Senin, 20 April 2020

PENGALAMAN DIUBAH ITU NYATA


Kis 4: 32-37 & Yoh 3:7-15

Dalam pewartaan-Nya, Yesus mengungkapkan hal-hal surgawi dalam bahasa dan pengalaman manusia. Sekalipun bahasa manusia itu terbatas mengikuti hakikat dasar manusia sebagai yang terbatas, akan tetapi itulah satu-satunya cara yang membantu pikiran manusia mencapai hal-hal surgawi.
Kepada Nikodemus Yesus menyatakan hal yang sama. Yesus berbicara tentang suatu kehidupan baru yang diakibatkan oleh Allah melalui Roh Kudus-Nya. “Dilahirkan” sebagai Bahasa dan pengalaman manusiawi adalah wahana yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Pengalaman diubah ke dalam keadaan yang baru, menjadi manusia baru yang hidup oleh Roh, bukanlah suatu hal yang utopis, melainkan suatu fakta yang dapat dialami dan dirasakan. Perubahan itu nyata. Dan merujuk kepada pengajaran-Nya itu Yesus berusaha menghilangkan skeptisisme yang sedang merasuki Nikodemus dengan berkata: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh 3:8). Yesus mau menandaskan bahwa apa yang dikatakan-Nya dapat dipercaya dan benar-benar terjadi. Yesus menyatakan demikian karena Ia berasal dari atas, dari Bapa. Ia tahu tentang kehidupan surgawi. Bahkan Ia sendiri adalah kebenaran itu sendiri (bdk. Yoh 14:6).

Kebenaran perubahan hakikat manusia kepada suatu kehidupan baru di bawah kuasa Roh itu dapat ditelusuri dalam kehidupan para murid Yesus dan kehidupan Jemaat Perdana. Peristiwa Pentekosta di mana Roh dicurahkan ke atas para murid benar-benar mengubah hidup mereka. Mereka secara militan mewartakan Kristus yang bangkit (bdk Kis 4:31). Mereka tidak takut akan risiko yang terjadi, melainkan dengan teguh berdiri dalam iman. Tepatlah Paulus berkata: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Fil 1:21). Itulah jiwa para rasul pasca Pentekosta.

Kesaksian mereka di bawah kuasa Roh telah mendatangkan hasil yang menakjubkan. Banyak orang menjadi percaya dan memberi diri dibaptis. Mereka itulah Jemaat Perdana yang hidup dalam komitmen iman yang teguh. Karena iman dan baptisan, mereka benar-benar diubah menjadi manusia baru oleh Roh Kristus yang bangkit. Oleh Roh yang sama mereka dibimbing untuk membangun hidup dalam persekutuan yang kuat.

Persekutuan yang kuat dan hidup oleh Roh itu ditandai dengan beberapa hal yang mendasar. Pertama, Roh membimbing mereka pada ketekunan dalam pengajaran para rasul. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:17). Karena itu maka Jemaat Perdana memandang sebagai suatu pilihan imperatif untuk memperdalam khazanah iman mereka dengan firman yang diwartakan oleh pra rasul. Iman timbul dari pendengarkan firman Allah, demikian pula iman menjadi hidup dan menghasilkan buah karena Sabda Allah (bdk Mzm 1:2-3). Itulah alasan mereka bertekun dalam pengajaran para rasul.

Kedua, Roh membimbing mereka kepada persekutuan yang kokoh (koinonia). Persekutuan itu ditandai dengan ‘persaudaraan sejati’ atau meminjam bahasa Lukas “mereka sehati dan sejiwa” (Kis 4:32). Ikatan persekutuan mereka itu adalah cinta kasih Kristus. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Itulah sebabnya meskipun situasi kehidupan secara ekonomi berbeda satu dari yang lainnya akan tetapi “... tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (Kis 4:34). Kasih mendorong mereka untuk berbagi atas dasar kerelaan dan spontanitas, bukan berdasarkan prinsip ekonomi yang dianut.

Ketiga, Roh membimbing mereka untuk setia dalam hal ikhwal pemecahan roti atau Ekaristi sebagai suatu yang hakiki dalam kehidupan komunitas mereka. Melalui “pemecahan roti” mereka menghadirkan secara nyata korban Kristus yang diadakan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 7:27). Ekaristi itu menghidupkan karena mereka menghadirkan Kristus yang berkorban demi hidup dan keselamatan mereka. Namun bersamaan dengan itu, melalui Ekaristi pula mereka mempersembahkan hidup mereka bersama Kristus kepada Allah dalam aspek vertikal dan kepada sesama dalam aspek horisontal, sambil menantikan kepenuhan hidup pada masa yang akan datang.

Keempat, Roh membimbing mereka kepada kesetiaan di dalam doa, sebab doa berperan penting dalam memperteguh dan menghidupkan komunitas beriman. Doa menjadi senjata mereka dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Doa juga kekuatan yang mempersiapkan diri mereka untuk memberikan kesaksian hidup. Dan lebih dari itu, ketekunan mereka dalam berdoa menjadi suatu pengungkapan iman yang hidup, bahwa mereka adalah komunitas orang-orang berdosa yang senantiasa membutuhkan penebusan Kristus.

Cara hidup Jemaat Perdana ini memperlihatkan apa yang menjadi pokok penekanan Kristus bahwa kelahiran kembali oleh air dan Roh adalah suatu yang dapat dipercaya dan benar-benar mengubah orang. Perubahan itu bukan terjadi pada aspek-aspek sekunder kehidupan, melainkan pada aspek-aspek yang hakiki. Karena itu pula maka perubahan itu juga bersifat konstan karena dibawa oleh Roh Kristus yang telah bangkit dan mengalahkan kematian akibat dosa.

Kelahiran kembali sebagaimana yang ditampakkan para rasul dan Jemaat Perdana itu bukanlah sebuah romantisme, suatu peristiwa masa lalu yang kehilangan daya pengaruhnya pada masa sekarang. Kelahiran kembali adalah suatu peristiwa kehidupan yang terjadi dan dialami secara nyata ketika kita sungguh memberikan diri kita diubah oleh Roh Kristus yang bangkit. Kita mungkin tidak menyadari sepenuhnya bagaimana perubahan itu terjadi akan tetapi nyata bahwa perubahan itu ada. Terkadang kita tidak mengakui bahwa perubahan itu ada atau menjadi skeptis. Dengan demikian kita memperlemah daya Roh yang bekerja dalam diri kita. Akan tetapi refleksi yang genuin atas bacaan-bacaan liturgis hari ini akan membantu kita untuk sampai kepada kebenaran kata-kata Yesus: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh 3:8).

Marilah kita membaca diri kita secara jujur agar kita ditolong oleh Roh Kristus untuk menemukan fakta yang sebenarnya tentang diri kita dan bagaimana kita memandang kebenaran firman Kristus. Kita sesungguhnya belumlah sempurna sebagaimana para rasul dan Jemaat Perdana, akan tetapi kesadaran yang kita bangun mempersiapkan diri kita untuk mengalami kehidupan seperti para rasul dan Jemaat Perdana. Jika hal itu terlampau muluk bagi kita maka setidak-tidaknya kita tergerak ke arah hidup mereka. Kita akan mengalami bahwa Roh akan membuat kita jatuh cinta pada Sabda Allah, hidup dalam persekutuan iman, cinta kepada Ekaristi dan doa yang tidak pernah putus. Kita perlu menyadari bahwa kita terus membutuhkan penebusan Kristus dan mengalami pembaruan hidup oleh Roh-Nya yang kudus.***



Apol Wuwur


Tidak ada komentar:

Posting Komentar