Senin, 02 November 2020

Menanggapi Undangan Keselamatan Allah

Flp 2;5-11 & Luk 14:15-24

Dalam bahasa perumpamaan Yesus menunjukkan dengan jelas sikap penolakan Israel terhadap undangan keselamatan dari Allah. Undangan itu sudah diberikan dan nyata dalam diri Yesus, namun dipandang sepeleh dan ditolak.

 

Secara paling nyata penolakan itu kuat ditunjukkan oleh para penatua, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Kitab Suci. Atas kuasa dan pengaruh yang dimiliki mereka juga berusaha menghalang-halangi orang kebanyakan untuk menerima undangan Allah dan datang kepada Yesus. Tidak sedikit yang disesatkan dan mengambil bagian dalam sikap penolakan.

 

Seperti yang ditampilkan Kitab Suci, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Kitab Suci merasa sudah cukup  dengan keyakinan dan kesalehan yang mereka miliki oleh menjalankan secara ketat Taurat dan berbagai aturan terapannya. Ada kebanggaan dalam diri atas pratik itu dan hal itu diklaim sebagai dasar untuk mengambil bagian dalam keselamatan yang dijanjikan Allah. Namun kebanggan itu dilihat Yesus sebagai berlebihan dan membuat mereka menyepelehkan undangan Allah. Kesempatan mendesak untuk menjawabi undangan ke perjamuan Tuhan diabaikan.

 

Yesus menunjukkan bahwa karena menganggap sepeleh undangan mendesak dari Allah maka dengan begitu mereka menghilangkan hak mereka untuk mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan. Sebagai konsekuensinya, tempat mereka diambil oleh orang-orang lain. Orang-orang lain itu adalah orang-orang dari suku bangsa di luar Israel yang disebut orang Yahudi sebagai orang-orang kafir, namun mereka itulah membuka hati untuk menerima Injil Kerajaan Allah. Ruangan pesta itu dipenuhi oleh orang-orang yang menerima Injil.

 

Para ahli menafsirkan bahwa meskipun perumpamaan yang dikemukan Yesus ini pertama-tama ditujukan kepada orang Israel, namun juga terarah kepada gereja dan semua orang percaya pada masa ini, yaitu orang-orang yang lupa dan pura-pura lupa akan panggilan hidupnya. Imam dan biarawan/i lupa bahwa mereka telah dikhususkan oleh Allah untuk melayani kepentingan-Nya, demikian pula dengan kaum awam pada umumnya yang dimenteraikan oleh baptisan supaya oleh hidupnya membawa semakin banyak orang kepada perjamuan Tuhan.

 

Di tengah situasi kemerosotan iman dan keteladanan hidup kristiani, Tuhan mengirim undangan istimewa dan mendesak agar ditanggapi dengan serius. Namun tidak jarang kita anggap sepeleh. Seperti yang ditampilkan penginjil, keterikatan kita pada perkara dunia membuat kita menyepelehkan undangan-Nya dan membiarkan kesempatan istimewa itu berlalu begitu saja (bdk. Ay 18-20).

 

Sementara yang lain berusaha menjalankan ritual keagamaan sebegitu ketatnya bak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, rajin berdoa dan menghadiri misa, lalu menganggap bahwa kesalehan ritual itu sudah menjadi jaminan untuk mengambil bagian dalam keselamatan, padahal hidup praktis jauh dari cerminan hidup kristiani. Orang lupa bahwa makna sakramen yang dirayakan itu mendapat kepenuhannya dalam praktik hidup yang selaras dengannya.

 

Pada kecenderungan ini, Tuhan boleh dihormati di dalam sakramen-sakramen yang dirayakan, juga sakramentali  dan praktik-praktik kesalehan lainnya, namun Dia yang disembah dan dihormati itu tidak dibawa masuk ke dalam hidup harian. Tuhan dibiarkan sendirian di ruangan tertutup, di dalam tabernakel dan gereja.

 

Jika demikian, maka tidak mengherankan, selepas pintu gereja mulut yang tadinya digunakan untuk menyebut dan memuliakan nama Tuhan dipakai juga untuk menghujat, menista dan mencaci-maki; selepas pintu gereja orang yang tadinya begitu saleh dan berlutut lama di depan tabernakel bisa saja mencuri, memerkosa dan membunuh dan masih banyak lagi deretan kejahatan yang dilakukan.

 

Sebagai Gereja peziarah/pejuang kita menyadari bahwa acapkali kita menunjukkan sikap dan praktik hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai injili. Dan Tuhan datang kepada kita melalui perumpaan yang kita renungkan ini agar kita benar-benar insaf akan panggilan kita. Kita insaf bahwa pesta perjamuan-Nya sudah disiapkan bagi kita. Kita memiliki satu pilihan untuk menghormati undangannya jika kita tidak mau kehilangan hak mengambil bagian dalam pesta Tuhan.

 

Maka marilah kita menunjukkan perilaku hidup kita sebagai orang-orang Kristiani yang membawa serta Tuhan dalam hidup kita. Kita menyelaraskan apa yang kita akui dengan sungguh dan yang kita ucapkan oleh bibir kita dengan sikap dan perilaku hidup kita. Itulah tanda kita menanggapi dengan serius undangan-Nya meski dalam kenyataan di dunia ini masih merupakan suatu antisipasi bagi perjamuan Tuhan. ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar