Selasa, 21 April 2020

SEMANGAT KASIH


 (Yoh 3: 16 – 21)

Selama tiga hari berturut-turut (Senin-Rabu) penginjil Yohanes menyajikan sebuah kisah yang menarik tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus. Teks bacaan yang panjang tersebut dibagi dalam tiga edisi. Dan ditampilkan dalam tiga hari berturut-turut. Bacaan Injil hari ini merupakan akhir dari dialog antara Yesus dan Nikodemus. Setiap ungkapan Yesus bertujuan untuk meyakinkan Nikodemus tentang siapa Allah dan juga siapa diri-Nya agar Nikodemus mau membuka hati-Nya dan mengimani Yesus sebagai Putra Allah yang diutus untuk menyelamatkan manusia.

Ada tiga hal penting di akhir dialog yang membuat Nikodemus menerima dan mengimani pribadi Yesus. Pertama, kasih. Yesus menjelaskan Pribadi-Nya sebagai penjelmaan Allah yang selalu mengasihi meskipun manusia berdosa. Kasih Allah tidak penah surut ketika berhadapan dengan kelemahan dan kekurangan manusia. Kedua, penghakiman. “Barangsiapa yang tidak percaya dia berada di bawah hukuman.” Yesus memperhadapkan Nikodemus dengan paradox antara kasih dan penghakiman. Allah adalah kasih. Hanya orang dalam situasi berhadapan dengan Yesus dan tidak merasakan sesuatu yang indah dan bermakna, sesungguhnya ia sudah terhakimi. Sikapnya tersebut telah menghakimi dirinya sendiri. Dalam arti ketika ia berbuat salah dan merasa berdosa, kita berada dalam penghakiman atas diri kita sendiri. Allah tidak menghakimi tetapi Allah tetap menerima pertobatan kita. Ketiga, terang. Kepada Nikodemus, Yesus menjelaskan bahwa diri-Nya bukan hanya sebagai utusan Allah, bukan pula hanya sebagai perwujudan cinta Allah. Tetapi Ia juga adalah terang yang menerangi seluruh diri manusia. Terang yang senantiasa menerangi jalan hidup manusia kepada Allah. “Terang itu telah datang di dunia,” meskipun terang itu ditolak oleh banyak orang.

Dari ketiga aspek yang kita temukan dalam bacaan Injil hari ini, aspek kasih menjadi kunci utama yang menjelaskan eksistensi Allah dan Putera-Nya Yesus Kristus. Kasih menjadi dasar bagi Allah sendiri untuk menunjukkan keprihatinan-Nya kepada keselamatan umat manusia. Sikap kasih itulah yang membuat Allah menganugerahkan Putera-Nya yang Tunggal untuk menyelamatkan manusia dari kedosaannya. Keselamatan sebagai inisiatif dari Allah itu begitu terbuka tetapi bersifat pilihan. Terserah manusia mau menerimanya atau tidak. Keselamatan itu bersifat tawaran. Tidak memaksa. Kalau mau selamat, manusia menerima tawaran keselamatan dari Allah. Kalau tidak mau selamat, tentu manusia berbuat sebaliknya yakni menolak kasih Allah dan terus berbuat dosa. Tetapi Allah adalah Mahakasih. Ia tetap menerima kedosaan manusia sambil memberi kesempatan bagi manusia untuk menyadari kedosaannya dan bertobat. Bahkan berulang-ulang kali manusia melukai hati-Nya, Allah tetap setia  menawarkan kasih-Nya kepada umat manusia.
            Percakapan Yesus dengan Nikodemus memang cuma semalam. Tetapi sungguh membawa makna mendalam buat pribadi Nikodemus. Ia diingatkan dan disadarkan oleh Yesus untuk menerima warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus sendiri. Ia tidak hanya mengakui Yesus sebagai guru dan utusan Allah tetapi lebih dari itu, ia harus sungguh percaya dan mengimani Yesus dalam kata-kata dan perbuatannya. Sebagai seorang tokoh agama Yahudi yang menempati posisi yang mapan dan sangat disegani oleh umat, Nikodemus sangat mungkin berpeluang untuk menyalahgunakan jabatan yang dimilikinya untuk menindas orang lain. Atau bisa juga ia berusaha mengeruk keuntungan pribadi. Oleh karena itu, Yesus menghendaki supaya Nikodemus meneladani spirit kasih yang telah diilhami oleh tindakan Allah sendiri dengan mengirim Yesus, Putra-Nya yang Tunggal ke tengah dunia. Dengan mengimani Yesus, Nikodemus telah secara bebas dan sadar menerima tawaran keselamatan dari Allah. Dan selanjutnya, ia akan mewartakan semangat kasih yang telah diterimanya kepada orang lain.

Tugas kita sebagai seorang murid Yesus di era ini juga harus senantiasa mewartakan semangat kasih yang telah kita terima secara cuma-cuma dari Yesus. Oleh sakramen pembaptisan, kita semua telah dilahirkan kembali untuk menerima tawaran keselamatan yang telah diberi oleh Allah melalui Yesus. Oleh karena itu, marilah kita membagikan semangat kasih itu kepada orang lain dengan tulus dan ikhlas. Dalam situasi terkini, di tengah badai covid-19, mungkin sungguh tepat apabila semangat kasih itu kita bagi dalam tindakan-tindakan konkrit yang membawa penghiburan, kekuatan, dan keselamatan bagi orang lain. Semoga. Tuhan memberkati.  ***Atanasius KD Labaona  ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar