Mark 10:45
Berbicara
tentang kedudukan atau status sebagai tuan dan hamba jelas berbeda. Tuan
memiliki status sosial yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi
sebagai hamba, karena itu, keduanya tidak bisa disamakan begitu saja, mereka ibarat
langit dan bumi. Seandainya menjadi tuan atau hamba adalah sebuah pilihan,
ditinjau dari konteks realita kehidupan serta mental masyarakat modern sekarang
ini, maka semua orang pasti lebih memilih menjadi tuan ketimbang menjadi hamba.
Sebab lebih enak dan nyaman menjadi tuan daripada menjadi hamba yang harus
bekerja dan hidup di bawah kendali orang. Namun jika dilihat dari konteks
spiritualitas pelayanan, Yesus justru meminta kita semua murid-murid-Nya untuk
menjadi hamba yang setia melayani.
Pada
zaman Yesus bahkan jauh sebelumnya, para tuan umumnya tidak akan berterima
kasih kepada maupun memberi upah kepada hamba mereka, para hamba hanya diberi
makan dan kebutuhan pangan seadanya. Sedangkan tugas seorang hamba: ia hanya
melakukan apa yang wajib ia lakukan sesuai perintah tuannya tanpa menuntut dan
mencari penghargaan entah berupa ucapan terima kasih ataupun upah lainnya, ia
tetap tenang menjalankan tugasnya. Realita sikap tuan terhadap hamba dan respon
seorang hamba terhadap tuannya dalam kultur Yahudi, lantas dipakai oleh Yesus
untuk mengajar para murid tentang kesetiaan menjadi seorang hamba terhadap
Allah sebagai Tuan. Bahwa menjadi hamba Allah, baik para murid maupun kita
semua, hendaknya tidak menuntut apapun dari Allah sebagai balasan atas kebaikan
kita dalam melayani-Nya, melainkan terus setia dan taat melakukan apa yang
telah ditugaskan Allah kepada kita. Yesus berkata: “Apabila kalian telah
melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kalian berkata,
‘Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami
lakukan’.”
Kata-kata
Yesus dalam Bacaan Injil hari ini dialamatkan kepada para murid namun terasa
sangat keras. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa walaupun mereka telah
melakukan segala sesuatu yang diminta-Nya, mereka harus tetap menilai diri
mereka sebagai hamba-hamba yang tidak berguna, di sana faktor kerendahan hati
sangat menentukan kualitas pelayanannya. Kita hanyalah hamba-hamba atau
pelayan-pelayan Allah yang bekerja sesuai kehendak Allah sendiri, segala
sesuatu sepenuhnya adalah privilese atau hak istimewa Allah untuk menuntut
pertanggungjawaban dari kita masing-masing. Penekanan dari perumpamaan singkat
di atas adalah dedikasi atau pengabdian total seorang hamba kepada tuannya
tanpa pamrih. Sebagaimana, Santo Paulus juga sangat memahami dedikasi atau
pengabdian total kepada Yesus. Paulus tidak mencari-cari pujian istimewa,
ganjaran atau sejenisnya. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di
Korintus, ia menulis, “… jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai
alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku,
jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16). Para rasul juga pernah
berkata kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5).
Jawaban Yesus sederhana saja dimana berisikan tuntutan-Nya akan
dedikasi total, seakan-akan Ia berkata: Jika engkau menaruh kepercayaan
pada-Ku, lakukanlah segala sesuatu yang Aku minta, imanmu kepada-Ku pun akan
bertumbuh; itu sudah cukup. Untuk masa depan keselamatan kita, kita percaya
bahwa Yesus akan berkata sebaliknya: “Sesungguhnya ia (tuan) akan mengikat
pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani
mereka” (Luk 12:37). Seseorang yg melayani Tuhan dalam hidupnya sekarang ini
akan dilayani oleh Tuhan dalam kehidupan yang akan datang. Untuk itu kita harus
bersikap rendah hati dan memiliki ketaatan yang tinggi sebagai hamba yang setia
pada Allah.
Kita
semua adalah rasul-rasul Kristus pada zaman modern ini, di mana Yesus mengharapkan
pemberian diri yang total dari kita semua untuk melayani Allah dalam diri
sesama kita. Kita harus bekerja demi kemajuan Kerajaan Allah dan menempatkan
rasa percaya kita ke dalam penyelenggaraan Yesus yang telah memberikan contoh
dan teladan bagaimana Ia hadir sebagai pelayan atau hamba bagi keselamatan umat
manusia. Santo Fransiskus dari Assisi menjelang saat kematiannya memberi pesan
penting kepada para saudaranya: “Aku telah melakukan apa yang mesti
kulakukan, biarlah Kristus mengajar kamu apa yang harus kamu lakukan
selanjutnya. Santo Fransiskus dari
Asisi ingin memberikan motivasi iman kepada para saudaranya agar selalu
melakukan apa yang menjadi kehendak Allah, tidak boleh memikirkan upah, kepentingan dan kenyamanan
diri sendiri. Semua yang dilakukan harus
fokus bagi Allah. Inilah arti sesungguhnya spiritualitas kerendahan hati
seorang hamba yang siap melayani. Kalau kehendak Allah dapat dijadikan
prioritas dalam hidup, maka kita akan mudah memahami perkataan Yesus pada ayat
terakhir perikop ini bahwa, kalau kamu
mampu menjadi hamba dan pelayan yang
setia dan telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah
kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan
apa yang kami harus lakukan. Ayat
terakhir ini mau menerangkan kepada kita semua bahwaYesus sendiri sebenarnya
telah memberi contoh dan teladan sebagai seorang hamba. Ia datang tidak untuk
dilayani, melainkan untuk melayani” (Mark 10:45).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar