Senin, 14 Desember 2020

Penyesalan Berbuah Keselamatan

Mat 21:28-32

Yesus mengemukakan perumpamaan dua orang anak yang diminta oleh ayah mereka untuk bekerja di kebun anggur. Mula-mula ia pergi kepada anak sulungnya. Sang ayah mendapatkan tanggapan positif, namun ternyata anak sulung itu tidak pergi. Pergilah juga ia kepada anak kedua. Atas permintaannya, anak kedua menyatakan tidak mau pergi, namun kemudian anak itu menyesal lalu pergi juga.

 

Melalui perumpamaan itu, Yesus menyatakan kepada para pendengar-Nya, termasuk juga para pejabat Sanhedrin yang memersoalkan kuasa-Nya (Mat 21:23), bahwa apa yang dilukiskan dengan kisah kedua anak itu adalah berkenaan dengan hal ikhwal tanggapan yang berbeda, yaitu dari golongan orang yang tersisih secara sosial dan religius dan golongan para pemimpin mereka, terhadap pewartaan kebenaran Yohanes yang merupakan suatu persiapan terpenting bagi pelayanan dan pewartaan Yesus.

 

Yesus menyebut orang-orang tersisih, yaitu mereka yang berdosa, namun tanggap terhadap kebenaran yang diwartakan Yohanes. Mereka adalah para pemungut cukai dan para perempuan sundal yang ditampilkan Yesus dalam gambaran anak yang mula-mula menyatakan tidak mau, namun kemudian menyesal dan pergi juga.

 

Inilah gambaran nyata bahwa golongan tersisih itu tidak hanya menyesal, melainkan juga melaksanakan atau mengikuti jalan kebenaran yang diwartakan  Yohanes. Ada kesadaran diri sebagai pendosa berhadapan dengan kebenaran yang dinyatakan. Bukan hanya itu, mereka bertobat dan berbalik kepada kebenaran itu.

 

Dengan menerima jalan kebenaran Yohanes, golongan yang tersisih itu siap untuk Kerajaan Allah mesianik yang dinyatakan Yesus. Banyak dari antara orang tersisih itu datang kepada Yesus, makan bersama Dia dan mengikuti Yesus, bahkan menjadi murid-Nya seperti Matius (Mat  9:9-10).

 

Sedangkan anak pertama yang bersedia namun tidak pergi menggambarkan jiwa para pemimpin agama Yahudi, para pejabat Sanhedrin, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah kaum yang memiliki otoritas yang diterima melalui Musa untuk mengajar kebenaran HukumTaurat, namun menutup jalan kebenaran yang diwartakan Yahanes sebagai persiapan akhir bagi kepenuhan kebenaran dalam diri Yesus.

 

Kalaupun Yesus menggambarkan persetujuan mereka seperti yang nampak pada jawaban anak sulung, maka itu tidak lebih dari persetujuan yang tidak sepenuh hati dan bersifat sementara (Yoh 5:35), bahkan terbilang angkuh, dan karena itu tidak mengikuti jalan kebenarannya, yaitu bertobat dan memberi diri dibaptis (Luk 7:30). Yesus katakan, sekalipun mereka melihatnya, namun tidak menyesal dan mengikutinya (Mat 21:32). Dengan demikian mereka juga tidak siap bagi Kerajaan Allah mesianik.

 

Bagi kita gambaran seperti ini juga mengungkapkan kenyataan aktual yang terjadi dalam hidup kita di zaman ini. Kita berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi dalam hal kesediaan untuk mengikuti jalan kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus sendiri, namun tidak jarang kita menolak untuk mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh ketika kita masuk dalam kehidupan yang nyata. Dan dalam hal ini kita sama. Mungkin lebih buruk bagi kita daripada para pemimpin itu karena mereka menolak masuk ke dalam Kerajaan Allah mesianik, sedangkan kita sudah masuk ke dalamnya, namun keluar kembali setidak-tidaknya dalam cara penghayatan hidup kristiani kita. 

 

Warta hari ini menyadarkan kita bahwa de fancto kita lebih cenderung lari keluar dari Kerajaan Allah mesianik seperti domba yang tersesat karena mau mengikuti jalannya sendiri. Namun bersamaan dengan itu, warta ini pun menjadi suatu panggilan bagi kita untuk menyesali perbuatan atau cara hidup kita yang berlawanan tuntutan kebenaran terhadap kita.

Kita membangun pertobatan seperti yang dilakukan anak kedua. Kita menunjukkan bahwa kita adalah orang berdosa yang mau bertobat.

 

Bertepatan dengan persiapan kita menyambut kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, baiklah kita menunjukkan kesungguhan hati kita untuk berbalik kepada jalan kebenaran. Yakinlah bahwa penyesalan dan pertobatan yang kita lakukan pada waktunya pasti mendatangkan rahmat yang menyelamatkan. Rahmat Tuhan tidak sia-sia bagi kita yang menanggapinya secara positif. ***Apol***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar