(Yoh 3: 16 – 21)
Selama tiga hari berturut-turut (Senin-Rabu) penginjil Yohanes menyajikan
sebuah kisah yang menarik tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus. Teks
bacaan yang panjang tersebut dibagi dalam tiga edisi. Dan ditampilkan dalam
tiga hari berturut-turut. Bacaan Injil hari ini merupakan akhir dari dialog
antara Yesus dan Nikodemus. Setiap ungkapan Yesus bertujuan untuk meyakinkan
Nikodemus tentang siapa Allah dan juga siapa diri-Nya agar Nikodemus mau
membuka hati-Nya dan mengimani Yesus sebagai Putra Allah yang diutus untuk
menyelamatkan manusia.
Ada tiga hal penting di akhir dialog yang membuat Nikodemus menerima dan
mengimani pribadi Yesus. Pertama, kasih. Yesus menjelaskan Pribadi-Nya sebagai
penjelmaan Allah yang selalu mengasihi meskipun manusia berdosa. Kasih Allah
tidak penah surut ketika berhadapan dengan kelemahan dan kekurangan manusia.
Kedua, penghakiman. “Barangsiapa yang tidak percaya dia berada di bawah
hukuman.” Yesus memperhadapkan Nikodemus dengan paradox antara kasih dan
penghakiman. Allah adalah kasih. Hanya orang dalam situasi berhadapan dengan
Yesus dan tidak merasakan sesuatu yang indah dan bermakna, sesungguhnya ia
sudah terhakimi. Sikapnya tersebut telah menghakimi dirinya sendiri. Dalam arti
ketika ia berbuat salah dan merasa berdosa, kita berada dalam penghakiman atas
diri kita sendiri. Allah tidak menghakimi tetapi Allah tetap menerima
pertobatan kita. Ketiga, terang. Kepada Nikodemus, Yesus menjelaskan bahwa
diri-Nya bukan hanya sebagai utusan Allah, bukan pula hanya sebagai perwujudan cinta
Allah. Tetapi Ia juga adalah terang yang menerangi seluruh diri manusia. Terang
yang senantiasa menerangi jalan hidup manusia kepada Allah. “Terang itu telah
datang di dunia,” meskipun terang itu ditolak oleh banyak orang.
Dari ketiga aspek yang kita temukan dalam bacaan Injil hari ini, aspek
kasih menjadi kunci utama yang menjelaskan eksistensi Allah dan Putera-Nya
Yesus Kristus. Kasih menjadi dasar bagi Allah sendiri untuk menunjukkan
keprihatinan-Nya kepada keselamatan umat manusia. Sikap kasih itulah yang
membuat Allah menganugerahkan Putera-Nya yang Tunggal untuk menyelamatkan
manusia dari kedosaannya. Keselamatan sebagai inisiatif dari Allah itu begitu
terbuka tetapi bersifat pilihan. Terserah manusia mau menerimanya atau tidak.
Keselamatan itu bersifat tawaran. Tidak memaksa. Kalau mau selamat, manusia
menerima tawaran keselamatan dari Allah. Kalau tidak mau selamat, tentu manusia
berbuat sebaliknya yakni menolak kasih Allah dan terus berbuat dosa. Tetapi
Allah adalah Mahakasih. Ia tetap menerima kedosaan manusia sambil memberi
kesempatan bagi manusia untuk menyadari kedosaannya dan bertobat. Bahkan
berulang-ulang kali manusia melukai hati-Nya, Allah tetap setia menawarkan kasih-Nya kepada umat manusia.
Percakapan Yesus dengan
Nikodemus memang cuma semalam. Tetapi sungguh membawa makna mendalam buat
pribadi Nikodemus. Ia diingatkan dan disadarkan oleh Yesus untuk menerima warta
keselamatan yang dibawa oleh Yesus sendiri. Ia tidak hanya mengakui Yesus
sebagai guru dan utusan Allah tetapi lebih dari itu, ia harus sungguh percaya
dan mengimani Yesus dalam kata-kata dan perbuatannya. Sebagai seorang tokoh
agama Yahudi yang menempati posisi yang mapan dan sangat disegani oleh umat,
Nikodemus sangat mungkin berpeluang untuk menyalahgunakan jabatan yang
dimilikinya untuk menindas orang lain. Atau bisa juga ia berusaha mengeruk
keuntungan pribadi. Oleh karena itu, Yesus menghendaki supaya Nikodemus
meneladani spirit kasih yang telah diilhami oleh tindakan Allah sendiri dengan
mengirim Yesus, Putra-Nya yang Tunggal ke tengah dunia. Dengan mengimani Yesus,
Nikodemus telah secara bebas dan sadar menerima tawaran keselamatan dari Allah.
Dan selanjutnya, ia akan mewartakan semangat kasih yang telah diterimanya
kepada orang lain.
Tugas kita sebagai seorang murid Yesus di era ini juga harus senantiasa
mewartakan semangat kasih yang telah kita terima secara cuma-cuma dari Yesus.
Oleh sakramen pembaptisan, kita semua telah dilahirkan kembali untuk menerima
tawaran keselamatan yang telah diberi oleh Allah melalui Yesus. Oleh karena
itu, marilah kita membagikan semangat kasih itu kepada orang lain dengan tulus
dan ikhlas. Dalam situasi terkini, di tengah badai covid-19, mungkin sungguh
tepat apabila semangat kasih itu kita bagi dalam tindakan-tindakan konkrit yang
membawa penghiburan, kekuatan, dan keselamatan bagi orang lain. Semoga. Tuhan
memberkati. ***Atanasius KD Labaona ***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar