Kis 8:26-40 & Yoh 6:44-51
“Sesungguhnya
barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh 8:47). Itulah sabda
Yesus yang Ia sampaikan berkenaan dengan kesaksian tentang diri-Nya sebagai
roti hidup. Berbeda dengan manna yang dimakan nenek moyang orang Israel di
padang gurun dan mereka telah mati, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai roti yang
turun dari surga dan memberi hidup kekal. Setiap orang yang makan roti itu
tidak akan mati.
Sabda Yesus ini
menunjuk pada kebenaran esensial bahwa keselamatan kekal itu berhubungan erat
dengan Pribadi-Nya sebagai Mesias. Kehidupan kekal bukan sebuah prediksi akan
suatu hidup masa depan yang kabur dan samar-samar yang dihasilkan dari suatu
khayalan spiritual, melainkan berhubungan dengan Pribadi Yesus yang nyata. Dia
yang dapat dilihat, diraba, disentuh dan dicium. Kehidupan kekal karena itu
bukanlah suatu yang abstrak, melainkan nyata.
Karena
berhubungan dengan Pribadi yang nyata yang ada, hadir dan menyertai manusia,
maka kehidupan kekal itu juga nyata sekarang ini di dalam kehidupan di dunia
ini. Ia bukan suatu proyeksi ke masa depan melulu melainkan berkenaan juga
dengan masa sekarang ini. Beriman kepada Yesus berarti mengambil posisi di
dalam Dia dalam segala waktu dan itulah dasar dari hidup kekal.
Pada saat
seseorang menyatakan iman dan kepercayaannya kepada Kristus Yesus, maka ia
menerima Pribadi Yesus yang memberi hidup kekal itu. Itu berarti bahwa sejak
iman itu diproklamirkan secara personal di hadapan saksi maka sejak saat itu
hidup kekal sudah berawal di dalam diri orang itu. Seorang Etiopia, seorang
sida-sida yang menyatakan kepercayaannya kepada Yesus, sebagaimana dikisahkan
dalam bacaan pertama, adalah seorang yang telah mengambil bagian dalam hidup
kekal. Iman dan baptisannya telah menghantarkan ia pada perjumpaan dengan
Pribadi Kristus yang memberikan kehidupan kekal itu.
Menghayati
kebenaran fundamental ini secara konsekuen dalam kehidupan kristiani akan
sangat menentukan hidup orang Kristiani mulai sekarang di atas dunia ini. Hidup
kekal bukan suatu masa yang ada jauh di depan, tetapi sudah mulai sekarang ini,
hari ini, saat ini sehingga orang terpanggil dan selalu tergerak untuk
membangun hidupnya sesuai dengan iman dan kebenaran-kebenaran iman yang diajarkan.
Orang tidak akan lalai, tidak abai, juga tidak kompromistis, melainkan proaktif,
tekun, setia dan penuh perjuangan dalam membangun hidup yang baik sebagai orang
Kristiani.
Berpikir melulu
sebagai suatu masa yang akan terjadi pada masa yang akan datang bisa membuat
orang menjadi santai, tidak berjuang dengan sungguh-sungguh atau malas, hidup
menjadi biasa-biasa saja. Orang berpikir bahwa masih ada waktu. Konsekuensinya
adalah buah kehidupan tidak memperlihatkan karakter kehidupan sebagai orang Kristiani
yang sejati. Orang tidak militan, melainkan “melempem”.
Iman mestinya
membuat orang menjadi aktif dan hidup sebab daya yang bekerja di dalam diri
orang beriman berasal dari Allah yang hidup. Kekuatan Allah itu bersifat
dinamis dan menjiwai orang untuk aktif dan hidup. Dalam segala situasi orang tetap teguh
berdiri dan berkanjang dalam perbuatan-perbuatan imannya.
Oleh karena daya
Allah itu dinamis maka orang yang komit dan konsisten dengan imannya tidak dibuat
menjadi robot, orang tidak menjadi kaku dan rigoristis, melainkan dinamis sesuai
jiwa Allah sendiri.
Refleksi ini
menyadarkan kita bahwa iman adalah dasar hidup kita. Kita hidup oleh karena iman kita; tanpa iman kita tidak
akan bertahan. Iman yang sama itu pula yang membuat kita mengalami bahwa setiap
saat adalah situasi dan realitas keselamatan
kekal. Kita tidak menunggu sampai saat kesudahannya melainkan sekarang inilah
saatnya kita mengalami dan menikmati situasi kehidupan kekal itu.
Berkenaan dengan
ini, maka hendaknya kita sekalian yang telah mengimani Kristus sebagai
keselamatan kita atau bahasa Injil hari ini adalah “roti hidup” tidak
menyia-nyiakan waktu kita sekarang tanpa hidup di dalam iman. Janganlah kita
memandang dengan remeh iman itu atau bermain-main dengan iman melalui sikap-sikap
hidup yang bertentangan dengan iman kita. Jiwailah hidup kita sekarang dengan
iman kita sampai pada waktunya kita boleh menikmati kesempurnaan hidup kekal
itu dalam keadaan kita yang baru.
Dunia pekerjaan
dengan segala kewajiban yang melekat di dalamnya adalah medan melalui mana kita
masing-masing menghayati iman kita akan Kristus Tuhan. Namun sebagai orang
beriman Katolik, hidup iman kita belum menjadi sempurna jikalau kita belum
datang kepada rahmat sakramental di dalam Ekaristi sebagai suatu warisan iman
yang paling luhur dan mulia. Di dalam Ekaristi kita berjumpa dengan Pribadi
Ilahi yang menganugerahkan rahmat keselamatan hidup kekal itu.
Karena itulah
maka patutlah kita memandang sebagai kebutuhan riil kita untuk bertemu dengan
Dia di dalam Ekaristi. “Roti Hidup” itu hadir secara nyata dan mulia di dalam
Ekaristi. Melalui perjumpaan pribadi dengan-Nya di dalam Ekaristi, kita akan
dijiwai untuk menjalankan hidup kita secara berdayaguna dalam dunia hidup dan
kerja kita yang nyata. Hidup dan kerja kita adalah konteks kita menghadirkan
dan menyaksikan realitas kehidupan kekal yang dianugerahkan Kristus Tuhan
kepada kita. Mulailah sekarang juga dan jangan tunda besok.***Apol Wuwur***