Luk 21:20-28
Seusai
melaksanakan tugas perutusan-Nya di dunia, Yesus kembali kepada Bapa-Nya. Ia
naik ke surga dan ditandai dengan awan. Lukas menulis bahwa setelah Ia meminta
para murid-Nya untuk tidak menginggalkan Yerusalem untuk menantikan datangnya
Roh Kudus yang memeteraikan mereka menjadi pewarta Injil ke seluruh dunia, “...
terangkatlah Ia disaksikan oleh mereka, dan awan menutup-Nya dari pandangan
mereka” (Kis 1:9).
Dan ketika mereka
menyaksikan Yesus naik ke surga dengan cara demikian, datanglah malaikat Tuhan
dan berkata kepada mereka: “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri
melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke sorga meninggalkan kamu, akan
datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke sorga” (Kis
1:11).
Kata-kata
malaikat ini meningatkan mereka akan apa yang dikatakan Yesus dalam nubuat-Nya
tentang kehancuran Yerusalem dan akhir zaman yang ditandai dengan gejala kosmis
dan berbagai penderitaan yang menyertainya. Ia berkata: “Pada waktu itu orang
akan melihat Anak Manusia datang dalam awan dengan segala kekuasaan dan
kemuliaan-Nya” (Luk 21:27).
Awan ditampilkan
sebagai suatu yang berarti dan bukan hanya sebagai suatu fenomena alam. Awan
menyusui bumi melalui hujan yang diturunkan dari langit hingga pada gilirannya
bumi pun menyusui makhluk hidup yang berada di atasnya melalui aneka kehidupan
yang muncul. Dalam kalangan Israel kuno, awan sangat dihormati dengan penuh
kekaguman.
Kitab Suci menampilkan
awan sebagai simbol dari transendensi. Ia dapat dialami dan dilihat. Allah
memimpin bangsa Israel dalam bentuk tiang awan (Kel 13:21). Ketika peristiwa
transfigurasi terjadi di atas gunung yang tinggi, awan menyelubungi Yesus dan
para murid-Nya. Allah berbicara dari dalam awan (Bil 12:5; Mrk 9:7). Awan
malahan menjadi tempat tinggal Allah (Mzr 68:5) dan tanda kehadiran-Nya di
dalam Bait Allah (1 Raj 8:10-11).
Pada akhir zaman,
Yesus datang dalam kekuasaan dan kemuliaan Allah. Dalam tangan-Nya ada kuasa untuk menghakimi yang telah
diberikan oleh Bapa-Nya. Semua tanda kosmis yang menyertai kedatangan-Nya kedua
itu mendatangkan kepanikan dan rasa takut yang membawa kematian. Namun itu terjadi
bagi mereka yang menolak dan memusuhi-Nya. Orang beriman akan berdiri kokoh,
siap dan menanti penyelamatan dari Tuhan seperti bangsa Israel di masa
perbudakan Mesir.
Tanda-tanda
kosmis dan gejala-gejala alam yang berhubungan dengan lukisan Injil yang
menyertai kedatangan Tuhan bukan tidak nyata kita alami dalam zaman hidup kita.
Virus Corona yang mendera bumi ini dan mendatangkan kematian yang memilukan
hati bangsa manusia di bumi ini, juga konflik dan pertentangan antarmanusia
karena penyesatan dan berbagai situasi kaotik yang mencengkam bisa menunjuk
pada apa yang dikatakan Lukas dalam Injil hari ini.
Meskipun masa dan
waktunya bagi kedatangan Yesus dalam awan dengan kekuasaan dan kemuliaan Allah
tidak diketahui oleh seorang pun, sebab Bapa sendirilah yang menetapkan menurut
kuasa-Nya sendiri (Kis 1:7), namun bagi kita tanda-tanda kosmis itu dalam arti
rohani menjadi suatu tanda penting bagi kita untuk mengantisipasi
kedatangan-Nya yang tidak terduga.
Maka menarik masa
dan waktu yang tidak kita ketahui ke dalam situasi hidup kita yang jamak dengan
berbagai tanda kosmis yang dapat kita lihat dan alami membuat kita sadar akan pentingnya hidup kita bukan
pertama-tama pada apa yang kita jalani di dunia sekarang ini, melainkan pada
kenyataan dunia akhirat. Ini mengarahkan kita untuk hidup di dunia ini dengan orientasi
kepada kenyataan hidup yang lebih mulia kelak.
Dunia dan hidup
ini akan berakhir. Akhir dunia yang bakal kita alami seperti yang digambarkan
Lukas sangat ditentukan oleh sikap iman dan hidup yang kita tunjukkan selama
hidup di dunia ini. Iman dan hidup akan menentukan apakah kita menghadapi
situasi akhir zaman dengan penuh kepanikan, kegentaran dan ketakutan yang
mematikan atau dalam keteguhan kita berdiri menantikan kedatangan Yesus penuh
kemuliaan sebagai saat penyelamatakan kita?
Marilah kita
menentukan sekarang apa yang ingin kita alami pada saat akhir sebagai saat yang
membahagiakan, bukan ketakutan, kegentiran dan kematian. Percayalah bahwa iman
dan hidup menurut tuntutan iman akan membawa kita pada pengalaman akhir yang
membahagiakan, bukan saat kematian melainkan saat keselamatan. ***Apol***