Senin, 28 Desember 2020

KESETIAAN SIMEON MENANTI SANG MESIAS

Luk 2:22-35

Semua orang Kristiani memiliki pengharapan besar akan keselamatan kekal. Visi keselamatan itu mendorong semua orang untuk mengarahkan hidupnya kepada Allah dengan setia melakukan seluruh kehendak-Nya. Untuk mewujudkan kehendak Allah di dunia dibutuhkan keteguhan iman dan iman itu hendaknya menyata dalam sikap hidup penuh pengharapan. Simeon adalah teladan sempurna bagi kita orang kristen yang setia menanti kedatangan Mesias penghibur bagi Israel (dunia).

Injil hari ini memperlihatkan sosok Simeon sebagai salah satu dari sedikit orang beriman yang sederhana, tulus, saleh, setia dan jujur yang menantikan kedatangan Mesias penuh iman. Kesetiaan dan keteguhan hati Simeon membuat ia sanggup mengetahui siapa Yesus yang dihantar kedua orang tua-Nya untuk dipersembahkan di Kenisah Yerusalem, sebagaimana perintah Taurat Musa. Simeon mendapatkan karunia ini bukan karena ia pribadi yang istimewa dan memiliki kepandaian khusus, namun ia istimewa dihadapan Tuhan karena ia pribadi yang sederhana, jujur, tulus, setia dan saleh dalam menantikan Sang Mesias tanpa memiliki intensi apa pun bagi dirinya. Berkat karunia Roh Kudus, maka Roh Kudus itu pula yang menggerakan hati Simeon untuk datang ke Bait Allah melihat dan bertemu dengan Sang Mesias  sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah. Hukum Taurat mengharuskan: “Semua anak laki-laki sulung harus dibawa ke Yerusalem untuk ditahirkan dan dipersembahkan kepada Allah”. Yusuf dan Maria adalah orang tua yang memiliki ketaatan tinggi dalam beragama maka mereka menghantar kanak-kanak Yesus ke Yerusalem untuk dikuduskan bagi Allah. Ia disunat dan diberi nama Yesus sesuai dengan nama yang ditetapkan oleh malaikat Tuhan pada usia delapan hari. Yusuf dan Maria menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai orang tua yang baik dan saleh di hadapan Tuhan (21-24). Tanggung jawab ini mengungkapkan makna iman serta kepatuhan orang tua atas apa yang telah difirmankan dan ditetapkan Tuhan.

Sosok yang menyambut dan menerima Yesus bukanlah orang kaya atau berkuasa. Allah justru memanggil mereka yang miskin dan tidak memiliki kekuasaan duniawi tetapi total memasrahkan hidup mereka sepenuhnya pada belas kasih dan kemurahan hati Allah. Berkat dorongan Roh Kudus dan ketaatan Simeon, ia mampu melihat Sang Mesias sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah. Kegembiraan dan sukacita besar yang disaksikan langsung oleh Simeon membuatnya sujud memuji Allah katanya: “Sekarang Tuhan, biarkanlah hambamu ini pergi dalam damai sejahtera sesuai dengan firmanMu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari padaMu, yang telah Engkau sediakan di hadapan segala bangsa, yaitu terang yang menjadi pernyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umatMu Israel.” Terang benderang di sini bahwa Simeon  adalah tipe hamba yang setia pada tuannya. Ia senantiasa berjaga-jaga sehingga ketika tuannya datang ia ditemukan siap siaga. Ia ibarat hamba yang setia yang patut menerima penghargaan dari tuannya. Simeon dihargai oleh Tuhan dan diberi kesempatan melihat Sang Mesias sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah. Rahmat yang mengalir dalam dirinya mampu menghapus segala kepedihan dan kegalauan yang dialami pada masa lalu. Inilah mahkota terbesar bagi kesetiaan seorang hamba Allah yang tidak pernah menyibukan diri mencari kenikmatan duniawi.  Ia sungguh sederhana dan rendah hati yang mengenal dan menyambut kedatangan Yesus di Bait Allah dengan penuh sukacita.

Simeon yang dipenuhi kuasa Roh Kudus memberkati keluarga kudus Nazaret sambil berkata kepada Bunda Maria: “Sesungguhnya Anak ini ditentukan untuk menjatuhkan atau membangkitkan banyak orang di Israel dan untuk menjadi suatu tanda yang menimbulkan perbantahan dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang” (Luk 2:34-35). Ini adalah kata-kata yang tidak hanya membawa sukacita tetapi sekaligus duka cita bagi Maria, namun ia menyimpan segala perkara di dalam hatinya. Yesus Kristus diutus Allah ke dunia untuk menyelamatkan manusia berdosa dan menghantar mereka kembali ke jalan keselamatan Allah.           

Mempersembahkan anak-anak kita kepada Tuhan, berarti sekaligus kita mengakui bahwa Tuhan itu pemilik kehidupan, Ia memiliki kemampuan supra natural untuk mengubah dunia. Yesus dipersembahkan di Kenisah menyadarkan kita semua akan anugerah kehidupan yang lebih besar lagi, yakni panggilan kita menjadi orang Kristen yang sejati dengan tetap setia melaksanakan tugas dan pekerjaan harian kita secara baik dan bertanggungjawab, itulah persembahan kita sebagai murid Kristus yang setia kepadaNya.

Hari ini kita semua diundang untuk membuka mata dan melihat keselamatan dalam diri Yesus Kristus yang sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh manusia. Kita belajar dari kesetiaan dan ketaatan keluarga kudus yang mempersembahkan kanak-kanak Yesus kepada Allah di bait Suci Yerusalem. Kita mendoakan keluarga-keluarga kristen zaman ini supaya mempersembahkan anak-anak mereka kepada Tuhan untuk dibimbing dan diubah ke jalan keselamatan. Iman anak-anak harus diteguhkan agar mereka tidak mudah dipengaruhi oleh arus jaman dan tangguh menghadapi salib hidup mereka sendiri. Militansi iman Maria menjadi teladan bagi anak-anak kita agar mereka dapat belajar menderita seperti Maria yang memiliki duka tertentu karena mengasihi Yesus Putranya.

Sabda Tuhan hari ini menginspirasi dan mendorong kita untuk mempersembahkan anak-anak kita kepada Tuhan dan belajar dari ketaatan keluarga Nazaret yang mempersembahkan kanak-kanak Yesus kepada Tuhan. Kita belajar banyak hal tentang kebajikan-kebajikan hidup kristiani yang secara konsisten dipraktekkan oleh Simeon yang membaktikan hidupnya secara total di Bait Suci Allah. Tokoh-tokoh ini menjadi contoh hidup yang memiliki komitmen besar dalam pelayanan. Karena itu, kita harus sungguh-sungguh mempersembahkan diri untuk mengabdi dan melayani Tuhan dan sesama tanpa membuat kalkulasi ekonomis dibaliknya. Kita harus membuka mata rohani dan jasmani untuk melihat keselamatan yang datang dari Allah. Kita juga diundang untuk senantiasa mempersembahkan diri, keluarga dan seluruh karya pengabdian kita kepada Allah untuk dikuduskan. Belajar dari Simeon, kita terinspirasi untuk memiliki keinginan besar dan komitmen yang kuat untuk mendedikasikan diri bagi kemajuan gereja sambil tetap berusaha untuk berjumpa, menyambut dan mengakui Yesus Sang Mesias sebagai pemenuhan janji keselamatan Allah. Semoga. ***Bernard Wadan***

Jumat, 18 Desember 2020

Membuka Diri Bagi Persepktif Allah

Mat  1:18-24

Manusia memiliki kemampuan untuk membuat pertimbangan atas sesuatu dan atas pertimbangan itu ia menentukan apa yang mesti dilakukan. Pertimbangan itu bisa terjadi di bawah kendali kekuatan intelektual dan murni bersifat manusiawi ataupun berada di bawah kendali kekuatan spiritual yang dimungkinkan oleh karena iman dan karena itu mampu melangkaui yang manusiawi untuk menangkap pesan-pesan pada wilayah non-intelektual.

 

Pertimbangan Yosef untuk meninggalkan Maria secara diam-diam oleh karena ia mengetahui bahwa calon istrinya itu sudah mengandung sebelum mereka hidup bersama adalah pertimbangan yang murni bersifat manusiawi. Yusuf tidak mau membebankan hidup Maria dan anak yang akan dilahirkannya dan menghindarinya dari konsekuensi hukum yang terjadi bila ia menceraikan Maria menurut hukum Yahudi yang berlaku.

 

Walaupun dikatakan bahwa Yusuf itu seorang yang beriman dan taat kepada Allah, namun berkenaan dengan masalah yang sedang dihadapinya ia lebih mengandalkan pertimbangan manusiawinya. Ia mau menyelesaikan masalah itu dengan pertimbangan manusiawinya sebijaksana mungkin. Setiap orang yang berpikir normal akan menerima pertimbangan dan keputusan yang diambil oleh Yusuf.

 

Ketika iman Yusuf dibangkitkan melalui mimpi di mana ia diminta Tuhan untuk menerima Maria sebagai istrinya karena ia mengandung dari Roh Kudus maka Yusuf menanggalkan pertimbangan manusiawinya dan keputusan yang telah ditentukannya. Ia mengalah pada kehendak Allah yang terjadi dan itu dibuktikan seperti yang digambarkan Matius: “Sesudah bangun dari tidurnya, Yusuf berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya. Ia mengambil Maria sebagai isterinya” (Mat 1:24).

 

Matius menampilkan kisah Yusuf ini untuk memberikan pesan kepada semua orang beriman bahwa sebijaksananya pertimbangan manusiawi tidaklah lebih baik dan bernilai daripada pertimbangan dan keputusan yang diambil oleh karena kekuatan iman. Iman membuat cakrawala berpikir kita lebih luas dan dalam, mengerti dengan baik pesan-pesan Tuhan di balik masalah-masalah yang kita hadapi dan karena itu mampu menentukan pilihan yang tepat meskipun itu tampak muskil dalam cara pandang manusiawi.

 

Kalau kita memerhatikan pengalaman hidup kita, maka sebenarnya apa yang dialami oleh Yusuf ini juga terjadi di dalam kehidupan kita. Acapkali kita menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini, kita lebih mengandalkan pertimbangan manusiawi kita, bahkan mengikuti emosi yang lagi bergolak dan kita berpikir bahwa itulah yang terbaik. Namun ternyata kemudian kita sesali; apa yang kita tentukan atas pertimbangan itu malah mendatangkan masalah yang menambah masalah yang sudah ada.

 

Warta Injil mengajari kita untuk tidak saja mengandalkan kemampuan manusiawi kita dalam memertimbangkan segala sesuatu yang kita hadapi, namun lebih mengandalkan Tuhan. Otonomi kita tidak akan pernah diganggu oleh Tuhan, namun iman membebaskan keterkungkungan kita dalam keterbatasan kita dan membuka diri untuk perspektif ilahi yang menyelamatkan dan membahagiakan.

 

Bagi Yusuf seperti yang ditampilkan Matius, perspektif ilahi hadir dalam mimpi. Kita pun mengalami perspektif itu dalam cara yang beragam entah melalui inspirasi yang kita peroleh ketika kita membuka diri kita bagi Tuhan dalam refleksi maupun kegiatan-kegiatan rohani, melalui pengalaman hidup yang menyentuh maupun juga melalui orang lain yang memberikan pencerahan dan membangkitkan harapan dalam diri kita.

 

Tuhan tidak pernah meninggalkan kita menggumuli persoalan kita sendiri dan membiarkan kita mengalami kesulitan yang berkepanjangan. Ia turut terlibat dan membuat kita terbuka untuk keluar dari segala persoalan yang kita hadapi. Hanya satu hal yang perlu kita lakukan, yaitu membuka diri bagi Dia, mendengarkan apa yang dikatakan-Nya dan mengikuti Dia dalam menentukan apa yang patut kita lakukan dalam hidup kita. ***Apol***

 

Senin, 14 Desember 2020

Penyesalan Berbuah Keselamatan

Mat 21:28-32

Yesus mengemukakan perumpamaan dua orang anak yang diminta oleh ayah mereka untuk bekerja di kebun anggur. Mula-mula ia pergi kepada anak sulungnya. Sang ayah mendapatkan tanggapan positif, namun ternyata anak sulung itu tidak pergi. Pergilah juga ia kepada anak kedua. Atas permintaannya, anak kedua menyatakan tidak mau pergi, namun kemudian anak itu menyesal lalu pergi juga.

 

Melalui perumpamaan itu, Yesus menyatakan kepada para pendengar-Nya, termasuk juga para pejabat Sanhedrin yang memersoalkan kuasa-Nya (Mat 21:23), bahwa apa yang dilukiskan dengan kisah kedua anak itu adalah berkenaan dengan hal ikhwal tanggapan yang berbeda, yaitu dari golongan orang yang tersisih secara sosial dan religius dan golongan para pemimpin mereka, terhadap pewartaan kebenaran Yohanes yang merupakan suatu persiapan terpenting bagi pelayanan dan pewartaan Yesus.

 

Yesus menyebut orang-orang tersisih, yaitu mereka yang berdosa, namun tanggap terhadap kebenaran yang diwartakan Yohanes. Mereka adalah para pemungut cukai dan para perempuan sundal yang ditampilkan Yesus dalam gambaran anak yang mula-mula menyatakan tidak mau, namun kemudian menyesal dan pergi juga.

 

Inilah gambaran nyata bahwa golongan tersisih itu tidak hanya menyesal, melainkan juga melaksanakan atau mengikuti jalan kebenaran yang diwartakan  Yohanes. Ada kesadaran diri sebagai pendosa berhadapan dengan kebenaran yang dinyatakan. Bukan hanya itu, mereka bertobat dan berbalik kepada kebenaran itu.

 

Dengan menerima jalan kebenaran Yohanes, golongan yang tersisih itu siap untuk Kerajaan Allah mesianik yang dinyatakan Yesus. Banyak dari antara orang tersisih itu datang kepada Yesus, makan bersama Dia dan mengikuti Yesus, bahkan menjadi murid-Nya seperti Matius (Mat  9:9-10).

 

Sedangkan anak pertama yang bersedia namun tidak pergi menggambarkan jiwa para pemimpin agama Yahudi, para pejabat Sanhedrin, ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Mereka adalah kaum yang memiliki otoritas yang diterima melalui Musa untuk mengajar kebenaran HukumTaurat, namun menutup jalan kebenaran yang diwartakan Yahanes sebagai persiapan akhir bagi kepenuhan kebenaran dalam diri Yesus.

 

Kalaupun Yesus menggambarkan persetujuan mereka seperti yang nampak pada jawaban anak sulung, maka itu tidak lebih dari persetujuan yang tidak sepenuh hati dan bersifat sementara (Yoh 5:35), bahkan terbilang angkuh, dan karena itu tidak mengikuti jalan kebenarannya, yaitu bertobat dan memberi diri dibaptis (Luk 7:30). Yesus katakan, sekalipun mereka melihatnya, namun tidak menyesal dan mengikutinya (Mat 21:32). Dengan demikian mereka juga tidak siap bagi Kerajaan Allah mesianik.

 

Bagi kita gambaran seperti ini juga mengungkapkan kenyataan aktual yang terjadi dalam hidup kita di zaman ini. Kita berbeda dengan para pemimpin agama Yahudi dalam hal kesediaan untuk mengikuti jalan kebenaran yang dinyatakan oleh Yesus sendiri, namun tidak jarang kita menolak untuk mengikuti-Nya dengan sungguh-sungguh ketika kita masuk dalam kehidupan yang nyata. Dan dalam hal ini kita sama. Mungkin lebih buruk bagi kita daripada para pemimpin itu karena mereka menolak masuk ke dalam Kerajaan Allah mesianik, sedangkan kita sudah masuk ke dalamnya, namun keluar kembali setidak-tidaknya dalam cara penghayatan hidup kristiani kita. 

 

Warta hari ini menyadarkan kita bahwa de fancto kita lebih cenderung lari keluar dari Kerajaan Allah mesianik seperti domba yang tersesat karena mau mengikuti jalannya sendiri. Namun bersamaan dengan itu, warta ini pun menjadi suatu panggilan bagi kita untuk menyesali perbuatan atau cara hidup kita yang berlawanan tuntutan kebenaran terhadap kita.

Kita membangun pertobatan seperti yang dilakukan anak kedua. Kita menunjukkan bahwa kita adalah orang berdosa yang mau bertobat.

 

Bertepatan dengan persiapan kita menyambut kelahiran Tuhan kita Yesus Kristus, baiklah kita menunjukkan kesungguhan hati kita untuk berbalik kepada jalan kebenaran. Yakinlah bahwa penyesalan dan pertobatan yang kita lakukan pada waktunya pasti mendatangkan rahmat yang menyelamatkan. Rahmat Tuhan tidak sia-sia bagi kita yang menanggapinya secara positif. ***Apol***

Kamis, 10 Desember 2020

Siapa Bertelinga Hendaklah Ia Mendengar

Mat 11:11-15

Yohanes Pembaptis, utusan Allah yang memersiapkan jalan bagi Tuhan (lih Mal 3:1; Mat 11:20), adalah seorang nabi, dan menurut Yesus, adalah seorang nabi yang besar (Mat 11:11). Yesus malah menyebutnya sebagai Elia (Mat 11:14), seorang yang diutus Allah dari surga sebelum hari kedatangan Tuhan yang besar dan dasyat (Mal 4:5), untuk memertegas kenyataan kebesaran Yohanes. Ia menandai akhir dan puncak dari suatu persiapan panjang bagi perwujudan Kerajaan Allah.

 

Seruan dan pengajaran Yohanes berkenaan langsung dengan datangnya kerajaan yang segera akan terwujud. Menerima seruan dan pengajarannya berarti membuka hati dan memersiapkan diri bagi kehadiran kerajaan Allah. Apa yang diajarkan itu didengarkan. Seperti disaksikan Kitab Suci, meskipun sekejap tampil di depan publik, Yohanes memiliki sejumlah pengikut yang sangat mengkhawatirkan Herodes Antipas.  

 

Meskipun Yohanes itu seorang nabi besar, namun kebesaran tidak serta merta dihormati oleh semua kalangan dalam bangsa Yahudi. Kata-kata Yesus, ” Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar” (Mat 11:15) sebenarnya menunjukkan konteks bahwa kebenaran yang diwartakan Yohanes, dan yang kemudian diulangi-Nya,  ternyata tidak dapat didengarkan dan diterima oleh semua orang. Ada yang tidak menerimanya dan dengan begitu menentangnya, malah menyerongkannya (Mat 11:12).

 

Anehnya bahwa yang menentang dan menyerongkan Kerajaan Allah itu bukanlah orang-orang kecil dan sederhana yang serba terbatas dalam pemahaman dan pengetahuan, melainkan mereka yang berpendidikan dan sangat diandalkan dalam pemahaman tentang Kerajaan Allah. Kepada mereka diserahi tanggung jawab dalam hal mengajar dan membimbing umat, namun mereka itulah yang menentangnya. Mereka adalah para pemimpin umat, para ahli kitab, orang-orang Farisi yang terkemukan dalam masyarakat.

 

Bagi kita, Yesus menyatakan tentang penolakan terhadap kebenaran yang diwartakan oleh Yohanes dan juga oleh-Nya dihadapan orang banyak dan di hadapan para murid-Nya untuk menyatakan betapa pentingnya memiliki telinga untuk mendengarkan dan memahami kebenaran yang Tuhan nyatakan dalam hidup ini. Apapun kebenaran itu selalu mengandaikan telinga yang mau mendengarkan. Tanpa itu kebenaran tidak dapat diterima.

 

Jika kita menyelisiki hidup dan pengalaman kita, acapkali apa yang ditolak sebenarnya adalah kebenaran yang pura-pura tidak kita diakui karena mungkin kebenaran itu datang dalam suatu cara yang tidak kita kehendaki. Mungkin pula karena keangkuhan intelektual dan spiritual yang didukung oleh jabatan-jabatan yang kita miliki sehingga apapun kebenaran itu kita malah memandangnya lain. Kita menjadi buta terhadap kebenaran karena kita terlampau mengagungkan diri kita sendiri. Kita merasa diri sebagai pusat kebenaran.

 

Dalam konteks kepemimpinan, tidak jarang orang mengidentikkan kebenaran dengan otoritas yang dimiliknya. Saya pemimpin, maka apa yang saya katakan itu benar. Demikianlah yang sering terjadi. Dan inilah salah satu wujud keangkuhan yang menutupi jalan bagi seseorang untuk menerima apapun kebenaran yang berasal dari luar dirinya. Kepada anak-anak orang tua acapkali katakan, “kamu tahu apa”, demikian pula kata-kata ini ditujukan kepada istri oleh suaminya atau kepada bawahan oleh atasannya.

 

Bertepatan dengan persiapan diri kita menyambut kedatangan Sang Juruselamat, Tuhan kita Yesus Kristus,  kita diajak oleh Tuhan mendengarkan setiap kebenaran yang dinyatakan kepada kita, apapun cara dan bentuknya. Yesus katakan dengan jelas kepada kita, hendaknya kita memiliki telingan untuk mendengar.

 

Agar kita bisa mendengarkan, kita perlu memiliki kerendahan hati. Yohanes menjadi besar karena kerendahan hatinya. Demikianlah kita harus menjadi rendah hati untuk bisa mendengar setiap kebenaran. Oleh karena dosa telah menulikan telinga kita maka mutlak perlu pertobatan. Kita bertobat dari sikap sombong dan angkuh, merasa diri adalah pusat kebenaran lalu membuka diri bagi Tuhan yang adalah sumber kebenaran kita.

 

Jika kita terbuka hati untuk mendengarkan Tuhan, maka Dia sendirilah yang membuka telinga kita untuk semakin peka terhadap kebenaran yang datang kepada kita. Pastikan bahwa kita bertelinga untuk mendengar  setiap kebenaran yang mendatangi kita. ***Apol

Senin, 07 Desember 2020

MENELADANI IMAN MARIA

Luk 1:26-38

            Sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan yang jelas dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalami aib semacam itu akan dirahasiakan. Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial: dikucilkan, menjadi buah bibir orang dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Maria hidup, hukumannya sadis yakni dirajam dengan batu karena dianggap berzina. Setiap hari kita juga diperhadapkan pada ujian yang menuntut keteguhan iman kepada Allah, kehormatan dan kehidupan kita dipertaruhkan. Tak sedikit orang beriman zaman ini yang ketika mengalami cobaan dan ujian, imannya rapuh dan meragukan keterlibatan Tuhan dalam hidupnya. Mereka takut direndahkan, takut kehilangan pekerjaan dan jabatan, takut dihukum, dan lain-lain. Karena itu, kita digugah untuk belajar dari kesetiaan iman Maria. Ia dengan keteguhan hati memilih taat kepada Allah walaupun terbayang risiko hukuman rajam yang harus diterimanya, walaupun gentar ia memilih taat pada kehendak Allah. Sebagai murid-murid Kristus, kita diajak untuk selalu menghidupi spirit iman Maria dalam perjalanan ziarah hidup kita.

             Hari ini Gereja Katolik sedunia merayakan hari raya Santa Perawan Maria dikandung tanpa noda dosa yang jatuh pada tanggal 8 Desember. Pesta kelahiran Santa Perawan Maria ini sesungguhnya menunjukkan betapa Gereja mengasihi dan menghormati Bunda Maria sebagai wanita yang punya peranan besar di dalam karya keselamatan umat manusia. Dalam Bula “Ineffabilis Deus” (sebuah bula kepausab dari Paus Pius IX), dogma ini menetapkan secara ex chatedra (merujuk pada ajaran Paus) bahwa “Santa Perawan Maria, sejak dikandung ibunya, tidak ternoda oleh dosa asal berkat rahmat dan karunia yang istimewa dari Allah. Gereja percaya bahwa Allah menyiapkan suatu wadah yang pantas, yang khusus dan tak bercelah. Suatu tempat yang layak bagi kediaman PutraNya dan Allah memilih Maria untuk menjadi wadah tersebut, sehingga sejak dikandung, Maria tidak terjangkit dosa asal.

            Gereja mengajarkan bahwa setelah kejatuhan manusia, Allah menjanjikan seorang penebus bagi umat manusia dan penebus itu ialah Yesus Kristus sendiri. Untuk maksud luhur itu, Allah membutuhkan kerjasama yang baik dengan manusia, Allah membutuhkan seorang perempuan untuk mengandung dan melahirkan AnakNya. Kebenaran iman ini dikatakan Santo Paulus dalam suratnya kepada Galatia: “…Setelah genap waktunya, maka Allah mengutus AnakNya, yang lahir dari seorang perempuan…” (Gal 4:4).

            Maria telah ditentukan Allah sejak kekal untuk mengandung dan melahirkan Yesus Sang Penebus karena kesalehan dan kerendahan hatinya yang total kepada Allah. Kesederhanaan hidup dan ketaatan iman orang tuanya menyukakan hati Allah, untuk itu ia suci sejak lahirnya dan tanpa dosa asal. Dalam konteks pengakuan iman inilah, Gereja merasa perlu menentukan suatu hari khusus (yaitu: setiap tanggal 8 September) untuk merayakan peristiwa kelahiran Maria. Dasar pertimbangannya bahwa sebagai manusia, Maria tentu pernah lahir pada waktu dan tempat tertentu, dari orangtua dan suku tertentu. Injil sendiri tidak mengatakan secara jelas bahwa Maria juga adalah keturunan Daud, sebagaimana Yusuf suaminya. Yang penting bagi kita bukanlah ketepatan hari kelahiran itu, tetapi ungkapan iman Gereja akan Maria sebagai perempuan yang dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan AnakNya. Injil hari ini mewartakan kepada kita kisah tentang berbaliknya sejarah dunia. Dari dunia yang penuh dosa menjadi tertebus, dari dunia yang gelap dan kelam menjadi terang dan penuh kemuliaan Allah. Titik balik sejarah dunia ini dimulai dari Nazaret, kota yang tersembunyi, kepada seorang perawan yang sedang bertunangan yaitu Maria. Ia hanyalah seorang gadis sederhana dan bersahaja namun dipenuhi rahmat berlimpah dari Allah. Segala kemurahan hati Allah dianugerahkan kepada Maria melalui  Roh Kudus dan kuasa Allah menaunginya supaya ia menjadi seorang ibu dari Anak Allah. 

            Maria terkejut mendengar berita yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel sambil ia bertanya: Bagaimana hal itu bisa terjadi karena aku belum menikah? Walaupun Malaikat menjelaskan asal usul anak yang dikandungnya, Maria tetap ragu karena ia tahu konsekuensinya jika ia sungguh mengandung. Ia akan dirajam hingga mati karena mengandung tanpa suami yang jelas. Meskipun resikonya cukup berat, namun setelah dijelaskan bahwa Roh Kudus dan kuasa Allah yang akan menjadikan Anak itu, Maria dalam lompatan iman yang besar berkata "YA". Ia menyediakan dirinya untuk menjadi ibu Yesus. Maria di dalam iman dan kepasrahan, menerima apa yg diminta oleh Malaikat itu untuk dilaksanakannya. “Aku ini hamba Tuhan, terjadilah padaku menurut perkataanmu”. Jawaban “Ya” dari Maria, membuka lembaran baru dalam sejarah keselamatan. Dunia diperbarui dan penebusan terjadi. Mulai saat itu misteri inkarnasi terjadi, Sabda menjadi daging dan tinggal di antara manusia. Ia sama dengan kita kecuali dalam hal dosa. Sejarah mengalami titik balik dimana dunia diselamatkan oleh Sang Penebus yang datang di tengah-tengah kita. 

            Keterbatasan Maria mengetahui rencana Allah dalam dirinya sungguh manusiawi. Ia merasa aneh untuk menerima rencana agung Allah yang disampaikan Malaikat Gabriel kepadanya. Ia menilai dirinya secara jujur dan dengan jujur pula menyampaikan bahwa ia belum bersuami, artinya pengetahuan dan pemahamannya masih sangat dipengaruhi oleh ajaran agamanya, dimana pembuahan harus disempurnakan lewat ratum et consummatum (adanya hubungan yang sah antara suami-istri). Terlepas dari semua keterbatasan Maria sebagai manusia, ada satu hal dari sekian banyak hal positip dalam diri Maria adalah keteguhan imannya akan Allah. Kerendahan hati dan kesahajaanya membuat ia menyerahkan dirinya secara total pada Kehendak Allah dan membiarkan Allah mewujudkan rencana keselamatan-Nya bagi manusia.

            Seperti Maria melahirkan Kristus, kita juga dipanggil untuk melahirkan Kristus dalam kehidupan kita agar dunia diselamatkan-Nya. Untuk itu kita harus berani berkata YA tanpa syarat, memperjuangkan kebenaran dan keadilan secara merata, tidak kompromistis dengan penguasa yang korup dan lalim. Semua itu dapat kita lakukan bila kita beriman teguh pada Allah dan menyandarkan diri hanya kepada-Nya. Maka bagi kita yang sering malas, tidak mau terlibat, hanya tukang komentar, inilah saatnya untuk membaharui janji dengan bantuan dan teladan Maria. Maria tidak pernah merasa diri sebagai pribadi yang hanya menuruti perintah dan rencana Allah saja tapi selalu bersedia menjawab YA apa pun resikonya. Kesediaanya itulah yang  membuat dunia tidak akan pernah selalu sama. Dunia akan diperbaharui oleh orang-orang yang selalu bersedia untuk berbuat baik. Pertanyaan reflektif sederhana namun menantang bagi kita semua: Bersediakah kita berbuat baik seperti Maria? Apa pun keadaan kita jika kita berani berkata “Ya”, Tuhan akan melakukan hal-hal baru dalam diri kita. Maka kita pun hendaknya berani seperti Maria, berkata “Ya” pada setiap rencana dan kehendakNya. ***Bernard Wadan***

Rabu, 02 Desember 2020

Konsekuensi Dari Pewartaan Injil

Mrk 16:15-20

 

Pasca kebangkitan dan penampakan diri-Nya, Yesus benar-benar berbicara dengan mulut-Nya sendiri dan memberikan perintah kepada para murid-Nya untuk pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil kepada segala makhluk. Ia Tidak memberi perintah itu melalui perantara. Tidak melalui Petrus, tidak juga melalui Yohanes atau siapapun.

 

Ada dua kemungkin yang bakal dialami dalam tugas pewartaan Injil. Ada yang menolak untuk percaya, tetapi ada pula yang percaya. Jauh sebelum Yesus, para nabi yang mewartakan firman Allah juga menghadapi dua kemungkinan itu, termasuk Yohanes Pembaptis sebagai nabi transisi. Ia mewartakan pertobatan dan pembaptisan, namun tidak semua orang mendengarkan seruannya dan memberi diri dibaptis.

 

Yesus mengulangi kembali dua kemungkinan itu ketika Ia memberikan perintah kepada para murid-Nya. Siapa yang percaya dan memberi diri dibaptis akan diselamatkan, tetapi siapa yang tidak percaya akan dihukum.

 

Yang percaya dan memberi diri dibaptis sudah mengisyaratkan pertobatan yang menyertai pemberitaan Injil dan itulah garansi keselamatan. Yang tidak percaya dengan sendirinya menolak pertobatan yang mestinya terjadi dan itulah sumber hukuman.

 

Yesus menyadari bahwa penolakan terhadap warta Injil bakal dialami para murid-Nya. Bahkan penolakan itu disertai dengan berbagai penderitaan lahir dan batin. Karena itu, Ia memberikan penguatan dan jaminan bahwa Ia sendiri akan menyertai mereka dan meneguhkan pemberitaan firman dengan tanda-tanda. Mereka tidak bekerja sendirian.

 

Inilah sumber kekuatan yang menyuplai semangat karya pewartaan mereka. Mereka tanpil sebagai orang-orang yang penuh dengan keyakinan dan bangga, yang melakukan pewartaan pada waktu yang baik maupun tidak baik, dan selalu berdaya upaya agar firman yang disampaikan itu tidak menjadi hambar, melainkan hidup dan memengaruhi.

 

Memerhatikan pengalaman hidup para murid Yesus segera menjadi nyata bahwa penolakan memberi warna tersendiri dalam karya pewartaan Injil. Kisah Para Rasul dan Surat-Surat Paulus menggambarkan dengan jelas bagaimana para bentara Sabda Allah itu mengalami penolakan dan menderita lahir batin karena tugas pewartaan itu. Mereka ditangkap, disiksa, dianiaya lalu dipenjarakan.

 

Namun ketika mereka mengalaminya, mereka tidak terbawa oleh kekecewaan dan merasa gagal lalu melarikan diri. Mereka sebaliknya memandang bahwa penolakan adalah salah satu dari konsekuensi pewartaan. Pengalaman itu tidak bisa ditampik dari orang-orang yang “telah ditangkap oleh Kristus Yesus” (Fil 3:12). Ia nyata di depan mata dan karena itu hanya bisa diterima dengan lapang dada

 

Pengalaman penolakan itu, bahkan menjadi sumber inspirasi bagi suatu karya pewartaan yang lebih hidup, efektif dan menghasilkan pertobatan. Banyak tindakan-tindakan kreatif yang dilakukan para murid pasca pengalaman penolakan dan mereka menjadi lebih hidup dalam menjalankan tugas pewartaan.

 

Sejarah mencatat bahwa meskipun di sana sini terjadi penolakan, namun pewartaan yang disampaikan tidaklah sia-sia. Banyak orang di seluruh belahan bumi ini menjadi percaya dan memberi diri dibaptis sebagai murid Yesus. Kita adalah bagian dari buah dan bukti karya pewartaan yang menghasilkan pertobatan dan memberi diri dibaptis.

 

Sebagai orang yang percaya dan telah memberi diri dibaptis, kita semua memiliki tugas dan panggilan yang sama dalam memberitakan Injil dan memberi kesaksian tentang Tuhan kita Yesus Kristus.

 

Tentu kita sadar bahwa tidak mudah bagi kita untuk memberitakan Injil dalam situasi dunia sekarang ketika kebanyakan dari penghuni bumi ini telah kehilangan kepekaan dan sensivitas akan hal-hal religius. Namun tugas dan panggilan itu melekat. Maka baik pada waktu baik maupun tidak baik, susah atau tidak susah semangat kerasulan itu mesti tetap nyata. Kita tidak bisa melarikan diri karena situasi atau bersikap kompromistis, melainkan tegas menyatakan hidup sebagai seorang murid Tuhan.

 

Dalam keyakinan bahwa Tuhan yang menyertai para murid itu juga menyertai pewartaan dan kesaksian kita maka apapun yang kita alami tidak akan mengecutkan iman kita, malahan menjadi sumber yang menginspirasi karya pewartaan dan kesaksian kita yang lebih hidup dan berdaya memengaruhi. Penolakan membuat kita berpikir tentang cara kita mewartakan Injil dan bersaksi secara lebih dinamis, hidup dan berdaya mengubah hidup manusia.

 

Percayalah bahwa apapun yang kita lakukan jikalau murni demi Injil maka tidaklah sia-sia walaupun tidak semua orang menunjukkan sikap yang sama terhadap pewartaan dan kesaksian kita. Marilah kita bersaksi tentang Tuhan kita Yesus Kristus. ***Apol***

Rabu, 25 November 2020

Anak Manusia Datang Dalam Awan

Luk 21:20-28

Seusai melaksanakan tugas perutusan-Nya di dunia, Yesus kembali kepada Bapa-Nya. Ia naik ke surga dan ditandai dengan awan. Lukas menulis bahwa setelah Ia meminta para murid-Nya untuk tidak menginggalkan Yerusalem untuk menantikan datangnya Roh Kudus yang memeteraikan mereka menjadi pewarta Injil ke seluruh dunia, “... terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis 1:9).

 

Dan ketika mereka menyaksikan Yesus naik ke surga dengan cara demikian, datanglah malaikat Tuhan dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis 1:11).

 

Kata-kata malaikat ini meningatkan mereka akan apa yang dikatakan Yesus dalam nubuat-Nya tentang kehancuran Yerusalem dan akhir zaman yang ditandai dengan gejala kosmis dan berbagai penderitaan yang menyertainya. Ia berkata: “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

 

Awan ditampilkan sebagai suatu yang berarti dan bukan hanya sebagai suatu fenomena alam. Awan menyusui bumi melalui hujan yang diturunkan dari langit hingga pada gilirannya bumi pun menyusui makhluk hidup yang berada di atasnya melalui aneka kehidupan yang muncul. Dalam kalangan Israel kuno, awan sangat dihormati dengan penuh kekaguman.

 

Kitab Suci menampilkan awan sebagai simbol dari transendensi. Ia dapat dialami dan dilihat. Allah memimpin bangsa Israel dalam bentuk tiang awan (Kel 13:21). Ketika peristiwa transfigurasi terjadi di atas gunung yang tinggi, awan menyelubungi Yesus dan para murid-Nya. Allah berbicara dari dalam awan (Bil 12:5; Mrk 9:7). Awan malahan menjadi tempat tinggal Allah (Mzr 68:5) dan tanda kehadiran-Nya di dalam Bait Allah (1 Raj 8:10-11).

 

Pada akhir zaman, Yesus datang dalam kekuasaan dan kemuliaan Allah. Dalam tangan-Nya  ada kuasa untuk menghakimi yang telah diberikan oleh Bapa-Nya. Semua tanda kosmis yang menyertai kedatangan-Nya kedua itu mendatangkan kepanikan dan rasa takut yang membawa kematian. Namun itu terjadi bagi mereka yang menolak dan memusuhi-Nya. Orang beriman akan berdiri kokoh, siap dan menanti penyelamatan dari Tuhan seperti bangsa Israel di masa perbudakan Mesir.

 

Tanda-tanda kosmis dan gejala-gejala alam yang berhubungan dengan lukisan Injil yang menyertai kedatangan Tuhan bukan tidak nyata kita alami dalam zaman hidup kita. Virus Corona yang mendera bumi ini dan mendatangkan kematian yang memilukan hati bangsa manusia di bumi ini, juga konflik dan pertentangan antarmanusia karena penyesatan dan berbagai situasi kaotik yang mencengkam bisa menunjuk pada apa yang dikatakan Lukas dalam Injil hari ini.

 

Meskipun masa dan waktunya bagi kedatangan Yesus dalam awan dengan kekuasaan dan kemuliaan Allah tidak diketahui oleh seorang pun, sebab Bapa sendirilah yang menetapkan menurut kuasa-Nya sendiri (Kis 1:7), namun bagi kita tanda-tanda kosmis itu dalam arti rohani menjadi suatu tanda penting bagi kita untuk mengantisipasi kedatangan-Nya yang tidak terduga.

 

Maka menarik masa dan waktu yang tidak kita ketahui ke dalam situasi hidup kita yang jamak dengan berbagai tanda kosmis yang dapat kita lihat dan alami membuat kita  sadar akan pentingnya hidup kita bukan pertama-tama pada apa yang kita jalani di dunia sekarang ini, melainkan pada kenyataan dunia akhirat. Ini mengarahkan kita untuk hidup di dunia ini dengan orientasi kepada kenyataan hidup yang lebih mulia kelak.

 

Dunia dan hidup ini akan berakhir. Akhir dunia yang bakal kita alami seperti yang digambarkan Lukas sangat ditentukan oleh sikap iman dan hidup yang kita tunjukkan selama hidup di dunia ini. Iman dan hidup akan menentukan apakah kita menghadapi situasi akhir zaman dengan penuh kepanikan, kegentaran dan ketakutan yang mematikan atau dalam keteguhan kita berdiri menantikan kedatangan Yesus penuh kemuliaan sebagai saat penyelamatakan kita?

Marilah kita menentukan sekarang apa yang ingin kita alami pada saat akhir sebagai saat yang membahagiakan, bukan ketakutan, kegentiran dan kematian. Percayalah bahwa iman dan hidup menurut tuntutan iman akan membawa kita pada pengalaman akhir yang membahagiakan, bukan saat kematian melainkan saat keselamatan. ***Apol***

 

Selasa, 24 November 2020

HIKMAT YANG MENYELAMATKAN

Luk 21: 12-19

Banyak syering dari kawan-kawan yang hidup di daerah minoritas Katolik bahwa mereka menghadapi tantangan dan hambatan yang dasyat dalam mengekspresikan kehidupan iman mereka. Tantangan dan hambatan itu datang dari kelompok di luar komunitas Katolik yang merasa tidak nyaman dengan identitas iman orang Katolik di tempat itu. Padahal banyak dari antara mereka adalah penduduk asli di tempat itu. Bukan pendatang dari luar daerah. Mereka tidak bebas untuk menjalankan ritus agamanya. Untuk berdoa di tingkat basis dan lingkungan saja seringkali mereka dihambat. Apalagi mau mengajukan izin untuk membangun rumah ibadah. Pasti ada saja kesulitan yang mereka temui. Mirisnya, saudara-saudari kita ini, seringkali diiming-imingi sesuatu, dipaksa, dan ditindas untuk mengganti keyakinan iman mereka akan Yesus.

 

Mendengar pengalaman yang mereka sampaikan, saya pun tidak mau kalah untuk berbagi tantangan dan hambatan dalam kehidupan beragama di daerah yang disebut sebagai basis atau kantung Katolik. Kalau di daerah-daerah minoritas Katolik tantangan yang paling kuat berasal dari luar komunitas Katolik, maka di daerah yang mayoritas Katolik, tantangan yang paling besar justru muncul dari dalam komunitas Katolik sendiri. Sangat terasa kelesuan dan kekeringan iman itu menerpa saudara-saudari saya yang mengaku dan berbangga sebagai daerah mayoritas Katolik. Banyak orang Katolik yang menganggap kehidupan agama itu tidak penting lagi. Mereka menjadi malas ke gereja dan bersikap apatis terhadap berbagai kegiatan rohani di tingkat basis, lingkungan dan paroki. Gedung-gedung gereja hanya penuh sesak dengan umat sampai di area pelataran cuma saat merayakan “masa napas” atau masa Natal dan Paskah.

 

Dalam bacaan Injil (Luk 21:12-19) yang baru saja diperdengarkan kepada kita, Yesus menyampaikan berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan yang dihadapi oleh para murid-Nya. Oleh karena nama-Nya, mereka akan difitnah, ditangkap, dianiaya, dan diserahkan kepada pihak berwajib atau otoritas yang berkuasa untuk diadili. Setelah itu, mereka akan dimasukkan ke penjara. Bahkan, banyak dari antara murid Yesus akan meregang nyawa demi mempertahankan imannya akan Yesus. Fatalnya, mereka tidak akan mendapat dukungan dari keluarga dan sahabat-sahabat mereka sendiri. Malahan keluarga dan para sahabat akan menyerahkan mereka ke tangan penguasa oleh karena keyakinan iman mereka akan Yesus.

 

Tantangan dan hambatan yang dialami oleh murid-murid Yesus tidak saja datang dari orang-orang biasa dan kaum elit tetapi berasal dari dalam lingkaran keluarga dan sahabat para murid Yesus. Para murid Yesus akan mendapat tantangan dan kesulitan hidup yang dasyat. Segala sesuatu dipertaruhkan, termasuk nyawa sekalipun demi bersaksi tentang Injil Tuhan. Seiring dengan berbagai tantangan dan kesulitan yang dialami, Yesus akan melimpahkan hikmat kepada para murid-Nya agar mereka tidak takut dan tidak gentar sedikit pun untuk membuat berbagai kesaksian yang benar tentang Tuhan. Hikmat dari Tuhan itu berupa berkat pengetahuan dan kebijaksanaan yang tidak pernah dimiliki sebelumnya. Para murid akan dikuatkan dan diteguhkan untuk melakukan pembelaan diri dalam nama Tuhan. Memang banyak orang yang keras hatinya akan terus melawan dan tidak percaya akan pewartaan yang diberikan para murid. Tetapi tidak sedikit juga yang terbuka hatinya. Mereka menjadi percaya akan Injil Tuhan.

 

Salah satu pengalaman itu dialami oleh Santa Katarina dari Aleksandria. Santa Katarina yang perayaannya kita kenangkan hari ini adalah seorang perawan yang menjadi martir pada awal abad ke-4 pada masa penganiayaan kaisar Maxentius. Ia menjadi martir karena mempertahankankan kesucian dirinya di hadapan kaisar. Bagi Katarina, mempelai sejatinya hanya Yesus Kristus. Dan hanya kepada Dialah, Katarina mempersembahkan kemurnian dirinya. Berkat imannya yang teguh akan Yesus, banyak orang menjadi bertobat dan percaya. Termasuk istri dari sang kaisar, para pejabat istana dan dua ratus pasukan pengawal. Mereka semua bertobat karena melihat hikmat Tuhan yang berkarya dalam diri Katarina.

 

Menjadi pengikut Yesus itu tidak mudah. Ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan yang kita hadapi. Dalam konteks hidup kita di daerah dengan populasi umat Katolik terbesar, tentu kita kurang mengalami tantangan, hambatan atau pun kesulitan yang datang dari luar. Tantangan yang paling besar kita hadapi sebenarnya tantangan yang datang dari dalam hidup iman kita sendiri. Kita kurang menghidupi dan mengembangkan iman kita akan Yesus. Iman kita seolah mengalami mati suri. Ada kelesuan dan kekeringan yang terjadi. Kita tidak menganggap kehidupan rohani itu menjadi suatu kebutuhan yang urgen dalam hidup. Ibadah hari Minggu kita abaikan. Doa pribadi menjadi hal yang tidak penting. Itu belum termasuk kualitas hidup kita di tengah masyarakat. Banyak orang Katolik yang tidak menunjukkan perilaku dan keteladanan yang baik. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kita sebagai pengikut Kristus di daerah ini. Dan mungkin juga di rumah besar ini, tempat kita mencari nafkah dan menjejakkan  eksistensi diri kita.

 

Hidup dalam iman itu butuh sikap konsistensi. Sebagai manusia, pengalaman jatuh dan gagal itu menjadi hal yang lazim. Tetapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus bangkit lagi untuk terus memperbaiki kualitas hidup kita sebagai orang Katolik. Kita harus bisa mengalahkan tantangan yang datang dari dalam diri kita sendiri. Kita harus berani keluar dari zona nyaman yang membuat kita tidak nyaman hidup sebagai orang Katolik. Kita harus kembali memperbaiki dan mendekatkan diri dengan Tuhan agar kita bisa menjadi seorang pengikut-Nya yang sejati. Kita harus membuka diri agar bisa memperoleh segala hikmat yang Ia berikan. Hikmat Tuhan itulah yang menghasilkan vitamin agar kita bisa membentengi diri dari berbagai virus yang mematikan iman akan Yesus. Dengan demikian, tidak percuma kata-kata Yesus: “Kalau kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 22 November 2020

MENGEMBANGKAN MINA DALAM HIDUP

Luk 19: 11-28

Selama lebih kurang 11 tahun mengabdikan diri sebagai seorang ASN, saya dapat melihat empat tipe ASN yang terdeskripsi (tergambar) dalam diri para ASN di institusi tempat saya bekerja. Pertama, ASN yang memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki kemauan. Harus diakui memang, sebagian besar ASN memiliki aneka kemampuan yang mumpuni untuk bekerja; entah itu kemampuan intelektual, kemampuan manajerial, dan kemampuan teknis lain yang dimiliki. Namun mereka tidak cukup punya kemauan untuk bekerja. Mungkin karena faktor malas, jenuh, beda pandangan dengan pimpinan dan rekan karena merasa diri paling benar, tidak sreg atau puas dengan situasi yang ada, dan lainnya. Kedua, ASN yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kemampuan. Cukup banyak juga ASN yang dari sisi kepemilikan kemampuan sangat minimalis, tetapi di sisi lain mereka memiliki kemauan yang sangat kuat dalam bekerja. Mereka rajin bertanya, rajin meminta bantuan dan rajin belajar untuk menumbuhkan dan mengembangkan kinerja yang dimiliki.

 

Ketiga, ASN yang tidak memiliki kemampuan sekaligus kemauan. Mereka sangat tidak fokus dan tidak sibuk untuk bekerja dalam tupoksinya. Tipe ini dimiliki oleh segelintir ASN. Ketika berada di kantor, mereka hanya memiliki ketertarikan untuk mengotak-atik HP (Handphone) dan sering membuat gosip atau rumor. Orang-orang ini juga tidak suka diminta bantuan apalagi diperintah. Mereka juga selalu tidak betah dan ada saja alasan yang dipakai untuk meninggalkan ruangan atau kantor. Keempat, ASN yang memiliki kemampuan dan kemauan. Ini tipe ASN sejati dan sangat didambakan oleh seorang pimpinan. Namun, sangat jarang saya melihat para ASN dengan tipe keempat ini. Kalaupun ada, itu sangat langka. Dari empat tipe ini, saya sangat memberi apresiasi buat rekan-rekan yang kurang memiliki kemampuan tetapi memiliki kemauan yang kuat untuk bekerja (tanpa mengurangi rasa hormat untuk rekan-rekan yang memiliki kemampuan dan kemauan yang sama kuat). Dari hasil pengamatan pribadi, orang-orang ini memiliki tanggung jawab dan kesetiaan yang tinggi. Mereka juga sukses menjawab kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan. Tidak jarang, mereka mendapat prestasi dan reward yang pantas atas hasil kerja mereka.

Dalam bacaan Injil hari ini (Rabu/18/11/2020), Yesus mengetengahkan sebuah perumpamaan tentang uang mina. Ada tiga komponen utama yang diangkat dalam kisah ini. Seorang bangsawan, para hamba dan mina. Secara ringkas diceritakan bahwa sebelum hendak bepergian ke tempat yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja, seorang tuan (bangsawan) memanggil sepuluh hambanya dan memberi masing-masing kepada mereka satu mina. Satu mina itu sebagai dana awal untuk dinvestasikan. Tugas para hamba adalah bekerja dengan maksimal untuk melipatgandakan uang mina yang sangat kecil nominalnya tersebut. Setelah dinobatkan menjadi raja, sang tuan akhirnya kembali ke tempat asalnya. Ia pun memanggil para hambanya untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil kerja mereka. Besar harapan dari sang tuan bahwa para hamba dapat melaksanakan tugas dengan baik seperti yang telah diamanatkan olehnya. Memang sang tuan tidak mematok berapa hasil yang dihasilkan. Para hamba hanya diminta untuk bekerja dan menggandakan mina yang telah diberikan.

 

Hamba pertama datang dan mengatakan bahwa ia telah menghasilkan sepuluh mina. Sang tuan sangat memberi apresiasi. Ia memberikan kuasa atas sepuluh kota sebagai ganjaran atas prestasi yang telah didapat oleh hamba tersebut. Kemudian datang hamba yang kedua. Ia juga menyampaikan kepada sang tuan bahwa ia telah melipatgandakan satu mina menjadi lima mina. Sang tuan akhirnya memberi lima kota kepada hamba itu untuk dikuasai atas nama dirinya. Akhirnya datang hamba yang ketiga dan menandaskan kepada sang tuan bahwa ia hendak mengembalikan mina yang telah didapatnya dari sang tuan. Kesimpulannya adalah ia tidak bekerja untuk menggandakan mina. Bukan hanya itu saja. Hamba yang jahat itu juga berusaha mencari pembelaan diri dan menyerang tuannya dengan kata-kata yang tidak elok. Ia mencap tuannya sebagai seorang yang keras dan suka makan riba. Tentu saja sang tuannya sangat marah mendengar itu. Ia pun memastikan untuk menghukum hamba yang tidak setia dan bertanggung jawab tersebut.

 

Yang menarik dalam bacaan ini terletak pada akhir kisahnya. Sang tuan memerintahkan orang-orang untuk mengambil mina yang tidak terpakai dari hamba yang jahat dan memberikannya kepada hamba yang telah menghasilkan sepuluh mina. Orang-orang yang ada di situ melakukan protes karena ia sudah mendapat sepuluh mina. Tetapi sang tuan berkata: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya” (Luk 19:26). Pernyataan dari sang tuan ini menegaskan bahwa hamba yang telah bekerja dengan baik akan mendapat reward yang memberinya kelimpahan dalam harta. Sedangkan hamba yang tidak bekerja dengan baik akan menerima hukuman yang semakin memiskinkan hidupnya.

 

Tiga komponen yakni sang tuan, para hamba, dan mina merupakan ungkapan simbolik yang mewakili tiga entitas. Sang tuan ada Allah sendiri. Para hamba adalah umat manusia. Sedangkan mina adalah segala kebaikan atau anugerah berupa bakat, kompetensi dan kemampuan yang dimiliki seorang manusia. Setiap dari kita sebagai umat beriman telah dianugerahi oleh Allah dengan segala kebaikan atau anugerah tersebut. Dan Tuhan menghendaki agar kita mampu mengembangkannya demi mencapai misi Allah yakni terciptanya Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Sebagai orang Katolik, kita masing-masing memiliki anugerah, bakat dan kemampuan yang pasti tidak sama dan berbeda satu dengan yang lain. Anugerah intelektual, bakat mumpuni dalam disiplin ilmu tertentu, kemampuan atau kecakapan dalam integritas moral, kompetensi yang matang untuk mengeksekusi atau melaksanakan suatu hal adalah sederet kebaikan atau anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Masing-masing dari kita telah memiliki mina dengan jumlah yang sangat bervariasi. Pertanyaan reflektifnya, apakah kita telah mampu menunjukkannya dalam tataran kualitas sebagai seorang kristiani atau belum. Apakah kita sudah mengimplementasikannya untuk membawa kebaikan dan kegembiraan bagi sesama kita? Atau kita masih sibuk memuaskan diri sendiri?

 

 Acapkali terjadi hanya demi memuaskan kepentingan pribadi dan keluarga, kita gagal menunjukkan kualitas diri sebagai seorang Katolik yang baik. Kita sering berlaku tidak jujur untuk mendapatkan keuntungan yang tidak halal. Kita juga sering bertindak arogan, mempertontonkan kehebatan intelektual sembari menganggap rendah orang lain. Kita juga seringkali bersikap masa bodoh menyikapi realitas yang membutuhkan kepekaan dan pelayanan prima. Kita juga gampang tersinggung dan menjadi seorang pemarah. Dalam hal ini, Kita belum mampu menunjukkan kedewasaan emosional dan spiritual padahal kita termasuk dalam golongan orang yang mumpuni dari segi pendidikan. Dan masih banyak sikap-sikap destruktif lainnya yang mengafirmasi kita belum mampu mengembangkan mina atau anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita.

 

Melalui perumpamaan tentang uang mina, Yesus mau menggugah dan menggugat diri kita agar kita mau menyadari segala anugerah, kemampuan dan kompetensi yang kita miliki. Hendaknya segala anugerah yang kita punyai dapat kita manfaatkan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan tidak hanya bagi diri kita tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga kita mampu mengembangkan “mina” dalam diri kita dengan membawa nilai kejujuran, kerendahan hati, kepekaan nurani, dan kedamaian jiwa di rumah besar yang kita cintai ini. Dengan demikian, apa yang telah kita miliki secara otomatis akan ditambahkan oleh Tuhan dalam hidup kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 15 November 2020

Kerajaan Allah Ada Di Antara Kamu

Luk 17:20-25

Dalam menjawabi pertanyaan orang-orang Farisi tentang datangnya Kerajaan Allah Yesus berkata: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah” (Luk 17:20). Menurut Yesus, Kerajaan Allah itu bersifat rohani, bukan bersifat fisik dan poitis. Karena itu, tanda-tanda kehadirannya tidak nyata dalam hal-hal yang lahiriah.

 

Dalam pembincaan lebih lanjut, Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah itu ada di antara  mereka. Artinya, datangnya  Kerajaan Allah itu menunjuk pada kenyataan bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada, meskipun kepenuhannya baru akan terjadi pada kedatangan-Nya kedua. Dan kenyataan itu merujuk pada diri-Nya yang  kini berada di tengah-tengah mereka. Hidup dan karya pelayanan-Nya  yang sepenuhnya diwarnai oleh kasih sesunggunya adalah tanda  kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini.

 

Meskipun nampak dalam diri  seorang pribadi, namun karena menunjuk kepada Pribadi Rohani, bukan pribadi politis, maka  hal hadirnya Kerajaan Allah di dalam diri Yesus hanya bisa dilihat, dialami dan dirasakan oleh mereka yang terbuka hati bagi Dia. Kerajaan Allah itu berkenaan dengan perkara hati. Sejauh orang membuka hati dan memberikan tempat di hatinya bagi Allah maka ia mampu mengalami hadirnya Kerajaan Allah itu. Takhta Allah adalah hati manusia.

 

Sejauh yang dapat diikuti, betapapun penjelasan Yesus tentang hal datangnya Kerajaan Allah dapat diterima,  akan tetapi bila orang-orang Farisi itu tidak membuka hati mereka, dan hanya bersoal jawab tentangnya,  maka mereka tidak akan pernah melihat dan mengalami hadirnya Kerajaan Allah itu. Dengan cara apapun mereka diyakinkan, akan tidak berfaedah bila mereka tetap tertutup hatinya bagi kehadiran Allah dan kejaraan-Nya dalam hati mereka.

 

Kitab Suci mencatat bahwa umumnya orang-orang Farisi  tidak percaya bahwa Yesus adalah tanda hadirnya Kerajaan Allah, dan itu dinyatakan dalam sikap konfrontatif  dan penolakan yang berulang kali ditunjukkan terhadap Yesus. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan lebih berorientasi menguji dan menjerat Yesus,  bukan ungkupan keingintahuan murni untuk memahami bagaiman Kerejaan Allah itu hadir dan mengungkapkan dirinya dalam diri Yesus.

 

Berbeda dengan kita yang sudah menerima dan mengakui Yesus  sebagai tanda kehadiran Allah dan kerajaan-Nya. Bagi kita Yesus tetaplah Pribadi Rohani yang meskipun tidak tampak secara kasat mata, namun tetap hadir dalam hati kita ketika kita selalu memberikan hati kita sebagai tempat yang layak bagi-Nya.

 

Roh Allah sendirilah yang membuat kita benar-benar mengalami bagaimana Kerajaan Allah itu hadir pertama-tama di dalam hati kita dan kemudian hidup dan berkembang dalam komunitas kaum beriman tempat kita berada, hidup dan berkarya.

 

Jika kita mengalami bahwa hidup kita di tengah komunitas entah di dalam keluarga kita, KBG kita, tempat kerja kita dan masyarakat kita diwarnai oleh kasih persaudaraan, ada cinta dan kepedulian yang kuat akan kebenaran dan keadilan, ada rekonsiliasi dan pengampunan, ada suasana damai sejahtera dan sukacita yang dialami, maka itulah tanda bahwa kita sedang mengalami situasi Kerejaan Allah dalam hidup kita.  

 

Situasi semacam itu menjadi tanda kesiapkan kita bagi kedatangan-Nya yang kedua kali yang tidak disangka-sangka, yang digambarkan Yesus sendiri ”seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain” (Luk 17:24). Yesus menyadarkan kita bahwa tidak perlu kita berpikir panjang lebar seperti orang-orang Farisi tentang saat Hari Tuhan, melainkan fokus pada kenyataan tentang Kerajaan Allah yang sudah ada di antara kita, dan dengan demikian kita bisa siap bagi kedatangan-Nya bila hal itu terjadi.

 

Sebaliknya jika kita menutup hati kita dengan hal-hal lain maka pengalaman rohani akan kehadiran Kerajaan Allah itu tidak nyata, melainkan jauh dari hidup kita. Dan ini menjadi tanda buruk bagi kita bahwa kita tidak bisa mempersiapkan diri kita dengan baik bagi saat Hari Tuhan ketika hal itu terjadi. Bagaimana hadirnya Kerajaan Allah dalam situasi kita sekarang tidak dapat kita lihat dan kita boleh berharap bahwa kita siap untuk kedatangan-Nya kedua kali ketika semua orang yang siap siaga dapat melihat-Nya dengan terang benderang?

 

Marilah kita membuka hati kita bagi karya Roh-Nya untuk menghadirkan kembali Kerajaan-Nya di dalam hati dan hidup kita, membiarkan Ia menerangi mata iman kita untuk melihat Kerajaan-Nya yang telah hadir sekarang dan dengan demikian kita terpanggil selalu untuk menyiapkan diri kita bagi kepenuhan kedatangan-Nya di akhir zaman di mana kita semua boleh memandang Dia dengan terang dan mengambil bagian dalam kepenuhan hidup. ***Apol***