Mrk
16:15-20
Pasca
kebangkitan dan penampakan diri-Nya, Yesus benar-benar berbicara dengan
mulut-Nya sendiri dan memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke
seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada segala makhluk. Ia Tidak memberi
perintah itu melalui perantara. Tidak melalui Petrus, tidak juga melalui
Yohanes atau siapapun.
Ada
dua kemungkin yang bakal dialami dalam tugas pewartaan Injil. Ada yang menolak
untuk percaya, tetapi ada pula yang percaya. Jauh sebelum Yesus, para nabi yang
mewartakan firman Allah juga menghadapi dua kemungkinan itu, termasuk Yohanes
Pembaptis sebagai nabi transisi. Ia mewartakan pertobatan dan pembaptisan,
namun tidak semua orang mendengarkan seruannya dan memberi diri dibaptis.
Yesus
mengulangi kembali dua kemungkinan itu ketika Ia memberikan perintah kepada
para murid-Nya. Siapa yang percaya dan memberi diri dibaptis akan diselamatkan,
tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.
Yang
percaya dan memberi diri dibaptis sudah mengisyaratkan pertobatan yang
menyertai pemberitaan Injil dan itulah garansi keselamatan. Yang tidak percaya dengan
sendirinya menolak pertobatan yang mestinya terjadi dan itulah sumber hukuman.
Yesus
menyadari bahwa penolakan terhadap warta Injil bakal dialami para murid-Nya. Bahkan
penolakan itu disertai dengan berbagai penderitaan lahir dan batin. Karena itu,
Ia memberikan penguatan dan jaminan bahwa Ia sendiri akan menyertai mereka dan
meneguhkan pemberitaan firman dengan tanda-tanda. Mereka tidak bekerja
sendirian.
Inilah
sumber kekuatan yang menyuplai semangat karya pewartaan mereka. Mereka tanpil
sebagai orang-orang yang penuh dengan keyakinan dan bangga, yang melakukan
pewartaan pada waktu yang baik maupun tidak baik, dan selalu berdaya upaya agar
firman yang disampaikan itu tidak menjadi hambar, melainkan hidup dan
memengaruhi.
Memerhatikan
pengalaman hidup para murid Yesus segera menjadi nyata bahwa penolakan memberi
warna tersendiri dalam karya pewartaan Injil. Kisah Para Rasul dan Surat-Surat
Paulus menggambarkan dengan jelas bagaimana para bentara Sabda Allah itu
mengalami penolakan dan menderita lahir batin karena tugas pewartaan itu. Mereka
ditangkap, disiksa, dianiaya lalu dipenjarakan.
Namun
ketika mereka mengalaminya, mereka tidak terbawa oleh kekecewaan dan merasa
gagal lalu melarikan diri. Mereka sebaliknya memandang bahwa penolakan adalah salah
satu dari konsekuensi pewartaan. Pengalaman itu tidak bisa ditampik dari
orang-orang yang “telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Fil 3:12). Ia nyata di
depan mata dan karena itu hanya bisa diterima dengan lapang dada
Pengalaman
penolakan itu, bahkan menjadi sumber inspirasi bagi suatu karya pewartaan yang
lebih hidup, efektif dan menghasilkan pertobatan. Banyak tindakan-tindakan
kreatif yang dilakukan para murid pasca pengalaman penolakan dan mereka menjadi
lebih hidup dalam menjalankan tugas pewartaan.
Sejarah
mencatat bahwa meskipun di sana sini terjadi penolakan, namun pewartaan yang
disampaikan tidaklah sia-sia. Banyak orang di seluruh belahan bumi ini menjadi
percaya dan memberi diri dibaptis sebagai murid Yesus. Kita adalah bagian dari
buah dan bukti karya pewartaan yang menghasilkan pertobatan dan memberi diri
dibaptis.
Sebagai
orang yang percaya dan telah memberi diri dibaptis, kita semua memiliki tugas
dan panggilan yang sama dalam memberitakan Injil dan memberi kesaksian tentang
Tuhan kita Yesus Kristus.
Tentu
kita sadar bahwa tidak mudah bagi kita untuk memberitakan Injil dalam situasi
dunia sekarang ketika kebanyakan dari penghuni bumi ini telah kehilangan
kepekaan dan sensivitas akan hal-hal religius. Namun tugas dan panggilan itu
melekat. Maka baik pada waktu baik maupun tidak baik, susah atau tidak susah
semangat kerasulan itu mesti tetap nyata. Kita tidak bisa melarikan diri karena
situasi atau bersikap kompromistis, melainkan tegas menyatakan hidup sebagai
seorang murid Tuhan.
Dalam
keyakinan bahwa Tuhan yang menyertai para murid itu juga menyertai pewartaan
dan kesaksian kita maka apapun yang kita alami tidak akan mengecutkan iman
kita, malahan menjadi sumber yang menginspirasi karya pewartaan dan kesaksian
kita yang lebih hidup dan berdaya memengaruhi. Penolakan membuat kita berpikir
tentang cara kita mewartakan Injil dan bersaksi secara lebih dinamis, hidup dan
berdaya mengubah hidup manusia.
Percayalah
bahwa apapun yang kita lakukan jikalau murni demi Injil maka tidaklah sia-sia
walaupun tidak semua orang menunjukkan sikap yang sama terhadap pewartaan dan
kesaksian kita. Marilah kita bersaksi tentang Tuhan kita Yesus Kristus.
***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar