Luk 1:26-38
Sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan yang jelas dianggap
aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalami aib semacam itu akan
dirahasiakan. Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial: dikucilkan,
menjadi buah bibir orang dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat
Maria hidup, hukumannya sadis yakni dirajam dengan batu karena dianggap berzina.
Setiap hari kita juga diperhadapkan pada ujian yang menuntut keteguhan iman
kepada Allah, kehormatan dan kehidupan kita dipertaruhkan. Tak sedikit orang
beriman zaman ini yang ketika mengalami cobaan dan ujian, imannya rapuh dan
meragukan keterlibatan Tuhan dalam hidupnya. Mereka takut direndahkan, takut
kehilangan pekerjaan dan jabatan, takut dihukum, dan lain-lain. Karena itu,
kita digugah untuk belajar dari kesetiaan iman Maria. Ia dengan keteguhan hati
memilih taat kepada Allah walaupun terbayang risiko hukuman rajam yang harus
diterimanya, walaupun gentar ia memilih taat pada kehendak Allah. Sebagai
murid-murid Kristus, kita diajak untuk selalu menghidupi spirit iman Maria
dalam perjalanan ziarah hidup kita.
Hari ini
Gereja Katolik sedunia merayakan hari raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa
noda dosa yang jatuh pada tanggal 8 Desember. Pesta kelahiran Santa Perawan Maria ini
sesungguhnya menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Bunda Maria
sebagai wanita yang punya peranan besar di dalam karya keselamatan umat
manusia. Dalam Bula
“Ineffabilis Deus” (sebuah bula kepausab dari Paus Pius IX), dogma ini
menetapkan secara ex chatedra (merujuk pada ajaran Paus) bahwa “Santa Perawan
Maria, sejak dikandung ibunya, tidak ternoda oleh dosa asal berkat rahmat dan
karunia yang istimewa dari Allah. Gereja percaya bahwa Allah menyiapkan suatu
wadah yang pantas, yang khusus dan tak bercelah. Suatu tempat yang layak bagi
kediaman PutraNya dan Allah memilih Maria untuk menjadi wadah tersebut, sehingga
sejak dikandung, Maria tidak terjangkit dosa asal.
Gereja
mengajarkan bahwa setelah kejatuhan manusia, Allah menjanjikan seorang penebus
bagi umat manusia dan penebus itu ialah Yesus Kristus sendiri. Untuk maksud
luhur itu, Allah membutuhkan kerjasama yang baik dengan manusia, Allah
membutuhkan seorang perempuan untuk mengandung dan melahirkan AnakNya.
Kebenaran iman ini dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada Galatia:
“…Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang
perempuan…” (Gal 4:4).
Maria
telah ditentukan Allah sejak kekal untuk mengandung dan melahirkan Yesus Sang
Penebus karena kesalehan dan kerendahan hatinya yang total kepada Allah.
Kesederhanaan hidup dan ketaatan iman orang tuanya menyukakan hati Allah, untuk
itu ia suci sejak lahirnya dan tanpa dosa asal. Dalam konteks pengakuan iman
inilah, Gereja merasa perlu menentukan suatu hari khusus (yaitu: setiap tanggal
8 September) untuk merayakan peristiwa kelahiran Maria. Dasar pertimbangannya
bahwa sebagai manusia, Maria tentu pernah lahir pada waktu dan tempat tertentu,
dari orangtua dan suku tertentu. Injil sendiri tidak mengatakan secara jelas
bahwa Maria juga adalah keturunan Daud, sebagaimana Yusuf suaminya. Yang
penting bagi kita bukanlah ketepatan hari kelahiran itu, tetapi ungkapan iman
Gereja akan Maria sebagai perempuan yang dipilih Allah untuk mengandung dan
melahirkan AnakNya. Injil hari ini
mewartakan kepada kita kisah tentang berbaliknya sejarah dunia. Dari dunia yang
penuh dosa menjadi tertebus, dari dunia yang gelap dan kelam menjadi terang dan
penuh kemuliaan Allah. Titik balik sejarah dunia ini dimulai dari Nazaret, kota
yang tersembunyi, kepada seorang perawan yang sedang bertunangan yaitu Maria.
Ia hanyalah seorang gadis sederhana dan bersahaja namun dipenuhi rahmat
berlimpah dari Allah. Segala kemurahan hati Allah dianugerahkan kepada Maria
melalui Roh Kudus dan kuasa Allah
menaunginya supaya ia menjadi seorang ibu dari Anak Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar