Rabu, 02 Desember 2020

Konsekuensi Dari Pewartaan Injil

Mrk 16:15-20

 

Pasca kebangkitan dan penampakan diri-Nya, Yesus benar-benar berbicara dengan mulut-Nya sendiri dan memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada segala makhluk. Ia Tidak memberi perintah itu melalui perantara. Tidak melalui Petrus, tidak juga melalui Yohanes atau siapapun.

 

Ada dua kemungkin yang bakal dialami dalam tugas pewartaan Injil. Ada yang menolak untuk percaya, tetapi ada pula yang percaya. Jauh sebelum Yesus, para nabi yang mewartakan firman Allah juga menghadapi dua kemungkinan itu, termasuk Yohanes Pembaptis sebagai nabi transisi. Ia mewartakan pertobatan dan pembaptisan, namun tidak semua orang mendengarkan seruannya dan memberi diri dibaptis.

 

Yesus mengulangi kembali dua kemungkinan itu ketika Ia memberikan perintah kepada para murid-Nya. Siapa yang percaya dan memberi diri dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

 

Yang percaya dan memberi diri dibaptis sudah mengisyaratkan pertobatan yang menyertai pemberitaan Injil dan itulah garansi keselamatan. Yang tidak percaya dengan sendirinya menolak pertobatan yang mestinya terjadi dan itulah sumber hukuman.

 

Yesus menyadari bahwa penolakan terhadap warta Injil bakal dialami para murid-Nya. Bahkan penolakan itu disertai dengan berbagai penderitaan lahir dan batin. Karena itu, Ia memberikan penguatan dan jaminan bahwa Ia sendiri akan menyertai mereka dan meneguhkan pemberitaan firman dengan tanda-tanda. Mereka tidak bekerja sendirian.

 

Inilah sumber kekuatan yang menyuplai semangat karya pewartaan mereka. Mereka tanpil sebagai orang-orang yang penuh dengan keyakinan dan bangga, yang melakukan pewartaan pada waktu yang baik maupun tidak baik, dan selalu berdaya upaya agar firman yang disampaikan itu tidak menjadi hambar, melainkan hidup dan memengaruhi.

 

Memerhatikan pengalaman hidup para murid Yesus segera menjadi nyata bahwa penolakan memberi warna tersendiri dalam karya pewartaan Injil. Kisah Para Rasul dan Surat-Surat Paulus menggambarkan dengan jelas bagaimana para bentara Sabda Allah itu mengalami penolakan dan menderita lahir batin karena tugas pewartaan itu. Mereka ditangkap, disiksa, dianiaya lalu dipenjarakan.

 

Namun ketika mereka mengalaminya, mereka tidak terbawa oleh kekecewaan dan merasa gagal lalu melarikan diri. Mereka sebaliknya memandang bahwa penolakan adalah salah satu dari konsekuensi pewartaan. Pengalaman itu tidak bisa ditampik dari orang-orang yang “telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Fil 3:12). Ia nyata di depan mata dan karena itu hanya bisa diterima dengan lapang dada

 

Pengalaman penolakan itu, bahkan menjadi sumber inspirasi bagi suatu karya pewartaan yang lebih hidup, efektif dan menghasilkan pertobatan. Banyak tindakan-tindakan kreatif yang dilakukan para murid pasca pengalaman penolakan dan mereka menjadi lebih hidup dalam menjalankan tugas pewartaan.

 

Sejarah mencatat bahwa meskipun di sana sini terjadi penolakan, namun pewartaan yang disampaikan tidaklah sia-sia. Banyak orang di seluruh belahan bumi ini menjadi percaya dan memberi diri dibaptis sebagai murid Yesus. Kita adalah bagian dari buah dan bukti karya pewartaan yang menghasilkan pertobatan dan memberi diri dibaptis.

 

Sebagai orang yang percaya dan telah memberi diri dibaptis, kita semua memiliki tugas dan panggilan yang sama dalam memberitakan Injil dan memberi kesaksian tentang Tuhan kita Yesus Kristus.

 

Tentu kita sadar bahwa tidak mudah bagi kita untuk memberitakan Injil dalam situasi dunia sekarang ketika kebanyakan dari penghuni bumi ini telah kehilangan kepekaan dan sensivitas akan hal-hal religius. Namun tugas dan panggilan itu melekat. Maka baik pada waktu baik maupun tidak baik, susah atau tidak susah semangat kerasulan itu mesti tetap nyata. Kita tidak bisa melarikan diri karena situasi atau bersikap kompromistis, melainkan tegas menyatakan hidup sebagai seorang murid Tuhan.

 

Dalam keyakinan bahwa Tuhan yang menyertai para murid itu juga menyertai pewartaan dan kesaksian kita maka apapun yang kita alami tidak akan mengecutkan iman kita, malahan menjadi sumber yang menginspirasi karya pewartaan dan kesaksian kita yang lebih hidup dan berdaya memengaruhi. Penolakan membuat kita berpikir tentang cara kita mewartakan Injil dan bersaksi secara lebih dinamis, hidup dan berdaya mengubah hidup manusia.

 

Percayalah bahwa apapun yang kita lakukan jikalau murni demi Injil maka tidaklah sia-sia walaupun tidak semua orang menunjukkan sikap yang sama terhadap pewartaan dan kesaksian kita. Marilah kita bersaksi tentang Tuhan kita Yesus Kristus. ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar