Kis 7:51-8:1a & Yoh 6:30-35
Dunia dengan
keduniaannya adalah realitas yang tetap tinggal apa adanya. Semua orang
menghadapi realitas itu sebagai suatu fakta yang tak dapat dihindari. Yang
membedakan orang yang satu dengan yang lain adalah sikapnya terhadap situasi
dunia ini. Ada yang masuk ke dalam situasi itu dan tenggelam di dalamnya. Yang
lain berusaha beradaptasi sehingga tidak tenggelam di dalamnya. Ada jarak, ada identitas
yang jelas. Ada kesejatian yang dipertahankan.
Oleh karena sikap
itulah maka Yesus membedakan antara orang-orang dari dunia ini dan orang-orang yang
dipilih dari dunia ini. Hidup orang-orang dari dunia ini ditentukan oleh dunia
ini. Mereka hidup oleh hikmat dan kenikmatan dunia Sedemikian kuatnya mereka terpikat
dan menyatu dengan dunia ini sehingga
hampir mustahil mereka melepaskan diri dari dunia ini. Yesus menggambarkan
kenyataan ini dengan ungkapan: “dunia mengasihi kamu sebagai miliknya” (Yoh
15:19).
Tidak demikian
halnya dengan orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Hidup mereka tidak
ditentukan oleh dunia ini meskipun mereka berada, hidup dan berkarya di dunia
ini. Mereka tahu bahwa dunia ini akan berlalu (bdk. Mat 24:35). Karena itu, mereka
berorientasi kepada dunia lain yang melampaui dunia yang sementara dan fana
ini.
Kategori yang
terakhir ini lazimnya ditemukan dalam diri orang-orang yang hidupnya ditentukan
oleh iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Mereka percaya kepada sabda Tuhan,
bukan pada dunia. Mereka itulah murid-murid Yesus dan semua orang yang beriman
kepada Yesus, yakni orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Yesus sendiri berkata:
“Tetapi karena kamu bukan dari dunia,
melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu”
(Yoh 15:19). Dan benar adanya bahwa dari zaman ke zaman orang-orang yang
beriman kepada-Nya dibenci oleh orang-orang dari dunia ini.
St. Stefanus
adalah salah satu dari deretan orang-orang yang hidupnya ditentukan oleh
imannya. Ia tidak membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan dunia ini, baik
hikmat dunia maupun kenikmatannya. Yesus adalah segala-galanya. Ia telah
mengalami kebenaran sabda Yesus: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang
kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia
tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Ia menyatu dengan Yesus. Karena itu, semakin
ia dipengaruhi semakin ia menunjukkan keteguhan imannya. Malahan ia menjadi
semakin radikal beriman kepada Yesus. Sebagai tanggungannya ia menghadapi
kematianya dengan rela. Ia mati sebagai seorang martir pertama di dalam sejarah
Gereja.
Menarik dari
kehidupan Stefanus adalah bahwa ketika orang-orang dari dunia ini membencinya
sehabis-habisnya dan menghadapkannya pada hukuman mati toh dia tidak pernah
menampakkan tanda-tanda untuk memberontak dan melawan. Sebaliknya yang
dilakukannya adalah mendoakan orang-orang dari dunia ini. "Tuhan,
janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Itulah doa Stefanus sebelum
meninggal. Ia mengulangi apa yang dilakukan Yesus, Guru dan Tuhannya, ketika
tergantung di salib: "Ya
Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat"
(Luk 23:34). Sungguh mulia hati seorang Stefanus yang telah ditebus Yesus dan
menjadi milik kepunyaan yang dicintai-Nya.
Sebagai murid-murid Kristus, semua orang
Kristiani telah dipilih Yesus Kristus dari dunia ini dan mencintainya sebagai
milik kepunyaan-Nya. Namun demikian orang-orang Kristiani tidak dipisahkan dari
orang-orang dunia ini. Semua murid Yesus berada di tengah dunia ini, hidup dan
berkarya di dunia ini. Ibarat ilalang dan gandum yang bertumbuh bersamaan dan
berdampingan demikianlah semua murid Yesus berada di antara orang-orang dari
dunia ini.
Yesus memilih kita dari dunia ini dan
menempatkan kita di dunia ini untuk menunjukkan hidup kita sebagai
murid-murid-Nya, murid-murid yang hidup oleh sabda yang keluar dari mulut-Nya.
Identitas kita, oleh karena itu, menjadi suatu yang unik dan membedakan kita
dengan yang lain. Identitas itu harus tetap ditunjukkan dan menjadi semakin
terang dan jelas dalam pengalaman hidup yang nyata. Penolakan, kebencian,
hujatan dan penghinaan, bahkan ancaman kematian pasti akan kita hadapi. Hanya keteguhanlah
membuat kita tetap berdiri. Kita tetap menunjukkan kepada dunia bahwa kita
adalah milik-Nya yang dicintai. Dan kita tidak berpaling dari Dia.
Mengikuti Stefanus dalam kesejatiannya, maka semakin
kita dibenci semakin kita menyatu dengan Yesus; semakin kita radikal beriman
kepada-Nya. Dalam kesatuan dan radikalitas iman itulah kita tergerak untuk melakukan
sama seperti Stefanus kekasih-Nya. Itulah karakteristik yang menandai identitas kita: mencintai
meskipun ditolak dan mengampuni jika dibenci. Tampaknya kita menjadi
orang-orang bodoh, akan tetapi “apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk
memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih
Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Kor 1:27).
Kecuali jika identitas yang menandai keunikan
itu tidak kita pertahankan, maka hidup kita akan berubah dan berada sepenuhnya
di bawah pengaruh orang-orang dari dunia ini. Dalam situasi ini, bukan mustahil
bahwa hidup kita akan menjadi terhimpit dan tenggelam dalam situasi dunia. Gandum menjadi sulit dibedakan lagi dari
ilalang. Demikianlah ibaratnya jika identitas kita menjadi hilang karena kita
membiarkan diri kita dipengaruhi oleh dunia dan orang-orang dari dunia ini.
Baiklah kita menyadari situasi kita bahwa kita
tidak selalu berjalan di jalan yang mulus. Jatuh bangun acap kali menjadi
bagian dari irama hidup kita. Yang terpenting adalah bahwa kita dapat menyadari
situasi kita dan bisa menata kembali hidup kita. Dan kita mesti akui bahwa
pengalaman jatuh adalah hal penting agar kita tidak menaruh harapan kita kepada
hikmat dunia dan kenikmatannya, melainkan kepada Kristus Yesus yang memberikan
hidup kekal kepada kita. Baiklah kita membuka hati kita untuk sabda
kebenaran-Nya supaya kita pun boleh tetap berharap kepada Dia. Di dalam Dia kita
akan memperoleh hidup kekal: tidak akan ada kelaparan dan kehausan lagi. ***Apol
Wuwur***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar