Luk
12:39-48
Seorang
pemimpin yang barusan diangkat akan dilantik dan mengangkat sumpah atau janji berdasarkan
keyakinan yang dimilikinya. Di bawah Kitab Suci, orang yang dilantik itu
mengangkat sumpah/janji jabatan. Sumpah/janji itu diawali dengan rumusan: “Demi
Allah/Tuhan, saya bersumpah/berjanji” dan selanjutnya diikuti dengan isi sumpah
atau janji.
Menarik bahwa
sebelum dilantik dan mengangkat sumpah/janji jabatan itu, kepada yang dilantik
terlebih dahulu diingatkan bahwa sumpah/janji itu bukan saja disaksikan oleh
diri sendiri dan semua yang hadir, melainkan juga yang terpenting adalah
disaksikan oleh Tuhan Yang Maha esa.
Hal ini
menunjukkan bahwa Tuhan sungguh dihadirkan sebagai kekuatan utama yang menentukan
orang yang dilantik untuk menjalankan tanggung jawab yang diberikan kepadanya
secara baik. Jika di hadapan manusia yang hanya mengetahui apa yang kelihatan,
baik perkataan maupun perbuatan, namun tidak melihat apa yang tersembunyi, maka
penyalagunaan tanggungjawab bisa dilakukan juga dengan sengaja. Kesetiaan bisa
berubah menjadi ketidaksetiaan. Namun tidaklah demikian bagi Allah. Kepada Dia yang maha mengetahui, segala
sesuatu akan dipertanggungjawabkan. Orang yang bersumpah/mengangkat janji tidak
akan pernah mengibuli ataupun mengakali Tuhannya.
Hampir setiap
kali menyaksikan peristiwa pelantikan dan pengangkatan sumpah/janji, orang yang
dilantik begitu terlibat dalam situasi sumpah/janji. Wajahnya menjadi ceriah, gambaran
jiwa yang lagi bersukacita. Ya, jabatan itu anugerah dari Allah. Pantaslah
orang bersukacita karena anugerah itu dan wajahnya menjadi bersinar-sinar.
Karena sukacita
ini maka seseorang yang baru dilantik dengan sangat antusias mengawali tugas
dan tanggung jawabnya dengan janji-janji yang penuh harapan kalau tidak
dibilang muluk-muluk. Hari-hari pertama dihiasi dengan antusiasme, optimisme
dan tekad yang menggebu-gebu. Dengan
penuh percaya diri orang berjanji untuk tidak akan menyalagunakan kuasa, tidak akan
melakukan KKN, tidak akan mengejar popularitas diri.
Namun seiring
perjalanan waktu, sumpah/janji dan pernyataan-pernyataan yang diucapkan sampai
mulut berbusa-busa itu begitu mudah dilupakan.
Orang berubah setia dan seolah-olah mengalami ‘amnesia’. Tuhan dan Kitab Suci-Nya
disangkal secara praktis karena kepentingan diri. Kekuasaan mulai digunakan
untuk melayani kepentingan diri; KKN pun mulai marak serta kecenderungan untuk
mencari popularitas diri semakin melambung.
Kalau Tuhan dan
Kitab Suci-Nya saja mudah diakali dalam praktik kekuasaan, maka orang yang
menyaksikan sumpah/janji jabatan itu bukan saja dikibuli, ditekan, tetapi juga mudah
dipermainkan bak seekor lembu yang dicocor hidung. Anehnya bahwa meskipun Tuhan
disangkal namun acapkali ayat-ayat Kitab Suci dipakai untuk mendukung
kepentingan diri. Sebuah kejahatan, oleh karena dibungkus dengan ayat-ayat
suci, maka mudah diterima oleh mereka yang mau dibohongi.
Kitab Suci
memang sudah mencatat bahwa tidak semua orang yang diangkat dalam jabatan
melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai hamba yang setia. Ada juga hamba
yang jahat yang menggunakan kekuasaan sewenang-wenang untuk melayani
kepentingan diri sendiri. Mereka menerima jabatan bukan untuk melayani,
melainkan untuk mencari keuntungan diri dan berlaku jahat (Luk 12:45-47).
Mereka itulah yang mungkin saja bekerja kotor untuk mendapatkan jabatan dan
menggunakan sumpah jabatan sebagai kesempatan untuk kepentingan diri. Awalnya
masih malu-lamu kucing akan tetapi kemudian menjadi begitu beringas, penuh hawa
nafsu dan berbinar-binar.
Berkenaan
dengan ini, Yesus dalam Injil hari ini mengingatkan orang yang berkuasa dan
terutama para pemimpin Kristiani, yang telah diangkat Tuhan menjadi pengawas
segala milik-Nya, juga kepada semua kita yang beriman kepada-Nya dan telah
menerima anugerah rohani dan jasmani. Tuhan mengingatkan agar semua kita, dan
terutama para pemimpin agar setia dalam tugas dan tanggung jawab untuk menjaga
dan memelihara apa yang menjadi milik kepunyaan Tuhan.
Di rumah
sebagai orang tua, kita diangkat menjadi pengawas atas anak-anak yang Tuhan
titipkan kepada kita; di sekolah guru-guru diangkat menjadi pengawas atas
peserta didik; pengawas diangkat untuk para guru dan peserta didik; para
pejabat diangkat untuk bawahan; pastor paroki diangkat untuk umat beriman.
Semua kita diangkat dengan jabatan kita masing-masing dan Tuhan menuntut
kesetiaan kita sebagai seorang hamba yang bekerja bagi-Nya.
Baiklah dalam rasa
takut yang suci akan Dia, kita berusaha menjaga diri kita agar tidak lupa diri
bahwa kita ini diangkat dalam jabatan sebagai pengawas tetapi sejatinya kita tetap
hamba; bahwa pada saatnya kita harus mempertanggungjawabkan tugas kita kepada
Tuhan. Mudah-mudahan kita didapati Tuhan sebagai seorang hamba yang setia. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar