Senin, 27 April 2020

KITA DIPILIH DARI DUNIA SEBAGAI MILIK KEPUNYAAN KRISTUS


Kis 7:51-8:1a & Yoh 6:30-35

Dunia dengan keduniaannya adalah realitas yang tetap tinggal apa adanya. Semua orang menghadapi realitas itu sebagai suatu fakta yang tak dapat dihindari. Yang membedakan orang yang satu dengan yang lain adalah sikapnya terhadap situasi dunia ini. Ada yang masuk ke dalam situasi itu dan tenggelam di dalamnya. Yang lain berusaha beradaptasi sehingga tidak tenggelam di dalamnya. Ada jarak, ada identitas yang jelas. Ada kesejatian yang dipertahankan.

Oleh karena sikap itulah maka Yesus membedakan antara orang-orang dari dunia ini dan orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Hidup orang-orang dari dunia ini ditentukan oleh dunia ini. Mereka hidup oleh hikmat dan kenikmatan dunia Sedemikian kuatnya mereka terpikat dan menyatu dengan dunia ini  sehingga hampir mustahil mereka melepaskan diri dari dunia ini. Yesus menggambarkan kenyataan ini dengan ungkapan: “dunia mengasihi kamu sebagai miliknya” (Yoh 15:19).

Tidak demikian halnya dengan orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Hidup mereka tidak ditentukan oleh dunia ini meskipun mereka berada, hidup dan berkarya di dunia ini. Mereka tahu bahwa dunia ini akan berlalu (bdk. Mat 24:35). Karena itu, mereka berorientasi kepada dunia lain yang melampaui dunia yang sementara dan fana ini.

Kategori yang terakhir ini lazimnya ditemukan dalam diri orang-orang yang hidupnya ditentukan oleh iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Mereka percaya kepada sabda Tuhan, bukan pada dunia. Mereka itulah murid-murid Yesus dan semua orang yang beriman kepada Yesus, yakni orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Yesus sendiri berkata: “Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh 15:19). Dan benar adanya bahwa dari zaman ke zaman orang-orang yang beriman kepada-Nya dibenci oleh orang-orang dari dunia ini.

St. Stefanus adalah salah satu dari deretan orang-orang yang hidupnya ditentukan oleh imannya. Ia tidak membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan dunia ini, baik hikmat dunia maupun kenikmatannya. Yesus adalah segala-galanya. Ia telah mengalami kebenaran sabda Yesus: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Ia menyatu dengan Yesus. Karena itu, semakin ia dipengaruhi semakin ia menunjukkan keteguhan imannya. Malahan ia menjadi semakin radikal beriman kepada Yesus. Sebagai tanggungannya ia menghadapi kematianya dengan rela. Ia mati sebagai seorang martir pertama di dalam sejarah Gereja.

Menarik dari kehidupan Stefanus adalah bahwa ketika orang-orang dari dunia ini membencinya sehabis-habisnya dan menghadapkannya pada hukuman mati toh dia tidak pernah menampakkan tanda-tanda untuk memberontak dan melawan. Sebaliknya yang dilakukannya adalah mendoakan orang-orang dari dunia ini. "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Itulah doa Stefanus sebelum meninggal. Ia mengulangi apa yang dilakukan Yesus, Guru dan Tuhannya, ketika tergantung di salib: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk 23:34). Sungguh mulia hati seorang Stefanus yang telah ditebus Yesus dan menjadi milik kepunyaan yang dicintai-Nya.

Sebagai murid-murid Kristus, semua orang Kristiani telah dipilih Yesus Kristus dari dunia ini dan mencintainya sebagai milik kepunyaan-Nya. Namun demikian orang-orang Kristiani tidak dipisahkan dari orang-orang dunia ini. Semua murid Yesus berada di tengah dunia ini, hidup dan berkarya di dunia ini. Ibarat ilalang dan gandum yang bertumbuh bersamaan dan berdampingan demikianlah semua murid Yesus berada di antara orang-orang dari dunia ini.

Yesus memilih kita dari dunia ini dan menempatkan kita di dunia ini untuk menunjukkan hidup kita sebagai murid-murid-Nya, murid-murid yang hidup oleh sabda yang keluar dari mulut-Nya. Identitas kita, oleh karena itu, menjadi suatu yang unik dan membedakan kita dengan yang lain. Identitas itu harus tetap ditunjukkan dan menjadi semakin terang dan jelas dalam pengalaman hidup yang nyata. Penolakan, kebencian, hujatan dan penghinaan, bahkan ancaman kematian pasti akan kita hadapi. Hanya keteguhanlah membuat kita tetap berdiri. Kita tetap menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah milik-Nya yang dicintai. Dan kita tidak berpaling dari Dia.

Mengikuti Stefanus dalam kesejatiannya, maka semakin kita dibenci semakin kita menyatu dengan Yesus; semakin kita radikal beriman kepada-Nya. Dalam kesatuan dan radikalitas iman itulah kita tergerak untuk melakukan sama seperti Stefanus kekasih-Nya. Itulah karakteristik  yang menandai identitas kita: mencintai meskipun ditolak dan mengampuni jika dibenci. Tampaknya kita menjadi orang-orang bodoh, akan tetapi “apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Kor 1:27).

Kecuali jika identitas yang menandai keunikan itu tidak kita pertahankan, maka hidup kita akan berubah dan berada sepenuhnya di bawah pengaruh orang-orang dari dunia ini. Dalam situasi ini, bukan mustahil bahwa hidup kita akan menjadi terhimpit dan tenggelam dalam situasi dunia.  Gandum menjadi sulit dibedakan lagi dari ilalang. Demikianlah ibaratnya jika identitas kita menjadi hilang karena kita membiarkan diri kita dipengaruhi oleh dunia dan orang-orang dari dunia ini.

Baiklah kita menyadari situasi kita bahwa kita tidak selalu berjalan di jalan yang mulus. Jatuh bangun acap kali menjadi bagian dari irama hidup kita. Yang terpenting adalah bahwa kita dapat menyadari situasi kita dan bisa menata kembali hidup kita. Dan kita mesti akui bahwa pengalaman jatuh adalah hal penting agar kita tidak menaruh harapan kita kepada hikmat dunia dan kenikmatannya, melainkan kepada Kristus Yesus yang memberikan hidup kekal kepada kita. Baiklah kita membuka hati kita untuk sabda kebenaran-Nya supaya kita pun boleh tetap berharap kepada Dia. Di dalam Dia kita akan memperoleh hidup kekal: tidak akan ada kelaparan dan kehausan lagi. ***Apol Wuwur***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar