahkan putus asa berhadapan dengan berbagai dinamika persoalan hidup yang kita alami di tengah dunia. Beban ekonomi keluarga, masalah pendidikan anak, problem kesehatan, konflik sosial adalah segumpal persoalan yang kerap kita alami dan rasakan. Hanya cara penyelesaiannya yang mungkin berbeda antara sebuah keluarga dengan keluarga yang lainnya. Banyak dari kita yang mungkin bisa melewati “badai-badai” tersebut dengan sukses. Namun tidak jarang, banyak di antara kita yang mudah patah dan hancur di tengah perjalanan. Hal demikian terjadi karena kita hanya mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita melupakan satu kekuatan lain yang lebih besar dan dasyat yaitu kekuatan dari Tuhan sendiri. Hari ini Tuhan datang menyapa dan menguatkan hati kita agar kita jangan merasa gelisah, takut dan cemas dalam hidup ini. Kita harus percaya kepada-Nya. Kita harus berserah diri kepada-Nya dengan total. Kita harus mulai membangun relasi yang lebih intim dengan-Nya melalui doa-doa pribadi dan menyambut Tubuh-Nya secara rohani dalam perayaan ekaristi yang kita ikuti secara virtual melalui media daring. Dengan demikian, kita semakin percaya bahwa Tuhan adalah jalan kebenaran dan hidup. Sebuah jalan yang akan membawa kita kepada keselamatan. Seberat apa pun jalan hidup yang kita alami di dunia ini, kita akan mengalami keselamatan kalau kita selalu berjalan dalam nama-Nya yang kudus.
           
Dalam deraan badai pandemik Covic-19 yang belum menemui titik akhir hingga saat ini, tentu kita semua merasa gelisah, cemas dan takut. Kita tidak hanya takut tertular. Tetapi yang lebih gawat adalah imbas dari geliat penyakit ini. Pekerjaan pokok sebagai sumber penghasilan keluarga menjadi terancam, penghasilan ekonomi keluarga mengalami stagnasi, biaya hidup dan pendidikan anak menjadi sulit, dan berbagai persolan lainnya. Dalam pelbagai situasi “tidak enak” yang sementara kita rasakan ini, satu-satunya jalan yang kita butuhkan untuk menguatkan dan meneguhkan pribadi adalah jalan Tuhan. Jalan itu hanya dapat kita pahami dalam kaca mata iman. Kalau kita percaya dengan sungguh dan menyerahkan diri secara total kepada-Nya, pasti kita akan mendapatkan ketenangan dan keselamatan. Mari kita selalu berserah diri kepada-Nya melalui doa-doa dan refleksi pribadi kita di rumah. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***
           

Senin, 04 Mei 2020

KATA DAN PERBUATAN MENENTUKAN IDENTITAS KITA


Kis 11:19-26 & Yoh 10:22-30

Orang-orang Yahudi tinggal dalam kebimbangan. Mereka ada pada persimpangan jalan. Mana jalan yang harus mereka pilih. Percaya bahwa Yesus adalah Mesias atau tidak? Mereka benar-benar  bimbang sebab Yesus tidak pernah memproklamirkan diri-Nya sebagai Mesias, akan tetapi mereka juga tidak bisa menampik kenyataan bahwa Yesus telah membuat banyak orang takjub. Bahkan banyak di antaranya menjadi percaya bahwa Yesus itu berasal dari atas dan karenanya memiliki otoritas ilahi.

Ketika orang-orang Yahudi bertanya kepada-Nya tentang siapakah Dia sesungguhnya untuk mengakhiri kebimbangan mereka,  Yesus tidak memberikan jawaban secara langsung. Ia menunjuk kepada kata-kata yang pernah diucapkan dan pekerjaan yang sudah dilakukan-Nya. Yesus mau menyatakan bahwa dengan pengajaran penuh wibawa dan perbuatan-perbuatan-Nya penuh daya, Ia telah menunjukkan identitas kemesiasan-Nya itu.

Ke mana saja Yesus pergi, Ia mengajar orang banyak sambil berbuat baik. Kata-kata-Nya menunjuk kepada diri-Nya: “Aku berkata kepadamu”. Ini berbeda dengan yang dikatakan para nabi: “Dengarlah firman Tuhan”. Demikian pula perbuatan-perbuatan yang dilakukan penuh keajaiban yang menunjuk pada otoritas ilahi yang dimiliki-Nya. Jika Ia adalah seorang manusia biasa maka tentu Yesus tidak dapat melakukan itu dari dirinya sendiri. Itulah bukti otentik tentang kemesiasan-Nya.

Namun Yesus tahu bahwa mereka tidak percaya kepada-Nya. Karena itu, sekalipun Ia menyatakan dengan terus terang tentang diri-Nya sebagai Mesias toh mereka juga tidak akan pernah percaya. Mereka degil hati. Dan untuk mempertegas kenyataan tentang orang-orang Yahudi itu, Yesus berkata kepada mereka: “...kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (Yoh 10:26). Jika mereka adalah domba-domba-Nya maka mereka pasti mendengarkan suara-Nya. Artinya mereka percaya kepada-Nya dan mengikuti Dia. Namun mereka bukan domba-domba-Nya. Mereka tidak percaya dan mengikuti Dia.

Berbeda dengan orang-orang Yahudi, kita adalah golongan orang yang percaya kepada-Nya dan mengikuti Dia. Kita percaya bahwa kata-kata-Nya adalah hidup yang kekal dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya membimbing kita kepada hidup yang kekal. Yesus sendiri memberikan garansi itu: “Aku memberikan hidup yang kekal kepada mereka dan mereka pasti tidak akan binasa sampai selama-lamanya dan seorang pun tidak akan merebut mereka dari tangan-Ku” (Yoh 10:28).

Kata-kata-Nya ini sungguh menyejukkan hati dan  membangkitkan dalam diri kita harapan akan kehidupan kekal. Dan inilah kekuatan yang menggerakkan kita untuk senantiasa mendengarkan Dia dan tidak pernah berhenti mengikuti-Nya.

Dia sendiri pulalah, dalam kuasa Allah, memberikan jaminan rasa aman kepada kita seperti seorang gembala yang menjaga dan melindungi keselamatan dombanya. Apabila kenyataan hidup menunjukkan adanya banyak penderitaan dan kesulitan hidup seperti yang kita alami dewasa ini, itu tidak membuktikan bahwa jiwa kita kehilangan rasa aman.

Sebaliknya situasi demikian menjadi medan kita membuktikan keyakinan kita bahwa tidak ada kuasa manapun di dunia ini yang dapat mengambil hidup kita. Penderitaan dan kesulitan hidup di dunia memberi nilai pada harapan kita dan membuat kita semakin tekun. Jiwa yang aman dan damai di tengah situasi penderitaan dan kesulitan hidup menjadi bukti bahwa harapan itu bukanlah suatu yang kosong, melainkan suatu yang dapat dialami bagi semua kita yang berharap kepada-Nya.

Berkenaan dengan ini, maka Yesus meminta kepada kita sebagai domba-domba-Nya agar benar-benar menunjukkan iman dan kepercayaan kita kepada-Nya dalam segala situasi hidup kita. Setiap perkataan kita harus menjiwai iman dan kepercayaan kita, demikian pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Itulah cara kita menunjukkan sikap iman yang selalu mau mendengarkan suara-Nya dan melakukan apa yang dikehendaki-Nya dalam segala situasi hidup kita.

Baiklah kita meyakinkan diri kita oleh kebenaran sebagaimana yang dinyatakan Yesus bahwa kata-kata dan perbuatan yang dilakukan adalah cerminan siapakah diri kita sesungguhnya. Seperti kata-kata yang diucapkannya dan pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan-Nya menunjuk kepada identitas-Nya sebagai Mesias, demikianlah kita oleh kata-kata yang baik, kata-kata yang memberi hidup, kata-kata yang menghibur dan memberi harapan, kata-kata yang meneguhkan dan memberi motivasi serta perbuatan-perbuatan baik yang memancarkan kasih, kita menyatakan identitas kita sebagai domba-domba kegembalaan Kristus.

Karena itu, sekalipun hidup kita di dunia ini tidak akan pernah luput dari penderitaan dan kesulitan, akan tetapi sebagai domba-domba-Nya yang mendengarkan suara-Nya, kita akan selalu dituntun untuk menyatakan identitas kita secara jelas dalam tutur kata dan perbuatan hidup kita. Ketaatan dan kesetiaan iman memang mutlak perlu sebagaimana yang dinasihatkan Barnabas kepada jemaat beriman agar kita boleh bertekun dalam menantikan kepenuhan anugerah kehidupan kekal yang disiapkan bagi domba-domba-Nya. ***Apol Wuwur***

Jumat, 01 Mei 2020

INILAH ROTI YANG TELAH TURUN DARI SORGA


( Yoh 6 52 – 59 )
Setiap tanggal 01 Mei kita akan memperingati hati raya Santo Yosef Pekerja. Santo Yosef adalah suami Maria sebagai seorang tukang kayu. Pribadi Yosef adalah pekerjaan tangan mempunyai suatu dimensi ilahi, ia hanyalah seorang tukang kayu.  Darah bangsawannya mengalir dari Raja Daun leluhurnya yang begitu suci dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatan pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya, serta mendampingi dan membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia.  Namun sebenarnya pesta Santo Yosef telah di rayakan juga yakni pada tanggal 19 Maret.  Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah  dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya pencipta dan penyelamat Allah. Dengan dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 01 Mei sebagai hari Raya Santo Yosef Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai hari Buruh. Santo Yosef selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Injil hari ini Yesus mau menegaskan kembali tentang Roti kehidupan. Roti kehidupan adalah salah satu proses pendewasaan iman para pendengarNya. Kalau sebelumnya mereka disuguhi berbagai karya spektakuler Allah dalam bentuk mujizat, sekarang mereka disajikan satu prombakan konsep tentang bagaimana Allah menjamin hidup mereka. Karena itu ajaran tentang roti hidup menjadi peneguhan, agar kekagumanitu berubah menjadi pilar utama di dalam bangunan rohani umat.
Seorang ibu akan berbuat apa saja untuk memelihara bayinya. Ia memandikan, menyusui, menyuapi makanan, menidurkannya, menjaganya dari gangguan dan sebagainya. Selanjutnya dengan bertambah usia, anak itu akan dilatih untuk dapat makan dan mandi sendiri.  Beranjak Remaja dan dewasa, si ibu menuntut agar anak itu hidup mandiri dan tak perlu menyusahkan orang lain kalau ia dapat menolong dirinya sendiri. Dan di saat ia sudah dewasa, si ibu sepenuhnya melepaskan tanggungjawabnya karena anak itu akan menyelenggarakan hidupnya sendiri. Namun semuanya itu tidak sedikit pengorbanan sang ibu.
Yesus sendiri rela pergi sebagai pelayan untuk menyiapkan tempat di rumah Bapa bagi siapa saja. Yesus senantiasa mengganggap dirinya sebagai hamba dan pelayan yang dating untuk melayani bukan untuk dilayani. Semangat dan inspirasinya dari Bapak St. Yosef kiranya membentuk kepribadian Yesus untuk gemar menjadi pelayandi hadapan Allah BapaNya. Bagaimana dengan kita ? Apakah kita takut direndahkan dan dianggap sebagai pelayan ? Yang tidak makan tubuh-Nya dan tidak minum darahnya, tidak menerima pemberian diri Yesus, dan tidak akan memiliki hidup. Ekaristi menjadi kenangan akan tubuh dan darah-Nya di dalam Komuni Suci.  Itulah simbol bahwa kita bahwa kita menerima pemberian diri Yesus. Kita menerima dan mengimani Yesus. Ketika Kristus sudah bertakta didalam diri seorang murid tidak berpikir dan bertindak dengan cara-cara yang bertentangan dengan kehendak Kristus. Ia bahkan selalu mencari dan memahami kehendak Kristus, karena kehendak Kristus itulah nafas hidupnya. Ketika Kristus sudah menjadi bagian dari diri kita, hudup kita otomatis bersaksi tentang kerajaan-Nya. Inilah Karya-karya besar Allah yang senantiasa kita imani dalam hidup kita, karya itu pada suatu sisi mengagumkan tetapi hendaknya juga mendorong kita akan bertumbuh dewasa.
( Yoh 6:52 – 59 ) Orang-orang Yahudi bertengkar antara sesama mereka dan berkata: "Bagaimana Ia ini dapat memberikan daging-Nya kepada kita untuk dimakan."  Maka kata Yesus kepada mereka: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jikalau kamu tidak makan daging Anak Manusia dan minum darah-Nya, kamu tidak mempunyai hidup di dalam dirimu.  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia mempunyai hidup yang kekal dan Aku akan membangkitkan dia pada akhir zaman.  Sebab daging-Ku adalah benar-benar makanan dan darah-Ku adalah benar-benar minuman.  Barangsiapa makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.  Sama seperti Bapa yang hidup mengutus Aku dan Aku hidup oleh Bapa, demikian juga barangsiapa yang memakan Aku, akan hidup oleh Aku.  Inilah roti yang telah turun dari sorga, bukan roti seperti yang dimakan nenek moyangmu dan mereka telah mati. Barangsiapa makan roti ini, ia akan hidup selama-lamanya."  Semuanya ini dikatakan Yesus di Kapernaum ketika Ia mengajar di rumah ibadat.  ***JK Lejab***