Senin, 07 Desember 2020

MENELADANI IMAN MARIA

Luk 1:26-38

            Sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan yang jelas dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalami aib semacam itu akan dirahasiakan. Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial: dikucilkan, menjadi buah bibir orang dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Maria hidup, hukumannya sadis yakni dirajam dengan batu karena dianggap berzina. Setiap hari kita juga diperhadapkan pada ujian yang menuntut keteguhan iman kepada Allah, kehormatan dan kehidupan kita dipertaruhkan. Tak sedikit orang beriman zaman ini yang ketika mengalami cobaan dan ujian, imannya rapuh dan meragukan keterlibatan Tuhan dalam hidupnya. Mereka takut direndahkan, takut kehilangan pekerjaan dan jabatan, takut dihukum, dan lain-lain. Karena itu, kita digugah untuk belajar dari kesetiaan iman Maria. Ia dengan keteguhan hati memilih taat kepada Allah walaupun terbayang risiko hukuman rajam yang harus diterimanya, walaupun gentar ia memilih taat pada kehendak Allah. Sebagai murid-murid Kristus, kita diajak untuk selalu menghidupi spirit iman Maria dalam perjalanan ziarah hidup kita.

             Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan hari raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa yang jatuh pada tanggal 8 Desember. Pesta kelahiran Santa Perawan Maria ini sesungguhnya menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai wanita yang punya peranan besar di dalam karya keselamatan umat manusia. Dalam Bula “Ineffabilis Deus” (sebuah bula kepausab dari Paus Pius IX), dogma ini menetapkan secara ex chatedra (merujuk pada ajaran Paus) bahwa “Santa Perawan Maria, sejak dikandung ibunya, tidak ternoda oleh dosa asal berkat rahmat dan karunia yang istimewa dari Allah. Gereja percaya bahwa Allah menyiapkan suatu wadah yang pantas, yang khusus dan tak bercelah. Suatu tempat yang layak bagi kediaman PutraNya dan Allah memilih Maria untuk menjadi wadah tersebut, sehingga sejak dikandung, Maria tidak terjangkit dosa asal.

            Gereja mengajarkan bahwa setelah kejatuhan manusia, Allah menjanjikan seorang penebus bagi umat manusia dan penebus itu ialah Yesus Kristus sendiri. Untuk maksud luhur itu, Allah membutuhkan kerjasama yang baik dengan manusia, Allah membutuhkan seorang perempuan untuk mengandung dan melahirkan AnakNya. Kebenaran iman ini dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada Galatia: “…Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan…” (Gal 4:4).

            Maria telah ditentukan Allah sejak kekal untuk mengandung dan melahirkan Yesus Sang Penebus karena kesalehan dan kerendahan hatinya yang total kepada Allah. Kesederhanaan hidup dan ketaatan iman orang tuanya menyukakan hati Allah, untuk itu ia suci sejak lahirnya dan tanpa dosa asal. Dalam konteks pengakuan iman inilah, Gereja merasa perlu menentukan suatu hari khusus (yaitu: setiap tanggal 8 September) untuk merayakan peristiwa kelahiran Maria. Dasar pertimbangannya bahwa sebagai manusia, Maria tentu pernah lahir pada waktu dan tempat tertentu, dari orangtua dan suku tertentu. Injil sendiri tidak mengatakan secara jelas bahwa Maria juga adalah keturunan Daud, sebagaimana Yusuf suaminya. Yang penting bagi kita bukanlah ketepatan hari kelahiran itu, tetapi ungkapan iman Gereja akan Maria sebagai perempuan yang dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan AnakNya. Injil hari ini mewartakan kepada kita kisah tentang berbaliknya sejarah dunia. Dari dunia yang penuh dosa menjadi tertebus, dari dunia yang gelap dan kelam menjadi terang dan penuh kemuliaan Allah. Titik balik sejarah dunia ini dimulai dari Nazaret, kota yang tersembunyi, kepada seorang perawan yang sedang bertunangan yaitu Maria. Ia hanyalah seorang gadis sederhana dan bersahaja namun dipenuhi rahmat berlimpah dari Allah. Segala kemurahan hati Allah dianugerahkan kepada Maria melalui  Roh Kudus dan kuasa Allah menaunginya supaya ia menjadi seorang ibu dari Anak Allah. 

            Maria terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel sambil ia bertanya: Bagaimana hal itu bisa terjadi karena aku belum menikah? Walaupun Malaikat menjelaskan asal usul anak yang dikandungnya, Maria tetap ragu karena ia tahu konsekuensinya jika ia sungguh mengandung. Ia akan dirajam hingga mati karena mengandung tanpa suami yang jelas. Meskipun resikonya cukup berat, namun setelah dijelaskan bahwa Roh Kudus dan kuasa Allah yang akan menjadikan Anak itu, Maria dalam lompatan iman yang besar berkata "YA". Ia menyediakan dirinya untuk menjadi ibu Yesus. Maria di dalam iman dan kepasrahan, menerima apa yg diminta oleh Malaikat itu untuk dilaksanakannya. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Jawaban “Ya” dari Maria, membuka lembaran baru dalam sejarah keselamatan. Dunia diperbarui dan penebusan terjadi. Mulai saat itu misteri inkarnasi terjadi, Sabda menjadi daging dan tinggal di antara manusia. Ia sama dengan kita kecuali dalam hal dosa. Sejarah mengalami titik balik dimana dunia diselamatkan oleh Sang Penebus yang datang di tengah-tengah kita. 

            Keterbatasan Maria mengetahui rencana Allah dalam dirinya sungguh manusiawi. Ia merasa aneh untuk menerima rencana agung Allah yang disampaikan Malaikat Gabriel kepadanya. Ia menilai dirinya secara jujur dan dengan jujur pula menyampaikan bahwa ia belum bersuami, artinya pengetahuan dan pemahamannya masih sangat dipengaruhi oleh ajaran agamanya, dimana pembuahan harus disempurnakan lewat ratum et consummatum (adanya hubungan yang sah antara suami-istri). Terlepas dari semua keterbatasan Maria sebagai manusia, ada satu hal dari sekian banyak hal positip dalam diri Maria adalah keteguhan imannya akan Allah. Kerendahan hati dan kesahajaanya membuat ia menyerahkan dirinya secara total pada Kehendak Allah dan membiarkan Allah mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi manusia.

            Seperti Maria melahirkan Kristus, kita juga dipanggil untuk melahirkan Kristus dalam kehidupan kita agar dunia diselamatkan-Nya. Untuk itu kita harus berani berkata YA tanpa syarat, memperjuangkan kebenaran dan keadilan secara merata, tidak kompromistis dengan penguasa yang korup dan lalim. Semua itu dapat kita lakukan bila kita beriman teguh pada Allah dan menyandarkan diri hanya kepada-Nya. Maka bagi kita yang sering malas, tidak mau terlibat, hanya tukang komentar, inilah saatnya untuk membaharui janji dengan bantuan dan teladan Maria. Maria tidak pernah merasa diri sebagai pribadi yang hanya menuruti perintah dan rencana Allah saja tapi selalu bersedia menjawab YA apa pun resikonya. Kesediaanya itulah yang  membuat dunia tidak akan pernah selalu sama. Dunia akan diperbaharui oleh orang-orang yang selalu bersedia untuk berbuat baik. Pertanyaan reflektif sederhana namun menantang bagi kita semua: Bersediakah kita berbuat baik seperti Maria? Apa pun keadaan kita jika kita berani berkata “Ya”, Tuhan akan melakukan hal-hal baru dalam diri kita. Maka kita pun hendaknya berani seperti Maria, berkata “Ya” pada setiap rencana dan kehendakNya. ***Bernard Wadan***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar