Luk 19: 11-28
Selama lebih kurang 11 tahun mengabdikan diri sebagai seorang ASN, saya
dapat melihat empat tipe ASN yang terdeskripsi (tergambar) dalam diri para ASN
di institusi tempat saya bekerja. Pertama, ASN yang memiliki kemampuan tetapi
tidak memiliki kemauan. Harus diakui memang, sebagian besar ASN memiliki aneka
kemampuan yang mumpuni untuk bekerja; entah itu kemampuan intelektual,
kemampuan manajerial, dan kemampuan teknis lain yang dimiliki. Namun mereka
tidak cukup punya kemauan untuk bekerja. Mungkin karena faktor malas, jenuh,
beda pandangan dengan pimpinan dan rekan karena merasa diri paling benar, tidak
sreg atau puas dengan situasi yang
ada, dan lainnya. Kedua, ASN yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki
kemampuan. Cukup banyak juga ASN yang dari sisi kepemilikan kemampuan sangat
minimalis, tetapi di sisi lain mereka memiliki kemauan yang sangat kuat dalam
bekerja. Mereka rajin bertanya, rajin meminta bantuan dan rajin belajar untuk
menumbuhkan dan mengembangkan kinerja yang dimiliki.
Ketiga, ASN yang tidak memiliki kemampuan sekaligus kemauan. Mereka sangat
tidak fokus dan tidak sibuk untuk bekerja dalam tupoksinya. Tipe ini dimiliki
oleh segelintir ASN. Ketika berada di kantor, mereka hanya memiliki
ketertarikan untuk mengotak-atik HP (Handphone)
dan sering membuat gosip atau rumor. Orang-orang ini juga tidak suka diminta
bantuan apalagi diperintah. Mereka juga selalu tidak betah dan ada saja alasan
yang dipakai untuk meninggalkan ruangan atau kantor. Keempat, ASN yang memiliki
kemampuan dan kemauan. Ini tipe ASN sejati dan sangat didambakan oleh seorang
pimpinan. Namun, sangat jarang saya melihat para ASN dengan tipe keempat ini.
Kalaupun ada, itu sangat langka. Dari empat tipe ini, saya sangat memberi
apresiasi buat rekan-rekan yang kurang memiliki kemampuan tetapi memiliki
kemauan yang kuat untuk bekerja (tanpa mengurangi rasa hormat untuk rekan-rekan
yang memiliki kemampuan dan kemauan yang sama kuat). Dari hasil pengamatan
pribadi, orang-orang ini memiliki tanggung jawab dan kesetiaan yang tinggi. Mereka
juga sukses menjawab kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan. Tidak jarang,
mereka mendapat prestasi dan reward
yang pantas atas hasil kerja mereka.
Dalam bacaan Injil hari ini (Rabu/18/11/2020), Yesus mengetengahkan sebuah
perumpamaan tentang uang mina. Ada tiga komponen utama yang diangkat dalam
kisah ini. Seorang bangsawan, para hamba dan mina. Secara ringkas diceritakan
bahwa sebelum hendak bepergian ke tempat yang jauh untuk dinobatkan menjadi
raja, seorang tuan (bangsawan) memanggil sepuluh hambanya dan memberi
masing-masing kepada mereka satu mina. Satu mina itu sebagai dana awal untuk
dinvestasikan. Tugas para hamba adalah bekerja dengan maksimal untuk
melipatgandakan uang mina yang sangat kecil nominalnya tersebut. Setelah
dinobatkan menjadi raja, sang tuan akhirnya kembali ke tempat asalnya. Ia pun
memanggil para hambanya untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil kerja
mereka. Besar harapan dari sang tuan bahwa para hamba dapat melaksanakan tugas
dengan baik seperti yang telah diamanatkan olehnya. Memang sang tuan tidak
mematok berapa hasil yang dihasilkan. Para hamba hanya diminta untuk bekerja
dan menggandakan mina yang telah diberikan.
Hamba pertama datang dan mengatakan bahwa ia telah menghasilkan sepuluh
mina. Sang tuan sangat memberi apresiasi. Ia memberikan kuasa atas sepuluh kota
sebagai ganjaran atas prestasi yang telah didapat oleh hamba tersebut. Kemudian
datang hamba yang kedua. Ia juga menyampaikan kepada sang tuan bahwa ia telah
melipatgandakan satu mina menjadi lima mina. Sang tuan akhirnya memberi lima
kota kepada hamba itu untuk dikuasai atas nama dirinya. Akhirnya datang hamba
yang ketiga dan menandaskan kepada sang tuan bahwa ia hendak mengembalikan mina
yang telah didapatnya dari sang tuan. Kesimpulannya adalah ia tidak bekerja
untuk menggandakan mina. Bukan hanya itu saja. Hamba yang jahat itu juga
berusaha mencari pembelaan diri dan menyerang tuannya dengan kata-kata yang
tidak elok. Ia mencap tuannya sebagai seorang yang keras dan suka makan riba.
Tentu saja sang tuannya sangat marah mendengar itu. Ia pun memastikan untuk
menghukum hamba yang tidak setia dan bertanggung jawab tersebut.
Yang menarik dalam bacaan ini terletak pada akhir kisahnya. Sang tuan
memerintahkan orang-orang untuk mengambil mina yang tidak terpakai dari hamba
yang jahat dan memberikannya kepada hamba yang telah menghasilkan sepuluh mina.
Orang-orang yang ada di situ melakukan protes karena ia sudah mendapat sepuluh
mina. Tetapi sang tuan berkata: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan
diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa
yang ada padanya” (Luk 19:26). Pernyataan dari sang tuan ini menegaskan bahwa
hamba yang telah bekerja dengan baik akan mendapat reward yang memberinya kelimpahan dalam harta. Sedangkan hamba yang
tidak bekerja dengan baik akan menerima hukuman yang semakin memiskinkan
hidupnya.
Tiga komponen yakni sang tuan, para hamba, dan mina merupakan ungkapan
simbolik yang mewakili tiga entitas. Sang tuan ada Allah sendiri. Para hamba
adalah umat manusia. Sedangkan mina adalah segala kebaikan atau anugerah berupa
bakat, kompetensi dan kemampuan yang dimiliki seorang manusia. Setiap dari kita
sebagai umat beriman telah dianugerahi oleh Allah dengan segala kebaikan atau
anugerah tersebut. Dan Tuhan menghendaki agar kita mampu mengembangkannya demi
mencapai misi Allah yakni terciptanya Kerajaan Allah di tengah dunia.
Sebagai orang Katolik, kita masing-masing memiliki anugerah, bakat dan
kemampuan yang pasti tidak sama dan berbeda satu dengan yang lain. Anugerah
intelektual, bakat mumpuni dalam disiplin ilmu tertentu, kemampuan atau
kecakapan dalam integritas moral, kompetensi yang matang untuk mengeksekusi
atau melaksanakan suatu hal adalah sederet kebaikan atau anugerah yang telah
diberikan Tuhan kepada kita. Masing-masing dari kita telah memiliki mina dengan
jumlah yang sangat bervariasi. Pertanyaan reflektifnya, apakah kita telah mampu
menunjukkannya dalam tataran kualitas sebagai seorang kristiani atau belum.
Apakah kita sudah mengimplementasikannya untuk membawa kebaikan dan kegembiraan
bagi sesama kita? Atau kita masih sibuk memuaskan diri sendiri?
Acapkali terjadi hanya demi
memuaskan kepentingan pribadi dan keluarga, kita gagal menunjukkan kualitas
diri sebagai seorang Katolik yang baik. Kita sering berlaku tidak jujur untuk
mendapatkan keuntungan yang tidak halal. Kita juga sering bertindak arogan,
mempertontonkan kehebatan intelektual sembari menganggap rendah orang lain.
Kita juga seringkali bersikap masa bodoh menyikapi realitas yang membutuhkan
kepekaan dan pelayanan prima. Kita juga gampang tersinggung dan menjadi seorang
pemarah. Dalam hal ini, Kita belum mampu menunjukkan kedewasaan emosional dan
spiritual padahal kita termasuk dalam golongan orang yang mumpuni dari segi
pendidikan. Dan masih banyak sikap-sikap destruktif lainnya yang mengafirmasi
kita belum mampu mengembangkan mina atau anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan
kepada kita.
Melalui perumpamaan tentang uang mina, Yesus mau menggugah dan menggugat
diri kita agar kita mau menyadari segala anugerah, kemampuan dan kompetensi
yang kita miliki. Hendaknya segala anugerah yang kita punyai dapat kita
manfaatkan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan tidak hanya bagi diri kita
tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga kita mampu
mengembangkan “mina” dalam diri kita dengan membawa nilai kejujuran, kerendahan
hati, kepekaan nurani, dan kedamaian jiwa di rumah besar yang kita cintai ini.
Dengan demikian, apa yang telah kita miliki secara otomatis akan ditambahkan
oleh Tuhan dalam hidup kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar