Minggu, 01 November 2020

Diangkat Tuhan Dalam Jabatan Sebagai Pengawas

Luk 12:39-48

Seorang pemimpin yang barusan diangkat akan dilantik dan mengangkat sumpah atau janji berdasarkan keyakinan yang dimilikinya. Di bawah Kitab Suci, orang yang dilantik itu mengangkat sumpah/janji jabatan. Sumpah/janji itu diawali dengan rumusan: “Demi Allah/Tuhan, saya bersumpah/berjanji” dan selanjutnya diikuti dengan isi sumpah atau janji.

 

Menarik bahwa sebelum dilantik dan mengangkat sumpah/janji jabatan itu, kepada yang dilantik terlebih dahulu diingatkan bahwa sumpah/janji itu bukan saja disaksikan oleh diri sendiri dan semua yang hadir, melainkan juga yang terpenting adalah disaksikan oleh Tuhan Yang Maha esa.

 

Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan sungguh dihadirkan sebagai kekuatan utama yang menentukan orang yang dilantik untuk menjalankan tanggung jawab yang diberikan kepadanya secara baik. Jika di hadapan manusia yang hanya mengetahui apa yang kelihatan, baik perkataan maupun perbuatan, namun tidak melihat apa yang tersembunyi, maka penyalagunaan tanggungjawab bisa dilakukan juga dengan sengaja. Kesetiaan bisa berubah menjadi ketidaksetiaan. Namun tidaklah demikian bagi Allah.  Kepada Dia yang maha mengetahui, segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan. Orang yang bersumpah/mengangkat janji tidak akan pernah mengibuli  ataupun mengakali Tuhannya.

 

Hampir setiap kali menyaksikan peristiwa pelantikan dan pengangkatan sumpah/janji, orang yang dilantik begitu terlibat dalam situasi sumpah/janji. Wajahnya menjadi ceriah, gambaran jiwa yang lagi bersukacita. Ya, jabatan itu anugerah dari Allah. Pantaslah orang bersukacita karena anugerah itu dan wajahnya menjadi bersinar-sinar.

 

Karena sukacita ini maka seseorang yang baru dilantik dengan sangat antusias mengawali tugas dan tanggung jawabnya dengan janji-janji yang penuh harapan kalau tidak dibilang muluk-muluk. Hari-hari pertama dihiasi dengan antusiasme, optimisme dan tekad yang menggebu-gebu.  Dengan penuh percaya diri orang berjanji untuk tidak akan menyalagunakan kuasa, tidak akan melakukan KKN, tidak akan mengejar popularitas diri.

 

Namun seiring perjalanan waktu, sumpah/janji dan pernyataan-pernyataan yang diucapkan sampai mulut berbusa-busa itu begitu  mudah dilupakan. Orang berubah setia dan seolah-olah mengalami ‘amnesia’. Tuhan dan Kitab Suci-Nya disangkal secara praktis karena kepentingan diri. Kekuasaan mulai digunakan untuk melayani kepentingan diri; KKN pun mulai marak serta kecenderungan untuk mencari popularitas diri semakin melambung.

 

Kalau Tuhan dan Kitab Suci-Nya saja mudah diakali dalam praktik kekuasaan, maka orang yang menyaksikan sumpah/janji jabatan itu bukan saja dikibuli, ditekan, tetapi juga mudah dipermainkan bak seekor lembu yang dicocor hidung. Anehnya bahwa meskipun Tuhan disangkal namun acapkali ayat-ayat Kitab Suci dipakai untuk mendukung kepentingan diri. Sebuah kejahatan, oleh karena dibungkus dengan ayat-ayat suci, maka mudah diterima oleh mereka yang mau dibohongi.

 

Kitab Suci memang sudah mencatat bahwa tidak semua orang yang diangkat dalam jabatan melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai hamba yang setia. Ada juga hamba yang jahat yang menggunakan kekuasaan sewenang-wenang untuk melayani kepentingan diri sendiri. Mereka menerima jabatan bukan untuk melayani, melainkan untuk mencari keuntungan diri dan berlaku jahat (Luk 12:45-47). Mereka itulah yang mungkin saja bekerja kotor untuk mendapatkan jabatan dan menggunakan sumpah jabatan sebagai kesempatan untuk kepentingan diri. Awalnya masih malu-lamu kucing akan tetapi kemudian menjadi begitu beringas, penuh hawa nafsu dan berbinar-binar.

 

Berkenaan dengan ini, Yesus dalam Injil hari ini mengingatkan orang yang berkuasa dan terutama para pemimpin Kristiani, yang telah diangkat Tuhan menjadi pengawas segala milik-Nya, juga kepada semua kita yang beriman kepada-Nya dan telah menerima anugerah rohani dan jasmani. Tuhan mengingatkan agar semua kita, dan terutama para pemimpin agar setia dalam tugas dan tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara apa yang menjadi milik kepunyaan Tuhan.

 

Di rumah sebagai orang tua, kita diangkat menjadi pengawas atas anak-anak yang Tuhan titipkan kepada kita; di sekolah guru-guru diangkat menjadi pengawas atas peserta didik; pengawas diangkat untuk para guru dan peserta didik; para pejabat diangkat untuk bawahan; pastor paroki diangkat untuk umat beriman. Semua kita diangkat dengan jabatan kita masing-masing dan Tuhan menuntut kesetiaan kita sebagai seorang hamba yang bekerja bagi-Nya.

 

Baiklah dalam rasa takut yang suci akan Dia, kita berusaha menjaga diri kita agar tidak lupa diri bahwa kita ini diangkat dalam jabatan sebagai pengawas tetapi sejatinya kita tetap hamba; bahwa pada saatnya kita harus mempertanggungjawabkan tugas kita kepada Tuhan. Mudah-mudahan kita didapati Tuhan sebagai seorang hamba yang setia. ***Apol***

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar