Rabu, 29 April 2020

KEHIDUPAN KEKAL ITU SUDAH ADA SEKARANG


Kis 8:26-40 & Yoh 6:44-51

“Sesungguhnya barangsiapa percaya, ia mempunyai hidup yang kekal” (Yoh 8:47). Itulah sabda Yesus yang Ia sampaikan berkenaan dengan kesaksian tentang diri-Nya sebagai roti hidup. Berbeda dengan manna yang dimakan nenek moyang orang Israel di padang gurun dan mereka telah mati, Yesus menyatakan diri-Nya sebagai roti yang turun dari surga dan memberi hidup kekal. Setiap orang yang makan roti itu tidak akan mati.

Sabda Yesus ini menunjuk pada kebenaran esensial bahwa keselamatan kekal itu berhubungan erat dengan Pribadi-Nya sebagai Mesias. Kehidupan kekal bukan sebuah prediksi akan suatu hidup masa depan yang kabur dan samar-samar yang dihasilkan dari suatu khayalan spiritual, melainkan berhubungan dengan Pribadi Yesus yang nyata. Dia yang dapat dilihat, diraba, disentuh dan dicium. Kehidupan kekal karena itu bukanlah suatu yang abstrak, melainkan nyata.

Karena berhubungan dengan Pribadi yang nyata yang ada, hadir dan menyertai manusia, maka kehidupan kekal itu juga nyata sekarang ini di dalam kehidupan di dunia ini. Ia bukan suatu proyeksi ke masa depan melulu melainkan berkenaan juga dengan masa sekarang ini. Beriman kepada Yesus berarti mengambil posisi di dalam Dia dalam segala waktu dan itulah dasar dari hidup kekal.

Pada saat seseorang menyatakan iman dan kepercayaannya kepada Kristus Yesus, maka ia menerima Pribadi Yesus yang memberi hidup kekal itu. Itu berarti bahwa sejak iman itu diproklamirkan secara personal di hadapan saksi maka sejak saat itu hidup kekal sudah berawal di dalam diri orang itu. Seorang Etiopia, seorang sida-sida yang menyatakan kepercayaannya kepada Yesus, sebagaimana dikisahkan dalam bacaan pertama, adalah seorang yang telah mengambil bagian dalam hidup kekal. Iman dan baptisannya telah menghantarkan ia pada perjumpaan dengan Pribadi Kristus yang memberikan kehidupan kekal itu.

Menghayati kebenaran fundamental ini secara konsekuen dalam kehidupan kristiani akan sangat menentukan hidup orang Kristiani mulai sekarang di atas dunia ini. Hidup kekal bukan suatu masa yang ada jauh di depan, tetapi sudah mulai sekarang ini, hari ini, saat ini sehingga orang terpanggil dan selalu tergerak untuk membangun hidupnya sesuai dengan iman dan kebenaran-kebenaran iman yang diajarkan. Orang tidak akan lalai, tidak abai, juga tidak kompromistis, melainkan proaktif, tekun, setia dan penuh perjuangan dalam membangun hidup yang baik sebagai orang Kristiani.

Berpikir melulu sebagai suatu masa yang akan terjadi pada masa yang akan datang bisa membuat orang menjadi santai, tidak berjuang dengan sungguh-sungguh atau malas, hidup menjadi biasa-biasa saja. Orang berpikir bahwa masih ada waktu. Konsekuensinya adalah buah kehidupan tidak memperlihatkan karakter kehidupan sebagai orang Kristiani yang sejati. Orang tidak militan, melainkan “melempem”.

Iman mestinya membuat orang menjadi aktif dan hidup sebab daya yang bekerja di dalam diri orang beriman berasal dari Allah yang hidup. Kekuatan Allah itu bersifat dinamis dan menjiwai orang untuk aktif dan hidup.  Dalam segala situasi orang tetap teguh berdiri dan berkanjang dalam perbuatan-perbuatan imannya.

Oleh karena daya Allah itu dinamis maka orang yang komit dan konsisten dengan imannya tidak dibuat menjadi robot, orang tidak menjadi kaku dan rigoristis, melainkan dinamis sesuai jiwa Allah sendiri.

Refleksi ini menyadarkan kita bahwa iman adalah dasar hidup kita. Kita hidup  oleh karena iman kita; tanpa iman kita tidak akan bertahan. Iman yang sama itu pula yang membuat kita mengalami bahwa setiap saat  adalah situasi dan realitas keselamatan kekal. Kita tidak menunggu sampai saat kesudahannya melainkan sekarang inilah saatnya kita mengalami dan menikmati situasi kehidupan kekal itu.

Berkenaan dengan ini, maka hendaknya kita sekalian yang telah mengimani Kristus sebagai keselamatan kita atau bahasa Injil hari ini adalah “roti hidup” tidak menyia-nyiakan waktu kita sekarang tanpa hidup di dalam iman. Janganlah kita memandang dengan remeh iman itu atau bermain-main dengan iman melalui sikap-sikap hidup yang bertentangan dengan iman kita. Jiwailah hidup kita sekarang dengan iman kita sampai pada waktunya kita boleh menikmati kesempurnaan hidup kekal itu dalam keadaan kita yang baru.

Dunia pekerjaan dengan segala kewajiban yang melekat di dalamnya adalah medan melalui mana kita masing-masing menghayati iman kita akan Kristus Tuhan. Namun sebagai orang beriman Katolik, hidup iman kita belum menjadi sempurna jikalau kita belum datang kepada rahmat sakramental di dalam Ekaristi sebagai suatu warisan iman yang paling luhur dan mulia. Di dalam Ekaristi kita berjumpa dengan Pribadi Ilahi yang menganugerahkan rahmat keselamatan hidup kekal itu.

Karena itulah maka patutlah kita memandang sebagai kebutuhan riil kita untuk bertemu dengan Dia di dalam Ekaristi. “Roti Hidup” itu hadir secara nyata dan mulia di dalam Ekaristi. Melalui perjumpaan pribadi dengan-Nya di dalam Ekaristi, kita akan dijiwai untuk menjalankan hidup kita secara berdayaguna dalam dunia hidup dan kerja kita yang nyata. Hidup dan kerja kita adalah konteks kita menghadirkan dan menyaksikan realitas kehidupan kekal yang dianugerahkan Kristus Tuhan kepada kita. Mulailah sekarang juga dan jangan tunda besok.***Apol Wuwur***






AKU MELAKUKAN KEHENDAK DIA YANG MENGUTUS AKU


Yoh 6 : 35 – 40
Santa Katarina lahir di kota Siena, Republik Siena sebuah ( Negara makmur di Italia ) pada tanggal, 25 Maret 1347. Santa Katarina adalah seorang Perawan dan Pujangga Gereja. Dia adalah anak ke 24 dari 25 orang bersaudara ( kembaran ke 23 meninggal sejak lahir). Katarina adalah seorang  “tertiari” Ordo Dominikus ( atau “ hubungan awam “ Ordo Dominikus ). Sebagai tetiari Katarina tinggal di rumah dan bukan di biara dan dia melakukan kesederhanaannya. Katarina terkenal karena puasa dan melakukan penahanan diri yang mungkin sekarang ini lebih dikenal dengan istilah anorexia nervosa.  Katarina tidak bersekolah dan tidak pandai menulis. Keterampilan membaca sangat sedikit dikuasainya. Hal ini sedikit menolongnya untuk mengikuti doa ofisi di kemudian hari ketika ia masuk biara. Pada saat berusia enam tahun, Katarina mengalami suatu peristiwa ajaib, yang memberi tanda surgawi bahwa ia akan dipilih Allah untuk suatu tugas khusus dalam Gereja. Ia melihat Kristus di atas Gereja Santo  Dominikus yang sedang memberkatinya. Peristiwa ini menyebabkan perubahan besar dalam hidupnya. Sejak saat itu, ia suka memencilkan diri untuk berdoa. Ibunya tidak suka melihat kelakuannya, oleh karena itu ia di pekerjakan di dapur dari pagi hingga malam. Ia tidak memberontak terhadap perlakuan ibunya. Sebaliknya ia dengan taat dan rajin melakukan apa yang disuruh ibunya.

Dengan kesabaran yang ia miliki akhirnya membuahkan hasil yang baik. Ia  mampu mengatasi kesulitan yang dihadapi sambil terus berdoa kepada Tuhan.  Dan pada akhirnya orangtua mengijinkan untuk masuk ordo ketiga Santo Doninikus. Di dalam biara ia tetap melaksanakan doa dan meditasi di samping karya amal dan kerasulannya. Lama-kelamaan ia diangkat menjadi pemimpin biara karena kerohanian dan kepribadiannya yang begitu baik. Situasi Gereja saat itu tidak menampilakan diri secara baik. Peperangan antar Negara dan antar Raja-raja timbul dimana-mana. Disamping itu Sri Paus di Avigon, Perancis yang sudah berusia 70 tahun yang menimbulkan percekcokan di kalangan pemimpin-pemimpin gereja. Dalam suatu penglihatan Kristus menganjurkan kepada Katarina untuk menyurati Paus, raja-raja dan uskup serta para panglima guna memperbaiki masyarakat dan Gereja. Paus Gregorius XI memintanya pergi ke Pisa dan Florence untuk mendamaikan kedua republik itu.  Katarin berhasil menyakinkan Paus untuk pulang ke Roma sebagai kota abadi dan Pusat Gereja. Semenjak masuk ordo Ketiga Santo Dominikus, Katarina makin memperkeras puasanya. Banyak kali ia tidak makan, kecuali menerima komuni suci.  Ia dikaruniai Stigma/luka-luka Tuhan Yesus.  Atas permohonannya stigma itu tidak terlihat oleh orang lain selama hidupnya. Setelah meninggal stigmanya baru terlihat oleh orang lain di badannya secara jelas. Katarina memiliki karisma yang begitu besar untuk mempengaruhi banyak orang. Ia berhasil membawa kembali pendosa ke jalan Tuhan, termasuk mendamaikan raja-raja dengan gereja. Katarina meninggal dunia pada tanggal 29 April 1380 dalam usia 33 tahun.  Gereja  melalui Paus Pius II mengkanonisasikan Katarina pada tahun 1461. Suratnya dianggap sebagai literature awal Tuscan dan hari peringatannya adalah setiap tanggal 29 April. Santa Katarina sebagai pelindung Kebakaran, kesakitan fisik, keguguran. Ia menganggap dirinya hanyalah sebagai alat Tuhan untuk menegakkan kemuliaan Tuhan. (@Iman_Katolik)

Injil hari ini mengatakan Semua yang diberikan Bapa kepadaKu akan datang kepadaKu, dan barang siapa datang kepadaKu ia tidak akan kubuang. Kalau ada orang yang datang dan percaya kepada Yesus itu adalah penyelenggara Allah sendiri. Denga cara yang tidak terduga Allah membuat orang beriman kepada Yesus.  Allah bisa menggunakan apa saja sebagai sarana untuk mengantar orang menemukan hidup kekal di dalam Yesus. Roh Allah akan berkarya untuk memberitakan karya penyelamatan dari Allah.

Tanggungjawab ini besar karena iman banyak orang bergantung pada pemberitaan injil itu. Tanggung jawab ini yang secara konsekwen dijalankan oleh Yesus. Semua itu terjadi karena Yesus menyadari siapa dirinya dan memegang teguh komitmen perutusannya. Ia tidak menyimpang dari kehendak Bapa. Kalau kita menerima perutusan dari Bapa sebagaimana yang disampaikan Yesus, kewajiban kita adalah mewartakan cinta Allah melalui hidup dan karya kita.  Pewartaan itu bisa terjadi lewat kata-kata  langsung, tidak jarang lebih efektif justru lewat teladan hidup.

Disini kita ditantang untuk tidak menyimpang dari cinta Allah yang telah dianugerahkan kepada kita. Hanya denga cara itu kita tetap menjaga kelayakan kita sebagai utusan Allah. Namun kita perlu menyadari bahwa iman kita kepada Yesus juga bukan karena usaha kita.  Iman juga bukan sekedar warisan dari orangtua.  Iman itu kita miliki karena penyelenggaraan Allah sendiri. Karena cinta Allah begitu besar denga cara yang unik kita kahirnya mengimani Yesus sebagai jaminan hidup kekal, untuk kebangkitan diakhir jaman.

( Yoh 6 :35 – 40 )  Kata Yesus kepada mereka: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi.  Tetapi Aku telah berkata kepadamu: Sungguhpun kamu telah melihat Aku, kamu tidak percaya.  Semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang.  Sebab Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendak-Ku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus Aku.  Dan Inilah kehendak Dia yang telah mengutus Aku, yaitu supaya dari semua yang telah diberikan-Nya kepada-Ku jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman.  Sebab inilah kehendak Bapa-Ku, yaitu supaya setiap orang, yang melihat Anak dan yang percaya kepada-Nya beroleh hidup yang kekal, dan supaya Aku membangkitkannya pada akhir zaman." *** JK Lejab***

Senin, 27 April 2020

KITA DIPILIH DARI DUNIA SEBAGAI MILIK KEPUNYAAN KRISTUS


Kis 7:51-8:1a & Yoh 6:30-35

Dunia dengan keduniaannya adalah realitas yang tetap tinggal apa adanya. Semua orang menghadapi realitas itu sebagai suatu fakta yang tak dapat dihindari. Yang membedakan orang yang satu dengan yang lain adalah sikapnya terhadap situasi dunia ini. Ada yang masuk ke dalam situasi itu dan tenggelam di dalamnya. Yang lain berusaha beradaptasi sehingga tidak tenggelam di dalamnya. Ada jarak, ada identitas yang jelas. Ada kesejatian yang dipertahankan.

Oleh karena sikap itulah maka Yesus membedakan antara orang-orang dari dunia ini dan orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Hidup orang-orang dari dunia ini ditentukan oleh dunia ini. Mereka hidup oleh hikmat dan kenikmatan dunia Sedemikian kuatnya mereka terpikat dan menyatu dengan dunia ini  sehingga hampir mustahil mereka melepaskan diri dari dunia ini. Yesus menggambarkan kenyataan ini dengan ungkapan: “dunia mengasihi kamu sebagai miliknya” (Yoh 15:19).

Tidak demikian halnya dengan orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Hidup mereka tidak ditentukan oleh dunia ini meskipun mereka berada, hidup dan berkarya di dunia ini. Mereka tahu bahwa dunia ini akan berlalu (bdk. Mat 24:35). Karena itu, mereka berorientasi kepada dunia lain yang melampaui dunia yang sementara dan fana ini.

Kategori yang terakhir ini lazimnya ditemukan dalam diri orang-orang yang hidupnya ditentukan oleh iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Mereka percaya kepada sabda Tuhan, bukan pada dunia. Mereka itulah murid-murid Yesus dan semua orang yang beriman kepada Yesus, yakni orang-orang yang dipilih dari dunia ini. Yesus sendiri berkata: “Tetapi karena kamu bukan dari dunia, melainkan Aku telah memilih kamu dari dunia, sebab itulah dunia membenci kamu” (Yoh 15:19). Dan benar adanya bahwa dari zaman ke zaman orang-orang yang beriman kepada-Nya dibenci oleh orang-orang dari dunia ini.

St. Stefanus adalah salah satu dari deretan orang-orang yang hidupnya ditentukan oleh imannya. Ia tidak membiarkan dirinya dipengaruhi oleh kekuatan dunia ini, baik hikmat dunia maupun kenikmatannya. Yesus adalah segala-galanya. Ia telah mengalami kebenaran sabda Yesus: "Akulah roti hidup; barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan lapar lagi, dan barangsiapa percaya kepada-Ku, ia tidak akan haus lagi” (Yoh 6:35). Ia menyatu dengan Yesus. Karena itu, semakin ia dipengaruhi semakin ia menunjukkan keteguhan imannya. Malahan ia menjadi semakin radikal beriman kepada Yesus. Sebagai tanggungannya ia menghadapi kematianya dengan rela. Ia mati sebagai seorang martir pertama di dalam sejarah Gereja.

Menarik dari kehidupan Stefanus adalah bahwa ketika orang-orang dari dunia ini membencinya sehabis-habisnya dan menghadapkannya pada hukuman mati toh dia tidak pernah menampakkan tanda-tanda untuk memberontak dan melawan. Sebaliknya yang dilakukannya adalah mendoakan orang-orang dari dunia ini. "Tuhan, janganlah tanggungkan dosa ini kepada mereka!" Itulah doa Stefanus sebelum meninggal. Ia mengulangi apa yang dilakukan Yesus, Guru dan Tuhannya, ketika tergantung di salib: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat" (Luk 23:34). Sungguh mulia hati seorang Stefanus yang telah ditebus Yesus dan menjadi milik kepunyaan yang dicintai-Nya.

Sebagai murid-murid Kristus, semua orang Kristiani telah dipilih Yesus Kristus dari dunia ini dan mencintainya sebagai milik kepunyaan-Nya. Namun demikian orang-orang Kristiani tidak dipisahkan dari orang-orang dunia ini. Semua murid Yesus berada di tengah dunia ini, hidup dan berkarya di dunia ini. Ibarat ilalang dan gandum yang bertumbuh bersamaan dan berdampingan demikianlah semua murid Yesus berada di antara orang-orang dari dunia ini.

Yesus memilih kita dari dunia ini dan menempatkan kita di dunia ini untuk menunjukkan hidup kita sebagai murid-murid-Nya, murid-murid yang hidup oleh sabda yang keluar dari mulut-Nya. Identitas kita, oleh karena itu, menjadi suatu yang unik dan membedakan kita dengan yang lain. Identitas itu harus tetap ditunjukkan dan menjadi semakin terang dan jelas dalam pengalaman hidup yang nyata. Penolakan, kebencian, hujatan dan penghinaan, bahkan ancaman kematian pasti akan kita hadapi. Hanya keteguhanlah membuat kita tetap berdiri. Kita tetap menunjukkan kepada dunia bahwa kita adalah milik-Nya yang dicintai. Dan kita tidak berpaling dari Dia.

Mengikuti Stefanus dalam kesejatiannya, maka semakin kita dibenci semakin kita menyatu dengan Yesus; semakin kita radikal beriman kepada-Nya. Dalam kesatuan dan radikalitas iman itulah kita tergerak untuk melakukan sama seperti Stefanus kekasih-Nya. Itulah karakteristik  yang menandai identitas kita: mencintai meskipun ditolak dan mengampuni jika dibenci. Tampaknya kita menjadi orang-orang bodoh, akan tetapi “apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat” (1 Kor 1:27).

Kecuali jika identitas yang menandai keunikan itu tidak kita pertahankan, maka hidup kita akan berubah dan berada sepenuhnya di bawah pengaruh orang-orang dari dunia ini. Dalam situasi ini, bukan mustahil bahwa hidup kita akan menjadi terhimpit dan tenggelam dalam situasi dunia.  Gandum menjadi sulit dibedakan lagi dari ilalang. Demikianlah ibaratnya jika identitas kita menjadi hilang karena kita membiarkan diri kita dipengaruhi oleh dunia dan orang-orang dari dunia ini.

Baiklah kita menyadari situasi kita bahwa kita tidak selalu berjalan di jalan yang mulus. Jatuh bangun acap kali menjadi bagian dari irama hidup kita. Yang terpenting adalah bahwa kita dapat menyadari situasi kita dan bisa menata kembali hidup kita. Dan kita mesti akui bahwa pengalaman jatuh adalah hal penting agar kita tidak menaruh harapan kita kepada hikmat dunia dan kenikmatannya, melainkan kepada Kristus Yesus yang memberikan hidup kekal kepada kita. Baiklah kita membuka hati kita untuk sabda kebenaran-Nya supaya kita pun boleh tetap berharap kepada Dia. Di dalam Dia kita akan memperoleh hidup kekal: tidak akan ada kelaparan dan kehausan lagi. ***Apol Wuwur***

Minggu, 26 April 2020

PERCAYALAH KEPADANYA AGAR TIDAK DIHUKUM


Yoh 3 16-21
Epipodius adalah sebuah Santo pelindung para bujangan, korban pengkianatan, dan korban penyiksaan. Santo Epipodius bersama rekannya Alexander meninggal tahun 178  dan dihormati sebagai orang suci Keristen. Santo Epipodius adalah orang asli Lyon Prancis, sedangkan Alexander dikatakan sebagai orang Firigia, Yunani dan berprofesi sebagai Dokter. Keduanya meninggal akibat akibat kekejaman pemerintahan Marcus Aurelius.

Mereka pertama kali dikenalkan oleh St. Eucherius, sekitar tahun 440 dalam homilinya yang mengatakan Epipodius lahir di Lyon dan Alexander adalah orang Yunani, berasal dari Frigia. Mereka berdua adalha teman dekat sejak masa kecil mereka.  Epipodius dikatakan seorang bujang yang dikonfirmasi, yang mengabdikan waktunya untuk karya-karya Kristen. Semenjak masa penganiayaan di Lyon pada musim panas tahun 177,  Epipodius dan Alexander  yang telah di kecam sebagai orang Kristen meninggalkan kota dan tinggal di desa kecil terdekat. Mereka tinggal di sebuah rumah seorang janda Kristen miskin yang terletak di barat laut bukit Fourviere. Keduanya dikianati oleh otoritas kekaisaran oleh pelayan. Kemudian keduanya di penjarakan, disiksa, dan dihukum. Menurut Alban Butler, setelah mengalami penyiksaan di Rak,  Epipodius, yang lebih muda dari keduanya dipenggal. Alban Butler mengatakan bahwa Alexander, setelah mengalami pemukulan berkepanjangan dan brutal di dalam penjara dan disalibkan dan mati segera. Orang Kristen secara pribadi membawa mereka dan menguburkan mereka di sebuah bukit dekat kota. Tempat itu menjadi terkenal sesudahnya karena banyak mujizat, yang ditempa disana. Makam itu awalnya diluar tembok kota, tetapi kemudian tertutup didalamnya. Gregorius dari Tours mengatakan, bahwa pada abad ke enam, tubuh mereka, diletakkan di bawah tubuh St. Irenius, di Gereja St. John, yang sekarang disebut St. Irenius di bawah altar, tempat peninggalan kedua Martir suci ini ditemukan 1410. Epipodius dihormati sebagai Santo pelindung para bujangan, korban pengkianatan, dan korban penyiksaan          ( Wikipedia )

Injil hari ini berbicara dalam percakpan Nikodemus, Yesus mengingatkan akan hukum bagi orang yang tidak percaya kepada Bapa. Apakah bapak suka menghukum ? kan tidak. Hukum terbesar bagi orang tidak percaya ialah ia tidak berada didalam persekutuan dengan Bapa yang penuh cinta.  Ia menghukum dirinya sendiri dengan perbuatan-perbuatannya. Tak ada alasan yang lebih masuk akal daripada nubuat Yesaya “ Oleh karena engkau berharga dimataKu dan mulia dan aku ingin mengasihi engkau ( Yes 43 :4 ). Dengan mengemukakan alasan ini,  salib Kristus  memperoleh dimensi yang berbeda. Ia bukan tanda kehinaan melainkan kemuliaan, bukan pohon sumber dosa melainkan sumber keselamatan. Dosa dan kelalaian senantiasa melekat pada setiap manusia. Namun dosa tidak menyurutkan niat Bapa untuk mencintai. Hanya kita sering tidak menyadari hal ini dan menolak untuk berbalik dari dosa.  Siapapun yang berbuat jahat, dia membenci terang. Dia tidak datang kepada terang supaya perbuatan-perbuatan yang jahat itu tidak tampak. Dalam terang menjadi nyata,  bahwa perbuatan-perbuatan dilakukan dalam Allah. Dia percaya akan kasih Allah sehingga anaknya yang tunggal di karuniakan ke dunia. Kita diundang untuk percaya kepada Allah yang menjadi terang dan penyelamat dunia. Dengan demikian kita juga tidak berhak untuk mengambil bagian dalam persekutuan anak-anak Allah.

( Yoh 3 :16 – 21 ) Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.   Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.  Barangsiapa percaya kepada-Nya, ia tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.  Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.  Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak;  tetapi barangsiapa melakukan yang benar, ia datang kepada terang, supaya menjadi nyata, bahwa perbuatan-perbuatannya dilakukan dalam Allah."   ***JK_Lejab***

Kamis, 23 April 2020

KAMU HARUS DILAHIRKAN KEMBALI


( Yoh 3 : 1  - 8 )
Santa Agnes dari Montepulciano dari Italia, pada tahun 1268. Saat itu ia masih kanak-kanak yakni usia sembilan tahun, ia memohon kepad ibunya untul dapat tinggal di biara dekat tempat tinggal mereka. Agnes sangat senang hidup bersama para biarawati.  Mereka boleh melewati masa-masa hidup bersama dengan begitu bahagia. Agnes menyadari meski ia masih muda, ia dapat mengerti mengapa para biarawati dapat hidup dan berdoa dengan baik.  Karena itu alasannya mereka ingin hidup bersatu dengan Yesus. Dalam biara Agnes  yang masih Remaja melakukan mati raga dengan keras. Kesucian hidup segerara menjadi teladan bagi penghuni biara.

Santa Agnes dalam usianya ke lima belas dimana usia yang masih sangat  muda menjadi pemimpin biara. Santa Agnes  sering menderita sakit, namun ia sabra bahkan penyakit yang diderita amat parah. Ia mempersembahkan segala sesuatu kepada Tuhan. Menjelang akhir hidupnya, para biarawati tahu bahwa keadaannya tidak akan membaik.  Mereka semua merasa sangat sedih dengan keadaan Agnes.  “ Jika kalian mengasihi aku, tentulah kalian bergembira,  Sebaba aku akan segera masuk kedalam kemuliaan Yesus.” Kata Agnes kepada semua sahabatnya. Agnes wafat tahun 1317 dalam usia empat puluh Sembilan tahun. Ia dinyatakan kudus tepatnya tanggal 20 April 1726. Makamnya menjadi tempat siarah dan salah seorang pesiarah adalah Santa Katarina dari Siena. ( katakombe.org)

Injil hari ini mengisahkan pertemuan Yesus dan Nikodemus. Nikodemus mempunyai pengetahuan yang cukup baik sebagai seorang pemimpin Yahudi. Naumun dibalik pengetahuan yang cemerlang itu tersembunyi tidak kepastian. Karena itu ia mendatangi Yesus untuk mendapat bimbingan. Guru itu biasanya menjadi murid dan siap untuk dibimbing kearah pemahaman yang baru yang lebih sempurna. Yesus memenuhi harapannya dengan menampilkan satu ajaran baru yang menekankan kelahiran baru oleh air dan roh. Nikodemus tidak dapat lagi mempertahankan pola hidup iman yang lama. Kehadiran Yesus selaku pembaharu perlu diterima dengan sepenuh hati.

Kedatipun mempunyai pengetahuan dan peran sosial yang tinggi,  kitapun perlu senantiasa mencari penyempurnaan penghayatan iman seperti yang dilakukan Nikodemus. Pertanyaan-pertanyaan seputar iman bukan suatu tanda negative melainkanjustru memotivasi kita untuk semakin mendalami nilai-nilai iman. Semua ini menghatar kita kepada pemahaman yang benar tentang kelahiran baru oleh air dan roh. Babtisan dan pencurahan Roh ke atas diri kita menjadi modal yang kuat untuk mewartakan keagungan Kristus yang telah wafat dan bangkit kembali. Agnes muda menunjukan kecintaannya kepada kristus dengan menghibur saudara-saudaranya dalam biara,  “ Jika kalian mengasihi aku, tentulah kalian bergembira,  Sebaba aku akan segera masuk kedalam kemuliaan Yesus.” Pernah kah kalianmempertanyakan iman anda dan mencari bingbingan ? Semoga bermanfaat
( Yoh 3:1 – 8 ) Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi.  Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorang pun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."  Yesus menjawab, kata-Nya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah."  Kata Nikodemus kepada-Nya: "Bagaimanakah mungkin seorang dilahirkan, kalau ia sudah tua?
Dapatkah ia masuk kembali ke dalam rahim ibunya dan dilahirkan lagi?"  Jawab Yesus: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.  Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh.  Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.  Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh."   ***JK Lejab***


Selasa, 21 April 2020

SEMANGAT KASIH


 (Yoh 3: 16 – 21)

Selama tiga hari berturut-turut (Senin-Rabu) penginjil Yohanes menyajikan sebuah kisah yang menarik tentang percakapan Yesus dengan Nikodemus. Teks bacaan yang panjang tersebut dibagi dalam tiga edisi. Dan ditampilkan dalam tiga hari berturut-turut. Bacaan Injil hari ini merupakan akhir dari dialog antara Yesus dan Nikodemus. Setiap ungkapan Yesus bertujuan untuk meyakinkan Nikodemus tentang siapa Allah dan juga siapa diri-Nya agar Nikodemus mau membuka hati-Nya dan mengimani Yesus sebagai Putra Allah yang diutus untuk menyelamatkan manusia.

Ada tiga hal penting di akhir dialog yang membuat Nikodemus menerima dan mengimani pribadi Yesus. Pertama, kasih. Yesus menjelaskan Pribadi-Nya sebagai penjelmaan Allah yang selalu mengasihi meskipun manusia berdosa. Kasih Allah tidak penah surut ketika berhadapan dengan kelemahan dan kekurangan manusia. Kedua, penghakiman. “Barangsiapa yang tidak percaya dia berada di bawah hukuman.” Yesus memperhadapkan Nikodemus dengan paradox antara kasih dan penghakiman. Allah adalah kasih. Hanya orang dalam situasi berhadapan dengan Yesus dan tidak merasakan sesuatu yang indah dan bermakna, sesungguhnya ia sudah terhakimi. Sikapnya tersebut telah menghakimi dirinya sendiri. Dalam arti ketika ia berbuat salah dan merasa berdosa, kita berada dalam penghakiman atas diri kita sendiri. Allah tidak menghakimi tetapi Allah tetap menerima pertobatan kita. Ketiga, terang. Kepada Nikodemus, Yesus menjelaskan bahwa diri-Nya bukan hanya sebagai utusan Allah, bukan pula hanya sebagai perwujudan cinta Allah. Tetapi Ia juga adalah terang yang menerangi seluruh diri manusia. Terang yang senantiasa menerangi jalan hidup manusia kepada Allah. “Terang itu telah datang di dunia,” meskipun terang itu ditolak oleh banyak orang.

Dari ketiga aspek yang kita temukan dalam bacaan Injil hari ini, aspek kasih menjadi kunci utama yang menjelaskan eksistensi Allah dan Putera-Nya Yesus Kristus. Kasih menjadi dasar bagi Allah sendiri untuk menunjukkan keprihatinan-Nya kepada keselamatan umat manusia. Sikap kasih itulah yang membuat Allah menganugerahkan Putera-Nya yang Tunggal untuk menyelamatkan manusia dari kedosaannya. Keselamatan sebagai inisiatif dari Allah itu begitu terbuka tetapi bersifat pilihan. Terserah manusia mau menerimanya atau tidak. Keselamatan itu bersifat tawaran. Tidak memaksa. Kalau mau selamat, manusia menerima tawaran keselamatan dari Allah. Kalau tidak mau selamat, tentu manusia berbuat sebaliknya yakni menolak kasih Allah dan terus berbuat dosa. Tetapi Allah adalah Mahakasih. Ia tetap menerima kedosaan manusia sambil memberi kesempatan bagi manusia untuk menyadari kedosaannya dan bertobat. Bahkan berulang-ulang kali manusia melukai hati-Nya, Allah tetap setia  menawarkan kasih-Nya kepada umat manusia.
            Percakapan Yesus dengan Nikodemus memang cuma semalam. Tetapi sungguh membawa makna mendalam buat pribadi Nikodemus. Ia diingatkan dan disadarkan oleh Yesus untuk menerima warta keselamatan yang dibawa oleh Yesus sendiri. Ia tidak hanya mengakui Yesus sebagai guru dan utusan Allah tetapi lebih dari itu, ia harus sungguh percaya dan mengimani Yesus dalam kata-kata dan perbuatannya. Sebagai seorang tokoh agama Yahudi yang menempati posisi yang mapan dan sangat disegani oleh umat, Nikodemus sangat mungkin berpeluang untuk menyalahgunakan jabatan yang dimilikinya untuk menindas orang lain. Atau bisa juga ia berusaha mengeruk keuntungan pribadi. Oleh karena itu, Yesus menghendaki supaya Nikodemus meneladani spirit kasih yang telah diilhami oleh tindakan Allah sendiri dengan mengirim Yesus, Putra-Nya yang Tunggal ke tengah dunia. Dengan mengimani Yesus, Nikodemus telah secara bebas dan sadar menerima tawaran keselamatan dari Allah. Dan selanjutnya, ia akan mewartakan semangat kasih yang telah diterimanya kepada orang lain.

Tugas kita sebagai seorang murid Yesus di era ini juga harus senantiasa mewartakan semangat kasih yang telah kita terima secara cuma-cuma dari Yesus. Oleh sakramen pembaptisan, kita semua telah dilahirkan kembali untuk menerima tawaran keselamatan yang telah diberi oleh Allah melalui Yesus. Oleh karena itu, marilah kita membagikan semangat kasih itu kepada orang lain dengan tulus dan ikhlas. Dalam situasi terkini, di tengah badai covid-19, mungkin sungguh tepat apabila semangat kasih itu kita bagi dalam tindakan-tindakan konkrit yang membawa penghiburan, kekuatan, dan keselamatan bagi orang lain. Semoga. Tuhan memberkati.  ***Atanasius KD Labaona  ***

Senin, 20 April 2020

PENGALAMAN DIUBAH ITU NYATA


Kis 4: 32-37 & Yoh 3:7-15

Dalam pewartaan-Nya, Yesus mengungkapkan hal-hal surgawi dalam bahasa dan pengalaman manusia. Sekalipun bahasa manusia itu terbatas mengikuti hakikat dasar manusia sebagai yang terbatas, akan tetapi itulah satu-satunya cara yang membantu pikiran manusia mencapai hal-hal surgawi.
Kepada Nikodemus Yesus menyatakan hal yang sama. Yesus berbicara tentang suatu kehidupan baru yang diakibatkan oleh Allah melalui Roh Kudus-Nya. “Dilahirkan” sebagai Bahasa dan pengalaman manusiawi adalah wahana yang tepat untuk menggambarkan hal tersebut. Pengalaman diubah ke dalam keadaan yang baru, menjadi manusia baru yang hidup oleh Roh, bukanlah suatu hal yang utopis, melainkan suatu fakta yang dapat dialami dan dirasakan. Perubahan itu nyata. Dan merujuk kepada pengajaran-Nya itu Yesus berusaha menghilangkan skeptisisme yang sedang merasuki Nikodemus dengan berkata: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh 3:8). Yesus mau menandaskan bahwa apa yang dikatakan-Nya dapat dipercaya dan benar-benar terjadi. Yesus menyatakan demikian karena Ia berasal dari atas, dari Bapa. Ia tahu tentang kehidupan surgawi. Bahkan Ia sendiri adalah kebenaran itu sendiri (bdk. Yoh 14:6).

Kebenaran perubahan hakikat manusia kepada suatu kehidupan baru di bawah kuasa Roh itu dapat ditelusuri dalam kehidupan para murid Yesus dan kehidupan Jemaat Perdana. Peristiwa Pentekosta di mana Roh dicurahkan ke atas para murid benar-benar mengubah hidup mereka. Mereka secara militan mewartakan Kristus yang bangkit (bdk Kis 4:31). Mereka tidak takut akan risiko yang terjadi, melainkan dengan teguh berdiri dalam iman. Tepatlah Paulus berkata: “Karena bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan” (Fil 1:21). Itulah jiwa para rasul pasca Pentekosta.

Kesaksian mereka di bawah kuasa Roh telah mendatangkan hasil yang menakjubkan. Banyak orang menjadi percaya dan memberi diri dibaptis. Mereka itulah Jemaat Perdana yang hidup dalam komitmen iman yang teguh. Karena iman dan baptisan, mereka benar-benar diubah menjadi manusia baru oleh Roh Kristus yang bangkit. Oleh Roh yang sama mereka dibimbing untuk membangun hidup dalam persekutuan yang kuat.

Persekutuan yang kuat dan hidup oleh Roh itu ditandai dengan beberapa hal yang mendasar. Pertama, Roh membimbing mereka pada ketekunan dalam pengajaran para rasul. “Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus” (Rm 10:17). Karena itu maka Jemaat Perdana memandang sebagai suatu pilihan imperatif untuk memperdalam khazanah iman mereka dengan firman yang diwartakan oleh pra rasul. Iman timbul dari pendengarkan firman Allah, demikian pula iman menjadi hidup dan menghasilkan buah karena Sabda Allah (bdk Mzm 1:2-3). Itulah alasan mereka bertekun dalam pengajaran para rasul.

Kedua, Roh membimbing mereka kepada persekutuan yang kokoh (koinonia). Persekutuan itu ditandai dengan ‘persaudaraan sejati’ atau meminjam bahasa Lukas “mereka sehati dan sejiwa” (Kis 4:32). Ikatan persekutuan mereka itu adalah cinta kasih Kristus. Mereka saling mengasihi satu sama lain. Itulah sebabnya meskipun situasi kehidupan secara ekonomi berbeda satu dari yang lainnya akan tetapi “... tidak ada seorang pun yang berkekurangan di antara mereka” (Kis 4:34). Kasih mendorong mereka untuk berbagi atas dasar kerelaan dan spontanitas, bukan berdasarkan prinsip ekonomi yang dianut.

Ketiga, Roh membimbing mereka untuk setia dalam hal ikhwal pemecahan roti atau Ekaristi sebagai suatu yang hakiki dalam kehidupan komunitas mereka. Melalui “pemecahan roti” mereka menghadirkan secara nyata korban Kristus yang diadakan satu kali untuk selama-lamanya (Ibr 7:27). Ekaristi itu menghidupkan karena mereka menghadirkan Kristus yang berkorban demi hidup dan keselamatan mereka. Namun bersamaan dengan itu, melalui Ekaristi pula mereka mempersembahkan hidup mereka bersama Kristus kepada Allah dalam aspek vertikal dan kepada sesama dalam aspek horisontal, sambil menantikan kepenuhan hidup pada masa yang akan datang.

Keempat, Roh membimbing mereka kepada kesetiaan di dalam doa, sebab doa berperan penting dalam memperteguh dan menghidupkan komunitas beriman. Doa menjadi senjata mereka dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup. Doa juga kekuatan yang mempersiapkan diri mereka untuk memberikan kesaksian hidup. Dan lebih dari itu, ketekunan mereka dalam berdoa menjadi suatu pengungkapan iman yang hidup, bahwa mereka adalah komunitas orang-orang berdosa yang senantiasa membutuhkan penebusan Kristus.

Cara hidup Jemaat Perdana ini memperlihatkan apa yang menjadi pokok penekanan Kristus bahwa kelahiran kembali oleh air dan Roh adalah suatu yang dapat dipercaya dan benar-benar mengubah orang. Perubahan itu bukan terjadi pada aspek-aspek sekunder kehidupan, melainkan pada aspek-aspek yang hakiki. Karena itu pula maka perubahan itu juga bersifat konstan karena dibawa oleh Roh Kristus yang telah bangkit dan mengalahkan kematian akibat dosa.

Kelahiran kembali sebagaimana yang ditampakkan para rasul dan Jemaat Perdana itu bukanlah sebuah romantisme, suatu peristiwa masa lalu yang kehilangan daya pengaruhnya pada masa sekarang. Kelahiran kembali adalah suatu peristiwa kehidupan yang terjadi dan dialami secara nyata ketika kita sungguh memberikan diri kita diubah oleh Roh Kristus yang bangkit. Kita mungkin tidak menyadari sepenuhnya bagaimana perubahan itu terjadi akan tetapi nyata bahwa perubahan itu ada. Terkadang kita tidak mengakui bahwa perubahan itu ada atau menjadi skeptis. Dengan demikian kita memperlemah daya Roh yang bekerja dalam diri kita. Akan tetapi refleksi yang genuin atas bacaan-bacaan liturgis hari ini akan membantu kita untuk sampai kepada kebenaran kata-kata Yesus: “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh” (Yoh 3:8).

Marilah kita membaca diri kita secara jujur agar kita ditolong oleh Roh Kristus untuk menemukan fakta yang sebenarnya tentang diri kita dan bagaimana kita memandang kebenaran firman Kristus. Kita sesungguhnya belumlah sempurna sebagaimana para rasul dan Jemaat Perdana, akan tetapi kesadaran yang kita bangun mempersiapkan diri kita untuk mengalami kehidupan seperti para rasul dan Jemaat Perdana. Jika hal itu terlampau muluk bagi kita maka setidak-tidaknya kita tergerak ke arah hidup mereka. Kita akan mengalami bahwa Roh akan membuat kita jatuh cinta pada Sabda Allah, hidup dalam persekutuan iman, cinta kepada Ekaristi dan doa yang tidak pernah putus. Kita perlu menyadari bahwa kita terus membutuhkan penebusan Kristus dan mengalami pembaruan hidup oleh Roh-Nya yang kudus.***



Apol Wuwur


Minggu, 19 April 2020

MENELUSURI JALAN NIKODEMUS



Kis 4:23-31 & Yoh 3:1-8

Nikodemus adalah seorang pemimpin agama Yahudi dari kalangan Farisi. Ia berpendidikan tinggi dan memiliki pengetahuan yang dalam tentang hukum Taurat. Disebutkan bahwa ia adalah “pengajar Israel” dan kemungkinan besar menjadi anggoga “Makamah Agama” Yahudi  atau Sanhedrin. Oleh penginjil Yohanes, Nikodemus diperkenalkan sebagai orang yang berhati lurus dan setia.  Ia adalah pencari kebenaran.

Ia terpikat pada pribadi Yesus. Ia membuka hatinya bagi Yesus. Mujizat yang dilakukan Yesus dan pengajaran-Nya yang penuh kuasa menghantarnya pada keyakinan bahwa Yesus adalah Guru yang diutus oleh Allah. Yesus diidentifikasi sebagai sosok pembawa sekaligus pemilik kebenaran. Berhadapan dengan-Nya, tidak ada pilihan lain yang lebih baik daripada pilihan untuk membuka hati dan mendengarkan pengajaran-Nya.

Itulah sebabnya, Nikodemus keluar dari jalan para petinggi agama Yahudi yang merasa telah “memiliki kebenaran” yang sempurna lalu menutup hati terhadap kebenaran yang datang dari Yesus. Ia berani menyebrang ke sisi lain dari jalan yang sama untuk belajar menemukan kebenaran yang fundamental, yaitu kebenaran yang sungguh menghantar kepada keselamatan. Karena itulah maka ia mencari Yesus. Ia ingin sekali mendengarkan pengajaran Yesus secara khusus. Ia mau berdialog langsung dengan Yesus secara intensif. Dan penginjil Yohanes mengatakan bahwa Nikodemus datang kepada Yesus pada waktu malam.

Mengapa Nikodemus mendatangi Yesus pada waktu malam? Bukankah lebih baik ia mendengarkan Yesus pada waktu siang?  Nikodemus memiliki argumentasi tersendiri. Ia melakukan demikian mengingat ia sendiri tidak menghendaki bahwa publik mengetahui dirinya sebagai salah seorang murid Yesus, sebab jika tidak maka akan membangkitkan permusuhan dari orang-orang Yahudi. Teristimewa ia mau menghindari perdebatan panjang dan konflik internal kaum Farisi karena sikapnya itu: Ia menerima Yesus, sementara kaumnya yang lain menolak Yesus. Ia menyadari, dua sikap yang berbeda itu memiliki potensi besar untuk memercikan api permusuhan. Nokodemus mau menghindari skandal yang bisa menimbulkan huru-hara besar, sekalipun menjadi nyata pula bahwa Nikodemus takut akan kekuatan dari mayoritas yang mengadilinya secara sepihak seperti lazimnya mereka lakukan terhadap Yesus.

Lebih dari sekedar melihat alasan-alasan ini, tindakan Nikodemus memiliki perspektif lain yang jauh lebih bernilai dan justru itulah yang hendak ditangkap dan dihidupi sebagai suatu spiritualitas yang memberi makna pada kehidupan kita. Secara berturut-turut kita akan melihat alasan mengapa Nikodemus mendatangi Yesus pada waktu malam dalam kerangka mengembangkan khazanah pemahan kita tentang dimensi hidup kerohanian kita.

Pertama, Nikodemus memilih waktu malam karena malam adalah waktu yang sakral; malam menunjuk pada misteri atau rahasia Allah yang ingin disingkapkan dan mengacu pula pada hal ikhwal pertemuan antara yang ilahi dan yang insani (lih. 2 Sam 7:4; 1 Ra 3:5; 19:9; 1 Taw 17:3; 2 Taw 1:7.12; Dan 7:2; Kis 5:19: 16:9:18:9; 23:11; 27:23-24; Mrk 1:35; Luk 6:12). Misteri itu tidak dapat didekati dari luar dirinya, melainkan mengambil bagian di dalamnya. Yesus, Sang Guru adalah misteri itu sendiri. Nikodemus masuk ke dalam misteri kebenaran Yesus dengan mendengarkan Dia pada waktu malam hari. Meskipun dilaporkan penginjil bahwa pada waktu awal Nikodemus menjadi takut dan tidak memahami Yesus, namun keterbukaan hatinya membuat ia melebur dan mengambil bagian dalam kebenaran yang diajarkan Yesus. Nikodemus masuk dan berada dalam waktu, situasi dan Pribadi yang sakral.

Tindakan Nikodemus menginspirasi kita untuk mengembangkan kecintaan kita kepada keheningan batin dan kontemplasi sebagai suatu jalan untuk dapat berintimasi dengan Allah, mengambil bagian di dalam rahasia kebenaran-Nya dan hidup oleh kebenaran Allah itu. Nikodemus menunjukkan seperti yang dilakukan Yesus adalah bahwa “situasi malam” adalah situasi keheningan batin dan kontemplasi, waktu yang tepat untuk bercakap-cakap secara intensif dan langsung dengan Tuhan. Ketika tubuh kita berhenti dari aktivitas dan tertinggal hati dan pikiran kita, maka itulah saatnya bagi kita masuk ke dalam persekutuan mesra dengan Tuhan. Keheningan batin dan kontemplasi memang bisa terjadi kapan saja, namun akan sungguh efektif jika dilakukan pada malam hari saat tubuh kita lagi beristirahat dari aktivitas harian. Tidakkah kita juga mengendus jejak Nikodemus?

Kedua, malam mengacu kepada suatu pertemuan yang khusus, istimewa dan bersifat sangat personal. Dengan mendatangi Yesus pada waktu malam sebenarnya Nikodemus ingin membangun hubungan personal dengan Yesus dan mau berdialog secara intensif dengan Yesus. Tidak cukup baginya mendengarkan Yesus di tempat umum tanpa ada suatu relasi pribadi. Ia merasa penting untuk berdialog secara khusus dengan Tuhan pada waktu yang tepat dan pada tempat yang tepat. Itulah yang dipandangnya sebagai jalan kebijaksaan sebab melaluinya rahasia kebenaran yang menyelamatkan dapat diperoleh dari sang Guru. Dalam relasi personal dengan Guru Agung itulah kebenaran-Nya bisa masuk dalam hidupnya dan ‘mempribadi’. Artinya, kebenaran itu dapat diinternalisasi secara intensif karena seluruh diri menjadi sangat terpusat pada Yesus. Alhasil, pembicaraan Nikodemus dan Yesus tentang kelahiran kembali dan kehidupan kekal menjadi terang benderang bagi Nikodemus. Nikodemus mengerti apa artinya lahir kembali dari air dan Roh.

Pesannya bagi kita adalah bahwa sebagai murid Yesus, kita juga memandang penting untuk bertemu dengan Yesus secara pribadi. Apa yang kita terima melalui persekutuan iman di dalam kegiatan-kegiatan komunal adalah penting, akan tetapi juga serentak menjadi motivasi yang mendorong kita untuk berintimasi dengan Tuhan dalam suatu hubungan yang khusus, istimewa dan personal. Dalam keheningan batin dan ketenganan malam ketika kita benar-benar meluangkan waktu dan mengarahkan diri kita seluruhnya pada perkara Tuhan, maka kita dapat masuk ke dalam perjumpaan pribadi dengan Pribadi Ilahi, Dia yang adalah Guru kehidupan kita. Kita berbicara dan berdialog secara langsung dan intensif dengan Tuhan. Kebenaran-Nya pasti akan menjiwai kita dan menyatu dengan hidup kita. Tak terhindakan kita mendapatkan kekuatan dan kemampuan untuk menjadi mengerti dan menangkap misteri Allah dalam peristiwa kehidupan kita.

Ketiga, malam menunjuk kepada “semangat yang bernyala-nyala” untuk belajar dan mencari kebenaran yang berasal dari atas. Nikodemus menunjukkan semangat itu. Kerja sepanjang hari tidak membuat ia letih sebab semangatnya untuk mencari kebenaran jauh melampaui kekuatan keletihan itu. Maka pada saat kaum Farisi yang lain dan para ahli Taurat tertidur lelap, ia belajar dan menambah pengetahuannya (Mzm. 63:2; Mzm 77:7; Mzm 119:148). Nikodemus menunjukkan bahwa kepuasannya akan kebenaran yang datang dari Allah jauh lebih penting, itulah yang mendatangkan sukacita daripada menikmati kepuasan fisik dengan menghabiskan waktu malam di tempat tidur. Itulah yang kemudian ditandaskan Yesus kepadanya: “Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh: (Yoh 3:6). Kedagingan membuat kaum Farisi dan ahli-ahli Taurat mengikuti keinginan mereka sendiri dan menikmati apa yang menjadi kesenangan pribadi mereka, tetapi Roh telah membimbing Nikodemus untuk menambah pengetahuan dan mencari kebenaran pada Yesus.

Nikodemus mengajari, bahkan mengeritik hidup kita yang terlampau kuat berpaut pada keinginan “daging” kita dan mematikan semangat Roh yang membuat jiwa kita rindu dan haus akan kebenaran Tuhan. Kita menjadikan alasan kesibukan dan keletihan akibat kesibukan untuk tidak menjumpai Dia dan belajar dari Dia dan menimbah kekuatan dari Dia. Kita terjebak dalam aktivisme yang kaku dan mati, dan lupa bahwa kebenaran Tuhan yang menjiwai kita penting sekali untuk mengatasi keletihan, kelesuhan kita akibat aktivitas kehidupan. Kita tidak membenturkan antara aktivitas kita pada satu sisi dan kebenaran Tuhan sebagai suatu yang paling hakiki pada piihak lain, melainkan berusaha mensintesiskannya sebagai dua sisi dari kehidupan kita yang patut mendapatkan porsi penghayatannya secara proporsional. Aktivitas direfleksikan dan refleksi menuntun kita kepada aktivitas. Itulah yang membuat hidup kita bisa bermakna.

Nikodemus memanggil Yesus sebagai Rabi atau Guru yang berasal dari Allah. Panggilan ini menunjuk pada pengakuan akan Pribadi yang berasal dari Allah. Ia menerima pengajaran Yesus. Pada perjumpaan personal dengan Yesus, Nikodemus tidak hanya mendapatkan pengajaran melainkan mengalami transformasi diri oleh kebenaran yang diajarkan Yesus. Kekaguman pada diri Yesus sebagai yang berkuasa baik dalam kata-kata maupun perbuatan baru pada titik awal. Ia tidak berhenti di situ. Langkah itu diikuti dengan transformasi atau menggunakan bahasa Yesus “dilahirkan kembali”. Demikianlah Yesus berkata kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah" (Yoh 3:3).
Demikianlah kita sebagai murid-murid Yesus. Kita tidak hanyak berhenti pada pengakuan kita bahwa Yesus adalah Guru yang datang dari Allah. Kekaguman kita pada Dia mesti diikuti dengan perjumpaan kita secara khusus dengan Dia dan kita membiarkan diri kita diubah oleh kebenaran-Nya. “Kelahiran kembali” adalah tuntutan penting untuk bisa menghadirkan diri kita sebagai murid-murid-Nya yang sejati. Tanpa kelahiran kembali kita tetap tinggal dalam kekuatan yang labil. Kita mengandalkan kekuatan manusiawi kita tanpa penyertaan Roh. Mungkin saja kita banyak berbicara tentang Dia, mengatakan bahwa Dia adalah Tuhan, tetapi kesaksian semacam itu tidak memiliki kekuatan yang mentransformasi orang lain. Bisa saja orang tertegun dengan kemampuan kita berkata-kata tentang Dia, akan tetapi tidak lebih dari sekedar retorika yang mempengaruhi orang sesaat saja. Kita tidak memlliki kekuatan lebih untuk membuat kebenaran itu berakar pada orang lain. Tetapi jika kita berjumpa dengan Dia, mengalami kelahiran kembali maka pastilah kesaksian kita memiliki kekuatan yang mempengaruhi kehidupan orang lain. Kekuatan itu bersifat tetap, sebab Rohlah yang bersaksi bersama kita. ***

Apol Wuwur