Minggu, 19 April 2020

MENELUSURI JALAN NIKODEMUS



Kis 4:23-31 & Yoh 3:1-8

Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi dari kalangan Farisi. Ia berpendidikan tinggi dan memiliki pengetahuan yang dalam tentang hukum Taurat. Disebutkan bahwa ia adalah “pengajar Israel” dan kemungkinan besar menjadi anggoga “Makamah Agama” Yahudi  atau Sanhedrin. Oleh penginjil Yohanes, Nikodemus diperkenalkan sebagai orang yang berhati lurus dan setia.  Ia adalah pencari kebenaran.

Ia terpikat pada pribadi Yesus. Ia membuka hatinya bagi Yesus. Mujizat yang dilakukan Yesus dan pengajaran-Nya yang penuh kuasa menghantarnya pada keyakinan bahwa Yesus adalah Guru yang diutus oleh Allah. Yesus diidentifikasi sebagai sosok pembawa sekaligus pemilik kebenaran. Berhadapan dengan-Nya, tidak ada pilihan lain yang lebih baik daripada pilihan untuk membuka hati dan mendengarkan pengajaran-Nya.

Itulah sebabnya, Nikodemus keluar dari jalan para petinggi agama Yahudi yang merasa telah “memiliki kebenaran” yang sempurna lalu menutup hati terhadap kebenaran yang datang dari Yesus. Ia berani menyebrang ke sisi lain dari jalan yang sama untuk belajar menemukan kebenaran yang fundamental, yaitu kebenaran yang sungguh menghantar kepada keselamatan. Karena itulah maka ia mencari Yesus. Ia ingin sekali mendengarkan pengajaran Yesus secara khusus. Ia mau berdialog langsung dengan Yesus secara intensif. Dan penginjil Yohanes mengatakan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam.

Mengapa Nikodemus mendatangi Yesus pada waktu malam? Bukankah lebih baik ia mendengarkan Yesus pada waktu siang?  Nikodemus memiliki argumentasi tersendiri. Ia melakukan demikian mengingat ia sendiri tidak menghendaki bahwa publik mengetahui dirinya sebagai salah seorang murid Yesus, sebab jika tidak maka akan membangkitkan permusuhan dari orang-orang Yahudi. Teristimewa ia mau menghindari perdebatan panjang dan konflik internal kaum Farisi karena sikapnya itu: Ia menerima Yesus, sementara kaumnya yang lain menolak Yesus. Ia menyadari, dua sikap yang berbeda itu memiliki potensi besar untuk memercikan api permusuhan. Nokodemus mau menghindari skandal yang bisa menimbulkan huru-hara besar, sekalipun menjadi nyata pula bahwa Nikodemus takut akan kekuatan dari mayoritas yang mengadilinya secara sepihak seperti lazimnya mereka lakukan terhadap Yesus.

Lebih dari sekedar melihat alasan-alasan ini, tindakan Nikodemus memiliki perspektif lain yang jauh lebih bernilai dan justru itulah yang hendak ditangkap dan dihidupi sebagai suatu spiritualitas yang memberi makna pada kehidupan kita. Secara berturut-turut kita akan melihat alasan mengapa Nikodemus mendatangi Yesus pada waktu malam dalam kerangka mengembangkan khazanah pemahan kita tentang dimensi hidup kerohanian kita.

Pertama, Nikodemus memilih waktu malam karena malam adalah waktu yang sakral; malam menunjuk pada misteri atau rahasia Allah yang ingin disingkapkan dan mengacu pula pada hal ikhwal pertemuan antara yang ilahi dan yang insani (lih. 2 Sam 7:4; 1 Ra 3:5; 19:9; 1 Taw 17:3; 2 Taw 1:7.12; Dan 7:2; Kis 5:19: 16:9:18:9; 23:11; 27:23-24; Mrk 1:35; Luk 6:12). Misteri itu tidak dapat didekati dari luar dirinya, melainkan mengambil bagian di dalamnya. Yesus, Sang Guru adalah misteri itu sendiri. Nikodemus masuk ke dalam misteri kebenaran Yesus dengan mendengarkan Dia pada waktu malam hari. Meskipun dilaporkan penginjil bahwa pada waktu awal Nikodemus menjadi takut dan tidak memahami Yesus, namun keterbukaan hatinya membuat ia melebur dan mengambil bagian dalam kebenaran yang diajarkan Yesus. Nikodemus masuk dan berada dalam waktu, situasi dan Pribadi yang sakral.

Tindakan Nikodemus menginspirasi kita untuk mengembangkan kecintaan kita kepada keheningan batin dan kontemplasi sebagai suatu jalan untuk dapat berintimasi dengan Allah, mengambil bagian di dalam rahasia kebenaran-Nya dan hidup oleh kebenaran Allah itu. Nikodemus menunjukkan seperti yang dilakukan Yesus adalah bahwa “situasi malam” adalah situasi keheningan batin dan kontemplasi, waktu yang tepat untuk bercakap-cakap secara intensif dan langsung dengan Tuhan. Ketika tubuh kita berhenti dari aktivitas dan tertinggal hati dan pikiran kita, maka itulah saatnya bagi kita masuk ke dalam persekutuan mesra dengan Tuhan. Keheningan batin dan kontemplasi memang bisa terjadi kapan saja, namun akan sungguh efektif jika dilakukan pada malam hari saat tubuh kita lagi beristirahat dari aktivitas harian. Tidakkah kita juga mengendus jejak Nikodemus?

Kedua, malam mengacu kepada suatu pertemuan yang khusus, istimewa dan bersifat sangat personal. Dengan mendatangi Yesus pada waktu malam sebenarnya Nikodemus ingin membangun hubungan personal dengan Yesus dan mau berdialog secara intensif dengan Yesus. Tidak cukup baginya mendengarkan Yesus di tempat umum tanpa ada suatu relasi pribadi. Ia merasa penting untuk berdialog secara khusus dengan Tuhan pada waktu yang tepat dan pada tempat yang tepat. Itulah yang dipandangnya sebagai jalan kebijaksaan sebab melaluinya rahasia kebenaran yang menyelamatkan dapat diperoleh dari sang Guru. Dalam relasi personal dengan Guru Agung itulah kebenaran-Nya bisa masuk dalam hidupnya dan ‘mempribadi’. Artinya, kebenaran itu dapat diinternalisasi secara intensif karena seluruh diri menjadi sangat terpusat pada Yesus. Alhasil, pembicaraan Nikodemus dan Yesus tentang kelahiran kembali dan kehidupan kekal menjadi terang benderang bagi Nikodemus. Nikodemus mengerti apa artinya lahir kembali dari air dan Roh.

Pesannya bagi kita adalah bahwa sebagai murid Yesus, kita juga memandang penting untuk bertemu dengan Yesus secara pribadi. Apa yang kita terima melalui persekutuan iman di dalam kegiatan-kegiatan komunal adalah penting, akan tetapi juga serentak menjadi motivasi yang mendorong kita untuk berintimasi dengan Tuhan dalam suatu hubungan yang khusus, istimewa dan personal. Dalam keheningan batin dan ketenganan malam ketika kita benar-benar meluangkan waktu dan mengarahkan diri kita seluruhnya pada perkara Tuhan, maka kita dapat masuk ke dalam perjumpaan pribadi dengan Pribadi Ilahi, Dia yang adalah Guru kehidupan kita. Kita berbicara dan berdialog secara langsung dan intensif dengan Tuhan. Kebenaran-Nya pasti akan menjiwai kita dan menyatu dengan hidup kita. Tak terhindakan kita mendapatkan kekuatan dan kemampuan untuk menjadi mengerti dan menangkap misteri Allah dalam peristiwa kehidupan kita.

Ketiga, malam menunjuk kepada “semangat yang bernyala-nyala” untuk belajar dan mencari kebenaran yang berasal dari atas. Nikodemus menunjukkan semangat itu. Kerja sepanjang hari tidak membuat ia letih sebab semangatnya untuk mencari kebenaran jauh melampaui kekuatan keletihan itu. Maka pada saat kaum Farisi yang lain dan para ahli Taurat tertidur lelap, ia belajar dan menambah pengetahuannya (Mzm. 63:2; Mzm 77:7; Mzm 119:148). Nikodemus menunjukkan bahwa kepuasannya akan kebenaran yang datang dari Allah jauh lebih penting, itulah yang mendatangkan sukacita daripada menikmati kepuasan fisik dengan menghabiskan waktu malam di tempat tidur. Itulah yang kemudian ditandaskan Yesus kepadanya: “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh: (Yoh 3:6). Kedagingan membuat kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mengikuti keinginan mereka sendiri dan menikmati apa yang menjadi kesenangan pribadi mereka, tetapi Roh telah membimbing Nikodemus untuk menambah pengetahuan dan mencari kebenaran pada Yesus.

Nikodemus mengajari, bahkan mengeritik hidup kita yang terlampau kuat berpaut pada keinginan “daging” kita dan mematikan semangat Roh yang membuat jiwa kita rindu dan haus akan kebenaran Tuhan. Kita menjadikan alasan kesibukan dan keletihan akibat kesibukan untuk tidak menjumpai Dia dan belajar dari Dia dan menimbah kekuatan dari Dia. Kita terjebak dalam aktivisme yang kaku dan mati, dan lupa bahwa kebenaran Tuhan yang menjiwai kita penting sekali untuk mengatasi keletihan, kelesuhan kita akibat aktivitas kehidupan. Kita tidak membenturkan antara aktivitas kita pada satu sisi dan kebenaran Tuhan sebagai suatu yang paling hakiki pada piihak lain, melainkan berusaha mensintesiskannya sebagai dua sisi dari kehidupan kita yang patut mendapatkan porsi penghayatannya secara proporsional. Aktivitas direfleksikan dan refleksi menuntun kita kepada aktivitas. Itulah yang membuat hidup kita bisa bermakna.

Nikodemus memanggil Yesus sebagai Rabi atau Guru yang berasal dari Allah. Panggilan ini menunjuk pada pengakuan akan Pribadi yang berasal dari Allah. Ia menerima pengajaran Yesus. Pada perjumpaan personal dengan Yesus, Nikodemus tidak hanya mendapatkan pengajaran melainkan mengalami transformasi diri oleh kebenaran yang diajarkan Yesus. Kekaguman pada diri Yesus sebagai yang berkuasa baik dalam kata-kata maupun perbuatan baru pada titik awal. Ia tidak berhenti di situ. Langkah itu diikuti dengan transformasi atau menggunakan bahasa Yesus “dilahirkan kembali”. Demikianlah Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh 3:3).
Demikianlah kita sebagai murid-murid Yesus. Kita tidak hanyak berhenti pada pengakuan kita bahwa Yesus adalah Guru yang datang dari Allah. Kekaguman kita pada Dia mesti diikuti dengan perjumpaan kita secara khusus dengan Dia dan kita membiarkan diri kita diubah oleh kebenaran-Nya. “Kelahiran kembali” adalah tuntutan penting untuk bisa menghadirkan diri kita sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Tanpa kelahiran kembali kita tetap tinggal dalam kekuatan yang labil. Kita mengandalkan kekuatan manusiawi kita tanpa penyertaan Roh. Mungkin saja kita banyak berbicara tentang Dia, mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan, tetapi kesaksian semacam itu tidak memiliki kekuatan yang mentransformasi orang lain. Bisa saja orang tertegun dengan kemampuan kita berkata-kata tentang Dia, akan tetapi tidak lebih dari sekedar retorika yang mempengaruhi orang sesaat saja. Kita tidak memlliki kekuatan lebih untuk membuat kebenaran itu berakar pada orang lain. Tetapi jika kita berjumpa dengan Dia, mengalami kelahiran kembali maka pastilah kesaksian kita memiliki kekuatan yang mempengaruhi kehidupan orang lain. Kekuatan itu bersifat tetap, sebab Rohlah yang bersaksi bersama kita. ***

Apol Wuwur

Tidak ada komentar:

Posting Komentar