Rabu, 25 November 2020

Anak Manusia Datang Dalam Awan

Luk 21:20-28

Seusai melaksanakan tugas perutusan-Nya di dunia, Yesus kembali kepada Bapa-Nya. Ia naik ke surga dan ditandai dengan awan. Lukas menulis bahwa setelah Ia meminta para murid-Nya untuk tidak menginggalkan Yerusalem untuk menantikan datangnya Roh Kudus yang memeteraikan mereka menjadi pewarta Injil ke seluruh dunia, “... terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan mereka” (Kis 1:9).

 

Dan ketika mereka menyaksikan Yesus naik ke surga dengan cara demikian, datanglah malaikat Tuhan dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis 1:11).

 

Kata-kata malaikat ini meningatkan mereka akan apa yang dikatakan Yesus dalam nubuat-Nya tentang kehancuran Yerusalem dan akhir zaman yang ditandai dengan gejala kosmis dan berbagai penderitaan yang menyertainya. Ia berkata: “Pada waktu itu orang akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).

 

Awan ditampilkan sebagai suatu yang berarti dan bukan hanya sebagai suatu fenomena alam. Awan menyusui bumi melalui hujan yang diturunkan dari langit hingga pada gilirannya bumi pun menyusui makhluk hidup yang berada di atasnya melalui aneka kehidupan yang muncul. Dalam kalangan Israel kuno, awan sangat dihormati dengan penuh kekaguman.

 

Kitab Suci menampilkan awan sebagai simbol dari transendensi. Ia dapat dialami dan dilihat. Allah memimpin bangsa Israel dalam bentuk tiang awan (Kel 13:21). Ketika peristiwa transfigurasi terjadi di atas gunung yang tinggi, awan menyelubungi Yesus dan para murid-Nya. Allah berbicara dari dalam awan (Bil 12:5; Mrk 9:7). Awan malahan menjadi tempat tinggal Allah (Mzr 68:5) dan tanda kehadiran-Nya di dalam Bait Allah (1 Raj 8:10-11).

 

Pada akhir zaman, Yesus datang dalam kekuasaan dan kemuliaan Allah. Dalam tangan-Nya  ada kuasa untuk menghakimi yang telah diberikan oleh Bapa-Nya. Semua tanda kosmis yang menyertai kedatangan-Nya kedua itu mendatangkan kepanikan dan rasa takut yang membawa kematian. Namun itu terjadi bagi mereka yang menolak dan memusuhi-Nya. Orang beriman akan berdiri kokoh, siap dan menanti penyelamatan dari Tuhan seperti bangsa Israel di masa perbudakan Mesir.

 

Tanda-tanda kosmis dan gejala-gejala alam yang berhubungan dengan lukisan Injil yang menyertai kedatangan Tuhan bukan tidak nyata kita alami dalam zaman hidup kita. Virus Corona yang mendera bumi ini dan mendatangkan kematian yang memilukan hati bangsa manusia di bumi ini, juga konflik dan pertentangan antarmanusia karena penyesatan dan berbagai situasi kaotik yang mencengkam bisa menunjuk pada apa yang dikatakan Lukas dalam Injil hari ini.

 

Meskipun masa dan waktunya bagi kedatangan Yesus dalam awan dengan kekuasaan dan kemuliaan Allah tidak diketahui oleh seorang pun, sebab Bapa sendirilah yang menetapkan menurut kuasa-Nya sendiri (Kis 1:7), namun bagi kita tanda-tanda kosmis itu dalam arti rohani menjadi suatu tanda penting bagi kita untuk mengantisipasi kedatangan-Nya yang tidak terduga.

 

Maka menarik masa dan waktu yang tidak kita ketahui ke dalam situasi hidup kita yang jamak dengan berbagai tanda kosmis yang dapat kita lihat dan alami membuat kita  sadar akan pentingnya hidup kita bukan pertama-tama pada apa yang kita jalani di dunia sekarang ini, melainkan pada kenyataan dunia akhirat. Ini mengarahkan kita untuk hidup di dunia ini dengan orientasi kepada kenyataan hidup yang lebih mulia kelak.

 

Dunia dan hidup ini akan berakhir. Akhir dunia yang bakal kita alami seperti yang digambarkan Lukas sangat ditentukan oleh sikap iman dan hidup yang kita tunjukkan selama hidup di dunia ini. Iman dan hidup akan menentukan apakah kita menghadapi situasi akhir zaman dengan penuh kepanikan, kegentaran dan ketakutan yang mematikan atau dalam keteguhan kita berdiri menantikan kedatangan Yesus penuh kemuliaan sebagai saat penyelamatakan kita?

Marilah kita menentukan sekarang apa yang ingin kita alami pada saat akhir sebagai saat yang membahagiakan, bukan ketakutan, kegentiran dan kematian. Percayalah bahwa iman dan hidup menurut tuntutan iman akan membawa kita pada pengalaman akhir yang membahagiakan, bukan saat kematian melainkan saat keselamatan. ***Apol***

 

Selasa, 24 November 2020

HIKMAT YANG MENYELAMATKAN

Luk 21: 12-19

Banyak syering dari kawan-kawan yang hidup di daerah minoritas Katolik bahwa mereka menghadapi tantangan dan hambatan yang dasyat dalam mengekspresikan kehidupan iman mereka. Tantangan dan hambatan itu datang dari kelompok di luar komunitas Katolik yang merasa tidak nyaman dengan identitas iman orang Katolik di tempat itu. Padahal banyak dari antara mereka adalah penduduk asli di tempat itu. Bukan pendatang dari luar daerah. Mereka tidak bebas untuk menjalankan ritus agamanya. Untuk berdoa di tingkat basis dan lingkungan saja seringkali mereka dihambat. Apalagi mau mengajukan izin untuk membangun rumah ibadah. Pasti ada saja kesulitan yang mereka temui. Mirisnya, saudara-saudari kita ini, seringkali diiming-imingi sesuatu, dipaksa, dan ditindas untuk mengganti keyakinan iman mereka akan Yesus.

 

Mendengar pengalaman yang mereka sampaikan, saya pun tidak mau kalah untuk berbagi tantangan dan hambatan dalam kehidupan beragama di daerah yang disebut sebagai basis atau kantung Katolik. Kalau di daerah-daerah minoritas Katolik tantangan yang paling kuat berasal dari luar komunitas Katolik, maka di daerah yang mayoritas Katolik, tantangan yang paling besar justru muncul dari dalam komunitas Katolik sendiri. Sangat terasa kelesuan dan kekeringan iman itu menerpa saudara-saudari saya yang mengaku dan berbangga sebagai daerah mayoritas Katolik. Banyak orang Katolik yang menganggap kehidupan agama itu tidak penting lagi. Mereka menjadi malas ke gereja dan bersikap apatis terhadap berbagai kegiatan rohani di tingkat basis, lingkungan dan paroki. Gedung-gedung gereja hanya penuh sesak dengan umat sampai di area pelataran cuma saat merayakan “masa napas” atau masa Natal dan Paskah.

 

Dalam bacaan Injil (Luk 21:12-19) yang baru saja diperdengarkan kepada kita, Yesus menyampaikan berbagai tantangan, hambatan dan kesulitan yang dihadapi oleh para murid-Nya. Oleh karena nama-Nya, mereka akan difitnah, ditangkap, dianiaya, dan diserahkan kepada pihak berwajib atau otoritas yang berkuasa untuk diadili. Setelah itu, mereka akan dimasukkan ke penjara. Bahkan, banyak dari antara murid Yesus akan meregang nyawa demi mempertahankan imannya akan Yesus. Fatalnya, mereka tidak akan mendapat dukungan dari keluarga dan sahabat-sahabat mereka sendiri. Malahan keluarga dan para sahabat akan menyerahkan mereka ke tangan penguasa oleh karena keyakinan iman mereka akan Yesus.

 

Tantangan dan hambatan yang dialami oleh murid-murid Yesus tidak saja datang dari orang-orang biasa dan kaum elit tetapi berasal dari dalam lingkaran keluarga dan sahabat para murid Yesus. Para murid Yesus akan mendapat tantangan dan kesulitan hidup yang dasyat. Segala sesuatu dipertaruhkan, termasuk nyawa sekalipun demi bersaksi tentang Injil Tuhan. Seiring dengan berbagai tantangan dan kesulitan yang dialami, Yesus akan melimpahkan hikmat kepada para murid-Nya agar mereka tidak takut dan tidak gentar sedikit pun untuk membuat berbagai kesaksian yang benar tentang Tuhan. Hikmat dari Tuhan itu berupa berkat pengetahuan dan kebijaksanaan yang tidak pernah dimiliki sebelumnya. Para murid akan dikuatkan dan diteguhkan untuk melakukan pembelaan diri dalam nama Tuhan. Memang banyak orang yang keras hatinya akan terus melawan dan tidak percaya akan pewartaan yang diberikan para murid. Tetapi tidak sedikit juga yang terbuka hatinya. Mereka menjadi percaya akan Injil Tuhan.

 

Salah satu pengalaman itu dialami oleh Santa Katarina dari Aleksandria. Santa Katarina yang perayaannya kita kenangkan hari ini adalah seorang perawan yang menjadi martir pada awal abad ke-4 pada masa penganiayaan kaisar Maxentius. Ia menjadi martir karena mempertahankankan kesucian dirinya di hadapan kaisar. Bagi Katarina, mempelai sejatinya hanya Yesus Kristus. Dan hanya kepada Dialah, Katarina mempersembahkan kemurnian dirinya. Berkat imannya yang teguh akan Yesus, banyak orang menjadi bertobat dan percaya. Termasuk istri dari sang kaisar, para pejabat istana dan dua ratus pasukan pengawal. Mereka semua bertobat karena melihat hikmat Tuhan yang berkarya dalam diri Katarina.

 

Menjadi pengikut Yesus itu tidak mudah. Ada banyak tantangan, hambatan, dan kesulitan yang kita hadapi. Dalam konteks hidup kita di daerah dengan populasi umat Katolik terbesar, tentu kita kurang mengalami tantangan, hambatan atau pun kesulitan yang datang dari luar. Tantangan yang paling besar kita hadapi sebenarnya tantangan yang datang dari dalam hidup iman kita sendiri. Kita kurang menghidupi dan mengembangkan iman kita akan Yesus. Iman kita seolah mengalami mati suri. Ada kelesuan dan kekeringan yang terjadi. Kita tidak menganggap kehidupan rohani itu menjadi suatu kebutuhan yang urgen dalam hidup. Ibadah hari Minggu kita abaikan. Doa pribadi menjadi hal yang tidak penting. Itu belum termasuk kualitas hidup kita di tengah masyarakat. Banyak orang Katolik yang tidak menunjukkan perilaku dan keteladanan yang baik. Hal inilah yang menjadi tantangan terbesar bagi kita sebagai pengikut Kristus di daerah ini. Dan mungkin juga di rumah besar ini, tempat kita mencari nafkah dan menjejakkan  eksistensi diri kita.

 

Hidup dalam iman itu butuh sikap konsistensi. Sebagai manusia, pengalaman jatuh dan gagal itu menjadi hal yang lazim. Tetapi kita tidak boleh menyerah. Kita harus bangkit lagi untuk terus memperbaiki kualitas hidup kita sebagai orang Katolik. Kita harus bisa mengalahkan tantangan yang datang dari dalam diri kita sendiri. Kita harus berani keluar dari zona nyaman yang membuat kita tidak nyaman hidup sebagai orang Katolik. Kita harus kembali memperbaiki dan mendekatkan diri dengan Tuhan agar kita bisa menjadi seorang pengikut-Nya yang sejati. Kita harus membuka diri agar bisa memperoleh segala hikmat yang Ia berikan. Hikmat Tuhan itulah yang menghasilkan vitamin agar kita bisa membentengi diri dari berbagai virus yang mematikan iman akan Yesus. Dengan demikian, tidak percuma kata-kata Yesus: “Kalau kamu bertahan, kamu akan memperoleh hidupmu” (Luk 21:19). ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 22 November 2020

MENGEMBANGKAN MINA DALAM HIDUP

Luk 19: 11-28

Selama lebih kurang 11 tahun mengabdikan diri sebagai seorang ASN, saya dapat melihat empat tipe ASN yang terdeskripsi (tergambar) dalam diri para ASN di institusi tempat saya bekerja. Pertama, ASN yang memiliki kemampuan tetapi tidak memiliki kemauan. Harus diakui memang, sebagian besar ASN memiliki aneka kemampuan yang mumpuni untuk bekerja; entah itu kemampuan intelektual, kemampuan manajerial, dan kemampuan teknis lain yang dimiliki. Namun mereka tidak cukup punya kemauan untuk bekerja. Mungkin karena faktor malas, jenuh, beda pandangan dengan pimpinan dan rekan karena merasa diri paling benar, tidak sreg atau puas dengan situasi yang ada, dan lainnya. Kedua, ASN yang memiliki kemauan tetapi tidak memiliki kemampuan. Cukup banyak juga ASN yang dari sisi kepemilikan kemampuan sangat minimalis, tetapi di sisi lain mereka memiliki kemauan yang sangat kuat dalam bekerja. Mereka rajin bertanya, rajin meminta bantuan dan rajin belajar untuk menumbuhkan dan mengembangkan kinerja yang dimiliki.

 

Ketiga, ASN yang tidak memiliki kemampuan sekaligus kemauan. Mereka sangat tidak fokus dan tidak sibuk untuk bekerja dalam tupoksinya. Tipe ini dimiliki oleh segelintir ASN. Ketika berada di kantor, mereka hanya memiliki ketertarikan untuk mengotak-atik HP (Handphone) dan sering membuat gosip atau rumor. Orang-orang ini juga tidak suka diminta bantuan apalagi diperintah. Mereka juga selalu tidak betah dan ada saja alasan yang dipakai untuk meninggalkan ruangan atau kantor. Keempat, ASN yang memiliki kemampuan dan kemauan. Ini tipe ASN sejati dan sangat didambakan oleh seorang pimpinan. Namun, sangat jarang saya melihat para ASN dengan tipe keempat ini. Kalaupun ada, itu sangat langka. Dari empat tipe ini, saya sangat memberi apresiasi buat rekan-rekan yang kurang memiliki kemampuan tetapi memiliki kemauan yang kuat untuk bekerja (tanpa mengurangi rasa hormat untuk rekan-rekan yang memiliki kemampuan dan kemauan yang sama kuat). Dari hasil pengamatan pribadi, orang-orang ini memiliki tanggung jawab dan kesetiaan yang tinggi. Mereka juga sukses menjawab kepercayaan yang diberikan oleh pimpinan. Tidak jarang, mereka mendapat prestasi dan reward yang pantas atas hasil kerja mereka.

Dalam bacaan Injil hari ini (Rabu/18/11/2020), Yesus mengetengahkan sebuah perumpamaan tentang uang mina. Ada tiga komponen utama yang diangkat dalam kisah ini. Seorang bangsawan, para hamba dan mina. Secara ringkas diceritakan bahwa sebelum hendak bepergian ke tempat yang jauh untuk dinobatkan menjadi raja, seorang tuan (bangsawan) memanggil sepuluh hambanya dan memberi masing-masing kepada mereka satu mina. Satu mina itu sebagai dana awal untuk dinvestasikan. Tugas para hamba adalah bekerja dengan maksimal untuk melipatgandakan uang mina yang sangat kecil nominalnya tersebut. Setelah dinobatkan menjadi raja, sang tuan akhirnya kembali ke tempat asalnya. Ia pun memanggil para hambanya untuk meminta pertanggungjawaban atas hasil kerja mereka. Besar harapan dari sang tuan bahwa para hamba dapat melaksanakan tugas dengan baik seperti yang telah diamanatkan olehnya. Memang sang tuan tidak mematok berapa hasil yang dihasilkan. Para hamba hanya diminta untuk bekerja dan menggandakan mina yang telah diberikan.

 

Hamba pertama datang dan mengatakan bahwa ia telah menghasilkan sepuluh mina. Sang tuan sangat memberi apresiasi. Ia memberikan kuasa atas sepuluh kota sebagai ganjaran atas prestasi yang telah didapat oleh hamba tersebut. Kemudian datang hamba yang kedua. Ia juga menyampaikan kepada sang tuan bahwa ia telah melipatgandakan satu mina menjadi lima mina. Sang tuan akhirnya memberi lima kota kepada hamba itu untuk dikuasai atas nama dirinya. Akhirnya datang hamba yang ketiga dan menandaskan kepada sang tuan bahwa ia hendak mengembalikan mina yang telah didapatnya dari sang tuan. Kesimpulannya adalah ia tidak bekerja untuk menggandakan mina. Bukan hanya itu saja. Hamba yang jahat itu juga berusaha mencari pembelaan diri dan menyerang tuannya dengan kata-kata yang tidak elok. Ia mencap tuannya sebagai seorang yang keras dan suka makan riba. Tentu saja sang tuannya sangat marah mendengar itu. Ia pun memastikan untuk menghukum hamba yang tidak setia dan bertanggung jawab tersebut.

 

Yang menarik dalam bacaan ini terletak pada akhir kisahnya. Sang tuan memerintahkan orang-orang untuk mengambil mina yang tidak terpakai dari hamba yang jahat dan memberikannya kepada hamba yang telah menghasilkan sepuluh mina. Orang-orang yang ada di situ melakukan protes karena ia sudah mendapat sepuluh mina. Tetapi sang tuan berkata: “Setiap orang yang mempunyai, kepadanya akan diberi, tetapi siapa yang tidak mempunyai, dari padanya akan diambil, juga apa yang ada padanya” (Luk 19:26). Pernyataan dari sang tuan ini menegaskan bahwa hamba yang telah bekerja dengan baik akan mendapat reward yang memberinya kelimpahan dalam harta. Sedangkan hamba yang tidak bekerja dengan baik akan menerima hukuman yang semakin memiskinkan hidupnya.

 

Tiga komponen yakni sang tuan, para hamba, dan mina merupakan ungkapan simbolik yang mewakili tiga entitas. Sang tuan ada Allah sendiri. Para hamba adalah umat manusia. Sedangkan mina adalah segala kebaikan atau anugerah berupa bakat, kompetensi dan kemampuan yang dimiliki seorang manusia. Setiap dari kita sebagai umat beriman telah dianugerahi oleh Allah dengan segala kebaikan atau anugerah tersebut. Dan Tuhan menghendaki agar kita mampu mengembangkannya demi mencapai misi Allah yakni terciptanya Kerajaan Allah di tengah dunia.

 

Sebagai orang Katolik, kita masing-masing memiliki anugerah, bakat dan kemampuan yang pasti tidak sama dan berbeda satu dengan yang lain. Anugerah intelektual, bakat mumpuni dalam disiplin ilmu tertentu, kemampuan atau kecakapan dalam integritas moral, kompetensi yang matang untuk mengeksekusi atau melaksanakan suatu hal adalah sederet kebaikan atau anugerah yang telah diberikan Tuhan kepada kita. Masing-masing dari kita telah memiliki mina dengan jumlah yang sangat bervariasi. Pertanyaan reflektifnya, apakah kita telah mampu menunjukkannya dalam tataran kualitas sebagai seorang kristiani atau belum. Apakah kita sudah mengimplementasikannya untuk membawa kebaikan dan kegembiraan bagi sesama kita? Atau kita masih sibuk memuaskan diri sendiri?

 

 Acapkali terjadi hanya demi memuaskan kepentingan pribadi dan keluarga, kita gagal menunjukkan kualitas diri sebagai seorang Katolik yang baik. Kita sering berlaku tidak jujur untuk mendapatkan keuntungan yang tidak halal. Kita juga sering bertindak arogan, mempertontonkan kehebatan intelektual sembari menganggap rendah orang lain. Kita juga seringkali bersikap masa bodoh menyikapi realitas yang membutuhkan kepekaan dan pelayanan prima. Kita juga gampang tersinggung dan menjadi seorang pemarah. Dalam hal ini, Kita belum mampu menunjukkan kedewasaan emosional dan spiritual padahal kita termasuk dalam golongan orang yang mumpuni dari segi pendidikan. Dan masih banyak sikap-sikap destruktif lainnya yang mengafirmasi kita belum mampu mengembangkan mina atau anugerah yang telah dilimpahkan Tuhan kepada kita.

 

Melalui perumpamaan tentang uang mina, Yesus mau menggugah dan menggugat diri kita agar kita mau menyadari segala anugerah, kemampuan dan kompetensi yang kita miliki. Hendaknya segala anugerah yang kita punyai dapat kita manfaatkan untuk membawa kebaikan dan kesejahteraan tidak hanya bagi diri kita tetapi juga orang-orang yang ada di sekitar kita. Semoga kita mampu mengembangkan “mina” dalam diri kita dengan membawa nilai kejujuran, kerendahan hati, kepekaan nurani, dan kedamaian jiwa di rumah besar yang kita cintai ini. Dengan demikian, apa yang telah kita miliki secara otomatis akan ditambahkan oleh Tuhan dalam hidup kita. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***

Minggu, 15 November 2020

Kerajaan Allah Ada Di Antara Kamu

Luk 17:20-25

Dalam menjawabi pertanyaan orang-orang Farisi tentang datangnya Kerajaan Allah Yesus berkata: “Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah” (Luk 17:20). Menurut Yesus, Kerajaan Allah itu bersifat rohani, bukan bersifat fisik dan poitis. Karena itu, tanda-tanda kehadirannya tidak nyata dalam hal-hal yang lahiriah.

 

Dalam pembincaan lebih lanjut, Yesus berkata bahwa Kerajaan Allah itu ada di antara  mereka. Artinya, datangnya  Kerajaan Allah itu menunjuk pada kenyataan bahwa Kerajaan Allah itu sudah ada, meskipun kepenuhannya baru akan terjadi pada kedatangan-Nya kedua. Dan kenyataan itu merujuk pada diri-Nya yang  kini berada di tengah-tengah mereka. Hidup dan karya pelayanan-Nya  yang sepenuhnya diwarnai oleh kasih sesunggunya adalah tanda  kehadiran Kerajaan Allah di dunia ini.

 

Meskipun nampak dalam diri  seorang pribadi, namun karena menunjuk kepada Pribadi Rohani, bukan pribadi politis, maka  hal hadirnya Kerajaan Allah di dalam diri Yesus hanya bisa dilihat, dialami dan dirasakan oleh mereka yang terbuka hati bagi Dia. Kerajaan Allah itu berkenaan dengan perkara hati. Sejauh orang membuka hati dan memberikan tempat di hatinya bagi Allah maka ia mampu mengalami hadirnya Kerajaan Allah itu. Takhta Allah adalah hati manusia.

 

Sejauh yang dapat diikuti, betapapun penjelasan Yesus tentang hal datangnya Kerajaan Allah dapat diterima,  akan tetapi bila orang-orang Farisi itu tidak membuka hati mereka, dan hanya bersoal jawab tentangnya,  maka mereka tidak akan pernah melihat dan mengalami hadirnya Kerajaan Allah itu. Dengan cara apapun mereka diyakinkan, akan tidak berfaedah bila mereka tetap tertutup hatinya bagi kehadiran Allah dan kejaraan-Nya dalam hati mereka.

 

Kitab Suci mencatat bahwa umumnya orang-orang Farisi  tidak percaya bahwa Yesus adalah tanda hadirnya Kerajaan Allah, dan itu dinyatakan dalam sikap konfrontatif  dan penolakan yang berulang kali ditunjukkan terhadap Yesus. Pertanyaan-pertanyaan yang mereka ajukan lebih berorientasi menguji dan menjerat Yesus,  bukan ungkupan keingintahuan murni untuk memahami bagaiman Kerejaan Allah itu hadir dan mengungkapkan dirinya dalam diri Yesus.

 

Berbeda dengan kita yang sudah menerima dan mengakui Yesus  sebagai tanda kehadiran Allah dan kerajaan-Nya. Bagi kita Yesus tetaplah Pribadi Rohani yang meskipun tidak tampak secara kasat mata, namun tetap hadir dalam hati kita ketika kita selalu memberikan hati kita sebagai tempat yang layak bagi-Nya.

 

Roh Allah sendirilah yang membuat kita benar-benar mengalami bagaimana Kerajaan Allah itu hadir pertama-tama di dalam hati kita dan kemudian hidup dan berkembang dalam komunitas kaum beriman tempat kita berada, hidup dan berkarya.

 

Jika kita mengalami bahwa hidup kita di tengah komunitas entah di dalam keluarga kita, KBG kita, tempat kerja kita dan masyarakat kita diwarnai oleh kasih persaudaraan, ada cinta dan kepedulian yang kuat akan kebenaran dan keadilan, ada rekonsiliasi dan pengampunan, ada suasana damai sejahtera dan sukacita yang dialami, maka itulah tanda bahwa kita sedang mengalami situasi Kerejaan Allah dalam hidup kita.  

 

Situasi semacam itu menjadi tanda kesiapkan kita bagi kedatangan-Nya yang kedua kali yang tidak disangka-sangka, yang digambarkan Yesus sendiri ”seperti kilat memancar dari ujung langit yang satu ke ujung langit yang lain” (Luk 17:24). Yesus menyadarkan kita bahwa tidak perlu kita berpikir panjang lebar seperti orang-orang Farisi tentang saat Hari Tuhan, melainkan fokus pada kenyataan tentang Kerajaan Allah yang sudah ada di antara kita, dan dengan demikian kita bisa siap bagi kedatangan-Nya bila hal itu terjadi.

 

Sebaliknya jika kita menutup hati kita dengan hal-hal lain maka pengalaman rohani akan kehadiran Kerajaan Allah itu tidak nyata, melainkan jauh dari hidup kita. Dan ini menjadi tanda buruk bagi kita bahwa kita tidak bisa mempersiapkan diri kita dengan baik bagi saat Hari Tuhan ketika hal itu terjadi. Bagaimana hadirnya Kerajaan Allah dalam situasi kita sekarang tidak dapat kita lihat dan kita boleh berharap bahwa kita siap untuk kedatangan-Nya kedua kali ketika semua orang yang siap siaga dapat melihat-Nya dengan terang benderang?

 

Marilah kita membuka hati kita bagi karya Roh-Nya untuk menghadirkan kembali Kerajaan-Nya di dalam hati dan hidup kita, membiarkan Ia menerangi mata iman kita untuk melihat Kerajaan-Nya yang telah hadir sekarang dan dengan demikian kita terpanggil selalu untuk menyiapkan diri kita bagi kepenuhan kedatangan-Nya di akhir zaman di mana kita semua boleh memandang Dia dengan terang dan mengambil bagian dalam kepenuhan hidup. ***Apol***

 

 

Selasa, 10 November 2020

SPIRITUALITAS KERENDAHAN HATI SEORANG HAMBA

Mark 10:45

   Berbicara tentang kedudukan atau status sebagai tuan dan hamba jelas berbeda. Tuan memiliki status sosial yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan posisi sebagai hamba, karena itu, keduanya tidak bisa disamakan begitu saja, mereka ibarat langit dan bumi. Seandainya menjadi tuan atau hamba adalah sebuah pilihan, ditinjau dari konteks realita kehidupan serta mental masyarakat modern sekarang ini, maka semua orang pasti lebih memilih menjadi tuan ketimbang menjadi hamba. Sebab lebih enak dan nyaman menjadi tuan daripada menjadi hamba yang harus bekerja dan hidup di bawah kendali orang. Namun jika dilihat dari konteks spiritualitas pelayanan, Yesus justru meminta kita semua murid-murid-Nya untuk menjadi hamba yang setia melayani.

   Pada zaman Yesus bahkan jauh sebelumnya, para tuan umumnya tidak akan berterima kasih kepada maupun memberi upah kepada hamba mereka, para hamba hanya diberi makan dan kebutuhan pangan seadanya. Sedangkan tugas seorang hamba: ia hanya melakukan apa yang wajib ia lakukan sesuai perintah tuannya tanpa menuntut dan mencari penghargaan entah berupa ucapan terima kasih ataupun upah lainnya, ia tetap tenang menjalankan tugasnya. Realita sikap tuan terhadap hamba dan respon seorang hamba terhadap tuannya dalam kultur Yahudi, lantas dipakai oleh Yesus untuk mengajar para murid tentang kesetiaan menjadi seorang hamba terhadap Allah sebagai Tuan. Bahwa menjadi hamba Allah, baik para murid maupun kita semua, hendaknya tidak menuntut apapun dari Allah sebagai balasan atas kebaikan kita dalam melayani-Nya, melainkan terus setia dan taat melakukan apa yang telah ditugaskan Allah kepada kita. Yesus berkata: “Apabila kalian telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kalian berkata, ‘Kami ini hamba-hamba tak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan’.”

            Kata-kata Yesus dalam Bacaan Injil hari ini dialamatkan kepada para murid namun terasa sangat keras. Yesus mengatakan kepada mereka bahwa walaupun mereka telah melakukan segala sesuatu yang diminta-Nya, mereka harus tetap menilai diri mereka sebagai hamba-hamba yang tidak berguna, di sana faktor kerendahan hati sangat menentukan kualitas pelayanannya. Kita hanyalah hamba-hamba atau pelayan-pelayan Allah yang bekerja sesuai kehendak Allah sendiri, segala sesuatu sepenuhnya adalah privilese atau hak istimewa Allah untuk menuntut pertanggungjawaban dari kita masing-masing. Penekanan dari perumpamaan singkat di atas adalah dedikasi atau pengabdian total seorang hamba kepada tuannya tanpa pamrih. Sebagaimana, Santo Paulus juga sangat memahami dedikasi atau pengabdian total kepada Yesus. Paulus tidak mencari-cari pujian istimewa, ganjaran atau sejenisnya. Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, ia menulis, “… jika aku memberitakan Injil, aku tidak mempunyai alasan untuk memegahkan diri. Sebab itu adalah keharusan bagiku. Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil!” (1Kor 9:16). Para rasul juga pernah berkata kepada Yesus: “Tambahkanlah iman kami!” (Luk 17:5).  Jawaban Yesus sederhana saja dimana  berisikan tuntutan-Nya akan dedikasi total, seakan-akan Ia berkata: Jika engkau menaruh kepercayaan pada-Ku, lakukanlah segala sesuatu yang Aku minta, imanmu kepada-Ku pun akan bertumbuh; itu sudah cukup. Untuk masa depan keselamatan kita, kita percaya bahwa Yesus akan berkata sebaliknya: “Sesungguhnya ia (tuan) akan mengikat pinggangnya dan mempersilahkan mereka duduk makan, dan ia akan datang melayani mereka” (Luk 12:37). Seseorang yg melayani Tuhan dalam hidupnya sekarang ini akan dilayani oleh Tuhan dalam kehidupan yang akan datang. Untuk itu kita harus bersikap rendah hati dan memiliki ketaatan yang tinggi sebagai hamba yang setia pada Allah.

            Kita semua adalah rasul-rasul Kristus pada zaman modern ini, di mana Yesus mengharapkan pemberian diri yang total dari kita semua untuk melayani Allah dalam diri sesama kita. Kita harus bekerja demi kemajuan Kerajaan Allah dan menempatkan rasa percaya kita ke dalam penyelenggaraan Yesus yang telah memberikan contoh dan teladan bagaimana Ia hadir sebagai pelayan atau hamba bagi keselamatan umat manusia. Santo Fransiskus dari Assisi menjelang saat kematiannya memberi pesan penting kepada para saudaranya: “Aku telah melakukan apa yang mesti kulakukan, biarlah Kristus mengajar kamu apa yang harus kamu lakukan selanjutnya. Santo Fransiskus dari Asisi ingin memberikan motivasi iman kepada para saudaranya agar selalu melakukan apa yang menjadi kehendak Allah, tidak boleh  memikirkan upah, kepentingan dan kenyamanan diri sendiri.  Semua yang dilakukan harus fokus bagi Allah. Inilah arti sesungguhnya spiritualitas kerendahan hati seorang hamba yang siap melayani. Kalau kehendak Allah dapat dijadikan prioritas dalam hidup, maka kita akan mudah memahami perkataan Yesus pada ayat terakhir perikop ini bahwa, kalau kamu mampu menjadi hamba dan pelayan  yang setia dan telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang kami harus lakukan.  Ayat terakhir ini mau menerangkan kepada kita semua bahwaYesus sendiri sebenarnya telah memberi contoh dan teladan sebagai seorang hamba. Ia datang tidak untuk dilayani, melainkan untuk melayani” (Mark 10:45).

Senin, 02 November 2020

Menanggapi Undangan Keselamatan Allah

Flp 2;5-11 & Luk 14:15-24

Dalam bahasa perumpamaan Yesus menunjukkan dengan jelas sikap penolakan Israel terhadap undangan keselamatan dari Allah. Undangan itu sudah diberikan dan nyata dalam diri Yesus, namun dipandang sepeleh dan ditolak.

 

Secara paling nyata penolakan itu kuat ditunjukkan oleh para penatua, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Kitab Suci. Atas kuasa dan pengaruh yang dimiliki mereka juga berusaha menghalang-halangi orang kebanyakan untuk menerima undangan Allah dan datang kepada Yesus. Tidak sedikit yang disesatkan dan mengambil bagian dalam sikap penolakan.

 

Seperti yang ditampilkan Kitab Suci, orang-orang Farisi dan ahli-ahli Kitab Suci merasa sudah cukup  dengan keyakinan dan kesalehan yang mereka miliki oleh menjalankan secara ketat Taurat dan berbagai aturan terapannya. Ada kebanggaan dalam diri atas pratik itu dan hal itu diklaim sebagai dasar untuk mengambil bagian dalam keselamatan yang dijanjikan Allah. Namun kebanggan itu dilihat Yesus sebagai berlebihan dan membuat mereka menyepelehkan undangan Allah. Kesempatan mendesak untuk menjawabi undangan ke perjamuan Tuhan diabaikan.

 

Yesus menunjukkan bahwa karena menganggap sepeleh undangan mendesak dari Allah maka dengan begitu mereka menghilangkan hak mereka untuk mengambil bagian dalam perjamuan Tuhan. Sebagai konsekuensinya, tempat mereka diambil oleh orang-orang lain. Orang-orang lain itu adalah orang-orang dari suku bangsa di luar Israel yang disebut orang Yahudi sebagai orang-orang kafir, namun mereka itulah membuka hati untuk menerima Injil Kerajaan Allah. Ruangan pesta itu dipenuhi oleh orang-orang yang menerima Injil.

 

Para ahli menafsirkan bahwa meskipun perumpamaan yang dikemukan Yesus ini pertama-tama ditujukan kepada orang Israel, namun juga terarah kepada gereja dan semua orang percaya pada masa ini, yaitu orang-orang yang lupa dan pura-pura lupa akan panggilan hidupnya. Imam dan biarawan/i lupa bahwa mereka telah dikhususkan oleh Allah untuk melayani kepentingan-Nya, demikian pula dengan kaum awam pada umumnya yang dimenteraikan oleh baptisan supaya oleh hidupnya membawa semakin banyak orang kepada perjamuan Tuhan.

 

Di tengah situasi kemerosotan iman dan keteladanan hidup kristiani, Tuhan mengirim undangan istimewa dan mendesak agar ditanggapi dengan serius. Namun tidak jarang kita anggap sepeleh. Seperti yang ditampilkan penginjil, keterikatan kita pada perkara dunia membuat kita menyepelehkan undangan-Nya dan membiarkan kesempatan istimewa itu berlalu begitu saja (bdk. Ay 18-20).

 

Sementara yang lain berusaha menjalankan ritual keagamaan sebegitu ketatnya bak orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, rajin berdoa dan menghadiri misa, lalu menganggap bahwa kesalehan ritual itu sudah menjadi jaminan untuk mengambil bagian dalam keselamatan, padahal hidup praktis jauh dari cerminan hidup kristiani. Orang lupa bahwa makna sakramen yang dirayakan itu mendapat kepenuhannya dalam praktik hidup yang selaras dengannya.

 

Pada kecenderungan ini, Tuhan boleh dihormati di dalam sakramen-sakramen yang dirayakan, juga sakramentali  dan praktik-praktik kesalehan lainnya, namun Dia yang disembah dan dihormati itu tidak dibawa masuk ke dalam hidup harian. Tuhan dibiarkan sendirian di ruangan tertutup, di dalam tabernakel dan gereja.

 

Jika demikian, maka tidak mengherankan, selepas pintu gereja mulut yang tadinya digunakan untuk menyebut dan memuliakan nama Tuhan dipakai juga untuk menghujat, menista dan mencaci-maki; selepas pintu gereja orang yang tadinya begitu saleh dan berlutut lama di depan tabernakel bisa saja mencuri, memerkosa dan membunuh dan masih banyak lagi deretan kejahatan yang dilakukan.

 

Sebagai Gereja peziarah/pejuang kita menyadari bahwa acapkali kita menunjukkan sikap dan praktik hidup yang bertentangan dengan nilai-nilai injili. Dan Tuhan datang kepada kita melalui perumpaan yang kita renungkan ini agar kita benar-benar insaf akan panggilan kita. Kita insaf bahwa pesta perjamuan-Nya sudah disiapkan bagi kita. Kita memiliki satu pilihan untuk menghormati undangannya jika kita tidak mau kehilangan hak mengambil bagian dalam pesta Tuhan.

 

Maka marilah kita menunjukkan perilaku hidup kita sebagai orang-orang Kristiani yang membawa serta Tuhan dalam hidup kita. Kita menyelaraskan apa yang kita akui dengan sungguh dan yang kita ucapkan oleh bibir kita dengan sikap dan perilaku hidup kita. Itulah tanda kita menanggapi dengan serius undangan-Nya meski dalam kenyataan di dunia ini masih merupakan suatu antisipasi bagi perjamuan Tuhan. ***Apol***

Minggu, 01 November 2020

Diangkat Tuhan Dalam Jabatan Sebagai Pengawas

Luk 12:39-48

Seorang pemimpin yang barusan diangkat akan dilantik dan mengangkat sumpah atau janji berdasarkan keyakinan yang dimilikinya. Di bawah Kitab Suci, orang yang dilantik itu mengangkat sumpah/janji jabatan. Sumpah/janji itu diawali dengan rumusan: “Demi Allah/Tuhan, saya bersumpah/berjanji” dan selanjutnya diikuti dengan isi sumpah atau janji.

 

Menarik bahwa sebelum dilantik dan mengangkat sumpah/janji jabatan itu, kepada yang dilantik terlebih dahulu diingatkan bahwa sumpah/janji itu bukan saja disaksikan oleh diri sendiri dan semua yang hadir, melainkan juga yang terpenting adalah disaksikan oleh Tuhan Yang Maha esa.

 

Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan sungguh dihadirkan sebagai kekuatan utama yang menentukan orang yang dilantik untuk menjalankan tanggung jawab yang diberikan kepadanya secara baik. Jika di hadapan manusia yang hanya mengetahui apa yang kelihatan, baik perkataan maupun perbuatan, namun tidak melihat apa yang tersembunyi, maka penyalagunaan tanggungjawab bisa dilakukan juga dengan sengaja. Kesetiaan bisa berubah menjadi ketidaksetiaan. Namun tidaklah demikian bagi Allah.  Kepada Dia yang maha mengetahui, segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan. Orang yang bersumpah/mengangkat janji tidak akan pernah mengibuli  ataupun mengakali Tuhannya.

 

Hampir setiap kali menyaksikan peristiwa pelantikan dan pengangkatan sumpah/janji, orang yang dilantik begitu terlibat dalam situasi sumpah/janji. Wajahnya menjadi ceriah, gambaran jiwa yang lagi bersukacita. Ya, jabatan itu anugerah dari Allah. Pantaslah orang bersukacita karena anugerah itu dan wajahnya menjadi bersinar-sinar.

 

Karena sukacita ini maka seseorang yang baru dilantik dengan sangat antusias mengawali tugas dan tanggung jawabnya dengan janji-janji yang penuh harapan kalau tidak dibilang muluk-muluk. Hari-hari pertama dihiasi dengan antusiasme, optimisme dan tekad yang menggebu-gebu.  Dengan penuh percaya diri orang berjanji untuk tidak akan menyalagunakan kuasa, tidak akan melakukan KKN, tidak akan mengejar popularitas diri.

 

Namun seiring perjalanan waktu, sumpah/janji dan pernyataan-pernyataan yang diucapkan sampai mulut berbusa-busa itu begitu  mudah dilupakan. Orang berubah setia dan seolah-olah mengalami ‘amnesia’. Tuhan dan Kitab Suci-Nya disangkal secara praktis karena kepentingan diri. Kekuasaan mulai digunakan untuk melayani kepentingan diri; KKN pun mulai marak serta kecenderungan untuk mencari popularitas diri semakin melambung.

 

Kalau Tuhan dan Kitab Suci-Nya saja mudah diakali dalam praktik kekuasaan, maka orang yang menyaksikan sumpah/janji jabatan itu bukan saja dikibuli, ditekan, tetapi juga mudah dipermainkan bak seekor lembu yang dicocor hidung. Anehnya bahwa meskipun Tuhan disangkal namun acapkali ayat-ayat Kitab Suci dipakai untuk mendukung kepentingan diri. Sebuah kejahatan, oleh karena dibungkus dengan ayat-ayat suci, maka mudah diterima oleh mereka yang mau dibohongi.

 

Kitab Suci memang sudah mencatat bahwa tidak semua orang yang diangkat dalam jabatan melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagai hamba yang setia. Ada juga hamba yang jahat yang menggunakan kekuasaan sewenang-wenang untuk melayani kepentingan diri sendiri. Mereka menerima jabatan bukan untuk melayani, melainkan untuk mencari keuntungan diri dan berlaku jahat (Luk 12:45-47). Mereka itulah yang mungkin saja bekerja kotor untuk mendapatkan jabatan dan menggunakan sumpah jabatan sebagai kesempatan untuk kepentingan diri. Awalnya masih malu-lamu kucing akan tetapi kemudian menjadi begitu beringas, penuh hawa nafsu dan berbinar-binar.

 

Berkenaan dengan ini, Yesus dalam Injil hari ini mengingatkan orang yang berkuasa dan terutama para pemimpin Kristiani, yang telah diangkat Tuhan menjadi pengawas segala milik-Nya, juga kepada semua kita yang beriman kepada-Nya dan telah menerima anugerah rohani dan jasmani. Tuhan mengingatkan agar semua kita, dan terutama para pemimpin agar setia dalam tugas dan tanggung jawab untuk menjaga dan memelihara apa yang menjadi milik kepunyaan Tuhan.

 

Di rumah sebagai orang tua, kita diangkat menjadi pengawas atas anak-anak yang Tuhan titipkan kepada kita; di sekolah guru-guru diangkat menjadi pengawas atas peserta didik; pengawas diangkat untuk para guru dan peserta didik; para pejabat diangkat untuk bawahan; pastor paroki diangkat untuk umat beriman. Semua kita diangkat dengan jabatan kita masing-masing dan Tuhan menuntut kesetiaan kita sebagai seorang hamba yang bekerja bagi-Nya.

 

Baiklah dalam rasa takut yang suci akan Dia, kita berusaha menjaga diri kita agar tidak lupa diri bahwa kita ini diangkat dalam jabatan sebagai pengawas tetapi sejatinya kita tetap hamba; bahwa pada saatnya kita harus mempertanggungjawabkan tugas kita kepada Tuhan. Mudah-mudahan kita didapati Tuhan sebagai seorang hamba yang setia. ***Apol***

 

KITA SEMUA AKAN DIBANGKITKAN

Yoh 6:37-40

Kemarin (1 November) kita telah merayakan salah satu pesta iman dalam gereja Katolik yakni pesta semua orang kudus. Dalam terminologi Katolik, persekutuan para kudus dikatakan terdiri dari Gereja yang masih berziarah (kita yang masih hidup di dunia), Gereja yang sedang dimurnikan (mereka yang menjalani pemurnian dalam api penyucian untuk menuju sorga), dan Gereja yang berjaya (mereka yang telah berada dalam sorga). Pada hari ini (2 November), kita semua boleh berbahagia karena merayakan hari semua arwah orang beriman. Tak bisa dipungkiri bahwa semua orang beriman yang telah meninggal tetap memiliki ikatan khusus dengan kita semua yang masih hidup di atas dunia ini. Kita semua telah diikat oleh gereja yang satu dan sama. Gereja adalah persekutuan para kudus. Persatuan mereka yang sedang dalam perjalanan dengan para saudara yang sudah beristirahat dalam damai Kristus, sama sekali tidak terputus. Bahkan menurut iman Gereja yang abadi diteguhkan karena saling berbagi harta rohani (LG 49).

 

Dan kita semua sebagai wujud Gereja yang masih berziarah memiliki kewajiban untuk tetap membangun relasi yang intim dengan semua arwah orang beriman. Tidak hanya hari ini secara khusus kita mendoakan mereka. Namun dalam setiap waktu kita tetap berdoa memohon keselamatan agar mereka juga boleh bergabung dengan para kudus yang telah memasuki Gereja jaya. Menurut Pater Alex Jebadu (Penghormatan Kepada Orang Mati: Bukan Berhala), kita memberi penghormatan kepada orang mati bukan hanya untuk mendoakan keselamatan mereka. Kita juga mau meniru atau mewarisi hal-hal baik yang telah ditinggalkan oleh mereka. Dengan demikian, kita semakin mereparasi kualitas hidup iman kita agar dapat beroleh keselamatan di sorga.

 

Sehubungan dengan perayaan iman hari ini, dalam bacaan Injil (Yoh 6:37-40), Yesus mengatakan: “Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan dibuang” (Yoh 6:37). Yesus melanjutkan: “Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman” (Yoh 6:40). Kita yakin, bahwa semua arwah orang beriman adalah orang-orang yang sungguh-sungguh beriman semasa mereka masih mengembara di atas dunia. Mereka (dan kita) juga berada dalam persekutuan para kudus. Hanya sebagai seorang manusia biasa, mereka juga tidak luput dari kuasa duniawi yang menyesatkan. Ada banyak kali mereka jatuh, bangun dan jatuh lagi dalam kubangan dosa. Ada yang kemudian sungguh-sungguh bertobat sebelum berpulang menuju Bapa. Tetapi ada banyak juga yang belum sempat bertobat.

 

Karena mereka adalah milik kepunyaan Allah, maka mereka masih diberi kesempatan istimewa untuk memurnikan tubuhnya di api penyucian sebelum masuk dalam kerajaan sorga. Sesuai dengan janji Yesus sendiri bahwa Ia tidak akan membuang orang-orang yang datang kepada-Nya. Malahan Ia akan membangkitkan dan memberi kehidupan kekal bagi mereka yang sungguh-sungguh percaya. Tentu semua orang beriman yang telah meninggal tidak dapat berjuang sendiri. Mereka masih membutuhkan dukungan doa dari kita agar mereka tidak dibuang dan ditinggalkan oleh Allah. Melalui doa-doa yang kita panjatkan setiap waktu, Allah melalui Putra-Nya Yesus Kristus akan mengampuni segala dosa mereka. Akan tiba pada saatnya, mereka juga dibangkitkan untuk dapat memperoleh hidup yang kekal bersama Bapa di sorga.

 

Dalam iman kita percaya bahwa oleh karena kebangkitan Yesus, keselamatan itu akan direngkuh dan menjadi milik kita semua yang percaya kepada-Nya. Tanpa kebangkitan Yesus, hidup kita menjadi sia-sia. Tentu tidak ada kebangkitan sesudah kematian. Oleh karena kurban Yesus di salib, kita semua diselamatkan. Dan karena kebangkitan-Nya atas maut, semua kekasih jiwa kita yang telah meninggal akan juga dibangkitkan untuk memperoleh keselamatan kekal. Tidak hanya keselamatan kekal tetapi semua arwah orang beriman akan mendapat kebahagiaan yang paripurna. Kebahagiaan yang paling sempurna untuk bertatap muka secara langsung dengan Sang Pencipta. Dan ini hanya terjadi melalui kematian.

 

Hari ini melalui peringatan semua arwah orang beriman, kita sekalian diundang untuk merefleksikan beberapa hal di bawah ini. Pertama, semua arwah orang beriman pasti mendapat keselamatan berkat dukungan doa yang kita panjatkan. Mereka tidak mungkin berdoa sendiri untuk mendapatkan keselamatan. Karena itu, kita yang mengambil bagian dalam persekutuan orang kudus, semestinya menyadari hakikat panggilan iman untuk terus memberikan dukungan dalam bentuk doa agar mereka juga bisa memperoleh keselamatan. Kedua, kematian adalah sebuah kepastian dalam hidup seorang manusia. Kita senantiasa dibimbing dan dikuatkan untuk tidak takut dengan pengalaman kematian. Justru dengan kematian itulah, kita akan menggapai kebahagiaan yang paling sempurna untuk bertemu dengan Allah. Karena keteguhan iman, kita akan dibangkitkan bersama Yesus yang telah bangkit. Ketiga, untuk dapat memperoleh kebangkitan dan kebahagiaan sorgawi, kita selalu diingatkan untuk terus memperbaiki kualitas hidup dari hari ke hari. Sebagai manusia, pasti kita akan jatuh dan terus jatuh dalam dosa. Jatuh itu pengalaman yang biasa. Akan menjadi luar biasa apabila kita senantiasa bangkit untuk bertobat dan kembali ke jalan kebenaran-Nya.

 

Kunci dari semua hal yang diuraikan di atas adalah percaya kepada Tuhan. Kita menaru sikap percaya bahwa para kekasih hati kita yang telah meninggal akan segera dibangkitkan dan memperoleh hidup yang kekal karena mereka adalah bagian dari para orang kudus yang telah dimurnikan. Kita juga menaru sikap percaya kepada Tuhan dengan memberi garansi akan segala perbuatan baik yang kita lakukan di atas bumi ini. sehingga kelak, kita juga akan dibangkitkan dan memperoleh hidup yang kekal bersama Bapa di dalam sorga. Semoga. ***Atanasius KD Labaona***