Rabu, 29 April 2020

AKU MELAKUKAN KEHENDAK DIA YANG MENGUTUS AKU


Yoh 6 : 35 – 40
Santa Katarina lahir di kota Siena, Republik Siena sebuah ( Negara makmur di Italia ) pada tanggal, 25 Maret 1347. Santa Katarina adalah seorang Perawan dan Pujangga Gereja. Dia adalah anak ke 24 dari 25 orang bersaudara ( kembaran ke 23 meninggal sejak lahir). Katarina adalah seorang  “tertiari” Ordo Dominikus ( atau “ hubungan awam “ Ordo Dominikus ). Sebagai tetiari Katarina tinggal di rumah dan bukan di biara dan dia melakukan kesederhanaannya. Katarina terkenal karena puasa dan melakukan penahanan diri yang mungkin sekarang ini lebih dikenal dengan istilah anorexia nervosa.  Katarina tidak bersekolah dan tidak pandai menulis. Keterampilan membaca sangat sedikit dikuasainya. Hal ini sedikit menolongnya untuk mengikuti doa ofisi di kemudian hari ketika ia masuk biara. Pada saat berusia enam tahun, Katarina mengalami suatu peristiwa ajaib, yang memberi tanda surgawi bahwa ia akan dipilih Allah untuk suatu tugas khusus dalam Gereja. Ia melihat Kristus di atas Gereja Santo  Dominikus yang sedang memberkatinya. Peristiwa ini menyebabkan perubahan besar dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia suka memencilkan diri untuk berdoa. Ibunya tidak suka melihat kelakuannya, oleh karena itu ia di pekerjakan di dapur dari pagi hingga malam. Ia tidak memberontak terhadap perlakuan ibunya. Sebaliknya ia dengan taat dan rajin melakukan apa yang disuruh ibunya.

Dengan kesabaran yang ia miliki akhirnya membuahkan hasil yang baik. Ia  mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi sambil terus berdoa kepada Tuhan.  Dan pada akhirnya orangtua mengijinkan untuk masuk ordo ketiga Santo Doninikus. Di dalam biara ia tetap melaksanakan doa dan meditasi di samping karya amal dan kerasulannya. Lama-kelamaan ia diangkat menjadi pemimpin biara karena kerohanian dan kepribadiannya yang begitu baik. Situasi Gereja saat itu tidak menampilakan diri secara baik. Peperangan antar Negara dan antar Raja-raja timbul dimana-mana. Disamping itu Sri Paus di Avigon, Perancis yang sudah berusia 70 tahun yang menimbulkan percekcokan di kalangan pemimpin-pemimpin gereja. Dalam suatu penglihatan Kristus menganjurkan kepada Katarina untuk menyurati Paus, raja-raja dan uskup serta para panglima guna memperbaiki masyarakat dan Gereja. Paus Gregorius XI memintanya pergi ke Pisa dan Florence untuk mendamaikan kedua republik itu.  Katarin berhasil menyakinkan Paus untuk pulang ke Roma sebagai kota abadi dan Pusat Gereja. Semenjak masuk ordo Ketiga Santo Dominikus, Katarina makin memperkeras puasanya. Banyak kali ia tidak makan, kecuali menerima komuni suci.  Ia dikaruniai Stigma/luka-luka Tuhan Yesus.  Atas permohonannya stigma itu tidak terlihat oleh orang lain selama hidupnya. Setelah meninggal stigmanya baru terlihat oleh orang lain di badannya secara jelas. Katarina memiliki karisma yang begitu besar untuk mempengaruhi banyak orang. Ia berhasil membawa kembali pendosa ke jalan Tuhan, termasuk mendamaikan raja-raja dengan gereja. Katarina meninggal dunia pada tanggal 29 April 1380 dalam usia 33 tahun.  Gereja  melalui Paus Pius II mengkanonisasikan Katarina pada tahun 1461. Suratnya dianggap sebagai literature awal Tuscan dan hari peringatannya adalah setiap tanggal 29 April. Santa Katarina sebagai pelindung Kebakaran, kesakitan fisik, keguguran. Ia menganggap dirinya hanyalah sebagai alat Tuhan untuk menegakkan kemuliaan Tuhan. (@Iman_Katolik)

Injil hari ini mengatakan Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barang siapa datang kepadaKu ia tidak akan kubuang. Kalau ada orang yang datang dan percaya kepada Yesus itu adalah penyelenggara Allah sendiri. Denga cara yang tidak terduga Allah membuat orang beriman kepada Yesus.  Allah bisa menggunakan apa saja sebagai sarana untuk mengantar orang menemukan hidup kekal di dalam Yesus. Roh Allah akan berkarya untuk memberitakan karya penyelamatan dari Allah.

Tanggungjawab ini besar karena iman banyak orang bergantung pada pemberitaan injil itu. Tanggung jawab ini yang secara konsekwen dijalankan oleh Yesus. Semua itu terjadi karena Yesus menyadari siapa dirinya dan memegang teguh komitmen perutusannya. Ia tidak menyimpang dari kehendak Bapa. Kalau kita menerima perutusan dari Bapa sebagaimana yang disampaikan Yesus, kewajiban kita adalah mewartakan cinta Allah melalui hidup dan karya kita.  Pewartaan itu bisa terjadi lewat kata-kata  langsung, tidak jarang lebih efektif justru lewat teladan hidup.

Disini kita ditantang untuk tidak menyimpang dari cinta Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Hanya denga cara itu kita tetap menjaga kelayakan kita sebagai utusan Allah. Namun kita perlu menyadari bahwa iman kita kepada Yesus juga bukan karena usaha kita.  Iman juga bukan sekedar warisan dari orangtua.  Iman itu kita miliki karena penyelenggaraan Allah sendiri. Karena cinta Allah begitu besar denga cara yang unik kita kahirnya mengimani Yesus sebagai jaminan hidup kekal, untuk kebangkitan diakhir jaman.

( Yoh 6 :35 – 40 )  Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.  Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.  Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.  Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.  Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.  Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." *** JK Lejab***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar