Selasa, 10 November 2020

SPIRITUALITAS KERENDAHAN HATI SEORANG HAMBA

Mark 10:45

   Berbicara tentang kedudukan atau status sebagai tuan dan hamba jelas berbeda. Tuan memiliki status sosial yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi sebagai hamba, karena itu, keduanya tidak bisa disamakan begitu saja, mereka ibarat langit dan bumi. Seandainya menjadi tuan atau hamba adalah sebuah pilihan, ditinjau dari konteks realita kehidupan serta mental masyarakat modern sekarang ini, maka semua orang pasti lebih memilih menjadi tuan ketimbang menjadi hamba. Sebab lebih enak dan nyaman menjadi tuan daripada menjadi hamba yang harus bekerja dan hidup di bawah kendali orang. Namun jika dilihat dari konteks spiritualitas pelayanan, Yesus justru meminta kita semua murid-murid-Nya untuk menjadi hamba yang setia melayani.

   Pada zaman Yesus bahkan jauh sebelumnya, para tuan umumnya tidak akan berterima kasih kepada maupun memberi upah kepada hamba mereka, para hamba hanya diberi makan dan kebutuhan pangan seadanya. Sedangkan tugas seorang hamba: ia hanya melakukan apa yang wajib ia lakukan sesuai perintah tuannya tanpa menuntut dan mencari penghargaan entah berupa ucapan terima kasih ataupun upah lainnya, ia tetap tenang menjalankan tugasnya. Realita sikap tuan terhadap hamba dan respon seorang hamba terhadap tuannya dalam kultur Yahudi, lantas dipakai oleh Yesus untuk mengajar para murid tentang kesetiaan menjadi seorang hamba terhadap Allah sebagai Tuan. Bahwa menjadi hamba Allah, baik para murid maupun kita semua, hendaknya tidak menuntut apapun dari Allah sebagai balasan atas kebaikan kita dalam melayani-Nya, melainkan terus setia dan taat melakukan apa yang telah ditugaskan Allah kepada kita. Yesus berkata: “Apabila kalian telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kalian berkata, ‘Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan’.”

            Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil hari ini dialamatkan kepada para murid namun terasa sangat keras. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa walaupun mereka telah melakukan segala sesuatu yang diminta-Nya, mereka harus tetap menilai diri mereka sebagai hamba-hamba yang tidak berguna, di sana faktor kerendahan hati sangat menentukan kualitas pelayanannya. Kita hanyalah hamba-hamba atau pelayan-pelayan Allah yang bekerja sesuai kehendak Allah sendiri, segala sesuatu sepenuhnya adalah privilese atau hak istimewa Allah untuk menuntut pertanggungjawaban dari kita masing-masing. Penekanan dari perumpamaan singkat di atas adalah dedikasi atau pengabdian total seorang hamba kepada tuannya tanpa pamrih. Sebagaimana, Santo Paulus juga sangat memahami dedikasi atau pengabdian total kepada Yesus. Paulus tidak mencari-cari pujian istimewa, ganjaran atau sejenisnya. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, ia menulis, “… jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16). Para rasul juga pernah berkata kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5).  Jawaban Yesus sederhana saja dimana  berisikan tuntutan-Nya akan dedikasi total, seakan-akan Ia berkata: Jika engkau menaruh kepercayaan pada-Ku, lakukanlah segala sesuatu yang Aku minta, imanmu kepada-Ku pun akan bertumbuh; itu sudah cukup. Untuk masa depan keselamatan kita, kita percaya bahwa Yesus akan berkata sebaliknya: “Sesungguhnya ia (tuan) akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka” (Luk 12:37). Seseorang yg melayani Tuhan dalam hidupnya sekarang ini akan dilayani oleh Tuhan dalam kehidupan yang akan datang. Untuk itu kita harus bersikap rendah hati dan memiliki ketaatan yang tinggi sebagai hamba yang setia pada Allah.

            Kita semua adalah rasul-rasul Kristus pada zaman modern ini, di mana Yesus mengharapkan pemberian diri yang total dari kita semua untuk melayani Allah dalam diri sesama kita. Kita harus bekerja demi kemajuan Kerajaan Allah dan menempatkan rasa percaya kita ke dalam penyelenggaraan Yesus yang telah memberikan contoh dan teladan bagaimana Ia hadir sebagai pelayan atau hamba bagi keselamatan umat manusia. Santo Fransiskus dari Assisi menjelang saat kematiannya memberi pesan penting kepada para saudaranya: “Aku telah melakukan apa yang mesti kulakukan, biarlah Kristus mengajar kamu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Santo Fransiskus dari Asisi ingin memberikan motivasi iman kepada para saudaranya agar selalu melakukan apa yang menjadi kehendak Allah, tidak boleh  memikirkan upah, kepentingan dan kenyamanan diri sendiri.  Semua yang dilakukan harus fokus bagi Allah. Inilah arti sesungguhnya spiritualitas kerendahan hati seorang hamba yang siap melayani. Kalau kehendak Allah dapat dijadikan prioritas dalam hidup, maka kita akan mudah memahami perkataan Yesus pada ayat terakhir perikop ini bahwa, kalau kamu mampu menjadi hamba dan pelayan  yang setia dan telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.  Ayat terakhir ini mau menerangkan kepada kita semua bahwaYesus sendiri sebenarnya telah memberi contoh dan teladan sebagai seorang hamba. Ia datang tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mark 10:45).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar