Flp
2;5-11 & Luk 14:15-24
Dalam bahasa
perumpamaan Yesus menunjukkan dengan jelas sikap penolakan Israel terhadap
undangan keselamatan dari Allah. Undangan itu sudah diberikan dan nyata dalam
diri Yesus, namun dipandang sepeleh dan ditolak.
Secara paling
nyata penolakan itu kuat ditunjukkan oleh para penatua, orang-orang Farisi dan
ahli-ahli Kitab Suci. Atas kuasa dan pengaruh yang dimiliki mereka juga berusaha
menghalang-halangi orang kebanyakan untuk menerima undangan Allah dan datang
kepada Yesus. Tidak sedikit yang disesatkan dan mengambil bagian dalam sikap
penolakan.
Seperti yang
ditampilkan Kitab Suci, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Kitab Suci merasa
sudah cukup dengan keyakinan dan
kesalehan yang mereka miliki oleh menjalankan secara ketat Taurat dan berbagai
aturan terapannya. Ada kebanggaan dalam diri atas pratik itu dan hal itu diklaim
sebagai dasar untuk mengambil bagian dalam keselamatan yang dijanjikan Allah. Namun
kebanggan itu dilihat Yesus sebagai berlebihan dan membuat mereka menyepelehkan
undangan Allah. Kesempatan mendesak untuk menjawabi undangan ke perjamuan Tuhan
diabaikan.
Yesus
menunjukkan bahwa karena menganggap sepeleh undangan mendesak dari Allah maka
dengan begitu mereka menghilangkan hak mereka untuk mengambil bagian dalam
perjamuan Tuhan. Sebagai konsekuensinya, tempat mereka diambil oleh orang-orang
lain. Orang-orang lain itu adalah orang-orang dari suku bangsa di luar Israel
yang disebut orang Yahudi sebagai orang-orang kafir, namun mereka itulah membuka
hati untuk menerima Injil Kerajaan Allah. Ruangan pesta itu dipenuhi oleh
orang-orang yang menerima Injil.
Para ahli menafsirkan
bahwa meskipun perumpamaan yang dikemukan Yesus ini pertama-tama ditujukan
kepada orang Israel, namun juga terarah kepada gereja dan semua orang percaya
pada masa ini, yaitu orang-orang yang lupa dan pura-pura lupa akan panggilan
hidupnya. Imam dan biarawan/i lupa bahwa mereka telah dikhususkan oleh Allah
untuk melayani kepentingan-Nya, demikian pula dengan kaum awam pada umumnya
yang dimenteraikan oleh baptisan supaya oleh hidupnya membawa semakin banyak
orang kepada perjamuan Tuhan.
Di tengah
situasi kemerosotan iman dan keteladanan hidup kristiani, Tuhan mengirim undangan
istimewa dan mendesak agar ditanggapi dengan serius. Namun tidak jarang kita
anggap sepeleh. Seperti yang ditampilkan penginjil, keterikatan kita pada
perkara dunia membuat kita menyepelehkan undangan-Nya dan membiarkan kesempatan
istimewa itu berlalu begitu saja (bdk. Ay 18-20).
Sementara yang
lain berusaha menjalankan ritual keagamaan sebegitu ketatnya bak orang-orang
Farisi dan ahli-ahli Taurat, rajin berdoa dan menghadiri misa, lalu menganggap
bahwa kesalehan ritual itu sudah menjadi jaminan untuk mengambil bagian dalam
keselamatan, padahal hidup praktis jauh dari cerminan hidup kristiani. Orang
lupa bahwa makna sakramen yang dirayakan itu mendapat kepenuhannya dalam
praktik hidup yang selaras dengannya.
Pada
kecenderungan ini, Tuhan boleh dihormati di dalam sakramen-sakramen yang
dirayakan, juga sakramentali dan
praktik-praktik kesalehan lainnya, namun Dia yang disembah dan dihormati itu
tidak dibawa masuk ke dalam hidup harian. Tuhan dibiarkan sendirian di ruangan
tertutup, di dalam tabernakel dan gereja.
Jika demikian, maka
tidak mengherankan, selepas pintu gereja mulut yang tadinya digunakan untuk
menyebut dan memuliakan nama Tuhan dipakai juga untuk menghujat, menista dan
mencaci-maki; selepas pintu gereja orang yang tadinya begitu saleh dan berlutut
lama di depan tabernakel bisa saja mencuri, memerkosa dan membunuh dan masih
banyak lagi deretan kejahatan yang dilakukan.
Sebagai Gereja
peziarah/pejuang kita menyadari bahwa acapkali kita menunjukkan sikap dan
praktik hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai injili. Dan Tuhan datang
kepada kita melalui perumpaan yang kita renungkan ini agar kita benar-benar
insaf akan panggilan kita. Kita insaf bahwa pesta perjamuan-Nya sudah disiapkan
bagi kita. Kita memiliki satu pilihan untuk menghormati undangannya jika kita
tidak mau kehilangan hak mengambil bagian dalam pesta Tuhan.
Maka marilah
kita menunjukkan perilaku hidup kita sebagai orang-orang Kristiani yang membawa
serta Tuhan dalam hidup kita. Kita menyelaraskan apa yang kita akui dengan
sungguh dan yang kita ucapkan oleh bibir kita dengan sikap dan perilaku hidup
kita. Itulah tanda kita menanggapi dengan serius undangan-Nya meski dalam
kenyataan di dunia ini masih merupakan suatu antisipasi bagi perjamuan Tuhan.
***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar