Mat 21:28-32
Yesus
mengemukakan perumpamaan dua orang anak yang diminta oleh ayah mereka untuk
bekerja di kebun anggur. Mula-mula ia pergi kepada anak sulungnya. Sang ayah
mendapatkan tanggapan positif, namun ternyata anak sulung itu tidak pergi.
Pergilah juga ia kepada anak kedua. Atas permintaannya, anak kedua menyatakan
tidak mau pergi, namun kemudian anak itu menyesal lalu pergi juga.
Melalui
perumpamaan itu, Yesus menyatakan kepada para pendengar-Nya, termasuk juga para
pejabat Sanhedrin yang memersoalkan kuasa-Nya (Mat 21:23), bahwa apa yang
dilukiskan dengan kisah kedua anak itu adalah berkenaan dengan hal ikhwal
tanggapan yang berbeda, yaitu dari golongan orang yang tersisih secara sosial
dan religius dan golongan para pemimpin mereka, terhadap pewartaan kebenaran
Yohanes yang merupakan suatu persiapan terpenting bagi pelayanan dan pewartaan
Yesus.
Yesus
menyebut orang-orang tersisih, yaitu mereka yang berdosa, namun tanggap
terhadap kebenaran yang diwartakan Yohanes. Mereka adalah para pemungut cukai
dan para perempuan sundal yang ditampilkan Yesus dalam gambaran anak yang
mula-mula menyatakan tidak mau, namun
kemudian menyesal dan pergi juga.
Inilah
gambaran nyata bahwa golongan tersisih itu tidak hanya menyesal, melainkan juga
melaksanakan atau mengikuti jalan kebenaran yang diwartakan Yohanes. Ada kesadaran diri sebagai pendosa
berhadapan dengan kebenaran yang dinyatakan. Bukan hanya itu, mereka bertobat
dan berbalik kepada kebenaran itu.
Dengan
menerima jalan kebenaran Yohanes, golongan yang tersisih itu siap untuk
Kerajaan Allah mesianik yang dinyatakan Yesus. Banyak dari antara orang
tersisih itu datang kepada Yesus, makan bersama Dia dan mengikuti Yesus, bahkan
menjadi murid-Nya seperti Matius (Mat
9:9-10).
Sedangkan
anak pertama yang bersedia namun tidak pergi menggambarkan jiwa para pemimpin
agama Yahudi, para pejabat Sanhedrin, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka
adalah kaum yang memiliki otoritas yang diterima melalui Musa untuk mengajar
kebenaran HukumTaurat, namun menutup jalan kebenaran yang diwartakan Yahanes
sebagai persiapan akhir bagi kepenuhan kebenaran dalam diri Yesus.
Kalaupun
Yesus menggambarkan persetujuan mereka seperti yang nampak pada jawaban anak
sulung, maka itu tidak lebih dari persetujuan yang tidak sepenuh hati dan
bersifat sementara (Yoh 5:35), bahkan terbilang angkuh, dan karena itu tidak
mengikuti jalan kebenarannya, yaitu bertobat dan memberi diri dibaptis (Luk
7:30). Yesus katakan, sekalipun mereka melihatnya, namun tidak menyesal dan
mengikutinya (Mat 21:32). Dengan demikian mereka juga tidak siap bagi Kerajaan
Allah mesianik.
Bagi
kita gambaran seperti ini juga mengungkapkan kenyataan aktual yang terjadi
dalam hidup kita di zaman ini. Kita berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi
dalam hal kesediaan untuk mengikuti jalan kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus
sendiri, namun tidak jarang kita menolak untuk mengikuti-Nya dengan
sungguh-sungguh ketika kita masuk dalam kehidupan yang nyata. Dan dalam hal ini
kita sama. Mungkin lebih buruk bagi kita daripada para pemimpin itu karena
mereka menolak masuk ke dalam Kerajaan Allah mesianik, sedangkan kita sudah
masuk ke dalamnya, namun keluar kembali setidak-tidaknya dalam cara penghayatan
hidup kristiani kita.
Warta
hari ini menyadarkan kita bahwa de fancto
kita lebih cenderung lari keluar dari Kerajaan Allah mesianik seperti domba
yang tersesat karena mau mengikuti jalannya sendiri. Namun bersamaan dengan
itu, warta ini pun menjadi suatu panggilan bagi kita untuk menyesali perbuatan
atau cara hidup kita yang berlawanan tuntutan kebenaran terhadap kita.
Kita
membangun pertobatan seperti yang dilakukan anak kedua. Kita menunjukkan bahwa
kita adalah orang berdosa yang mau bertobat.
Bertepatan
dengan persiapan kita menyambut kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, baiklah
kita menunjukkan kesungguhan hati kita untuk berbalik kepada jalan kebenaran. Yakinlah
bahwa penyesalan dan pertobatan yang kita lakukan pada waktunya pasti
mendatangkan rahmat yang menyelamatkan. Rahmat Tuhan tidak sia-sia bagi kita
yang menanggapinya secara positif. ***Apol***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar