Mat 11:11-15
Yohanes Pembaptis,
utusan Allah yang memersiapkan jalan bagi Tuhan (lih Mal 3:1; Mat 11:20), adalah
seorang nabi, dan menurut Yesus, adalah seorang nabi yang besar (Mat 11:11).
Yesus malah menyebutnya sebagai Elia (Mat 11:14), seorang yang diutus Allah
dari surga sebelum hari kedatangan Tuhan yang besar dan dasyat (Mal 4:5), untuk
memertegas kenyataan kebesaran Yohanes. Ia menandai akhir dan puncak dari suatu
persiapan panjang bagi perwujudan Kerajaan Allah.
Seruan dan
pengajaran Yohanes berkenaan langsung dengan datangnya kerajaan yang segera
akan terwujud. Menerima seruan dan pengajarannya berarti membuka hati dan
memersiapkan diri bagi kehadiran kerajaan Allah. Apa yang diajarkan itu
didengarkan. Seperti disaksikan Kitab Suci, meskipun sekejap tampil di depan
publik, Yohanes memiliki sejumlah pengikut yang sangat mengkhawatirkan Herodes
Antipas.
Meskipun Yohanes
itu seorang nabi besar, namun kebesaran tidak serta merta dihormati oleh semua
kalangan dalam bangsa Yahudi. Kata-kata Yesus, ” Siapa bertelinga, hendaklah ia
mendengar” (Mat 11:15) sebenarnya menunjukkan konteks bahwa kebenaran yang
diwartakan Yohanes, dan yang kemudian diulangi-Nya, ternyata tidak dapat didengarkan dan diterima
oleh semua orang. Ada yang tidak menerimanya dan dengan begitu menentangnya,
malah menyerongkannya (Mat 11:12).
Anehnya bahwa
yang menentang dan menyerongkan Kerajaan Allah itu bukanlah orang-orang kecil
dan sederhana yang serba terbatas dalam pemahaman dan pengetahuan, melainkan
mereka yang berpendidikan dan sangat diandalkan dalam pemahaman tentang
Kerajaan Allah. Kepada mereka diserahi tanggung jawab dalam hal mengajar dan
membimbing umat, namun mereka itulah yang menentangnya. Mereka adalah para
pemimpin umat, para ahli kitab, orang-orang Farisi yang terkemukan dalam
masyarakat.
Bagi kita, Yesus
menyatakan tentang penolakan terhadap kebenaran yang diwartakan oleh Yohanes
dan juga oleh-Nya dihadapan orang banyak dan di hadapan para murid-Nya untuk
menyatakan betapa pentingnya memiliki telinga untuk mendengarkan dan memahami
kebenaran yang Tuhan nyatakan dalam hidup ini. Apapun kebenaran itu selalu
mengandaikan telinga yang mau mendengarkan. Tanpa itu kebenaran tidak dapat
diterima.
Jika kita
menyelisiki hidup dan pengalaman kita, acapkali apa yang ditolak sebenarnya
adalah kebenaran yang pura-pura tidak kita diakui karena mungkin kebenaran itu
datang dalam suatu cara yang tidak kita kehendaki. Mungkin pula karena
keangkuhan intelektual dan spiritual yang didukung oleh jabatan-jabatan yang
kita miliki sehingga apapun kebenaran itu kita malah memandangnya lain. Kita
menjadi buta terhadap kebenaran karena kita terlampau mengagungkan diri kita
sendiri. Kita merasa diri sebagai pusat kebenaran.
Dalam konteks
kepemimpinan, tidak jarang orang mengidentikkan kebenaran dengan otoritas yang
dimiliknya. Saya pemimpin, maka apa yang saya katakan itu benar. Demikianlah
yang sering terjadi. Dan inilah salah satu wujud keangkuhan yang menutupi jalan
bagi seseorang untuk menerima apapun kebenaran yang berasal dari luar dirinya.
Kepada anak-anak orang tua acapkali katakan, “kamu tahu apa”, demikian pula kata-kata
ini ditujukan kepada istri oleh suaminya atau kepada bawahan oleh atasannya.
Bertepatan dengan
persiapan diri kita menyambut kedatangan Sang Juruselamat, Tuhan kita Yesus
Kristus, kita diajak oleh Tuhan
mendengarkan setiap kebenaran yang dinyatakan kepada kita, apapun cara dan
bentuknya. Yesus katakan dengan jelas kepada kita, hendaknya kita memiliki
telingan untuk mendengar.
Agar kita bisa
mendengarkan, kita perlu memiliki kerendahan hati. Yohanes menjadi besar karena
kerendahan hatinya. Demikianlah kita harus menjadi rendah hati untuk bisa
mendengar setiap kebenaran. Oleh karena dosa telah menulikan telinga kita maka
mutlak perlu pertobatan. Kita bertobat dari sikap sombong dan angkuh, merasa
diri adalah pusat kebenaran lalu membuka diri bagi Tuhan yang adalah sumber
kebenaran kita.
Jika kita terbuka hati untuk
mendengarkan Tuhan, maka Dia sendirilah yang membuka telinga kita untuk semakin
peka terhadap kebenaran yang datang kepada kita. Pastikan bahwa kita bertelinga
untuk mendengar setiap kebenaran yang
mendatangi kita. ***Apol
Tidak ada komentar:
Posting Komentar