Kis
4:23-31 & Yoh 3:1-8
Nikodemus adalah seorang pemimpin
agama Yahudi dari kalangan Farisi. Ia berpendidikan tinggi dan memiliki
pengetahuan yang dalam tentang hukum Taurat. Disebutkan bahwa ia adalah
“pengajar Israel” dan kemungkinan besar menjadi anggoga “Makamah Agama” Yahudi atau Sanhedrin.
Oleh penginjil Yohanes, Nikodemus diperkenalkan sebagai orang yang berhati lurus
dan setia. Ia adalah pencari kebenaran.
Ia terpikat pada pribadi Yesus. Ia
membuka hatinya bagi Yesus. Mujizat yang dilakukan Yesus dan pengajaran-Nya
yang penuh kuasa menghantarnya pada keyakinan bahwa Yesus adalah Guru yang
diutus oleh Allah. Yesus diidentifikasi sebagai sosok pembawa sekaligus pemilik
kebenaran. Berhadapan dengan-Nya, tidak ada pilihan lain yang lebih baik
daripada pilihan untuk membuka hati dan mendengarkan pengajaran-Nya.
Itulah sebabnya, Nikodemus keluar
dari jalan para petinggi agama Yahudi
yang merasa telah “memiliki kebenaran” yang sempurna lalu menutup hati terhadap
kebenaran yang datang dari Yesus. Ia berani menyebrang ke sisi lain dari jalan
yang sama untuk belajar menemukan kebenaran yang fundamental, yaitu kebenaran
yang sungguh menghantar kepada keselamatan. Karena itulah maka ia mencari
Yesus. Ia ingin sekali mendengarkan pengajaran Yesus secara khusus. Ia mau
berdialog langsung dengan Yesus secara intensif. Dan penginjil Yohanes mengatakan
bahwa Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam.
Mengapa Nikodemus mendatangi Yesus
pada waktu malam? Bukankah lebih baik ia mendengarkan Yesus pada waktu siang? Nikodemus memiliki argumentasi tersendiri. Ia
melakukan demikian mengingat ia sendiri tidak menghendaki bahwa publik
mengetahui dirinya sebagai salah seorang murid Yesus, sebab jika tidak maka
akan membangkitkan permusuhan dari orang-orang Yahudi. Teristimewa ia mau menghindari
perdebatan panjang dan konflik internal kaum Farisi karena sikapnya itu: Ia
menerima Yesus, sementara kaumnya yang lain menolak Yesus. Ia menyadari, dua
sikap yang berbeda itu memiliki potensi besar untuk memercikan api permusuhan. Nokodemus
mau menghindari skandal yang bisa menimbulkan huru-hara besar, sekalipun
menjadi nyata pula bahwa Nikodemus takut akan kekuatan dari mayoritas yang
mengadilinya secara sepihak seperti lazimnya mereka lakukan terhadap Yesus.
Lebih dari sekedar melihat
alasan-alasan ini, tindakan Nikodemus memiliki perspektif lain yang jauh lebih
bernilai dan justru itulah yang hendak ditangkap dan dihidupi sebagai suatu
spiritualitas yang memberi makna pada kehidupan kita. Secara berturut-turut
kita akan melihat alasan mengapa Nikodemus mendatangi Yesus pada waktu malam dalam
kerangka mengembangkan khazanah pemahan kita tentang dimensi hidup kerohanian
kita.
Pertama, Nikodemus memilih waktu malam
karena malam adalah waktu yang sakral; malam menunjuk pada misteri atau rahasia
Allah yang ingin disingkapkan dan mengacu pula pada hal ikhwal pertemuan antara
yang ilahi dan yang insani (lih. 2 Sam 7:4; 1 Ra 3:5; 19:9; 1 Taw 17:3; 2 Taw
1:7.12; Dan 7:2; Kis 5:19: 16:9:18:9; 23:11; 27:23-24; Mrk 1:35; Luk 6:12).
Misteri itu tidak dapat didekati dari luar dirinya, melainkan mengambil bagian
di dalamnya. Yesus, Sang Guru adalah misteri itu sendiri. Nikodemus masuk ke
dalam misteri kebenaran Yesus dengan mendengarkan Dia pada waktu malam hari.
Meskipun dilaporkan penginjil bahwa pada waktu awal Nikodemus menjadi takut dan
tidak memahami Yesus, namun keterbukaan hatinya membuat ia melebur dan
mengambil bagian dalam kebenaran yang diajarkan Yesus. Nikodemus masuk dan
berada dalam waktu, situasi dan Pribadi yang sakral.
Tindakan Nikodemus menginspirasi
kita untuk mengembangkan kecintaan kita kepada keheningan batin dan kontemplasi
sebagai suatu jalan untuk dapat berintimasi dengan Allah, mengambil bagian di
dalam rahasia kebenaran-Nya dan hidup oleh kebenaran Allah itu. Nikodemus
menunjukkan seperti yang dilakukan Yesus adalah bahwa “situasi malam” adalah
situasi keheningan batin dan kontemplasi, waktu yang tepat untuk bercakap-cakap
secara intensif dan langsung dengan Tuhan. Ketika tubuh kita berhenti dari
aktivitas dan tertinggal hati dan pikiran kita, maka itulah saatnya bagi kita
masuk ke dalam persekutuan mesra dengan Tuhan. Keheningan batin dan kontemplasi
memang bisa terjadi kapan saja, namun akan sungguh efektif jika dilakukan pada
malam hari saat tubuh kita lagi beristirahat dari aktivitas harian. Tidakkah
kita juga mengendus jejak Nikodemus?
Kedua, malam mengacu kepada suatu
pertemuan yang khusus, istimewa dan bersifat sangat personal. Dengan mendatangi
Yesus pada waktu malam sebenarnya Nikodemus ingin membangun hubungan personal dengan
Yesus dan mau berdialog secara intensif dengan Yesus. Tidak cukup baginya
mendengarkan Yesus di tempat umum tanpa ada suatu relasi pribadi. Ia merasa
penting untuk berdialog secara khusus dengan Tuhan pada waktu yang tepat dan
pada tempat yang tepat. Itulah yang dipandangnya sebagai jalan kebijaksaan
sebab melaluinya rahasia kebenaran yang menyelamatkan dapat diperoleh dari sang
Guru. Dalam relasi personal dengan Guru Agung itulah kebenaran-Nya bisa masuk
dalam hidupnya dan ‘mempribadi’. Artinya, kebenaran itu dapat diinternalisasi
secara intensif karena seluruh diri menjadi sangat terpusat pada Yesus. Alhasil,
pembicaraan Nikodemus dan Yesus tentang kelahiran kembali dan kehidupan kekal
menjadi terang benderang bagi Nikodemus. Nikodemus mengerti apa artinya lahir
kembali dari air dan Roh.
Pesannya bagi kita adalah bahwa
sebagai murid Yesus, kita juga memandang penting untuk bertemu dengan Yesus
secara pribadi. Apa yang kita terima melalui persekutuan iman di dalam
kegiatan-kegiatan komunal adalah penting, akan tetapi juga serentak menjadi
motivasi yang mendorong kita untuk berintimasi dengan Tuhan dalam suatu
hubungan yang khusus, istimewa dan personal. Dalam keheningan batin dan
ketenganan malam ketika kita benar-benar meluangkan waktu dan mengarahkan diri
kita seluruhnya pada perkara Tuhan, maka kita dapat masuk ke dalam perjumpaan
pribadi dengan Pribadi Ilahi, Dia yang adalah Guru kehidupan kita. Kita
berbicara dan berdialog secara langsung dan intensif dengan Tuhan.
Kebenaran-Nya pasti akan menjiwai kita dan menyatu dengan hidup kita. Tak
terhindakan kita mendapatkan kekuatan dan kemampuan untuk menjadi mengerti dan
menangkap misteri Allah dalam peristiwa kehidupan kita.
Ketiga, malam menunjuk kepada “semangat
yang bernyala-nyala” untuk belajar dan mencari kebenaran yang berasal dari
atas. Nikodemus menunjukkan semangat itu. Kerja sepanjang hari tidak membuat ia
letih sebab semangatnya untuk mencari kebenaran jauh melampaui kekuatan
keletihan itu. Maka pada saat kaum Farisi yang lain dan
para ahli Taurat tertidur lelap, ia belajar dan menambah pengetahuannya (Mzm.
63:2; Mzm 77:7; Mzm 119:148). Nikodemus menunjukkan bahwa kepuasannya akan
kebenaran yang datang dari Allah jauh lebih penting, itulah yang mendatangkan
sukacita daripada menikmati kepuasan fisik dengan menghabiskan waktu malam di
tempat tidur. Itulah yang kemudian ditandaskan Yesus kepadanya: “Apa yang dilahirkan dari daging,
adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh: (Yoh 3:6).
Kedagingan membuat kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mengikuti keinginan mereka
sendiri dan menikmati apa yang menjadi kesenangan pribadi mereka, tetapi Roh
telah membimbing Nikodemus untuk menambah pengetahuan dan mencari kebenaran
pada Yesus.
Nikodemus mengajari, bahkan
mengeritik hidup kita yang terlampau kuat berpaut pada keinginan “daging” kita
dan mematikan semangat Roh yang membuat jiwa kita rindu dan haus akan kebenaran
Tuhan. Kita menjadikan alasan kesibukan dan keletihan akibat kesibukan untuk tidak
menjumpai Dia dan belajar dari Dia dan menimbah kekuatan dari Dia. Kita
terjebak dalam aktivisme yang kaku dan mati, dan lupa bahwa kebenaran Tuhan
yang menjiwai kita penting sekali untuk mengatasi keletihan, kelesuhan kita
akibat aktivitas kehidupan. Kita tidak membenturkan antara aktivitas kita pada
satu sisi dan kebenaran Tuhan sebagai suatu yang paling hakiki pada piihak
lain, melainkan berusaha mensintesiskannya sebagai dua sisi dari kehidupan kita
yang patut mendapatkan porsi penghayatannya secara proporsional. Aktivitas
direfleksikan dan refleksi menuntun kita kepada aktivitas. Itulah yang membuat
hidup kita bisa bermakna.
Nikodemus memanggil Yesus sebagai
Rabi atau Guru yang berasal dari Allah. Panggilan ini menunjuk pada pengakuan
akan Pribadi yang berasal dari Allah. Ia menerima pengajaran Yesus. Pada
perjumpaan personal dengan Yesus, Nikodemus tidak hanya mendapatkan pengajaran
melainkan mengalami transformasi diri oleh kebenaran yang diajarkan Yesus.
Kekaguman pada diri Yesus sebagai yang berkuasa baik dalam kata-kata maupun
perbuatan baru pada titik awal. Ia tidak berhenti di situ. Langkah itu diikuti
dengan transformasi atau menggunakan bahasa Yesus “dilahirkan kembali”.
Demikianlah Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya
jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah"
(Yoh 3:3).
Demikianlah kita sebagai murid-murid
Yesus. Kita tidak hanyak berhenti pada pengakuan kita bahwa Yesus adalah Guru
yang datang dari Allah. Kekaguman kita pada Dia mesti diikuti dengan perjumpaan
kita secara khusus dengan Dia dan kita membiarkan diri kita diubah oleh
kebenaran-Nya. “Kelahiran kembali” adalah tuntutan penting untuk bisa
menghadirkan diri kita sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Tanpa kelahiran
kembali kita tetap tinggal dalam kekuatan yang labil. Kita mengandalkan
kekuatan manusiawi kita tanpa penyertaan Roh. Mungkin saja kita banyak
berbicara tentang Dia, mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan, tetapi kesaksian
semacam itu tidak memiliki kekuatan yang mentransformasi orang lain. Bisa saja
orang tertegun dengan kemampuan kita berkata-kata tentang Dia, akan tetapi
tidak lebih dari sekedar retorika yang mempengaruhi orang sesaat saja. Kita
tidak memlliki kekuatan lebih untuk membuat kebenaran itu berakar pada orang
lain. Tetapi jika kita berjumpa dengan Dia, mengalami kelahiran kembali maka
pastilah kesaksian kita memiliki kekuatan yang mempengaruhi kehidupan orang
lain. Kekuatan itu bersifat tetap, sebab Rohlah yang bersaksi bersama kita. ***
Apol
Wuwur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar