Minggu, 22 November 2020

MENGEMBANGKAN MINA DALAM HIDUP

Luk 19: 11-28

Selama lebih kurang 11 tahun mengabdikan diri sebagai seorang ASN, saya dapat melihat empat tipe ASN yang terdeskripsi (tergambar) dalam diri para ASN di institusi tempat saya bekerja. Pertama, ASN yang memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki kemauan. Harus diakui memang, sebagian besar ASN memiliki aneka kemampuan yang mumpuni untuk bekerja; entah itu kemampuan intelektual, kemampuan manajerial, dan kemampuan teknis lain yang dimiliki. Namun mereka tidak cukup punya kemauan untuk bekerja. Mungkin karena faktor malas, jenuh, beda pandangan dengan pimpinan dan rekan karena merasa diri paling benar, tidak sreg atau puas dengan situasi yang ada, dan lainnya. Kedua, ASN yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kemampuan. Cukup banyak juga ASN yang dari sisi kepemilikan kemampuan sangat minimalis, tetapi di sisi lain mereka memiliki kemauan yang sangat kuat dalam bekerja. Mereka rajin bertanya, rajin meminta bantuan dan rajin belajar untuk menumbuhkan dan mengembangkan kinerja yang dimiliki.

 

Ketiga, ASN yang tidak memiliki kemampuan sekaligus kemauan. Mereka sangat tidak fokus dan tidak sibuk untuk bekerja dalam tupoksinya. Tipe ini dimiliki oleh segelintir ASN. Ketika berada di kantor, mereka hanya memiliki ketertarikan untuk mengotak-atik HP (Handphone) dan sering membuat gosip atau rumor. Orang-orang ini juga tidak suka diminta bantuan apalagi diperintah. Mereka juga selalu tidak betah dan ada saja alasan yang dipakai untuk meninggalkan ruangan atau kantor. Keempat, ASN yang memiliki kemampuan dan kemauan. Ini tipe ASN sejati dan sangat didambakan oleh seorang pimpinan. Namun, sangat jarang saya melihat para ASN dengan tipe keempat ini. Kalaupun ada, itu sangat langka. Dari empat tipe ini, saya sangat memberi apresiasi buat rekan-rekan yang kurang memiliki kemampuan tetapi memiliki kemauan yang kuat untuk bekerja (tanpa mengurangi rasa hormat untuk rekan-rekan yang memiliki kemampuan dan kemauan yang sama kuat). Dari hasil pengamatan pribadi, orang-orang ini memiliki tanggung jawab dan kesetiaan yang tinggi. Mereka juga sukses menjawab kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan. Tidak jarang, mereka mendapat prestasi dan reward yang pantas atas hasil kerja mereka.

Dalam bacaan Injil hari ini (Rabu/18/11/2020), Yesus mengetengahkan sebuah perumpamaan tentang uang mina. Ada tiga komponen utama yang diangkat dalam kisah ini. Seorang bangsawan, para hamba dan mina. Secara ringkas diceritakan bahwa sebelum hendak bepergian ke tempat yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja, seorang tuan (bangsawan) memanggil sepuluh hambanya dan memberi masing-masing kepada mereka satu mina. Satu mina itu sebagai dana awal untuk dinvestasikan. Tugas para hamba adalah bekerja dengan maksimal untuk melipatgandakan uang mina yang sangat kecil nominalnya tersebut. Setelah dinobatkan menjadi raja, sang tuan akhirnya kembali ke tempat asalnya. Ia pun memanggil para hambanya untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil kerja mereka. Besar harapan dari sang tuan bahwa para hamba dapat melaksanakan tugas dengan baik seperti yang telah diamanatkan olehnya. Memang sang tuan tidak mematok berapa hasil yang dihasilkan. Para hamba hanya diminta untuk bekerja dan menggandakan mina yang telah diberikan.

 

Hamba pertama datang dan mengatakan bahwa ia telah menghasilkan sepuluh mina. Sang tuan sangat memberi apresiasi. Ia memberikan kuasa atas sepuluh kota sebagai ganjaran atas prestasi yang telah didapat oleh hamba tersebut. Kemudian datang hamba yang kedua. Ia juga menyampaikan kepada sang tuan bahwa ia telah melipatgandakan satu mina menjadi lima mina. Sang tuan akhirnya memberi lima kota kepada hamba itu untuk dikuasai atas nama dirinya. Akhirnya datang hamba yang ketiga dan menandaskan kepada sang tuan bahwa ia hendak mengembalikan mina yang telah didapatnya dari sang tuan. Kesimpulannya adalah ia tidak bekerja untuk menggandakan mina. Bukan hanya itu saja. Hamba yang jahat itu juga berusaha mencari pembelaan diri dan menyerang tuannya dengan kata-kata yang tidak elok. Ia mencap tuannya sebagai seorang yang keras dan suka makan riba. Tentu saja sang tuannya sangat marah mendengar itu. Ia pun memastikan untuk menghukum hamba yang tidak setia dan bertanggung jawab tersebut.

 

Yang menarik dalam bacaan ini terletak pada akhir kisahnya. Sang tuan memerintahkan orang-orang untuk mengambil mina yang tidak terpakai dari hamba yang jahat dan memberikannya kepada hamba yang telah menghasilkan sepuluh mina. Orang-orang yang ada di situ melakukan protes karena ia sudah mendapat sepuluh mina. Tetapi sang tuan berkata: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya” (Luk 19:26). Pernyataan dari sang tuan ini menegaskan bahwa hamba yang telah bekerja dengan baik akan mendapat reward yang memberinya kelimpahan dalam harta. Sedangkan hamba yang tidak bekerja dengan baik akan menerima hukuman yang semakin memiskinkan hidupnya.

 

Tiga komponen yakni sang tuan, para hamba, dan mina merupakan ungkapan simbolik yang mewakili tiga entitas. Sang tuan ada Allah sendiri. Para hamba adalah umat manusia. Sedangkan mina adalah segala kebaikan atau anugerah berupa bakat, kompetensi dan kemampuan yang dimiliki seorang manusia. Setiap dari kita sebagai umat beriman telah dianugerahi oleh Allah dengan segala kebaikan atau anugerah tersebut. Dan Tuhan menghendaki agar kita mampu mengembangkannya demi mencapai misi Allah yakni terciptanya Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Sebagai orang Katolik, kita masing-masing memiliki anugerah, bakat dan kemampuan yang pasti tidak sama dan berbeda satu dengan yang lain. Anugerah intelektual, bakat mumpuni dalam disiplin ilmu tertentu, kemampuan atau kecakapan dalam integritas moral, kompetensi yang matang untuk mengeksekusi atau melaksanakan suatu hal adalah sederet kebaikan atau anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Masing-masing dari kita telah memiliki mina dengan jumlah yang sangat bervariasi. Pertanyaan reflektifnya, apakah kita telah mampu menunjukkannya dalam tataran kualitas sebagai seorang kristiani atau belum. Apakah kita sudah mengimplementasikannya untuk membawa kebaikan dan kegembiraan bagi sesama kita? Atau kita masih sibuk memuaskan diri sendiri?

 

 Acapkali terjadi hanya demi memuaskan kepentingan pribadi dan keluarga, kita gagal menunjukkan kualitas diri sebagai seorang Katolik yang baik. Kita sering berlaku tidak jujur untuk mendapatkan keuntungan yang tidak halal. Kita juga sering bertindak arogan, mempertontonkan kehebatan intelektual sembari menganggap rendah orang lain. Kita juga seringkali bersikap masa bodoh menyikapi realitas yang membutuhkan kepekaan dan pelayanan prima. Kita juga gampang tersinggung dan menjadi seorang pemarah. Dalam hal ini, Kita belum mampu menunjukkan kedewasaan emosional dan spiritual padahal kita termasuk dalam golongan orang yang mumpuni dari segi pendidikan. Dan masih banyak sikap-sikap destruktif lainnya yang mengafirmasi kita belum mampu mengembangkan mina atau anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita.

 

Melalui perumpamaan tentang uang mina, Yesus mau menggugah dan menggugat diri kita agar kita mau menyadari segala anugerah, kemampuan dan kompetensi yang kita miliki. Hendaknya segala anugerah yang kita punyai dapat kita manfaatkan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan tidak hanya bagi diri kita tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga kita mampu mengembangkan “mina” dalam diri kita dengan membawa nilai kejujuran, kerendahan hati, kepekaan nurani, dan kedamaian jiwa di rumah besar yang kita cintai ini. Dengan demikian, apa yang telah kita miliki secara otomatis akan ditambahkan oleh Tuhan dalam hidup kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar