Luk 21: 12-19
Banyak syering dari kawan-kawan yang hidup di daerah minoritas Katolik
bahwa mereka menghadapi tantangan dan hambatan yang dasyat dalam
mengekspresikan kehidupan iman mereka. Tantangan dan hambatan itu datang dari
kelompok di luar komunitas Katolik yang merasa tidak nyaman dengan identitas
iman orang Katolik di tempat itu. Padahal banyak dari antara mereka adalah
penduduk asli di tempat itu. Bukan pendatang dari luar daerah. Mereka tidak
bebas untuk menjalankan ritus agamanya. Untuk berdoa di tingkat basis dan
lingkungan saja seringkali mereka dihambat. Apalagi mau mengajukan izin untuk
membangun rumah ibadah. Pasti ada saja kesulitan yang mereka temui. Mirisnya,
saudara-saudari kita ini, seringkali diiming-imingi sesuatu, dipaksa, dan
ditindas untuk mengganti keyakinan iman mereka akan Yesus.
Mendengar pengalaman yang mereka sampaikan, saya pun tidak mau kalah untuk
berbagi tantangan dan hambatan dalam kehidupan beragama di daerah yang disebut
sebagai basis atau kantung Katolik. Kalau di daerah-daerah minoritas Katolik
tantangan yang paling kuat berasal dari luar komunitas Katolik, maka di daerah
yang mayoritas Katolik, tantangan yang paling besar justru muncul dari dalam
komunitas Katolik sendiri. Sangat terasa kelesuan dan kekeringan iman itu
menerpa saudara-saudari saya yang mengaku dan berbangga sebagai daerah
mayoritas Katolik. Banyak orang Katolik yang menganggap kehidupan agama itu
tidak penting lagi. Mereka menjadi malas ke gereja dan bersikap apatis terhadap
berbagai kegiatan rohani di tingkat basis, lingkungan dan paroki. Gedung-gedung
gereja hanya penuh sesak dengan umat sampai di area pelataran cuma saat
merayakan “masa napas” atau masa Natal dan Paskah.
Dalam bacaan Injil (Luk 21:12-19) yang baru saja diperdengarkan kepada
kita, Yesus menyampaikan berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan yang
dihadapi oleh para murid-Nya. Oleh karena nama-Nya, mereka akan difitnah,
ditangkap, dianiaya, dan diserahkan kepada pihak berwajib atau otoritas yang
berkuasa untuk diadili. Setelah itu, mereka akan dimasukkan ke penjara. Bahkan,
banyak dari antara murid Yesus akan meregang nyawa demi mempertahankan imannya
akan Yesus. Fatalnya, mereka tidak akan mendapat dukungan dari keluarga dan
sahabat-sahabat mereka sendiri. Malahan keluarga dan para sahabat akan
menyerahkan mereka ke tangan penguasa oleh karena keyakinan iman mereka akan
Yesus.
Tantangan dan hambatan yang dialami oleh murid-murid Yesus tidak saja
datang dari orang-orang biasa dan kaum elit tetapi berasal dari dalam lingkaran
keluarga dan sahabat para murid Yesus. Para murid Yesus akan mendapat tantangan
dan kesulitan hidup yang dasyat. Segala sesuatu dipertaruhkan, termasuk nyawa
sekalipun demi bersaksi tentang Injil Tuhan. Seiring dengan berbagai tantangan
dan kesulitan yang dialami, Yesus akan melimpahkan hikmat kepada para murid-Nya
agar mereka tidak takut dan tidak gentar sedikit pun untuk membuat berbagai
kesaksian yang benar tentang Tuhan. Hikmat dari Tuhan itu berupa berkat
pengetahuan dan kebijaksanaan yang tidak pernah dimiliki sebelumnya. Para murid
akan dikuatkan dan diteguhkan untuk melakukan pembelaan diri dalam nama Tuhan.
Memang banyak orang yang keras hatinya akan terus melawan dan tidak percaya
akan pewartaan yang diberikan para murid. Tetapi tidak sedikit juga yang
terbuka hatinya. Mereka menjadi percaya akan Injil Tuhan.
Salah satu pengalaman itu dialami oleh Santa Katarina dari Aleksandria.
Santa Katarina yang perayaannya kita kenangkan hari ini adalah seorang perawan
yang menjadi martir pada awal abad ke-4 pada masa penganiayaan kaisar
Maxentius. Ia menjadi martir karena mempertahankankan kesucian dirinya di
hadapan kaisar. Bagi Katarina, mempelai sejatinya hanya Yesus Kristus. Dan
hanya kepada Dialah, Katarina mempersembahkan kemurnian dirinya. Berkat imannya
yang teguh akan Yesus, banyak orang menjadi bertobat dan percaya. Termasuk
istri dari sang kaisar, para pejabat istana dan dua ratus pasukan pengawal.
Mereka semua bertobat karena melihat hikmat Tuhan yang berkarya dalam diri Katarina.
Menjadi pengikut Yesus itu tidak mudah. Ada banyak tantangan, hambatan, dan
kesulitan yang kita hadapi. Dalam konteks hidup kita di daerah dengan populasi
umat Katolik terbesar, tentu kita kurang mengalami tantangan, hambatan atau pun
kesulitan yang datang dari luar. Tantangan yang paling besar kita hadapi
sebenarnya tantangan yang datang dari dalam hidup iman kita sendiri. Kita
kurang menghidupi dan mengembangkan iman kita akan Yesus. Iman kita seolah
mengalami mati suri. Ada kelesuan dan kekeringan yang terjadi. Kita tidak
menganggap kehidupan rohani itu menjadi suatu kebutuhan yang urgen dalam hidup.
Ibadah hari Minggu kita abaikan. Doa pribadi menjadi hal yang tidak penting.
Itu belum termasuk kualitas hidup kita di tengah masyarakat. Banyak orang Katolik
yang tidak menunjukkan perilaku dan keteladanan yang baik. Hal inilah yang
menjadi tantangan terbesar bagi kita sebagai pengikut Kristus di daerah ini.
Dan mungkin juga di rumah besar ini, tempat kita mencari nafkah dan menjejakkan eksistensi diri kita.
Hidup dalam iman itu butuh sikap konsistensi. Sebagai manusia, pengalaman
jatuh dan gagal itu menjadi hal yang lazim. Tetapi kita tidak boleh menyerah.
Kita harus bangkit lagi untuk terus memperbaiki kualitas hidup kita sebagai
orang Katolik. Kita harus bisa mengalahkan tantangan yang datang dari dalam
diri kita sendiri. Kita harus berani keluar dari zona nyaman yang membuat kita
tidak nyaman hidup sebagai orang Katolik. Kita harus kembali memperbaiki dan
mendekatkan diri dengan Tuhan agar kita bisa menjadi seorang pengikut-Nya yang
sejati. Kita harus membuka diri agar bisa memperoleh segala hikmat yang Ia
berikan. Hikmat Tuhan itulah yang menghasilkan vitamin agar kita bisa
membentengi diri dari berbagai virus yang mematikan iman akan Yesus. Dengan demikian,
tidak percuma kata-kata Yesus: “Kalau kamu bertahan, kamu akan memperoleh
hidupmu” (Luk 21:19). ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar