Rabu, 29 April 2020

KEHIDUPAN KEKAL ITU SUDAH ADA SEKARANG


Kis 8:26-40 & Yoh 6:44-51

“Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh 8:47). Itulah sabda Yesus yang Ia sampaikan berkenaan dengan kesaksian tentang diri-Nya sebagai roti hidup. Berbeda dengan manna yang dimakan nenek moyang orang Israel di padang gurun dan mereka telah mati, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai roti yang turun dari surga dan memberi hidup kekal. Setiap orang yang makan roti itu tidak akan mati.

Sabda Yesus ini menunjuk pada kebenaran esensial bahwa keselamatan kekal itu berhubungan erat dengan Pribadi-Nya sebagai Mesias. Kehidupan kekal bukan sebuah prediksi akan suatu hidup masa depan yang kabur dan samar-samar yang dihasilkan dari suatu khayalan spiritual, melainkan berhubungan dengan Pribadi Yesus yang nyata. Dia yang dapat dilihat, diraba, disentuh dan dicium. Kehidupan kekal karena itu bukanlah suatu yang abstrak, melainkan nyata.

Karena berhubungan dengan Pribadi yang nyata yang ada, hadir dan menyertai manusia, maka kehidupan kekal itu juga nyata sekarang ini di dalam kehidupan di dunia ini. Ia bukan suatu proyeksi ke masa depan melulu melainkan berkenaan juga dengan masa sekarang ini. Beriman kepada Yesus berarti mengambil posisi di dalam Dia dalam segala waktu dan itulah dasar dari hidup kekal.

Pada saat seseorang menyatakan iman dan kepercayaannya kepada Kristus Yesus, maka ia menerima Pribadi Yesus yang memberi hidup kekal itu. Itu berarti bahwa sejak iman itu diproklamirkan secara personal di hadapan saksi maka sejak saat itu hidup kekal sudah berawal di dalam diri orang itu. Seorang Etiopia, seorang sida-sida yang menyatakan kepercayaannya kepada Yesus, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan pertama, adalah seorang yang telah mengambil bagian dalam hidup kekal. Iman dan baptisannya telah menghantarkan ia pada perjumpaan dengan Pribadi Kristus yang memberikan kehidupan kekal itu.

Menghayati kebenaran fundamental ini secara konsekuen dalam kehidupan kristiani akan sangat menentukan hidup orang Kristiani mulai sekarang di atas dunia ini. Hidup kekal bukan suatu masa yang ada jauh di depan, tetapi sudah mulai sekarang ini, hari ini, saat ini sehingga orang terpanggil dan selalu tergerak untuk membangun hidupnya sesuai dengan iman dan kebenaran-kebenaran iman yang diajarkan. Orang tidak akan lalai, tidak abai, juga tidak kompromistis, melainkan proaktif, tekun, setia dan penuh perjuangan dalam membangun hidup yang baik sebagai orang Kristiani.

Berpikir melulu sebagai suatu masa yang akan terjadi pada masa yang akan datang bisa membuat orang menjadi santai, tidak berjuang dengan sungguh-sungguh atau malas, hidup menjadi biasa-biasa saja. Orang berpikir bahwa masih ada waktu. Konsekuensinya adalah buah kehidupan tidak memperlihatkan karakter kehidupan sebagai orang Kristiani yang sejati. Orang tidak militan, melainkan “melempem”.

Iman mestinya membuat orang menjadi aktif dan hidup sebab daya yang bekerja di dalam diri orang beriman berasal dari Allah yang hidup. Kekuatan Allah itu bersifat dinamis dan menjiwai orang untuk aktif dan hidup.  Dalam segala situasi orang tetap teguh berdiri dan berkanjang dalam perbuatan-perbuatan imannya.

Oleh karena daya Allah itu dinamis maka orang yang komit dan konsisten dengan imannya tidak dibuat menjadi robot, orang tidak menjadi kaku dan rigoristis, melainkan dinamis sesuai jiwa Allah sendiri.

Refleksi ini menyadarkan kita bahwa iman adalah dasar hidup kita. Kita hidup  oleh karena iman kita; tanpa iman kita tidak akan bertahan. Iman yang sama itu pula yang membuat kita mengalami bahwa setiap saat  adalah situasi dan realitas keselamatan kekal. Kita tidak menunggu sampai saat kesudahannya melainkan sekarang inilah saatnya kita mengalami dan menikmati situasi kehidupan kekal itu.

Berkenaan dengan ini, maka hendaknya kita sekalian yang telah mengimani Kristus sebagai keselamatan kita atau bahasa Injil hari ini adalah “roti hidup” tidak menyia-nyiakan waktu kita sekarang tanpa hidup di dalam iman. Janganlah kita memandang dengan remeh iman itu atau bermain-main dengan iman melalui sikap-sikap hidup yang bertentangan dengan iman kita. Jiwailah hidup kita sekarang dengan iman kita sampai pada waktunya kita boleh menikmati kesempurnaan hidup kekal itu dalam keadaan kita yang baru.

Dunia pekerjaan dengan segala kewajiban yang melekat di dalamnya adalah medan melalui mana kita masing-masing menghayati iman kita akan Kristus Tuhan. Namun sebagai orang beriman Katolik, hidup iman kita belum menjadi sempurna jikalau kita belum datang kepada rahmat sakramental di dalam Ekaristi sebagai suatu warisan iman yang paling luhur dan mulia. Di dalam Ekaristi kita berjumpa dengan Pribadi Ilahi yang menganugerahkan rahmat keselamatan hidup kekal itu.

Karena itulah maka patutlah kita memandang sebagai kebutuhan riil kita untuk bertemu dengan Dia di dalam Ekaristi. “Roti Hidup” itu hadir secara nyata dan mulia di dalam Ekaristi. Melalui perjumpaan pribadi dengan-Nya di dalam Ekaristi, kita akan dijiwai untuk menjalankan hidup kita secara berdayaguna dalam dunia hidup dan kerja kita yang nyata. Hidup dan kerja kita adalah konteks kita menghadirkan dan menyaksikan realitas kehidupan kekal yang dianugerahkan Kristus Tuhan kepada kita. Mulailah sekarang juga dan jangan tunda besok.***Apol Wuwur***






Tidak ada komentar:

Posting Komentar