Rabu, 25 November 2020

Anak Manusia Datang Dalam Awan

Luk 21:20-28

Seusai melaksanakan tugas perutusan-Nya di dunia, Yesus kembali kepada Bapa-Nya. Ia naik ke surga dan ditandai dengan awan. Lukas menulis bahwa setelah Ia meminta para murid-Nya untuk tidak menginggalkan Yerusalem untuk menantikan datangnya Roh Kudus yang memeteraikan mereka menjadi pewarta Injil ke seluruh dunia, “... terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis 1:9).

 

Dan ketika mereka menyaksikan Yesus naik ke surga dengan cara demikian, datanglah malaikat Tuhan dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis 1:11).

 

Kata-kata malaikat ini meningatkan mereka akan apa yang dikatakan Yesus dalam nubuat-Nya tentang kehancuran Yerusalem dan akhir zaman yang ditandai dengan gejala kosmis dan berbagai penderitaan yang menyertainya. Ia berkata: “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

 

Awan ditampilkan sebagai suatu yang berarti dan bukan hanya sebagai suatu fenomena alam. Awan menyusui bumi melalui hujan yang diturunkan dari langit hingga pada gilirannya bumi pun menyusui makhluk hidup yang berada di atasnya melalui aneka kehidupan yang muncul. Dalam kalangan Israel kuno, awan sangat dihormati dengan penuh kekaguman.

 

Kitab Suci menampilkan awan sebagai simbol dari transendensi. Ia dapat dialami dan dilihat. Allah memimpin bangsa Israel dalam bentuk tiang awan (Kel 13:21). Ketika peristiwa transfigurasi terjadi di atas gunung yang tinggi, awan menyelubungi Yesus dan para murid-Nya. Allah berbicara dari dalam awan (Bil 12:5; Mrk 9:7). Awan malahan menjadi tempat tinggal Allah (Mzr 68:5) dan tanda kehadiran-Nya di dalam Bait Allah (1 Raj 8:10-11).

 

Pada akhir zaman, Yesus datang dalam kekuasaan dan kemuliaan Allah. Dalam tangan-Nya  ada kuasa untuk menghakimi yang telah diberikan oleh Bapa-Nya. Semua tanda kosmis yang menyertai kedatangan-Nya kedua itu mendatangkan kepanikan dan rasa takut yang membawa kematian. Namun itu terjadi bagi mereka yang menolak dan memusuhi-Nya. Orang beriman akan berdiri kokoh, siap dan menanti penyelamatan dari Tuhan seperti bangsa Israel di masa perbudakan Mesir.

 

Tanda-tanda kosmis dan gejala-gejala alam yang berhubungan dengan lukisan Injil yang menyertai kedatangan Tuhan bukan tidak nyata kita alami dalam zaman hidup kita. Virus Corona yang mendera bumi ini dan mendatangkan kematian yang memilukan hati bangsa manusia di bumi ini, juga konflik dan pertentangan antarmanusia karena penyesatan dan berbagai situasi kaotik yang mencengkam bisa menunjuk pada apa yang dikatakan Lukas dalam Injil hari ini.

 

Meskipun masa dan waktunya bagi kedatangan Yesus dalam awan dengan kekuasaan dan kemuliaan Allah tidak diketahui oleh seorang pun, sebab Bapa sendirilah yang menetapkan menurut kuasa-Nya sendiri (Kis 1:7), namun bagi kita tanda-tanda kosmis itu dalam arti rohani menjadi suatu tanda penting bagi kita untuk mengantisipasi kedatangan-Nya yang tidak terduga.

 

Maka menarik masa dan waktu yang tidak kita ketahui ke dalam situasi hidup kita yang jamak dengan berbagai tanda kosmis yang dapat kita lihat dan alami membuat kita  sadar akan pentingnya hidup kita bukan pertama-tama pada apa yang kita jalani di dunia sekarang ini, melainkan pada kenyataan dunia akhirat. Ini mengarahkan kita untuk hidup di dunia ini dengan orientasi kepada kenyataan hidup yang lebih mulia kelak.

 

Dunia dan hidup ini akan berakhir. Akhir dunia yang bakal kita alami seperti yang digambarkan Lukas sangat ditentukan oleh sikap iman dan hidup yang kita tunjukkan selama hidup di dunia ini. Iman dan hidup akan menentukan apakah kita menghadapi situasi akhir zaman dengan penuh kepanikan, kegentaran dan ketakutan yang mematikan atau dalam keteguhan kita berdiri menantikan kedatangan Yesus penuh kemuliaan sebagai saat penyelamatakan kita?

Marilah kita menentukan sekarang apa yang ingin kita alami pada saat akhir sebagai saat yang membahagiakan, bukan ketakutan, kegentiran dan kematian. Percayalah bahwa iman dan hidup menurut tuntutan iman akan membawa kita pada pengalaman akhir yang membahagiakan, bukan saat kematian melainkan saat keselamatan. ***Apol***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar