Minggu, 28 Juni 2020

YESUS ADALAH ANAK ALLAH YANG HIDUP


Mat 16:13-19
Dalam membangun sebuah relasi entah relasi yang bersifat personal atau pun relasi dalam konteks yang lebih luas (relasi sosial) di tengah komunitas sosial, pengenalan akan identitas pribadi atau kelompok menjadi bagian yang sangat krusial. Apalah artinya sebuah hubungan tanpa didasari oleh pengenalan akan sebuah identitas. Orang latin mengatakan Nomen est Omen. Nama adalah tanda. Nama menjadi guidance (petunjuk) bagi orang-orang yang terlibat dalam sebuah relasi atau hubungan tertentu. Dengan identitas yang diwakili oleh nama, orang bisa saling mengenal satu sama lain. Orang bisa membangun rasa kepercayaan dan komitmen dalam berbagai hal. Nama merepresentasikan pribadi tertentu. Pribadi yang unik dan memiliki kekhasan yang beragam antara pribadi yang satu dengan yang lain. Tetapi dalam perbedaan yang ditandai oleh nama, masing-masing individu saling melengkapi dan memperkaya satu sama lain. Nama menjadi penting. Karena nama menjadi penanda identitas pribadi yang paling dasariah. Nama menjadi bagian integral dari pribadi seseorang.

Setelah sekian lama membangun rasa persaudaraan dan kekeluargaan dalam sebuah komunitas kecil, hal yang menjadi penting bagi Yesus adalah menggali pengenalan para murid akan Diri-Nya. Hal ini menjadi wajar mengingat relasi yang dibangun antara Yesus dan para murid-Nya bukanlah sebuah relasi dengan label “Pepesan kosong”. Atau sebuah relasi kosong tanpa makna. Para murid sudah menghabiskan sekian waktu bersama Yesus. Mereka juga mengikuti dengan baik segala sepak terjang-Nya. Baik sabda-Nya yang mempesona maupun tindakan mukjizat yang menarik banyak orang untuk lebih dekat dengan-Nya. Aksi-aksi Yesus yang memukau tidak saja membuat banyak orang semakin mengenali-Nya tetapi terutama para murid yang setiap saat selalu bersama dengan Dia. Para murid secara otomatis merekam dengan baik setiap detil terkait apa saja yang dilakukan oleh Yesus. Entah itu setiap perkataan-Nya. Atau pun tanda-tanda heran yang dilakukan untuk membuktikan kemahakuasaan-Nya. Segala peristiwa, pengalaman penuh dinamika yang dialami oleh para murid bersama Yesus, menjadi pengalaman yang memberi gambaran tersendiri tentang sosok Yesus di mata para murid-Nya.
Untuk membuktikan sejauh mana pengenalan para murid akan diri-Nya, Yesus melemparkan pertanyaan tentang siapa diri-Nya. Pertama, Yesus menggali pemahaman publik (orang-orang di luar kelompok dua belas rasul) tentang diri-Nya, yang diketahui oleh para murid.  Ada jawaban beragam yang dimunculkan oleh para murid. “Ada yang mengatakan: Yohanes Pembaptis, ada juga yang mengatakan: Elia dan ada pula yang mengatakan: Yeremia atau salah seorang dari para nabi” (Mat 16:14). Kedua, Yesus menggali pemahaman para murid sendiri tentang siapa diri-Nya. Dengan spontan dan tegas Simon Petrus menjawab: “Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” (Mat 16:16). Sebuah ungkapan yang tulus dari hati yang paling dalam; tanpa ada kepalsuan di dalamnya. Rupanya jawaban inilah yang sementara dinantikan oleh Yesus dari para murid-Nya. Yesus tidak butuh penghormatan dan sembah sujud dari para murid tanpa didahului oleh sikap pengenalan yang mendalam tentang siapa diri-Nya. Jawaban Simon Petrus melegakan Yesus dan meredam rasa kekuatiran diri-Nya terhadap lambannya para murid mengenali siapa diri-Nya. Simon Petrus tampil dengan ciamik membela rekan-rekannya dengan sebuah jawaban yang mungkin saja tidak pernah dipikirkan dan disadari oleh para murid yang lain. Lebih dari itu, ungkapan Simon bukanlah sebuah ungkapan dengan bibir semata tetapi ungkapan yang keluar dari ketulusan hati. Yesus mengapreasi jawaban Simon dengan mengatakan: “Berbahagialah engkau Simon bin Yunus sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di sorga” (Mat 16:17). Menurut Yesus, apa yang dikatakan oleh Simon Petrus adalah sebuah pernyataan yang diberikan oleh Bapa-Nya di sorga. Tidak sekedar ungkapan manusiawi belaka, tetapi mempresentasikan kesaksian Allah tentang sosok Yesus di hadapan para murid yang lain. Simon bisa memberikan pernyataan itu secara lugas karena ia telah sungguh-sungguh mengenal siapa Yesus itu sebenarnya. Dengan teliti, Simon Petrus telah mengikuti semua pergerakan yang dibuat oleh Yesus. Tidak hanya mendengar firman-Nya tetapi menyaksikan segala mukjizat-Nya yang memberi keselamatan bagi orang Israel. Simon telah meyakini dalam hati-Nya bahwa Yesus bukan sekedar manusia biasa. Dan berkat hubungannya yang intim dengan Yesus, Sang Guru Ilahi-Nya, ia berani bersaksi bahwa Yesus adalah Mesias, Anak Allah yang hidup.

Tidak saja kepada para rasul-Nya, pada kesempatan ini juga, Yesus mau menantang kita semua, para murid-Nya era ini,  dengan sebuah pertanyaan: “Siapakah Aku menurut kamu?” Siapakah Yesus bagi saya, bagi anda, bagi kita semua. Sebuah pertanyaan yang sederhana tetapi tidak sekedar membutuhkan jawaban yang sederhana. Kita perlu seperti Simon Petrus yang mengalami sosok Yesus dalam setiap perkataan dan perbuatan-Nya. Kita harus sungguh-sungguh memahami sabda-Nya dan menghidupi sabda itu dalam hidup kita setiap hari. Dengan demikian, kita akan sampai pada pengenalan yang mendalam tentang siapa sebenarnya figur Yesus bagi kita secara pribadi. Tanpa memahami dan menghidupi sabda Yesus, tentu kita tidak akan sampai pada pengenalan yang final tentang Yesus. Banyak murid Yesus era ini yang mudah goyah dan gampang berpindah ke “lain hati”. Hal ini terjadi lantaran mereka tidak memiliki pengenalan yang mendalam tentang sosok Yesus. Iman akan Yesus hanya dipahami sebagai hasil dari sebuah warisan. Bukan berasal dari sebuah pertemuan dan hubungan yang intim dengan-Nya. Golongan orang ini adalah kelompok yang tidak memahami sabda Yesus dan tidak menghidupi sabda itu dalam hidup mereka sehari-hari.

Sebagai orang yang mengaku murid Yesus, kita harus mengenal dan memahami siapa diri-Nya secara mendalam. Hal pertama yang kita lakukan adalah kita harus mendengar dengan setia setiap sabda yang diucapkan-Nya dalam Kitab Suci. Tentu tidak sekedar mendengar. Kita harus mendengar dengan mata batin kita. Sabda itu harus betul-betul merasuki seluruh diri sehingga kita benar-benar merasakan Allah sendiri yang berbicara kepada kita melalui sabda-Nya. Kedua, setelah mengalami perjalanan spiritual dari teks-teks suci yang kita baca, pengenalan kita akan Yesus akan semakin bertambah apabila kita menghidupi teks-teks itu dalam pengalaman empiris harian kita. Kita akan semakin memahami siapa sosok Yesus bagi kita. Dengan aneka pengalaman rohani yang kita alami bersama Yesus dalam hidup harian, akan semakin menambah amunisi kepercayaan kita bahwa Yesus adalah sungguh-sungguh Mesias, Anak Allah yang hidup. Mari bersama St. Petrus dan Paulus yang dirayakan pada hari ini (Senin/29/6/2020), kita hidupi sabda Yesus dalam setiap tutur dan tindakan nyata sehari-hari karena Ia adalah Allah yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Rabu, 24 Juni 2020

NAMANYA YOHANES PEMBAPTIS

Luk 1:57-66.80

Menurut penanggalan liturgi, kita merayakan pesta St. Yohanes Pembaptis sebanyak dua kali yakni pada tanggal 24 Juni dan 29 Agustus setiap tahun. Tanggal 24 Juni kita merayakan hari kelahiran St. Yohanes Pembaptis. Sedangkan tanggal 29 Agustus kita mengenang hari kematiannya. Hari ini kita mengenang hari kelahiran Yohanes Pembaptis, seorang guru dan nabi besar yang diakui oleh banyak agama di muka bumi. Beberapa praktisi agama Kristen, menyebut Yohanes Pembaptis sebagai seorang jenderal besar Allah karena merujuk pada perannya yang sangat vital dalam mempersiapkan kedatangan Mesias, Putera Allah. Tidak banyak informasi yang kita dapat mengenai pribadi Yohanes Pembaptis. Dalam Kitab Suci kita mengetahui bahwa ibu Yohanes Pembaptis bernama Elisabet, saudari sepupu dari Maria, ibu Yesus. Bapak Yohanes bernama Zakharia berasal dari keturunan Lewi. Zakharia merupakan seorang imam dari rombongan Abia. Rombongan Abia adalah kelompok ke-8 dari 24 kelompok imam yang bergiliran melakukan tugas melayani Allah di Bait Allah. Dengan demikian Yohanes Pembaptis berasal dari dari suku Lewi, suku para imam, salah satu suku dari 12 suku besar di Israel.

Dalam bacaan hari ini dikisahkan mengenai kelahiran Yohanes Pembaptis. Ketika sudah genap bulannya, Elisabet melahirkan seorang anak laki-laki. Sebuah peristiwa kelahiran yang dianggap sebagai mukjizat. Peristiwa yang hanya dimungkinkan terjadi atas kehendak Allah. Dalam masa tuanya, sepasang suami istri yang bernama Zakharia dan Elisabet mendapat berkat khusus dari Allah untuk memperoleh keturunan setelah sekian lama berada dalam ketidakberdayaan dan keputusasaan. Karena masih diliputi oleh keragu-raguan maka Allah membuat Zakharia menjadi bisu sampai pada hari penggenapan itu tiba. Peristiwa kelahiran Yohanes menjawab keragu-raguan hati Zakharia dan istrinya Elisabet. Dan segenap anggota keluarga, sahabat, kenalan yang menanti dengan penuh kecemasan. Mereka semua bersuka ria dan bersorak gembira karena kuasa Allah telah menyata dalam keluarga Zakharia dan Elisabet. Allah telah menjawab kerinduan keluarga Zakharia dengan menghadirkan seorang anak laki-laki di tengah keluarga mereka. Sebuah paradoks, antara kerinduan dan keragu-raguaan, antara harapan dan ketidakpercayaan, terjawab oleh berkat nyata Allah yang hadir lewat mukjizat kelahiran Yohanes Pembaptis. Kuasa Allah hadir juga melalui pemberian nama Yohanes. Nama yang sungguh asing dalam garis keturunan keluarga Zakharia. Semua orang menjadi heran dengan nama anak laki-laki yang baru lahir itu. Sebenarnya apa gerangan dengan makna nama Yohanes. Begitu kira-kira rasa penasaran yang bergayut dalam pikiran dan hati mereka. Ketika Zakharia menjadi sembuh dari sakit bisunya, semua orang akhirnya semakin yakin dengan kuasa Allah yang terjadi dalam keluarga Zakharia.

Selanjutnya tidak digambarkan secara detil dalam Kitab Suci mengenai kehidupan masa kecil Yohanes Pembaptis. Hanya dikatakan bahwa ia bertambah besar dan makin kuat rohnya. Hal yang menarik bagi kita adalah Yohanes tinggal di padang gurun. Pakaiannya tidak lazim. Ia memakai jubah bulu unta dan ikat pinggang kulit. Makanannya cukup ekstrim. Belalang dan madu hutan. Askese hidup yang demikian keras sangat boleh jadi dimungkinkan oleh kesadaran pribadinya untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menjadi utusan Allah. Tentang Yohanes Pembaptis, Yesus memberi kesaksian, “Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak ada seorang pun yang lebih besar dari pada Yohanes, namun yang terkecil dalam Kerajaan Allah lebih besar dari padanya” (Luk 7:28). Yesus menggarisbawahi siapa Yohanes dan siapa diri-Nya. Yohanes haruslah berseru dengan garang di padang gurun agar orang-orang yang tegar hati tergerak untuk bertobat. Yohanes mendobrak kerohanian umat yang kering sehingga Yesus dapat mengisinya dengan karya-karya penghiburan dan air kehidupan yang membawa kesegaran (BBSS, hal.242). Dan Yohanes sungguh menjawab misi Allah dengan sempurna. Ia tampil dengan gagah berani mengkritik perilaku orang Israel yang menyimpang dari kehendak Tuhan sambil menyerukan pertobatan agar mereka dapat kembali ke jalan yang benar. “Bertobatlah, sebab Kerajaan Allah sudah dekat” (Mat:3:2). Pertobatan orang Israel ditandai dengan pembaptisan diri yang dilakukan oleh Yohanes di sungai Yordan. Sehingga tidak heran, nama Pembaptis disematkan dalam dirinya. Ketika para elit agama Yahudi mempertanyakan identitas pribadinya, Yohanes menjawab: “Akulah suara orang yang berseru-seru di padang gurun: luruskanlah jalan Tuhan; seperti yang telah dikatakan nabi Yesaya. Aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal; yaitu Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak” (Yoh 1:23.26). Menurut para penginjil sinoptik (Matius, Markus, Lukas), sebenarnya Yohaneslah yang dimaksud oleh Yesaya ketika ia berkata: “Lihatlah, Aku menyuruh utusan-Ku mendahului Engkau, ia akan mempersiapkan jalan bagi-Mu; ada suara orang yang berseru-seru di padang gurun: persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Setiap lembah akan ditimbun dan setiap gunung dan bukit akan menjadi rata, yang berliku-liku akan diluruskan, yang berlekuk-lekuk akan diratakan dan semua orang akan melihat keselamatan yang dari Tuhan (Yes 40:3-5).

 Ada beberapa nilai kepribadian dari Yohanes Pembaptis yang menjadi inspirasi bagi kita. Pertama, nilai kesederhanaan. Aspek ini dapat terbaca dari tempat tinggal Yohanes yang berada di padang gurun. Pakaiannya terbuat dari bulu unta dan ikat pinggang kulit. Menu makanannya belalang dan madu hutan. Askese hidup dari Yohanes yang tampak dari gaya hidupnya sungguh menggambarkan aspek kesederhanaan dalam dirinya. Kedua, nilai keberanian. Yohanes tidak pernah takut dalam menyuarakan pertobatan bagi orang Israel. Ia tidak segan mengkritik perilaku orang Israel yang telah menyimpang dari kebenaran Tuhan. Yohanes akhirnya mempertaruhkan nyawanya karena mengkritik moral menyimpang dari raja Herodes yang mengambil Herodias, istri dari saudaranya menjadi istrinya. Ketiga, nilai kesetiaan. Kesetiaan Yohanes kepada Allah sungguh diuji ketika ia harus menghadapi pelbagai tantangan dan halangan dalam membawa misi kebenaran Allah. Sikap militansinya terhadap misi perutusan dari Allah tidak perlu diragukan lagi. Melalui seruan kenabiannya, banyak orang Israel yang bertobat dan menyatakan komitmennya kembali ke jalan yang benar. Keempat, nilai kerendahan hati. Yohanes bisa saja menggunakan popularitas yang dimiliki untuk merengkuh kekuasaan duniawi dan menimbun pundi-pundi uang dalam brankas pribadinya. Ia bisa dengan mudah menggalang kekuatan politik karena ia memiliki para simpatisan yang luar biasa banyaknya. Tetapi itu tidak dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Ia tetap menampilkan sikap rendah hati demi mempersiapkan jalan bagi Yesus.

Saya yakin kita bisa menemukan nilai lain selain empat nilai yang telah saya ungkapkan di atas. Dengan peringatan hari kelahiran Yohanes Pembaptis yang kita rayakan pada hari ini semakin menyadarkan kita akan nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh sang nabi besar tersebut. Tentu tidak sampai pada tataran kesadaran saja. Nilai-nilali luhur Yohanes Pembaptis perlu kita internalisasikan dalam diri dan ditransformasikan dalam tugas dan pelayanan kita di komunitas rumah sakit bukit ini. Kita perlu menampilkan sikap sederhana, keberanian, kesetiaan, dan kerendahan hati dalam tupoksi di unit kerja kita masing-masing. Tentu tidak harus seekstrim dengan berbagai hal yang telah dilakukan oleh Yohanes Pembaptis. Ada banyak hal praktis yang bisa kita buat sebagai orang beriman untuk mewujudnyatakan spiritualitas hidup Yohanes Pembaptis dalam hidup kita sehari-hari. Dengan nilai kesederhanaan dapat membantu kita untuk lebih bersyukur dengan segala sesuatu yang kita peroleh di lembaga tercinta ini. Kita tidak akan banyak mengeluh karena ada spirit kesederhanaan dalam diri kita. Dengan nilai keberanian dapat membantu kita untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan di rumah besar tercinta ini. Kita tidak takut untuk memberi kritik dan teguran manakala kita melihat ada perilaku menyimpang yang terjadi di tempat ini. Dengan nilai kesetiaan dapat membantu kita untuk lebih mendisiplinkan diri dalam tugas dan pelayanan. Kita juga tetap bersikap loyal dan militan dalam menjalankan kinerja kita. Dan dengan nilai kerendahan hati dapat membantu kita untuk tidak bersikap arogan. Kita diarahkan untuk lebih respek dan peka terhadap orang lain terutama dengan orang-orang yang membutuhkan pelayanan kasih dari kita. Mari kita bawa spiritualitas hidup Yohanes Pembaptis dalam hidup kita sehari-hari. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***


Minggu, 21 Juni 2020

PERIHAL MENGHAKIMI


Mat 7:1-5
Mantan presiden Amerika Serikat ke 32, Franklin Delano Roosevelt (1882-1945), pernah mengatakan: “Small minds discuss people, average minds discuss events, great minds discuss ideas.” Pikiran sempit membicarakan orang, pikiran rata-rata membicarakan peristiwa, dan pikiran besar membicarakan gagasan. Masing-masing tipe pikiran ini mengandung konsekuensi yang berbeda-beda. Orang yang memiliki pikiran sempit akan menghasilkan gosip, orang yang memiliki pikiran rata-rata menghasilkan pengetahuan, dan orang yang memiliki pikiran besar akan menghasilkan solusi. Ketiga jenis pikiran ini ada dalam setiap otak manusia. Tergantung jenis pikiran mana yang mendominasi setiap manusia, begitu juga konsekuensi yang dihasilkan. Saya akan mengupas pikiran sempit yang dimiliki manusia. Orang yang memiliki kecenderungan pikiran ini akan bertendensi untuk membicarakan gosip atau rumor. Menurut kamus bahasa Indonesia gosip adalah obrolan tentang orang lain, cerita negatif tentang orang lain, atau pergunjingan. Gosip atau rumor tidak mempunyai nilai kebenaran yang obyektif-empiris. Subyektifitas memainkan peran utama. Apa yang dibicarakan hanya berupa persepsi atau dugaan pribadi. Dalam gosip manusia suka membicarakan kejelekan atau kekurangan sesamanya. Manusia yang suka bergosip adalah manusia yang mengambil bagian integral dalam tindakan menghakimi orang lain. Dengan enteng, manusia akan mudah memvonis atau menghakimi sesamanya karena memiliki kesalahan atau kekeliruan tertentu.

Bacaan hari ini (Senin, 22/06/2020), bagi saya secara pribadi sungguh menarik. Yesus menasihati orang banyak agar jangan suka menghakimi orang lain (Mat 7:1-5). Dalam bahasa sederhana, Yesus menuntut kita untuk tidak boleh bergosip atau suka membicarakan kejelekan atau kesalahan orang lain. Ada dua hal yang saya tangkap dari pernyataan Yesus. Pertama, Yesus menyuruh orang untuk tidak menghakimi orang lain dengan pertimbangan bahwa orang yang menghakimi tersebut sesungguhnya tidak mempunyai “tubuh yang bersih.” Ia mempunyai kekurangan dan kelemahan juga sehingga tidak layak menghakimi orang lain. Ia harus membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum membicarakan orang lain. “Keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu” (Mat 7:5). Ia harus memperbaiki kekurangan yang melekat dalam dirinya sebelum berhadapan dengan sesamanya. Salah satu kekurangan itu adalah tindakan mencari-cari kesalahan orang lain. Dasar mengakimi orang lain inilah yang tidak dikehendaki oleh Yesus. Orang tidak perlu mencari-cari kesalahan sesamanya karena tindakan demikian adalah sebuah tindakan yang tidak adil dan melecehkan manusia sebagai seorang pribadi yang bermartabat. Kedua, Yesus sebenarnya tidak mempermasalahkan esensi dari penghakiman itu sendiri. Orang boleh menghakimi sesamanya sejauh dalam konteks yang positif. Menghakimi bisa diartikan juga memberi teguran atau kritik. Orang bisa menyampaikan kritik yang konstruktif atau membangun. Sejauh kritik itu memberi teguran dalam suasana persaudaraan, sebenarnya tidak menjadi masalah. Karena kritik itu sebenarnya lahir dari sebuah fakta negatif sehingga harus segera diluruskan atau diperbaiki. Yang menjadi masalah adalah ketika kritik itu tidak mempunyai dasar fakta yang benar. Kritik secara serampangan atau kritik dalam tataran gosip. Kritik tidak berdasar dengan tujuan negatif untuk mendiskreditkan pribadi orang. Atau kritik agresif yang tidak menghargai manusia sebagai pribadi yang bermartabat.
           
Setelah membaca dengan seksama teks Injil ini (Mat 7:1-5), saya cukup tersentak karena secara pribadi saya juga acapkali bermain dalam pusaran untuk menghakimi orang lain. Saya dan mungkin kita yang membaca refleksi ini seringkali merasa diri paling benar. Kemudian dikuti oleh tindakan untuk mempermasalahkan dan mempersalahkan orang lain. Kita juga suka mencari-cari kesalahan orang walaupun mungkin kesalahan itu tidak pernah kita temui. Kita merasa diri superior dan menganggap orang lain sebagai pribadi inferior. Padahal kualitas pribadi kita mungkin tidak lebih baik dari orang lain yang menjadi sasaran penghakiman kita. Bisa juga kita suka menutupi kesalahan dan kelemahan pribadi dengan mencari kesalahan dan kekurangan orang lain. Kita mencari pembenaran diri untuk mengkompensasikan kelemahan pribadi kita dalam diri orang lain. Pencerahan teks injil ini memberi pelajaran yang berharga agar kita lebih berhati-hati dalam menghakimi orang lain. Kita perlu secara akurat mengukur pribadi sendiri sebelum memvonis atau menghakimi sesama di sekitar kita. “Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu” (Mat 7:2).

Menurut saya, esensi penghakiman itu dimungkinkan sejauh tindakan penghakiman untuk memberi kritik atau teguran yang bersifat konstruktif dalam suasana penuh persaudaraan dan kekeluargaan. Penghakiman berupa kritik atau teguran itu tidak boleh meniadakan pribadi manusia sebagai pribadi yang bermartabat. Melainkan mengangkat pribadi manusia sebagai pribadi yang mulia di hadapan Tuhan. Tindakan penghakiman yang kita berikan harus dalam kerangka untuk menjaga keadaban dan kebaikan semua pihak. Harus ada data obyektif-empiris yang menjadi dasar pengakiman untuk mereparasi hidup semua orang (kita dan orang lain) yang telah menyimpang dari kehendak Tuhan. Di samping itu, tentu kita tidak mau mengambil sikap permisif atau indefferent terhadap pelbagai persoalan atau dinamika kehidupan yang terjadi di sekitar kita. Sebagai manusia, kita mempunyai tanggung jawab moral untuk tidak hanya menjaga diri kita sendiri dari ketercelaan akibat penghakiman yang keliru, tetapi juga menjaga kontrol sosial di antara kita dalam komunitas sosial yang menjadi tempat tinggal kita dengan melakukan tindakan penghakiman yang benar. Tindakan penghakiman dalam konteks teguran dan kritik yang mempunyai nilai obyektif-empiris sekaligus menghargai manusia sebagai pribadi yang bermartabat.

Mari kita menjaga integritas diri untuk tidak main hakim sendiri dengan melakukan tindakan penghakiman yang tidak adil bagi orang lain. Semoga kita semakin berbenah diri untuk memperbaiki citra diri yang semakin baik di mata orang lain dengan menjaga setiap tutur dan perbuatan. Pada akhirnya, kita dapat menjadi pribadi yang sungguh bermartabat karena kita bisa melakukan tindakan penghakiman dalam komunitas sosial dengan penuh nuansa persaudaraan dan kekeluargaan. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Rabu, 17 Juni 2020

HAL SEDEKAH, BERDOA, DAN PUASA


Mat 6:1-6, 16-18
Pernah seorang bapak penuh semangat menceritakan kepada saya betapa bahagianya ketika ia memberikan sumbangan uang untuk pembangunan gereja di parokinya. Nominal uang yang ia beri cukup besar. Bahkan melampaui semua orang yang ikut menyumbang. Ia begitu bangga karena namanya dibacakan di depan mimbar gereja dan semua umat mendengarnya. Ia merasa aneh kalau ada orang yang ikut menyumbang tetapi tidak mau nama mereka dibacakan. Memang dalam daftar tertera beberapa penyumbang tanpa nama karena kemauan pribadi mereka sendiri. Berbeda pandangan dengan sang bapak. Ia mau namanya harus dibacakan di depan semua umat. Ia akan marah sekalih apabila namanya tidak disebut. Begitu pengakuannya kepada saya. Pengalaman lain saya alami ketika berada di rumah sendiri. Pada suatu malam yang sudah larut, saya baru tiba di rumah karena ada suatu urusan di luar yang harus saya bereskan. 
Sebelum tidur saya harus memeriksa setiap kamar anak-anak dan memastikan bahwa mereka sudah tidur. Saya bergerak dari kamar anak perempuan. Setelah memastikan bahwa ia sudah tertidur, selanjutnya saya bergerak ke kamar anak laki-laki. Anak ini kadang licik. Biasanya ia pura-pura tidur. Setelah merasa aman dari pemeriksaan ia akan bangun lagi dan bermain game di hpnya. Kali ini saya tidak akan kecolongan lagi. Saya berpikir demikian. Ketika membuka pintu kamarnya, saya kaget karena mendapatinya sedang khusyuk berdoa. Saya menjadi heran sendiri dan bertanya dalam hati. Sejak kapan anak ini mulai berdoa sebelum tidur. Saya sempat menaruh curiga kalau ini hanya sebuah modus. Modus untuk memuluskan kegiatan game-nya Saya berpura-pura keluar dari kamar dan menunggu di depan pintu. Setelah beberapa saat saya masuk kembali dan ternyata mendapatinya masih berdoa. Saya menunggu sampai ia selesai berdoa. Setelah ia menyelesaikan doanya, saya bertanya apakah ia sungguh-sungguh berdoa. Ia menjawab bahwa betul, ia sungguh-sungguh berdoa. Saya bertanya sejak kapan. Ia menjawab baru malam ini. Saya bertanya lagi, apa motivasinya berdoa. Ia hanya membisu dan segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Saya masih merasa penasaran karena belum betul-betul percaya. Malam berikutnya saya kembali mengecek kamarnya dan mendapatinya kembali sedang berdoa. Kali ini saya mulai yakin bahwa sang anak sedang sungguh-sungguh berdoa. Ia tidak sekedar berdoa. Apalagi berpura-pura dengan berdoa. Ia sungguh berdoa dengan hatinya.
           
Hari ini dalam kotbah-Nya, Yesus menyampaikan dengan lantang di hadapan semua orang mengenai tiga komponen utama dalam hidup beragama yang harus dipahami dan dilaksanakan oleh semua orang. Tiga komponen itu adalah sedekah, doa dan puasa. Pertama, tentang tindakan memberi sedekah. Bersedekah atau berderma pada dasarnya adalah tindakan memberi yang sungguh mulia. Yesus mengatakan: “Apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu” (Mat: 6:2) Dengan pernyataan itu Yesus mau menegaskan kepada orang banyak bahwa apabila mereka mau bersedekah, tidak usah mengumbar tindakan mulia yang telah mereka lakukan. Mereka cukup melakukan itu dalam diam karena “Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” (Mat 6:4). Yesus mengkritik perilaku orang-orang munafik terutama para elit agama yang suka memberi sedekah di tempat-tempat publik supaya dilihat dan dipuji oleh orang lain. Sesungguhnya mereka tidak memberi dengan ketulusan hati tetapi dengan intensi lain supaya diakui oleh orang yang melihatnya. Dengan bacround pengalaman ini, Yesus mengarahkan orang banyak agar mereka tidak usah meniru perilaku para orang munafik yang tidak tulus dalam memberi sedekah. Yang harus orang banyak lakukan adalah memberi dalam diam. Tidak perlu mengekspose agar diketahui oleh orang. kedua, tentang cara berdoa. 
Lagi-lagi Yesus merujuk pada perilaku orang-orang munafik yang suka berdoa di tempat-tempat keramaian atau tempat umum supaya kesalehan mereka diakui. Karena segala doa yang mereka panjatkan itu tidak berangkat dari kedalaman jiwa untuk memuliakan Allah. Yesus mengharapkan agar orang banyak tidak perlu meneladani perilaku orang-orang tersebut. Yesus memberi jalan lain bahwa apabila mereka mau berdoa, mereka harus masuk dalam kamar, menutupnya dan mulai berdoa “Maka Bapamu yang melihat yang tersembunyi akan membalasnya kepadamu” Mat 6:6). Ketiga, tentang hal berpuasa. Yesus membuka perilaku orang munafik yang tidak merasa puas apabila tidak memperlihatkan suasana batin dan fisik ketika sedang berpuasa kepada orang lain. Orang-orang munafik akan menunjukkan wajah yang muram, hati yang galau dan tanda-tanda fisik yang lain agar orang mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa. Mengenai puasa yang benar, Yesus mengatakan: “Apabila engkau berpuasa, minyakilah kepalamu dan cucilah mukamu” (Mat 6:17). Dengan demikian, wajah mereka menjadi bersih dan cerah. Orang tidak akan mengetahui bahwa mereka sedang berpuasa. Cukup Tuhan yang mengetahui dan membalas dalam diam setiap tindakan mulia yang mereka lakukan.
           

Sedekah, doa dan puasa adalah tiga komponen yang mengarahkan pribadi manusia menjadi pribadi yang mulia di hadapan Allah. Ketiga hal itu hendaknya dilakukan dengan ketulusan dan hati yang bersih. Tidak ada dramatisasi di dalamnya untuk memuaskan ego dan menaikan pamor pribadi. Sedekah, doa dan puasa adalah tindakan untuk memuliakan nama Allah yang kudus. Oleh karena itu, setiap tindakan yang mengangkangi atau menyepelekan prinsip utama tersebut, dia akan dicap sebagai pribadi munafik yang tidak mendapat tempat di hati Allah. Saya percaya bahwa kita yang berada di komunitas Rumah Sakit Bukit ini tidak seperti perilaku orang-orang munafik yang dikritik oleh Yesus. Kita sungguh menunjukkan hidup iman kita dengan memberi sedekah atau derma dengan ketulusan hati. Bukan dengan paksaan atau tekanan. 
Kita juga sungguh-sungguh berdoa dengan hati. Walaupun tidak harus dalam kamar, tetapi doa yang dilakukan di mana saja adalah sebuah ungkapan ketulusan hati. Kita berdoa agar Tuhan dapat menyertai segala bentuk pelayanan yang kita berikan di tempat ini. Tuhan dapat merestui kita sebagai alat-Nya untuk memberi penguatan dan kesembuhan bagi para pasien. Bagi saudara/i yang sementara berbaring di ruang-ruang pasien, teruslah berdoa dalam diam dengan ketulusan hati karena Tuhan pasti akan mendengar dan membalasnya. Dalam keheningan kamar, Tuhan tidak pernah diam. Ia akan selalu datang melalui tangan para medis untuk menyembuhkan kalian. Kita juga pernah berpuasa dalam waktu-waktu tertentu. Misalnya dalam masa pra paskah atau waktu pribadi yang kita tentukan sendiri. Ada intensi khusus yang hendak kita panjatkan dari puasa yang kita jalani. Tetapi orang tidak perlu tahu dengan puasa yang kita lakukan. Hanya kita sendiri yang tahu dan ada Tuhan yang melihat-Nya karena kita sungguh-sungguh melakukannya dengan ketulusan. Mari kita terus menjaga kemuliaan Tuhan dengan menjadi pribadi yang mulia. Pribadi yang menjalan sedekah, doa, dan puasa dalam keheningan waktu dan ketulusan hati. Amin. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Senin, 15 Juni 2020

SPIRITUALITAS NON VIOLENCE


Mat 5:38-42
Manusia dengan segala dinamika hidupnya di tengah dunia tidak pernah lepas dari suasana hidup yang penuh pertentangan dan konflik. Dengan pelbagai karakter yang dimiliki, manusia pasti menyikapi segala persoalan itu dengan sikap yang beragam. Ada yang memakai pendekatan yang persuasif tetapi tidak jarang menggunakan pola koersif (kekerasan). Sah-sah saja, manusia melakukan resistensi atau counter attack (serangan balik) manakala ia merasa harga dirinya sebagai seorang manusia tercoreng oleh sikap orang lain yang tidak pantas. Manusia cenderung merasionalisasi pikirannya untuk selalu merasa diri benar, walaupun mungkin dalam kenyataannya tidak selalu benar. Dengan sikap rasionalisasi demikian, manusia mengambil sikap oposan untuk berbalik menyerang sesamanya. Entah dengan kata-kata kasar atau pun dengan menggunakan kekerasan secara fisik. Sebuah tindakan manusia yang sungguh manusiawi untuk mempertahankan gengsi dan harga dirinya.

Di hadapan orang banyak yang mendengarkan sabda-Nya (Mat 5:38-42), Yesus menyampaikan suatu sikap revolusioner yang harus ditunjukkan oleh orang-orang yang menjadi korban dari sebuah kejahatan. Yesus berkata: “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu (Mat 5:39).” Yesus secara tidak langsung mengkritik hukum lama yang mengatakan bahwa mata ganti mata dan gigi ganti gigi. Hukum ini kalau diterjemahkan dalam arti yang sebenarnya berarti kejahatan harus dibalas dengan kejahatan. Orang yang mendapat perlakuan yang tidak baik harus membalas dengan sikap demikian kepada orang lain. Yesus hendak memberi pesan kepada publik bahwa hukum rimba dengan sistim balas dendam sebenarnya tidak akan menyelesaikan sebuah persoalan. Malahan akan semakin memperlebar masalah dan memperkeruh suasana. Lebih dari itu sikap balas dendam tidak sesuai dengan sikap yang dikehendaki oleh Allah sendiri. Sebagai solusinya Yesus memperkenalkan suatu sikap baru dalam menghadapi kenyataan yang tidak adil yakni sikap non violence. Sikap tanpa kekerasan.

Membaca teks Injil ini (Mat 5:38-42), secara pribadi saya merasa semacam ada pergumulan hebat dalam hati. Ketika menghadapi aneka persoalan, entah itu pengalaman disepelekan, dicaci, dihina dan dituduh dengan hal-hal yang tidak benar, secara manusiawi tentu saya tidak menerima secara baik. Batin saya akan memberontak dan melawan. Saya akan berusaha dengan berbagai cara untuk melakukan perlawanan. Bisa saja saya membalasnya dengan kata-kata kotor, makian, hinaan atau bisa lebih dari itu. Saya bisa melakukan manuver atau taktik yang menjebak agar pihak musuh saya bisa jatuh tertimpa masalah. Dengan demikian, batin saya merasa puas dan harga diri saya bisa dipulihkan. Akan tetapi masalah yang saya hadapi memang tidak pernah akan berakhir. Laksana air yang mengalir, tidak pernah akan berhenti di satu titik. Api balas dendam dan aroma permusuhan dengan orang lain tetap tersimpan dengan baik. Tali persahabatan dan persaudaraan tidak akan pernah “nyambung” selama api balas dendam itu tetap membara. Situasi batin ini yang pernah saya alami. Pada titik ini, saya merasa sungguh digugat dengan teks bacaan pada hari ini. Dan pada titik yang lain, saya juga digugah untuk mulai menyelami sebuah spiritualitas baru yang disampaikan oleh Yesus; spiritualitas tanpa kekerasan.
           
Spiritualitas tanpa kekerasan (non violence) adalah sikap yang membalas kejahatan dengan kebaikan. Sebuah sikap jiwa besar untuk menerima perlakuan yang tidak menyenangkan dari orang lain. Kita dituntut oleh Yesus untuk mengedepankan sikap sabar dan lembut hati ketika menghadapi orang yang tidak mempunyai kehendak dan sikap yang baik dengan kita. Kita diminta oleh Yesus untuk tidak membalasnya. Bayangkan. Memberi pipi yang kiri untuk ikut ditampar bersama pipi yang kanan adalah suatu ungkapan simbolik. Bahwa orang harus membalas segala perbuatan jahat yang diterimanya dengan kelembutan dan keramahan hati. Sebuah sikap mengalah tetapi bukan menerima kekalahan. Melainkan sebuah serangan balik yang berusaha menyadarkan orang lain bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar. Orang yang berbuat jahat diharapkan segera menyadari diri karena apa yang dilakukannya sia-sia. Kalau memang dia tidak mau menyadari diri, anggap saja dia menelan sendiri semua perbuatan yang jahat itu bagi dirinya. Kita dibebaskan dari perilaku yang jahat karena kita telah meresponnya dengan sebuah tindakan yang tidak sekedar bijaksana. Tetapi tindakan yang diinginkan oleh Yesus sendiri. Sebuah tindakan yang sungguh ilahi.
Kita semua sungguh disegarkan oleh sabda Tuhan yang telah menanamkan  spiritualitas dalam menghadapi perlakuan jahat dari orang lain. Spiritualitas itu adalah Spiritualitas tanpa kekerasan (non violence). Spiritualitas yang bukan mengagungkan tindakan manusiawi tetapi tindakan yang berasal dari Allah sendiri. Semoga kita semakin menyadari dan mulai berbenah diri untuk meresapi spiritualitas tanpa kekerasan ini dalam hati kita masing-masing. Dengan demikian, apa pun setiap persoalan hidup yang terjadi, kita selalu mengedepankan tindakan yang sungguh ilahi. Sebuah tindakan yang membalas kejahatan dengan kelembutan dan kerahaman hati. Semoga. Tuhan memberkati. ***Atanasius KD Labaona***

Rabu, 10 Juni 2020

BERIKANLAH PULA DENGAN CUMA-CUMA


Mat 10:7-13
Judul tulisan ini dicuplik dari kata-kata Yesus yang selengkapnya berbunyi: “Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma” (ay 10). Inilah wasiat yang diberikan Yesus ketika Ia mengutus para murid-Nya untuk memberitakan Kerajaan Sorga sudah dekat. Apa yang telah diterima dari Tuhan itu tidak dibendung, dikurung atau dikerangkeng dalam diri, melainkan dibagikan atau digunakan untuk kepentingan semua orang, yakni kepada siapa berita Kerajaan Sorga itu diwartakan.

Tuhan memberikan dengan  cuma-cuma mengandung arti bahwa Ia memberikan berdasarkan kemurahan hati-Nya, bukan berdasarkan pertimbangan atas jasa para murid-Nya atau keinginan para murid-Nya. Maka nilai yang sama juga mesti ditampilkan dalam karya perutusan para  murid-Nya. Apa yang diberikan Tuhan itu digunakan secara penuh untuk kepentingan pewartaan. Kemurahan Tuhan ketika memberi dengan cuma-cuma mesti juga dialami secara nyata ketika karya kerasulan itu dijalankan: orang sakit disembuhkan, yang mati dibangkitkan, yang kusta ditahirkan dan kerasukan setan dibebaskan. Dengan pengalaman ini, maka hati orang menjadi terbuka dan terarah kepada penerimaan Injil dan pertobatan.

Agar para murid dapat melaksankan wasiat Yesus itu dengan baik, maka kepada para murid-Nya Yesus juga meminta agar para murid-Nya fokus pada tugas pokok yang diberikan. Jangan ada hal-hal lain yang mengganggu fokus mereka mewartakan Injil. Itulah maskudnya ketika Yesus berkata: “Janganlah kamu membawa emas atau perak atau tembaga dalam ikat pinggangmu. Janganlah kamu membawa bekal dalam perjalanan, janganlah kamu membawa baju dua helai, kasut atau tongkat, sebab seorang pekerja patut mendapat upahnya” (ay 9-10).

Dan para murid melakukan seperti yang diperintahkan Yesus kepada mereka. Kisah hidup para rasul membuktikan bahwa wasiat Yesus itu dilaksanakan dengan saksama dan konsekuen. Ke mana saja mereka pergi, mereka mewartakan Injil dengan penuh dedikasi.  Hidup dan karya mereka mencerminkan kemurahan hati Tuhan yang mau menarik semua orang ke dalam persekutuan dengan Dia. Banyak orang ditobatkan dan dipersatukan dengan Kristus.

Barnabas yang dipengingati Gereja sejagad hari ini adalah tipikal murid yang taat, tekun dan setia melaksanakan apa yang diperintahkan Yesus kepadanya. Dikatakan bahwa dia menjual segala miliknya dan uangnya diberikan kepada para rasul di Yerusalem. Ia fokus melaksanakan tugas yang diberikan kepadanya. Dan bersama dengan Paulus, ia mendedikasikan hidupnya secara penuh untuk memberikan Injil Tuhan ke segala tempat.

Hal yang sama juga dikehendaki Yesus bagi semua orang yang telah mengambil bagian dalam persekutuan dengan Dia. Semua orang beriman, baik hierarki maupun awam, sesuai tugasnya yang spesifik dipanggil untuk mewartakan Injil. Tuhan telah melengkapi masing-masing kita dengan anugerah yang diberikan dengan cuma-cuma dan anugerah itu juga digunakan secara berdayaguna demi kepentingan pewartaan.

Kita menemukan di sini bahwa prinsip memberi dengan cuma-cuma karena telah menerima dengan cuma-cuma adalah baku dalam kehidupan kita sebagai murid-murid Kristus. Perubahan zaman tidak mengubah prinsip ini. Maka setiap orang Kristiani hanya bisa memenuhi tuntutan hidup kemuridannya apabila ia mengenakan prinsip ini dalam menjalakan tugas dan panggilannya. 

Tantangan kita bersama adalah menghayati wasiat Yesus ini secara konsekuen dalam situasi dunia dewasa ini yang cenderung mencari kompensasi dari setiap tugas dan pelayanan. Segala sesuatu diukur dengan nilai uang. Sakramen bisa saja dijual apabila jiwa kita dikuasai oleh mamon. Ada uang ada pelayanan, tanpa uang tidak ada pelayanan. 

Kita melihat fenomena ini sebagai suatu titik refleksi untuk kembali ke jalan hidup kita sebagai murid Tuhan bahwa kita mesti membangun karya perutusan kita dengan prinsip yang sudah Tuhan Yesus berikan: Kamu telah memperolehnya dengan cuma-cuma, karena itu berikanlah pula dengan cuma-cuma”. Mengabaikan prinsip ini akan menjerumuskan diri kita kepada hal-hal yang kehadirannya justru mengganggu dan  merusakkan fokus kita untuk memberitakan Kerajaan Allah sudah dekat.

Marilah kita berkarya di jalan panggilan kita masing-masing untuk menyatakan kasih dan kerahiman Tuhan agar semakin banyak orang mengalami kasih dan kerahiman-Nya dan terpanggil untuk bertobat dan memberi diri untuk diselamatkan. Apa yang kita berikan dengan cuma-cuma tidak akan cuma-cuma hasilnya. *** Apol Wuwur***

Senin, 08 Juni 2020

JADILAH GARAM DAN TERANG DUNIA


Mat 5:13-16
Garam memiliki fungsi yang penting dalam kehidupan manusia. Ia memberi rasa nikmat kepada makanan (Ayb 6:6) dan mengawetkannya. Garam juga berfungsi untuk memurnikan air, memberi kesehatan dan kesuburan (2 Raj 2:21; Yeh 16:4).

Dalam tatanan ritual,  selain sebagai bahan persembahan kepada Allah (Kel 30:35; Ez 6:9; 7:22), garam berperan untuk memurnikan persembahan yang dikurbankan (Im 2:13; Yeh 43:24; Mrk 9:49). Garam juga digunakan sebagai sarana untuk mengusir roh-roh jahat, pembersihan dari dosa dan pengaruh-pengaruh yang jahat.

Selain itu, garam juga menjadi tanda komunikasi dalam rasa persaudaraan (Kol 4:6) dan perjanjian dengan Allah - perjanjian garam (2 Taw 13:5).

Dalam Injil, Yesus menggunakan istilah garam untuk memberi rasa terhadap kehidupan (Mat 5:13; Luk 14:34; Mrk 9:50). Garam dianalogikan dengan kualitas hidup yang memberi nilai rasa tertentu dan itu terarah kepada kebaikan. Ada pengaruh baik yang dialami dan dirasakan oleh orang lain. Garam hidup itu memberi mutu terhadap kehidupan sebelum ia membersihkan dan memurnikannya.

Jika bukan hanya mengagumi, maka orang akan tergerak untuk mencintai pengaruh baik yang dirasakan dan dialaminya. Inilah yang dimaksudkan dengan menjadi garam, yakni membawa suatu yang bernilai dan nilai itu mempengaruhi orang lain. Ada proses transmisi nilai oleh karena adanya corak kehidupan yang menawan dan memikat hati orang lain. Orang dipengaruhi dan dibawa kepada kebaikan.

Demikian pula halnya ketika Yesus berbicara tentang terang.  Ibarat pelita yang ditempatkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah, demikianlah hidup yang baik memberi terang kepada orang lain. Terang kehidupan itu membuka mata hati dan pikiran orang untuk melihat dan memindai dengan jelas apa yang tampak di depannya dan dengan begitu mampu menentukan pilihan yang tepat. Jelas Yesus katakan itu: “...hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga”.

Kata-kata Yesus ini memiliki sasaran yang jelas. Setiap orang dipanggil menjadi putra-putri terang (Ef 5:8; 1 Tes 5:5), sebelum menjadi terang bagi orang lain. Panggilan ini menuntut suatu kewajiban orang beriman untuk hidup dalam kesucian atau hidup dengan tidak celanya (Ef 5:9).  Dengan demikian orang memandang wajib pula memancarkan terang kepada orang-orang sekitarnya (Mat 5:14.16; Luk 12:35; Flp 2:15).

Demikian pula halnya untuk dapat menggarami orang lain, setiap putra-putri terang harulah telah menggarami dirinya sendiri. Ada kualitas hidup yang benar-benar dihayati sebagai putra-putri terang dan garam.  Karena itu setiap orang percaya patut menguji dirinya sendiri sebelum keluar dan menjangkau orang lain untuk menjadi garam dan terang dunia. Dengan kualitas hidup yang baik orang dapat memberikan rasa yang unik kepada dunia dan menjadi terang yang menuntun orang kepada kebaikan.

Kita adalah orang-orang yang beriman dan oleh baptisan kita telah mengambil bagian dalam panggilan menjadi garam dan terang dunia.  Di tengah situasi dunia yang mendewakan kepentingan-kepentingan dunia yang menyeretkannya pada kehampaan makna hidupnya, sebagai putra-putri terang dan garam dunia, kita memandang sebagai suatu kewajiban iman untuk memberi kesaksian tentang nilai-nilai Injil yang memberi hidup dan menyelamatkan.  Kita tidak menonjolkan diri, akan tetapi keberadaan kita dengan kualitas hidup yang diandalkan dapat memberi warna tersendiri terhadap lingkungan di mana kita berada, hidup dan berkarya. Ada hal unik yang kita tampilkan. Dan hal unik itu bukan tidak bernilai dan berpengaruh untuk mengubah dan membentuk orang lain di sekitar kita. Apabila kehidupan kita tidak membawa sesuatu yang berarti bagi orang lain, sebaliknya merusakkan, maka patutlah kita bertanya tentang kemuridan kita. Apakah kita benar-benar menjadi murid Tuhan?

Marilah kita menunjukkan jati diri kita bahwa kita telah diangkat Kristus menjadi putra-putri terang dan garam dunia.  Dengan mengupayakan kualitas kehidupan yang baik sebagaimana yang Kristus Yesus kehendaki terjadi pada diri, kita akan tergerak selalu untuk membawa perubahan bagi orang lain. Kita membawa terang dan garam kehidupan yang mendatangkan sukacita, kesejahteraan dan kebahagiaan dalam hidup ini untuk dinikmati oleh semakin banyak orang. ***Apol Wuwur*** 

Rabu, 03 Juni 2020

JANGAN TAKUT TERBELENGGU KARENA FIRMAN ALLAH


2 Tim 2:8-15
Timotius adalah orang yang dikasihi Paulus. Sebagai orang yang terkasih, Paulus menghendaki agar Timotius juga memiliki orientasi yang sama sepertinya. Dan untuk maksud tersebut, Paulus berulang kali (siang dan malam) membangun kesadaran di dalam diri muridnya itu untuk menjadi seorang murid Kristus yang militan.
Setelah meneguhkan hati Timotius untuk berani dan tidak malu untuk bersaksi tentang kebenaran Injil sebagaimana yang ditampilkan dalam bacaan pertama kemarin, hari ini Paulus beranjak lebih jauh. Ia mau membawa Timotius kepada suatu kesadaran lebih tinggi dan dengan begitu membentuk kesiapan mental muridnya untuk menghadapi risiko dari permintaan kepadanya untuk tidak takut dan tidak malu memberitakan Injil.

Dengan memadukan kombinasi gaya nasihat dan sharing pengalaman, Paulus membentuk hati Timotius untuk siap menerima risiko atas pemberitaan Injil. Mengawalinya dengan suatu peringatan akan Kristus yang diwartakannya, Paulus kemudian berkata kepada Timotius: “Karena pemberitaan Injil inilah aku menderita, malah dibelenggu seperti seorang penjahat, tetapi firman Allah tidak terbelenggu” (ay 9).
Paulus menandaskan bahwa firman Allah memang mau tidak mau harus diwartakan, tetapi konsekuensinya juga harus siap diterima. Dan untuk menerima konsekuensi itu, maka jiwa heroik mesti ada. Jiwa itu lahir dari kesadaran yang dibentuk terus-menerus.
Kesadaran yang membentuk jiwa heroik itu melahirkan keunggulan-keunggulan lain yang sangat penting perannya dalam menghadapi situasi sulit dan penderitaan. Kesabaran yang disebut Paulus adalah salah satu keunggulan yang diandaikan untuk menganggung konsekuensi dari keberanian untuk mewartakan Injil. Bukan hanya kata hampa yang digunakan Paulus untuk memanipulasi hati Timotius laksana kaum pecundang menghipnotis orang untuk kepentingan tertentu, melainkan suatu kata yang hidup dan berdaya mempengaruhi karena diangkat dari pengalamannya sendiri dalam menjalankan tugas kerasulan.

Dan Paulus juga tidak melakukan demikian tanpa tujuan. Paulus tahu benar tujuannya, yaitu keselamatan. Jika bukan karena alasan itu, tentu kita bisa bayangkan bahwa Paulus juga tidak mau menanggung semuanya. Tidak ada kesia-siaan yang bisa diperjuangkan dengan penuh penderitaan atau ditimpal dengan belenggu. Hanya ada satu tujuan yang tertinggi nilainya, yaitu keselamatan maka firman Allah itu disaksikan dengan susah payah. Dan Paulus dengan penuh keyakinan mengatakan itu kepada Timutius dan semua orang kepada siapa pemberitaan itu tertuju.
Nasihat Paulus untuk mengembangkan jiwa heroik dalam diri Timotius adalah juga nasihat yang diberikan kepada kita semua sebagai murid-murid Kristus. Sebab kita memiliki tugas dan panggilan yang sama untuk mewartakan Kristus oleh karena iman dan baptisan.
Kita sesungguhnya telah dibaptis oleh karena iman kita, akan tetapi patut diakui bahwa sekian sering kita tidak selalu hidup oleh iman dan baptisan itu. Bahkan hidup kita bertolak belakang dengan iman dan baptisan. Kita malu mengakui iman kita dan tidak berani bersaksi tentang Dia. Apabila kesaksian saja kita sebegitu mandulnya maka akan lebih susah lagi menanggung penderitaan oleh karena iman. Kita mudah melarikan diri dan mencari kenyamanan diri sendiri. Tidak jarang kita menyangkal Dia yang seharusnya kita akui dan saksikan.

Ketika kita membaca dan merenungkan pewartaan Paulus hari ini, setidaknya kita dibantu untuk menyadari betapa kita memilihi anugerah ilahi yang ada di dalam diri kita akan tetapi daya-daya itu tidak kita gunakan secara baik dan efektif sehingga kita menjadi mandul. Paulus menyadarkan kita agar kita kembali kepada “jalan Tuhan” seperti yang dinyatakannya di dalam pengalaman hidupnya.
Kata -kata Paulus hari ini menjiwai kita untuk dapat menghidupkan iman dan baptisan kita dalam tugas kerasulan baik di tengah keluarga, komunitas basis, di lingkungan kerja maupun  masyarat tempat di mana kita ada, hadir dan menjalankan kehidupan kita.
Seperti Timotius, Paulus menghendaki agar kita memiliki keberanian bersaksi serta bersedia menerima konsekuensi dan sabar dalam menganggungnya. Kita memang terbelenggu oleh karena kebenaran Allah, akan tetapi kebenaran Allah itu pula yang membebaskan kita untuk suatu kehidupan yang tidak akan pernah berakhir.

Kita ingat kata-kata Paulus kepada Timotius dan yang dikehendakinya untuk diteruskan: "Jika kita mati dengan Dia, kita pun akan hidup dengan Dia; jika kita bertekun, kita pun akan ikut memerintah dengan Dia; jika kita menyangkal Dia, Dia pun akan menyangkal kita;  jika kita tidak setia, Dia tetap setia, karena Dia tidak dapat menyangkal diri-Nya" (ay 21-23).
Sekiranya dengan berpegang pada kata-kata Paulus ini, kita menjadi orang-orang yang hidup dalam memberi kesaksian. Kita  tidak takut dan ragu lagi menjadi orang terbelenggu karena firman Allah, sebab kita punya jaminan untuk suatu kehidupan yang lebih tinggi nilainya dari kehidupan sekarang ini oleh firman Allah itu juga. Marilah kita bersaksi sebab untuk itulah kita dipanggil dan diutus oleh Kristus.***