Kis
4: 32-37 & Yoh 3:7-15
Dalam
pewartaan-Nya, Yesus mengungkapkan hal-hal surgawi dalam bahasa dan pengalaman
manusia. Sekalipun bahasa manusia itu terbatas mengikuti hakikat dasar manusia
sebagai yang terbatas, akan tetapi itulah satu-satunya cara yang membantu
pikiran manusia mencapai hal-hal surgawi.
Kepada Nikodemus
Yesus menyatakan hal yang sama. Yesus berbicara tentang suatu kehidupan baru
yang diakibatkan oleh Allah melalui Roh Kudus-Nya. “Dilahirkan” sebagai Bahasa
dan pengalaman manusiawi adalah wahana yang tepat untuk menggambarkan hal
tersebut. Pengalaman diubah ke dalam keadaan yang baru, menjadi manusia baru
yang hidup oleh Roh, bukanlah suatu hal yang utopis, melainkan suatu fakta yang
dapat dialami dan dirasakan. Perubahan itu nyata. Dan merujuk kepada
pengajaran-Nya itu Yesus berusaha menghilangkan skeptisisme yang sedang
merasuki Nikodemus dengan berkata: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau
mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana
ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh
3:8). Yesus mau menandaskan bahwa apa yang dikatakan-Nya dapat dipercaya dan
benar-benar terjadi. Yesus menyatakan demikian karena Ia berasal dari atas,
dari Bapa. Ia tahu tentang kehidupan surgawi. Bahkan Ia sendiri adalah
kebenaran itu sendiri (bdk. Yoh 14:6).
Kebenaran
perubahan hakikat manusia kepada suatu kehidupan baru di bawah kuasa Roh itu
dapat ditelusuri dalam kehidupan para murid Yesus dan kehidupan Jemaat Perdana.
Peristiwa Pentekosta di mana Roh dicurahkan ke atas para murid benar-benar
mengubah hidup mereka. Mereka secara militan mewartakan Kristus yang bangkit
(bdk Kis 4:31). Mereka tidak takut akan risiko yang terjadi, melainkan dengan
teguh berdiri dalam iman. Tepatlah Paulus berkata: “Karena bagiku hidup adalah
Kristus dan mati adalah keuntungan” (Fil 1:21). Itulah jiwa para rasul pasca
Pentekosta.
Kesaksian mereka
di bawah kuasa Roh telah mendatangkan hasil yang menakjubkan. Banyak orang
menjadi percaya dan memberi diri dibaptis. Mereka itulah Jemaat Perdana yang
hidup dalam komitmen iman yang teguh. Karena iman dan baptisan, mereka
benar-benar diubah menjadi manusia baru oleh Roh Kristus yang bangkit. Oleh Roh
yang sama mereka dibimbing untuk membangun hidup dalam persekutuan yang kuat.
Persekutuan yang kuat
dan hidup oleh Roh itu ditandai dengan beberapa hal yang mendasar. Pertama, Roh
membimbing mereka pada ketekunan dalam pengajaran para rasul. “Iman timbul dari
pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:17). Karena itu maka
Jemaat Perdana memandang sebagai suatu pilihan imperatif untuk memperdalam
khazanah iman mereka dengan firman yang diwartakan oleh pra rasul. Iman timbul
dari pendengarkan firman Allah, demikian pula iman menjadi hidup dan
menghasilkan buah karena Sabda Allah (bdk Mzm 1:2-3). Itulah alasan mereka
bertekun dalam pengajaran para rasul.
Kedua, Roh
membimbing mereka kepada persekutuan yang kokoh (koinonia). Persekutuan itu
ditandai dengan ‘persaudaraan sejati’ atau meminjam bahasa Lukas “mereka sehati
dan sejiwa” (Kis 4:32). Ikatan persekutuan mereka itu adalah cinta kasih
Kristus. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Itulah sebabnya meskipun
situasi kehidupan secara ekonomi berbeda satu dari yang lainnya akan tetapi
“... tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (Kis 4:34).
Kasih mendorong mereka untuk berbagi atas dasar kerelaan dan spontanitas, bukan
berdasarkan prinsip ekonomi yang dianut.
Ketiga, Roh
membimbing mereka untuk setia dalam hal ikhwal pemecahan roti atau Ekaristi
sebagai suatu yang hakiki dalam kehidupan komunitas mereka. Melalui “pemecahan
roti” mereka menghadirkan secara nyata korban Kristus yang diadakan satu kali
untuk selama-lamanya (Ibr 7:27). Ekaristi itu menghidupkan karena mereka
menghadirkan Kristus yang berkorban demi hidup dan keselamatan mereka. Namun
bersamaan dengan itu, melalui Ekaristi pula mereka mempersembahkan hidup mereka
bersama Kristus kepada Allah dalam aspek vertikal dan kepada sesama dalam aspek
horisontal, sambil menantikan kepenuhan hidup pada masa yang akan datang.
Keempat, Roh
membimbing mereka kepada kesetiaan di dalam doa, sebab doa berperan penting
dalam memperteguh dan menghidupkan komunitas beriman. Doa menjadi senjata
mereka dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Doa juga kekuatan yang
mempersiapkan diri mereka untuk memberikan kesaksian hidup. Dan lebih dari itu,
ketekunan mereka dalam berdoa menjadi suatu pengungkapan iman yang hidup, bahwa
mereka adalah komunitas orang-orang berdosa yang senantiasa membutuhkan
penebusan Kristus.
Cara hidup Jemaat
Perdana ini memperlihatkan apa yang menjadi pokok penekanan Kristus bahwa
kelahiran kembali oleh air dan Roh adalah suatu yang dapat dipercaya dan
benar-benar mengubah orang. Perubahan itu bukan terjadi pada aspek-aspek
sekunder kehidupan, melainkan pada aspek-aspek yang hakiki. Karena itu pula
maka perubahan itu juga bersifat konstan karena dibawa oleh Roh Kristus yang
telah bangkit dan mengalahkan kematian akibat dosa.
Kelahiran kembali
sebagaimana yang ditampakkan para rasul dan Jemaat Perdana itu bukanlah sebuah
romantisme, suatu peristiwa masa lalu yang kehilangan daya pengaruhnya pada
masa sekarang. Kelahiran kembali adalah suatu peristiwa kehidupan yang terjadi
dan dialami secara nyata ketika kita sungguh memberikan diri kita diubah oleh
Roh Kristus yang bangkit. Kita mungkin tidak menyadari sepenuhnya bagaimana
perubahan itu terjadi akan tetapi nyata bahwa perubahan itu ada. Terkadang kita
tidak mengakui bahwa perubahan itu ada atau menjadi skeptis. Dengan demikian
kita memperlemah daya Roh yang bekerja dalam diri kita. Akan tetapi refleksi
yang genuin atas bacaan-bacaan liturgis hari ini akan membantu kita untuk
sampai kepada kebenaran kata-kata Yesus: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan
engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke
mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh”
(Yoh 3:8).
Marilah kita
membaca diri kita secara jujur agar kita ditolong oleh Roh Kristus untuk
menemukan fakta yang sebenarnya tentang diri kita dan bagaimana kita memandang
kebenaran firman Kristus. Kita sesungguhnya belumlah sempurna sebagaimana para
rasul dan Jemaat Perdana, akan tetapi kesadaran yang kita bangun mempersiapkan
diri kita untuk mengalami kehidupan seperti para rasul dan Jemaat Perdana. Jika
hal itu terlampau muluk bagi kita maka setidak-tidaknya kita tergerak ke arah
hidup mereka. Kita akan mengalami bahwa Roh akan membuat kita jatuh cinta pada
Sabda Allah, hidup dalam persekutuan iman, cinta kepada Ekaristi dan doa yang
tidak pernah putus. Kita perlu menyadari bahwa kita terus membutuhkan penebusan
Kristus dan mengalami pembaruan hidup oleh Roh-Nya yang kudus.***
Apol Wuwur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar