Minggu, 26 April 2020

PERCAYALAH KEPADANYA AGAR TIDAK DIHUKUM


Yoh 3 16-21
Epipodius adalah sebuah Santo pelindung para bujangan, korban pengkianatan, dan korban penyiksaan. Santo Epipodius bersama rekannya Alexander meninggal tahun 178  dan dihormati sebagai orang suci Keristen. Santo Epipodius adalah orang asli Lyon Prancis, sedangkan Alexander dikatakan sebagai orang Firigia, Yunani dan berprofesi sebagai Dokter. Keduanya meninggal akibat akibat kekejaman pemerintahan Marcus Aurelius.

Mereka pertama kali dikenalkan oleh St. Eucherius, sekitar tahun 440 dalam homilinya yang mengatakan Epipodius lahir di Lyon dan Alexander adalah orang Yunani, berasal dari Frigia. Mereka berdua adalha teman dekat sejak masa kecil mereka.  Epipodius dikatakan seorang bujang yang dikonfirmasi, yang mengabdikan waktunya untuk karya-karya Kristen. Semenjak masa penganiayaan di Lyon pada musim panas tahun 177,  Epipodius dan Alexander  yang telah di kecam sebagai orang Kristen meninggalkan kota dan tinggal di desa kecil terdekat. Mereka tinggal di sebuah rumah seorang janda Kristen miskin yang terletak di barat laut bukit Fourviere. Keduanya dikianati oleh otoritas kekaisaran oleh pelayan. Kemudian keduanya di penjarakan, disiksa, dan dihukum. Menurut Alban Butler, setelah mengalami penyiksaan di Rak,  Epipodius, yang lebih muda dari keduanya dipenggal. Alban Butler mengatakan bahwa Alexander, setelah mengalami pemukulan berkepanjangan dan brutal di dalam penjara dan disalibkan dan mati segera. Orang Kristen secara pribadi membawa mereka dan menguburkan mereka di sebuah bukit dekat kota. Tempat itu menjadi terkenal sesudahnya karena banyak mujizat, yang ditempa disana. Makam itu awalnya diluar tembok kota, tetapi kemudian tertutup didalamnya. Gregorius dari Tours mengatakan, bahwa pada abad ke enam, tubuh mereka, diletakkan di bawah tubuh St. Irenius, di Gereja St. John, yang sekarang disebut St. Irenius di bawah altar, tempat peninggalan kedua Martir suci ini ditemukan 1410. Epipodius dihormati sebagai Santo pelindung para bujangan, korban pengkianatan, dan korban penyiksaan          ( Wikipedia )

Injil hari ini berbicara dalam percakpan Nikodemus, Yesus mengingatkan akan hukum bagi orang yang tidak percaya kepada Bapa. Apakah bapak suka menghukum ? kan tidak. Hukum terbesar bagi orang tidak percaya ialah ia tidak berada didalam persekutuan dengan Bapa yang penuh cinta.  Ia menghukum dirinya sendiri dengan perbuatan-perbuatannya. Tak ada alasan yang lebih masuk akal daripada nubuat Yesaya “ Oleh karena engkau berharga dimataKu dan mulia dan aku ingin mengasihi engkau ( Yes 43 :4 ). Dengan mengemukakan alasan ini,  salib Kristus  memperoleh dimensi yang berbeda. Ia bukan tanda kehinaan melainkan kemuliaan, bukan pohon sumber dosa melainkan sumber keselamatan. Dosa dan kelalaian senantiasa melekat pada setiap manusia. Namun dosa tidak menyurutkan niat Bapa untuk mencintai. Hanya kita sering tidak menyadari hal ini dan menolak untuk berbalik dari dosa.  Siapapun yang berbuat jahat, dia membenci terang. Dia tidak datang kepada terang supaya perbuatan-perbuatan yang jahat itu tidak tampak. Dalam terang menjadi nyata,  bahwa perbuatan-perbuatan dilakukan dalam Allah. Dia percaya akan kasih Allah sehingga anaknya yang tunggal di karuniakan ke dunia. Kita diundang untuk percaya kepada Allah yang menjadi terang dan penyelamat dunia. Dengan demikian kita juga tidak berhak untuk mengambil bagian dalam persekutuan anak-anak Allah.

( Yoh 3 :16 – 21 ) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.   Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.  Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.  Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.  Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;  tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."   ***JK_Lejab***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar