Mat 1:18-24
Manusia memiliki
kemampuan untuk membuat pertimbangan atas sesuatu dan atas pertimbangan itu ia
menentukan apa yang mesti dilakukan. Pertimbangan itu bisa terjadi di bawah
kendali kekuatan intelektual dan murni bersifat manusiawi ataupun berada di
bawah kendali kekuatan spiritual yang dimungkinkan oleh karena iman dan karena
itu mampu melangkaui yang manusiawi untuk menangkap pesan-pesan pada wilayah
non-intelektual.
Pertimbangan
Yosef untuk meninggalkan Maria secara diam-diam oleh karena ia mengetahui bahwa
calon istrinya itu sudah mengandung sebelum mereka hidup bersama adalah
pertimbangan yang murni bersifat manusiawi. Yusuf tidak mau membebankan hidup
Maria dan anak yang akan dilahirkannya dan menghindarinya dari konsekuensi
hukum yang terjadi bila ia menceraikan Maria menurut hukum Yahudi yang berlaku.
Walaupun
dikatakan bahwa Yusuf itu seorang yang beriman dan taat kepada Allah, namun
berkenaan dengan masalah yang sedang dihadapinya ia lebih mengandalkan
pertimbangan manusiawinya. Ia mau menyelesaikan masalah itu dengan pertimbangan
manusiawinya sebijaksana mungkin. Setiap orang yang berpikir normal akan
menerima pertimbangan dan keputusan yang diambil oleh Yusuf.
Ketika iman Yusuf
dibangkitkan melalui mimpi di mana ia diminta Tuhan untuk menerima Maria
sebagai istrinya karena ia mengandung dari Roh Kudus maka Yusuf menanggalkan
pertimbangan manusiawinya dan keputusan yang telah ditentukannya. Ia mengalah
pada kehendak Allah yang terjadi dan itu dibuktikan seperti yang digambarkan
Matius: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan
malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24).
Matius
menampilkan kisah Yusuf ini untuk memberikan pesan kepada semua orang beriman
bahwa sebijaksananya pertimbangan manusiawi tidaklah lebih baik dan bernilai
daripada pertimbangan dan keputusan yang diambil oleh karena kekuatan iman.
Iman membuat cakrawala berpikir kita lebih luas dan dalam, mengerti dengan baik
pesan-pesan Tuhan di balik masalah-masalah yang kita hadapi dan karena itu
mampu menentukan pilihan yang tepat meskipun itu tampak muskil dalam cara
pandang manusiawi.
Kalau kita
memerhatikan pengalaman hidup kita, maka sebenarnya apa yang dialami oleh Yusuf
ini juga terjadi di dalam kehidupan kita. Acapkali kita menghadapi
masalah-masalah dalam kehidupan ini, kita lebih mengandalkan pertimbangan
manusiawi kita, bahkan mengikuti emosi yang lagi bergolak dan kita berpikir
bahwa itulah yang terbaik. Namun ternyata kemudian kita sesali; apa yang kita
tentukan atas pertimbangan itu malah mendatangkan masalah yang menambah masalah
yang sudah ada.
Warta Injil mengajari
kita untuk tidak saja mengandalkan kemampuan manusiawi kita dalam
memertimbangkan segala sesuatu yang kita hadapi, namun lebih mengandalkan
Tuhan. Otonomi kita tidak akan pernah diganggu oleh Tuhan, namun iman
membebaskan keterkungkungan kita dalam keterbatasan kita dan membuka diri untuk
perspektif ilahi yang menyelamatkan dan membahagiakan.
Bagi Yusuf
seperti yang ditampilkan Matius, perspektif ilahi hadir dalam mimpi. Kita pun
mengalami perspektif itu dalam cara yang beragam entah melalui inspirasi yang
kita peroleh ketika kita membuka diri kita bagi Tuhan dalam refleksi maupun
kegiatan-kegiatan rohani, melalui pengalaman hidup yang menyentuh maupun juga
melalui orang lain yang memberikan pencerahan dan membangkitkan harapan dalam
diri kita.
Tuhan tidak
pernah meninggalkan kita menggumuli persoalan kita sendiri dan membiarkan kita
mengalami kesulitan yang berkepanjangan. Ia turut terlibat dan membuat kita
terbuka untuk keluar dari segala persoalan yang kita hadapi. Hanya satu hal
yang perlu kita lakukan, yaitu membuka diri bagi Dia, mendengarkan apa yang
dikatakan-Nya dan mengikuti Dia dalam menentukan apa yang patut kita lakukan
dalam hidup kita. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar