KIS
20:17-27; YOH 17:1-11a
Perkembangan zaman saat ini semakin canggih,
maju dan modern, dimana nilai-nilai universal yang mengatur hidup bersama dan
menjaga martabat hidup manusia dan lingkungannya serasa dijungkirbalikan,
bahkan nilai-nilai kebajikan hidup Kristiani semakin tidak nampak dan diabaikan
sehingga kita serasa kehilangan orientasi hidup. Hal yang kita rasakan sekarang
bahwa zaman ini menawarkan berbagai bentuk persaingan, kompromi dan kenikmatan
duniawi lainnya. Sebagai murid-murid Kristus kita diharuskan untuk melakukan
evaluasi dan introspeksi diri terhadap orientasi hidup, pelayanan dan kesaksian
hidup nyata kita. Untuk meningkatkan hidup iman dan kesetiaan kita kepada
Allah, bacaan suci hari ini menampilkan dua tokoh inspiratif yang menginspirasi
kita untuk selalu mempersembahkan seluruh hidup dan pelayanan kita kepada
Allah. dua tokoh inspiratif itu yakni St. Paulus dan Yesus.
Kita bisa belajar dari kesetiaan dan ketekunan
dari Paulus yang digambarkan dalam bacaan pertama hari ini, dimana Paulus
memiliki konsep pelayanan yang amat jelas. Ia tidak ragu sedikit pun akan
panggilannya sebagai pewarta Injil, meskipun itu berarti ia akan berhadapan
dengan penolakan, penderitaan dan kematian sekalipun. Dalam misi pewartaannya,
ia tidak hanya ingin menyenangkan teling pendengarnya, namun tujuannya selalu
jelas supaya orang bertobat dan percaya kepada Yesus. Itulah sebabnya, ia
memberitakan Injil, baik kepada orang Yunani yang tidak mengenal Allah maupun
kepada orang-orang Yahudi yang ingin membunuhnya. Untuk merebut hati umat yang
dilayaninya, Ia selalu tekun dalam doa dan pengajaran. Ia bahkan berani berkata
bahwa ia telah memberitakan Injil kepada semua orang baik yang diselamatkan
maupun yang akan binasa. Paulus sangat berorientasi pada tujuan akhir, yaitu
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Yesus Kristus kepadanya. Paulus dalam
setiap pelayanannya tidak sedikit pun bermaksud mencari popularitas diri,
kedudukan, pengakuan atau pun mencari kekayaan.
Namun, motivasi Paulus adalah
untuk menyenangkan Tuhan dengan cara mencapai garis akhir dan menyelesaikan
pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus untuk memberi kesaksian tentang
Injil kasih karunia Allah dan bukan oleh ambisi pribadinya. Paulus memusatkan
hidupnya pada Kristus agar Yesus Kristus semakin dimuliakan dan dikenal oleh
banyak orang. Sikap hidup Paulus ini kiranya menjadi panutan bagi kita semua,
meskipun kita bukan biarawan/biarawati, katekis, guru agama atau agen-agen
pastoral lainnya, tetapi hidup kita harus berpusatkan pada Kristus, kiranya
menjadi kerinduan kita semua. Tidak bisa kita pungkiri bahwa menjadi saksi
Kristus kita akan mengalami sekian banyak tantangan dan resiko, namun Paulus
telah membuka jalan dan telah membangkitkan semangat kita semua untuk tetap
bertahan.
Injil hari ini menggambarkan satu teladan
istimewa yang dipraktekkan oleh Yesus yakni mendoakan dan menyerahkan
murid-muridNya kepada Allah Bapa-Nya agar mereka tetap bersatu. Doa Yesus ini dianggap
doa teragung yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam doa-Nya, Yesus menyatakan
bahwa Ia telah memuliakan Allah Bapa melalui hidup dan karya-Nya di dunia,
namun saat kematian-Nya telah tiba. Bila sebelumnya Yesus telah memuliakan Bapa
melalui hidup dan ketaatan-Nya kepada Bapa, maka saat itu Ia berdoa agar dapat
memuliakan Bapa juga di dalam kematian-Nya.
Injil
yang didaraskan hari ini menjelaskan doa pokok doa syafat Yesus. Pertama, di
dalam permulaan doa-Nya Yesus berdoa bagi diri-Nya sendiri. Hal ini tidak
berarti bahwa Yesus sangat egois, karena sesungguhnya Ia menunjukkan semua itu
bagi kemuliaan Bapa-Nya. Yesus sendiri dimuliakan melalui karya-Nya di kayu
salib (Yoh 17:2-3). Ia melakukan karya salib karena kehendak-Nya sendiri dengan
menyampingkan kemuliaan kekal yang Dia miliki demi menyelamatkan dosa umat
manusia. Melalui karya salib, Yesus menjadi jalan eksklusif menuju hidup kekal,
dan hidup kekal ini ditemukan melalui pengenalan akan Allah yang dinyatakan
dalam diri Yesus sendiri. Di sini kita dapat melihat keakraban Yesus dengan
Allah Bapa di dalam doa-Nya ini. Melalui karya salib-Nya, Yesus memungkinkan
para pengikut-Nya di masa sekarang untuk ikut ambil bagian menikmati keakraban
dengan Allah Bapa. Sebab itu, kita harus memanfaatkan setiap waktu kita untuk
membangun relasi komunikasi dengan Allah untuk menikmati keakraban dengan Bapa
seperti yang dilakukan Yesus dalam doa-Nya. Namun yang perlu kita perhatikan
bahwa keakraban dengan Allah sebagai Bapa merupakan hak istimewa yang seharusnya
membuat kita semakin menghormati Dia sebagai sumber dan asal tujuan hidup kita.
Pokok
doa kedua dari doa syafat Yesus kepada Bapa adalah permohonan untuk para
murid-Nya. Yesus berdoa kepada Bapa agar Ia memlihara para murid karena mereka
telah menjadi milik Yesus dalam kasih Bapa. Yesus menghendaki agar para murid
hidup dalam persatuan dan setia mewartakan sabda Tuhan. Dalam doa-Nya, Yesus
memberitahukan nama Allah kepada murid-murid-Nya, artinya para murid dapat
mengenal kemuliaan Bapa karena Yesus telah menyatakan semua itu melalui hidup,
karya pewartaan dan salib-Nya. Para murid percaya bahwa Yesus berasal dari Bapa
dan Bapalah yang telah mengutus-Nya ke dunia untuk melaksanakan misi
keselamatan bagi mereka. Yesus telah memelihara para murid-Nya dan tidak
seorang pun dari mereka yang binasa, kecuali yang telah ditentukan untuk
binasa. Sekarang Yesus akan kembali kepada Bapa, tetapi murid-murid dan mereka
yang percaya kepada-Nya masih tinggal di dunia untuk meneruskan misi
pewartaan-Nya. Karena itu, Yesus berdoa kepada Bapa-Nya untuk menganugerahkan
rahmat pemeliharaan atas para murid-Nya.
Dalam
doa-Nya, Yesus tidak berdoa bagi dunia, tetapi bagi milik-Nya, karena Dia ingin
agar mereka semua terjamin pasti dalam hubungan persatuan dengan Allah sehingga
hidup mereka penuh dengan sukacita dan mereka dapat disiapkan untuk meneruskan
misi pewartaan Yesus bagi dunia ini. Doa Yesus ini, membentangkan kasih Yesus
dan Allah yang luar biasa besar bagi para pengikut-Nya, juga keajaiban
rencana-Nya bagi semua orang beriman.
Paulus
telah merintis jalan pewartaan dengan kelemah-lembutan untuk memenangkan hati
musuh-musuhnya. Sebelum ia berangkat ke Yerusalem dalam misi pewartaan untuk
memperkenalkan Yesus, ia menasihati dan mendorong para penatua di Efesus untuk menjaga dan mengembangkan
iman umat agar mereka senantiasa setia dan waspada terhadap pengaruh
orang-orang Yahudi dan Yunani yang anti Kristus. Sedangkan Yesus mendoakan
murid-murid-Nya untuk tetap hidup dalam persekutuan kasih agar setia mewartakan
kasih Allah di dunia. Kehidupan doa yang teratur memungkinkan kita hidup dalam
persekutuan bersama Allah sehingga kita menjadi saksi dan pewarta sabda kasih
Allah untuk membawa semua orang ke jalan pertobatan. Doa Yesus ini menunjukkan
perhatian dan kepedulian-Nya bagi kita semua murid-murid-Nya yang percaya pada
masa kini. Agar kita dapat menjadi penerus pewarta Injil-Nya bagi dunia, maka
kita membutuhkan penyertaan dan perlindungan dari Allah Bapa.
Dua tokoh inspiratif hari ini menginspirasi
kita agar kita setia dalam panggilan hidup kita masing-masing seraya terus
bersaksi mengemban misi keselamatan yang dipercayakan Yesus kepada kita semua
oleh karena pembaptisan yang telah memeterai kita. Doa Yesus bagi para
murid-Nya memberi teladan bagi kita semua untuk selalu menghidupi kebiasaan doa
dari waktu ke waktu karena doa pada dirinya memiliki kekuatan dahsyat untuk
membantu kita keluar dari tantangan hidup yang kita hadapi. Di tengah pandemi
covid-19 ini, kita semua diajak untuk menggalakan doa secara perorangan atau
secara berjemaah untuk memohon rahmat pembebasan dari Allah agar kita terhindar
dan dijauhkan dari virus mematikan ini. Tuhan Yesus sendiri telah memberikan
contoh dan teladan istimewa yakni mendoakan para murid-Nya, karena itu, kita
juga memiliki kesempatan yang sama untuk mendoakan para pasien yang sedang
mendapatkan perawatan medis, kita juga berdoa bagi keselamatan sama saudara
kita yang tengah dirawat akibat terkena virus corona. Semoga Tuhan senantiasa
menyertai kita semua agar terbebas dari wabah mematikan ini. Amin....**bw**